Anda di halaman 1dari 64

Pentingnya Imunisasi pada Orang Dewasa Ditulis oleh DR dr Iris Renganis, SPPD-KAI, Satgas PB-PAPDI Senin, 3 Januari 2011

Dalam mencapai Indonesia sehat di tahun 2010, upaya pencegahan penyakit termasuk imunisasi merupakan upaya penting. Manfaat imunisasi pada anak telah diyakini dapat mencegah penularan berbagai penyakit infeksi. Pemerintah telah melaksanakan program imunisasi pada anak di tingkat pelayanan primer. Namun demikian manfaat imunisasi pada orang dewasa belum sepenuhnya diyakini oleh petugas kesehatan apalagi oleh orang awam.

Padahal American Society of Internal Medicine dalam pertemuan tahunannya di Atlanta Amerika Serikat menegaskan kembali bahwa imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dibandingkan dengan anak. Jadi terdapat peluang besar untuk mencegah kematian pada orang dewasa melalui imunisasi. Upaya menggiatkan imunisasi dewasa perlu dimulai dengan meningkatkan kepedulian dan pemahaman petugas kesehatan terhadap pentingnya pencegahan.

Tujuan

Tujuan imunisasi atau vaksinasi adalah meningkatkan derajat imunitas, memberikan proteksi imun dengan menginduksi respons memori terhadap patogen/toksin tertentu dengan menggunakan preparat antigen (zat asing) non- virulen/non-toksik. Antibodi (zat kekebalan) yang diproduksi imunisasi harus efektif terutama terhadap mikroba (kuman) ekstraselular dan produknya. Antibodi akan mencegah efek merusak sel dengan menetralisasi toksin kuman (dipthteria, clostridium). Antibodi jenis IgA berperan pada permukaan mukosa, mencegah virus/bakteri menempel pada mukosa (efek polio oral). Mengingat respons imun baru timbul setelah beberapa minggu, imunisasi aktif biasanya diberikan jauh sebelum pajanan dengan patogen. Pencegahan imunisasi merupakan kemajuan besar dalam usaha imunoprofilaksis. Cacar yang merupakan penyakit yang sangat ditakuti, berkat imunisasi masal, sekarang telah lenyap dari muka dunia ini. Demikan pula dengan polio yang dewasa ini sudah banyak dillenyapkan di banyak negara. Pierce dan Schaffner melaporkan kurangnya perhatian imunisasi pada usia dewasa disebabkan oleh adanya keraguan masyarakat maupun petugas pelaksana pelayanan kesehatan terhadap keamanan vaksinasi, ganti rugi yang tidak memadai dan belum berkembangnya sistem imunisasi pada dewasa.

Sistem Imun dan Imunisasi

Pertahanan tubuh terhadap infeksi terdiri dari sistem imun alamiah atau nonspesifik

yang sudah ada dalam tubuh dan sistem imun didapat atau spesifik. Sistem imun

nonspesifik langsung bekerja bila ada ancaman benda asing/kuman dari luar tanpa

perlu pengenalan terlebih dahulu, sedangkan sistem imun spesifik baru bekerja

setelah tubuh terpajan dengan mikroorgansime kedua kali atau lebih. Sistem imun

nonspesifik terdiri dari faktor fisis seperti kulit, selaput lendir, silia, batuk dan bersin,

faktor larut yang terdiri dari faktor biokimia seperti lisozim (keringat), sekresi

sebaseus, asam lambung, laktoferin dan asam neuraminik, faktor humoral seperti

komplemen, interferon dan CRP (C-reactive protein), sedangkan faktor selular

seperti sel fagosit (mono-dan polimorfonukliar), sel NK (Natural Killer), sel mast dan

sel basofil. Sistem imun spesifik terdiri dari faktor humoral seperti berbagai antibodi

yang diproduksi sel B dan faktor selular sel T yang terdiri dari beberapa subset

seperti sel Th (sel T penolong : sel Th1, sel Th2), sel Tc (sel T pembunuh). Refleks

batuk yang terganggu oleh alkohol, narkotika, kerusakan mekanisme bersihan

saluran napas oleh rokok atau polusi udara merupakan masalah sehari-hari yang

banyak

dijumpai

dan

harus

dihadapi

sistem

imun.

Gagal

ginjal

atau

hati,

penggunaan obat steroid dan kencing manis (diabetes melitus) dapat menurunkan

mekanisme bersihan darah dan risiko infeksi yang lebih berat. Pada infeksi HIV,

mieloma multipel, limfoma terjadi produksi antibodi yang sangat terganggu.

Imunisasi Dewasa, Upaya Preventif yang Terabaikan

Peran dokter merupakan faktor terbesar yang menggerakan masyarakat melakukan imunisasi. Belajar dari cara-cara imunisasi anak yang terbilang sukses.

Peduli Imunisasi Dewasa di Amerika Serikat yang dilakukan setiap Oktober, bila belum bisa diikuti, setidaknya dapat dijadikan peringatan terhadap upaya preventif di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pasalnya, imunisasi sebagai salah satu langkah pencegahan telah terbukti ampuh membentengi diri dari ancaman penyakit. Dalam komunitas besar, imunisasi yang dilakukan secara masal telah terbukti dapat meeradikasi penyakit. Cacar dan polio, misalnya, merupakan penyakit yang telah dapat dieradikasi di banyak negara berkat imunisasi.

Belajar dari imuniasi anak, kelompok usia dewasa juga patut mendapat imunisasi. Bahkan, seperti dilansir dalam pertemuan tahunan American Society of Internal Medicine di Atlanta Amerika Serikat, tahun 2001, imunisasi dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat dibanding pada anak. Upaya pencegahan menularnya penyakit–penyakit infeksi melalui imunisasi dewasa dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit di kalangan orang dewasa.

Seiring dengan itu, beberapa negara telah mencanangkan imunisasi dewasa secara masal untuk eradikasi penyakit tertentu. Negari Paman Sam, misalnya, beberapa

puluh tahun lalu telah melakukan imunisasi influenza dan pneumokok. Beberapa penyakit seperti campak, rubella, dan hepatitis B menjadi target eradikasi di negara itu. Australia dengan program imunisasinya, telah berhasil melakukan vaksinasi terhadap 60% populasi usia lanjut yang berusia di atas 65 tahun. Sementara Kuba berhasil menurunkan kasus hepatitis B melalui imunisasi masal.

Imunisasi merupakan kemajuan besar dalam usaha imunoprofilaksis. Upaya preventif ini untuk setiap orang dewasa yang menginginkan kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit tertentu. Memang, terkesan memakan biaya, namun sesungguhnya dana yang dikeluarkan untuk kesehatan jauh lebih rendah dibanding ketika harus terbaring sakit.

Suatu penelitian di Amerika telah membuktikan, imunisasi influenza pada orang berusia di bawah 65 tahun menunjukan pengurangan biaya, baik untuk pengobatan maupun biaya lain akibat kehilangan hari kerja. Dari penelitian itu, diketahui terdapat penurunan kunjungan ke dokter sekitar 34-44%, kehilangan hari kerja berkurang 32- 45%, dan pemakaian obat seperti antibiotik menurun 25%. Bila dilihat cost effectiveness-nya, diperkirakan didapat penghematan rata-rata US$ 60-4000 per sakit di antara orang sehat usia 18-64 tahun. Penghematan ini bergantung pada harga vaksin, tingkat kesakitan, dan efektivitas vaksin melawan penyakit yang mirip influenza.

Bila ditelisik lebih jauh, penghematan ini terkait efikasi imunisasi. Data dari American College of Preventive Medicine menunjukan bahwa efektivitas vaksin influenza pada kelompok usia di bawah 65 tahun sebesar 70-90%. Sedangkan vaksin hepatitis B efektivitasnya dalam mencegah penyakit sebesar 80-95%. Efektivitas ini menurun pada kelompok usia lanjut. Efektivitas vaksin pneumokok sebesar 60-64%, sementara pada kelompok usia di atas 65 tahun efektivitasnya menurun sebesar 44- 61%. Vaksin campak akan menimbulkan imunitas yang bertahan lama pada sekitar 95% orang yang divaksin. Jika diulang maka imunitas akan timbul pada kelompok non responder, dapat mencapai 90%. Vaksin gondongan dapat menurunkan insidens penyakit 75%-95%. Vaksin rubella efektivitasnya sekitar 95%. Vaksin tetanus efektivitasnya dapat mencapai 100% dan vaksin difteria sebesar 85%. Vaksin demam tifoid dapat menurunkan insiden sekitar 77%.

Prof. dr. Sjamsuridjal Djauzi, SpPD-KAI, pada simposium JACIN… mengatakan indikasi imunisasi dewasa cukup luas. Penggunaan vaksin pada orang dewasa didasarkan pada beberapa indikasi, yaitu riwayat paparan, risiko penularan, usia lanjut, status imun, pekerjaan, gaya hidup, dan rencana bepergian. Misalnya, vaksin tetanus toksoid diindikasikan untuk orang dengan riwayat paparan tertentu, vaksin influenza, hepatitis A, Tifoid, dan MMR diperlukan untuk orang yang berisiko terjadinya penularan, para usia lanjut dianjurkan diberi vaksinasi pneumokok dan influenza. Imunisasi hepatitis B pada petugas kesehatan perlu, mengingat kekerapan menderita penyakit ini lebih besar dibanding pada masyarakat. Vaksin Japanese B Encephalitis, Tifoid, Hepatitis A, Yellow fever perlu diberikan bagi orang yang berencana mengadakan perjalanan ke tempat-tempat tertentu. Bagi jemaah haji diwajibkan diberi vaksin meningokok.

Terkait penggunaan imunisasi dewasa, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) pada 2003 telah merekomendasikan jadwal imunisasi

dewasa. Dan sejak tahun 2004, beberapa konsensus vaksinasi dewasa telah direkomendasikan, termasuk vaksin HPV pada 2008. Beberapa vaksin seperti influenza, hepatitis B dan HPV menjadi prioritas untuk disosialisasikan. Guna menggalakan imunisasi dewasa, sejak tahun 2000 telah dilakukan kegiatan klinik imunisasi dewasa di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Meski telah memiliki perangkat imunisasi dewasa, namun penggunaan imunisasi di negeri ini masih amat terbatas. Sub Direktorat Imunisasi, Direktorat Jenderal P2PL, Depkes, melakukan program imunisasi dewasa baru pada wanita usia subur (WUS) yang meliputi calon pengantin dan wanita hamil dengan memberi imunisasi tetanus toksoid agar bayi yang dilahirkan terbebas dari penyakit tetanus neonatorum. "Depkes belum ada data-data imunisasi dewasa lainnya, yang berjalan hanya imunisasi WUS dan wanita hamil," kata DR. dr. Julitasari Sundoro, MSc, dari Ditjen. P2PL, Departemen Kesehatan.

Untuk imunisasi ini, lanjut Julitasari, telah berjalan cukup lama dan telah tersosialiasi hingga tingkat puskesmas. Depkes akan terus meningkatkan cakupan vaksin tetanus toksoid ini dengan program Maternal Neonatal Tetanus Elimination (MNTE). Di samping vaksinasi tetanus, Depkes juga mewajibkan vaksinasi meningitis dan menganjurkan vaksinasi influenza bagi jemaah haji, umroh dan TKI yang akan bepergian ke Saudi Arabia.

Meski imunisasi dewasa di Indonesia masih terbatas, namun mengingat tingginya prevalensi penyakit infeksi, vaksin-vaksin lain yang telah memperoleh persetujuan BPOM juga penting untuk dilaksanakan. "Depkes masih fokus pada imunisasi anak. Sementara imunisasi dewasa kendala pada besar biaya pengadaan vaksin dan biaya operasional yang tak sedikit," kata Julitasari.

Terbentur biaya, bukan berarti upaya pelaksanaan imunisasi dewasa mati. Pada mulanya, imunisasi ini berjalan sebagian besar didanai masyarakat dan pihak swasta. Oleh karena itu, menurut Sjamsuridjal, upaya yang mesti dilakukan adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi dewasa. Ternyata, dari penelitian di Australia, peran dokter merupakan faktor terbesar yang menggerakan masyarakat melakukan imunisasi. Selanjutnya, perlu kerjasama berbagai pihak seperti profesi dokter, farmasi, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah untuk menjalankan program imunisasi dewasa seperti layaknya imunisasi anak.

Sumber: Majalah Farmacia edisi Oktober 2008 (vol.8 no.3), halaman: 32

Kelompok Dewasa yang Memerlukan Imunisasi Oleh Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD (K) (Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa)

1. Usia lanjut --> Imunisasi Influenza

Influenza termasuk penyakit berat bila diderita orang berusia di atas 60 tahun. Berlaku juga bagi penderita penyakit jantung, paru-paru, dan kencing manis. Vaksin influenza dapat diberikan setiap tahun, disesuaikan dengan virus terbaru yang menyebar.

2. Penderita penyakit kronis

Influenza dan Hepatitis B

seperti gagal ginjal--serta petugas kesehatan

-->

Vaksinasi hepatitis B mencegah gangguan hati yang disebabkan virus hepatitis B (VHB). Vaksin bisa diberikan dalam bentuk suntikan. Dilakukan tiga kali, yakni bulan pertama, kedua, dan keenam. Vaksinasi diulang setelah 5-10 tahun.

3. Penyedia makanan --> Tifoid

makanan yang

terkontaminasi bakteri. Vaksinnya ada yang oral (ditelan) atau disuntikkan. Satu kali vaksinasi bertahan tiga tahun.

Penularan Tifoid (Tiphus) terjadi

akibat

mengkonsumsi

air

atau

4. Perempuan muda --> Rubella dan HPV

Rubella (campak Jerman) biasa dialami orang berusia belasan tahun atau dewasa. Nama vaksinnya MMR (Measles Mumps Rubella). Vaksinasi ini disarankan dua kali, yakni ketika berusia 18 tahun dan akan menikah. Bila sudah dua kali, tidak perlu lagi.

HPV (Human Papilloma Virus) adalah penyebab kanker serviks. Secara ideal, vaksin kanker serviks diberikan sedini mungkin, sebelum pernah melakukan hubungan seksual, pada usia 10-14 tahun. Vaksin ini berfokus pada HPV tipe 16 dan tipe 18 sebagai penyebab utama kanker serviks.

5. Wisatawan--jemaah haji --> Hepatitis A, Tifoid, Meningitis

Meningitis (radang selaput otak) disebabkan oleh bakteri Neisseria Meningokokus dan biasa menular melalui udara. Orang Afrika kerap menderita penyakit ini. Untuk itu, jemaah haji Indonesia divaksin tiga pekan sebelum keberangkatan. Vaksin diberikan dalam bentuk suntikan, dan bertahan di tubuh selama 2-3 tahun.

Jenis-Jenis Vaksin untuk Orang Dewasa

Vaksin yang dibutuhkan orang dewasa antara lain untuk penyakit:

1. Tetanus

Tetanus adalah infeksi akut karena racun yang dibuat dalam tubuh oleh bakteri Clostridium Tetani. Penyakit ini bisa membuat kejang otot, rahang terkancing, gangguan bernapas, dan kematian. Bakterinya terdapat di debu, tanah, lalu masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terpotong, luka terbuka, dan luka terbakar. Macam vaksinnya adalah toksoid, diberikan dalam bentuk suntikan.

2. Meningitis Meningokokus (Meningokok)

Penyakit radang selaput otak (Meningitis) disebabkan bakteri Neisseria Meningitidis (Meningokokus). Cara penularannya melalui udara, batuk, bersin dari orang yang telah terinfeksi bakteri, atau kontak dengan sekret pernapasan (minum dari gelas

sama). Gejala penyakitnya berupa demam, sakit kepala, dan tidak enak badan. Penyakit ini lebih sering terdapat di Afrika dan agak jarang dijumpai di Indonesia.

3. Tifoid

Lebih dikenal sebagai penyakit Typhus atau demam Tifoid. Penderita akan mengalami panas tubuh tinggi (di atas 40C), sakit kepala, rasa lelah, dan hilang nafsu makan. Gejala lain, sakit pada perut, buang-buang air, mual, dan menggigil. Penyakit ini disebabkan infeksi bakteri Salmonella Typhi.

4. Campak (Measles)

Penyakit yang disebabkan virus ini memiliki gejala demam, menggigil, serta hidung dan mata berair. Timbul ruam-ruam pada kulit berupa bercak dan bintil berwarna merah pada kulit muka, leher, dan selaput lendir mulut. Saat penyakit memuncak, suhu tubuh bisa mencapai 40C.

5. Parotitis (Mumps) atau gondongan

Parotitis disebabkan virus yang menyerang kelenjar air liur di mulut, dan banyak diderita anak-anak dan orang muda. Semakin tinggi usia penderita, gejalanya semakin hebat. Kebanyakan, orang menderita penyakit ini hanya sekali seumur hidup.

6. Rubella (campak Jerman)

Rubella merupakan penyakit yang disebabkan virus, mengakibatkan ruam pada kulit menyerupai campak, radang selaput lendir, dan radang selaput tekak. Ruam ini biasanya hilang dalam waktu 2-3 hari. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku pada persendian, dan rasa lemas. Biasanya diderita setelah penderita berusia belasan tahun atau dewasa. Bila infeksi terjadi pada wanita yang sedang hamil muda (tiga bulan pertama) dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi.

7. Yellow Fever (demam kuning)

Penyakit ini disebabkan virus yang dibawa nyamuk Aedes dan Haemagogus. Orang yang akan bepergian ke Afrika Selatan wajib menjalani vaksinasi penyakit ini. Serangan ringan demam kuning memberikan gejala mirip flu.

8. Hepatitis B

Vaksinasi hepatitis B diperlukan untuk mencegah gangguan hati yang disebabkan virus hepatitis B (VHB). Gejala penyakitnya diawali dengan timbulnya demam selama beberapa hari. Lalu timbul rasa mual, keletihan, dan tetap terasa letih meski telah beristirahat cukup. Urine (air seni) akan terlihat keruh seperti air teh. Bagian putih bola mata dan kuku akan terlihat berwarna kuning.

Penyakit ini disebabkan virus yang menimbulkan infeksi otak. Virus dibawa nyamuk Culex yang hidup di daerah Asia (dari India Timur ke Korea, Jepang, dan Indonesia). Vaksinasi diberikan melalui suntikan pada hari ke-0, 7, dan 28. Dilakukan vaksinasi booster setahun kemudian. Vaksinasi diulang setiap 3 tahun.

10. Rabies

Penyakit infeksi otak ini disebabkan virus. Penularannya melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi virus rabies. Hewan yang mungkin menularkan rabies adalah anjing, kucing, kelelawar, monyet, dan lainnya. Vaksin diberikan melalui suntikan sebanyak 3 kali, yaitu hari ke-0, 7, dan 28.

11. Influenza

Penyakit yang disebabkan virus dari keluarga Orthomyxoviridae ini menimbulkan wabah berulang dengan aktivitas kuat serta kejadian infeksi dan kematian tinggi pada semua usia. Influenza merupakan penyakit berat bila diderita orang berusia lanjut (di atas 65 tahun) serta penderita dengan penyakit jantung, paru-paru, dan diabetes mellitus (kencing manis).

Jadwal Imunisasi Dewasa Sumber: Konsensus Imunisasi Dewasa, PB-PAPDI

Penjelasan rekomendasi jadwal imunisasi dewasa

1. Tetanus dan Diphteria (Td)

Seluruh orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis seri primer dari difteri dan toksoid tetanus, dengan 2 dosis diberikan paling tidak dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri, maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.

Macam vaksin: Toksoid

Efektivitas: 90%

Rute suntikan: i.m.

2. Measles, Mumps, Rubella (MMR)

Orang dewasa yang lahir sebelum 1957 dianggap telah mendapat imunitas secara alamiah. Orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau sesudahnya perlu mendapat 1 dosis vaksin MMR. Beberapa kelompok orang dewasa yang berisiko terpapar mungkin memerlukan 2 dosis yang diberikan tidak kurang dari jarak 4 minggu. Misalnya, mereka yang kerja di fasilitas kesehatan dan yang sering melakukan perjalanan.

Macam vaksin: Vaksin hidup

Efektivitas: 90-95%

Rute suntikan: s.c.

Vaksinasi influenza dilakukan setiap tahun bagi orang dewasa dengan usia > 50 tahun; penghuni rumah jompo dan penghuni fasilitas-fasilitas lain dalam waktu lama (misalnya biara, asrama dsb); orang muda dengan penyakit jantung, paru kronis, penyakit metabolisme (termasuk diabetes), disfungsi ginjal, hemoglobinopati atau immunosupresi, HIV, juga untuk anggota rumah tangga, perawat dan petugas-petugas kesehatan di atas. Vaksin ini juga dianjurkan untuk calon jemaah haji karena risiko paparan tinggi. Di Amerika Serikat dan Australia, imunisasi influenza telah dijadikan program sehingga semua orang berumur 65 tahun atau lebih mendapat layanan imunisasi infuenza melalui program pemerintah.

Macam vaksin: Vaksin split dan subunit

Efektivitas: 88–89%

Rute suntikan: i.m.

Catatan: vaksin ini dianjurkan untuk usia > 50 tahun untuk individual, sedangkan untuk program, usia > 65 tahun.

4. Pneumokok

Vaksin polisakarida pneumokok diberikan, pada orang dewasa usia > 65 tahun dan mereka yang berusia < 65 tahun dengan penyakit kardiovaskular kronis, penyakit paru kronis, diabetes melitus, alkoholik chirrosis, kebocoran cairan serebospinal, asplenia anatomik/fungsional, infeksi HIV, leukemia, penyakit limfoma Hodgkins, mieloma berganda, malignansi umum, gagal ginjal kronis, gejala nefrotik, atau mendapat kemoterapi imunosupresif. Vaksinasi ulang secara rutin pada individu imunokompeten yang sebelumnya mendapat vaksinasi Pneumo 23 valensi tidak dianjurkan; tetapi, revaksinasi dianjurkan jika vaksinasi sebelumnya sudah > 5 tahun dan juga:

1. Umur < 65 th ketika divaksinasi terdahulu dan sekarang > 65 th

2. Merupakan individu berisiko tinggi terjadinya infeksi pneumokok serius (sesuai deskripsi Advisory Comittee on Immunization Practice, ACIP)

3. Individu dengan tingkat antibodi yang cepat sekali turun

Macam vaksin: Polisakarida

Efektivitas: 90%

Rute suntikan: i.m. atau s.c.

5. Hepatitis A

Vaksin Hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak 6 hingga 12 bulan pada individu berisiko terjadinya infeksi virus Hepatitis A, seperti penyaji makanan (food handlers) dan mereka yang menginginkan imunitas, populasi berisiko tinggi, mis: individu yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara dengan prevalensi tinggi Hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi Hepatitis A atau peneliti virus Hepatitis A.

Macam vaksin: Antigen virus inaktif

Efektivitas: 94-100%

Rute suntikan: i.m.

6.

Hepatitis B

Dewasa yang berisiko terinfeksi Hepatitis B: Individu yang terpapar darah atau produk darah dalam kerjanya, klien dan staff institusi pendidikan manusia cacat, pasien hemodialisis, penerima konsentrat faktor VIII atau IX, rumah tangga atau kontak seksual dengan individu yang teridentifikasi positif HBsAg-nya, individu yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat dimana infeksi Hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat injeksi, homoseksual/biseksual aktif, individu heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena PMS, fasilitas penampungan korban narkoba, individu etnis kepulauan pasifik atau imigran/pengungsi baru dimana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan 3 dosis dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respons baik, maka tidak perlu dilakukan pemberian imuniasasi penguat (booster).

Macam vaksin: Antigen virus inaktif

Efektivitas: 75-90%

Rute suntikan: i.m.

7. Meningokok

Vaksin meningokok polisakarida tetravalen (A/C/Y/W-135) wajib diberikan pada calon haji. Vaksin ini juga dianjurkan untuk individu defisiensi komponen, pasien asplenia anatomik dan fungsional, dan pelancong ke negara di mana terdapat epidemi penyakit meningokok (misalnya “Meningitis belt” di sub-Sahara Afrika). Pertimbangkan vaksinasi ulang setelah 3 tahun.

Macam vaksin: Polisakarida inaktif

Efektivitas: 90%

Rute suntikan: s.c.

8. Varisela

Vaksin varisela diberikan pada individu yang akan kontak dekat dengan pasien berisiko tinggi terjadinya komplikasi (misalnya petugas kesehatan dan keluarga yang kontak dengan individu imunokompromais). Pertimbangkan vaksinasi bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar virus varisela, seperti mereka yang pekerjaannya berisiko (misalnya guru yang mengajar anak- anak, petugas kesehatan, dan residen serta staf di lingkungan institusi), mahasiswa, penghuni serta staf institusi penyadaran (rehabilitasi) anggota militer, wanita usia subur yang belum hamil, dan mereka yang sering melakukan perjalanan kerja/wisata. Vaksinasi terdiri dari 2 dosis yang diberikan dengan jarak 4–8 minggu.

Macam vaksin: Virus hidup yang dilemahkan

Efektivitas: 86%

Rute suntikan: s.c.

Selain vaksin di atas, juga digunakan vaksin berikut pada orang dewasa.

Dianjurkan penggunaannya pada pekerja jasa boga, wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis. Pemberian vaksin Thypim vi perlu diulang setiap 3 tahun.

Macam vaksin: Antigen vi inaktif

Efektivitas: 50-80%

Rute suntikan: i.m.

10. Yellow Fever

WHO mewajibkan vaksin ini bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Afrika Selatan. Ulangan vaksinasi setiap 10 tahun.

Macam vaksin: Virus hidup yang dilemahkan

Efektivitas: tinggi

Rute suntikan: s.c.

11. Japanese Encephalitis

Untuk wisatawan yang akan bepergian ke daerah endemis (Asia) dan tinggal lebih dari 30 hari atau akan tinggal lama di sana, terutama jika mereka melakukan aktivitas di pedesaan.

Macam vaksin: Virus inaktif

Efektivitas: 91%

Rute suntikan: s.c.

12. Rabies

Bukan merupakan imunisasi rutin. Dianjurkan pada individu berisiko tinggi tertular (dokter hewan dan petugas yang bekerja dengan hewan, pekerja laboratorium), wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis yang berisiko kontak dengan hewan dan individu yang tergigit binatang tersangka rabies.

Macam vaksin: Virus yang dilemahkan

Juga tersedia serum (Rabies Immune Globulin).

Efektivitas vaksin: 100%

Rute suntikan: i.m. atau s.c.

Orang Dewasa pun Perlu Imunisasi

Pemberian imunisasi pada orang dewasa terbukti mampu mencegah serangan berbagai penyakit.

Imunisasi merupakan salah satu bentuk pencegahan penyakit yang efektif, mudah, serta murah. Dengan imunisasi, seseorang akan memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu. Contohnya cacar, yang dahulu merupakan penyakit yang sangat ditakuti, sekarang berhasil dibasmi berkat imunisasi massal.

Pemberian imunisasi berangkat dari kejadian yang sudah lewat. Awalnya dari mortalitas (angka kematian) dan morbiditas (angka kesakitan) suatu penyakit. Salah satu contohnya adalah penyakit influenza. “Ternyata, angka kematian akibat influenza mencapai 20 ribu dan morbiditasnya 200 ribu per tahun. Ini kan, sangat

mengganggu produktivitas orang dewasa. Nah, salah satu upaya pencegahannya adalah dengan imunisasi. Dengan imunisasi, mortalitas dan morbiditas influenza jadi berkurang,” ujar Dr Okki Ramadian, Sp.PD dari Satgas Imunisasi Dewasa, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI).

Imunisasi adalah induksi untuk merangsang sistem imun tubuh membentuk pertahanan tubuh terhadap jenis virus atau bakteri yang akan masuk ke dalam tubuh. “Dengan membentuk sistem imun sebelum virus atau bakteri benar-benar masuk, tubuh akan mampu membentuk sistem imun dengan cepat, sehingga akan menurunkan, menunda, atau menghentikan terjadinya angka kesakitan,” kata Okki.

Faktor HALO

Imunisasi dewasa memang belum sepopuler imunisasi anak. Padahal, imunisasi dewasa tak kalah penting dan terbukti sangat efektif mencegah penyakit. Bahkan, menurut American Society of Internal Medicine, imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian 100 kali lipat dibandingkan pada anak.

Ada banyak vaksinasi untuk orang dewasa, misalnya MMR, Tetanus dan Diphteri, Influenza, Pneumokok, Hepatitis A dan Hepatitis B, dan sebagainya. “Imunisasi dewasa sifatnya sangat optional, tetapi suatu waktu bisa jadi akan menjadi vaksin wajib untuk orang dewasa. Misalnya, influenza. Bayangkan jika seorang karyawan terkena influenza dan tidak bekerja selama seminggu. Tentu akan sangat mengganggu produktivitas kerjanya,” kata Okki.

Untuk menilai apakah seseorang memerlukan jenis vaksinasi tertentu, harus dilihat faktor HALO-nya. HALO adalah singkatan dari Health (Kesehatan), Age (Usia), Life Style (Gaya Hidup),Occupancy (Pekerjaan). Faktor kesehatan yang perlu dipertimbangkan misalnya, apakah klien menderita penyakit kronis (jantung, diabetes, kanker, dan sebagainya), sedang hamil, memiliki riwayat STD (sexually transmitted disease/penyakit seks menular), menderita penurunan imun termasuk HIV, dan sebagainya.

Faktor usia antara lain apakah klien termasuk usia dewasa produktif ataukah sudah tidak produktif. “Kebutuhan vaksinasi orang usia produktif tentu berbeda dengan usia lanjut. Pada usia tidak produktif, vaksinasi sudah harus lebih digalakkan karena sudah gampang sakit,” lanjut Okki.

Faktor gaya hidup misalnya apakah seseorang menyukai seks bebas atau tidak, menyukai traveling atau tidak, dan sebagainya. Ini akan menentukan jenis imunisasi yang diperlukan. Misalnya pada klien yang menyukai seks bebas, maka paparan paling sering adalah Hepatitis B dan STD, maka ia perlu vaksinasi HPV dan Hepatitis B, misalnya. Jenis pekerjaan juga menentukan jenis vaksinasi yang dibutuhkan. “Misalnya, faktor risiko seorang dokter tentu berbeda dengan seorang karyawan kantoran, sehingga jenis vaksinasi yang dibutuhkan juga berbeda,” jelas Okki.

Nah, keempat faktor HALO inilah yang akan membantu klien atau petugas kesehatan dalam memutuskan jenis vaksinasi yang akan diberikan. Selain HALO,

ada variabel lain yang juga perlu dilihat, seperti riwayat vaksinasi, penyaringan terhadap kontraindikasi, dan sebagainya.

Cegah Efek Samping

Seperti halnya imunisasi pada anak-anak, efek samping imunisasi pada orang dewasa juga selalu ada, tidak bisa 100 persen aman. Ini disebut KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) atau AEFI (Adverse Events Following Immunization). Akan tetapi, tegas Okki, “KIPI sangat jarang terjadi, karena imunisasi sebetulnya sangat aman, sepanjang semua prosedur dijalankan dengan benar.”

Efek samping yang muncul pasca-imunisasi bisa bersifat lokal dan sistemik. Lokal misalnya muncul merah-merah di kulit, atau gatal-gatal di luka bekas suntikan. Sementara efek samping sistemik terjadi di seluruh tubuh, misalnya demam, atau gatal-gatal seluruh tubuh. “Kalau efek sampingnya lokal, dilihat lagi apakah penyuntikannya betul, jarum suntiknya tepat, dan sebagainya.”

Selain tempat, efek samping juga bisa dilihat dari durasinya, apakah munculnya akut (cepat) atau kronik (jangka panjang). Misalnya, begitu diimunisasi langsung timbul reaksi, atau baru beberapa hari kemudian muncul gatal-gatal?

Yang harus dilihat pertama kali adalah kondisi pasien, fit atau tidak pada saat vaksinasi. Jika pada saat itu ia sedang demam, pemberian vaksin tentu akan membuatnya makin demam. “Kemudian, apakah klien alergi telur? Bagaimana dengan tenaga kesehatannya, bener enggak nyuntiknya?"

Untuk mencegah efek samping, maka dibuatlah prosedur baku dengan check list. Setiap orang yang akan diimunisasi harus di-check list, misalnya apakah ia alergi terhadap telur? “Karena basis pembentukan imunoglobin adalah protein yang mirip telur. Kalau alergi telur, klien tidak akan diberi imunisasi, kecuali penting banget. Check list lain misalnya persiapan alat, penggunaan sarung tangan, dan sebagainya. Jika ini dilakukan, maka kejadian KIPI pasti akan bisa dihindari,” jelas Okki.

Hati-hati Wanita Hamil

Imunisasi pada wanita tidak hamil sebetulnya sama dengan imunisasi pada laki-laki. Salah satu yang penting adalah imunisasi Human Papilloma Virus (HPV) untuk kanker serviks. “Sekarang sudah ditemukan imunisasi HPV yang jenisnya tidak hanya untuk kanker serviks, tapi juga untuk penyakit lain, misalnya penyakit kelamin pada laki-laki,” jelas Okki.

Berbeda dengan perempuan tidak hamil, vaksinasi tidak dianjurkan pada wanita hamil. Pada saat hamil, terjadi perubahan pada seluruh tubuh wanita, termasuk pada sistem imun, menyebabkan wanita hamil rentan terkena infeksi. “Imunisasi pada wanita hamil rentan, karena berhubungan dengan janin di dalam kandungan. Beberapa jenis vaksinasi juga kontraindikasi, seperti Varisela dan MMR. Pemberian vaksin Influenza pada wanita hamil juga harus hati-hati, kecuali pada kondisi sangat krusial,” jelas Okki.

Jadi, anjur Okki, “Pada saat hamil, pemberian vaksin sebaiknya hati-hati dan kalau bisa dihindari. Ada baiknya, wanita sudah mendapat vaksinasi sebelum kehamilan.” Beberapa jenis vaksinasi pra kehamilan antara lain MMR, Tetanus Toxoid (TT), Hepatitis B, dan HPV.

Sumber: Ceriwis

Imunisasi Penting jelang Studi ke Luar Negeri

Hanya karena tidak lengkapnya syarat kesehatan, salah satunya imunisasi dan kartu imunisasi misalnya, kepergian Anda studi ke luar negeri bisa terganggu. Kenapa serepot itu, ya? Ya, hal demikian bisa saja terjadi. Pasalnya, seperti ditetapkan WHO, keterangan imunisasi diperlukan untuk melakukan perjalanan dan ketika Anda masuk ke suatu negara dalam waktu lama. Dan persoalan "sepele" ini bisa menjadi masalah yang mengganggu rencana Anda.

Beberapa negara memang sudah bersusah payah melakukan eradikasi terhadap penyakit tertentu. Hal tersebut tidak lain upaya mereka melindungi masyarakatnya dengan melakukan pencegahan, salah satunya dengan imunisasi.

Untuk itulah, sebelum keberangkatan ke luar negeri, perlu Anda pastikan bahwa Anda menerima catatan kesehatan yang diperlukan, baik itu catatan asli ataupun fotokopi.

Tiap Universitas Berbeda

Setelah periode imunisasi, kerap kita enggan menyimpan surat keterangan imunisasi dengan baik. Bahkan, ada yang membuangnya karena dianggap sudah tidak diperlukan. Padahal, kita tidak pernah tahu, jika suatu saat kita atau anak kita memperoleh bea siswa ke luar negeri dalam waktu lama, sementara negara tujuan meminta surat keterangan tersebut.

Menurut Suharyo Sumowidagdo atau Haryo, dalam sebuah diskusi di milis komunitas beasiswa, tidak semua sekolah atau universitas memiliki peraturan sama ihwal imunisasi. Yang pasti, kata Haryo, Anda akan diminta mengisi formulir yang harus ditandatangani dokter pribadi Anda. "Kebutuhan imunisasi biasanya dikaitkan dengan pendaftaran mata kuliah. Alhasil, Anda tidak bisa mengisi formulir rencana studi atau mata kuliah yang diambil jika urusan imunisasi itu belum dibereskan," kata Haryo.

Tetapi, Anda jangan kuatir. Kata "beres" di situ tidak berarti Anda harus mendapatkan semua imunisasi. Dia menambahkan, hal terpenting adalah pihak universitas mengetahui betul status imunisasi Anda. "Jika ada yang kurang, Anda akan diminta memenuhi kekurangannya. Untuk itulah, cek kembali hal tersebut ke universitas tujuan Anda," terang Haryo.

Ada baiknya, Anda berusaha mendapatkan semua suntikan imunisasi di Indonesia. Hanya saja, mengingat waktu yang kadang sempit, tidak semua imunisasi bakal dihabiskan di sini. Paling banyak hanya dua atau tiga kali suntikan, sisanya bisa dilakukan di negara tujuan Anda. Di AS misalnya, menurut Haryo, kampus biasanya

menyediakan semua imunisasi tersebut di pusat kesehatan mereka. "Hanya saja, uang yang keluar untuk biaya imunisasi tersebut tidak sedikit. Estimasi kasar bisa mencapai 50 - 100 dolar AS per sekali imunisasi," kisahnya.

Terkait hal itu, anggota milis lain, Isma Yusadiredja, menambahkan, bahwa biaya yang keluar memang besar jika semua urutan imunisasi dilakukan. Isma menyarankan hanya beberapa imunisasi saja yang penting, antara lain HPV (vaksin kanker serviks), Meningitis, Tetanus, DPT, Hepatitis B (wajib), Hepatitis A, vaksinasi MMR (Mumps/gondongan, Measles/campak, dan Rubella/campak jerman), Pneumococcal, TB skin test, serta Varicella atau cacar air.

Lain Isma, lain pula pendapat Dominicus Husada. Menurut Dominicus, imunisasi yang biasanya ditanyakan universitas adalah BCG, Hepatitis B, MMR atau campak, Cacar Air, DPT, serta polio. "Dari semua itu yang paling ditakuti tampaknya TBC sehingga riwayat BCG, tes Mantoux, dan kemungkinan foto rontgen dada sangat penting," ujar Dominicus.

Sumber: Kompas 24 Mei 2009

Jadwal Imunisasi Dewasa menurut CDC Amerika tahun 2007

2009 Jadwal Imunisasi Dewasa menurut CDC Amerika tahun 2007 Konsensus Nasional Imunisasi untuk Usia Lanjut Dibuat

Konsensus Nasional Imunisasi untuk Usia Lanjut Dibuat oleh Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia pada tahun 2005

Program Imunisasi anak sudah sering digaungkan dalam masyarakat kita. Berbagai macam iklan dan informasi disebarluaskan pemerintah dan instansi kesehatan berwenang demi mensukseskan program tersebut. Imunisasi merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit.

Namun pernahkah Anda mendengar imunisasi yang diperuntukkan bagi usia lanjut? Mungkin banyak yang belum pernah mendengar hal tersebut.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia akan terus meningkat dan mencapai percepatan tertinggi di dunia (414%) dalam waktu 35 tahun (1990-2025). Sedangkan di tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk usia lanjut akan mencapai 25,5 juta jiwa. Meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut ini akan diikuti dengan meningkatnya jumlah pasien geriatri yang harus mendapatkan pelayanan kesehatan.

Pada hakikatnya, geriatri adalah warga usia lanjut yang memiliki karakteristik tertentu sehingga harus dibedakan dari mereka yang sekadar berusia lanjut namun sehat. Karakteristik pertama pasien geriatri adalah multipatologi, yaitu pada satu pasien terdapat lebih dari satu penyakit yang umumnya bersifat kronik degeneratif. Kedua adalah menurunnya daya cadangan fungsional, menyebabkan pasien geriatri amat mudah jatuh dalam kondisi gagal pulih. Ketiga, yaitu berubahnya gejala dan tanda penyakit dari yang klasik. Keempat adalah terganggunya status fungsional pasien geriatri; status fungsional adalah kemampuan seseorang melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Kelima adalah kerapnya terdapat gangguan nutrisi, gizi kurang atau gizi buruk.

Kelompok usia lanjut sangat rentan terhadap berbagai kondisi akut akibat gangguan kesehatan; di antaranya adalah infeksi saluran pernafasan yang merupakan penyebab kematian tertinggi dan penyebab penurunan kualitas hidup yang paling bermakna.

Peningkatan kerentanan usia lanjut terhadap infeksi disebabkan antara lain oleh penurunan fungsi kekebalan tubuh yang mengakibatkan respon pertahanan tubuh terhadap infeksi menjadi rendah. Dampaknya meliputi masa rawat yang lebih panjang, biaya rawat yang lebih besar serta komplikasi berat yang sering muncul.

Infeksi saluran nafas atas dan influenza sering berlanjut menjadi pneumonia pada pasien berusia lanjut. Faktor penting lain adalah gejala dan tanda pneumonia pada pasien geriatri sering tidak khas sehingga acap kali terjadi keterlambatan diagnosis. Influenza dan pneumonia pada pasien geriatri juga sering menimbulkan penurunan kualitas hidup. Faktor penting yang berperan terhadap munculnya penyulit dan tingginya angka kematian adalah meningkatnya resistensi mikroba terhadap antibiotik.

Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia telah membuat Konsensus Nasional Imunisasi Untuk Usia Lanjut pada tahun 2005. Ada dua macam imunisasi yang disarankan bagi usia lanjut. Kedua imunisasi tersebut influenza dan pneumonia.

1. Vaksinasi Influenza

Vaksinasi ini ditujukan pada kelompok risiko tinggi seperti usia lanjut yang berusia ≥60 tahun, baik pada komunitas di panti werdha maupun penderita penyakit kronik.

Beberapa manfaatnya meliputi manfaat medis dan ekonomis. Manfaat medis dapat dilihat dari menurunnya kejadian penyulit influenza (pneumonia), menurunnya kejadian rawat inap karena infeksi saluran napas dan penyakit lain terkait infeksi saluran napas, serta menurunnya angka kematian usia lanjut yang masuk rumah sakit akibat penyakit yang terkait dengan infeksi saluran napas. Manfaat ekonomis dapat ditinjau dari penghematan biaya yang dikeluarkan untuk rawat jalan maupun rawat inap. (Djauzi, 2004)

Sedangkan risiko yang mungkin terjadi terdiri dari efek samping lokal pada <30% meliputi nyeri setempat yang akan hilang dalam 2-3 hari tanpa pengobatan. Efek samping sistemik yang mungkin muncul adalah demam, malaise/lemah, sakit kepala, mialgia/nyeri otot, artralgia/nyeri sendi yang bisa timbul dalam 6-12 jam pasca vaksinasi dan akan menghilang dalam 1-2 hari. Namun, sebaiknya vaksinasi tidak diberikan pada mereka yang alergi telur, karena dapat terjadi reaksi hipersensitivitas.

2. Vaksinasi Pneumonia

WHO telah menetapkan bahwa vaksinasi pneumonia pada usia lanjut cukup efektif terutama untuk melindungi usia lanjut sehat terhadap penyakit invasif (pneumonia yang berpenyulit meningitis, septikemia dan pneumococcal pneumonia); vaksinasi

ini juga diutamakan pada kelompok usia lanjut sehat yang tinggal di panti werdha.

Vaksinasi dapat diberikan pada usia lanjut (≥60 tahun), sehat, terutama yang tinggal

di panti werdha. Sedangkan yang memerlukan vaksinasi ulangan hanyalah mereka

yang mengalami penurunan daya tahan tubuh (diabetes, gagal ginjal kronik, penyakit hati kronik); usia lanjut dengan komorbiditas atau mereka yang saat divaksinasi pertama kali berusia kurang dari 60 tahun.

Efek samping vaksinasi pneumonia terdiri dari lokal (sekitar 20%-30%) dan sistemik (<1%). Berdasarkan hasil pengamatan efek samping imunisasi pada usia lanjut sehat: imunisasi ganda memang lebih besar kemungkinannya menimbulkan efek samping lokal ringan dan demam yang tidak tinggi; namun kedua efek samping tersebut ringan dan hilang tanpa pengobatan. Vaksinasi pneumonia tidak boleh diberikan pada seseorang yang alergi terhadap komponen vaksin.

Sehat di Masa Tua dengan Imunisasi

Ibarat mesin yang sudah aus, sistem pertahanan tubuh lansia biasanya sudah melemah. Pemberian vaksinasi bisa mencegah kemungkinan komplikasi infeksi dan penyakit keganasan.

Layaknya bayi dan balita, para lanjut usia (lansia) biasanya juga memiliki daya tahan tubuh lemah. Bila pada bayi dan balita, sistem imunnya lemah karena belum terbentuk sempurna. Maka pada lansia, ibarat mesin yang sudah 'aus,' sistem imunnya melemah atau fungsinya menurun karena dimakan usia. Penurunan ini membuat sistem imun lansia berespon tidak secepat dan seefektif sebelumnya.

Alhasil, para lansia sangat mudah mengalami komplikasi infeksi, serta meningkatkan kemungkinan kejadian keganasan.

Penurunan sistem imun lansia biasanya terjadi meliputi perubahan pada tingkat intrasel, biokimiawi, protein dalam membran sel maupun pada organ tubuh. Pertahanan tubuh nonspesifik pun, seperti sekresi mukus, ikut berkurang. Berkurangnya fungsi kontraksi dan fungsi otonom di sistem pernapasan dan saluran kemih pada lansia, menambah kemungkinan bertambahnya kuman dalam sistem tersebut. Penurunan juga terjadi pada fungsi fagosit, termasuk mobilisasi, fagositosis, proses intraseluler.

Oleh karena itu, imunisasi pada lansia sangat penting dilakukan layaknya pada bayi dan balita. Ada dua macam imunisasi, yaitu aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah imunisasi yang dilakukan dengan merangsang tubuh membentuk zat antibodi sendiri, setelah memasukkan virus atau kuman yang sudah dimatikan atau dilemahkan ke dalam tubuh. Sedangkan pada imunisasi pasif, zat yang dimasukkan dalam tubuh sudah dalam bentuk antibodi, jadi tubuh tidak membuat antibodi sendiri.

Di Amerika Serikat, pemerintahnya telah mengadakan suatu program wajib untuk mencegah influenza dan pneumonia pada lansia. Sementara di Indonesia, imunisasi pada lansia belum menjadi suatu program massal, seperti pada bayi dan anak. Di

Tanah Air, program massal imunisasi pada lansia biasanya hanya dilakukan pada para calon jemaah haji. Meski demikian, saat ini sudah mulai dilakukan vaksinasi pneumokok, influenza, hepatitis, tetanus, pertusis, difteri, dan meningitis

meningokokus.

Vaksin Influenza

Influenza merupakan salah satu penyakit menular yang banyak menimbulkan kematian, terutama pada kelompok usia lanjut. Di Negeri Paman Sam, setiap tahun 150.000 sampai 200.000 orang dirawat karena influenza dan jumlah meninggal mencapai 36.000 orang. Penyakit influenza juga dapat menimbulkan penyulit berupa pneumonia pada kelompok usia diatas 65 tahun, serta penderita dengan penyakit jantung, paru, dan diabetes mellitus. Oleh karena itu imunisasi influenza dan pneumokok amat dianjurkan pada usia lanjut.

Satu hal yang harus diperhatikan dalam pemberian vaksin influenza adalah variabilitas galur serta mutabilitas influenza cukup tinggi. Tiap tahun virus influenza terus bermutasi, dan biasanya galur yang baru terbentuk ini akan jadi dominan. Oleh karena itu pemakaian vaksin influenza ini harus terus di-update setiap tahun dan disesuaikan dengan galur yang diperkirakan paling dominan. Untuk hal ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) lah yang berkoordinasi dan merekomendasikan jenis vaksin apa yang digunakan.

Hal tersebut sudah dilakukan di Amerika Serikat, dimana pemberian vaksin influenza adalah program wajib terutama untuk lansia. Untuk periode 2007-2008, pemerintah telah menetapkan penggunaan vaksin flu trivalen yang mengandung glikoprotein permukaan hemagglutinin (HA) dari influenza galur H3N2, H1N1, dan virus influenza

B.

Untuk menguji keefektifan dan kemanan vaksin ini, telah dilakukan beberapa studi meta analisis pada tiga kelompok usia, yakni dewasa, anak, dan lansia. Pada orang dewasa, vaksin menunjukkan efikasi tinggi melawan galur target, namun keefektifan secara menyeluruh rendah. Sedangkan pada anak, vaksin juga memperlihatkan efikasi tinggi, namun efektivitasnya mencegah flu rendah. Sementara pada lansia, vaksinasi mungkin tidak mengurangi frekuensi influenza, namun bisa mengurangi pneumonia, tingkat perawatan di rumah sakit, dan kematian akibat influenza atau pneumonia. Jadi, vaksin influenza memperlihatkan manfaat paling jelas pada lansia, karena berisiko tinggi mengalami komplikasi.

Menurut sebuah studi yang hasilnya dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine edisi 4 Oktober 2007, pemberian vaksin influenza pada lansia bisa mengurangi risiko perawatan di rumah sakit hingga 27% karena influenza atau pneumonia. Selain itu, pemberian vaksin influenza juga mengurangi risiko kematian akibat kedua penyakit tersebut hingga 48%.

Efek samping yang mungkin timbul segera setelah penggunaan vaksin influenza adalah demam, nyeri, merah, dan bengkak pada tempat injeksi. Pada orang dewasa juga dilaporkan pada pemakaian sediaan semprot hidung, terjadi batuk, sakit kepala, lemas, dan hidung penuh.

Vaksin Pneumokok

Pemberian vaksin pneumokok ditujukan untuk mencegah berbagai penyakit akibat pneumococcus, terutama pneumonia, meningitis, dan otitis media pada anak dan lansia. Ada dua tipe vaksin yang digunakan, yakni tipe polisakarida dan tipe konjugasi. Dari suatu meta analisis diketahui bahwa vaksin ini efektif mencegah pneumonia sebesar 56-81%. Sementara vaksin yang lebih baru dan saat ini banyak digunakan, Purified polysaccharide 23 valent (PPV-23), memiliki efektivitas sekitar 56-81%. Namun, vaksin PPV-23 terbukti tidak efektif mencegah pneumonia non bakteri, non vaccine serotypes organism. Pada lansia, pemberian vaksin polisakarida ini ternyata cukup cost-effective.

Vaksin polisakarida terdiri dari 23 purified capsular polysaccharide serotypes penyebab kematian 85-90% infeksi pneumokok. Serotipenya adalah 1, 2, 3, 4, 5, 6B, 7F, 8, 9N, 9V, 10A, 11A, 12F, 14, 15B, 17F, 18C, 19A, 10F, 20, 22F, 23F, dan 33F. Karena nilai antibodi 'serotype spesific' menurun sesudah 5-10 tahun, maka kemudian dikembangkanlah vaksin polisakarida terkonjugasi. Vaksin polisakarida terkonjugasi ini akan menginduksi sel limfosit T dependent yang secara normal berasosiasi dengan prolonged immunologic memory (NA).

Pemberian vaksin pneumokokus direkomendasikan pada populasi 65 tahun ke atas. Bagi mereka yang pernah menerima vaksin pneumokokus sebelum usia 65 tahun, vaksinasi perlu diulang satu kali lagi. Pasalnya, diperkirakan setelah 5 tahun antibodi yang terbentuk sudah berkurang titernya. Vaksin pneumokokus biasanya diberikan sebagai dosis tunggal secara intra muskular atau subkutan di daerah deltoid atau paha tengah lateral. Pemberian vaksin pneumokok tidak boleh dilakukan pada pasien yang terbukti menimbulkan reaksi anafilaksis, penderita ISPA akut sedang atau berat, pasien yang sedang menerima imunosupresan, atau mereka yang telah menerima vaksinasi pneumokokus dalam kurun waktu 3 tahun.

Vaksin Hepatitis B

Vaksin hepatitis B merupakan salah satu vaksin yang sangat penting, karena bisa mencegah penyakit infeksi hepatitis B yang hingga kini belum ada pengobatan spesifik. Selain itu, pemberian vaksin ini juga bisa mencegah komplikasi serius akibat hepatitis B, seperti karsinoma hepatoseluler (kanker hati). Studi memperlihatkan, sekitar 80% kanker hati utama, ternyata disebabkan infeksi virus hepatitis B. Karena hubungan sangat erat, tak ayal bila CDC menyebut vaksin hepatitis B sebagai vaksin anti-kanker pertama.

Berbagai data ilmiah memperlihatkan, vaksin hepatitis B sangat aman diberikan pada bayi, anak, dan dewasa, termasuk lansia. Hingga kini, belum ada bukti yang dikonfirmasikan bahwa vaksin hepatitis B bisa menyebakan penyakit kronis. Meskipun ada efek samping yang timbul, namun bisa diabaikan, mengingat manfaatnya besar. Efek yang mungkin adalah demam, diare, lemah, napsu makan berkurang, rhinitis, dan nyeri pada sisi injeksi.

Pemberian vaksin hepatitis B ditemukan tidak bertentangan dengan obat dan vaksin lainnya. Uji klinis memperlihatkan vaksin hepatitis B bisa diberikan secara kombinasi dengan DPT (difteri, tetanus, dan pertusis), OPV (oral Poliomyelitis vaccine), M-M- R* II (Measles, Mumps, dan Rubella Virus Vaccine Live), Liquid PedvaxHIB* [Haemophilus b Conjugate Vaccine (Meningococcal Protein Conjugate)] atau booster dari DTaP [Diphtheria, Tetanus, acellular Pertussis], dengan menggunakan sisi dan syringes berbeda untuk menginjeksi vaksin.

Sumber: Majalah Farmacia edisi Maret 2008 (vol.7 no.8), halaman: 23

PERTIMBANGAN TERAPI PADA GERIATRI (LANJUT USIA)

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Boedi, 2006)

Pemberian obat atau terapi untuk kaum lansia, memang banyak masalahnya, karena beberapa obat sering beinteraksi. Kondisi patologi pada golongan usia lanjut, cenderung membuat lansia mengkonsumsi lebih banyak obat dibandingkan dengan pasien yang lebih muda sehingga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami efek samping dan interaksi obat yang merugikan (Anonim, 2004).

Penyakit pada usia lanjut sering terjadi pada banyak organ sehingga pemberian obat sering terjadi polifarmasi. Polifarmasi berarti pemakaian banyak

obat sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang diperkirakan. Diantara demikian banyak obat yang ditelan pasti terjadi interaksi obat yang sebagian dapat bersifat serius dan sering menyebabkan hospitalisasi atau kematian. Kejadian ini lebih sering terjadi pada pasien yang sudah berusia lanjut yang biasanya menderita lebih dari satu penyakit. Penyakit utama yang menyerang lansia ialah hipertensi, gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus, gangguan fungsi ginjal dan hati. Selain itu, juga terjadi keadaan yang sering mengganggu lansia seperti gangguan fungsi kognitif, keseimbangan badan, penglihatan dan pendengaran. Semua keadaan ini menyebabkan lansia memperoleh pengobatan yang banyak jenisnya(Darmansjah, 1994).

KONSEP DASAR PEMAKAIAN OBAT Ada tiga faktor yang menjadi acuan dasar dalam pembuatan atau peresepan obat

· Diagnosis dan patofisiologi penyakit

· Kondisi organ tubuh

· Farmakologi klinik obat (Boedi, 2006)

Setelah dokter mendiagnosis penyakit pasien, maka sebelum penentuan obat yang dibeikan perlu dipertimbangkan kondisi organ tubuh serta farmakologi dari obat yang akan diresepkan. Pada usia lanjut banyak hal-hal yang lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan obat, karena pada golongan lansia berbagai perubahan fisiologik pada organ dan sistema tubuh akan mempengaruhi tanggapan tubuh terhadap obat. Adapun prinsip umum penggunaan obat pada usia lanjut :

1. Berikan obat hanya yang betul-betul diperlukan artinya hanya bila ada indikasi yang tepat. Bila diperlukan efek plasebo berikan plasebo yang sesungguhnya

2. Pilihlah obat yang memberikan rasio manfaat yang paling menguntungkandan tidak berinteraksi dengan obat yang lain atau penyakit lainnya

3. Mulai pengobatan dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang biasa diberikan pada orang dewasa yang masih muda.

4. Sesuaikan dosis obat berdasarkan dosis klinik pasien, dan bila perlu dengan memonitor kadar plasma pasien. Dosis penuNjang yang tepat umumnya lebih rendah.

5. Berikan regimen dosis yang sederhana dan sediaan obat yang mudah ditelan untuk memelihara kepatuhan pasien

6. Periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien, dan hentikan obat yang tidak diperlukan lagi (Manjoer, 2004)

FARMAKOKINETIK

Pada usia lanjut perubahan terjadi pada saluran cerna yang diduga mengubah absorbsi obat, misalnya meningkatnya pH lambung, menurunnya aliran darah ke usus akibat penurunan curah jantung dan perubahan waktu pengosongan lambung dan gerak saluran cerna. Oleh karena itu, kecepatan dan tingkat absorbsi obat tidak berubah pada usia lanjut, kecuali pada beberapa obat seperti fenotain, barbiturat, dan prozasin (Bustami, 2001). Pada distribusi obat terdapat hubungan antara penyebaran obat dalam cairan tubuh dan ikatannya dengan protein plasma (biasanya dengan albumin, tetapi pada beberapa obat dengan protein lain seperti asam alfa 1 protein), dengan sel darah merah dan jaringan tubuh termasuk organ target. Pada usia lanjut terdapat penurunan yang berarti pada massa tubuh tanpa lemak dan cairan tubuh total, penambahan lemak tubuh dan penurunan albumin plasma. Penurunan albumin sedikit sekali terjadi pada lansia yang sehat dapat lebih menjadi berarti bila terjadi pada lansia yang sakit, bergizi buruk atau sangat lemah. Selain itu juga dapat menyebabkan meningkatnya fraksi obat bebas dan aktif pada beberapa obat dan kadang-kadang membuat efek obat lebih nyata tetapi eliminasi lebih cepat. Munculnya efek obat sangat ditentukan oleh kecapatan penyerapan dan cara penyebarannya. Durasi (lama berlangsungnya efek) lebih banyak dipengaruhi oleh kecepatan ekskresi obat terutama oleh penguraian di hati yang biasanya membuat obat menjadi lebih larut dalam air dan menjadi metabolit yang kurang aktif atau dengan ekskresi metabolitnya oleh ginjal. Sejumlah obat sangat mudah diekskresi oleh hati, antara lain melalui ambilan (uptake) oleh reseptor dihati dan melalui metabolisme sehingga bersihannya tergantung pada kecepatan pengiriman ke hati oleh darah. Pada usia lanjut, penurunan aliran darah ke hati dan juga kemungkinan pengurangan ekskresi obat yang tinggi terjadi pada labetolol, lidokain, dan propanolol. Efek usia pada ginjal berpengaruh besar pada ekskresi beberapa obat. Umumnya obat diekskresi melalui filtrasi glomerolus yang sederhana dan kecepatan ekskresinya berkaitan dengan kecepatan filtrasi glomerolus (oleh karena itu berhubungan juga dengan bersihan kreatinin). Misalnya digoksin dan antibiotik golongan aminoglikosida. Pada usia lanjut, fungsi ginjal berkurang, begitu juga dengan aliran darah ke ginjal sehingga kecepatan filtrasi glomerolus berkurang sekitar 30 % dibandingkan pada orang yang lebih muda. Akan tetapi, kisarannya cukup lebar dan banyak lansia yang fungsi glomerolusnya tetap normal. Fungsi tubulus juga memburuk akibat bertambahnya usia dan obat semacam penicilin dan litium, yang secara aktif disekresi oleh tubulus ginjal, mengalami penurunan faali glomerolus dan tubulus (Bustami, 2001). INTERAKSI FARMAKOKINETIK 1. Fungsi Ginjal

Perubahan paling berarti saat memasuki usia lanjut ialah berkurangnya fungsi ginjal dan menurunnya creatinine clearance, walaupun tidak terdapat penyakit ginjal atau kadar kreatininnya normal. Hal ini menyebabkan ekskresi obat sering berkurang, sehingga memperpanjang intensitas kerjanya. Obat yang mempunyai half-life panjang perlu diberi dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya. Dua obat yang sering diberikan kepada lansia ialah glibenklamid dan digoksin. Glibenklamid, obat diabetes dengan masa kerja panjang (tergantung besarnya dosis) misalnya, perlu diberikan dengan dosis terbagi yang lebih kecil ketimbang dosis tunggal besar yang dianjurkan produsen. Digoksin juga mempunyai waktu-paruh panjang dan merupakan obat lansia yang menimbulkan efek samping terbanyak di Jerman karena dokter Jerman memakainya berlebihan, walaupun sekarang digoksin sudah digantikan dengan furosemid untuk mengobati payah jantung sebagai first- line drug (Darmansjah, 1994). Karena kreatinin tidak bisa dipakai sebagai kriteria fungsi ginjal, maka harus digunakan nilai creatinine-clearance untuk memperkirakan dosis obat yang renal-toxic, misalnya aminoglikoside seperti gentamisin. Penyakit akut seperti infark miokard dan pielonefritis akut juga sering menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan ekskresi obat. Dosis yang lebih kecil diberikan bila terjadi penurunan fungsi ginjal, khususnya bila memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang sempit. Alopurinol dan petidin, dua obat yang sering digunakan pada lansia dapat memproduksi metabolit aktif, sehingga kedua obat ini juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia. 2. Fungsi Hati Hati memiliki kapasitas yang lebih besar daripada ginjal, sehingga penurunan fungsinya tidak begitu berpengaruh. Ini tentu terjadi hingga suatu batas. Batas ini lebih sulit ditentukan karena peninggian nilai ALT tidak seperti penurunan creatinine-clearance. ALT tidak mencerminkan fungsi tetapi lebih merupakan marker kerusakan sel hati dan karena kapasitas hati sangat besar, kerusakan sebagian sel dapat diambil alih oleh sel-sel hati yang sehat. ALT juga tidak bisa dipakai sebagai parameter kapan perlu membatasi obat tertentu. Hanya anjuran umum bisa diberlakukan bila ALT melebihi 2-3 kali nilai normal sebaiknya mengganti obat dengan yang tidak dimetabolisme oleh hati. Misalnya pemakaian methylprednisolon, prednison dimetabolisme menjadi prednisolon oleh hati. Hal ini tidak begitu perlu untuk dilakukan bila dosis prednison normal atau bila hati berfungsi normal. Kejenuhan metabolisme oleh hati bisa terjadi bila diperlukan bantuan hati untuk metabolisme dengan obat-obat tertentu.

First-pass effect dan pengikatan obat oleh protein (protein-binding) berpengaruh penting secara farmakokinetik. Obat yang diberikan oral diserap oleh usus dan sebagian terbesar akan melalui Vena porta dan langsung masuk ke hati sebelum memasuki sirkulasi umum. Hati akan melakukan metabolisme obat yang disebut first-pass effect dan mekanisme ini dapat mengurangi kadar plasma hingga 30% atau lebih. Kadar yang kemudian ditemukan dalam plasma merupakan bioavailability suatu produk yang dinyatakan dalam prosentase dari dosis yang ditelan. Obat yang diberikan secara intra-vena tidak akan melalui hati dahulu tapi langsung masuk dalam sirkulasi umum. Karena itu untuk obat-obat tertentu yang mengalami first- pass effect dosis IV sering jauh lebih kecil daripada dosis oral. Protein-binding juga dapat menimbulkan efek samping serius. Obat yang diikat banyak oleh protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi untuk ikatan dengan protein seperti aspirin, sehingga kadar aktif obat pertama meninggi sekali dalam darah dan menimbulkan efek samping. Warfarin, misalnya, diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99% dan hanya 1% merupakan bagian yang bebas dan aktif. Proses redistribusi menyebabkan 1% ini dipertahankan selama obat bekerja. Bila kemudian diberi aspirin yang 80- 90% diikat oleh protein, aspirin menggeser ikatan warfarin kepada protein sehingga kadar warfarin-bebas naik mendadak, yang akhirnya menimbulkan efek samping perdarahan spontan. Aspirin sebagai antiplatelet juga akan menambah intensitas perdarahan. Hal ini juga dapat terjadi pada aspirin yang mempunyai waktu-paruh plasma hanya 15 menit. Sebagian besar mungkin tidak berpengaruh secara klinis, tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat membahayakan penderita (Boestami, 2001) FARMAKODINAMIK Farmakodinamik adalah pengaruh obat terhadap tubuh. Respon seluler pada lansia secara keseluruhan akan menurun. Penurunan ini sangat menonjol pada respon homeostatik yang berlangsung secara fisiologis. Pada umumnya obat-obat yang cara kerjanya merangsang proses biokimia selular, intensitas pengaruhnya akan menurun misalnya agonis untuk terapi asma bronkial diperlukan dosis yang lebih besar, padahal jika dosisnya besar maka efek sampingnya akan besar juga sehingga index terapi obat menurun. Sedangkan obat-obat yang kerjanya menghambat proses biokimia seluler, pengaruhnya akan terlihat bila mekanisme regulasi homeostatis melemah (Boedi, 2006) INTERAKSI FARMAKODINAMIK Interkasi farmakodinamik pada usia lanjut dapat menyebabkan respons reseptor obat dan target organ berubah, sehingga sensitivitas terhadap efek obat menjadi lain. Ini menyebabkan kadang dosis harus disesuaikan dan sering harus dikurangi. Misalnya opiod dan benzodiazepin menimbulkan efek yang sangat nyata

terhadap susunan saraf pusat. Benzodiazepin dalam dosis “normal” dapat menimbulkan rasa ngantuk dan tidur berkepanjangan. Antihistamin sedatif seperti klorfeniramin (CTM) juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil (tablet 4 mg memang terlalu besar) pada lansia. Mekanisme terhadap baroreseptor biasanya kurang sempurna pada usia lanjut, sehingga obat antihipertensi seperti prazosin, suatu α1 adrenergic blocker, dapat menimbulkan hipotensi ortostatik; antihipertensi lain, diuretik furosemide dan antidepresan trisiklik dapat juga menyebabkannya (Darmansjah, 1994)

REHABILITASI MEDIK KOMPREHENSIF PADA USIA LANJUT DAN PENGGUNAAN OBAT PADA USIA LANJUT

A. Pengertian

Rehabilitasi merupakan semua tindakan yang bertujuan untuk mengurangi dampak disability serta handicap agar individu lansia dapat berintegrasi dalam masyarakat. Rehabilitasi adalah aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam pelayanan kesehatan lansia.

( British G. Society ).

Rehabilitasi merupakan suatu proses pendidikan, yang memerlukan kontinuitas yang langgeng. (FKUI, 2000) Rehabilitasi medic adalah proses pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan fungsional dan fisikologik dan kalau perlu mengembangkan mekanisme kompensasinya agar individu dapat mandiri. Rehabilitasi medik adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memulihkan atau mengoptimalkan kemampuan seseorang setelah mengalami gangguan kesehatan yang berakibat pada penurunan kemampuanfisik.

Tujuan Rehabilitasi Medik pada Usia Lanjut

1. Memberikan pelayanan rehabilitasi medik yang komprehensif.

2. Berperan dalam mempertahankan dan atau meningkatkan kualitas hidup pasien ( kesehatan,

vitalitas, fisik, dan fungsi ).

3. Mencegah atau mengurangi keterbatasan ( impairment ), hambatan (disability) dan kecacatan

( handicap ).

Tujuan pokok rehabilitasi para usia lanjut bukanlah untuk mengembalikan peran mereka sebagai pencari nafkah, melaikan bagaimana mempersiapkan mereka untuk dapat menikmati ruas ahir dari kehidupannya dengan kemandirian yang maksimal.

B. Konsep Rehabilitasi Pada Usia Lanjut

Reintegrasi adalah rentetan usaha untuk kembali pada kemampuan fungsional yang pernah dimiliki. Reintegrasi terhadap kehidupan normal adalah hal yang samgat di dambakan oleh seorang pasien. Harapan inilah yang mewakili kualitas hidu yang diinginkan . upaya reintegrasi diartikan sebagai

reorganisasi kondisi fisik, psikis, dan social serta spiritual menuju kesatuan yang harmonis sehingga adaptasi terhadap kehidupan dapat diperoleh, setelah mengalami sakit atau trauma. Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa inti upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup seseorang yang menderita sakit adalah yang melaksanakan upaya berdasarkan konsep rehabilitasi. Konsep rehabilitasi menyatu dan berkesinambungan dengan proses penyembuhan penyakit, termasuk berbagai reaksi dan efek samping terapi, khususnya pada penyakit

geriatric.

C. Gangguan Fungsi Pada Lanjut Usia

Menjadi tua bukanlah menjadi sakit, tetapi suatu proses perubahan dimana kepekaan bertambah atau batas kemampuan beradaptasi menjadi berkurang, dimana sering dikenal dengan geriatric giant,

yang meliputi antara lain :

- Immobilitas

- Instabilitas ( mudah jatuh )

-

Isolasi ( depresi )

- Inkontinensia

- Impotensi

- Imunodefisiensi

- Infeksi mudah terjadi

- Inpaksi ( kontipasi )

- Latrogenesis

- Insomnia

- Amputasi

- Penyakit Parkinson, metabolic, osteoporosis

Perubahan yang terjadi pada lansia dapat mengakibatkan ketidakstabilan system lokomotor atau neuromuskuler, hal ini sering kali menganggu aktivitas fungsional dalam melakukan aktivitas sehari – hari. Untuk mempertahankan system lokomotor ini sangat diutamakan. Penurunan fungsi yang berkaitan dengan diconditioning atau disuse mengakibatkan flesibilitas menurun dan pada akhirnya akan menghambat aktivitas kehidupan sehari – hari, oleh karena perlu adanya program latihan rutin untuk menjaga system neuromuskuler tersebut.

D. Pelakasanaan Rehabilitasi

Pada dasarnya falsafah dan teknik rehabilitasi pada penderita lansia tidak berbeda dengan

rehabilitasi pada umumnya, demikian pula modalitas yang diberikan seperti fisioterapi, okufasiterapi, fisikologi, ortotikprostetik, terapi wicara dan social medic. Yang perlu diperhatikan adalah sasaran program haruslah tepat pada kelompok umur berapa, program rehabilitasi bisa diterapkan. Dalam melaksanakan program rehabilitasi sering kali justru merugikan menderita dengan menberikan proteksi yang berlebihan dan tidak jarang penderita “ DIPAKSA “ berbaring dan dilayani segala kebutuhannya, dan yang lebih tidak menguntungkan lagi sering kali penderitanya sendiri “ MENIKMATI “ peayanan semacam itu, meskipun sesunguhnya dapat melakukan sendiri.

- Pada keadaan imobilisasi kira – kira 3 % kekuatan otot berkurang setiap harinya sebelumnya akan

lebih cepat mengalami kemunduran karena disuse

- Keadaan seperti dekubitus, kontraktur, osteoporosis, hipotensi, ortostatik, konstipasi, thrombosis dan juga tidak kalah pentingnya berkurangnya rangsang pada system saraf sensorik yang dapat mengakibatkan munculnya keluhan kebingungan ( confusion ) keluhan ini dapat diberikan terapi modalitas berupa pemanasan baik secara alamiah maupun dengan alat diatermi seperti micro wave

diathermi ( MWD ), short wave diathermi ( SWD ), Utra sound diathermi ( US ), pacu listrik dan lain –

lain.

- Terapi yang bersifat aktif berupa latihan – latihan tidak disukai penderita lansia, karena dianggap seperti anak kecil dan kurang senang bila “ DIPERINTAH “ untuk melakukan sesuatu oleh orang yang mungkin usia cucunya.

- Banyak penelitian yang menunjukkan hasil positif dari latihan – latihan seperti Raab, Agre, Mc Adam, dan Smith membuktikan bahwa peningkatan kekuatan otot serta lingkup gerak sendi dapat mengurangi rasa nyeri sendi pada pemberian latihan pereganggan dan pembebanan ringan pada usia lanjut.

- Pada penelitian Sinaki dan Grubbs mengemukakan bahwa dengan peningkatkan kekuatan otot –

otot paraspinal penderita post menopous dengan cara – cara sederhana yang bertujuan agar dapat

memperbaiki sikap tubuh serta mencegah fraktur kompresi tulang punggung yang sudah osteoporotic

- Pada penelitian Mc Mundo dan Rennie dapat meningkatkan kekuatan otot quadriceps pemoris

dengan pemberian latihan lingkup gerak sendi sambil duduk pada penghuni panti jompo sehingga mereka lebih mampu naik turun tangga pada berbagai ketinggian.

E. Program Rehabilitasi Medik

Untuk memulai program rehabilitasi medic pada penderita lansia,sebagai tenaga professional harus mengetahui kondisi lansia saat itu,baik penyakit yang menyertai maupun kemampuan fungsional yang mampu dilakukan.salah satunya di kemukakan oleh Katz, DKK yang telah menetapkan Fungsional Assessment Instrument untuk menggolongkan kemandian merawat diri pada lansia dengan berbagai macam penyakit, misal fraktur collum femoris, infark cerebri, arthritis, paraplegia, keganasan, dll. adapun aktivitas yang dinilai adalah Bathing, Dressing, Toileting, Transfering,

Continence dan Feeding. 1. Program Fisioterapi a. Aktivitas di tempat tidur

- Positioning, alih baring, latihan pasif dan aktif lingkup gerak sendi.

b. Mobilisasi

- Latihan bangun sendiri, duduk, transfer dari tempat tidur ke kursi, berdiri, jalan

- Melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, makan, berpakaian.

2. Program okupasi terapi

Latihan ditujukan untuk mendukung aktifitas kehidupan sehari-hari, dengan memberikan latihan dalam bentuk aktifitas, permainan, atau langsung pada aktifitas yang diinginkan. Misal latihan jongkok – berdiri.

3. Program ortetik prostetik

Pada ortotis prostetis akan membuat alat penopang atau alat pengganti bagian tubuh yang memerlukan sesuai dengan kondisi penderita, misal pembuatan alat diusahakan dari bahan yang ringan, model alat yang lebih sederhana sehingga mudah di pakai.

4. Program terapi bicara

Program ini kadang – kadang tidak selalu di tujukan untuk latihan bicara saja, tetapi di perlukan untuk memberi latihan pada penderita dengan gangguan fungsi menelan apabila di temukan adanya kelemahan pada otot – otot sekitar tenggorok. Hal ini sering terjadi pada penderita stroke, dimana terjadi kelumpuhan saraf fagus, saraf lidah, dll.

5. Program social medic

Petugas social medic memerlukan data pribadi maupun keluarga yang tinggal bersama lansia, melihat bagaimana struktur atau kondisi di rumahnya yang berkaitan dengan aktifitas yang di butuhkan penderita, tingkat social ekonomi. Misal seorang lansia yang tinggal dirumahnya banyak tramp/anak tangga, bagaimana bisa di buat landai/pindah kamar yang datar dan bisa deket dengan kamar mandi.

6. Program psikologi

Dalam menghadapi lansia sering kali harus memperhatikan keadaan emosionalnay yang mempunyai ciri-ciri yang khas pada lansia, misal apakah seorang yang tipe agresif atau konstruktif. Untuk

memberikan motifasi lansia agar lansia mau melakukan latihan, mau berkomunikasi, sosialisaai dan

sebagainya.

F. Keunggulan Rehabilitasi Medik pada Usia Lanjut

1. Pendkekatan pelayanan bersifat medico – psiko – social – edukasional – vokasional yang

merupakan pemenuhan aspek kebutuhan dasar manusia.

2. Penanganan oleh Tim Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik.

3. Penanganan bersifat komprehensif dan terintegrasi di suatu tempat.

4. Senantiasa menyediakan alat – alat terapi yang baru untuk menunjang pelayanan rehabilitasi

medik yang lebih baik.

PENGGUNAAN OBAT SECARA RASIONAL PADA USIA LANJUT

A. Konsep Dasar Pemakaian Obat

Ada 3 faktor yang menjadi acuan dasar dalam proses pembuatan preskripsi ( peresepan obat ) :

1. Diagnosis dan patofisiologi penyakit

2. Kondisi dan konstitusi tubuh atau organ

3. Farmakologi klinik obat

Paradikma dasar dalam farmakoterapi dapat digambarkan sebagai berikut :

DOSIS KOP EFEK ( Kadar Obat Plasma )

Farmakokinetik Farmakodinamik

- Absorbsi - Kepekaan sel

- Distribusi - Respon homeostasis

- Metabolisme

- Ekskresi

Untuk memperoleh efek terapi yang optimal dengan ESO yang minimal dan biaya yang terjangkau

pemberian obat haruslah rasional resiko ESO pada lansia sangat tinggi meningkat 100 sampai 300% dan kemungkinan untuk sembuh lebih kecil (menurun). Dengan demikian pemakaian obat secara rasional (POSR) akan berfungsi pula sebagai benteng terhadap kemungkinan menghadapi tuntutan

malpraktek.

Tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis (cara dan lama pemberian) serta waspada ESO adalah lima kriteria pokok POSR yang telah diterima secara mondial.

( WHO,1995 ).

B. Perubahan Pada Lansia Dalam Hubungannya Dengan Obat

Berbagai perubahan tersebut dalam istilah farmakologi dikenal sebagai perubahan dalam hal

farmakokinetik, farmakodinamik, dan hal khusus lain yang merubah perilaku obat dalam tubuh.

- Farmakokinetik

Farmakokinetik membahas perjalanan nasip obat dalam tubuh. Berfungsi sebagai alat prediksi terhadap besaran KOP dan efek obat. Dosis dan frekuensi pemberian obat harus menghasilkan KOP

yang selalu berada dalam bingkai jendela terapi. Bila lebih besar akan terjadi efek toksik dan bila terlalu kecil obat tidak bermanfaat. KOP ( kadar obat dalam plasma ) untuk usia berubah menjadi lebih besar atau lebih kecil dari pada standar Perubahan – perubahan farmakoginetik akibat proses menua dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini:

a. Absorpsi

Praktis absorpsi obat dari lambung dan usus secara kesaluruhan tidak mengalami perubahan yang berarti. Penurunan faskularisasi dan motilitas usus tidak mengurangi jumlah yang diabsorpsi

( kuantitatif ).

Misalnya obat obat kelompok penyekat beta.

b. Distribusi

Adalah penyabaran obat keseluruh tubuh melaliu lintas kompartemen. Setelah obat masuk kedalam darah sebagian akan terikat oleh protein plasma darah, sebagian tetap bebas. Jadi ada fraksi obat terikat (FOT) dan fraksi obat bebas ( FOB ) yang mengalami distribusi keseluruh jaringan tubuh hanyalah FOB. Diantara FOB dan FOT terjadi keseimbangan yang dinamis.

Absorbsi Organ

Eliminasi

Protein plasma darah pada lansia telah mengalami perubahan dimana kadar albumin menurun dan kadar alfa / acid glycoprotein bertambah. Keadaaan ini mengubah proporsi FOT dan FOB obat – obat yang bersifat asam FOBnya akan meningkat.

- Metabolisme

Eliminasi obat menjadi lebih kecil dan lebih lambat karena massa, aliran darah sudah berkurang, kapasitas fungsi hevar pada lansia menurun banyak. Metabolism obat di hevar berlangsung dengan katalis atau aktivitas enzim mocrosoma hevar. Aktivitas enzim ini dapat dirangsang oleh obat

( Inducer ) dan dapat pula di hambat oleh inhibitor. Obat – obat yang dapat mengalami di hevar

misalanya paracetamol, salisilat, diazepam, prokain, propanolol, quidine, warvarin, eliminasinya akan menurun oleh karena kemunduran kapisitas fungsi hevar bila obat – obat tersebut diberikan bersama – sama dengan obat inhibitor enzim maka proses eliminasi obat akan bertambah lambat. KOP dan T1/2 meningkat bersama sama. Obat obat yang termasuk enzim inhibitor adalah : alopurinol, INH, penyekat He, simetidin, krorampenikol, eritromisin, profoksipen, valproat, ciproploksasin, metronidazole, penilbutazon, sulponamide, Ca antagonis. Obat – obat yang termasuk enzim enducer adalah : rimpamizin, luminal, diazepam, penitoin, karbamazepin, alcohol, nikotin, gluthethimide. Pada pemakaian kronis efek enducer dan inhibitor baru efektif setelah kira – kira satu minggu.

- Ekresi

Merupakan aliran darah filtrasi glomeruli dan sekresi tubuli ginjal terus mengalami reduksi yang terkorelasi dengan pertambahan umur. Pada usia 90 tahun kapasites ginjal tinggal -> 35 %.

Konsekuensi dari penurunan fungsi ginjal ini adalah eliminasi obat berkurang sehingga pada pemberian obat berkurang sehingga pada pemberian obat dengan dosis atau prekuensi lazim KOP dalam darah akan menjadi lebih besar dan pemberian obat dieliminasi lewat ginjal perlu diperhitungkan dengan cermat seperti aminoglikosida, digoxsin, obat anti diabetic oral, simetidin dan lain – lain.

Untuk keperluan perhitungan fungsi ginjal dipakai normogram Siersbaerk – Nielsen atau dengan rumus :

Cr.CL ( cc/menit ) = ( 140 – umur ) x BB ( kg ) 72 x Cr. Plasma Untuk wanita, hasil dikalikan dengan 0,85

- Farmakodinamik

Adalah pengaruh obat terhadap tubuh. Obat menimbulkan rentetan reaksi biokimiawi dalam sel mulai dari reseptor sampai dengan efektor. Pada umunya obat – obat yang cara kerjanya merangsang proses biokimiawi seluler intensitas pengaruhnya akan menurun misal agonis beta untuk terapi asma bronchial diperlukan dosis yang lebih besar. Sebaliknya obat – obat yang cara kerjanya menghambat proses biokimiawi seluler pengaruhnya akan menjadi nyata sekali berlebih – lebih dengan mekanisme regulasi homeostatis yang melemah, efek farmakologi obat dapat sangat menonjol sehingga toxsik. Misal obat – obat antagonis beta, anti kolinergik, antipsikotik, antiansietas dll.

- ESO

Kejadian eso pada lansia meningkat 2 sampai 3 kali lipat. Paling banyak menimpa system gastrointestinal dan system hymopoetik. Penelitian atau pengukuran fungsi ginjal, hevar, KOP darah terlebih – lebih dalam terapi polifarmasi sangat membantu dalam mengendalikan atau menurunkan angka kejadian ESO. Sejak lama diketahui bahwa lansia lebih peka terhadap ESO dari analgetik menjadi bingung walaupun KOPnya masih setandar. Peningkatan FOB dan kepekaan farmakodinamik adalah penyebabnya, mungkin juga penurunan fungsi selebral ikut berperan.

C. Perubahan Psikologik Dalam Komposisi Tubuh

a. Berat badan total : akan menurun pada usia lanjut akibat penurunan jumlah cairan intraseluler

sesuai dengan meningkatnya usia.

b. Penurunan masa otot : terdapat pada usia lanjut akan mengakibatkan distribusi obat yang

sebagian besar terikat otot akan menurun.

c. Peningkatan kadar lemak tubuh : akan mengakibatkan peningkatan kadar obat yang larut lemak

terutama pada wanita lansia.

d. Penurunan kadar albumin : pada penderita lansia yang sakit menyebapkan penurunan ikatan obat

dengan protein dan meningkatnya proporsi obat bebas di sirkulasi.

e. Kekambuhan penyakit yang sebelumnya laten

Beberapa obat dapat membuat kambuh berbagai penyakit yang sebelumnya tak terlhat, misal :

Menurunya stabilitas postural Konstipasi Hipotermia

D. Rasionalisasi Obat Pada Usia Lanjut

Pemberian obat pada lansia haruslah selalu diupayakan serasional mungkin dengan cara-cara seperti berikut :

a.

Rejimen pengobatan

1.

Peride pengobatan jangan di buat terlalu lama agar bisa diadakan evaluasi secepatnya.

2.

Jumlah/ jenis obat haruslah dibuat seminimal mungkin.

3.

Frekuensi pemberian obat harus di upayakan sedikit mungkin kalau mungkin sekali sehari.

b.

Pengurangan dosis

Sebagai patokan umum dosis obat pada lansia sebaiknya dikurangi, dosis awal obat adalah kira – kira lebih sedikit dari separuh dosis yang diberikan pada usia muda

c. Peninjau ulang pengobatan

Golongan lansia sering kali tidak menepati janji control ulangan karera keterbatasan gerak, ketiadaan

angkutan, tidak ada yang mengantar, ataupun takut pergi sendiri, sehinga sering kali penderita kehabisan obat atau sebaliknya mengulang resep tampa sepengetahuan dokter.

d. Kepatuhan penderita

Penelitian menunjukan bahwa obat yang diresepkan tidak selalu sama dengan obat yang di minum.

“The exent to which the patient’s behavior coincides with medical or health advice”, penderita dianggap tidak patuh bila “penderita gagal mengikuti petunjuk sedemikian sehingga mengganggu tujuan terapeutik yang di harapkan. Diposkan oleh bagus di 20:42

GIZI PADA LANSIA

di harapkan. Diposkan oleh bagus di 20:42 GIZI PADA LANSIA Proses menua Proses menua dapat terlihat

Proses menua Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua. Antara lain :

Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga jumlah

cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis menetap. Oleh karena itu, pada lansia seringkali terlihat kurus.

Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada lansia sehingga dihubungkan dengan

kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Sedangkan gangguan pada indera pengecap dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn yang juga menyebabkan menurunnya nafsu makan. Penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.

Dengan banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah

yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.

Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut

kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah BAB yang dapat menyebabkan wasir.

Kemampuan motorik menurun, selain menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan

kesulitan menyuap makanan, juga dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.

Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan daya

ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa, kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas yang mempunyai tujuan (apraksia) dan gangguan dalam menyususn rencana, mengatur sesuatu, mengurutkan, daya abstraksi, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam emlakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun. Gejala pertama adalah pelupa, perubahan kepribadian, penurunan kemampuan untuk pekerjaan sehari-hari dan perilaku yang berulang-ulang, dapat juga disertai delusi paranoid atau perilaku anti sosial lainnya.

Akibat proses menua, kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga

bekurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran natrium sampai dapat terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.

Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah satu

masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang dapat menyebabkan dehidrasi.

Secara psikologis pada usia lanjut juga terjadi ketidakmampuan untuk mengadakan

penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya, antara lain sindrom lepas jabatan yang mengakibatkan sedih yang berkepanjangan Batasan usia lansia Batasan : lansia adalah mereka yang telah diatas usia 65 tahun

Menurut Durmin : Young ederly (65-75 th), older ederly (75 th)

Munro dkk : older ederly dibagi 2, usia 75-84 th dan 85 th

M.Alwi Dahlan : usia diatas 60 th

Menurut usia pensiun : usia diatas 56 th

WHO : usia pertengahan(45-59), usia lanjut(60-74), usia tua(75-90), usia sangat tua(>90)

Status gizi pada usia lanjut

Metabolisme basal menurun, kebutuhan kalori menurun, status gizi lansia cenderung

mengalami kegemukan/obesitas

Aktivitas/kegiatan fisik berkurang, kalori yang dipakai sedikit, akibatnya cenderung

kegemukan/obesitas

Ekonomi meningkat, konsumsi makanan menjadi berlebihan, akibatnya cenderung

kegemukan/obesitas

Fungsi pengecap/penciuman menurun/hilang, makan menjadi tidak enak dan nafsu makan

menurun, akibatnya lansia menjadikurang gizi (kurang energi protein yang kronis)

Penyakit periodontal (gigi tanggal), akibatnya kesulitan makan yang berserat (sayur,

daging) dan cenderung makan makanan yang lunak (tinggi klaori), hal ini menyebabkan lansia cenderung kegemukan/obesitas

Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencerna makanan, hal ini mengganggu

penyerapan vitamin dan mineral, akibatnya lansia menjadi defisiensi zat-zat gizi mikro

Mobilitas usus menurun, mengakibatkan susah buang air besar, sehingga lansia menderita

wasir yang bisa menimbulkan perdarahan dan memicu terjadinya anemia

Sering menggunakan obat-obatan atau alkohol, hal ini dapat menurunkan nafsu makan

yang menyebabkan kurang gizi dan hepatitis atau kanker hati

Gangguan kemampuan motorik, akibatnya lansia kesulitan untuk menyiapkan makanan

sendiri dan menjadi kurang gizi

Kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis), akibatnya nafsu makan menurun

dan menjadi kurang gizi

Pendapatan menurun (pensiun), konsumsi makanan menjadi menurun akibatnya menjadi

kurang gizi

Dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan, yang dapat

menyebabkan kegemukan atau pun kurang gizi Kebutuhan gizi lansia Masalah gizi yang dihadapi lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas biologis tubuhnya. Konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisi lansia yang secara alami memang sudah menurun.

Kalori Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya. Bagi lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal dari protein, 20% dari lemak, dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan kalori untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas. Sebaliknya, bila terlalu sedikit, maka cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.

Protein Untuk lebih aman, secara umum kebutuhan protein bagi orang dewasa per hari adalah 1 gram per kg berat badan. Pada lansia, masa ototnya berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan. Lemak Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.

Karbohidrat dan serat makanan Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji- bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial),

karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh. Lansia dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang- kacangan dan biji-bijian yang berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat.

Vitamin dan mineral Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran, kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan anemia. Kebutuhan vitamin dan mineral bagi lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin, mineral dan serat.

Air Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Pada lansia dianjurkan minum lebih dari 6-8 gelas per hari.

MENU HARIAN UNTUK LANSIA Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk lansia yang sehat, menu sehari-hari hendaknya :

Tidak berlebihan, tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan persyaratan kebutuhan

lansia.

Bervariasi jenis makanan dan cara olahnya

Membatasi konsumsi lemak yang tidak kelihatan (menempel pada bahan pangan, terutama

pangan hewani)

Membatasi konsumsi gula dan minuman yang banyak mengandung gula

Menghindari konsumsi garam yang terlalu banyak, merokok dan minuman beralkohol

Cukup banyak mengkonsumsi makanan berserat (buah-buahan, sayuran dan sereal) untuk

menghindari sembelit atau konstipasi

Minuman yang cukup

Susunan makanan sehari-hari untuk manula hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makanan, serta disesuaikan dengan keadaan psikologisnya. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dan menu makanannya disesuaikan dengan ketersediaan dan kebiasaan makan tiap daerah.

Menu makanan manula dalam sehari dapat disusun berdasarkan konsep ‘4 sehat 5 sempuna” atau “Konsep gizi seimbang”, sebagai contoh

Kelompok makanan pokok (utama) : nasi (1 porsi= 200 gram)

Kelompok lauk pauk : daging (1 potong= 50 gram), tahu (1 potong = 25 gr)

Kelompok sayuran : bayam (1 mangkok = 1001 gr)

Kelompok buah-buahan : pepaya (1 potong = 100 gr) dan susu (1 gelas = 100 gr)

Kelompok makanan jenis makanan Karbohidrat : nasi, jagung, ketan, bihun, biskuit, kentang, mie, roti, singkong, talas, ubi-ubian, pisang, nangka, makaroni

Protein hewani : daging sapi, daging ayam, hati (ayam atau sapi), telur unggas, ikan, baso daging

Protein nabati : kacang-kacangan, tahu, tempe, oncom

Buah-buahan : pepaya, belimbing, alpukat, apel, jambu biji, jeruk, mangga, nangka, pisang, awo, sirsak, semangka

Sayuran : bayam, buncis, beluntas, daun pepaya, daun singkong, katuk, kapri, kacang panjang, kecipir, sawi, wortel, selada

Makanan jajanan : bika ambon, dadar gulung, getuk lindri, apem, kroket, kue putu, risoles

Susu : susu kambing, susu kedelai, skim

10 Langkah agar dapat hidup lebih lama, sehat, dan berarti untuk lansia

1. Menciptakan pola makan yang baik, kemudian bersahabat dengannya

Cobalah menciptakan suasana yang menyenangkan di meja makan semenarik mungkin sehingga dapat

menimbulkan selera

2. Memperkuat daya tahan tubuh

Makanlah makanan yang mengandung zat gizi yang mengandung zat gizi yang penting untuk kekebalan, seperti : biji-bijian utuh, sayuran berdaun hijau, makanan laut.

3. Mencegah tulang agar tidak menjadi keropos dan mengerut

Santaplah makanan yang mengandung vitamin D. Pada usia diatas 60 tahun kemampuan penyerapan kalsium menurun, vitamin D membantu penyerapan kalsium dalam tubuh, contoh makanan sumber vitamin D adalah susu

4. Memastikan agar saluran pencernaan tetap sehat, aktif dan teratur

Karena itu harus makan sedikitnya 20 gram makanan yang mengandung serat, seperti biji-bijian, jeruk dan sayuran yang berdaun hijau tua

5. Menyelamatkan penglihatan dan mencegah terjadinya katarak

Santaplah makanan yang mengandung vitamin C, E dan B karoten (antioksidan), seperti : sayuran berwarna kuning dan hijau, jeruk sitrun dan buah lain

Yaitu dengan membatasi makanan berlemak yang banyak mengandung kolesterol dan natrium dan

harus banyak makan makanan yang kaya vitamin B6, B12, asam folat, serat yang larut, kalsium dan

aklium, seperti biji-bijian utuh, susu tanpa lemak, kacang kering daging tidak berlemak, buah, termasuk

nanas dan sayuran.

7. Agar ingatan tetap baik dan sistem syaraf tetap bagus, harus banyak makan vitamin B6, B 12 dan

asam folat

8. Mempertahankan berat badan ideal dengan jalan tetap aktif secara fisik, makan rendah lemak dan

kaya akan karbohidrat kompleks

9. Menjaga agar nafsu makan tetap baik dan otot tetap lentur

Dengan jalan melakukan olah raga aerobik (berjalan atau berenang). Olah raga dilakukan menurut porsi

masing-masing usia serta tingkat kebugaran setiap orang.

10. Tetaplah berlatih

Kecukupan gizi

Kebutuhan gizi lansia setiap individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dibawah ini

Umur

Jenis kelamin

Aktivitas/kegiatan fisik dan mental

Postur tubuh

Pekerjaan

Iklim/suhu udara

Kondisi fisik tertentu

lingkungan

Angka kecukupan energi dan zat gizi yang dianjurkan untuk manula dalam sehari

Pola susunan makanan untuk manula dalam sehari

KOMPOSISI

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

   

Energi KELOMPOK (kal)

JENIS

PANGAN PER JUMLAH

1960

1700

 

PORSI

DALAM

MAKANAN

PORSI

   

SEHARI

 

Protein (gram)

 

50

44

LAKI-LAKI

 

PEREMPUAN

Vitamin A (RE)

 

600

700

     

Thiamin Bahan pokok (mg)

Nasi

0,8 1,0
0,8
1,0

(1 piring=200 gr)

0,7

3

 

2

Riboflavin (mg)

 

0,9

   

Niasin (mg)

8,6

7,5

 

Lauk pauk

 

Daging (1 ptg=50gr)

 

1,5

 

2

Vitamin B12 (mg)

Tahu (1

1

ptg=25 gr)

1

5

 

4

Asam folat (mcg)

 

170

150

   

Vitamin Sayuran C (mg)

Bayam

40 500
40
500

(1 mgk=100 gr)

30

1,5

 

1,5

Kalsium (mg)

 

500

   

Fosfor (mg)

500

450

Buah-buahan

Pepaya

   

2

 

2

Besi (mg)

13

16

 

Seng (mg)

15 15 150 150
15
15
150
150

Iodium (mcg)

susu
susu

(1 ptg=100 gr)

Skim (1 gls=100 gr)

1 1
1 1

Menu untuk manula dalam sehari

MENU

Roti-telur-susu

Papais

Nasi

Semur

Pepes tahu

Sayur bayam

Pisang

Kolak pisang

Mie baso

Pepaya

PORSI

1 tangkep 1 gelas

2 bungkus

1 piring

1 potong

1 bungkus

1 mangkok

1 buah

1 mangkok

1 mangkok

1 buah

Pedoman tata laksana gizi usia lanjut untuk tenaga kesehatan. 2003. Direktorat gizi masyarakat DJBKM. Depkes RI

Buku ajar ilmu gizi

Gizi dalam kesehatan reproduksi

Mar 20, 2009No Commentsby lusa

A. Prinsip Gizi Pada Wanita Remaja Dan Dewasa

Masa remaja merupakan

dalam prosespertumbuhan fisik, kognitif dan psikososial. Pada masa ini

terjadi kematangan

pematangan

juga

bentuk dewasa karena

terjadinya perubahan-perubahan cepat

saat

tercapainya

fungsi endokrin. Pada

saat prosespematangan fisik,

terjadi perubahan komposisi tubuh.

(Growth

Spurt) baik tinggi badannnya maupun berat badannya. Pada periode growth

Periode

Adolesensia

ditandai

dengan pertumbuhan yang

cepat

spurt,

besarnya tubuh. Growth Spurt :

Anak perempuan : antara 10 dan 12 tahun

Anak laki-laki : umur 12 sampai 14 tahun.

sama

melainkan

diiringi

naik pula. Penyelidikan membuktikan bahwa apabila manusia sudah mencapai usia

zat gizi akan

cepat biasanya

dengan

kebutuhan

zat gizi tinggi

karena

berhubungan

Permulaan growth

spurt pada anak tidak

selalu

pada

umur

yang

tergantung

individualnya. Pertumbuhan yang

kebutuhan

lebih

dari

20

tahun,

maka pertumbuhan tubuhnya

sama

sekali

sudah

terhenti.

Ini

berarti, makanan tidak

lagi

berfungsi

keadaan gizi yang sudah didapat atau membuat gizinya menjadi lebih baik.

Dengan

terjadikelainan-

kelainan pada tubuhnya, seperti sakit dan sebagainya. Sehingga mengharuskandia mendapatkan kebutuhan zat gizi yang lebih dari

biasanya.

unsure-unsur gizi dalam

mempertahankan

tetapi

untuk

demikian,

kebutuhan

akan

kecuali

masa dewasa sudah

agak

konstan,

jika

B. Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Remaja Dan Dewasa

Faktor yang mempengaruhi gizi pada remaja dan dewasa :

Kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau pengetahuan tentang zat gizi. Pekerjaan

pengujian

ilmu gizi (NHNES) menyatakan bahwa konsumsi energi wanita dari umur 11

sampai

sampai kalori yang tinggi (1958 kalori).

kadar lemak kurang

dari 30 % dan tinggi kalsium sekitar 800-1200 mg/ hari. Rata-rata RDA

Konsumsi makanan wanita perlu

1329)

Data

terbaru

51

dari kesehatan nasional

bervariasai,

dan

survey

tahun

dari kalori yang

rendah

(sekitar

mempertimbangkan

kebutuhan kalsium 1000

mg.

selain

itu, wanita juga

harus

memperhatikan unsur sodium,

cara

pengolahan makanan dan

para wanita perlu membatasi makanan kaleng atau makanan dalam kotak.

C. Kebutuhan Gizi Seimbang

total

asupan kalori remajasetiap hari. Tetapi kudapan ini sering mengandung

tinggi lemak, gula dan natrium dan dapat meningkatkan resiko kegemukan dan karies gigi. Oleh karena itu, remaja harus didorong untuk lebih memilih kudapan yang sehat. Bagi remaja, makanan merupakan suatu kebutuhan

pokok

Pada anak remaja kudapan

berkontribusi

30

%

atau

lebih

dari

untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya.

Kekurangan

konsumsimakanan,

baik

secara

kualitatif

maupun

kuantitatif,

akan

menyebabkan metabolisme tubuhterganggu.

 

Kecukupan gizi merupakan

kesesuaian

baik

dalam

hal kualitas maupun

kuantitas zat-zat gizisesuai dengan kebutuhan faali tubuh.

Kebutuhan energi diperlukan

untuk kegiatan sehari-hari

maupun

sederhana

untuk

mengetahui

badanseseorang.

Pada remaja perempuan 10-12 tahun kebutuham energinya 50-60 kal/kg BB/ hari dan usia 13-18 tahun sebesar 40-50 kal/ kg BB/ hari.

Kebutuhan protein meningkat

kembang berlangsung

kurang, protein akan dipergunakan sebagai energi.

Kebutuhan protein usia 10-12 tahun adalah 50 g/ hari, 13-15 tahun sebesar 57 g/ hari dan usia 16-18 tahun adalah 55 g/ hari. Sumber protein terdapat

(hewani).

Sedangkan protein nabati pada kacang-kacangan, tempe dan tahu.

Lemak dapat diperoleh dari daging berlemak, jerohan dan sebagainya.

Kelebihan lemakakan

sewaktu- waktu

menganjurkan

konsumsi lemak dibatasi tidak melebihi 25 % dari total energi per hari, atau

kecukupan energi dapat

dilihat

dari berat

karena proses tumbuh asupan energi terbatas/

cepat.

Apabila

dalam daging, jeroan, ikan, keju, kerang

disimpan

diperlukan.

dan

udang

oleh tubuh sebagai lemak tubuh yang

Departemen Kesehatan RI

paling

banyak

3

sendok

makan

minyak

goreng

untuk

memasakmakanan sehari.

Asupan lemak yang

terlalu

rendah

juga

dikonsumsi

tidak

mencukupi,

karena

1

mengakibatkan energi yang gram lemak menghasilkan

9 kalori.

Pembatasanlemak hewani dapat

mengakibatkan asupan Fe dan Zn juga rendah.

Kebutuhan vitamin dan mineral pada

saat

ini

juga

meningkat.

Golongan vitamin

B yaituvitamin B1

(tiamin), vitamin B2

(riboflavin)

maupun niasin diperlukan dalam metabolismeenergi. Zat gizi yang berperan dalam metabolisme asam nukleat yaitu asam folat danvitamin B12. Vitamin D diperlukan dalam pertumbuhan kerangka tubuh/ tulang. Selain itu, agar

sel dan jaringan baru terpelihara dengan baik, maka kebutuhan vitamin A, C dan E juga diperlukan. Kekurangan Fe/ zat besi dalam makanan sehari-hari dapat menimbulkan

dengan anemia gizi besi

(AGB). Makanan sumber zat besi adalah sayuran berwarna hijau, kacang- kacangan, hati, telur dan daging. Fe lebih baik dikonsumsi bersama dengan vitamin C, karena akan lebih mudah terabsorsi. D. Pengaruh Status Gizi Pada Sistem Reproduksi

usia reproduksi,

tingkat aktivitas dan statusnutrisi. Nutrisi yang diperlukan untuk memenuhi

kekurangan darahyang

dikenal

Kebutuhan energi dan nutrisi dipengaruhi

oleh

kebutuhan pertumbuhan. mengalami anemia dan

Kekurangannutrisi pada

seorang

yang

kurang berat

badan lebih

banyak

badan lahir

rendah)

dibandingkan

dengan wanita dengan usiareproduksi yang aman untuk hamil.

benar.

status gizi yang

Adapun pesan dasar gizi seimbang yang diuraikan oleh Depkes adalah:

baik

dan

berperilaku gizi yang

baik

dan

1. Makanlah aneka ragam makanan. Tidak satupun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang

mampu

membuat

seseorang

hidup

sehat, tumbuh

produktif.

Makan makanan yang

mengandung unsur-unsur gizi yang

diperlukan

oleh tubuh baik kualitas maupun

kuantitas.

Jadi,

mengonsumsi makanan yang beraneka ragam menjamin terpenuhinya

kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

2. Makanlah makanan untuk mencukupi kecukupan energi.

Setiap orang dianjurkan

untuk

memenuhi makanan yanng

cukup kalori (energi)

agar

dapat

hidup

dan

beraktivitas

sehari-hari.

Kelebihan

konsumsi kalori akan

ditimbun

sebagai

cadangan

didalam tubuh yang berbentuk jaringan lemak.

3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.

Ada

sederhana. Prosespencernaan

kompleks berlangsung Konsumsi karbohidrat

dan

lebih

lama

daripada

kompleks sebaiknya

dibatasi

penyerapan karbohidrat

sederhana.

dari

sumber zat

yang

50%

memenuhi

saja

kebutuhanenergi sehingga tubuh dapat

pembangun dan pengatur.

4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai ¼ dari kecukupan energi.

Lemak dan

meningkatkan jumlahenergi, membantu penyerapan vitamin (A, D, E dan

K) serta menambah lezatnya hidangan. Mengonsumsi lemak dan minyak secara berlebihan akan mengurangi konsumsi makanan lain.

untuk

minyak

yang

terdapat

dalam makanan berguna

5. Gunakan garam beryodium. Kekurangan garam beryodium mengakibatkan penyakit gondok.

6. Makanlah makanan sumber zat besi.

sel darah merah.

Kekurangan zat besiberakibat anamia gizi besi (AGB), terutama diderita oleh wanita hamil, wanitamenyusui dan wanita usia subur.

Zat

besi adalah unsur penting

untuk

pembentukan

mempunyai

kelebihan yang meliputi 3 aspek baik aspek gizi, aspek kekebalan dan kejiwaan. 8. Biasakan makan pagi. Bagi remaja dan dewasa makan pagi dapat memelihara ketahanan fisik, daya tahantubuh, meningkatkan konsentrasi belajar dan meningkatkan produktivitas kerja. 9. Minumlah air bersih yang aman dan cukup jumlahnya. Aman berarti bersih dan bebas kuman.

10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur.

ASI

merupakan makanan

terbaik untuk bayi,

karena

Dapat

meningkatkan

memperlambat proses penuaan.

meningkatkan

kebugaran,

mencegah

kelebihan berat

dan otot serta

fungsijantung,

paru

11. Hindari minum minuman beralkohol. Sering minum minuman beralkohol akan sering BAK sehingga menimbukan rasa haus. Alkohol hanya mengandung energi, tetapi tidak

mengandung zat lain.

12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.

Selain

dikonsumsi

bebas dari kuman dan bahan kimia dan halal.

harus

layak

sehinggaaman untuk kesehatan. Makanan yang aman yaitu

bergizi

lengkap

dan seimbang, makanan harus

13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.

POSTED BY ADMIN ON SEPTEMBER - 2 - 2010

10

Sudah dibaca :50284

TEMA : GIZI TEPAT UNTUK LANSIA

Penyiar :

Hari ini kita akan membahas tentang Gizi Tepat untuk Lansia ya Bu….

Ahli Gizi :

Ya… benar, Lansia atau Lanjut Usia akan dialami oleh semua orang yang dikarunia usia panjang tentunya kalau Tuhan menghendaki, karena kita tidak tahu berapa usia kita…

Penyiar :

Betul

mengalami masa lansia dan tidak dapat menolaknya. Sebenarnya penuaan itu terjadinya bagaimana ya ?

,meski

bukan cita-cita tetapi semua orang yang berumur panjang akan

Ahli Gizi :

Penuaan adalah proses yang alami dan spontan, dimana terjadi penurunan faali tubuh atau organ tubuh yang berjalan perlahan namun berangsur dan pasti. Tanda yang mudah kita lihat adalah kulit yang tadinya halus mulus berangsur-angsur akan berubah menjadi keriput, rambut yang tadinya hitam mulai berubah menjadi putih, gigi yang tadinya lengkap kemudian menjadi ompong dan sebagainya

Penyiar :

Ya, mungkin bagi kita yang masih muda tidak pernah membayangkan bagaimana bila memasuki masa lanjut usia nanti, bahkan ada yang takut menjadi tua dan maunya sih ….muda terus, namun itu jelas tidak mungkin. Tapi saya pernah menemui orang masih muda tapi rambutnya sudah ubanan semua dan giginya ompong apa itu termasuk lansia ya?

Ahli Gizi :

Ya, memang rambut beruban, gigi ompong merupakan salah satu tanda penuaan, namun belum tentu orang yang beruban dan ompong itu adalah lansia. Yang dimaksud dengan lansia adalah orang yang berusia 60 tahun keatas. Menurut Depkes, penggolongan lansia dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :

1. Kelompok Lansia Dini (55-64 tahun), ini merupakan kelompok yang baru memasuki lansia

2. Kelompok Lansia (65 tahun ke atas)

3. Kelompok Lansia Resiko Tinggi, yaitu lansia yang berusai lebih dari 70 tahun

Pada Lansia akan mengalami perubahan biologis, kemunduran biologis dan kemunduran kemampuan kognitif

Penyiar :

Oh berarti kalau umur 40 tahun sudah memutih rambutnya dan ompong giginya berarti

belum dikatakan lansia ya. Ibu tadi menyebutkan perubahan biologis… dimaksud itu apa ya ?

Ahli Gizi :

Pada masa lansia, terjadi perubahan biologis yaitu :

yang

1. Perubahan Hormon

Yang dimaksud adalah perubahan hormon dimana produksi estrogen dan progesteron menurun sehingga mengakibatkan :

- Kemampuan reproduksi pada wanita menurun dan akhirnya tidak ada (menopouse)

- Indung telur mengalami atrofi

- Hormon tidak seimbang

- Proses metabolisme tubuh terganggu

- Perubahan psikis dan fisik

Dimana lansia mengalami osteoporosis, diperkirakan karena Ca (Kalsium) kurang.

1. Perubahan Proporsi Jaringan Lemak, dimana pada lansia jaringan lemak lebih banyak daripada jaringan otot sehingga cenderung mengalami kegemukan

2. Perubahan Susunan Syaraf dan Penurunan Panca Indera, misalnya pendengaran dan penglihatan berkurang.

3. Penurunan Elastisitas Kulit dimana kulit menjadi keriput

4. Perubahan Pembuluh Darah yakni elastisitas menurun dan terjadi penebalan dinding yang mengakibatkan lansia mudah menderita hipertensi

5. Perubahan Fungsi Gastrointestinal yang mempengaruhi proses penyerapan dan pencernaan. Contohnya adalah kehilangan kemampuan mendeteksi rasa, gangguan menelan, konstipasi atau sembelit (susah buang air besar) dll

Penyiar :

Oh ya

biologis dan kognitif yang Ibu sebutkan tadi kira-kira apa saja ?

Ahli Gizi :

Kemunduran biologis ini nampak sebagai gejala fisik antara lain :

itu tadi tentang perubahan biologis yang dialami oleh lansia, kalau kemunduran

1. Kulit mengendur

2. Wajah mulai keriput

3. Rambut mulai beruban

4. Gigi mulai ompong

5. Penglihatan dan pendengaran menurun

6. Cepat dan mudah lelah

7. Gerakan lamban dan kelincahan berkurang

8. Tubuh tidak ramping lagi karena terjadi timbunan lemak, biasanya di bagian perut dan pinggul

Sedangkan kemunduran kemampuan kognitif biasanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan maupun orang yang berhubungan dengannya. Pada beberapa lansia terkadang penampilan secara fisik belum terlalu tua, misalnya rambut masih hitam, gigi belum ompong, kulit agak kencang namun terjadi kemunduran kemampuan kognitif seperti :

1. Ingatan kurang berfungsi dengan baik, pelupa

2. Tidak mudah menerima ide-ide baru

3. Orientasi umum dengan persepsi terhadap waktu dan tempat berkurang atau pelupa

Penyiar :

, bagaimana dengan kebutuhan gizinya ?

Ahli Gizi :

Secara umum, kebutuhan gizi para lansia sedikit lebih rendah dibandingkan kebutuhan gizi di usia dewasa. Kondisi ini merupakan konsekuensi terjadinya penurunan tingkat aktivitas dan metabolisme basal tubuh para lansia/proses dalam tubuh lansia.

Namun kebutuhan unsur gizi tertentu pada lansia mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh terjadinya proses degradasi (perusakan) yang berlangsung sangat cepat. Misalnya sebagian besar lansia wanita membutuhkan asupan mineral kalsium

Oh begitu

lantas kalau lansia sudah mengalami perubahan dan kemunduran,

sedikit lebih tinggi. Tujuannya untuk memperlambat proses kerusakan tulang. Di lain pihak, kebutuhan kalori justru mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia. Penurunan ini berhubungan dengan rendahnya aktivitas fisik dan metabolisme basal tubuh (Metabolisme : proses kimiawi dalam tubuh untuk melaksanakan berbagai fungsi pentingnya). Sehingga jika bertambahnya usia tidak diimbangi dengan penurunan asupan kalori maka terjadinya obesitas atau kegemukan, kemungkinan besar tidak dapat dihindari.

Penyiar :

Kalau begitu kebutuhan gizi seluruh lansia itu sama ya Bu…

Ahli Gizi :

Secara prinsip kebutuhan gizi setiap individu berbeda-beda. Hal ini tergantung pada kondisi kesehatan, berat badan aktual, dan tinggi rendahnya tingkat aktivitas fisik seseorang. Di samping itu, angka kecukupan gizi untuk pria dan wanita sedikit berbeda karena adanya perbedaan dalam ukuran dan komposisi tubuh.

Beberapa sumber yang saya baca menyebutkan faktor-faktor yang terkait dengan kebutuhan gizi lansia yaitu :

1. Aktivitas Fisik

Pada umumnya, para lansia akan mengalami penurunan aktivitas fisik. Salah satu faktor penyebabnya adalah pertambahan usia yang dapat menyebabkan terjadinya kemunduran biologis. Kondisi ini setidaknya akan membatasi aktivitas yang menuntut ketangkasan fisik. Penurunan aktivitas fisik pada lansia harus diimbangi dengan penurunan asupan kalori, hal tersebut dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit degeneratif.

1. Kemunduran Biologis

Seperti yang sudah saya uraikan tadi bahwa memasuki usia senja, sesorang akan mengalami beberapa perubahan, baik secara fisik maupun biologis, misalnya tanggalnya gigi, kulit keriput, penglihatan berkurang, keropos tulang, rambut beruban, pikun, depresi, sensitivitas indera berkurang, metabolisme basal tubuh berkurang, dan kurang lancarnya proses pencernaan. Oleh karena itu asupan gizi untuk lansia harus disesuaikan dengan perubahan kemampuan organ-organ tubuh lansia sehingga dapat mencapai kecukupan gizi lansia yang optimal.

1. Pengobatan

Bertambahnya usia identik dengan ketergantungan obat. Pada dasarnya, pengobatan dapat memperbaiki kondisi kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi di lain pihak pengobatan pun dapat mempengaruhi asupan kebutuhan gizi lansia, efek ini timbul karena obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi proses penyerapan zat gizi. Oleh karena itu bagi lansia yang harus menggunakan beberapa jenis obat dianjurkan untuk selalu mengkonsultasikan kepada dokter mengenai kemungkinan terjadinya efek samping obat yang sedang dan akan digunakan selain itu pasien juga dianjurkan untuk

meminta saran dari dokter atau ahli gizi tentang pilihan makanan yang sebaiknya dikonsumsi.

1. Depresi dan Kondisi Mental

Depresi hampir dialami 12 – 14% populasi lansia. Perubahan lingkungan sosial, kondisi yang terisolasi, kesepian, dan berkurangnya aktivitas menjadikan para lansia mengalami rasa frustasi dan kurang bersemangat. Akibatnya, selera makan terganggu sehingga secara tidak langsung dapat memicu terjadinya status gizi buruk.

1. Penyakit

Meningkatnya usia menyebabkan seseorang menjadi rentan terserang penyakit. Penyakit-penyakit tertentu sering menyebabkan keadaan gizi buruk misalnya penderita diabetes mellitus umumnya mempunyai berat badan dibawah normal, hal tersebut disebabkan karena karena defisiensi insulin kondisi ini akan menyebabkan sedikitnya glukosa yang dapat diserap tubuh untuk diubah menjadi glukogen (energi), dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan energi, tubuh akan merombak lemak (lipolisis) dan protein (proteolisis) untuk dijadikan sumber energi. Jika kondisi ini terjadi secara terus menerus akan menyebabkan cadangan lemak dan protein di dalam tubuh berkurang. Akibatnya berat badan akan menurun.

Penyiar :

Ternyata banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi lansia ya yang mempunyai orang tua yang lansia kurang memperhatikan. Jadi

mengatur makanan pada lansia Bu, agar tidak terjadi kekurangan gizi atau bahkan kelebihan gizi ?

Ahli Gizi :

Cara mengatur makanan bagi lansia adalah :

, kadang kita

bagaimana

1. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip kebutuhan gizinya yaitu kebutuhan energi memang lebih rendah dari pada usia dewasa muda (turun sekitar 5-10%), kebutuhan protein sebesar 1 gr/kg BB, kebutuhan lemak berkurang, kebutuhan karbohidrat cukup (sekitar 50%), kebutuhan vitamin dan mineral sama dengan usia dewasa muda. Atau dengan cara praktis melihat di DKGA (Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan)

2. Menu yang disajikan untuk lansia harus mengandung gizi yang seimbang yakni mengandung sumber zat energi, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur. Dalam hal ini kita bisa mengacu pada makanan empat sehat lima sempurna.

3. Karena lansia mengalami kemunduran dan keterbatasan maka konsistensi dan tekstur atau bentuk makanan harus disesuaikan. Sebagai contoh : gangguan pada gigi (gigi tanggal/ompong), maka bentuk makanannya harus lunak, misal nasi ditim, lauk pauk dicincang (ayam disuwir, daging sapi dicincang/digiling)

4. Makanan yang kurang baik bagi lansia adalah makanan berlemak tinggi seperti seperti jerohan (usus, hati, ampela, otal dll), lemak hewan, kulit hewan (misal kulit ayam, kulit sapi, kulit babi dll), goreng-gorengan, santan kental. Karena seperti prinsip yang disebutkan tadi bahwa kebutuhan lemak lansia berkurang dan pada lansia mengalami perubahan proporsi jaringan lemak. Hal ini bukan berarti lansia tidak boleh mengkonsumsi lemak. Lansia harus mengkonsumsi lemak namun dengan catatan sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh misalnya bila menu hari ini lauknya sudah digoreng, maka sayurannya lebih baik

sayur yang tidak bersantan seperti sayur bening, sayur asam atau tumis. Bila hari ini sayurnya bersantan maka lauknya dipanggang, dikukus, dibakar atau ditim.

5. Lansia harus diberi pengertian untuk mengurangi atau kalau bisa menghindari makanan yang mengandung garam natrium yang tinggi. Contoh bahan makanan yang mengandung garam natrium yang tinggi adalah garam dapur, vetsin, daging kambing, jerohan, atau makanan yang banyak mengandung garam dapur misalnya ikan asin, telur asin, ikan pindang. Mengapa lansia harus menghindari makanan yang mengandung garam natrium yang tinggi ? Hal ini dikarenakan pada lansia mudah mengalami hipertensi. Hal ini, seperti yang dijelaskan tadi bahwa elastisitas pembuluh darah telah menurun dan terjadi penebalan di dinding pembuluh darah yang mengakibatkan mudahnya terkena hipertensi. Selain itu indera pengecapan pada lansia mulai berkurang, terutama untuk rasa asin, sehingga rasa asin yang cukup-pun terasa masih kurang bagi mereka, lalu makanan ditambah garam yang banyak, hal ini akan meningkatkan tekanan darah pada lansia. Jadi kita memang perlu sampaikan kepada lansia bahwa panduan rasa asinnya tidak bisa lagi dipakai sebagai ukuran, karena bila dengan panduan asin dari lansia, untuk kita yang belum lansia akan terasa asin sekali.

6. Lansia harus memperbanyak makan buah dan sayuran, karena sayur dan buah banyak mengandung vitamin, mineral dan serat. Lansia sering mengeluhkan tentang konstipasi/susah buang air besar, nah dengan mengkonsumsi sayur dan buah yang kaya akan serat maka akan melancarkan buang air besar. Untuk buah, utamakan buah yang bisa dimakan dengan kulitnya karena seratnya lebih banyak. Dengan mengkonsumsi sayuran dan buah sebenarnya lansia tidak perlu lagi mengkonsumsi suplemen makanan.

7. Selain konsumsi sayur dan buah, Lansia harus banyak minun air putih. Kebutuhan air yakni 1500 – 2000 ml atau 6 -8 gelas perhari. Air ini sangat besar artinya karena air menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya penyakit di saluran kemih seperti kencing batu, batu ginjal dan lain-lain. Air juga sebagi pelumas bagi fungsi tulang dan engselnya, jadi bila tubuh kekurangan cairan maka fungsi, daya tahan dan kelenturan tulang juga berkurang. Air juga berguna untuk mencegah sembelit, karena untuk penyerapan makanan dalam usus memerlukan air.

Sekedar mengingatkan bahwa biasanya orang Jawa ini identik dengan minuman ”NASGITEL”, yakni Panas, Legi, Kentel atau dalam bahasa Indonesia adalah Panas, Manis dan Kental, seperti kopi kental. Nah untuk minuman ini harus dikurangi. Jika sebelum lansia biasa minum kopi 2-3 kali maka setelah masuk masa lansia cukup sekali saja. Apalagi bagi lansia yang menderita diabetes dan obesitas lebih baik menghindari minuman yang manis atau yang menggunakan gula pasir. Air putih memang lebih baik daripada kopi, teh kental, soft drink, minuman beralkohol, es maupun sirup.

1. Daya tampung makanan lansia sudah terbatas, sehingga porsi makan pun tak bisa sama dengan seperti sebelum lansia (misal usia 50 tahun kebawah). Jika lansia memerlukan makanan yang banyak oleh karena penyakitnya misal lansia menderita TBC Paru, maka tidak perlu berpegang pada konsep tiga kali makan dalam sehari, namun makan porsi kecil namun sering misalnya 4 -5 kali dalam sehari atau 3 kali makan utama, 2 sampai 3 kali selingan.

Penyiar :

Berarti kalau bisa disingkat… lansia harus makan makanan yang bergizi seimbang, menghindari makanan yang berlemak, menghindari makanan yang mengandung garam yang tinggi atau asin, menghindari minuman beralkohol, banyak makan sayur dan buah serta minum air putih. Selain itu bentuk makanannya lunak dan dalam porsi kecil namun sering, begitu ya Bu?

Ahli Gizi :

Tepat sekali…

Penyiar :

Kira-kira gambaran menunya seperti apa Bu, supaya Sobat Harmoni lebih jelas dan gamblang…sehingga kalau mau mempraktekkannya di rumah tidak mengalami kesulitan

Ahli Gizi :

Contoh Menu Lansia Dalam 1 Hari

Waktu Makan

Pagi

Pukul 10.00

Siang

Pukul 17.00

Malam

Pria (2200 kal)

1 ½ gls nasi/ pengganti

1 butir telur (Telur Mata Sapi)

100 gr sayuran (Cah Kangkung)

1 gls susu skim

Snack/buah (Nagasari)

1 ½ gls nasi

50 gr daging/ikan/unggas (Pepes

Ikan)

25 gr tempe/kacang-kacangan

(Tempe bb Tomat)

150 gr sayuran (Sayur Asem)

1 ptg buah (Semangka)

Wanita (1850 kal)

1 gls nasi/ pengganti

1 btr telur

100 gr sayuran

1 gls susu skim

Snack/buah

1 gls nasi

50

gr daging/ikan/unggas

25

gr tempe/kacang-kacangan

150 gr sayuran

1 ptg buah

Snack/

buah

(Bubur

Kacang Snack/ buah

Hijau)

1 ½ gls nasi

50 gr daging/ikan/unggas (Basho

Daging)

50 gr tahu (Hot Tahu)

150 gr sayuran (Sup Sayur)

1 ptg buah (Pisang)

1 gls nasi

50

gr daging/ikan/unggas

50

gr tahu

150 gr sayuran

1 ptg buah

Bagaimana, sudah jelas dan mudah bukan dalam menyusun menu Lansia?

Penyiar :

Ya saya sudah jelas dan saya berharap Sobat Harmoni pun demikian. Oh ya ada hal lain yang perlu diperhatikan tidak pada lansia selain makanan untuk menunjang kesehatan?

Ahli Gizi :

masih

, berkecil hati, harus selalu optimis, ceria dan berusaha agar selalu tetap sehat di usia lanjut dengan menjaga kesehatan. Ada satu pepatah Mbak Yuan

Ya

bagi para lansia memang mengalami banyak kemunduran namun…. tidak perlu

Penyiar :

Apa itu Bu ?

Ahli Gizi :

Kesehatan tidak berarti segala-galanya, tetapi tanpa kesehatan segalanya tidak berarti, maksudnya orang yang sehat belum tentu hidupnya makmur, kaya raya, segala keinginannya dapat terpenuhi, namun orang sehat bisa saja adalah orang yang sederhana atau biasa saja. Akan tetapi kesehatan itu adalah milik kita yang paling berharga, karena bila kita sakit kita tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak bisa menikmati dengan baik apa yang kita miliki. Oleh karena itu kita harus selalu menjaga, merawat, memelihara dan menyayangi kesehatan.

Penyiar :

Betul sekali Bu…

Ahli Gizi :

Nah selain dari makanan untuk menjaga kesehatan, lansia perlu :

1. Olah raga yang teratur dan sesuai

Olah raga usia lanjut tidak perlu berlebihan, patokan olah raga lansia yaitu beban ringan atau sedang, waktu relatif lama, bersifat aerobik dan atau kalistenik, tidak kompetitif atau bertanding. Beberapa contoh olah raga yang sesuai dengan batasan tadi adalah jalan kaki, dengan segala bentuk permainan yang ada unsur jalan kaki misalnya golf, lintas alam, mendaki bukut, senam dengan faktor kesulitan kecil dan olah raga yang bersifat rekreatif dapat diberikan.

1. Istirahat, tidur yang cukup

Tidur ini bermanfaat untuk menyimpan energi, meningkatkan immunitas atau kekebalan tubuh, mempercepat proses penyembuhan penyakit, juga pada saat tidur tubuh memperbaiki jaringan tubuh yang mengalami kerusakan. Oleh karena itu orang pada umumnya akan merasa segar setelah istirahat.

1. Menjaga kebersihan

Lansia harus menjaga kebersihan tubuh, kebersihan lingkungan, kebersihan ruangan dan juga pakaian dimana dia tinggal. Yang termasuk kebersihan tubuh adalah mandi dua kali sehari, mencuci tangan sebelum makan atau sesudah mengerjakan sesuatu, sikat gigi setelah selesai makan, membersihkan kuku dan lubang-lubang (hidung, telinga, pusar, anus dan organ intim), memakai alas kaki jika keluar rumah dan menggunakan pakaian yang bersih.

Sedangkan kebersihan lingkungan yakni di halaman rumah, jauh dari sampah dan genangan air. Di dalam ruangan atau rumah bersih dari debu dan kotoran setiap hari, tutupi selalu makanan di meja makan. Pakaian, sprei, gorden, karpet, seisi rumah

termasuk kamar mandi dan WC harus dibersihkan secara periodik. Tentu saja hal ini memerlukan bantuan dari keluarga atau orang yang tinggal bersama Lansia

1. Memeriksakan kesehatan secara teratur

Pemeriksaan kesehatan berkala dan konsultasi kesehatan merupakan kunci keberhasilan dari upaya pemeliharaan kesehatan lansia. Walaupun tidak sedang sakit, lansia dianjurakan untuk memeriksakan kesehatannya secara berkala, agar bila ada penyakit dapat diketahui lebih dini sehingga pengobatannya lebih mudah dan cepat dan jika ada faktor beresiko yang menyebabkan penyakit dapat dicegah.

1. Mental dan batin tenang dan seimbang

Yakni dengan lebih dekat kepada Tuhan, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, hal ini akan membuat lebih tenang. Lalu hindari stress, hidup yang penuh dengan tekanan yang akan merusak kesehatan. Stress juga dapat menyebabkan stroke, penyakit jantung dan sebagainya. Lalu tersenyum dan tertawa….tapi bukan senyum dan ketawa sendiri lho… Senyum dan ketawa akan membuat penampilan lebih menarik dan disukai semua orang. Tertawa membantu memandang hidup dengan positif dan juga terbukti memiliki kemampuan untuk menyembuhkan…ingat lagu”Hati yang

Gembira adalah Obat

tinggi dan untuk melemaskan otak kita dari kelelahan. Tertawa dan senyum itu murah tidak perlu membayar namun menjadikan hidup ceria, bahagia dan sehat

”?

Tertawa juga ampuh untuk mengendalikan emosi kita yang

1. Rekreasi

Rekreasi untu menghilangkan kelelahan setelah beraktifitas selama seminggu, bisa di pantai, di taman, atau bersantai bersama keluarga, anak dan cucu, atau teman dan tetangga.

1. Yang terakhir pertahankan hubungan yang baik dengan keluarga dan teman- teman, karena hidup sehat itu bukan hanya sehat jasmani dan rohani tetapi juga sehat sosial.

Penyiar :

Aduh terimakasih Bu, senang sekali hari ini telah bertambah pengetahuan kita tentang gizi tepat pada lansia serta hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan

Ahli gizi :

Saya pun senang dapat membagikan pengetahuan kepada kita semua, dan saya berharap Sobat Harmoni pun memperoleh manfaatnya……………

Penyiar :

Nah kalau mungkin ada Sobat Harmoni yang belum jelas tentang tema hari ini atau mau konsultasi langsung harus kemana Bu ?

Ahli Gizi :

Yah

ke Poli Gizi Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar jl. Ahmad Yani no 18 Blitar untuk berkonsultasi pada jam dinas yakni 08.00 – 16.00 WIB. Ahli gizi siap membantu anda

PUSTAKA

Bagian Gizi Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Penuntun Diit, Jakarta, PT Gramedia, 1997

Materi Penyuluhan Gizi Massal (Pastoral Care) Instalasi Gizi Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu Blitar tahun 2007

bagi

pendengar yang masih memerlukan informasi lebih lanjut, silakan datang

PERKEMBANGAN MASA LANJUT USIA

Materi Kuliah Psikologi Perkembangan II

Oleh Dosen Bu Elok

Perkembangan Fisik Masa Lanjut Usia

Perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut, membawa penurunan fisik yang lebih besar dibandingkan dengan periode periode usia sebelumnya. Rentetan perubahan perubahan dalam penurunan fisik yang terkait dengan penuaan, dengan penekanan pentingnya perkembangan perkembangan baru dalam penelitian proses penuaan yang mencatat bahwa kekuatan tubuh perlahan lahan menurun dan hilangnya fungsi tubuh kadangkala dapat diperbaiki.

Hal inilah yang biasanya terjadi pada usia dewasa lanjut dan berikut adalah beberapa penurunan dan hilangnya fungsi tubuh dalam hal fisiologis masa perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut:

1. Otak dan sistem syaraf

Saat individu beranjak tua maka akan kehilangan sejumlah neuron, unit unit sel dasar dari sistem syaraf. Beberapa peneliti memperkirakan kehilangan itu mungkin sampai 50% selama tahun tahun dewasa. Walaupun penelitian lain percaya bahwa kehilangan itu lebih sedikit dan bahwa penyelidikan yang tepat terhadap penyelidikan hilangnya neuron belum dibuat di dalam otak.

Barangkali penyelidikan yang lebih masuk akal adalah bahwa 5 sampai 10 persen dari neuron kita akan berhenti tumbuh sampai kita mencapai usia 70 tahun. Setelah itu, hilangnya neuron akan lebih cepat.

Aspek yang signifikan dari proses penuaan mungkin adalah bahwa neuron neuron itu tidak mengganti dirinya sendiri. Meskipun demikian otak dapat cepat sembuh dan memperbaiki kemampuannya, hanya kehilangan sebagian kecil dari kemampuannya untuk bisa berfungsi di masa dewasa akhir.

Perubahan sensori fisik masa dewasa akhir melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasa, pembau, dan indera peraba. Pada masa dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai dirasakan dan terjadi mulai awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap lebih menjadi lambat, yang berarti bahwa orang rang lanjut usia membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari ruangan yang terang menuju ke tempat yang agak gelap.

Penurunan penglihatn ini biasanya dapat dirunut dari pengurangan kualitas dan intensitas cahaya yang mencapai retina. Di puncak usia tua, perubahan ini mungkin disertai oleh perubahan perubahan kemunduran dalam retina, menyebabkan beberapa kesulitan dalam penglihatan.

Meskipun pendengaran dapat mulai pada masa dewasa tengah, hal itu biasanya tidak banyak membawa kesulitan sampai masa dewasa akhir. Pada saat itu banyak sekali alat bantu pendengaran yang bisa dipakai untuk bantuan pendengaran. Tuli, biasanya disebabkan oleh kemunduran selaput telinga, syaraf penerima penerima suara didalam telinga.

Selain berukurangnya penglihatan dan pendengaran juga mengalami penurunan dalam kepekaan rasa dan bau. Kepekaan terhadap rasa pahit dan masam bertahan lebih lama dibandingkan dengan rasa manis dan asin.

3. Sistem peredaran darah

Tidak lama berselang terjadi penurunan jumlah darah yang dipompa oleh jantung dengan seiringnya pertambahan usia sekalipun pada orang dewasa yang sehat. Bagaimanapun, kita mengetahui bahwa ketika sakit jantung tidak muncul, jumlah darah yang dipompa sama tanpa mempertimbangakan usia pada masa dewasa. Kenyataannya para ahli penuaan berpendapat bahwa jantung yang sehat dapat menjadi lebih kuat selama kita menua dengan kapasitas meningkat bukan menurun.

4. Sistem pernafasan

Kapasitas akan menurun pada usia 20 hingga 80 tahun sekalipun tanpa penyakit. Paru paru kehilangan elatisitasnya, dada menyusut, dan diafragma melemah. Meskipun begitu berita baiknya adalah bahwa orang dewasa lanjut dapat memperbaiki fungsi paru paru dengan latihan latihan memperkuat diafragma.

Seksualitas

Penuaan menyebabkan beberapa perubahan penurunan dalam hal seksualitas manusia, lebih banyak pada laki laki dari pada perempua. Orgasme menjadi lebih jarang pada laki laki, terjadi dalam setiap 2 sampai 3 kali hubungan seksual bukan setiap kali. Rangsangan yang lebih langsung biasanya dibutuhkan untuk ereksi. Sekalipun hubungan seksual terganggu oleh kelemahan, relasi lainnya harus dipertahankan, diantara kedekatan sensualitas, dan nilai sebagai seorang laki laki maupun wanita.

5.

Teori Proses Menjadi Tua

Penuaan merupakan proses dediffensiasi (de-growth) dari sel, yaitu proses terjadinya perubahan anatomi maupun penurunan fungsi dari sel. Ada banyak teori yang menjelaskan masalah penuaan,antara lain :

1. Teori Radikal Bebas (Free Radical Theory)

Menurut teori ini sel-sel dalam tubuh dirusak oleh serangan yang terus menerus dari partikel kimia oksigen radikal bebas, yaitu Molekul Oksigen yang memiliki 1 (satu) atau lebih elektron, yang tidak berpasangan, sehingga sangat radikal dan reaktif. Akibatnya sel-sel menjadi rusak sehingga jaringan pembentuk organ pun menjadi rusak, dan dari situlah bermunculan bermacam macam penyakit, akibat kemunduran fungsi organ yang dikenal dengan penyakit Degeneratif. Adapun sumber radikal bebas dari faktor Internal atau bersumber dari dalam diri individu sendiri antara lain: Stress, depresi, demas, radang dan luka, lelah berlebihan kerja dan olah raga yang berlebihan dan juga metabolisme

normal dalam tubuh. Sedangkan faktor external radikal bebas antara lain: Polusi baik dari asap pabrik atau rokok yang dihirup, juga dari obat-obatan, kemoterapi, pestisida, insextisida, herbisida, makanan, Sinar-X atau rontgen, bakteri, virus dll. Akibat serangan dari radikal bebas ini menyebabkaan berbagai penyakit antara lain: Diabetes, stroke, gagal ginjal, rematik, kanker, sakit jantung, problema kulit, Dan masih banyak yang lainya

2. Teori Pakai dan Rusak (Wear and Tear Theory)

Menurut teori ini tubuh dan sel-selnya akan rusak karena banyak terpakai dan digunakan secara terus menerus dan berlebihan sepanjang hidup akan mengakibatkan tubuh menjadi lemah dan akan mengalami kerusakan dan akhirnya meninggal. Organ tubuh antara lain hati, ginjal, lambung, kulit akan menurun fungsinya karena toxin di dalam makanan dan lingkungan yang dihadapi setiap hari.

3. Teori Neuroendokrin

Teori ini menjelaskan tentang “Kerusakan Akibat Pemakaian” dengan berfokus pada sistem neuroendokrin, jaringan biokimia rumit yang mengatur pelepasan hormon dan elemen-elemen vital tubuh lainnya. Ketika muda, hormon–hormon bekerja bersama-sama untuk mengatur berbagai fungsi-fungsi tubuh, termasuk respon manusia terhadap panas, dingin dan aktifitas seksual kita. Kelenjar sebesar kacang kenari ini terletak dalam otak dan bertanggung jawab untuk reaksi berantai hormonal kompleks yang dikenal dengan nama lain “thermostat tubuh”. Hormon penting fungsinya untuk memperbaiki dan mengatur fungsi-fungsi tubuh. Sejalan dengan bertambahnya usia, tubuh memproduksi hormon-hormon dalam kadar yang lebih rendah dan dapat menyebabkan efek berbahaya, termasuk penurunan kemampuannya dalam memperbaiki tubuh dan mengatur tubuh. Produksi hormon sangat interaktif, produksi satu tetes hormon apapun akan mempengaruhi mekanisme secara keseluruhan, contohnya; menyampaikan sinyal pada organ-organ lain untuk melepaskan hormon lainnya dalam kadar yang lebih rendah sehingga bagian-bagian tubuh lainnya juga akan mengeluarkan hormon dalam kadar yang lebih rendah.

4. Teori Control Genetic

Teori penuaan-terencana berpusat pada program genetik sesuai DNA masing-masing individu. Manusia dilahirkan dengan kode genetik yang unik, sebuah kecendrungan tipe fisik dan fungsi mental yang telah ditentukan sebelumnya. Warisan genetik tersebut sangat menentukan seberapa cepat dan seberapa panjang hidup. Jika menggunakan gambaran kasar, dapat dibayangkan setiap manusia hadir di muka bumi bagaikan sebuah mesin yang sudah terprogram untuk menghancurkan dirinya sendiri. Semua orang memiliki jam biologis yang terus berdetak dan bisa berhenti kapan saja, lebih cepat atau lebih lama beberapa tahun. Ketika jam berhenti berdetak, itu merupakan pertanda bahwa tubuh mulai menua dan akhirnya akan mati. Sesuai dengan segala aspek warisan genetik , waktu yang berlaku pada jam genetik ini bervariasi, tergantung apa yang dialami selama pertumbuhan dan bagaimana gaya hidup masing- masing individu.

Perkembangan Kognitif Lansia

Issue mengenai penurunan intelektual selama tahun-tahun masa dewasa merupakan suatu hal yang provokatif (Santrock, 2004). David Wechsler (1972), yang mengembangkan skala inteligensi, menyimpulkan bahwa masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual, karena adanya proses penuaan yang dialami setiap orang. Sementara, John Horn (1980) berpendapat bahwa beberapa kemampuan memang menurun, sementara kemampuan lainnya tidak. Horn menyatakan bahwa kecerdasan yang mengkristal (crystallized intelligence=yaitu sekumpulan informasi dan kemampuan-kemampuan verbal yang dimiliki individu) meningkat, seiring dengan peningkatan usia. Sedangkan kecerdasan yang mengalir (fluid intelligence=yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir abstrak) menurun secara pasti sejak masa dewasa madya.

Pendapat tersebut dipertanyakan Paul Baltes (1987) dan K Warner Schaie (1984), karena metode yang digunakan Horn adalah cross-sectional, sehingga factor individual differences, seperti

perbedaan kohort, tidak diperhatikan, padahal mungkin akan sangat berpengaruh, sehingga kalau pun ditemukan perbedaan antara subjek yang berusia 40 tahun dengan subjek yang berusia 70 tahun, mungkin bukan karena factor usia, melainkan kesempatan memperolah pendidikan, misalnya.

Schaie sendiri mengadakan penelitian longitudinal tentang hal tersebut (1984), dan memperoleh hasil bahwa ternyata tidak ditemukan penurunan intelektual pada masa dewasa, setidaknya sampai usia 70 tahun. Pada tahun 1994, Schaie kembali mengadakan penelitian dan menemukan bahwa penurunan di dalam kemampuan-kemampuan mental rata-rata dimulai pada usia 74 tahun.

Kecepatan memproses, mengingat, dan memecahkan masalah

Dari banyak penelitian (Baltes, Smith & Staudinger, in press;; Dobson, dkk, 1993; Salthouse,1992, 1993, in press; Salthouse & Coon, 1993; Sternbern & McGrane, 1993), diterima secara luas bahwa kecepatan memproses informasi mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Penelitian lain membuktikan bahwa orang-orang dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya.

Kecepatan memproses informasi secara pelan-pelan memang akan mengalami penurunan pada masa dewasa akhir, namun factor individual differences juga berperan dalam hal ini. Nancy Denney (1986) menyatakan bahwa kebanyakan tes kemampuan mengingat dan memecahkan masalah mengukur bagaimana orang-orang dewasa lanjut melakukan aktivitas-aktivitas yang abstrak atau sederhana. Denney menemukan bahwa kecakapan untuk menyelesaikan problem-problem praktis, sebenarnya justru meningkat pada usia 40-an dan 50-an. Pada penelitian lain Denney juga menemukan bahwa individu pada usia 70-an tidak lebih buruk dalam pemecehan masalah-masalah praktis bila dibandingkan mereka yang berusia 20-an.

Pendidikan, Pekerjaan, dan Kesehatan Pada Dewasa Lanjut

Pendidikan, pekerjaan dan kesehatan adalah 3 komponen penting yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif individu berusia lanjut. Ketiga komponen ini juga merupakan factor-faktor yang sangat penting untuk memahami mengapa pengaruh kohort (kelompok umur) perlu dimasukkan dalam laporan ketika mempelajari fungsi kognitif dari orang-orang dewasa lanjut.

1. Pendidikan

Fasilitas pendidikan, semakin tahun memang semakin meningkat, sehingga generasi sekarang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Pengalaman-pengalaman di dunia pendidikan, ternyata berkorelasi positif dengan hasil skor pad tes- tes inteligensi dan tugas-tugas pengolahan informasi (ingatan) (Verhaegen, Marcoen & Goossens,

1993).

Dinegara-negara maju, beberapa lansia masih berusaha untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Alasan-alasan yang dikemukakan antara lain: 1) ingin memahami sifat dasar penuaan yang dialaminya. 2) ingin mempelajari perubahan social dan teknologi yang dirasakan mempengaruhi kehidupannya. 3) ingin menemukan pengetahuan yang relevan dan mempelajari ketrampilan- ketrampilan yang relevan untuk mengantisipasi permintaan-permintaan masyarakat dan tuntutan pekerjaan, agar tetap dapat berkarier secara optimal dan mampu bersaing dengan generasi sesudahnya. 4) ingin mengisi waktu luang agar lebih bermanfaat, serta sebagai bekal untuk mengadakan penyesuaian diri dengan lebih baik pada masa pensiunnya.

2. Pekerjaan

Searah dengan kemajuan teknologi biasanya orang-orang dewasa lanjut, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, cenderung bekerja dengan jenis pekerjaan yang belum mengarah ke orientasi kognitif, seperti generasi sesudahnya. Hal ini mengakibatkan banyak tenaga dewasa lanjut yang “harus” tersingkir dari dunia kerja karena tidak mampu lagi bersaing dengan generasi yang berikutnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa fasilitas kesehatan sekarang ini jauh lebih baik dibanding masa-masa sebelumnya, padahal dari hasil penelitian kondisi kesehatan berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual individu (Hultsch, Hammer & Small, 1993). Seperti satu hasil penelitian yang menemukan bahwa hipertensi ternyata berkorelasi dengan berkurangnya performance pada tes WAIS pada individu berusia di atas 60 tahun (Wilkie & Eisdorfer, 1971). Semakin tua, semakin banyak masalah kesehatan yang dihadapi (Siegler & Costa, 1985). Jadi beberapa penurunan kemampuan intelektual yang ditemukan pada orang-orang dewasa lanjut sangat mungkin disebabkan oleh factor-faktor yang terkait dengan kesehatan daripada factor usia semata.

Selain fasilitas kesehatan, ternyata gaya hidup individu juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisiknya. Pada satu penelitian ditemukan bahwa ada hubungan antara aktivitas olahraga dengan kecakapan kognitif pada Subjek pria dan wanita berusia 55-91 tahun (Clarkson, Smith & Hartley, 1989). Orang-orang yang giat berolahraga memiliki kemampuan penalaran, ingatan dan waktu reaksi lebih baik daripada mereka yang kurang/tidak pernah berolah raga. Penelitian berikutnya (Park, 1992; Stones & Kozman, 1989) menyetujui bahwa olah raga merupakan factor penting untuk meningkatkan fungsi-fungsi kognitif pada orang dewasa lanjut. Yang harus diperhatikan dalam aktivitas berolah raga pada dewasa lanjut ini adalah pemilihan jenis olah raga yang akan dijalani, harus disesuaikan dengan usia Subjek, dalam arti kondisi fisik individu. Oleh karenanya sangat dianjurkan untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga medis yang kompeten dalam masalah ini.

Perkiraan LANSIA Indonesia dan Negara –negara Asia

ASIA

India

Pakistan

China

Indonesia

Philippines

Thailand

Republic of Korea

1950 5.6 8.2 7.5 6.2 5.5 4.8 5.4
1950
5.6
8.2
7.5
6.2
5.5
4.8
5.4

2000

2025

2050

7.6

12.6

21.3

4.9

8.2

15.1

10.0

18.5

26.2

7.4

12.7

21.6

5.7

10.9

18.7

8.7

17.9

28.1

10.5

21.8

28.8

United Nations, 1998

World Health Organization:

1. Long life without continous usefulness, productivity and good quality of life is not a blessing(Usia panjang akan menjadi berkah bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat apabila lansia tetap sehat, produktif, dan mandiri)

2. Kategori WHO mengenai mundurnya kemandirian lansia.

Impairment. Kehilangan fungsi psikologik, fisiologik.

Disabiliti. Restriksi/kurang mampu melakukan kegiatan seperti orang normal.

Handicap. Tidak mampu berfungsi secara social berdasar usia, jenis kelamin, social budaya.

Teori Sosial Mengenai Proses Menjadi Tua (Agin)

I. Social Breakdown

Struktur masyarakat yang tidak memberikan kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Masyarakat mengembangkan stereotip negative para lansia

II. Social Recontruction

Struktur masyarakat yang memberi kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki

Masyarakat memberi kesempatan pada lansia sebagai bagian yang aktif dan partisipatif dalam masyarakat.

KONSEP LOKAL MENGENAI LANSIA

1. MASYARAKAT BARAT: SENIOR CITIZEN

2. MASYARAKAT JAWA

Sesepuh

Pepundhen

Diperlakukan dengan “mikul dhuwur mendhem jero”

Cinta Lansia

Jinejer neng wedhatama

mrih tan kemba kembenganing pambudi

mangka nadyan tuwa pikun

yen tan mikani rasa

yekti sepi asepa lir sepah semun

samangsane pakumpulan

gonyak –ganyuk nglelingsem

3.

MASYARAKAT MELAYU

Apa tanda melayu sejati,

Kepada ibu bapa ia berbakti

Apa tanda melayu bertuah,

Terhadap ibu bapa ia amanah

Apa tanda melayu berbudi,

Membela ibu bapa sampai mati

Apa tanda melayu pilihan,

Ibu bapanya ia muliakan

Acuan bagi masyarakat yang dianggap sebagai orang melayu yang patut adalah:

4. dll

KEKERASAN PADA LANSIA

Bentuk-bentuk Kekerasan pada LANSIA

1. Beberapa jenis trauma fisik

2. Tidak memperoleh kasih sayang

3. Tidak dihargai

4. Tidak dibantu pada saat membutuhkan

5. Tidak memperoleh fasilitas dasar (perumahan dan transportasi)

6. Diperlakukan secara kasar (verbal)

7. Diasingkan / diabaikan

8. Tidak memperoleh cukup makan

9. Tidak memperoleh pelayanan kesehatan

10. Mengerjakan pekerjaan rumah yang berat (mengasuh cucu, memasak, membersihkan rumah)

11. Dianiaya bahakan dibunuh

12. Menjadi korban kriminalitas

PERSONAL LIFE INVESTIMENT

P

R

I

O

R

T

A

S

TAHAPAN

Dewasa awal (25-34 th)

Karier

Sahabat

Keluarga

Kemandirian

Dewasa Dewasa Lanjut Purna Usia tengah (35- akhir (55-65 Usia (70- (85-105 th) 54 th)
Dewasa
Dewasa
Lanjut
Purna Usia
tengah (35-
akhir (55-65
Usia
(70-
(85-105 th)
54 th)
th)
84 th)
Keluarga
Keluarga
Keluarga
Kesehatan
Karir
Kesehatan
Kesehatan
Keluaarga
Sahabat
Sahabat
Katahanan
Makna Hidup
Kognisi

Ketahanan

Kognisi

Ketahanan

Kognisi

Sahabat

Ketahanan

Kognisi

Baltes Santock ( 1999, hal 541)

PENGARUH PERSONAL LIFE INVESTMENT

1. MENENTUKAN TUJUAN HIDUP

(Life Goals)

(Meaningful Goals)

PERAN:

1. Peran grandparent menjadi lebih penting.

2. Masa/lama menjadi grandparent lebih panjang.

3. Harapan hidup lebih tinggi multigenerational families keluarga dengan beberapa generasi.

4. Pengalaman hidup sangat menentukan status parent-grandparent.

FUNGSI:

1. Penghubung masa lampau – sekarang – akan datang.

2. Sosok pribadi yang lebih bersedia mendengarkan dan menyediakan waktu lebih banyak.

3. Penuh perhatian dan selalu siap membantu /menolong.

4. Bersikap lebih toleran, fleksibel, berwawasan luas.

1. Formal

GAYA:

ü Memiliki sikap yang jelas dalam peran parent –grandparent.

ü Tidak memberikan saran, kritik, atau intervensi kepada anak/menantunya dalam memilih pola asuh.

2.

Fun Seeker

ü

Melakukan aktifitas dengan cucunya hanya dalam hal menyenangkan/bermain.

ü

Tidak mempunyai tujuan untuk mendidik atau melakukan intervensi.

ü

Cucu menganggap grandparent sebagai teman bermain yang menyenangkan.

3.

Distant Figure

ü

Interaksi hanya dilakukan pada peristiwa khusus, misal: Lebaran, Natal, Ulang tahun cucu.

ü

Cucu memandang grandparent sebagai pembawa hadiah pada hari istimewa.

4.

Surrogate Parent

ü

Berperan aktif dalam merawat / mengasuh cucu.

ü

Selalu siap menjadi peran pengganti saat anak / menantu harus meninggalkan anak-anak.

ü

Merasa ikut bertanggung jawab atas perawatan, pengasuhan dan pendidikan cucu-cucunya.

5.

Reservoir Of Family Wisdom

ü

Grandparent sebagai pengendali dan sumber informasi dalam keputusan / kebijakan keluarga.

ü Tampil sebagai sosok yang kuat, berwibawa, berpengaruh dalam membentuk sikap, watak, nilai yang harus dilestarikan dalam keluarga.

Skema Proses Menjadi Tua

 

Komponen Pengalaman

 

Mediator

HASIL

 

(kepribadian)

1. Perubahan Biologis

1. Tingkah laku coping

 

2. Kejadian penting dalam

2. Reaksi emosional terhadap

hidup

pengalaman

Þ

Citra

3.

Tuntutan dan batasan

3.

Reaksi fisiologis terhadap

lingkungan

pengalaman

Lansia/

4. Keadaan social ekonomi

4.

Reaksi kognitif terhadap

Psychological

pengalaman

5. Keadaan kelembagaan social

Well being

5.

Reaksi spiritual terhadap

pengalaman2 hidup.

TIPE-TIPE KEPRIBADIAN LANSIA

1.Kepribadian Integrated : adalah mereka yang berfungsi baik, memiliki kehidupan batin yang kaya, kemampuan kognitif yang baik, dan keadaan ego yang kompeten. Flexibel , matang dan terbuka terhadap stimulus-stimulus baru. Individu lansia tipe ini memiliki kepuasan hidup yang tinggi/optimum aging. Kepribadian integrated ini digolongkan menjadi 3 berdasarkan pada tingkat aktifitasnya, yakni :