Anda di halaman 1dari 4

STEP-STEP MELAKUKAN EBM (EVIDENCE-BASED MEDICINE) October 30, 2007 at 5:38 am Filed under EBM, Uncategorized APA PENGERTIAN

N EBM? EBM adalah sustu teknik yang digunakan untuk pengambilan keputusan dalam mengelola pasien dengan mengintegrasikan tiga faktor yaitu

ketrampilan dan keahlian klinik dari dokter kepentingan pasien bukti ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan

Dengan kata lain EBM adalah cara yang untuk membantu dokter dalam membuat keputusan saat merawat pasien sesuai dengan kebutuhan pasien dan keahlian klinis dokter berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Mengapa EBM? EBM diperlukan karena perkembangan dunia kesehatan begitu pesat dan bukti ilmiah yang tersedia begitu banyak.Pengobatan yang sekarang dikatakan paling baik belum tentu beberapa tahun ke depan masih juga paling baik. Sedangkan tidak semua ilmu pengetahuan baru yang jumlahnya bisa ratusan itu kita butuhkan. Karenanya diperlukan EBM yang menggunakan pendekatan pencarian sumber ilmiah sesuai kebutuhan akan informasi bagi individual dokter yang dipicu dari masalah yang dihadapi pasiennya disesuaikan dengan pengalaman dan kemampuan klinis dokter tersebut. Pada EBM dokter juga diajari tentang menilai apakah jurnal tersebut dapat dipercaya dan digunakan. APA LANGKAH-LANGKAH MELAKUKAN EBM? 1. Pasien Mulailah dari pasien, bisa berupa :

Masalah klinis apa yang dimiliki pasien kita Pertanyaan yang dikemukakan oleh pasien kita sehubungan dengan perawatan penyakitnya

2. 3.

Pertanyaan Sumber

4. 5.

Evaluasi Pasien

6.

Evaluasi

Masalah dari pasien seperti tersebut no 1 kemudian dibuat pertanyaan Mulailah melakukan pencarian sumber journal melalui internet untuk menjawab pertanyan tersebut Evaluasi apakah jurnal yang kita peroleh cukup valid , penting dan bisa diaplikasikan Aplikasikan temuan berdasarkan bukti ilmiah tersebut ke pasien dengan mempertimbangkan kepentinga atau kebutuhan pasien dan kemampuan klinis dokter Evaluasi hasil perawatan pasien tersebut

BAGAIMANA CARA MEMBUAT PERTANYAAN Pertanyan digunakan untuk membantu kita memperjelas apa yang hendak dita cari dan sebagai alat bantu untuk menentukan kata kunci yang dipakai saat searching journal di internet. Pertanyaan yang baik harus memuat 4 hal PICO (pasien, intervensi , comparison, outcome) Pasien Seperti apa karakteristik pasien kita (point-point penting saja). Bisa dimasukkan di dalamnya

hal-hal yang berhubungan atau relevan dengan penyakit pasien seperti usia , jenis kelamin atau suku bangsa. hal-hal mengenai masalah, pemyakit atau kondisi pasien

IntervensiPrognosisexposure Berisikan hal sehubungan dengan intervensi yang diberikan ke pasien


Apakah tentang meresepkan suatu obat ? Apakah tentang melakukan tindakan ? Apakah tentang melakukan tes dignosis? Apakah tentang menanyakan bagaimana prognosis pasien ? Apakah tentang menanyakan apa yang menyebabkan penyakit pasien ?

Comparison

Outcome

Tidak harus selalu ada pembandingnya. Pembanding bisa dengan plasebo atau obat yang lain atau tindakan terapi yang lain Harapan yang anda inginkan dari intervensi tersebut,seperti

Apakah berupa pengurangan gejala ? Apakah berupa pengurangan efek samping ? Apakah berupa perbaikan fungsi atau kualitas hidup ? Apakah berupa pengurangan jumlah hari dirawat RS ?

Contoh pertanyaan Seorang wanita Ny Susi , 28 th G1P0A0 hamil 36 minggu datang ke dokter ingin konsultasi mengenai cara-cara melahirkan. Ibu Susi punya pengalaman kakaknya divakum karena kehabisan tenaga mengejan , anaknya saat ini 6 tahun menderita epilepsy dan kakaknya harus dijahit banyak pada saat melahirkan.Ia tidak mau melahirkan divakum.Dia mendengar tentang teknik yang menggunakan forsep.Dia bertanya yang mana yang lebih aman untuk ibu dan bayi. Maka kata kunci dari pertanyaan yang mungkin diajukan adalah:

Pasien : melahirkan,kala II lama Intervensi : vakum Comparison : forcep Outcome : aman untuk ibu dan bayi

2 Evidence Based Medicine-Evidence Based Public Health-Evidence Based Health Policy August 26, 2007 by januraga Pande, disarikan dari Saccet 1985, Mukti AG 2002, dan Eliane R 2005 (maaf kalo posting terus, tesis macet, jadi cari hiburan di blog, makasi Bli Adhy udah nyediakan tempat) Di posting saya sebelumnya, kita telah membahas dua program kesehatan nasional yaitu askeskin dan penanganan flu burung. Dari diskusi yang berkembang sebagian besar dari kita rupanya sangat setuju bahwa ternyata kedua program tersebut berawal dari kebijakan yang kurang baik atau bisa dikatakan tidak matang dari segi perencanaan. So bagaimana kemudian membuat kebijakan yang baik? Beberapa teman yang dokter mungkin sering mendengar istilah yang keren disebut sebagai evidence based medicine (EBM), suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada paradigma baru untuk mengambil keputusan medis yang didasarkan pada langkah-langkah berikut (sackett, 1985): 1. 2. 3. 4. 5. Memformulasikan pertanyaan tentang masalah kedokteran yang dihadapi Menelusuri bukti-bukti terbaik yang tersedia untuk mengatasi masalah tersebut Mengkaji bukti, validitas dan keseuaiannya dengan kondisi praktek Menerapkan hasil kajian Mengevaluasi penerapannya (kinerjanya)

Langkah-langkah tersebut sepertinya mudah tetapi di Indonesia langkah 2 dan 3 adalah sesuatu yang tidak lazim dikerjakan (Mukti AG, 2002). Agar dapat melaksanakan langkah 2 dan 3 seorang dokter harus memiliki keluasan cakupan bukti yang baik yang berarti adanya akses yang adekuat ke sumber bukti (jurnal ilmiah, dll), kemudian mampu menganalisa kesesuain bukti dengan situasi lokal, mengetahui dengan baik tingkat kualitas dan kekuatan bukti yang artinya lagi ia harus memiliki kemampuan metodologi ilmiah dan statistik yang mumpuni. Lalu apa hubungannya dengan kebijakan kesehatan? Cukup, cukup berhubungan karena kemudian demam berpikir berbasis bukti ini menular juga ke konteks Public Health, yang kemudian dikenal sebagai Evidence Based Public Health (EBPH). EBPH adalah suatu metoda untuk mengembangkan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kebijakan dan program kesehatan masyarakat (dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat) yang memiliki (1) data untuk diuji efektivitasnya, dan (2) didasarkan pada behavior theory dan ecological model of health (Eliane R,2005). Sayangnya lagi, bukan hanya EBM yang kurang berkembang di Indonesia, paradigma pengembangan program kesehatan masyarakat berbasis bukti (EBPH) juga berjalan stagnan, yang tentunya berujung pada kurangnya kebijakan nasional atau daerah yang didasarkan pada bukti ilimiah yang kuat. Contohnya saya pikir bejibun, dimulai dari askeskin (mengapa memilih pembayaran fee for service), penanganan flu burung (apakah memang cost efective jika biaya diprioritaskan ke pendirian RS Rujukan), penempatan bidan desa (apakah memang

tingkinya AKI diakibatkan akses ke bidan yang kurang, ataukah sesungguhnya akses ke RS yang buruk?), semuanya itu memerlukan kajian ilmiah yang mendasar dan tentunya bukti yang kuat, mengapa? Karena pembiayaan program kesmas tersebut membutuhkan dana besar dan menyangkut kepentingan orang banyak (efek eksternalitas). Sekali lagi kita harus mulai memikirkan secara serius apa yang kini disebut Evidence Based Health Policy (EBHP). Jadi katakan iya pada EBM, EBPH, dan kemudian EBHP, dimulai dari kita perguruan tinggi. Sosialisasi dan advokasi paradigma ini mesti dilakukan terhadap pengambil kebijakan di tingkat nasional dan daerah. Kerjasama yang baik antara perguruan tinggi, pemerintah, wakil rakyat, dan komponen masyarakat lainnya perlu dilakukan untuk sebuah pengambilan kebijakan kesehatan yang berbasis bukti. Pande, yang terus posting karena gak ada kerjaan lain.