Anda di halaman 1dari 9

1

I.

PENDAHULUAN Karbohidrat secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu senyawa yang terdiri dari molekul-molekul karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O) atau karbon dan hidrat (H2O) sehingga dinamakan karbo-hidrat. Dalam tumbuhan, senyawa ini dibentuk melalui proses fotosintesis antara air (H2O) dengan karbondioksida (CO2) dengan bantuan sinar matahari dan klorofil. Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida. Kata sakarida berasal dari bahasa Arab sakkar yang artinya gula, karbohidrat sederhana mempunyai rasa manis sehingga sering dikaitkan dengan gula. (Saifudin, 2008)

Hasil fotosintesis tersebut kemudian mengalami polimerisasi menjadi pati dan senyawa-senyawa bermolekul besar lain yang menjadi cadangan makanan pada tanaman. Secara alami, terdapat tiga jenis karbohidrat, yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. (Kristiani, 2010)

Monosakarida merupakan karbohidrat yang paling sederhana. Monosakarida tidak dapat diuraikan atau dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lain. Senyawa-senyawa monosakarida dapat dihasilkan dari hidrolisis disakarida atau polisakarida dengan bantuan katalis enzim atau asam. Contoh monosakarida antara lain glukosa, fruktosa, galaktosa dan arabinosa. (Kristiani, 2010)

Kelompok monosakarida dibedakan menjadi dua macam, yaitu pentosa yang tersusun dari lima atom karbon (arabinosa, ribosa, xylosa) dan heksosa yang tersusun dari enam atom karbon (fruktosa, glukosa, dan galaktosa). (Anonim, 2008) Struktu glukosa dan fruktosa digunakan sebagai dasar untuk membedakan antara gula reduksi dan gula non-reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada adanya gugus aldehid (CHO pada glukosa dan galaktosa) yang dapat mereduksi larutan Cu2SO4 membentuk endapan merah bata. Adapun gula non-reduksi ialah gula yang tidak dapat mereduksi akibat tidak adanya gugus aldehid seperti pada fruktosa dan sukrosa/dektrosa yang memiliki gugus keton (C=O). (Anonim, 2006)

Bentuk oligosakarida yang paling umum adalah disakarida yang terbentuk dari kondensasi dua molekul monosakarida, terdiri dari banyak jenis seperti disakarida, trisakarida, tetrasakarida, dan sebagainya. Namun paling banyak dipelajari ialah kelompok disakarida yang terdiri dari maltosa, laktosa dan sukrosa (dekstrosa). Dua dari jenis disakarida ini termasuk gula reduksi (laktosa dan maltosa) sedangkan sukrosa tidak termasuk gula reduksi (nonreducing). (Saifudin, 2008) Polisakarida merupakan senyawa makromolekul yang terbentuk dari banyak sekali satuan monosakarida dan paling banyak terdapat di alam. Sebagian polisakarida membentuk struktur tanaman yang tak dapat larut seperti selulosa dan hemiselulosa. Sebagian lagi membentuk senyawa cadangan pangan berbentuk pati dalam tanaman atau glikogen pada sel hewan. (Kristiani, 2010) II. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat memahami tahapan umum uji kualitatif untuk mengetahui jenis karbohidrat tertentu. 2. Mahasiswa terampil dalam menerapkan tahapan umum uji kualitatif karbohidrat pada suatu sampel bahan.

III.

ALAT DAN BAHAN A. ALAT 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tabung reaksi Penjepit tabung reaksi Rak tabung reaksi Pipet tetes Bunsen Panci Pembakar spiritus

B.

BAHAN 1. 2. 3. 4. Akuades Amilum Fruktosa Glukosa

5. 6. 7. 8. 9.

Maltosa Arabinosa Larutan H2SO4 pekat Reagen Molish Reagen Iod

10. Reagen Bial 11. Reagen Selliwanoff 12. Reagen Benedict

IV.

CARA KERJA Uji Molish 1. Siapkan 6 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan berbagai sampel larutan yang berbeda. (Pada percobaan kali ini, sampel yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa. 2. Teteskan 5 tetes reagen molish kedalam masing-masing tabung reaksi. 3. Tambahkan 10 tetes H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. 4. Amati warna yang terbentuk pada daerah pertemuan antara H2SO4 pekat dan larutan sampel, catat pada data pengamatan. Uji Iod 1. Siapkan 6 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan berbagai sampel larutan yang berbeda. (Pada percobaan kali ini, sampel yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa). 2. Teteskan 2 tetes larutan Iod kedalam masing-masing tabung reaksi. 3. Kocok larutan dan amati perubahan warna yang terjadi. 4. Catat hasilnya pada data pengamatan.

Uji Bial 1. Siapkan 6 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan berbagai sampel larutan yang berbeda. (Pada percobaan kali ini, sampel yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa). 2. Teteskan 5 tetes reagen bial kedalam masing-masing tabung reaksi. 3. Nyalakan pembakar spiritus, panaskan setiap tabung reaksi sebanyak 1-3 kali dengan hati-hati sampai larutan tepat akan mendidih. 4. Amati perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data pengamatan. Uji Selliwanoff 1. Siapkan 6 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan berbagai sampel larutan yang berbeda. (Pada percobaan kali ini, sampel yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa). 2. Teteskan 5 tetes reagen seliwanoff kedalam masing-masing tabung reaksi. 3. Masukkan setiap tabung reaksi kedalam air mendidih selama 1 menit. 4. Amati perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data pengamatan. Uji Benedict 1. Siapkan 6 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan berbagai sampel larutan yang berbeda. (Pada percobaan kali ini, sampel yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa). 2. Teteskan 5 tetes reagen benedict kedalam masing-masing tabung reaksi. 3. Panaskan setiap tabung reaksi selama 2 sampai 3 menit atau sampai larutan tepat akan mendidih. 4. Amati perubahan warna yang terjadi, perhatikan apakah membentuk endapan. 5. Catat hasilnya pada data pengamatan.

V.

HASIL PENGAMATAN No 1 2 3 4 5 6 Larutan Akuades Amilum Fruktosa Glukosa Maltosa Arabinosa Reagen Molish (-) (+) (+) (+) (+) (+) Iod (-) (+) (-) (-) (-) (-) Reagen Bial (-) (-) (-) (-) (-) (+) Reagen Reagen

Selliwanoff Benedict (-) (-) (+) (-) (+) (-) (-) (-) (+) (+) (+) (+)

Keterangan Reagen Molish Iod Reagen Bial Reagen Selliwanoff Reagen Benedict : Warna Ungu (+) : Biru Ungu (+) : Biru Kehijauan (+) : Merah Muda (+) : Endapan (+)

VI.

PEMBAHASAN Uji Molish Uji Molish adalah uji yang paling umum digunakan untuk mengetahui adanya senyawa karbohidrat. Reagen Molish terdiri dari larutan 5% Napthol dalam etanol 95%. Suatu larutan yang mengandung karbohidrat baik monosakarida, oligosakarida, maupun polisakarida, bila diuji dengan reagen molish, dan ditambahkan H2SO4 pekat (sebagai penghidrolisis kuat) secara perlahan (agar tidak tercampur) sehingga membentuk dua lapisan cairan, maka pada bidang batas kedua lapisan tersebut akan terbentuk warna merah-ungu. (Reaksi positif ditandai dengan munculnya cincin ungu di permukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel)

Pada percobaan kali ini, sampel karbohidrat yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa. Akuades bila diuji dengan reagen molish dan ditambahkan H2SO4 pekat secara perlahan, tidak

membentuk batas antara dua lapisan cairan yang berwarna merah-ungu. (terbukti bahwa akuades tidak mengandung karbohidrat karena

menghasilkan reaksi negatif terhadap reagen molish).

Sedangkan amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa bila diuji dengan reagen molish dan ditambahkan H2SO4 pekat secara perlahan, akan membentuk batas antara dua lapisan cairan yang berwarna ungu (cincin ungu di permukaan antara lapisan H2SO4 dan lapisan sampel). (terbukti bahwa amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa mengandung karbohidrat karena menghasilkan reaksi positif terhadap reagen molish).

Uji Iod Uji kualitatif terhadap karbohidrat dengan Reagen Iod dilakukan untuk membuktikan ada tidaknya amilum atau pati (polisakarida) dan juga untuk membedakan antara amilum dengan glikogen. Reaksi positif Iodium dengan amilum dapat ditandai dengan terbentuknya suatu ikatan kompleks berwarna biru sampai ungu, sedangkan reaksi positif Iodium dengan glikogen ditandai dengan terbentuknya suatu ikatan kompleks berwarna merah.

Pada percobaan kali ini, sampel karbohidrat yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa. Akuades, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa bila diteteskan dengan reagen iod, tidak membentuk senyawa berwarna biru-ungu (terbukti bahwa akuades, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa bukan merupakan polisakarida karena menghasilkan reaksi negatif terhadap reagen iod).

Sedangkan Amilum bila diteteskan dengan reagen iod, maka akan membentuk senyawa berwarna ungu. (terbukti bahwa amilum merupakan polisakarida karena menghasilkan reaksi positif terhadap reagen iod).

Uji Bial Uji Bial merupakan uji untuk mengetahui adanya pentosa, dan juga untuk membedakan antara pentosa dengan hekosa. Pentosa adalah suatu monosakarida yang memiliki 5 atom karbon, dengan satu gugus fungsi

aldehid (aldopentosa) atau keton (ketopentosa), sedangkan hekosa adalah suatu monosakarida yang memiliki 6 atom karbon, dengan satu gugus fungsi aldehid (aldoheksosa) atau keton (ketoheksosa).

Reaksi positif untuk pentosa dari uji bial ditandai dengan adanya perubahan warna larutan sampel menjadi biru-kehijauan, sedangkan warna kuning kecoklatan menunjukkan uji positif untuk heksosa.

Pada percobaan kali ini, sampel karbohidrat yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa. Arabinosa saat diteteskan dengan reagen bial kemudian dipanaskan diatas pembakar spritus sebanyak 1-3 kali hingga larutan tepat akan mendidih, maka pada hasil akhir reaksinya akan menghasilkan perubahan warna menjadi hijau tua. (terbukti bahwa arabinosa merupakan monosakarida yang termasuk pentosa).

Sedangkan akuades, amilum, fruktosa, glukosa, dan maltosa saat diteteskan dengan reagen bial kemudian dipanaskan diatas pembakar spritus sebanyak 1-3 kali hingga larutan tepat akan mendidih, maka pada hasil akhir reaksinya tidak menghasilkan perubahan warna.

Uji Selliwanoff Uji Selliwanoff dilakukan untuk membedakan adanya ketoheksosa dan aldoheksosa dilihat dari perubahan warna. Sampel karbohidrat yang diteteskan dengan reagen selliwanoff kemudian dipanaskan, bila

menunjukkan perubahan warna menjadi merah cerah, maka sampel tersebut merupakan ketoheksosa, sedangkan bila menunjukkan perubahan warna menjadi merah pucat, maka sampel tersebut merupakan aldoheksosa. Dehidrasi ketoheksosa terhadi jauh lebih cepat dibandingkan dehidrasi aldoheksosa, oleh karena itu pemanasan yang terlalu lama hendaknya dihindari.

Pada percobaan kali ini, sampel karbohidrat yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa. Akuades, amilum, glukosa, dan arabinosa saat diuji dengan menggunakan reagen selliwanoff kemudian dipanaskan, tidak terjadi perubahan warna. Sedangkan fruktosa

dan maltosa saat diuji dengan menggunakan reagen selliwanoff kemudian dipanaskan, menghasilkan perubahan warna. Fruktosa menghasilkan warna merah muda/cerah (terbukti bahwa fruktosa merupakan monosakarida yang termasuk ketoheksosa), sedangkan maltosa menghasilkan warna merah tua/pucat (terbukti bahwa maltosa merupakan disakarida yang termasuk aldoheksosa).

Uji Benedict Reagen Benedict merupakan campuran dari CuSO4, Na2CO3, dan sodium sitrat. Larutan tembaga yang basa, bila direduksi oleh gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk kupri oksida. Pembentukan senyawa ini dapat dilihat pada pembentukan warna hasil reaksi yang terjadi dan endapan yang terbentuk. Sifat pereduksi suatu gula bergantung pada adanya gugus aldehid dan keton. Apabila suatu larutan gula dipanaskan dengan adanya ion logam tertentu gugus karbonil akan teroksidasi dan ion logam akan tereduksi.

Gula pereduksi adalah gula yang mengalami reaksi hidrolisis dan bisa diurai menjadi sedikitnya dua buah monosakarida, yang termasuk gula pereduksi antara lain monosakarida dan disakarida (kecuali sukrosa). Gula pereduksi dapat ditunjukkan dengan uji benedict, reaksi positifnya berupa endapan merah bata Cu2O (gula pereduksi mereduksi Cu2+ menjadi Cu+ yang mengendap menjadi Cu2O merah bata). Pada percobaan kali ini, sampel karbohidrat yang digunakan adalah akuades, amilum, fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa. Akuades dan amilum bila diuji dengan reagen benedict dan dipanaskan, tidak menghasilkan endapan merah bata (terbukti bahwa akuades dan amilum bukan merupakan gula pereduksi). Sedangkan fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa bila diuji dengan reagen benedict dan dipanaskan, maka akan menghasilkan endapan merah bata (terbukti bahwa fruktosa, glukosa, maltosa dan arabinosa merupakan gula pereduksi).

VII.

KESIMPULAN DAN SARAN Karbohidrat merupakan senyawa yang banyak dijumpai di alam, terutama karena merupakan hasil sintesis CO2 dan H2O dengan pertolongan sinar matahari dan klorofil, hasil fotosintesis ini kemudian mengalami polimerisasi menjadi pati dan senyawa bermolekul besar lain yang menjadi cadangan makanan pada tanaman. Dalam sistem pencernaan, senyawa polisakarida atau karbohidrat yang bermolekul besar mengalami hidrolisis hingga menjadi monosakarida.

Setiap senyawa karbohidrat, baik polisakarida, oligosakarida maupun monosakarida memiliki fungsi dan manfaat masing-masing, oleh karena itu zat tertentu dapat digunakan sebagai indikator (pereaksi) dalam menguji setiap jenis karbohidrat, pengujian inilah yang disebut dengan uji kualitatif karbohidrat. Penting untuk memahami dan terampil dalam menerapkan konsep-konsep dasar dalam pengujian karbohidrat, supaya dapat

membedakan jenis karbohidrat antara yang satu dengan yang lainnya dan mengetahui hasil reaksinya dengan suatu indikator (pereaksi).

VIII.

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim. 1998. Penuntun Praktikum Kimia Dasar Umum. Depok: Fakultas Matematika dan IPA Universitas Indonesia. 2. Anonim. 2006. Uji Kualitatif Karbohidrat dan Hidrolisis Pati Non Enzimatis. Malang: Fakultas Teknologi Pertanian Universitas

Brawijaya Malang. 3. Anonim. 2008. Karbohidrat. http://xa.yimg.com/kq/groups/26573843/1083916692/name/Karbohidra t.doc Diunduh pada tanggal 2 November 2011. 4. 5. Hart, Harold. 1983. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga. Kristiani, Elisabeth BE. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia. Salatiga: Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana. 6. Saifudin, Umar. 2008. Analisis Karbohidrat. http://food4healthy.com/2008/10/11/analisis-karbohidrat/ Diunduh pada tanggal 2 November 2011.