Anda di halaman 1dari 9

PERENCANAAN PARTISIPATIF, PARTISIPASI DAN PEMBERDAYAAN : KASUS PENGELOLAAN SAMPAH KOTA TANGERANG1

Oleh Supriyatno2

Pendahuluan
Konsep pemberdayaan mulai dikenal hampir bersamaan dengan munculnya aliran-aliran pada dekade 70-an yang terus berkembang pada dekade 80-an sampai akhir abad ke-20, antara lain Eksistensialisme, Personalisme, Neo Marxisme, Freudianisme sampai konsep civil society, yang menitik beratkan orientasi pemikirannya pada antisistem, antistruktur dan antideteminasi. Hal ini merupakan akibat dari dan reaksi terhadap alam pikiran, tata masyarakat dan tata budaya sebelumnya yang berkembang di suatu negara (Pranarka dan Vidhyandika, 1996). Dalam kerangka pemikiran mengenai konsep pengembangan wilayah maupun pengembangan masyarakat tidak terlepas dari upaya pencapaian mekanisme perencanaan partisipatif, dimana pada aras makro dan meso melibatkan unsur kebijakan dan institutional incentives serta pemberdayaan, partisipasi dan institutional capasity pada aras mikro. Sebagai upaya pencapaian tujuan pemberdayaan yang menjadikan masyarakat dan kemanusiaan sebagai subjek pembangunan, diperlukan suatu perubahan relasi, antara pemerintah dan institusi lain dengan komunitas, menjadi lebih dialogis (subjek-subjek). Perubahan relasi tersebut dapat dicapai dengan proses partisipasi, yang ditujukan untuk mengalihkan kekuasaan kepada komunitas, sehingga akan melahirkan mekanisme perencanaan partisipatif. Dan pemberdayaan komunitas menjadi suatu keharusan karena membuka peluang untuk dapat menyuarakan kepentingan, prioritas serta alternatif solusi pada persoalan komunitas itu sendiri (Nasdian). Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan yang dalam bahasa Inggris selaras dengan kata empowerment merupakan sebuah konsep yang lahir dari perkembangan pemikiran masyarakat dan kebudayaan Eropa. Periode yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pemikiran bangsa Eropa adalah pada saat lahirnya gerakan Pencerahan atau Aufklarung atau Enlighment yang intinya adalah gerakan antisistem, antideterminisme, dan antikekuasaan sehingga mendorong lahirnya Eropa Modern sebagai perubahan dari kebudayaan Eropa Abad Pertengahan. Pada perjalanannya gerakan tersebut mengalami kemunduran yang antara lain diakibatkan oleh (1) terjadinya perpecahan antara kubu atheis dan kubu theis mengenai konsep Eksistensialisme dan Humanisme (2) munculnya kerancuan mengenai antisistem dan antideterminisme secara mutlak padahal mungkin kontradiktif dengan arti eksistensi itu sendiri (3) terjadinya proses industrialisasi
1 2

Makalah Praktikum-1 TSL 565 PS PWL, Tahun 2013 Mahasiswa Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah(PS PWL) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, NIM A156120214, Tahun 2013

yang makin dibalut dengan ilmu dan teknologi sehingga ekonomi dan teknologi menjadi sebuah sistem yang amat deterministik dan mempunyai power yang lebih kuat dan luas. Kemunduran gerakan tersebut di atas mendorong munculnya NeoMarxisme ataupun Freudianisme. Menurut analisa Marx, untuk meneruskan citacita Eksistensialisme ataupun Personalisme di dalam bidang politik, ekonomi, dan kemasyarakatan diperlukan kekuasaan dengan basis perekonomian, yang akhirnya hanya akan meninggalkan manusia yang berkuasa terhadap manusia lainnya. Sedangkan menurut Freud, adanya konsep Superego sebagai kekuasaan yang menekan ego manusia dalam alam bawah sadarnya membuat perlunya upaya pelepasan diri atau pembebasan ego melalui proses konsientisasi atau kesadaran kritis. Kedua aliran tersebut pada akhirnya mendorong adanya upaya bagaimana membuat kekuasaan-kekuasaan tersebut menjadi bagian serta fungsi dari aktualisasi eksistensi dan koeksistensi manusia, dimana manusia dan kemanusiaanlah yang menjadi tolok ukur baik normatif, struktural maupun substansial. Sehingga pemberdayaan ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun eksistensi pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, pemerintahan, negara dan tata dunia dalam kerangka aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam pandangan yang lebih luas, pemberdayaan merupakan upaya pemberian kekuatan dan akses terhadap sumber daya sehingga tiap individu mempunyai pilihan dan kontrol atas kehidupannya masing-masing, dan mendorong individu untuk memberikan pengaruh yang lebih besar melalui dunia perpolitikan lokal maupun nasional. Oleh karena itu, pemberdayaan dapat bersifat individual maupun kolektif, karena juga menyangkut hubungan-hubungan kekuasaan antara individu, kelompok dan lembaga-lembaga sosial. Berdasarkan pandangan tersebut di atas, proses pemberdayaan dapat diartikan mengandung dua kecenderungan yaitu pertama, menekankan pada pemberian atau pengalihan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan kepada individu agar lebih berdaya, dan dapat dilengkapi dengan upaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka (Oakley dan Marsden, 1984); kedua, menekankan pada proses menstimulasi, mendorong, atau memotivasi individu agar mampu menentukan pilihan hidupnya melalui proses dialog dan menjalin kerjasama kolaboratif. Dengan konsep pengertian di atas, secara umum proses pemberdayaan menurut Dubois dan Miley (1996) dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Merumuskan relasi kemitraan; 2. Mengartikulasikan tantangan-tantangan dan mengidentifikasi berbagai kekuatan yang ada; 3. Mendefinisikan arah yang ditetapkan; 4. Mengeksplorasi sistem-sistem sumber; 5. Menganalisis kapabilitas sumber; 6. Menyusun frame pemecahan masalah; 7. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber dan memperluas kesempatankesempatan; 8. Mengakui temuan-temuan; dan 9. Mengintegrasikan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai.

Dari uraian di atas, dapat diartikan bahwa secara historis pemberdayaan merupakan suatu upaya perlawanan individu maupun komunitas terhadap hegemoni developmentalism (Teori Modernisasi) sehingga menjadi suatu konsep pembangunan alternatif terhadap model pembangunan yang berpusat pada pertumbuhan dan melahirkan pola pembangunan yang berpusat pada rakyat. Pemberdayaan Dan Partisipasi Dalam wacana pembangunan masyarakat, pemberdayaan selalu dihubungkan dengan kemandirian, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan pada tingkat individu dan sosial. Kemandirian ini dicapai dengan mendorong masyarakat untuk mencapai tujuan dengan usaha mereka sendiri melalui akumulasi pengetahuan, keterampilan dan sumber-sumber lainnya, tanpa tergantung kepada pertolongan pihak luar. Diharapkan dengan kemandirian ini masyarakat dapat memiliki rasa percaya diri, meningkatkan harga diri dan mengembangkan keahlian baru, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan berpartisipasinya. Proses partisipasi mengubah cara pandang para praktisi pembangunan dengan mentransformasikan kepentingan kelas mereka dan melibatkan komunitas dalam proses partisipatif (Rahmena, 1992). Partisipasi komunitas ini merupakan proses pendistribusian kekuasaan pada komunitas yang berjalan bertahap, membutuhkan waktu lama serta komitmen jangka panjang dari para stake holder (Nasdian). Partisipasi memperluas basis pengetahuan dan representasi. Dengan mengajak masyarakat dengan spektrum yang lebih luas dalam proses pembuatan keputusan, maka partisipasi dapat: (a) meningkatkan representasi dari kelompokkelompok komunitas, khususnya kelompok yang selama ini termarjinalkan, (b) membangun perspektif yang beragam dari berbagai stakeholders, (c) mengakomodir pengetahuan lokal, pengalaman, dan kreatifitas, sehingga memperluas kisaran ketersediaan pilihan alternatif. Dengan melibatkan stakeholders dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang akan menerima atau berpotensi menerima akibat dari suatu kegiatan / proyek, dapat menghindari ketidakpastian dan kesalahan interpretasi tentang suatu isu / masalah karena para pembuat keputusan dapat memperoleh umpan balik dari kalangan yang lebih luas, sehingga kegiatan yang dilakukan akan lebih relevan dengan kepentingan masyarakat lokal dan akan lebih efektif. Pelibatan masyarakat lokal juga dapat membantu terciptanya hasil (outcomes) yang berkelanjutan dengan memfasilitasi kepemilikan masyarakat terhadap proyek dan menjamin bahwa aktivitas-aktivitas yang mengarah pada keberlanjutan akan terus berlangsung, sehingga partisipasi akan mendorong kepemilikan lokal, komitmen dan akuntabilitas Pendekatan partisipatif akan meningkatkan pengetahuan dari tiap stakeholders tentang kegiatan / aksi yang dilakukan oleh stakeholders lain. Pengetahuan ini dan ditambah dengan peningkatan interaksi antar sesama stakeholders akan meningkatkan kepercayaan diantara para stakeholders dan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan modal sosial.

Menurut Sherry Arnstein (1967), dalam mendefinisikan strategi partisipasi masyarakat yang identik dengan kekuasaan masyarakat (citizen partisipation is citizen power), dapat digunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga mewakili strategi partisipasi yang berbeda berdasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas) dengan pemerintah (institusi).

Gambar 1. Tangga Partisipasi Arnstein Pada tangga partisipasi di atas, tingkatan yang merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation) adalah dua tangga terbawah yaitu : (1) manipulasi (manipulation) dan (2) terapi (therapy). Kemudian diikuti dengan tingkatan tokenisme yang terdiri dari tangga (3) menginformasikan (informing), (4) konsultasi (consultation), dan (5) penentraman (placation), yang mana tokenisme ini dapat diartikan sebagai kebijakan sekadar menggugurkan kewajiban belaka atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan dan bukan usaha sungguh-sungguh untuk melibatkan masyarakat secara bermakna. Tangga selanjutnya adalah (6) kemitraan (partnership), (7) pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power), dan (8) pengendalian masyarakat (citizen control). Pada tingkatan non participation, tujuan sesungguhnya tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk "mendidik" atau menyembuhkan partisipan (masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan, tapi hadir dalam forum). Sedangkan pada tingkatan tokenisme masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya, tapi tidak dijamin bahwa pandangan mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. Peran serta pada jenjang ini memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Tiga tangga terakhir menggambarkan perubahan dalam keseimbangan kekuasaan, yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk sesungguhnya dari partisipasi masyarakat dan disebut sebagai tingkatan citizen power. Pada tingkatan ini mulai terjadi proses dialog dan negoisasi antara pemerintah dan masyarakat sebagai mitra sejajar, baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, maupun monitoring dan evaluasi. Pemerintah memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk mengurus sendiri beberapa kepentingannya, sehingga masyarakat memiliki kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya

terhadap keberhasilan program yang disepakati bersama, dan tanpa campur tangan pemerintah. Diharapkan dengan mengenali proses yang terjadi pada tiap tingkatan partisipasi ini dapat meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam kerangka pengembangan wilayah maupun pengembangan masyarakat. Hubungan Perencanaan Partisipatif, Partisipasi dan Pemberdayaan Pemberdayaan bertujuan untuk menemukan sistem yang berpihak pada manusia dan kemanusiaan sebagai alternatif dalam pembangunan masyarakat. Untuk mencapai tujuan pemberdayaan tersebut maka perlu dikembangkan suatu mekanisme dimana masyarakat dapat berperan sebagai agen pembangunan, yang dapat dicapai dengan meningkatkan keilmuan dan kemandirian kelompok masyarakat yang selama ini di anggap tidak mempunyai kekuasaan (powerless). Peningkatan kekuasaan (power) masyarakat dalam sistem masyarakat harus diupayakan sebagai proses reformasi sosial, dimana kekuasaan antar kelompok tidak saling meniadakan/ mengalahkan kelompok-kelompok lainnya (zero sum) tetapi sebaliknya dapat saling meningkatkan kemanfaatan terhadap semua kelompok (positif sum). Dalam proses inilah akan terjadi proses negoisasi antar kelompok, dan diharapkan dengan pemberdayaan posisi tawar (bargaining power) kelompok yang powerless akan semakin meningkat sehingga pelayanan terhadap kelompok tersebut turut meningkat. Peningkatan kekuasaan dalam kerangka reformasi sosial dapat dicapai dengan beberapa upaya sebagai berikut : pertama, mendistribusikan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan (distribution of resources) kepada masyarakat (Jim Ife, 1995), kedua, memperluas aset dan kemampuan kelompok powerless dalam menegosiasikan kehidupannya (Deepa Narayan et.al, 2002), ketiga, menumbuhkan konsientisasi (conscientization) atau kesadaran kritis masyarakat terhadap realitas kehidupannya sehingga meningkatkan kemampuan mereka untuk mentransformasikan realitas tersebut sebagai dasar guna memutuskan kebutuhan mereka yang penting baginya (Paulo Freire, 1972). Ketiga hal tersebut diharapkan dapat memperluas dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menentukan masa depannya serta berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan komunitasnya. Strategi yang potensial dalam meningkatkan ekonomi, sosial, dan transformasi budaya adalah melalui pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam kerangka pembangunan yang berpusat pada rakyat. Sementara dalam strategi pemberdayaan, partisipasi aktif masyarakat diletakkan dalam efektivitas, efisiensi, dan sikap kemandirian, dengan melakukan kegiatan kerja sama dengan sukarelawan dari LSM maupun organisasi dan pergerakan masyarakat (Clarke, 1991). Tetapi perlu diperhatikan bahwa pengertian sikap kemandirian bukan semata-mata meminimalisasi intervensi dari pihak luar, karena tanpa ada dukungan dari luar lingkungan/ komunitas masyarakat tidak dapat hidup dan berkembang dan menimbulkan sikap pasif sehingga cenderung menjadikan mereka lebih tidak berdaya (Katze, 1987). Sedangkan mengenai partisipasi aktif masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan, kenyataannya atas nama "pemberdayaan" seluruhnya masih dikerjakan oleh para profesional (McArdle,

1989) dan menjadikan masyarakat menjadi tidak mampu diberdayakan (Rose dan Black, 1983). Kedua fenomena ini patut menjadi perhatian kita semua pada saat menerapkan konsep-konsep pemberdayaan dalam perencanaan pembangunan, sehingga tidak terjebak dalam retorika pemberdayaan semata. Partisipasi secara sadar atau tidak sadar dapat merugikan kepada mereka yang terlibat jika: (a) para ahli yang melakukan proses ini memanipulasi partisipasi publik untuk kepentingannya, (b) jika tidak direncanakan secara hatihati, partisipasi dapat menambah biaya dan waktu dari sebuah proyek tanpa ada jaminan bahwa partisipasi itu akan memberikan hasil yang nyata. Partisipasi dapat memperlemah (disempower) masyarakat. Jika proses partisipasi dimanipulasi, tidak dikembangkan dalam kerangka kerja institusional yang mendukung atau terjadi kekurangan sumber daya untuk penyelesaian atau keberlanjutan suatu proyek, maka partisipan dapat meninggalkan proses tersebut, kecewa karena hanya sedikit hasil yang diraih, padahal usaha yang dilakukan oleh masyarakat telah cukup besar. Untuk itu, demi menjamin terjadinya pemberdayaan dalam pengembangan masyarakat perlu adanya mobilisasi dan pergerakan potensi sumberdaya domestik serta mempraktekkan perencanaan partisipatif guna membangun kapasitas sosial dan kelembagaan masyarakat yang dibutuhkan untuk pembangunan berkelanjutan. Menurut Latama et al (2002) hal ini ditunjukkan melalui lima karakteristik sebagai berikut : 1. Berbasis lokal; 2. Berorientasi pada peningkatan kesejahteraan; 3. Berbasis kemitraan; 4. Bersifat holistik; dan 5. Berkelanjutan. Perencanaan Partisipatif, Partisipasi dan Pemberdayaan dalam Pengelolaan Sampah di Kota Tangerang Menilik perjalanan program pengelolaan sampah di Kota Tangerang, pada awalnya merupakan tanggung jawab pemerintah kota semata. Seiring dengan berkembangnya konsep pengurangan sampah dari sumber (rumah tangga), pengelolaan sampah mulai melibatkan peran serta masyarakat sebagai subjek penghasil sampah. Dimulai dengan program sosialisasi pengelolaan sampah dan pembentukan daerah binaan pada periode tahun 2004-2008, berkembang menjadi rekruitmen kader dari masing-masing RW pada periode tahun 2009-2011 sampai akhirnya terbentuk kelembagaan kader melalui Forum Komunikasi Pengelola Sampah (Forum Kompos) pada tahun 2012. Dalam melihat tingkatan partisipasi masyarakat pada proses tersebut di atas dikaitkan dengan konsep Tangga Partisipasi Arnstein (1967) dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Pada periode tahun 2004 - 2008, tingkat partisipasi yang terbentuk masih dalam tingkatan Manipulasi dan Terapi (non participation) serta Menginformasikan (Informing). Pada awal-awal pelaksanaan program pengelolaan sampah dari sumber, pemerintah kota memulai dengan "mendidik" dan "menyembuhkan" masyarakat akan konsep sampah dan pengelolaannya melalui mekanisme pemberian sosialisasi dan secara

bertahap dikembangkan bentuk-bentuk mekanisme komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, salah satunya dengan cara pembentukan daerah binaan. Pada periode ini semua inisiatif masih datang dari pemerintah mulai dari perencanaan daerah mana yang akan dijadikan sebagai binaan, pemberian fasilitas-fasilitas pengelolaan sampah (komposter), sampai pengawasan pelaksanaan proses pengomposan sampah. Seiring perjalanan waktu, level partisipasi ini mengalami kegagalan karena warga tidak merasa bahwa pengelolaan sampah di sumber merupakan tanggung jawab mereka dan hanya mengandalkan peran pemerintah kota. Ada beberapa daerah binaan yang akhirnya malah terbengkalai dan tidak meneruskan program pengomposan lagi karena warga merasa tidak ada manfaat yang didapat. Dan tong komposter yang telah diberikan akhirnya beralih fungsi menjadi sekedar tong sampah dan/ atau tempat penampungan air serta banyak juga yang hilang. 2. Berdasarkan evaluasi pelaksanaan program pada periode sebelumnya, mulai dari tahun 2009 diinisiasi program talkshow di radio mengenai program pengelolaan sampah dari pemerintah kota dan memberi kesempatan kepada warga untuk dapat memberi masukan, usulan dan bahkan keluhan mengenai kondisi pengelolaan sampah di wilayah mereka. Walaupun begitu, belum ada jaminan bahwa masukan dan usulan warga tersebut akan di tindaklanjuti karena dalam pelaksanaannya masih mengacu program-program pemerintah yang sudah ditetapkan sebelumnya, tetapi untuk keluhan warga mengenai kondisi wilayah mereka diupayakan untuk segera ditindak lanjuti. Dengan demikian, pada periode ini tingkat partisipasi sudah meningkat ke level Konsultasi (Consultation). Di samping pelaksanaan talkshow di radio, pemerintah kota Tangerang mulai dari tahun 2010 mulai program perekrutan kader-kader pengelolaan sampah di beberapa wilayah. Perekrutan kader ini dimaksudkan untuk meningkatkan level komunikasi menuju tahapan adanya negoisasi antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat, melalui kader, dipersilahkan memberikan saran atau merencanakan usulan kegiatan dan permintaan fasilitas-fasilitas pendukung untuk meningkatkan tingkat pengelolaan sampah di wilayah mereka. Tetapi dikarenakan sistem perencanaan pemerintahan berdasarkan ketersediaan anggaran, maka tidak semua usulan atau permintaan fasilitas tersebut dapat diakomidir. Pada tahap ini tingkat partisipasi yang telah dicapai adalah sudah memasuki tangga Penentraman (Placation) dan bertahan sampai akhir tahun 2011. 3. Dimulai dari tahun 2012, tahapan partisipasi mulai ditingkatkan menuju level Kemitraan (Partnership) dengan memperluas jaringan kader untuk menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas dan memfasilitasi pembentukan Forum Komunikasi Pengelola Sampah (Forum KOMPOS) beranggotakan para kader dari beberapa wilayah,. Pada tangga partisipasi ini pemerintah dan masyarakat merupakan mitra sejajar, ada sebagian kekuasaan yang dilimpahkan kepada masyarakat dan telah ada negoisasi baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan maupun monitoring dan evaluasi. Proses negoisasi ini terjalin melalui pertemuan-pertemuan rutin perbulan antara Forum KOMPOS dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang.

Untuk mencapai level pemberdayaan masyarakat dalam hal pengelolaan sampah, maka tingkat partisipasi warga perlu diupayakan bisa mencapai tahapan yang dalam tangga partisipasi Arnstein disebut sebagai level citizen power, yang terdiri dari level Kemitraan (Partnership), Pendelegasian Kekuasaan (Delegated Power), dan Pengendalian Warga (Citizen Control). Dengan melihat tingkatan partisipasi masyarakat Kota Tangerang dalam pengelolaan sampah yang pada tahun 2012 telah mencapai tahap Kemitraan, maka tahapan pemberdayaan masyarakat sudah berjalan dalam koridor yang tepat. Sehingga untuk lebih meningkatkan tingkat keberdayaan masyarakat, perlu dilakukan upaya untuk mulai mendelegasikan kekuasaan (Delegated Power) dengan memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk mengurus serta mengelola sepenuhnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah di wilayah mereka masing-masing, sesuai dengan kesepakatan bersama yang dan tanpa campur tangan pemerintah sehingga tercapai kondisi dimana masyarakat yang mengendalikan kegiatan mereka (Citizen Control). Dan upaya ini diharapkan dapat dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang pada tahun-tahun ke depan sehingga masyarakat atau kader memiliki kejelasan dan tanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Simpulan Konsep pemberdayaan merupakan pola pembangunan yang berpusat pada rakyat dan ditujukan untuk membangun kemandirian komunitas. Kemandiriaan tersebut dapat dicapai dengan mendevolusi kekuasaan kepada komunitas sehingga inklusivitas masyarakat miskin dapat ditingkatkan dalam proses pengambilan keputusan sebagai pengejawantahan bentuk partisipasi. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat pembedayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah di Kota Tangerang, berdasarkan tingkat partisipasi pada Tangga Partisipasi Arnstein, masih berada dalam tingkat Tokenisme menuju ke level Citizen Power. Dan level ini yang dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi, dimana masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Untuk mencapai tingkat pemberdayaan yang diharapkan dalam upaya untuk pengembangan masyarakat, menurut Latama et al (2002), perlu menampilkan lima karakteristik sebagai berikut (i) berbasis lokal, (ii) berorientasi pada peningkatan kesejahteraan, (iii) berbasis kemitraan, (iv) bersifat holistik dan (v) berkelanjutan. Dan diharapkan seiring dengan perjalanan waktu, Forum Kompos Kota Tangerang diharapkan dapat mempunyai kelima karakteristik tersebut sehingga dapat tercapai pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat sesuai dengan amanat Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Daftar Pustaka Arnstein, Sherry R. 1969. A Ladder of Citizen Participation. JAIP, Vol. 35. Friedman, John. 1993. Empowerment: The Politics of Alternative Development. Cambridge Mass: Balckwell Book. (Hal. 14-36). Hickey, Sam dan Giles Mohan. 2004. Relocating Participation within a Radical Polities of Development. Development and Change, 36(2). (Hal. 237-262). Hikmat, Harry. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Humaniora Utama Press. (Hal. 1-48). Prijono, Onny S dan A.M.W. Pranarka (Eds). 1996. Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan, dan Implementasi. Jakarta: CSIS. (Hal. 44-70).