Anda di halaman 1dari 15

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR RESIKO BERAT BADAN DAN USIA DENGAN TEKANAN DARAH TINGGI DI RSUD DR.

SOEDARSO PONTIANAK

DISUSUN OLEH: LISQORINA NIM: I11109077

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS TANJUNGPURA 2009/2010

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tekanan darah tinggi merupakan masalah yang ditemukan terbukti meningkatkan morbiditas dan mortalitas serta mengurangi kualitas hidup. Meningkatnya prevalensi hipertensi pada umumnya di sebabkan karena adanya perubahan gaya hidup. Pembangunan nasional yang dilaksanakan di Indonesia meningkatkan taraf hidup dan kualitas hidup masyarakat yang membawa pada meningkatnya daya beli masyarakat. Dan masyarakat cenderung memilih makanan yang serba praktis dan siap saji, juga menyukai pola hidup modern karena dengan kemajuan teknologi telah diciptakan alat-alat yang mampu mengemat pengeluaran energi. Pola dan gaya hidup semacam itu menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit dari penyakit-penyakit infeksi bergeser ke penyakit-penyakit kronik degeneratif. Salah satu penyakit kronik degeneratif diantaranya adalah penyakit tekanan darah tinggi. Prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi yaitu 6% 15% dari persentase penyakit pada usia lanjut. Sebagai perbandingan di Amerika Serikat 15% 20%, di Jepang 12% 20%, di Polenesia Island 15,4% 20%, di India 15%, di Argentina 15%, di Ghana 15%. Diperkirakan sekitar 25% orang dalam populasi umum mengidap hipertensi. Sekitar 5% dari pengidap hipertensi tersebut memperlihatkan peningkatan cepat tekanan darah yang apabila tidak diterapi, menyebabkan kematian dalam satu atau dua tahun. Walaupun merupakan masalah kesehatan umum yang kadang-kadang menimbulkan konsekuensi berat, hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sampai tahap perkembangan lanjut. Sembilan puluh sampai 95% hipertensi bersifat idiopatik yang memungkinkan umur panjang kecuali apabila terjadi infarkmiokardium, cerebrovaskular accident,atau penyulit lain. Sembilan dari 10 orang yang menderita hipertensi tidak dapat diidentifikasi penyebab penyakitnya. Itulah sebabnya hipertensi dijuluki pembunuh diam-diam atau silent killer. Seseorang baru merasakan dampak gawatnya hipertensi ketika telah terjadi komplikasi. Jadi baru disadari ketika telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung, koroner, fungsi ginjal, gangguan fungsi kognitif atau stroke .Hipertensi pada dasarnya mengurangi harapan hidup para penderitanya.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi secara umum antara lain: umur, kegemukan (obesitas), konsumsi garam, konsumsi kopi, konsumsi alkohol, konsumsi rokok, selain itu juga keadaan geografis dan lingkungan pemukiman juga dapat berpengaruh. B. Permasalahan Penelitian Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimana pengaruh berat badan dan usia terhadap tekanan darah? C. Hipotesis 1. Semakin bertambah umur manusia, semakin meningkat pula risiko tekanan darah tinggi. 2. Semakin besar berat badan, semakin meningkat pula risiko tekanan darah tinggi. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: Tujuan umum: Menurunkan angka kematian pasien tekanan darah tinggi. Tujuan khusus: Mengetahui pengaruh berat badan dan usia terhadap tekanan darah.

E. Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki manfaat: Manfaat dalam bidang akademik atau keilmuan: Berkembangnya ilmu pengetahuan medis. Manfaat dalam bidang pelayanan masyarakat: 1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hubungan antara umur dengan risiko tekanan darah tinggi.

2. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hubunagn antara berat badan dengan risiko tekanan darah tinggi. 3. masyarakat mengerti dan menyadari pentingnya melakukan pencegahan tekanan darah tinggi. 4. masyarakat melakukan tindakan pencegahan tekanan darah tinggi dengan tepat. Manfaat dalam bidang penelitian: Menjadi langkah awal dari peneltian selanjutnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tekanan Darah Tekanan darah adalah tekanan yang diberikan oleh darah terhadap dinding pembuluh darah arteri. Tekanan itu diukur dalam satuan milimeter mercury (mmHg) dan direkam dalam dua angka-tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik. Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke

dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong)..(1,2) Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh.
(3)

B. Klasifikasi Tekanan Darah Kategori Normal Normal tinggi Stadium 1 (Hipertensi ringan) Stadium 2 (Hipertensi sedang) Stadium 3 (Hipertensi berat) Stadium 4 (Hipertensi maligna) Tekanan Darah Sistolik < 130 mmHg 130-139 mmHg 140-159 mmHg 160-179 mmHg 180-209 mmHg 210 mmHg < Tekanan Darah Diastolik Dibawah 85 mmHg 85-89 mmHg 90-99 mmHg 100-109 mmHg 110-119 mmHg 120 mmHg atau lebih

C. Pengendalian Tekanan Darah Pengendalian tekanan darah dilakukan oleh tubuh dengan cara: 1. Perubahan fungsi ginjal Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:

a.

Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekana darah ke normal. b. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. c. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah. 2. Sistem saraf simpatis, merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan: a. Meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar). b. Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak). c. Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh d. melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.(3) D. Tekanan Darah Tinggi Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk seseorang memiliki tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya.(3) E. Klasifikasi Tekanan Darah Tinggi Berdasarkan penyebabnya, tekanan darah tinggi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : 1. Hipertensi esensial atau primer Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan

hereditas (keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong Hipertensi primer sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder. 2. Hipertensi sekunder/li> Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain lain. Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial, maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi esensial.(2) F. Faktor-faktor Penyebab Tekanan Darah Tinggi Ada banyak faktor penyebab tekanan darah tinggi, beberapa di antaranya dapat dikendalikan dan dikontrol. Umur, jenis kelamin dan genetis merupakan faktor resiko yang tidak dapat dikontrol. Sementara obesitas, kurang olahraga, merokok, dan stress emosional merupakan faktor resiko yang dapat dikontrol.
(4,5,6,7)

Jenis Kelamin. Lelaki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. Lelaki juga mempunyai resiko lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas cardiovaskuler. Sedangkan diatas umur limapuluh tahun, hipertensi lebih banyak terjadi pada perempuan. Faktor genetik. Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi. Hal ini berkaitan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potassium terhadap sodium. Seserang dengan orangtua penderita hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Stress. Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung. Sehingga akan menstimulasi aktifitas saraf simpatetik. Adapun stress ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi dan karakteristik personal. Nutrisi. Sodium adalah penyebab dari hipertensi esensial, asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. Sodium secara eksperimental menunjukkan kemampuan untuk menstimulasi mekanisme vasopressor pada susunan syaraf pusat. Defisiensi potasium akan berimplikasiterhadap terjadinya hipertensi. Etnis. Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang yang berkulit hitam daripada orang yang berkulit putih. Belum diketahui penyebabnya secara pasti, namun pada orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sentifitas terhadap vasopresin lebih besar. Umur. Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Seseorang yang berumur diatas 60 tahun, 50 - 60 % diantaranya mempunyai

tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi sejalan dengan pertambahan usia. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Obesitas. Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah, baik pada pasien hipertensi maupun pada normotensi. Pada populasi yang tidak ada peningkatan berat badan seiring peningkatan umur, tidak dijumpai peningkatan tekanan darah sesuai peningkatan umur. Obesitas pada tubuh bagian atas, berhubungan dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut.(8) Obesitas sangat erat kaitannya dengan pola makan yang tidak seimbang. Di mana seseorang lebih banyak mengkonsumsi lemak dan protein tanpa memperhatikan serat. Kelebihan berat badan meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Ada hubungan antara berat badan dan hipertensi, bila berat badan meningkat di atas berat badan ideal maka risiko hipertensi juga meningkat. Penyelidikan epidemiologi juga membuktikan bahwa obesitas merupakan ciri khas pada populasi pasien hipertensi. Pada penyelidikan dibuktikan bahwa curah jantung dan volume darah sirkulasi pasien obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal dengan tekanan darah yang setara. Obesitas mempunyai korelasi positif dengan hipertensi. Anak-anak remaja yang mengalami kegemukan cenderung mengalami hipertensi. Ada dugaan bahwa meningkatnya berat badan normal relatif sebesar 10% mengakibatkan kenaikan tekanan darah 7 mmHg. Oleh karena itu, penurunan berat badan dengan membatasi kalori bagi orang-orang yang obes bisa dijadikan langkah positif untuk mencegah terjadinya hipertensi. Sedangkan hipertensi sangat erat dengan kejadian penyakit jantung dan stroke. Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak, dapat dilakukan dengan mengukur berat badan dengan tinggi badan, yang kemudian disebut dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut: IMT = berat badan (kg) / tinggi badan2 (m2) IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk mengidap tekanan darah tinggi pada orang gemuk (obesity) 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Pada pengidap tekanan darah tinggi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih.

Kategori IMT: Kurus tingkat berat : < 17 Kurus tingkat ringan : 17,0 - 18 Normal : 18,5 - 25,0 Gemuk tingkat ringan : 25,0 - 27,0 Gemuk tingkat berat : > 27,0
(9)

G. Gejala Tekanan Darah Tinggi Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut: 1. sakit kepala 2. kelelahan 3. mual 4. muntah 5. sesak nafas 6. gelisah 7. pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.(3) H. Diagnosis Tekanan Darah Tinggi Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong). Sebetulnya batas antara tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi tidaklah jelas, sehingga klasifikasi Hipertensi dibuat berdasarkan tingkat tingginya tekanan darah yang mengakibatkan peningkatan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Menurut WHO, di dalam guidelines terakhir tahun 1999, batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg, sedangkan bila lebih dari 140/90 mmHG dinyatakan sebagai hipertensi; dan di antara nilai tsb disebut sebagai normal-tinggi. (batasan tersebut diperuntukkan bagi individu dewasa diatas 18 tahun).(2) I. Pengobatan Tekanan Darah Tinggi Tekanan Darah Tinggi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita: 1. Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan untuk menurunkan berat badannya sampai batas ideal. 2. Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi. Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol. 3. Olah raga aerobik yang tidak terlalu berat. Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali. 4. Berhenti merokok. Pemberian obat-obatan 1. diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk mengobati hipertensi. Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan darah. Diuretik juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah. Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium. Diuretik sangat efektif pada: - orang kulit hitam - lanjut usia - kegemukan - penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun 2. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfablocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek sistem saraf simpatis. Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera akan memberikan respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan tekanan

3.

4. 5.

6. 7.

darah. Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker, yang efektif diberikan kepada: - penderita usia muda - penderita yang pernah mengalami serangan jantung - penderita dengan denyut jantung yang cepat - angina pektoris (nyeri dada) - sakit kepala migren. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri. Obat ini efektif diberikan kepada: - orang kulit putih - usia muda - penderita gagal jantung - penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal menahun atau penyakit ginjal diabetik - pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain. Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu mekanisme yang mirip dengan ACE-inhibitor. Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme yang benar-benar berbeda. Sangat efektif diberikan kepada: - orang kulit hitam - lanjut usia - penderita angina pektoris (nyeri dada) - denyut jantung yang cepat - sakit kepala migren. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah. Obat dari golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat anti-hipertensi lainnya. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera. Beberapa obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah): - diazoxide - nitroprusside - nitroglycerin - labetalol. Nifedipine merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat dan bisa diberikan per-oral (ditelan), tetapi obat ini bisa menyebabkan hipotensi, sehingga pemberiannya harus diawasi secara ketat.

J. Pencegahan Tekanan Darah Tinggi

Perubahan gaya hidup dan atau obat-obatan bisa menurunkan tekanan darah tinggi sampai pada batas normal: 1. olahraga dan mempertahankan berat badan normal. 2. makanan sehat rendah lemak dan kaya akan sumber vitamin dan mineral alami 3. obat-obat anti hipertensi: a. diuretik b. beta bloker c. penggantian kalium d. penghambat saluran kalsium e. ACE inhibitor(3)

Kerangka Konseptual

Berat badan Tekanan darah manusia usia

sistolik Tekanan darah tinggi

diastolik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional.

B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada periode September 2009-Maret 2010 di RSUD dr. Soedarso Pontianak. C. Populasi Penelitian Populasi target: seluruh pengidap maupun bukan pengidap tekanan darah tinggi di Pontianak. Populasi terjangkau: seluruh pengidap maupun bukan pengidap tekanan darah tinggi D. Sampel dan Cara Pemilihan Sampel Sampel diambil sebanyak 100 orang. Cara pemilihan sampel dilakukan dengan cara random. E. Estimasi Besar Sampel F. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria inklusi adalah seluruh pengidap maupun bukan pengidap tekanan dara tinggi. Sedangkan kriteria eksklusi adalah: terdapat keadaan atau penyakit lain yang mengganggu pengukuran atau interpretasi, terdapat keadaan yang mengganggu kemampuanlaksanaan, hambatan etis, dan subyek menolak berpartisipasi. G. Kerangka Operasional Sejumlah 89 orang sampel dilakukan pengukuran tekanan darah dan indeks masa tubuh (IMT). Uji yang digunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan masing masing indikator obesitas dengan hipertensi adalah uji ChiSquare/ Uji Fisher dengan =0,05 , sedangkan untuk melihat keeratan hubungan digunakan koefifisien kontingensi. Selain itu , rasio pravelans (RP) juga dihitung untuk mengetahui besar resiko masing masing indikator obesitas terhadap hipertensi. Delapan puluh sembilan orang ini diwawancarai secara langsung mengenai umur masing-masing dan silsilah genetis apakah terdapat riwayat tekanan darah tinggi atau tidak. Kemudian dilakukan uji yang digunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara umur dengan risiko tekanan darah tinggi. H. Identifikasi Variabel

Variabel bebas: usia dan berat badan Variabel terikat: tekanan darah I. Definisi Operasional Tekanan darah tinggi: Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk seseorang memiliki tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Kategori IMT: Kurus tingkat berat : < 17 Kurus tingkat ringan : 17,0 - 18 Normal : 18,5 - 25,0 Gemuk tingkat ringan : 25,0 - 27,0 Gemuk tingkat berat : > 27,0

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4. 5.

www.ListOwn.com http://www.rsbk-batam.co.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=25 http://medicastore.com/penyakit/4/Tekanan_Darah_Tinggi_Hipertensi.html Sokolow. Clinical Cardiology. Lange Med Publi USA 1981, p 23135. Hard. Hypertension: Community Control of High Blood Pressure. New York: Churchill Livingstone 1987; p 205-8. 6. Cruzis. A Clinical Guide of Hypertension. PSG 1985.

7. Birkenhager. Control Mechanisms in Essential Hypertension. WHO. 1976. 8. http://www.indomp3z.us/showthread.php?t=74506 9. http://www.smallcrab.com/kesehatan/511-faktor-resiko-hipertensi-yang-dapatdikontrol