Anda di halaman 1dari 50

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Memori merupakan elemen pokok dalam sebagian besar proses kognitif. Proses dari ingatan melalui pengkodean, penyimpanan, dan pengeluaran informasi. Sistem yang dibangun untuk ingatan agar sebuah informasi tetap diingat harus melalui ingatan sensori, ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang (Atkinson & Shiffrin, 1971 dalam Sarwono, 2010). Informasi yang baru didapat disimpan dalam memori jangka pendek dengan kemampuan jumlah dan waktu penyimpanan yang terbatas. Ingatan jangka pendek dapat bertahan selama beberapa menit sampai beberapa jam. Kapasitas memori jangka pendek terbatas, lima sampai sembilan unit informasi. Informasi bisa berupa angka, huruf atau kata (Sarwono, 2010). Informasi dapat hilang bila terjadi distraksi. Sebagian informasi akan terlupakan, sebagian lain akan ditransfer ke dalam memori jangka panjang yang lebih permanen (Solso, dkk, 2007). Informasi dari memori jangka panjang dapat kembali lagi ke memori jangka pendek untuk digunakan. Informasi dari memori jangka panjang sering tidak ditemukan kembali sehingga terjadi lupa (Wade & Travris, 2007).

Aspek intelegensi, memori, dan bentuk-bentuk lain dari fungsi mental menurun seiring bertambahnya usia. Orang lanjut usia memiliki skor lebih rendah dalam tes-tes penalaran, kemampuan ruang, dan pemecahan masalah yang kompleks jika dibandingkan dengan orang-orang dewasa yang lebih muda (Wade & Travris, 2007). Kondisi yang dihadapi orang lanjut usia merupakan gangguan memori ringan yang dapat digolongkan sebagai sindrom predemensia dan dapat berkembang menjadi demensia. World Alzheimer Reports mencatat demensia akan menjadi krisis kesehatan terbesar di abad ini yang jumlah penderitanya terus bertambah. Data WHO tahun 2010 menunjukkan, di tahun 2010 jumlah penduduk dunia yang terkena demensia sebanyak 36 juta orang. Jumlah penderitanya diprediksi akan melonjak dua kali lipat di tahun 2030 sebanyak 66 juta orang (Gustia, 2010). Angka kejadian demensia di Asia Pasifik sekitar 4,3 juta pada tahun 2005 yang akan meningkat menjadi 19,7 juta per tahun pada 2050. Jumlah penyandang demensia di Indonesia hampir satu juta orang pada tahun 2011 (Gitahafas, 2011). Gangguan memori pada lansia jika tidak diatasi dengan baik akan mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari dan kesehatan lansia secara menyeluruh. Perlu adanya suatu pelayanan untuk mengatasi masalah kesehatan pada lansia dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Pelayanan lansia meliputi pelayanan yang berbasiskan pada keluarga, masyarakat dan lembaga. Unit Rehabilitasi Sosial merupakan pelayanan lansia berbasis lembaga yang umum dikenal masyarakat.

Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap merawat 90 lansia terdiri dari laki-laki 35 orang dan perempuan 55 orang dengan usia ratarata 72 tahun. Beberapa disebabkan karena tidak mempunyai keluarga dan banyak yang sengaja dititipkan oleh anggota keluarganya. Hasil wawancara langsung dengan 20 lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap, penulis menemukan beberapa kasus yang

berhubungan dengan gejala demensia, 10 dari lansia tidak mampu mengingat nama anak-anaknya, 15 dari lansia mengalami kesulitan untuk menghitung mundur (dari angka 20 mundur 3 angka), 15 dari lansia tidak dapat mengingat kembali tiga objek. Hasil wawancara memberikan gambaran bahwa memori lansia mengalami kemunduran secara progresif, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Namun, tidak semua orang lanjut usia sama. Ada yang secara mental kemampuannya menurun, tetapi ada juga yang tetap memiliki kemampuan mental yang tajam. Perbedaan ini disebabkan karena adanya berbagai faktor yang

mempengaruhi memori individu salah satunya yaitu stres dan depresi (Wade & Travris, 2007). Menurut Lubis (2009), lansia berada pada tahap perkembangan emosi, lansia mempunyai banyak masalah seperti masalah keuangan, masalah kesehatan, dan kesepian karena anak-anak tidak mempunyai waktu untuk mengurus mereka akhirnya ditempatkan di unit rehabilitasi sosial sehingga dapat memicu terjadinya stres bahkan depresi.

Orang lanjut usia yang mengalami gangguan memori sebenarnya tidak menderita penyakit demensia. Lansia cenderung mengalami kehilangan memori akibat depresi (Wade & Travris, 2007). Maka untuk itu perlu adanya metode-metode yang dapat digunakan untuk

meningkatkan kemampuan memori dengan cara meningkatkan stimulasi otak, kegiatan seperti membaca, menonton televisi sebaiknya di jadikan sebuah kebiasaan hal ini bertujuan agar otak tidak beristirahat secara terus menerus. Brain gym dan olahraga (jogging) juga merupakan salah satu cara menjaga daya ingat yang bisa di lakukan para lansia, terapi humor juga diduga mampu mempertahankankan bahkan meningkatkan

kemampuan memori lansia sekaligus menurunkan level stres. Terapi humor merupakan latihan ideal bagi lansia yang mempunyai keterbatasan fisik dan mudah dijangkau oleh kalangan lansia (Rafdi, 2008). Beberapa penelitian yang dilakukan para ahli menyatakan bahwa penggunaan humor dapat meningkatkan memori jangka pendek lansia. Penelitian yang dilakukan oleh Bains (2012) menunjukkan bahwa orang tua (usia rata-rata 74 tahun) setelah menonton video 30 menit humoris, kemampuan belajar dan kemampuan mengingat meningkat dengan hasil masing-masing 38,7% dan 36,1%. Humor dan tertawa riang dapat mengurangi stres dan mengurangi hormon stres termasuk kortisol dan katekolamin. Kortisol, misalnya, dapat merusak sel-sel saraf dari hippocampus, yang merupakan bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk mengubah informasi sementara menjadi informasi yang permanen

(Bains, 2012 dalam Reifsnyder, 2012). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Simon (1988) menyatakan bahwa humor dapat digunakan sebagai mekanisme koping dalam menghadapi kecemasan dan ketegangan (Vergeer, 1992). Penelitian yang dilakukan oleh Martin dan Lefcourt (1983) mengenai hubungan antara stres, mood, dan pandangan akan

humor, didapatkan hasil bahwa humor dapat menurunkan angka kecemasan dan meningkatkan kualitas hidup (Martin, 2001). Humor merupakan sesuatu yang lucu dan dapat membuat individu tertawa secara spontan, tidak dipaksakan dan merasa senang (Lubis, 2009). Pemberian stimulasi humor dalam pelaksanaan terapi diperlukan karena beberapa orang mengalami kesulitan untuk memulai tertawa tanpa adanya alasan yang jelas. Humor yang di berikan sebagai satu-satunya stimulus untuk menghasilkan tawa dalam bentuk terapi akan disebut sebagai terapi humor, namun jika di kombinasikan dengan hal-hal lain dalam rangka untuk menciptakan tawa (misalnya dengan yoga atau meditasi), akan disebut sebagai terapi tawa (Dian, 2006). Berdasarkan uraian diatas, peneliti menganggap penting untuk meneliti pengaruh terapi humor terhadap memori jangka pendek lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diketahui bahwa orang lanjut usia memiliki skor lebih rendah dalam tes-tes penalaran, kemampuan ruang, dan pemecahan masalah yang kompleks jika dibandingkan dengan orang-orang dewasa yang lebih muda. Terapi humor akan memberikan pengalaman emosional positif. Dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut Adakah pengaruh terapi humor terhadap memori jangka pendek lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap.

C. Tujuan Penelitan 1. Tujuan Umum: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh terapi humor terhadap memori jangka pendek lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap. 2. Tujuan Khusus: a. Mengetahui karakteristik responden yaitu usia dan jenis kelamin. b. Mengetahui skor memori jangka pendek lansia sebelum mendapatkan terapi humor. c. Mengetahui skor memori jangka pendek lansia sesudah mendapatkan terapi humor. d. Mengetahui perbedaan memori jangka pendek lansia sebelum dan sesudah mendapatkan terapi humor.

D. Manfaat Penelitian 1. Untuk masyarakat umum Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi tentang pengaruh terapi humor terhadap peningkatan memori jangka pendek lansia. 2. Untuk profesi keperawatan Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian / informasi dalam mengkaji, menganalisa dan memberikan intervensi untuk

memperlambat terjadinya demensia pada lansia. 3. Untuk responden Lansia dapat mengetahui tingkat memori lansia sehingga dapat menjadi dasar pengembangan kemampuan mengingat sehingga dapat mandiri dalam aktivitas sehari-hari. 4. Untuk Unit Rehabilitasi Sosial Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan ilmu pengetahuan tentang gangguan memori pada lansia sehingga dapat menggunakan intervensi yang tepat dalam melakukan pengelolaan sedini mungkin agar gangguan memori tidak berkembang ke arah demensia. 5. Untuk peneliti Dapat menambah wawasan, pengetahuan serta pemahaman tentang pengaruh terapi humor terhadap peningkatan memori jangka pendek lansia.

E. Keaslian Penelitian Penelitian ini diajukan berdasarkan penelitian-penelitian yang hampir serupa pernah dilakukan, yaitu: 1. Rafdi (2008) dengan judul pengaruh terapi humor terhadap penurunan tekanan darah sistolik pada lansia dengan hipertensi ringan di PSTW Kasih Sayang Ibu Batusangkar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi ekperimental (pre test-post test) with control group design. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 22 responden. Sampel dalam penelitian ini adalah 11 orang hipertensi ringan dan 11 orang untuk kontrol. Pengambilan data tekanan darah sistolik menggunakan spigmomanometer. Pengolahan data

menggunakan program komputer dan data dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon dan Man-Whitney. Hasil uji t tes berpasangan menunjukkan terdapat penurunan tekanan darah sistolik yang bermakna pada kelompok perlakuan (p= 0,002). Pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan tekanan darah sistolik (p= 1). Uji Mann-Whithney menunjukkan bahwa terapi humor memiliki

pengaruh yang bermakna terhadap penurunan tekanan darah sistolik lansia dengan hipertensi ringan (p= 0,002).

Perbedaan penelitian ini adalah pada variabel terikat dan tempat penelitiannya. Variabel terikat pada penelitian ini yaitu memori jangka pendek serta tempat yang akan dilakukan penelitian adalah di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap. Persamaan penelitian ini terdapat pada variabel bebas yaitu terapi humor. 2. Susanto, dkk (2009) dengan judul pengaruh olahraga ringan terhadap memori jangka pendek wanita dewasa. Menggunakan rancangan penelitian pre eksperimental (pre test-post test) one group design. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 22 wanita dewasa usia 19-23 tahun. Sampel dalam penelitian ini adalah 22 wanita yang melakukan olahraga (jogging) selama 30 menit selama 7 hari. Pengambilan data memori jangka pendek menggunakan tes Nonsense Syllabels tipe A dan B (tes terdiri dari 20 kata baru, diawali huruf konsonan dan mengandung minimal 2 vokal). Pengolahan data menggunakan program komputer dan data dianalisis dengan menggunakan uji t tes berpasangan. Dari hasil uji t berpasangan diperoleh t hitung = 3,703 dengan nilai p = 0,001. Dengan demikian peningkatan persentase skor sesudah olahraga ringan perbedaannya sangat signifikan (p < 0,01) dibandingkan persentase skor sebelum melakukan olahraga ringan. Hal ini berarti sesudah melakukan olahraga ringan, memori jangka pendek lebih meningkat

dibandingkan dengan sebelum melakukan olahraga ringan.

10

Perbedaan penelitian ini adalah pada variabel bebas dan tempat penelitiannya. Variabel bebas pada penelitian ini yaitu terapi humor, serta tempat yang akan dilakukan penelitian adalah di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap. Persamaan penelitian ini terdapat pada variabel terikat yaitu memori jangka pendek dan penelitian menggunakan pre eksperimental (pre test-post test) one group design.

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Memori a. Definisi Memori Memori merujuk pada kemampuan seseorang memiliki dan mengambil suatu informasi. Sumadikarya (1999) menyatakan bahwa memori merupakan kemampuan untuk mengingat peristiwa yang telah lalu pada tingkat sadar maupun tidak sadar. Memori sebagai recall eksplisit atau informasi implisit dikodekan dalam masa lalu atau jauh (Brickman & Stern, 2009). Tulving dan Craik (2000) mendefinisikan memori sebagai kemampuan untuk mengingat peristiwa masa lalu dan membawa fakta belajar dan ide-ide kembali ke pikiran. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa memori adalah kemampuan mengambil informasi yang telah lalu dan membawa informasi tersebut kembali dalam pikiran. b. Pemrosesan Informasi dalam Memori Ada tiga proses pengolahan informasi yang dilakukan di dalam memori (Wade & Travis, 2007), yaitu, encoding, merupakan proses yang bertujuan untuk mengubah informasi menjadi bentuk yang dapat diproses dan digunakan oleh otak. Pemrosesan kedua adalah penyimpanan (storage) yang berfungsi untuk mempertahankan

12

informasi dan pemrosesan ketiga pemanggilan (Retrieval) merupakan pemanggilan kembali informasi tersebut untuk digunakan. Ada beberapa cara untuk mengingat kembali hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya (Sarwono, 2010), yaitu: 1). Rekoleksi, yaitu menimbulkan kembali dalam ingatan suatu peristiwa, lengkap dengan segala detail dan hal-hal yang terjadi disekitar tempat peristiwa itu dahulu terjadi. 2). Pembaruan ingatan, hampir sama dengan rekoleksi, tetapi ingatan hanya timbul kalau ada hal yang merangsang ingatan itu. 3). Memanggil kembali ingatan (recall), yaitu mengingat kembali suatu hal, sama sekali terlepas dari hal-hal lain dimasa lalu. 4). Rekognisi, yaitu mengingat kembali sesuatu hal setelah menjumpai sebagian dari hal tersebut. 5). Mempelajari kembali, terjadi kalau mempelajari sesuatu yang dulu pernah dipelajari. c. Tahapan Memori Model Atkinson dan Shiffrin, 1971 (dalam Wade & Travis, 2007), memori memiliki tiga tahap, yaitu register sensorik, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang.

13

Skema 2.1. Model Tahapan Memori Atkinson dan Shiffrin

Informasi dari lingkungan

Register sensorik Visual, auditori, sentuhan

Memori jangka pendek Pengulangan, coding, pemanggilan

Memori jangka panjang penyimpanan permanen

Respon

Semua informasi baru yang diterima indera harus menjalani pemberhentian singkat di register sensorik, gerbang masuk ke dalam memori. Register sensorik menahan informasi dengan tingkat akurasi tinggi, hingga dipilih informasi yang perlu diperhatikan atau tidak. Informasi selanjutnya dikirim ke memori jangka pendek. Informasi yang tidak cepat dikirim ke memori jangka pendek akan menghilang selamanya (Wade & Travis, 2007). Dalam memori jangka pendek, informasi tidak berbentuk kesan sensorik harafiah, melainkan diubah menjadi suatu bentuk penyandian, seperti dalam bentuk kata atau frase. Materi ini kemudian dikirim ke memori jangka panjang, atau jika tidak dikirim memori ini akan menghilang untuk selamanya (Wade & Travis, 2007).

14

Apabila seseorang tidak melakukan pengulangan (rehearsal), informasi yang terdapat di memori jangka pendek akan menghilang dengan cepat. Tiga mekanisme yang menyebabkan manusia melupakan sesuatu (Petersen & Peterseon, 1959 dalam Wade & Travis, 2007) yaitu: 1). Kemunduran (Decay) Teori kemunduran (decay theory) merupakan salah satu pandangan awam yang menyatakan bahwa sejalan dengan berlalunya waktu, jejak ingatan akan mengalami penurunan. 2). Tergantinya memori lama dengan memori baru (Replacement) Teori ini menekankan bahwa masuknya informasi baru dalam memori dapat menyebabkan terhapusnya memori lama yang sudah terlebih dulu dalam memori. 3). Interferensi Teori interferensi menyatakan penyebab terjadinya kehilangan ingatan adalah interferensi yang terjadi diantara objek-objek dari suatu informasi yang memiliki kemiripan, baik pada proses penyimpanan maupun pada proses pemanggilan kembali. Informasi tersebut sebenarnya sudah masuk dalam memori namun sulit membedakan informasi tersebut dengan informasi lainnya.

15

Baddeley, 1992 (dalam Wade & Travis, 2007) mengemukakan suatu model memori kerja (working memory) dari memori jangka pendek yang terdiri dari tiga komponen, yaitu: 1). Putaran fonologis (phonological loop) yang berisi penyimpanan fonologis dan proses alkulatoris, yang merupakan kemampuan mengingat informasi sebanyak yang dapat diulangi dalam durasi terbatas. 2). Alas sketsa visuospasial (visuospatial sketchpad) yang memiliki kemiripan dengan putaran fonologis, namun berperan dalam

mengendalikan kinerja visual dan spasial, yakni yang meliputi tindakan mengingat bentuk dan ukuran atau mengingat kecepatan dan arah objek yang bergerak. 3). Eksekutif sentral (central executive) berperan dalam menentukan informasi yang harus diperhatikan, diabaikan atau digabungkan. Tahap ketiga adalah memori jangka panjang, yang meliputi kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas, informasi disimpan beberapa menit dan beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun sampai seumur hidup. Informasi dari memori jangka panjang dapat kembali lagi ke memori jangka pendek untuk digunakan. Tulving, 1985 (dalam Wade & Travis, 2007) mengemukakan tiga jenis memori jangka panjang, yaitu: 1). Memori prosedural merupakan memori mengenai cara melakukan sesuatu, seperti mengetahui cara menyisir rambut, menggunakan pensil, menjahit, atau berenang.

16

2). Memori semantik merupakan representasi internal dari dunia di sekitar dan tidak bergantung pada berbagai macam konteks. Memori semantik meliputi fakta, peraturan dan konsep unsur-unsur yang mendasari pengetahuan umum. Contoh: saat seseorang menjelaskan konsep kucing berdasarkan memori semantik, dapat dijelaskan kucing sebagai mamalia mungil yang berbulu, makan, berkeliaran. Seseorang dapat menjelaskan dengan runtut dan tidak mengetahui kapan dan bagaimana pertama kali mempelajari informasi tersebut. 3). Memori episodik merupakan representasi internal dari sebuah peristiwa yang dialami secara lansung. Contoh: saat seseorang mengingat kala kucing mengejutkannya di tengah malam dengan melompat

keranjangnya, orang tersebut telah memanggil kembali memori episodik. Memori jangka panjang efektif dalam menyimpan memori prosedural dan semantik namun kurang efektif dalam menyimpan memori episodik. Hal ini terjadi karena struktur fisik dari informasi (memori episodik) telah dilupakan sejak didalam memori jangka pendek. Kemerosotan dalam memori episodik, sering menimbulkan perubahanperubahan dalam kehidupan orang tua. Misalnya, seseorang yang memasuki masa pensiun, yang mungkin tidak lagi menghadapi bermacammacam tantangan penyesuain intelektual sehubungan dengan pekerjaan, dan mungkin lebih sedikit menggunakan memori atau bahkan kurang termotivasi untuk mengingat berbagai hal, jelas akan mengalami

17

kemunduran

dalam

memorinya.

Untuk

itu,

latihan

menggunakan

bermacam-macam strategi mnemonic (strategi penghafalan) bagi orang tua, tidak hanya memungkinkan dapat mencegah kemunduran memori jangka panjang, melainkan sekaligus memungkinkan dapat meningkatkan

kekuatan memori mereka (Desmita, 2010). d. Tes Memori Mengukur kecerdasan lansia merupakan hal yang kompleks. Sejumlah faktor fisik dan psikologis dapat menurunkan nilai kecerdasan dan mengarah kepada kesalahan penilaian atas kecerdasan mereka. Masalah neurofisiologis, tekanan darah tinggi atau gangguan

kardiovaskuler lain, yang dapat mempengaruhi aliran darah ke otak, dapat mengganggu performa kognitif. Penurunan penglihatan dan pendengaran dapat menyulitkan pemahaman atas instruksi pengujian. Batas waktu pada sebagian besar uji kecerdasan amat berat bagi lansia. Karena baik proses fisik maupun psikologis, termasuk kemampuan perseptual, cenderung menurun seiring usia, maka lansia akan bekerja dengan lebih baik apabila mereka diberikan kebebasan waktu sesuai dengan kebutuhan mereka (Papalia, 2008). Untuk mengukur keceradan lansia, para periset sering kali menggunakan Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Para riset menilai memori jangka pendek dengan meminta seseorang mengulang rangkaian angka, baik dalam urutan depan maupun terbalik (digit span forward & backward) (Papalia, 2008). Wechsler Adult Intelligene Scale

18

merupakan suatu alat ukur inteligensi yang dirancang khusus bagi orang dewasa oleh David Wechsler pada tahun 1955, kemudian direvisi dan diterbitkan pada tahun 1981 (Fudyartanta, 2004). e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Memori Menurut Susanto, dkk (2009), ada beberapa faktor yang mempengaruhi memori, yaitu: 1) Jenis kelamin Faktor jenis kelamin mempengaruhi ingatan seseorang, wanita diduga lebih banyak dan cenderung untuk menjadi pelupa. Hal ini disebabkan karena pengaruh hormonal, stres yang menyebabkan ingatan berkurang, akhirnya mudah lupa. 2). Usia Aspek intelegensi, memori, dan bentuk-bentuk lain dari fungsi mental menurun seiring bertambahnya usia. Secara alamiah, penurunan daya ingat umumnya karena beberapa sel otak terutama sel dentate gyrus yang berangsur-angsur mulai mati, juga karena berkurangnya daya elastisitas pembuluh darah. Sel otak yang mulai mati tersebut tidak akan mengalami regenerasi, sehingga hal ini yang menyebabkan seseorang menjadi mudah lupa (Wade & Travis, 2007). 3). Latihan rutin fisik dan memori Bila kerja otak kurang aktif, maka sel-sel yang jarang dirangsang tersebut akan mengalami kemunduran dan menyebabkan mudah lupa.

19

4). Stres dan depresi Saat dalam kondisi stres, hipotalamus melepaskan pesan-pesan kimiawi yang berkomunikasi dengan kelenjar pituitary, yang selanjutnya akan mengirim pesan-pesan ke korteks adrenal untuk mengeluarkan kortisol (Wade & Travris, 2007). Di otak, kortisol akan menghambat fungsi hipokampus yang sangat berperan dalam pembentukan memori. Hipokampus merupakan bagian dari sistem limbik yang berperan penting dalam pemrosesan dan penguatan memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang. Stres yang berkepanjangan menyebabkan hilangnya neuron pada hipokampus dan akhirnya memgakibatkan kerusakan memori (Rossman,2010). 5). Kondisi fisik Kondisi fisik yang terlalu lelah dapat mengganggu pencapaian informasi. Orang yang mudah sekali merasa kelelahan mungkin memiliki masalah pada kelenjar tiroidnya. Hormon tiroid berfungsi mengontrol metabolisme, tapi jika kadarnya terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat mengganggu fungsi normal sel-sel otak dalam menyimpan memori. Tiroid yang terlalu aktif dapat menyebabkan otak melewatkan memori yang seharusnya disimpan, sementara tiroid yang lamban dapat menyebabkan otak membutuhkan waktu yang lebih lama dalam merespon pesan yang masuk ke otak. Tingginya kadar gula darah juga mempengaruhi memori. Darah bertugas menyuplai nutrisi ke seluruh tubuh termasuk otak, sehingga

20

mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Tetapi jika kadar gula dalam darah terlalu tinggi, hal ini dapat mengganggu kinerja otak dan menurunkan kemampuan otak dalam menyimpan memori. 6). Kondisi lingkungan Kondisi lingkungan yang tidak kondusif, misalnya kebisingan, ruangan yang gelap dan panas dapat mengganggu pencapaian informasi. f. Metode-Metode Untuk Meningkatkan Memori 1) Olahraga Penelitian yang dilakukan oleh Susanto, dkk (2009)

menyatakan bahwa wanita dewasa (usia rata-rata 23 tahun) setelah olahraga ringan (jogging) selama 7 hari, memori jangka pendek meningkat dengan rerata presentase skor 52,27. Sesudah melakukan olahraga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan peningkatan denyut jantung, sehingga sirkulasi darah mencapai seluruh tubuh, termasuk otak. Dengan adanya peningkatan sirkulasi darah, maka suplai nutrisi dan oksigen juga lancar, fungsi otak optimal, dan akhirnya kemampuan daya ingat/memori jangka pendek meningkat. 2) Brain Gym Penelitian yang dilakukan oleh Festi (2010) menyatakan bahwa orang tua (usia rata-rata 60 tahun) setelah melakukan brain gym 2 kali sehari yakni menjelang dan setelah bangun tidur dengan durasi 15 menit, fungsi kognitif meningkat 70%. Gerakan-gerakan pada brain

21

gym

memberikan

rangsangan

pada

otak

sehingga

mampu

meningkatkan

kemampuan

kognitif

(kewaspadaan,

konsentrasi,

belajar, memori, pemecahan masalah dan kretifitas). 3) Terapi Humor Penelitian yang dilakukan oleh Bains (2012) menyatakan bahwa orang tua (usia rata-rata 74 tahun) setelah menonton video 30 menit humoris, kemampuan belajar dan kemampuan mengingat meningkat dengan hasil masig-masing 38,7% dan 36,1%. Humor dan tertawa riang dapat mengurangi stres dan mengurangi hormon stres termasuk kortisol dan katekolamin. 2. Humor a. Definisi Humor Humor berasal dari bahas inggris yangg berarti kelucuan atau kejelakaan. Humor didefinisikan oleh The Oxford English Dictionary sebagai kualitas tindakan, ucapan, atau tulisan yang menggairahkan. Humor merupakan sebuah aspek afektif, kognitif, atau estetika dari seseorang, stimulus, atau peristiwa yang membangkitkan, seperti hiburan, sukacita, kegembiraan atau sebagai tertawa, tersenyum (Wasylowich, 2011). Dari perspektif psikologis, secara teoritis dan secara operasional, humor didefinisikan dalam beberapa cara melibatkan kognitif, emosi, perilaku, psychophysiological, dan sosial. Istilah humor dapat digunakan untuk merujuk ke stimulus (misalnya, sebuah film komedi), suatu proses

22

mental (misalnya, persepsi atau penciptaan incongruities lucu). Tertawa adalah ekspresi perilaku yang paling umum dari pengalaman lucu dan tawa juga biasanya dikaitkan dengan emosi yang menyenangkan (Martin, 2001). Humor dapat didefinisikan secara luas sebagai pendekatan untuk diri sendiri dan orang lain yang ditandai dengan pandangan yang fleksibel yang memungkinkan seseorang untuk menemukan,

mengekspresikan atau menghargai segala sesuatu yang bersifat lucu (Hood, 2009). Secara emosional, humor merupakan jalan untuk menghilangkan konflik yang terpendam dan menyedihkan (seperti dikutip dalam Rosenheim dan Golan, 1986). Dari beberapa definsi di atas, dapat disimpulkan bahwa humor adalah segala sesuatu (tindakan, ucapan, tulisan, peristiwa serta stimulus-stimulus lainnya) yang membangkitkan rasa senang. b. Fungsi Humor James Danandjaya (dalam artikel yang berjudul Sejarah, Teori dan Fungsi Humor, 2007), mengatakan bahwa fungsi humor yang paling menonjol, yaitu sebagai sarana penyalur perasaan yang menekan diri seseorang. Fungsi humor yang lain adalah sebagai rekreasi. Dalam hal ini, humor berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan dalam hidup sehari-hari yang bersifat rutin. Sifatnya hanya sebagai hiburan semata. Selain itu, humor juga berfungsi untuk menghilangkan stres akibat tekanan jiwa atau batin (Rahmanadji, 2007). Emil Salim (dalam artikel

23

yang berjudul Sejarah, Teori dan Fungsi Humor, 2007) berpendapat bahwa dalam bidang sosial, humor merupakan stimulus sosial yang menyenangkan dan dapat mengembangkan hubungan dengan teman. American Association for Humor Terapy (AATH) (dalam Meyer, 2007), menyatakan bahwa humor dapat dijadikan intervensi terapeutik menggunakan stimulus-stimulus yang merangsang ekspresi senang. Intervensi ini dapat meningkatkan kesehatan atau digunakan sebagai pengobatan komplementer penyakit untuk memfasilitasi penyembuhan atau mengatasi, baik fisik, emosional, kognitif, sosial, atau spiritual. c. Tipe-Tipe Humor
Jenis humor menurut Arwah Setiawan (dalam Rahmanadji, 2007) dapat dibedakan menurut kriterium bentuk ekspresi. Sebagai bentuk ekspresi dalam kehidupan kita, humor dibagi menjadi tiga jenis yakni: 1) Humor personal, yaitu kecenderungan tertawa pada diri kita, misalnya bila kita melihat sebatang pohon yang bentuknya mirip orang sedang buang air besar. 2) Humor dalam pergaulan, mislnya senda gurau di antara teman, kelucuan yang diselipkan dalam pidato atau ceramah di depan umum. 3).Humor dalam kesenian, atau seni humor. Humor dalam kesenian, diantaranya humor lakuan, misalnya, lawak, tari humor, dan pantomim lucu, humor grafis, misalnya, kartun, karikatur, foto jenaka, dan patung lucu, humor literatur, misalnya, cerpen lucu, esei satiris, dan semacamnya.

24

d. Teori Humor Teori humor menurut Setiawan (1990) dalam artikel yang berjudul Sejarah, Teori dan Fungsi Humor, dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu: 1) Teori keunggulan; seseorang akan tertawa jika ia secara tiba-tiba memperoleh perasaan unggul atau lebih sempurna dihadapkan pada pihak lain yang melakukan kesalahan, kekurangan atau mengalami ke-adaan yang tidak menguntungkan. Contoh, seseorang dapat tertawa terbahak-bahak pada waktu melihat pelawak terjatuh, terinjak kaki temannya serta melakukan berbagai kekeliruan dan ketololan. 2) Teori ketaksesuaian; perasaan lucu timbul karena kita dihadapkan pada situasi yang sama sekali tak terduga atau tidak pada tempatnya secara mendadak, sebagai perubahan atas situasi yang sangat diharapkan. Harapan dikacaukan, kita dibawa pada suatu sikap mental yang sama sekali berbeda. Sebagai contoh adalah rasa humor yang timbul karena kita melihat kartun yang menggambarkan seseorang yang sedang mancing. 3) Teori kelegaan atau kebebasan; inti humor adalah pelepasan atas kekangan-kekangan yang terdapat pada diri seseorang. Bila dorongan-dorongan batin alamiah mendapat kekangan, dapat dilepaskan atau dikendorkan, misalnya lewat lelucon seks, sindiran jenaka atau umpatan, meledaklah perasaan menjadi tertawa.

25

e. Definisi Terapi Humor American Association for Humor Terapy (AATH) (dalam Meyer, 2007), menyatakan bahwa terapi humor adalah intervensi terapeutik menggunakan stimulus-stimulus yang merangsang ekspresi senang. Intervensi ini dapat meningkatkan kesehatan atau digunakan sebagai pengobatan komplementer penyakit untuk memfasilitasi penyembuhan atau mengatasi, baik fisik, emosional, kognitif, sosial, atau spiritual. 3. Lansia Kelompok lanjut usia menurut WHO, dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu middle age (45 59 tahun), elderly (60 70 tahun), old (70 90 tahun), very old (di atas 90 tahun) (Azizah, 2011). Sepanjang tahun 2000, populasi lansia dunia tumbuh lebih dari 795.000 setiap bulan dan diperkirakan lebih dari dua kali lipatnya pada 2025. Pada saat itu akan terdapat lebih dari 800 juta orang berusia di atas 65 tahun, dua pertiga dari mereka berada di Negara berkembang (Papalia, 2008). Pada lansia normal dan sehat, perubahan otak biasanya bersifat rendah dan hanya membuat sedikit perbedaan. Setelah usia 30 tahun, otak kehilangan beratnya, pertama-tama sedikit, kemudian menjadi lebih cepat. Sehingga, pada usia 90 tahun, otak kehilangan 10 persen dari beratnya. Kehilangan berat ini lebih kepada hilangnya neuron di cerebal cortex, bagian yang menangani sebagian besar tugas kognitif. Riset terbaru menyatakan bahwa penyebabnya bukan luasnya penurunan jumlah neuron,

26

tetapi lebih kepada penciutan ukuran neuron berkaitan dengan kehilangan jaringan konektif axon, dendrite, dan sinaps. Penyusutan tersebut mulai berlangsung lebih awal dan bergerak paling cepat pada frontal cortex, yang merupakan bagian penting bagi ingatan dan fungsi kognitif tingkat tinggi (Papalia, 2008). Psikolog telah membuat terobosan dalam memisahkan kondisikondisi yang dahulu dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dihindari dari usia lanjut dengan kondisi-kondisi yang dapat dicegah atau diobati (Wade & Travris, 2007), yaitu: a. Kepikunan yang muncul pada orang lanjut usia seringkali disebabkan oleh kekuranag gizi, obat-obat yang diresepkan oleh dokter, gabungan berbahaya dari pengobatan, dan bahkan obat-obat yang dijual bebas (misalnya obat tidur dan antihistamin), semua dapat membahayakan kesehatan orang lanjut usia. b. Depresi, kepasifan, dan masalah ingatan dapat muncul karena hilangnya aktivitas yang berarti bagi orang lanjut usia, hilangnya tujuan yang dapat dicapai, dan kehilangan kendali terhadap kejadiankejadian disekitarnya c. Kelemahan tubuh, kerentanan, dan bahkan penyakit yang dihubungkan dengan usia lanjut seringkali disebabkan oleh kondisi tidak aktif dan banyak berdiam diri.

27

Lansia berada pada tahap perkembangan emosi, dimana mereka mempunyai banyak masalah seperti masalah keuangan, kesepian karena anak-anak tidak mempunyai waktu untuk mengurus mereka dan masalah kesehatan yang semakin banyak dialami oleh lansia dapat memicu terjadinya kecemasan bahkan depresi (Lubis, 2009). Gangguan

kecemasan merupakan jenis gangguan mental yang paling umum menyerang orang tua. Kurang lebih 1 dari 10 orang dewasa berusia lebih dari 55 tahun menderita gangguan kecemasan yang dapat didiagnosis. Perempuan tua lebih cenderung terpengaruh gangguan kecemasan daripada laki-laki tua, dengan rasio dua banding satu (Nevid, 2005). Orang lanjut usia yang mengalami gangguan memori sebenarnya tidak menderita demensia. Mereka cenderung mengalami kehilangan memori akibat depresi atau faktor-faktor lain seperti penggunaan alkohol yang kronis atau dampak dari stroke kecil. Berita baiknya adalah periode penurunan ingatan yang menyertai depresi pada banyak orang lanjut usia sering kali hilang apabila depresi yang mendasarinya disembuhkan (Nevid, 2005). Penyandang demensia selain mengalami kelemahan kognisi secara bertahap, juga akan mengalami kemunduran aktivitas hidup sehari-hari. Untuk menskrinning fungsi kognitif lansia, para riset sering kali menggunakan mini mental status examination (MMSE). MMSE merupakan pemeriksaan status mental singkat dan mudah diaplikasikan yang telah dibuktikan sebagai instrumen yang dapat dipercaya serta valid

28

untuk mendeteksi dan mengikuti perkembangan gangguan kognitif yang berkaitan dengan penyakit neurodegenerative (Papalia, 2008). 4. Pengaruh Terapi Humor Terhadap Peningkatan Memori Jangka Pendek Lansia Penelitian mengenai humor secara positif mempengaruhi penyakit di tahun 1964 ketika Norman Cousins menerbitkan Anatomy of an Illness. Professional medis pertama kali mengetahui bahwa humor menyembuhkan penyakit ankylosing spondylitis cousins, sebuah penyakit menyakitkan yang menyebabkan terpisahnya jaringan penghubung sumsum. Cousins memutuskan untuk memberi terapi humor pada dirinya sendiri. Dia menemukan bahwa 15 menit tertawa dapat menghasilkan dua jam tidur tanpa rasa sakit. Sampel darah juga menunjukkan bahwa tingkat kerusakan menurun setelah treatment humor. Akhirnya, Cousins berhasil mengobati penyakitnya (Lubis, 2009). Menurut Lubis (2009), lansia berada pada tahap perkembangan emosi, dimana mereka mempunyai banyak masalah seperti masalah keuangan, masalah kesehatan, dan kesepian karena anak-anak tidak mempunyai waktu untuk mengurus mereka akhirnya ditempatkan di unit rehabilitasi sosial sehingga dapat memicu terjadinya stres bahkan depresi. Orang lanjut usia yang mengalami gangguan memori sebenarnya tidak menderita penyakit demensia. Mereka cenderung mengalami kehilangan memori akibat depresi (Wade & Travris, 2007). Proporsi lanjut usia yang mengalami depresi meningkat seiring bertambahnya usia, baik pada lanjut

29

usia yang tinggal di panti wredha maupun di komunitas. Dukungan sosial yang kurang maupun isolasi sosial merupakan faktor risiko depresi. Saat dalam kondisi stres dan depresi, hipotalamus mengirimkan pesan ke kelenjar endokrin dalam dua jalur besar. Salah satunya, mengaktifkan bagian simpatetik pada sistem saraf otonom untuk melakukan respon, dari hasilnya bagian berupa dalam pelepasan (medulla) epinephrine kelenjar dan

norepinephrine

adrenal.

Hypothalamus juga memicu aktivitas sepanjang aksis hypothalamus pituitary adrenal cortex (HPA), dan melepaskan pesan-pesan kimiawi yang berkomunikasi dengan kelenjar pituitary, yang selanjutnya akan mengirim pesan-pesan ke bagian luar (korteks) dari kelenjar adrenal. Korteks adrenal mengeluarkan kortisol dan hormon-hormon lain (Wade & Travris, 2007). Di otak, kortisol bekerja pada dua jenis reseptor, reseptor mineralokortikoid dan reseptor glukokortikoid, dan ini

diungkapkan oleh berbagai jenis neuron. Salah satu target penting dari glukokortikoid adalah hippocampus, yang merupakan pusat pengendali utama dari sumbu hypothalamus pituitary adrenal cortex (HPA) (Rossman, 2010). Kortisol akan menghambat fungsi hipokampus yang sangat berperan dalam pembentukan memori. Hipokampus merupakan bagian dari sistem limbik yang berperan penting dalam pemrosesan dan penguatan memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang. Stres yang berkepanjangan menyebabkan hilangnya neuron pada hipokampus

30

dan akhirnya memgakibatkan kerusakan memori. Namun, kerusakan memori pada otak tersebut bersifat reversibel dan bisa diperbaiki (Rossman, 2010). Maka untuk itu perlu adanya metode-metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan memori, dengan cara meningkatkan stimulasi otak sekaligus menurunkan level stres, salah satunya dengan menggunakan terapi humor. Beberapa penelitian yang dilakukan para ahli menyatakan bahwa penggunaan humor dapat meningkatkan memori jangka pendek lansia. Penelitian yang dilakukan oleh Bains (2012) menyatakan bahwa orang tua (usia rata-rata 74 tahun) setelah menonton video 30 menit humoris, kemampuan belajar dan kemampuan mengingat, meningkat dengan hasil masig-masing 38,7% dan 36,1%. Humor dan tertawa riang dapat mengurangi stres dan mengurangi hormon stres termasuk kortisol dan katekolamin. Kortisol, misalnya, dapat merusak sel-sel saraf dari hippocampus, yang merupakan bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk mengubah informasi sementara menjadi informasi yang permanen. (Bains, 2012 dalam Reifsynder, 2012). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Simon (1988) menyatakan bahwa humor dapat digunakan sebagai mekanisme koping dalam menghadapi kecemasan dan ketegangan (Vergeer, 1992). Penelitian yang dilakukan oleh Martin dan Lefcourt (1983) mengenai hubungan antara stres, mood, dan pandangan akan humor, didapatkan hasil bahwa humor dapat menurunkan angka kecemasan dan meningkatkan kualitas hidup (Martin, 2001).

31

Humor merupakan sesuatu yang lucu dan dapat membuat individu tertawa dan merasa senang. Humor memberikan perspektif yang berbeda dari suatu masalah sehingga dapat membuat situasi menjadi ringan (Lubis, 2009). Pemberian stimulasi humor dalam pelaksanaan terapi diperlukan karena beberapa orang mengalami kesulitan untuk memulai tertawa tanpa adanya alasan yang jelas. Apabila humor di berikan

sebagai satu-satunya stimulus untuk menghasilkan tawa dalam bentuk terapi akan disebut sebagai terapi humor, namun jika di kombinasikan dengan hal-hal lain dalam rangka untuk menciptakan tawa alami (misalnya dengan yoga atau meditasi), akan disebut sebagai terapi tawa (Dian, 2006). Pemberian terapi sebaiknya dilakukan sesering mungkin, karena idealnya terapi humor diberikan setiap hari. Pemberian terapi humor dengan frekuensi lebih banyak akan dapat meningkatkan sense of humor pada lansia (Fahruliana, 2008). Terapi humor dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk humor audiovisual dan termasuk dalam kategori cerita ringkas. Humor yang disajikan secara audiovisual merupakan input sensori yang akan masuk ke dalam thalamus yang berfungsi mengirimkan input sensori ke serebral korteks. Serebral korteks berhubungan dengan hipothalamus, amygdala dan hippocampus. Impuls sensori akan masuk ke dalam amygdala yang berfungsi untuk membentuk pengalaman emosional. Amygdala bekerja dengan cepat mengevaluasi informasi dan kemudian dengan cepat

menentukan kepentingan emosionalnya. Terapi humor akan memberikan

32

pengalaman emosional positif. Arousal yang diakibatkan oleh emosi positif akan menstimulasi hypothalamus untuk mengontrol sistem

endokrin yang bertugas untuk mengeluarkan hormon epinephrine yang akan meningkatkan kadar glukosa pada otak dan berguna dalam peningkatan memori (Wade & Travis, 2007). Penelitian ini menggunakan satu kelompok penelitian. Pada hari pertama kemampuan memori jangka pendek responden penelitian diukur. Responden mendapatkan perlakuan terapi humor menonton film humor 30 menit 4 kali dalam 7 hari. Setelah 7 hari kemampuan memori jangka pendek responden penelitian diukur. Data yang diukur adalah skor yang menyatakan jumlah angka yang dapat diingat dan di recall dengan benar, dari 17 angka yang terdapat dalam lembaran tes, sebelum terapi humor dan sesudah terapi humor.

33

B. Kerangka Teori Kerangka teori penelitian merupakan kumpulan teori yang mendasari topik penelitian, yang disusun berdasar pada teori yang sudah ada dalam tinjauan teori dan mengikuti kaedah input, proses dan output (Saryono, 2011). Skema 2.2. Kerangka Teori Register sensorik Visual, auditori, sentuhan Memori jangka pendek Pengulangan, coding, pemanggilan Memori jangka panjang penyimpanan permanen

Informasi dari lingkungan

Emosional positif

Stimulasi

1. Terapi humor 2. Olahraga (jogging) 3. Brain gym Respon memori jangka pendek

1. 2. 3. 4.

hypothalamus

Stress Jenis kelamin Usia Latihan rutin fisik dan memori 5. Kondisi fisik 6. Kondisi lingkungan

Kontrol hormon adrenal

1. Kortisol&katekolamin (dapat merusak sel-sel saraf di hippocampus) diturunkan 2. Epinephrine ditingkatkan sehingga glukosa pada otak meningkat

Meningkat

Tetap

Menurun

34

C. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori di atas, maka dapat digambarkan suatu kerangka konsep penelitian pada Skema 2.3. sebagai berikut :

Terapi humor Film-film humor

Memori jangka pendek

Skor Memori jangka pendek (0 17)

Variabel Perancu Faktor-faktor yang mempengaruhi memori jangka pendek: 1. Lingkungan (kebisingan, keadaan ruangan) 2. Penyakit seperti diabetes 3. Kondisi fisik (terlalu lelah)

Keterangan D.

: : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti

35

D. Hipotesis Hipotesis merupakan kesimpulan sementara atau jawaban sementara dari suatu penelitian yang akan dibuktikan dalam penelitian (Notoatmodjo, 2005). Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Ha : Ada pengaruh terapi humor terhadap memori jangka pendek lansia di Unit Rehabilitasi Dewanata Cilacap.

36

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian pre experiment dengan pendekatan pre test - post test one group design, suatu penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara

memberikan satu perlakuan terapi humor kepada satu kelompok eksperimental dan membandingkan hasil sebelum diberikan perlakuan terapi humor dan sesudah diberikan perlakuan terapi humor. Pengukuran dilakukan pada responden, sebelum dan sesudah perlakuan sehingga diperoleh dua hasil pengukuran.

Keterangan: = Skor memori jangka pendek sebelum perlakuan (pretest) = Skor memori jangka pendek setelah perlakuan (posttest) = Perlakuan pertama pada kelompok perlakuan = Perlakuan kedua pada kelompok perlakuan = Perlakuan ketiga pada kelompok perlakuan = Perlakuan keempat pada kelompok perlakuan

37

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian Penelitian dilakukan di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap 2. Waktu penelitian Kegiatan penelitian ini bulan Januari 2013. C. Populasi dan Sampel Menurut Saryono (2009), populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Sumber data dalam suatu penelitian sangat penting dan menentukan keakuratan hasil penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia usia 60 tahun keatas di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap yang berjumlah 90 lansia. Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2003). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Purposive sampling adalah sampel yang dipilih tidak secara acak tetapi berdasarkan pertimbangan tertentu seperti waktu, biaya, tenaga, sehingga tidak dapat mengambil sampel dalam jumlah besar (Saryono, 2001). Supaya hasil penelitian sesuai dengan tujuan, maka peneliti menyeleksi dan mempelajari persamaan responden kemudian menyeleksi dan mempelajari perbedaan responden (berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi) dengan tujuan supaya mendapatkan sampel yang representative (Notoatmodjo, 2003).

38

Adapun kriteria yang menjadi responden adalah : a. Kriteria inklusi : 1) Lansia yang tinggal di Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap dan bersedia menjadi responden. 2) Usia 60 tahun keatas 3) Mampu berkomunikasi dengan baik 4) Lansia dengan aspek kognitif dari fungsi mental baik (Skor MMSE > 23) dan Lansia dengan Kerusakan aspek fungsi mental ringan (Skor MMSE 18-22). b. Kriteria eksklusi : 1) Lansia dengan komplikasi mata (katarak) 2) Sedang menderita penyakit (Diabetes Mellitus) 3) Kondisi fisik terlalu lelah

Besar sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Solvin (Nursalam, 2003). Adapun rumus Solvin adalah :

Keterangan : n N : Jumlah sampel : Jumlah populasi

39

Z p q d

: Nilai standarnormal untuk = 0,1 (1,64) : Proporsi kejadian, jika belum diketahui, dianggap 50% : Proporsi selain kejadian yang diteliti, q=1-p : Tingkat kesalahan yang dipilih (d = 0,1)

n=

( ( ) (

) ) ( )

= = 38,73
= 39

Dari perhitungan rumus di atas didapatkan hasil akhir 39 lansia. Jadi dalam penelitian ini jumlah sampel yang digunakan yaitu 39 responden.

D. Variabel Penelitian 1. Variabel Independent (variabel Bebas) Terapi humor 2. Variabel dependent (tergantung) Memori jangka pendek 3. Variabel pengganggu Lingkungan (kebisingan, keadaan ruangan), penyakit seperti diabetes dan kondisi fisik.

40

E. Definisi Operasional Definisi operasional penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Definisi Operasional

No

Variabel Memori jangka pendek

Definisi Operasional Memori jangka 1. pendek merupakan kemampuan mengingat lansia dalam waktu 15 detik yang akan dilihat melalui total skor tes yang diperoleh responden. Setiap jawaban yang benar akan mendapat nilai satu dan jawaban yang salah akan mendapatkan nilai nol Terapi humor 2. merupakan intervensi terapeutik menggunakan film-film humor yang menampilkan aktivitas fisik, raut muka dan permainan kata yang bersifat lucu dan dapat membangkitkan ekspresi senang.

Alat Ukur Tes Digit Span Forward (7 soal) dan Backward (7 soal) WA IS IV (Wechsler Adult Intelligene Scale Edisi IV)

Hasil Ukur Skor memori jangka pendek (0-17)

Skala Rasio

1.

2.

Terapi humor

Terapi humor disajikan secara audiovisul (Vidio), termasuk kategori cerita ringkas durasi minimal 30 menit, 4 kali dalam 7 hari

Kelompok perlakuan (terapi humor)

41

No. Variabel 3. Jenis kelamin

Definisi Operasional Salah satu dari dua bentuk utama individu yang membedakan masing-masing sebagai laki-laki atau perempuan Usia Individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai tanggal penelitian.

Alat Ukur Data dari Panti

Hasil Ukur 1. Laki-laki 2. Perempuan

Skala Nominal

4.

Umur

Data dari Panti

1. 60-70 Ordinal tahun (elderly). 2. 70-90 tahun (old) 3. diatas 90 tahun (very old)

F. Instrumen Penelitian 1. Peralatan audiovisual, seperti: a. LCD b. Laptop c. Loud Speaker d. Vidio Terapi Humor 2. Alat ukur, yaitu tes digit span forward & backward Wechsler Adult Intelligene Scale Edisi IV, terdiri dari angka maju (digit forward) dan angka mundur (digit backward) yang masing-masing berjumlah 7 soal dan diberikan secara terpisah. Angka-angka dikatakan dengan jarak 1 detik, tidak dikelompok-kelompokan yang dihafal selama 15 detik.

42

G. Validitas dan Realibilitas Validitas merupakan indeks yang menunjukan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur. Ciri validitas adalah ketepatan ukuran, yaitu mengukur apa yang akan diukur (sensitivitas) dan tidak terukur hal lain selain yang akan diukur (spesifitas) (Saryono, 2011). Validitas dan reliabilitas untuk alat ukur memori jangka pendek lansia berupa tes rentang memori angka maju dan mundur (digit span forward & backward) yang diambil dari subtes Wechsler Adult Intelligene Scale.

H. Jalannya Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Prosedur penelitian yang dikerjakan dalam penelitian ini dibagi ke dalam empat tahap, yaitu: 1. Tahap persiapan a. Persiapan materi dan konsep yang mendukung jalannya penelitian. b. Studi pendahuluan untuk memperoleh data tentang jumlah lansia yang masuk dalam kriteria inklusi dan wawancara dengan lansia tentang pandangan mereka tentang humor serta data lain yang mendukung penelitian. Peneliti juga menyeleksi empat buah vidio humor yang mendapat peringkat tinggi dari masyarakat, yaitu Warkop DKI, Kadir & Doyok, Dagelan Banyumasan, Overa Van Java. Setelah menyeleksi vidio humor, peneliti mengujicobakan vidio humor tersebut pada sepuluh orang di Unit

43

Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap dan meminta pendapat mereka tentang vidio humor yang mana yang mudah dipahami dan paling membangkitkan rasa senang. Berdasarkan hasil coba, maka disimpulkan bahwa Overa Van Java merupakan vidio humor yang mudah dipahami dan paling membangkitkan rasa senang. c. Konsultasi dengan pembimbing d. Menyusun proposal penelitian e. Menyusun lembar tes digit span forward & backward f. Menyusun jadwal kerja g. Mengurus perijinan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap dan Unit Rehabilitasi Sosial Dewanata Cilacap 2. Tahap Pelaksanaan a. Melakukan skrinning tingkat kognitif lansia menggunakan Mini Mental Status Exam (MMSE) untuk menghomogenkan sampel penelitian. b. Memberikan penjelasan kepada calon responden mengenai maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan, yakni memberikan pemahaman kepada lansia tentang film humor yang akan ditayangkan. c. Mengajukan lembar persetujuan atau informed consent sebagai bentuk persetujuan lansia menjadi responden. d. Pada hari pertama, semua responden dibacakan deretan angka maju dan angka mundur (tes digit span forward & backward), diberikan

44

secara terpisah. Angka-angka dikatakan dengan jarak 1 detik, dan tidak dikelompok-kelompokkan. Setelah 15 detik, responden diminta mengucapkan kembali deretan angka yang telah dibacakan sebelumnya. e. Responden mendapat terapi humor yaitu menonton video humor minimal 30 menit, 4 kali dalam 1 minggu, waktu menyesuaikan dengan kegiatan lansia di Unit Rehabilitasi Sosial. f. Pada hari ke-7 setelah mendapat terapi humor seperti poin (e), semua responden mengerjakan kembali tes digit span forward dan backward seperti poin (d). 3. Tahap pengolahan dan analisis data Mengumpulkan hasil tes digit span forward & backward, memasukkan data hasil tes, serta menganalisis hasil data yang telah dimasukkan. 4. Tahap penyusunan laporan. Konsultasi dengan pembimbing dan presentasi hasil laporan.

I. Metode Analisis 1. Pengolahan Data Data yang diperoleh diolah dengan komputer menggunakan program SPSS versi 17 for windows. Menurut Hastono (2001), pengolahan data dilakukan dengan melewati beberapa tahapan yaitu :

45

a. Editing Editing meliputi kegiatan seleksi dan menyusun data yang telah dikumpulkan. Dalam penelitian ini dilakukan kegiatan pengecekan isian tes digit span forward & backward. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menilai kembali jawaban yang telah diberikan oleh responden sehingga mendapatkan data yang benar. b. Coding Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan yaitu pemberian kode pada data untuk meringkas data. Data yang dikode adalah data dengan skala rasio dari hasil tes digit span forward & backward yang selanjutnya mengklasifikasikannya ke dalam kategori. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk mempermudah analisis dan mempercepat entry data. c. Entry data Entry data adalah kegiatan memasukkan data dari tes digit span forward & backward ke dalam komputer agar data dapat dianalisis, entry data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17.0 for Windows. d. Tabulating Tabulating merupakan kegiatan meringkas jawaban dari tes digit span forward & backward menjadi tabel yang memuat

46

semua jawaban responden. Jawaban responden dikumpulkan dalam bentuk kode-kode yang disepakati untuk memudahkan pengolahan data selanjutnya. 2. Analisis Data a. Analisis univariat Analisis data univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada analisis univariat, data yang diperoleh dari hasil pengumpulan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan ukuran tendensi sentral. Jika data mempunyai distribusi normal, maka mean dapat digunakan sebagai ukuran pemusatan dan standar deviasi (SD) sebagai ukuran penyebaran. Jika distribusi tidak normal maka sebaiknya menggunakan median sebagai ukuran pemusatan dan minimum-maksimum sebagai ukuran penyebaran (Saryono, 2011). Data dengan skala nominal (jenis kelamin) dan ordinal (umur) dianalisis dengan frekuensi dan presentase. Data dalam bentuk skala rasio (skor memori jangka pendek lansia sebelum dan sesudah diberi terapi humor) dapat dihitung nilai rerata dan standar deviasi. b. Analisis bivariat Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua variabel. Pada tahap ini diteliti hubungan antara dua variabel yang meliputi variabel bebas dan terikat. Untuk

47

membuktikan adanya pengaruh sebelum dan sesudah dilakukan terapi humor terhadap memori jangka pendek, digunakan uji t berpasangan. Uji statistik t berpasangan dipilih karena skala data yang digunakan adalah rasio dengan pelaksanaan penelitian dilakukan dengan berpasangan (pretest dan posttest) (Saryono, 2011). Uji t merupakan statistik parametrik yang mensyaratkan data setiap variabel yang akan dianalisis berdistribusi normal. Sehingga perlu adanya uji normalitas data sebelum dilakukan pengujian hipotesis. Uji normalitas data menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Penelitian yang dilakukan akan menguji normalitas data memori jangka pendek sebelum dilakukan intervensi dan setelah dilakukan intervensi. Rumus uji kenormalan data Kolmogorov-Smirnov.

Z = Xi X SD Keterangan: Xi = Angka pada data Z = Transformasi dari angka ke notasi pada distribusi normal

SD = Standar Deviasi X = Rerata/ Mean Hasil uji normalitas menunjukkan data terdistribusi normal sehingga peneliti tetap menggunakan analisis uji t

48

berpasangan untuk mengetahui perbedaan skor memori jangka pendek sebelum dan sesudah diberikan terapi humor. Hasil analisis data dikatakan bermakna ketika p < 0,05. J. Masalah Etika Masalah etika pada penelitian yang menggunakan subjek manusia maka peneliti harus memahami hak dasar manusia. Beberapa prinsip penelitian pada manusia yang harus dipahami adalah : 1. Prinsip manfaat Prinsip ini mengharuskan peneliti untuk memperkecil risiko dan memaksimalkan manfaat (Saryono, 2011). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk lansia, unit rehabilitasi sosial dan masyarakat secara keseluruhan. 2. Prinsip Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect Human Dignity) a. Hak untuk ikut atau tidak menjadi responden (right to selfdetermination). Lansia diberi kebebasan untuk menentukan apakah bersedia atau tidak untuk mengikuti kegiatan penelitian. b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan (right to full disclosure). Peneliti memberikan penjelasan secara rinci kepada lansia tentang pelaksanaan terapi humor yang akan diberikan dan bertanggung jawab ketika pelaksanaan terapi dan sesudah pelaksanaan terapi.

49

c. Informed consent Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan lansia yang akan menjadi responden penelitian dengan dihadirkan saksi yakni petugas unit rehabilitasi sosial. Diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah supaya responden mengerti maksud dan tujuan penelitian. Pada informed consent juga perlu dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan dipergunakan untuk

pengembangan ilmu. 3. Prinsip Keadilan (Right to Justice) a. Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in fair treatment). Lansia harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau dropped out sebagai tesponden. b. Hak dijaga kerahasiaannya (right to privacy). Responden mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya anonymity (tanpa nama) yaitu tidak mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode dan

50

confidentiality (rahasia) merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya (Nursalam, 2003).