Anda di halaman 1dari 8

Hilda Puspita P ( 130440112130087 ) Arief Delta R ( 13040112130092 ) Heni Nur Syafitri ( 13040112130101 ) KEBUDAYAAN MINANGKABAU A.

Sejarah

Budaya Minangkabau berasal dari Luhak Nan Tigo. Saat ini wilayah budaya Minangkabau meliputi Sumatera Barat, bagian barat Riau (Kampar, Kuantan Singingi, Rokan Hulu), pesisir barat Sumatera Utara (Natal, Sorkam, Sibolga, dan Barus), bagian barat Jambi (Kerinci, Bungo), bagian utara Bengkulu (Mukomuko), bagian barat daya Aceh (Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Kabupaten Aceh Tenggara), hingga Negeri Sembilan di Malaysia. Budaya Minangkabau mulanya bercorakkan budaya animisme dan Hindu-Budha. Kemudian sejak kedatangan para reformis Islam dari Timur Tengah akhir abad ke-18, adat dan budaya Minangkabau yang tidak sesuai dengan hukum Islam dihapuskan. Para ulama yang dipelopori oleh Haji Piobang, Haji Miskin, dan Haji Sumanik, mendesak Kaum Adat untuk mengubah pandangan budaya Minang yang sebelumnya banyak berkiblat kepada budaya animisme dan Hindu-Budha, untuk berkiblat kepada syariat Islam. Reformasi budaya di Minangkabau terjadi setelah Perang Padri (1837). Hal ini ditandai dengan adanya perjanjian di Bukit Marapalam antara alim ulama, tokoh adat, dan cadiak pandai (cerdik pandai). Mereka bersepakat untuk mendasarkan adat budaya Minang pada syariat Islam. Kesepakatan tersebut tertuang dalam adagium Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai. (Adat bersendikan kepada syariat, syariat bersendikan kepada Al-Quran). Sejak reformasi budaya dipertengahan abad ke-19, pola pendidikan dan pengembangan manusia di Minangkabau berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Setiap jorong ( kampong ) di Minangkabau memiliki masjid, selain surau yang ada di tiaptiap lingkungan keluarga. Pemuda Minangkabau yang beranjak dewasa, diwajibkan untuk tidur di surau. Di surau, selain belajar mengaji, mereka juga ditempa latihan fisik berupa ilmu bela diri pencak silat.
B. Kemasyarakatan a. Kepemimpinan Filosofi "pemimpin itu hanyalah ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah." Artinya seorang pemimpin haruslah dekat dengan masyarakat, dan seorang pemimpin harus siap untuk dikritik.[Dalam konsep seperti ini, Minangkabau tidak mengenal jenis pemimpin yang bersifat diktator dan totaliter. Selain itu konsep budaya Minangkabau yang terdiri dari republik-republik mini, dimana nagari-nagari sebagai sebuah wilayah otonom, memiliki kepala-kepala kaum yang merdeka. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama, serta dipandang sejajar di tengah-tengah masyarakat.

Sepanjang abad ke-20, etnis Minangkabau merupakan salah satu kelompok masyarakat di Indonesia yang paling banyak melahirkan pemimpin dan tokoh pelopor.[4] Mereka antara lain : Tan Malaka, Mohammad Hatta, Yusof Ishak, Tuanku Abdul Rahman, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Assaat, Hamka, Mohammad Natsir, Muhammad Yamin, Abdul Halim dan lainlain. b. Bahasa Orang Minang menggunakan suatu bahasa yang disebut Bahasa Minangkabau. Menurut penelitian ilmu bahasa, bahasa ini dianggap sebagai sebuah dialek dari Bahasa Melayu c. Mata Pencaharian Sistem mata pencaharian orang Minang umumnya petani. Namun bagi mereka yang tinggal di tepi pantai atau di tepi danau, hidup dari hasil menangkap ikan (tapi umumnya hal tsb hanya sebagai sambilan saja). Selain pertanian orang Minang banyak yang mengusahakan sektor perdagangan. d. Pendidikan Filosofi Minangkabau "alam terkembang menjadi guru", merupakan suatu adagium yang mengajak masyarakat Minangkabau untuk selalu menuntut ilmu. Pada masa kedatangan Islam, pemuda Minangkabau dituntut untuk mempelajari adat istiadat dan ilmu agama. Setelah kedatangan imperium Belanda, masyarakat Minangkabau mulai dikenalkan dengan sekolah-sekolah umum yang mengajarkan ilmu sosial dan ilmu alam Semangat pendidikan masyarakat Minangkabau tidak terbatas di kampung halaman saja. Untuk mengejar pendidikan tinggi, banyak diantara mereka yang pergi merantau. Selain ke negeri Belanda, Jawa juga merupakan tujuan mereka untuk bersekolah. Sekolah kedokteran STOVIA di Jakarta, merupakan salah satu tempat yang banyak melahirkan dokter-dokter Minang. Data yang sangat konservatif menyebutkan, pada periode 1900 1914, ada sekitar 18% lulusan STOVIA merupakan orang-orang Minang. e. Agama Secara umum Orang Minang hampir sebagian besar menganut Agama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari, banyak juga yang percaya terhadap hal-hal yang tidak diajarkan Islam. f. Demokrasi

Sikap demokratis pada masyarakat Minang disebabkan karena sistem pemerintahan Minangkabau terdiri dari banyak nagari (desa) yang otonom, dimana pengambilan keputusan berdasarkan pada musyawarah mufakat. Hal ini terdapat dalam pernyataan adat yang mengatakan bahwa "bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat". Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid pernah mengafirmasi adanya demokrasi Minang dalam budaya politik Indonesia. Sila keempat Pancasila yang berbunyi Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan ditengarai berasal dari semangat demokrasi Minangkabau, yang mana rakyat/masyarakatnya hidup di tengah-tengah permusyawaratan yang terwakilkan.
C. Seni a. Arsitektur

Wilayahnya merupakan kawasan rawan gempa, sehingga rumah tradisionalnya yang berbentuk panggung, menggunakan kayu dan pasak, serta tiang penyangga yang diletakkan di atas batu tertanam. Namun ada beberapa kekhasan arsitektur Minangkabau yang tak dapat dijumpai di wilayah lain, seperti atap bergonjong. Model ini digunakan sebagai bentuk atap rumah, balai pertemuan, dan sebagai bentuk atap kantor-kantor di seluruh Sumatera Barat. Bentuk gonjong diyakini berasal dari bentuk tanduk kerbau, yang sekaligus merupakan ciri khas etnik Minangkabau.
b. Masakan

Memasak makanan yang lezat merupakan salah satu budaya dan kebiasaan masyarakat Minangkabau. Hal ini dikarenakan seringnya penyelenggaraan pesta adat, yang mengharuskan penyajian makanan yang nikmat. Masakan Minangkabau tidak hanya disajikan untuk masyarakat Minangkabau saja, namun juga telah dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh Nusantara. Orang-orang Minang biasa menjual makanan khas mereka seperti rendang, asam pedas, soto padang, sate padang, dan dendeng balado di rumah makan yang biasa dikenal dengan Restoran Padang. Restoran Padang tidak hanya tersebar di seluruh Indonesia, namun juga banyak terdapat di Malaysia, Singapura, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat.[11] Rendang salah satu masakan khas Minangkabau, telah dinobatkan sebagai masakan terlezat di dunia. Masakan Minangkabau merupakan masakan yang kaya akan variasi bumbu. Oleh karenanya banyak dimasak menggunakan rempah-rempah seperti cabai, serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih, dan bawang merah. Kelapa merupakan salah satu unsur pembentuk cita rasa masakan Minang. Bahan utama masakan Minang antara lain daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, dan belut. Orang Minangkabau hanya menyajikan makanan-makanan yang halal, sehingga mereka menghindari alkohol dan lemak babi. Selain itu masakan Minangkabau juga tidak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pewarna, pengawet, dan penyedap rasa. Teknik memasaknya yang agak rumit serta memerlukan waktu cukup lama, menjadikannya sebagai makanan yang nikmat dan tahan lama.
c. Litearsi

Masyarakat Minangkabau telah memiliki budaya literasi sejak abad ke-12. Hal ini ditandai dengan ditemukannya aksara Minangkabau. Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah merupakan salah satu literatur masyarakat Minangkabau yang pertama. Tambo Minangkabau yang ditulis dalam Bahasa Melayu, merupakan literatur Minangkabau berupa historiografi tradisional. Pada abad pertengahan, sastra Minangkabau banyak ditulis menggunakan Huruf Jawi. Di masa ini, sastra Minangkabau banyak yang berupa dongeng-dongeng jenaka dan nasehat. Selain itu ada pula kitab-kitab keagamaan yang ditulis oleh ulama-ulama tarekat. Di akhir abad ke-19, cerita-cerita tradisional yang bersumber dari mulut ke mulut, seperti Cindua Mato, Anggun Nan Tongga, dan Malin Kundang mulai dibukukan. Pada abad ke-20, sastrawan Minangkabau merupakan tokoh-tokoh utama dalam pembentukan bahasa dan sastra Indonesia. Lewat karya-karya mereka berupa novel, roman, dan puisi, sastra Indonesia mulai tumbuh dan berkembang. Sehingga novel yang beredar luas dan menjadi bahan pengajaran penting bagi pelajar di seluruh

Indonesia dan Malaysia, adalah novel-novel berlatarbelakang budaya Minangkabau. Seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli dan Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka, Salah Asuhan karya Abdul Muis, Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, dan Robohnya Surau Kami karya Ali Akbar Navis. Budaya literasi Minangkabau juga melahirkan tokoh penyair seperti Chairil Anwar, Taufiq Ismail dan tokoh sastra lainnya Sutan Takdir Alisjahbana.
d. Pantun dan pepatah-petitih

Dalam masyarakat Minangkabau, pantun dan pepatah-petitih merupakan salah satu bentuk seni persembahan dan diplomasi yang khas. Pada umumnya pantun dan pepatah-petitih menggunakan bahasa kiasan dalam penyampaiannya. Sehingga di Minangkabau, seseorang bisa dikatakan tidak beradat jika tidak menguasai seni persembahan. Meski disampaikan dengan sindiran, pantun dan pepatah-petitih bersifat lugas. Di dalamnya tak ada kata-kata yang ambigu dan bersifat mendua. Budaya pepatah-petitih, juga digunakan dalam sambah-manyambah untuk menghormati tamu yang datang. Sambah-manyambah ini biasa digunakan ketika tuan rumah (si pangka) hendak mengajak tamunya makan. Atau dalam suatu acara pernikahan, ketika pihak penganten wanita ( anak daro) menjemput penganten lakilaki (marapulai). Selain berkembang di Sumatera Barat, pantun dan pepatah-petitih Minangkabau juga mempengaruhi corak sastra lisan di Riau dan Malaysia.[15]
e. Tarian Tari-tarian merupakan salah satu corak budaya Minangkabau yang sering digunakan dalam pesta adat ataupun perayaan pernikahan. Tari Minangkabau tidak hanya dimainkan oleh kaum perempuan tapi juga oleh laki-laki. Ciri khas tari Minangkabau adalah cepat, keras, menghentak, dan dinamis. Adapula tarian yang memasukkan gerakan silat ke dalamnya, yang disebut randai. Tari-tarian Minangkabau lahir dari kehidupan masyarakat Minangkabau yang egaliter dan saling menghormati. Dalam pesta adat ataupun perkawinan, masyarakat Minangkabau memberikan persembahan dan hormat kepada para tamu dengan tari-tarian. Jenis tari Minangkabau antara lain: Tari Piring, Tari Payung, Tari Pasambahan, dan Tari Indang. f. Beladiri

Pencak Silat adalah seni bela diri khas masyarakat Minangkabau yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pada mulanya silat merupakan bekal bagi perantau untuk menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di perantauan. Selain untuk menjaga diri, silat juga merupakan sistem pertahanan nagari (parik paga dalam nagari). Memiliki dua filosofi dalam satu gerakan. Pencak (mancak) yang berarti bunga silat merupakan gerakan tarian yang dipamerkan dalam acara adat atau seremoni lainnya. Gerakan-gerakan mancak diupayakan seindah dan sebagus mungkin karena untuk pertunjukkan. Sedangkan silat merupakan suatu seni pertempuran yang dipergunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, sehingga gerakan-gerakannya diupayakan sesedikit mungkin, cepat, tepat, dan melumpuhkan lawan. g. Orang yang mahir bermain silat dinamakan pendekar (pandeka). Gelar pendekar ini pada zaman dahulunya dikukuhkan secara adat oleh ninik mamak dari nagari yang

bersangkutan. Kini pencak silat tidak hanya diajarkan kepada generasi muda Minangkabau saja, namun juga telah menyebar ke seluruh Nusantara bahkan ke Eropa dan Amerika Serikat.
h. Musik

Alat musik khas Minangkabau adalah saluang, talempong, rabab, serta bansi. Biasanya dimainkan dalam pesta adat dan perkawinan. Kini musik Minang tidak terbatas dimainkan dengan menggunakan empat alat musik tersebut. Namun juga menggunakan istrumen musik modern seperti orgen, piano, gitar, dan drum. Lagulagu Minang kontemporer, juga banyak yang mengikuti aliran-aliran musik modern seperti pop, hip-hop, dan remix.
i. Upacara dan festifal Kelahiran Pada beberapa Nagari ada kebiasan sebelum mengadakan upacara kelahiran harus melaksanakan upacara kehamilan lebih dahulu. Dengan demikian rangkaian upacara kelahiran adalah sebagai berikut : 1. Saat kehamilan berumur enam bulan dilakukan dilakukan upacara membubur, yang mana keluarga wanita hamil membuat bubur dari tepung beras, labu, gula saka dan kelapa muda. Bubur itu untuk dibagikan kepada seluruh kerabatnya serta keluarga dekat suaminya. Mereka yang diberi bubur mengundang wanita yang hamil itu untuk makan dirumah masing masing, dan hal ini disebut manjapuik pinggan. Kelahiran bayi biasanya dibantu oleh seorang dukun atau bidan, yang ditungui oleh Ibu Mertua. Untuk menyambut kelahiran sang bayi, diadakan pertunjukan musik Talempong sebagai pernyataan kegembiraan dan rasa syukur keluarga tersebut. Plasenta bayi (uri) dimsukkan ke dalam peruik tanah dan ditutupi dengan kain putih. Penguburan plasenta (batanam uri) dilakukan oleh salah seorang yang dianggap terpandang dalam lingkungan keluarga. 2. Setelah bayi berusia 40 hari, dilaksanakam upacara Turun Mandi di tepian sungai. Upacara selanjutnya adalah pemotongan rambut bayi, yang disebut memotong gambak. Rambut yang sudah dipotong ditimbang dan diganti dengan emas seberat rambut tersebut, yang dibayarkan kepada orang yang memotong rambut bayi. 3. Ketika bayi berumur tiga bulan, dia dan ibunya dijemput untuk bermalam oleh kerabat (bako-bako)nya untuk beberapa hari. Kemudian mereka diantar pulang dengan dibekali macam-macam bawaan, seperti perhiasan, uang, atau binatang ternak. Menurut aturan dalam Agama Islam, setiap anak harus menurut aturan dalam Agama Islam, setiap anak harus di-aqiqah-kan sebelum menjelang dewasa. Masa dewasa, menurut tradisi setempat, seorang anak laki-laki yang sedang menginjak masa akil baliq harusn dikhitan dan belajar mengaji. Kedua peristiwa tersebut juga merupakan kewajiban bagi setiap

laki-laki muslim. Masyarakat Minangkabau mempunyai kebiasaan untuk melaksanakan upacara dalam rangka menghantarkan upacara tersebut, seorang anak laki-laki sudah dianggap dewasa sekaligus meng-islamkan dirinya. Sedangkan bagi anak perempuan yang menjelang dewasa diadakan suatu upacara merias rambut (menata kondai). Upacara ini dilaksanakan saat anak mendapat haid yang pertama kali. Dalam adat pergaulan muda-mudi dikenal istilah basijontiak, yaitu perkenalan antara bujang dan gadis. Kesempatan untuk berkenalan terjadi pada saat perayaan atau pesta adat. Perkawinan Adat perkawinan Minangkabau tidak mengenal mas kawin, yang ada hanya pemberian uang jembutan dari keluarga wanita kepada keluarga laki-laki. Pada masa lalu setelah segala upacara perkawinan dilangsungkan, seringkali pengantin pria mengunjungi istrinya hanya pada malam hari. Statusnya adalah sebagai Urang Sumando (menumpang). Dari pagi sampai senja hari dia berada di rumah orang tuanya. Hal ini hanya berlaku apabila status sosialnya lebih tinggi dari pada status sosial istrinya, bahkan dia dapat beristri lebih dari seorang, dengan beristri banyak berarti uang jemputan yang akan diterimanya juga banyak. Kalau sampai terjadi perceraian, maka bekas suami harus meninggalkan rumah, istri dan anak-anak. Selanjutnya istri dan anak akan diurus oleh saudara lali-laki ibunya. Kematian Apabila seseorang sedang menghadapi saat kematian, maka seluruh keluarga dan kerabatnya berkumpul untuk menemani saat terakhir, dan saling memaafkan agar semua kesalahan yang dibuat orang yang akan meninggal tidak akan memberatkannya di alam kubur. Mereka yang hadir membimbingnya membaca ayat-ayat Al-Quran, atau jika dia sudah tidak mampu lagi seseorang akan membisikkannya. Maksud dari pembacaan ayat suci tersebut agar nyawa orang yang bersangkutan dapat pergi dengan baik tanpa merasa kesakitan dan penderitaan berkepanjangan. Pada saat nyawa lepas meninggalkan tubuh, mereka yang hadir bersama-sama mendoakan kepergian kerabatnya agar dapat diterima dengan baik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian jenazah di selimuti dengan kain-kain yang halus sebagai tanda kehormatan terakhir kepada yang meninggal. Berita tentang kematian biasanya cepat tersebar ke seluruh kampung, dan para wanita datang menjenguk (manjanguak) untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan. Memandikan jenazah dilakukan oleh sekelompok orang yang telah ditunjuk. Kalau yang meninggal seorang laki-laki, maka yang memandikan adalah kaum pria ditambah ibu, istri dan anak-anaknya yang sudah berkeluarga, sedangkan jiwa yang meninggal seorang wanita, maka yang memandikan adalah kaum wanita, ayah, ibu, suami dan anak-anaknya. Mereka mengenakan selembar kain sarung agar pakaian yang

dikenakan tidak basah saat memandikan jenazah. Tujuan memandikan jenazah adalah untuk membersihkan segala kotoran yang melekat di tubuh, agar yang bersangkutan dalam keadaan bersih menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Setelah jenazah dimandikan, kemudian diwudhukan untuk disholatkan. Kemudian jenazah dikhafani oleh mereka yang ahli dalam hal itu. Sebelum dikenakan kepada jenazah, kain kafan dipotong (mancabiak kafan) dan disobek tepinya terlebih dahulu. Upacara Lain 1. Tulak Bala Merupakan usaha manusia untuk menolak, mencegah atau menangkal segala macam bencana yang dapat membahayakan kehidupan manusia. 2. Marihimin Merupakan upacara permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan keselamatan dan di jauhkan dari segala petaka. Upacara ini biasanya diselenggarakan pada waktu akan turun ke sawah dan menaburkan benih padi pada saat berjangkitnya wabah penyakit, berlangsungnya kemarau panjang dan lain-lain. 3. Mangido Ubat Nieme Nama upacara ini berasal dari bahasa Tapanuli yang berarti meminta obat padi, yang maksudnya untuk memohon kesuburan bagi tanaman padi. 4. Manogeh Tombang Merupakan upacara dalam kaitannya dengan menambang 5. Tatau Adalah sejenis upacara pengobatan dalam rangka membuka hutan untuk areal persawahan atau ladang, dengan mengusir makhluk halus agar tidak menganggu pekerjaan. 6. Parahu Turun Ka Lauik Sering dilaksanakan oleh masyarakat nelayan yang tinggal di tepi pantai, terutama dalam usaha penangkapan ikan. Maksud penyelenggaraan upcara ini adalah memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan selama melakukan pelayaran serta memperoleh hasil seperti yang diharapkan. 7. Malaimaui Pasie Biasa dilakukan oleh penduduk yang tinggal di daerah pesisir barat yang merupakan masyarakat nelayan. Upacara ini diselenggarakan sebelum mereka turun ke laut, yaitu dengan menyirami benda-benda yang akan dibawa dan perahu-perahu dengan air yang telah dicampur dengan kulit jeruk/limau, bunga-bungaan, dan daun-daunan.

Sumber bacaan : Koentjaraningrat. 1987. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Minangkabau http://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sumatera_Barat http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Gadang http://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Minangkabau http://udaeko.wordpress.com/2007/05/18/sejarah-minangkabau/ http://www.minangforum.com/Thread-Upacara-Adat-Minangkabau

Anda mungkin juga menyukai