Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negaranegara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara itu dalam memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan ekonomi pada masyarakat (DEPKES RI, 2006). Indonesia menempati urutan ke 3 (tiga) setelah India dan Brazilia dalam menyumbang jumlah penderita. Sejak tahun 2000 status Indonesia sudah Eliminasi Kusta (EKT) yaitu prevalence Rate < 1/10.000 penduduk. Sedangkan Provinsi Jawa Tengah sudah EKT sejak tahun 1994. Transmisi penularan cukup tinggi yaitu 12,7% demikian juga angka cacat yaitu 11,4% (DINKES JATENG, 2006). Puskesmas Adiwerna merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang senantiasa melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular di Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah. Jumlah penderita kusta terdaftar pada tahun 2012 sebanyak 21 penderita dengan perincian tipe PB sebanyak 3 penderita dan tipe MB sebanyak 18 penderita (Puskesmas Adiwerna, 2013).

Angka prevalensi Puskesmas Adiwerna pada tahun 2012 sebesar 3,3 per 10.000 penduduk (Puskesmas Adiwerna, 2013). Berdasarkan kajian data tersebut, maka perlu dilakukan evaluasi mengenai gambaran faktor resiko penyakit kusta di Puskesmas Adiwerna Kabupaten Tegal.

B. Pernyataan Masalah Apa faktor resiko penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Adiwerna?

C. Tujuan Untuk mengetahui gambaran faktor resiko penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Adiwerna.

D. Manfaat Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Dapat memberikan informasi kepada pihak Puskesmas Adiwerna tentang gambaran faktor resiko penyakit kusta, untuk penyempurnaan sistem dan kebijakan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit kusta. 2. Dapat memberikan manfaat bagi penelitian selanjutnya dimana data penelitian dan analisisnya dapat dipakai sebagai bahan masukan dalam menggali dan mengembangkan lagi secara lebih sistematis dan terperinci untuk kepentingan dan tujuan yang berbeda.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Penyakit kusta adalah penyakit menular yang sulit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae, yang menyerang kulit, saraf tepid an organ lain kecuali susunan saraf pusat, dapat menyebabkan kecacatan bila ditemukan terlambat, sedangkan kecacatan dapat dicegah dengan

pemeriksaan fungsi saraf secara rutin setiap bulan pada saat penderita mengambil obat (DINKES JATENG, 2006).

B. Cara Penularan dan Masa Inkubasi Penularan terjadi apabila Mycobacterium Leprae yang masih hidup (solid) keluar dari tubuh penderita dan masuk kedalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta, secara teoritis penularan dapat terjadi dengan cara kontak erat dan lama dengan penderita. Luka dikulit dan mukosa hidung telah lama dikenal sebagai sumber dari kuman dan terbukti bahwa saluran nafas bagian atas penderita tipe Lepromatous merupakan sumber kuman yang terpenting di lingkungan. Kusta mempunyai masa inkubasi 2-5 tahun, dapat juga beberapa bulan sampai beberapa tahun (DINKES JATENG, 2006).

C. Diagnosa dan Klasifikasi Menurut Buku Pedoman Surveilans Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2006, menyatakan bahwa untuk menetapkan diagnose penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda utama atau cardinal sign, yaitu: 1. 2. Lesi keputihan atau kemerahan yang mati rasa/kurang rasa. Penebalan saraf tepi disertai dengan gangguan fungsi (fungsi sensoris, motoris maupun otonom). Gangguan fungsi saraf tersebut adalah akibat dari peradangan kronis saraf tepi, Saraf tepi yang dapat diserang antara lain: saraf fasialis, saraf auriculomagnus, saraf radialis, saraf ulnaris, saraf medianus, saraf perineus komunis dan saraf tibialis posterior. 3. Ditemukannya kuman tahan asam di kerokan jaringan kulit (BTA positif) Seseorang dinyatakan menderita kusta apabila ditemukan salah satu dari tanda-tanda tersebut di atas. Apabila hanya ditemukan cardinal sign yang kedua (penebalan saraf disertai gangguan fungsi) dan petugas ragu, maka perlu dirujuk kepada wasor atau ahli kusta dan apabila masih ragu maka orang tersebut dianggap sebagai kasus yang dicurigai/tersangka (suspek) dan perlu diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan. Berikut tanda-tanda tersangka kusta (suspek): 1. Tanda-tanda pada kulit a. Lesi yang putih atau merah yang tidak gatal dibagian tubuh b. Kulit mengkilap c. Adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut d. Lepuh tidak nyeri

2.

Tanda-tanda pada saraf a. Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka. b. Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka c. Adanya cacat (deformitas) baik pada mata, tangan atau kaki. Setelah seseorang dinyatakan penderita kusta, maka dilakukan klasifikasi

(PB/MB) untuk menentukan jenis Multi Drug Therapy (MDT) yang akan diberikan. 1. Penderita dinyatakan tipe Pauci Basiler (PB) bila: a. Jumlah lesi yang mati rasa < 5 (lima) b. Jumlah penebalan saraf disertai gangguan fungsi 1 (satu) c. BTA (negatif) 2. Penderita dinyatakan tipe Multi Basiler (MB) bila: a. Jumlah lesi yang mati rasa > 5 (lima) b. Jumlah penebalan saraf disertai gangguan fungsi > 1 (satu) c. BTA (positif)

D. Faktor Resiko Penyakit Kusta 1. Distribusi menurut faktor manusia a. Etnik atau suku Kejadian penyakit kusta menunjukkan adanya perbedaan distribusi dapat dilihat karena faktor geografi. Namun jika diamati

dalam satu Negara atau wilayah yang sama kondisi lingkungannya ternyata perbedaan distribusi dapat terjadi karena faktor etnik. Di Myanmar kejadian kusta lepromatosa lebih sering terjadi pada etnik Burma dibandingkan dengan etnik India. Situasi di Malaysia juga mengindikasikan hal yang sama, kejadian kusta lepromatosa lebih banyak pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau India. Demikian pula kejadian di Indonesia etnik Madura dan Bugis lebih banyak menderita kusta dibandingkan etnik Jawa atau Melayu. b. Faktor sosial ekonomi tete c. Distribusi menurut umur kllklk d. Distribusi menurut jenis kelamin jjkjkj 2. Faktor-faktor yang menentukan terjadinya sakit kusta a. Penyebab sdsdfsdf b. Sumber Penularan sadfsa c. Cara Keluar dari Pejami (Host) dsfdsfdsf d. Cara Penularan

sdfsdfdsf e. Cara Masuk ke dalam Pejamu fsfdsfds f. Pejamu (Tuan rumah = Host) Sdfsdfsdfd

E. Mycobacterium Leprae

F. Latar Belakang Epidemiologi Penyebab penyakit kusta ialah suatu kuman yang disebut Mycobacterium leprae. Sumber penularan penyakit ini adalah Penderita Kusta Multi basiler (MB) atau Kusta Basah. Di Indonesia, penderita kusta terdapat hampir di seluruh daerah dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan, di Indonesia bagian timur terdapat angka kesakitan kusta yang lebih tinggi. Penderta kusta 90 % tinggal diantara keluarga mereka dan hanya beberapa pasien saja yang tinggal di Rumah Sakit kusta, koloni penampungan atau perkampungan kusta.

G. Latar Belakang Sosial Ekonomi Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah. Perkembangan penyakit pada diri penderita bila tidak ditangani secara cermat dapat menimbulkan cacat dan keadaan ini menjadi halangan bagi penderita kusta dalam kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan

sosial ekonomi mereka, juga tidak dapat berperan dallam pembangunan bangsa dan negara. Disamping cacat yang timbul, pendapat yang keliru dari masyarakat terhadap kusta, rasa takut yang berlebihan atau leprophobia akan memperkuat persoalan sosial ekonomi penderita kusta.

H. Cara Penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Cara penularan yang pasti belum diketahui, tetapi sebagian besar para ahli berpandapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah, dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1. Faktor Sumber Penularan : Sumber penularan adalah penderita kusta tipe MB. Penderita MB inipun tidak akan menularkan kusta, apabila berobat teratur. 2. Faktor Kuman Kusta : Kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1-9 hari tergantung pada suhu atau cuaca, dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. 3. Faktor Daya Tahan Tubuh : Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95 %). Dari hasil penelitian menunjukkan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar :

95 orang tidak menjadi sakit. 3 orang sembuh sendiri tanpa obat. 2 orang menjadi sakit, hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan.

BAB III METODE

10

BAB IV HASIL

A. Profil Komunitas Umum B. Data Geografis C. Data Demografik D. Sumber Daya Kesehatan yang Ada E. Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada F. Data Kesehatan Masyarakat (primer) yaitu: 1. Prevalensi Masalah Kesehatan Masyarakat Sebelum dan Sesudah Intervensi

11

2. Perilaku Kesehatan Masyarakat sebelum dan sesudah intervensi

BAB V DISKUSI

12

13

BAB VI Kesimpulan dan Saran

14

DAFTAR PUSTAKA

Puskesmas Adiwerna. 2013. Profil Pengembangan Puskesmas Adiwerna Menjadi Puskesmas Model di Kabupaten Tegal. Kabupaten Tegal: Puskesmas Adiwerna.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2006. Buku Pedoman Surveilans Penyakit.

15

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.