Anda di halaman 1dari 44

BAB II ISI

A. Metabolisme Karbohidrat, Protein, Lemak, Mineral


1. Metabolisme karbohidrat a. Glukosa Glikolisis Merupakan proses di mana glukosa diubah menjadi energi untuk kerja. Dapat berlangsung baik secara aerob maupun anaerob, namun pada anaerob jumlah energi yang dihasilkan lebih sedikit dan produk akhirnya berupa laktat. Proses glikolisis memerlukan serangkaian enzim yang semuanya terletak di sitosol. Tahapan glikolisis adalah sbb (gambar 1): Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat oleh enzim heksokinase atau glukokinase dengan menggunakan ATP sebagai donor fosfat. Glukosa 6-fosfat tidak dapat meninggalkan sel.

Glukosa 6-fosfat diubah menjadi fruktosa 6-fosfat oleh fosfoheksosa isomerase, dan diikuti reaksi fosforilasi oleh fosfofruktokinase untuk membentuk fruktosa 1,6 bifosfat, di mana proses ini memerlukan ATP lagi. Reaksi fosfofruktokinase secara fungsional dapat dianggap reversibel dalam kondisi fisiologis dan dapat diinduksi dan diatur secara alosterik serta memiliki peranan besar dalam mengatur glikolisis (enzim regulator).

Fruktosa 1,6 bifosfat dipecah menjadi gliseraldehid 3-fosfat dan dihidroksiaseton fosfat oleh aldolase. Kedua molekul tsb dapat saling terkonversi oleh enzim fosfotriosa isomerase.

Gliseraldehid 3-fosfat dioksidasi menjadi 1,3-bisfosfogliserat oleh gliseraldehid 3-fosfat dehidrogenase (dihambat oleh iodoasetat), dengan juga membentuk NADH+H+

Gambar 1. Glikolisis

1,3-bisfosfogliserat

diubah

menjadi

3-fosfogliserat

oleh

enzim

fosfogliserat kinase di mana juga menghasilkan ATP. Karena untuk setiap


3

molekul glukosa yang mengalami glikolisis dihasilkan dua molekul triosa fosfat, pada tahap ini dihasilkan dua molekul ATP per molekul glukosa. Pada tahap ini, besar kemungkinannya terbentuk 2,3-bisfosfogliserat (gambar 2) yang merupakan zat antara dalam reaksi ini.

3-fosfogliserat

mengalami

isomerasi

menjadi

2-fosfogliserat

oleh

fosfogliserat mutase

2-fosfogliserat diubah menjadi fosfoenol piruvat oleh enzim enolase, dimana enolase dihambat oleh fluorida. Fosfat dari fosfoenol piruvat akan dipindahkan ke 2 molekul ADP membentuk 2 ATP oleh piruvat kinase. Enol piruvat yang tersisa akan segera diubah menjadi piruvat yang jauh lebih stabil. Pada keadaan aerob, piruvat diserap ke dalam mitokondria.

Gambar 2. Pembentukan 2,3 bifosfogliserat

Pada keadaan anaerob, NADH tidak dapat direoksidasi melalui rantai respiratorik menjadi oksigen. Piruvat direduksi oleh NADH menjadi laktat yang dikatalisis oleh laktat dehidrogenase. Reoksidasi NADH melalui pembentukan laktat memungkinkan glikolisis berlangsung tanpa oksigen
4

dengan menghasilkan cukup NAD+ untuk siklus berikutnya yang dikatalisis oleh gliseraldehid 3-fosfat dehidrogenase.

Hasil dari proses glikolisis adalah= -2 + (2x3) + (2x2) + (2x2) = 8 ATP. 1,2

Oksidasi piruvat menjadi Asetil-KoA Dalam jalur ini, piruvat dioksidasi (dekarboksilasi oksidatif) menjadi AsetilKoA, yang terjadi di dalam mitokondria sel. Reaksi ini dikatalisir oleh berbagai enzim yang berbeda yang bekerja secara berurutan di dalam suatu kompleks multienzim yang berkaitan dengan membran interna mitokondria. Secara kolektif, enzim tersebut diberi nama kompleks piruvat dehidrogenase dan analog dengan kompleks alfa-keto glutarat dehidrogenase pada siklus asam sitrat. (gambar 3)

Piruvat dehidrogenase dihambat oleh produknya, yaitu asetil-koA dan NADH. Enzim ini juga diatur melalui fosforilasi suatu kinase kompleks multienzim ini sehingga aktivitasnya menurun, dan akan meningkat kembali apabila dilakukan defosforilasi oleh suatu fosfatase. Kinase diaktifkan oleh peningkatan rasio [ATP]/[ADP], [asetil-koA]/[koA], dan [NADH]/[NAD +]. Piruvat dehidrogenase akan dihambat aktivitasnya jika tersedia banyak ATP dan bila asam lemak teroksidasi sehingga karbohidrat terhemat (gambar 4).

Hasil dari tahap ini adalah= (2x3) = 6 ATP. 1

Gambar Gambar 3. Piruvat 4. menjadi Pengaturan Asetil-koA PDH

Siklus Asam Sitrat (SAS) / Tricarbocilic Acid (TCA) Fungsi utama siklus asam sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama untuk oksidasi karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini terjadi karena glukosa, asam lemak dan banyak asam amino dimetabolisir menjadi asetil-KoA atau intermediat yang ada dalam siklus tersebut. Proses ini bersifat aerob yang memerlukan oksigen sebagai oksidan terakhir dari koenzim-koenzim yang tereduksi. Enzim-enzim pada siklus asam sitrat terletak di matriks mitokondria.
1,2

Proses siklus asam sitrat adalah sbb (gambar 5): a. Asetil-koA dan oksaloasetat membentuk sitrat dikatalisis oleh sitrat sintase yang turut membebaskan koASH

b. Sitrat mengalami isomerasi menjadi isositrat oleh akonitase (akonitat hidratase). Racun fluoroasetat bersifat toksik karena fluroasetil-koA berkondensasi dengan oksaloasetat membentuk fluorositrat yang menghambat akonitase sehingga terjadi penimbunan sitrat.

c. Isositrat

mengalami

dehidrogenasi

menjadi

oksalosuksinat

lalu

mengalami dekarboksilasi menjadi alfa-ketoglutarat oleh enzim isositrat dehidrogenase. Reaksi ini memerlukan NAD+ dan Mg2+ atau Mn2+ serta membebaskan CO2

d. Alfa-ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif oleh kompleks alfaketoglutarat dehidrogenase yang memerlukan kofaktor tiamin difosfat, lipoat, NAD+, FAD, dan koA serta menyebabkan terbentuknya suksinilkoA dan pembebasan CO2. Reaksi ini dihambat oleh arsenit.

e. Suksinil-koA diubah menjadi suksinat oleh suksinat tiokinase (suksinil koA sintetase), di mana reaksi ini adalah satu-satunya contoh fosforilasi tingkat substrat di siklus asam sitrat.

f. Suksinat menjadi fumarat dengan enzim suksinat dehidrogenase yang mengandung FAD dan protein besi-sulfur (Fe-S)

g. Fumarat menjadi malat dengan cara dihidrolisis oleh fumarase (fumarat hidratase)

h. Malat diubah menjadi oksaloasetat oleh malat dehidrogenase yang memerlukan NAD+

Gambar 5. Siklus asam sitrat

Hasil dari siklus ini yaitu 3 molekul NADH, 1 FADH 2, dan 1 ATP (atau GTP) sehingga 1 siklus menghasilkan 12 ATP untuk 1 molekul asetil-koA. 1

Jalur pentosa fosfat (Pentose Hexose Pathway/PPP) Dikenal juga sebagai Hexose Monophosphate Pathway, merupakan sebuah jalur metabolik oksidatif yang terletak di sitoplasma dan dimulai dari glukosa 6-fosfat. Reaksi ini menghasilkan 2 prekursor jalur anabolik: NADPH+H+
8

(untuk biosintesis asam lemak) dan ribosa 5-fosfat (biosintesis nukleotida). Meliputi proses: Fase oksidatif nonreversibel Glukosa 6-fosfat mengalami dehidrogenasi menjadi 6-fosfoglukonat melalui pembentukan 6-fosfoglukonolakton yang dikatalisis oleh glukosa 6-fosfat dehidrogenase yang memerlukan NADP+. Kemudian mengalami dekarboksilasi untuk menghasilkan suatu pentosa, ribulosa 5-fosfat dengan dikatalisis oleh 6-fosfoglukonat dehidrogenase yang juga memerlukan NADP+.

Fase nonoksidatif reversibel Ribulosa 5-fosfat 3-epimerase mengubah konfigurasi ribulosa 5-fosfat menjadi xilulosa 5-fosfat, sedangkan apabila menggunakan ribosa 5-fosfat ketoisomerase, akan menjadi ribosa 5-fosfat. Transketolase (memerlukan Mg2+ dan tiamin difosfat) memindahkan 2 unit C dari xilulosa 5-fosfat ke ribosa 5-fosfat membentuk sedoheptulosa 7-fosfat dan gliseraldehid 3-fosfat. Kedua produk ini akan mengalami transaldolasi oleh transaldolase yang memindahkan 3 unit C dari sedoheptulosa ke gliseraldehid 3-fosfat membentuk glukosa 6-fosfat dan eritrosa 4-fosfat. Dalam suatu reaksi lebih lanjut yang dikatalisis transketolase, eritrosa 4fosfat akan menerima 2 unit C dari xilulosa 5-fosfat sehingga menjadi fruktosa 6-fosfat yang dapat berisomer menjadi glukosa 6-fosfat serta terbentuk gliseraldehid 3-fosfat yang kemudian dapat menjadi setengah molekul glukosa 6-fosfat menggunakan enzim fruktosa 1,6-bifosfatase melalui pembentukan fruktosa 6-fosfat.1

Glukoneogenesis Merupakan pembentukan glukosa atau glikogen dari molekul non-karbohidrat. Substrat utamanya adalah asam-asam amino glukogenik, laktat, gliserol, dan propionat. Hati dan ginjal adalah jaringan glukoneogenik utama.
9

Siklus Cori dan alanin (gambar 6) a. Siklus Cori: laktat yang dibentuk melalui glikolisis di otot rangka dan eritrosit akan diangkut ke hati dan ginjal untuk diubah menjadi glukosa. Proses di hati diawali dengan pengubahan laktat menjadi piruvat oleh laktat dehidrogenase yang akan menghasilkan NADH. Piruvat tidak bisa langsung diubah menjadi fosfoenol piruvat, karena itu piruvat akan membentuk oksaloasetat secara langsung dikatalisis oleh piruvat karboksilase dan masuk ke siklus asam sitrat sampai menjadi malat. Malat akan diubah menjadi fosfoenol piruvat menggunakan fosfoenol piruvat karboksilase. Fosfoenol piruvat yang terbentuk akan mengalami reaksi kebalikan dari glikolisis menggunakan enzim yang sama dengan glikolisis sampai mencapai fruktosa 1,6-bifosfat yang membutuhkan fruktosa 1,6-bifosfatase untuk kembali menjadi fruktosa 6-fosfat. Fruktosa 6-fosfat akan kembali menjadi glukosa 6fosfat, dan glukosa 6-fosfat akan kembali menjadi glukosa oleh glukosa 6-fosfatase. 1,2

b. Siklus alanin Pada keadaan puasa, terjadi pengeluaran alanin yang cukup banyak dari otot rangka, jauh melebihi konsentrasinya di protein otot yang sedang dikatabolisme. Alanin dibentuk melalui transaminasi piruvat yang

10

dihasilkan oleh glikolisis glikogen otot dan diekspor ke hati tempat zat ini kembali mengalami transaminasi menjadi piruvat.1

Sintesis glukosa dari asam amino Semua asam amino kecuali leusin dan lisin dapat menyuplai karbon untuk proses glukoneogenesis karena keduanya bersifat ketogenik bukan glukogenik, tidak seperti asam amino lainnya yang menyandang kedua peranan. Jika katabolisme setidaknya dapat membentuk senyawa intermedia dari siklus asan sitrat, maka glukosa dapat dibentuk dari asam amino tsb, di mana katabolisme dari asam amino memasuki siklus asam sitrat pada lebih dari satu titik.
Gambar 6. SIklus Cori dan siklus alanin

Sintesis glukosa dari lemak Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi menjadi asetil-koA. Selanjutnya asetil-koA masuk dalam siklus asam sitrat, sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis melalui fosforilasi oleh gliserol kinase menjadi gliserol 3-fosfat yang dikonversikan oleh gliserol 3-fosfat dehidrogenase menjadi dihidroksiaseton fosfat. Katabolisme asam emak yang menghasilkan propionil-koA juga dapat membentuk glukosa dengan menjadi asetil-koA pada siklus asam sitrat. 2

Glikogenolisis dan glikogenesis Glikogen otot berfungsi sebagai sumber heksosa yang tersedia dengan mudah untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri. Sedangkan glikogen hati sangat berhubungan dengan simpanan dan pengiriman heksosa keluar untuk mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya pada saat di antara waktu makan. Setelah 12-18 jam berpuasa, glikogen hati hampir seluruhnya terkuras.
11

Meskipun glikogen otot tidak secara langsung menghasilkan glukosa bebas (karena otot tidak memiliki glukosa 6-fosfatase), namun piruvat yang dibentuk oleh glikolisis di otot dapat mengalami transaminase menjadi alanin yang dapat ditranspor untuk glukoneogenesis hati.

Tahapan glikogenesis adalah sbb (gambar 7): a. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim terjadi juga pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini dikatalisir oleh heksokinase sedangkan di hati oleh glukokinase.

Gambar 7. Glikogenesis

12

b. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi dengan bantuan katalisator enzim fosfoglukomutase. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzim UDPGlc pirofosforilase.

c. Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc membentuk ikatan glikosidik dengan atom C4 pada residu glukosa terminal glikogen, sehingga membebaskan uridin difosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim glikogen sintase. Molekul glikogen yang sudah ada sebelumnya (disebut glikogen primer) harus ada untuk memulai reaksi ini. Glikogen primer selanjutnya dapat terbentuk pada primer protein yang dikenal sebagai glikogenin.

d. Residu glukosa yang lebih lanjut melekat pada posisi 1 4 untuk membentuk rantai pendek yang diaktifkan oleh glikogen sintase. Pada otot rangka glikogenin tetap melekat pada pusat molekul glikogen, sedangkan di hati terdapat jumlah molekul glikogen yang melebihi jumlah molekul glikogenin.

e. Setelah rantai dari glikogen primer diperpanjang dengan penambahan glukosa tersebut hingga mencapai minimal 11 residu glukosa, maka branching enzyme memindahkan bagian dari rantai 1 4 (panjang minimal 6 residu glukosa) pada rantai yang berdekatan untuk membentuk rangkaian 1 6 sehingga membuat titik cabang pada molekul tersebut. Cabang-cabang ini akan tumbuh dengan penambahan lebih lanjut pada ikatan 1 4 dan 1 6 lainnya.

13

Struktur glikogen yang sangat bercabang menghasilkan banyak tempat untuk glikogenolisis sehingga glukosa 1-fosfat dapat dihasilkan untuk digunakan oleh otot. Namun jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen harus dipecah untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber energi. Proses ini dinamakan glikogenolisis. Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Untuk memutuskan ikatan glukosa satu demi satu dari glikogen diperlukan enzim glikogen fosforilase. Enzim ini spesifik untuk proses fosforolisis rangkaian 1 4 glikogen untuk menghasilkan glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar molekul glikogen dibuang secara berurutan sampai kurang lebih ada 4 buah residu glukosa yang tersisa pada tiap sisi cabang 1 6. Enzim lain, glukan transferase, memindahkan tiga residu glukosil dari empat residu yang tersisa pada satu cabang. Kemudian, satu residu glukosil yang tersisa akan dilepaskan menjadi molekul glukosa bebas oleh debranching enzyme.

Aktivitas glikogen sintase dan glikogen fosforilase dipengaruhi oleh modifikasi kovalen. Pengikatan fosfor pada enzim akan menyebabkan glikogen sintase menjadi inaktif sedangkan glikogen fosforilase menjadi aktif, dan sebaliknya.

b. Fruktosa Di hati, fruktosa mengalami glikolisis yang lebih cepat daripada glukosa karena tidak mengalami katalisis oleh enzim fosfofruktokinase. Fruktokinase mengkatalisis fosforilasi fruktosa menjadi fruktosa 1-fosfat dalam hari, ginjal, dan usus. Enzim ini tidak terpengaruh puasa dan kadar insulin sehingga menyebabkan normalnya kecepatan penyingkiran fruktosa dalam darah meski mengidap diabetes mellitus.

Fruktosa 1-fosfat dipecah menjadi D-gliseraldehida dan dihidroksiaseton fosfat oleh aldolase B yang terdapat di hati dan juga berfungsi dalam memecah fruktosa
14

1,6-bifosfat pada glikolisis. D-gliseraldehida memasuki memasuki proses glikolisis dengan mengalami fosforilasi menjadi gliseraldehid 3-fosfat oleh triokinase.

Adanya sorbitol dehidrogenase di hati, termasuk janin, bertanggung jawab untuk perubahan sorbitol menjadi fruktosa.1

c. Galaktosa Senyawa ini mudah diubah menjadi glukosa di hati. Galaktokinase mengatalisis fosforilasi galaktosa dengan menggunakan ATP. Galaktosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin difosfat glukosa membentuk uridin difosfat galaktosa dan glukosa 1-fosfat oleh galaktosa 1-fosfat uridil transferase, sedangkan reaksi sebaliknya dikatalisis oleh uridin difosfat galaktosa 4-epimerase di mana reaksi ini memerlukan NAD+ sebagai koenzim. Uridin difosfat glukosa kemudian bergabung dengan glikogen. Akibat uridin difosfat 4-epimerase, glukosa dapat diubah menjadi galaktosa guna membentuk laktosa pada air susu. (gambar 8)

15

Gambar 8. Glukoneogenesis dari galaktosa dan pembentukan laktosa

d. Asam uronat Di hati, jalur asam uronat mengatalisis perubahan glukosa menjadi asam glukuronat, asam askorbat (kecuali pada manusia dan spesien lain yang asam askorbatnya adalah vitamin) dan pentosa. Jalur ini merupakan jalur alternatif yang tidak menghasilkan ATP. Glukosa 6-fosfat mengalami isomerasi menjadi glukosa 1-fosfat yang kemudian bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) membentuk uridin difosfat glukosa oleh UDP glukosa pirofosforilase. UDP glukosa dioksidasi di C6 oleh UDP glukosa dehidrogenase menghasilkan UDP-glukuronat, di mana reaksi ini memerlukan NAD+. UDP-glukuronat dapat dipakai untuk digabungkan membentuk hormon steroid, bilirubin, dan sejumlah obat yang dieksresi melalui urin atau empedu sebagai konjugat glukuronida.

16

Glukuronat direduksi menjadi L-gulonat oleh L-gulonolakton oksidase menjadi 2-keto-L-gulonolakton lalu menjadi askorbat. Reaksi ini tidak berlaku untuk hewan primata dan marmut.

e. Gula amin Glukosa dapat diubah menjadi glukosamin untuk membentuk glikosaminoglikan dengan cara mengubah fruktosa 6-fosfat pada glikolisis menjadi glukosamin 6fosfat menggunakan amidotransferase yang mengambil donor amin dari glutamin. Glukosamin 6-fosfat akan diproses lebih lanjut menjadi UDPglukosamin atau UDP-N-asetilglukosamin untuk membentuk glikosaminoglikan, atau dapat juga menjadi asam sialat dengan penambahan fosfoenol piruvat. Glukosamin 6-fosfat juga dapat diperoleh dari pengikatan fosfat pada glukosamin.
1

2. Metabolisme protein Asam alfa-amino akan mengalami katabolisme yang pada manusia akan menghasilkan urea sebagai produk akhirnya melalui 4 tahap: a. Transaminasi (gambar 9) Transaminasi saling mengkonversi pasangan-pasangan alfa-amino dan asam alfaketo. Semua asam amino protein dapat mengalami transaminasi kecuali lisin, treonin, prolin, dan hidroksiprolin. bantuan vitamin B6.
1,2 1

Proses ini berlangsung reversibel dengan

Enzim yang berperan dalam proses ini adalah alanin-

piruvat aminotransferase dan glutamat-alfa-ketoglutarat aminotransferase yang mengatalisis pemindahan gugus amin ke piruvat (membentuk alanin), atau ke alfa-ketoglutarat (membentuk glutamat). Karena alanin juga merupakan suatu substrat untuk glutamat aminotransferase, semua nitrogen amino dari asam amino yang mengalami transaminasi dapat terkonsentrasi untuk dijadikan glutamat. Hal

17

ini penting karena glutamat adalah satu-satunya asam amino yang mengalami deaminasi oksidatif dengan laju yang cukup tinggi. 1

b. Deaminasi oksidatif glutamat (gambar 10)


Gambar 9. Merupakan pemindahan gugus amin dari glutamat menggunakan glutamat Transaminase
2

dehidrogenase sehingga menjadi alfa-ketoluglutarat, di mana reaksi ini memerlukan koenzim NAD+ dan terjadi di hati.
2,3

Reaksi ini reversibel, sehingga

bila dibalik, reaksi ini berperan dalam biosintesis asam amino dari famili glutamat.

Gambar 11. Deaminasi oksidatif

c. Transpor amonia Amonia dapat dihasilkan dari aktivitas bakteri usus, atau melalui deaminasi glutamat atau glutamin dan asparagin. Amonia akan dilepaskan ke hati (terutama) dan ginjal oleh enzim-enzim dehidrogenase yang melalukan deaminasi oksidatif. Sedangkan pada ginjal, amonia akan dikonjugasikan membentuk garam amonium sebagai mekanisme kompensasi terhadap asidosis. 2

d. Siklus urea (gambar 12) Reaksinya adalah sbb: Siklus diawali dengan kondensasi CO2, amonia, dan ATP untuk membentuk karbamoil fosfat oleh karbamoil fosfat sintase I mitokondria, yang merupakan enzim regulator pada siklus urea dan hanya aktif jika terdapat
18

aktivator alosteriknya yaitu N-asetilglutamat yang meningkatkan afinitas sintase terhadap ATP.

Karbamoil fosfat berikatan dengan ornitin matriks mitokondria menggunakan L-ornitin transkarbamoilase membentuk sitrulin. Reaksi ini terjadi di sitosol.

Sitrulin bereaksi dengan aspartat membentuk argininosuksinat oleh argininosuksinat sintase, di mana reaksi ini menghasilkan nitrogen kedua dan memerlukan ATP

Argininosuksinat diuraikan oleh argininosuksinase menghasilan arginin dan fumarat, di mana fumarat akan memasuki siklus asam sitrat sedangkan arginin akan dihidrolisis oleh arginase hati menjadi urea dan mebentuk kembali ornitin. 1

19

Gambar 12. Siklus urea

3. Metabolisme lemak a. Asam lemak jenuh-tak jenuh dan eikosanoat Oksidasi asam lemak jenuh Oksidasi beta asam lemak Terjadi di mitokondria, di mana sebelum mengalami oksidasi, asam lemak harus diaktifkan terlebih dahulu dengan adanya ATP dan koenzim A serta enzim asil-koA sintetase (tiokinase) menjadi asil-koA disertai pembentukan AMP dan Ppi. Proses ini merupakan satu-satunya proses

20

yang memerlukan ATP pada keseluruhan proses oksidasi beta. Proses lebih lanjut adalah sbb: Asil-koA rantai panjang (atau asam lemak bebas) akan diubah oleh karnitin palmitoiltransferase-I menjadi asilkarnitin yang mampu menembus membran dalam mitokondria. Tiap asilkarnitin yang masuk akan diimbangi oleh karnitin yang keluar menggunakan enzim karnitin-asilkarnitin translokase. Asilkarnitin kemudian bereaksi dengan koA yang dikatalisis oleh karnitin palmitoiltransferase II sehingga asil-koA dibebaskan dalam matriks mitokondria

Terjadi pemutusan tiap 2 karbon dari molekul asil-koA-beta yang dimulai dari ujung karboksil, yaitu diantara atom karbon alfa dan beta, dimana unit 2 karbon yang terbentuk adalah asetil-koA. Setiap pembentukan asetil-koA akan menghasilkan masing-masing 1 FADH2 dan 1 NADH2 yang apabila memasuki rantai pernafasan akan menghasilkan total ATP sebesar 5 ATP. Asetil ko-A yang terbentuk akan memasuki siklus asam sitrat. Oksidasi asam lemak dengan jumlah atom karbon yang ganjil akan menghasilkan asetil-koA plus sebuah molekul propionil-koA (residu 3 karbon).

Di peroksisom ditemukan suatu bentuk oksidasi beta asam lemak dan menyebabkan terbentuknya asetil-koA dan H2O2 (dari tahap dehidrogenase terkait flavoprotein) yang diuraikan oleh katalase. Dehidrogenasi di peroksisom tidak menghasilkan ATP, di mana sistem ini hanya mengoksidasi asam lemak rantai panjang (C20, C22) menjadi asetil-koA dan berakhir sampai terbentuk oktanoil-koA (C8). Sistem ini diinduksi oleh diet tinggi lemak dan obat hipolipidemik. 1

Oksidasi omega asam lemak

21

Oksidasi dimulai pada ujung dari asam lemak, dengan hidroksilasi yang dikatalisis oleh mooksigenase yang menghasilkan asam lemak dengan 2 gugus karboksil yang dapat mengalami beta-oksidasi dari kedua ujungnya sampai mencapai asam dikarboksilat C6 atau C8 yang kemudian akan diekskresikan dalam bentuk ini melalui urin. 3

Oksidasi asam lemak tak jenuh Terjadi melalui modifikasi jalur oksidasi beta, di mana terjadi pengurangan 2 ATP dari oksidasi beta pada asam lemak jenuh untuk setiap ikatan rangkap yang dimiliki. Hal ini disebabkan karena oksidasi beta asam lemak tak jenuh tidak menggunakan koenzim FAD+ dalam prosesnya.

Metabolisme eikosanoat Arakidonat dan beberapa asam lemak tak jenuh ganda C20 lainnya menghasilkan eikosanoid (prostaglandin/PG, tromboksan/TX, leukotrien/LT, lipoksin/LX). Terdapat 3 kelompok eikosanoid yang disintesis dari asam eikosanoat C20 yang berasal dari asam lemak esensial linolear dan alfa-linolenat atau secara langsung dari eikosapentanoat dan arakidonat dalam makanan, di mana arakidonat adalah substrat bagi pembentukan PG2, seri TX2 (prostanoid) melalui jalur siklo-oksigenase atau seri LT4 dan LX4 melalui jalur lipoksigenase.

b. Triasil gliserol Triasil gliserol merupakan lipid utama dalam timbunan lemak dan di dalam makanan. Peran senyawa ini adalah transport dan penyimpanan lipid. Sintesis triasil gliserol Triasil gliserol dibentuk melalui asilasi triosa fosfat. Diawali dengan senyawa gliserol 3-fosfat yang dibentuk dari gliserol oleh enzim gliserol kinase.
22

Gliserol 3-fosfat juga dapat berasal dari glukosa melalui glikolisis, di mana jika tidak tersedia cukup enzim gliserol kinase, gliserol 3-fosfat akan dibentuk dari dihidroksiaseton fosfat oleh gliserol-3-fosfat dehidrogenase.

Selanjutnya, gliserol 3-fosfat akan berikatan dengan 2 molekul asil-koA (hasil pengaktifan asam lemak) membentuk fosfatidat (1,2-diasilgliserol fosfat) yang berlangsung dalam 2 tahap yang dikatalisis oleh gliserol 3-fosfat asiltransferase dam 1-asilgliserol-3-fosfat asiltransferase. Fosfatidat diubah oleh fosfatidat fosfohidrolase dan diasilgliserol asiltransferase (DGAT) menjadi 1,2-diasilgliserol dan pada akhirnya membentuk triasil gliserol. DGAT mengatalisis satu-satunya tahap yang spesifik untuk sintesis triasilgliserol dan diperkirakan menentukan laju reaksi pada sebagian besar keadaan. 1

Katabolisme triasil gliserol Triasilgliserol harus dihidrolisis oleh lipase menjadi unsur pokoknya yaitu asam lemak dan gliserol sebelum dapat dikatabolisme lebih lanjut, di mana sebagian besar proses ini terjadi di jaringan adiposa disertai pembebasan asam lemak bebas ke dalam plasma tempat asam-asam ini berikatan dengan albumin serum, dan gliserol kembali ke hati untuk diubah menjadi dihidroksiaseton fosfat dan memasuki jalur glikolisis atau glukoneogenesis.
1,2

Lipase-lipase

yang terdapat pada jaringan lemak merupakan enzim kunci yang membebaskan simpanan energi, dan lipase yang mengatalisis asam lemak yang pertama merupakan suatu enzim yang terkontrol oleh hormon, hormone-sensitive lipase. Kontrol ini disesuaikan dengan kecepatan sintesis triasilgliserol untuk memastikan kecukupan energi dan tidak terjadi obesitas. 2

c. Benda keton dan etanol Ketogenesis (gambar 13)

23

Enzim-enzim utama yang bertanggung jawab dalam pembentukan badan keton terutama berkaitan dengan mitokondria. Dua molekul asetil-koA yang terbentuk dari oksidasi beta menyatu membentuk asetoasetil-koA (merupakan bahan awal ketogenesis). Asetoasetil-koA akan berkondensasi dengan asetilkoA lainnya menggunakan 3-hidroksi-3-metilglutaril-koA sintase (HMGkoA sintase) membentuk 3-hidroksi-3-metilglutaril-koA. Selanjutnya HMGkoA liase akan menyebabkan lepasnya 1 asetil-koA dari HMG-koA dan menyisakan asetoasetat bebas. Agar terjadi ketogenesis, enzim HMG-koA sintase dan liase harus terdapat di dalam mitokondria, dan dapat dijumpai pada hati dan epitel mamalia.

Gambar 13. Ketogenesis

Metabolisme etanol (gambar 14)

24

Tempat degradasi mayor etanol adalah hati, meskipun lambung juga mampu memetabolisme etanol. Kebanyakan etanol akan dioksidasi oleh alkohol dehidrogenase membentuk etanal (asetaldehida). Oksidasi lebih jauh akan membentuk asetat, menggunakan enzim asetaldehida dehidrogenase. Asetat lalu akan diubah menjadi asetil-koA dibantu oleh asetat-koA ligase menggunakan ATP. Reaksi ini dibatasi oleh jumlah NAD+ yang tersedia. 3

Gambar 14. Metabolisme etanol

d. Kolesterol Kolesterol adalah lipid amfipatik yang merupakan komponen struktural esensial pada membran dan lapisan luar lipoprotein plasma. Senyawa ini disintesis di banyak jaringan dari asetil-koA dan merupakan prekursor semua steroid lain di dalam tubuh. Sintesis kolesterol Berlangsung di luar mitokondria dan melalui tahap-tahap sbb: Sintesis mevalonat Dua molekul asetil-koA akan mengalami kondensasi menjadi asetoasetilkoA oleh enzim tiolase sitosol. Asetoasetil-koA akan mengalami kondensasi dengan asetoasetil-koA lainnya menggunakan HMG-koA
25

sintase membentuk HMG-koA dan direduksi membentuk mevalonat oleh NADPH dan HMG-koA reduktase. Tahap ini merupakan tahap regulatorik utama.

Pembentukan unit isoprenoid Mevalonat mengalami fosforilasi oleh ATP dan tiga kinase, dan setelah dekarboksilasi ternbetuk unit isoprenoid aktif, isopentenil difosfat.

Pembentukan skualen Isopentenil difosfat mengalami isomerasi membentuk dimetilalil difosfat dan bergabung dengan isopentenil difosfat lain membentuk geranil difosfat, dan kondensasi lebih lanjut membentuk farnesil difosfat yang saling bergabung satu sama lain membentuk skualen.

Pembentukan lanosterol Skualen akan melipat membentuk struktur mirip inti steroid. Sebelum terjadi penutupan cincin, skualen diubah menjadi skualen 2,3 epoksida oleh skualen epoksidase di retikulum endoplasma. Terjadi siklisasi dikatalisis oleh oksidoskualen:lanosterol siklase.

Pembentukan kolesterol Pembentukan kolesterol dari lanosterol berlangsung di retikulum endoplasma dan melibatkan pertukaran-pertukaran di inti steroid dan rantai samping membentuk desmosterol, dan akhirnya membentuk kolesterol.

Ekskresi kolesterol
26

Kolesterol diekskresikan dari tubuh di dalam empedu sebagai kolesterol atau asam (garam) empedu.Asam empedu primer disintesis di hati dari kolesterol. 7alfa-hidroksilasi adalah tahap regulatorik pertama dan terpenting dalam biosintesis asam empedu dikatalisis oleh kolesterol7alfa-hidroksilase (merupakan monooksigenase dan perlu NADPH dan sit450). Tahap-tahap selanjutnya juga dikatalisis oleh enzim-enzim monooksigenase menghasilkan asam empedu primer. Sebagian asam empedu primer di usus mengalami perubahan lebih lanjut akibat aktivitas bakteri usus yang mencakup dekonjugasi dan 7alfa-dehidroksilasi yang menghasilkan asam empedu sekunder, asam deoksikolat dan asam litokolat.

Asam empedu primer dan sekunder diserap di ileum dan 98-99% dikembalikan ke hati melalui sirkulasi porta ( sirkulasi enterohepatik). Sebagian kecil asam empedu yang lolos dari absorbsi dikeluarkan melalui tinja. 1

4. Metabolisme mineral a. Kalsium Merupakan mineral dengan jumlah terbanyak dalam tubuh. Diperlukan untuk simpanan di matriks tulang dan gigi supaya tetap kokoh, mengendalikan kerja jantung dan otot skelet serta eksitabilitas saraf, dan pembekuan darah. Hanya 2030% dari asupan kalsium yang diabsorbsi dari traktus digestivus. Jika asupan per hari kurang dari 250 mg, 70% dari asupannya akan diserap, terutama di jejunum namun juga di ileum dan kolon. Kalsium dapat diserap secara aktif maupun pasif, di mana yang aktif lebih dominan jika asupan kalsium kurang, dan membutuhkan metabolit aktif vitamin D, kalsitriol.

Kalsium berperan dalam asborbsi asam amino karena membentuk garam yang larut dengan asam amino. Beberapa produk tumbuhan dapat mengurangi absorbsi kalsium karena mengandung asam fitat dan asam oksalat yang membentuk garam tak larut ketika bergabung dengan kalsium.
27

Kalsium banyak terdapat dalam susu, keju, tepung yang difortifikasi kalsium, telur, ikan (salmon dan sarden yang tulang-tulang kecilnya ikut dimakan), kubis, brokoli.

Kalsium dibuang di urin, feses, kulit, rambut, dan kuku. Kalsium yang terdapat di empedu dapat diabsorbsi ulang di ileum dan kolon.

Kalsium tambahan diperlukaan saat pertumbuhan, kehamilan, dan laktasi.

Massa puncak tulang dicapai pada usia 35 tahun, di mana pada tahun-tahun berikutnyaakan diikuti dengan hilangnya tulang kortikal sebanyak 0,35% per tahun pada pria dan tergantung menopause pada wanita. Kehilangan massa tulang akibat menopause ini dapat dicegah dengan pemberian kalsium disertai pemberian estrogen.

Kekurangan kalsium dapat disebabkan karena terjadi malabsorbsi dalam tubuh atau karena kekurangan vitamin D, atau karena kurang asupan kalsium. Defisiensi kalsium pada masa kanak-kanak dapat mengakibatkan riket sedangkan pada dewasa menyebabkan osteomalasia.

b. Fosfor Merupakan mineral kedua terbanyak dalam tubuh. Dapat berupa fosfat organik seperti ATP, AMP, ADP, kreatin fosfat, maupun inorganic yang terdapat di matriks tulang dan cairan ekstraselular.

28

Fosfor berfungsi sebagai komponen tulang dan gigi bersama kalsium, pembentukan bagian sel (fosfolipid), pelepasan energi dari karbohidrat dan lemak, membantu absorbsi karbohidrat dari usus halus, dan membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh.

Penyerapan fosfor bergantung pada pembentukan garam larut air. Normalnya 60% fosfor makanan akan diserap. Penggunaan antacid yang mengandung magnesium dan alumunium berlebih dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan fosfor melalui pembentukan garam larut air.

Fosfor dapat diperoleh dari daging, ikan , susu, keju, dan sereal yang mengandung fosfor melebihi sayur dan buah. Juga terdapat dalam banyak pengawet makanan.

Banyak makanan yang merupakan sumber kalsium juga kaya akan fosfor, di mana asupannya harus memiliki perbandingan 1 mmol fosfor per 1 mmol kalsium, mencerminkan konsentrasinya pada tubuh normal.

Defisiensi fosfor jarang terjadi, namun dapat terjadi pada alkoholik, penyakit ginjal, dan sindrom malabsorbsi.

c. Zat besi 0,5-1 gram besi disimpan dalam bentuk ferritin dan haemosiderin dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Kadar plasma ferritin merupakan indikator kadar simpanan besi. Kandungan total besi dalam tubuh sangat sedikit, yaitu sekitar 4 gr.

29

Besi berfungsi untuk pembentukan hemoglobin, terdapat dalam pigmen myoglobin otot, serta penting sebagai konstituen banyak sistem enzim.

2 jenis besi dapat ditemukan dalam makanan: Daging dan olahannya mengandung besi hem Sayur dan buah mengandung kompleks ferri.

Besi diperlukan tubuh untuk mengimbangi kehilangan besi akibat urin, menstruasi, pembentukan hemoglobin tambahan karena kehamilan dan masa pertumbuhan, laktasi, serta pendarahan.

Faktor yang mempengaruhi penyerapan besi adalah sekresi lambung (enzim dan asam lambung mengubah besi ke bentuk ferri agar lebih mudah diserap), adanya asam askorbat (meningkatkan absorbsi besi), fitat dan oksolat serta iron-binding phenolic pada the dan kalsium-protein kedelai (menghambat absorbsi besi).

Kelompok orang yang kebutuhan besinya lebih banyak dan mungkin kekurangan besi: wanita menstruasi, kehamilan dan laktasi, serta donor darah, anak masa pertumbuhan, orang-orang tua, dan vegetarian.

Hemokromatosis adalah suatu sindrom di mana absorbsi besi sangat berlebih sehingga menyebabkan akumulasi di jaringan.

d. Yodium Merupakan konstituen dari tiroksin (T4) dan triodotironin (T3) yang disekresi glandula tiroid yang berfungsi mengendalikan aktivitas jaringan, kecepatan
30

metabolisme, dan integritas jaringan penyambung, serta perkembangan sistem saraf fetus pada trimester pertama kehamilan. Kurang asupan yodium pada ibu hamil dapat menyebabkan kretinisme, sindrom retardasi mental, dan dwarfisme.

Yodium terdapat sangat sedikit dalam makanan. Paling baik berasal dari sayur dan ikan laut, serta susu sapi.

Beberapa makanan yang mengandung substansi yang menghambat pengambilan yodium oleh glandula tiroid disebut sebagai goitrogen, yaitu: Kubis dan lobak yang mengandung goitrogenic cyanoglucocides Singkong, jagung, ubi, dan kacang lima Air yang tercampur feses Ion kalsium, fluor, mangan, dan magnesium yang terdapat pada air keras

Kekurangan yodium dibarengi dengan bahan-bahan goitrogen pada satu area tertentu dapat menyebabkan goiter endemik, ditandai dengan pembengkakan leher. Asupan yodium berlebih juga dapat menyebabkan goiter.

e. Fluor Terdapat dalam jumlah kecil dalam gigi dan tulang sebagai garam fluoroapatit dengan fungsi esensial yang belum diketahui. Mineral ini terdapat dalam air, yang meskipun hanya dalam jumlah yang sangat sedikit, namun merupakan sumber asupan utama.

Studi mengenai fluor terhadap nutrisi manusia berkaitan dengan fungsinya mencegah karies gigi. Fluor harus terdapat ketika kalsifikasi gigi masih
31

berlangsung. Fluor yang berlebihan dapat menyebabkan timbulnya lapisan putih kapur pada gigi, dan apabila sangat berlebihan dapat menyebabkan lapisan tsb menimbulkan warna coklat permanen pada gigi.

f. Natrium Terutama ditemukan dalam plasma darah dan cairang sekeliling jaringan. Penting dalam pengaturan tekanan osmotik serta penghantaran impuls saraf, kontraksi otot, transport aktif, dan keseimbangan asam-basa.

Kebanyakan natrium berasal dari garam dapur (natrium klorida). Terdapat pula dalam susu, keju, telur, daging, dan ikan yang memiliki kadar natrium lebih tinggi daripada sayur dan sereal.

Natrium terutama dikeluarkan melalui urin dan keringat, di mana kadar natrium dipertahankan oleh ginjal. Absorbsi natrium dan air dikontrol oleh hormon aldosteron dan ACTH.

Defisiensi natrium dapat terjadi akibat pengeluaran keringat berlebih akibat hawa panas, dengan gejala kram otot dan kelelahan luar biasa. Kelompok orang yang juga mungkin mengalami defisiensi adalah mereka yang muntah-muntah dan diare berkepanjangan, kerusakan jaringan (misalnya karena luka bakar), atau karena kerusakan ginjal. Pada orang tua yang kemampuan memekatkan urinnya sudah kurang, kekurangan natrium dapat menyebabkan kepikunan.

g. Kalium Terutama terdapat dalam sel tubuh, dengan cara kerja yang komplemen dengan natrium. Ginjal memainkan peranan penting dalam mengatur konsentrasi kalium

32

dalam tubuh. Defisiensi dapat disebabkan muntah-muntah dan diare dalam waktu lama, atau akibat terapi diuretik oral, dan menyebabkan kejang otot.

Lebih dari 90% kalium diserap dalam usus halus proksimal. Buah dan sayur merupakan sumber utama kalium, begitu pula dengan pisang dan jus buah serta kopi. Asupan kalium lebih banyak dapat menurunkan tekanan darah.

h. Magnesium Berguna untuk perkembangan tulang dan mempertahankan potensial listrik sepanjang membran sel otot dan saraf.

Magnesium terdapat pada air keras, sereal, sayuran hijau, daging, dan produk hewani yang jumlahnya lebih sedikit daripada yang didapat dari produk nabati karena produk hewani mengandung lebih banyak kalsium, protein, dan fosfat sehingga menyebabkan lebih sedikit magnesium diabsorbsi.

Absorbsi magnesium dalam usus halus sangat efisien. Defisiensi magnesium dapat terjadi bersamaan denan kelaparan, sindrom malabsorbsi, pancreatitis akut, alkoholisme, dan diare serta muntah-muntah berkepanjangan. Biasa disertai rendahnya kadar kalsium darah. Gejala defisiensi berupa otot lemah, disfungsi neuromuskular, takikardia, dan fibrilasi ventrikel. Dapat juga disebabkan karena pengangkatan glandula paratiroid dan penggunaan diuretika dalam waktu lama.

i. Zink 60% zink terdapat dalam otot skelet dan 30% dalam tulang. Penting sebagai komponen banyak enzim, sintesis jaringan non-lemak, juga dalam penyembuhan luka. Defisiensi zink mungkin menyebabkan berkurangnya imunitas sel.

33

Asupan zink berlebih dapat menyebabkan nausea dan muntah-muntah. Asupan berlebih dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan defisiensi tembaga.

Defisiensi zink dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, dan terganggunya proses penyembuhan luka. Defisiensi dapat disebabkan oleh: Diet kurang zink Parasit yang menyebabkan kurang darah Keringat berlebih Malabsorbsi Operasi Luka bakar

Sumber asupan zink adalah makanan laut, daging, telur, sereal, dan kacang panjang.

j. Tembaga Merupakan komponen dari banyak sistem enzim. Paling banyak terdapat dalam sereal, produk-produk sereal, dan kacang-kacangan. Penting dalam perkembangan sel darah merah, pembekuan darah, dan sintesis fosfolipid.

Defisiensi tembaga dapat menyebabkan defek pada pigmentasi rambut, peningkatan sensitivitas terhadap infeksi respiratorik, dan respon imun yang berkurang.

34

Tembaga bersama dengan besi sama-sama meningkatkan penyembuhan dari anemia pada komunitas yang lebih banyak menggunakan susu sapi dibanding ASI dan lebih banyak makan sereal.

k. Kobalt Merupakan konstituen vitamin B12. Diperoleh dari daging, produk susu, dan makanan laut.

l. Klorida Penting karena mengimbangi natrium dan kalim sel dan ekstrasel. Terutama diperoleh dari garam.

m. Selenium Merupakan bagian enzim yang melindungi intrasel dari kerusakan akibat oksidasi. Diperoleh dari sereal, daging, dan paling baik adalah dari ikan

n. Molibdenum Esensial untuk enzim yang terlibat dalam metabolism DNA. Diperoleh dari susu, kacang panjang, hati, ginjal, dan sereal.

o. Mangan Merupakan komponen enzim dan mengaktifkan enzim lainnya. Hanya terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit dalam makanan. Paling banyak didapat dari teh. Dapat bersifat toksis.

35

p. Krom Meningkatkan aktivitas insulin dan berperan dalam metabolisme lemak. Diperoleh dari daging, sereal, kacang panjang, kacang, dan ragi.

q. Alumunium Ditemukan pada semua tanaman dan hewan, dan nampaknya tidak memiliki fungsi apapun.

r. Sulfur Terlibat dalam banyak proses metabolisme namun tidak ada sumber khususnya.

s. Air Merupakan 65-70% dari total berat tubuh. Asupan konstan air sangatlah penting. Tanpa asupan air, organism akan mati hanya dalam waktu beberapa hari saja. Air yang dibentuk dari metabolism karbohidrat, protein dan lemak disebut sebagai air metabolik. 4

B. Glandula Adrenal
1. Fungsi Glandula adrenal berfungsi menghasilkan hormon-hormon.

36

2. Struktur Makro dan Mikro (gambar 15) Glandula adrenal (suprarenal) adalah organ berpasangan yang menutupi margo superior ginjal, dan sama-sama terletak retroperitoneal dan menempel pada otot-otot punggung melalui jaringan lemak protektif. 5 Setiap glandula memiliki berat sekitar 34 gram dan disuplai oleh tiga arteri: a. Cabang langsung dari aorta b. Cabang dari arteri phrenica c. Cabang dari arteri renalis 5,6

Aliran darah vena dari adrenal kiri masuk ke vena suprarenalis lalu ke vena renalis sinistra sedangkan yang kanan ke vena suprarenalis lalu vena cava inferior. coeliaca dan plexus simpatis yang berhubungan. 5,6
5

Persarafannya melalui neuron preganglionik nervus splancnichus dan serat dari

Glandula adrenal terdiri dari 2 bagian: korteks dan medulla yang berfungsi secara terpisah. Korteks terdiri dari tiga zona: a. Zona glomerulosa Merupakan bagian terluar dari korteks dan terletak tepat di bawah kapsula fibrosa yang melingkupi adrenal.
7,8

Sel-selnya berkelompok mirip glomerulus di ginjal


8

dan terdapat sinusoid di dalam atau diantara kelompokan sel tsb. aldosteron. 5

Zona ini

menghasilkan hormon mineralokortikoid, di mana yang terpenting adalah

b. Zona fasikulata Merupakan lapisan yang paling tebal.


8

Terletak di bawah glomerulosa dan sel7,8

selnya tersusun berderet mengarah ke medulla.

Dalam sitoplasma terdapat

banyak vakuol sehingga sel-selnya disebut sebagai sel spongiosit (sel busa). Di
37

antara deretan sel terdapat sinusoid darah.

Zona ini terutama menghasilkan

hormon glukokortikoid, di mana yang paling penting adalah kortisol . 5

c. Zona retikularis Bagian ini berbatasan dengan medulla namun batasnya tidak jelas. d Merupakan jaringan yang sel-selnya tersusun mebentuk jala.7,8 Sel daerah ini mempunyai pigmen lipofusin yang berwarna kuning coklat. Di antara sel terdapat sinusoid.
8

Zona ini menghasilkan hormon gonadokortikoid di mana yang paling banyak adalah androgen adrenal namun ada juga estrogen dan progesteron adrenal dalam jumlah yang sedikit. 5

Semua hormon yang dihasilkan oleh korteks adrenal disintesis dari kolesterol. 9

Sedangkan medulla terdiri atas sel-sel yang tersusun dalam kelompokan yang tidak beraturan, sel kromafin atau feokrom, yang granulnya menyimpan hormon adrenalin dan noradrenalin yang dihasilkan oleh serat pascaganglion hasil modifikasi sistem saraf pada medulla adrenal sebagai neurotransmitter, dan diklasifikasikan sebagai hormon amin, atau katekolamin. 5,8,10

Gambar 15. Struktur makro dan mikro glandula adrenal

38

3. Hormon yang dihasilkan a. Aldosteron Secara singkat, aktivitas aldosteron terutama di tubulus distal ginjal, di mana akan meningkatkan retensi Na+ dan meningkatkan eliminasi K+ selama proses pembentukan urin, di mana retensi Na+ memicu retensi H2O sehingga volume cairan ekstrasel (CES) bertambah (penting dalam pengaturan tekanan darah jangka panjang).
10

Sekresi aldosteron distimulasi oleh konsentrasi angiotensin II dan

peningkatan kadar kalium pada CES. 9,10

Hipersekresi aldosteron dapat disebabkan oleh sekresi berlebihan tumor adrenal (hiperaldosteronisme primer/sindroma Conn) atau peningkatan berlebihan sistem rennin-angiotensin (hipoeraldosteronisme sekunder). Pada penyakit Addison di mana semua lapisan korteks adrenal mengalami penurunan kemampuan mensintesa hormon, akan terjadi retensi K+ (hiperkalemia) akibat penurunan pengeluaran K+ dalam urin dan deplesi Na+ (hiponatremia) akibat pengeluran berlebihan Na+ dalam urin. Efek lebih jauh, dapat menyebbkan gangguan irama jantung dan penurunan tekanan darah.

b. Kortisol Memiliki efek sbb: Efek metabolik Yaitu meningkatkan konsentrasi glukosa darah dengan mengorbankan simpanan protein dan lemak: Merangsang glukoneogenesis hati. Di antara waktu makan dan sewaktu puasa, glikogen di hati cenderung habis untuk mengganti glukosa dalam darah. Glukoneogenesis berperan menggati simpanan glikogen hati dan mempertahankan kadar gula darah yang normal di antarawaktu makan.

39

Menghambat penyerapan dan penggunaan glukosa oleh banyak jaringan kecuali otak sehingga gukosa mutlak dapat dipergunakan otak untuk bahan bakar metabolik.

Merangsang penguraian protein di banyak jaringan terutama otot sehingga meningkatkan kadar asam amino darah yang siap dipakai untuk glukoneogenesis.

Meningkatkan lipolisis simpanan lemak di jaringan adiposa sehingga terjadi pembebasan asam-asam lemakdalam darah yang dimobilisasi dan dipergunakan sebagai bahan bakar metabolik alternatif bagi jaringan sebagai pengganti glukosa. 10

Efek terhadap keseimbangan kalsium Menurunkan absorbs Ca2+ usus dan meningkatkan ekskresinya oleh ginjal. Kortisol bersifat katabolik terhadap tulang.11

Efek permisif Berfungsi mendukung fungsi hormon lainnya.

Efek dalam menghadapi stress (gambar 16)

40

Stres mengacu pada respon umum nonspesifik tubuh terhadap setiap faktor yang mengalahkan kemampuan kompensatorik tubuh dalam mempertahankan homeostasis. Perubahan dari simpanan protein dan lemak menjadi penambahan simpanan karbohidrat akan membantu melindungi otak dari malnutrisi selama periode stress/ di samping itu,asam amino dapat digunakan untuk memerbiki jaringan yang rusak apabila terjadi stress fisik. Kortisol juga diketahui merubah suasana hati dan perilaku. 9

Gambar 16. Efek kortisol dalam menghadapi stress dan timbal-balik ke pusat pengaturan

Efek anti inflamasi dan imunosupresif Menghambat hampir semua respon peradangan dengan menekan respon tubuh terhadap penyakit sehingga berguna untuk penanganan berbagai gangguan alergi dan pencegahan penolakan transplantasi organ. 9,10

Sekresi kortisol langsung diatur oleh sistem umpan balik hipotalamus-hiposisis anterior-korteks adrenal. Hormon ACTH (Adrenocoticotropic Hormone) yang dihasilkan oleh hipofisis anterior dan diaktifkan oleh CRH (Corticotropin Releasing Hormone) hipotalamus merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan kortisol, di mana ACTH bersifat tropik bagi zonafasikulata dan retikulosa. Peningkatan sekresi ACTH dan CRH dapat terjadi apabila terjadi
41

situasi stress. Kortisol dalam jumlah banyak juga dapat memberikan umpan balik negatif pada ACTH maupun CRH.

Hormon kortisol memiliki iramadiurnal, di mana kadar tertinggi kortisol terdapat pada pagi hari dan terendah pada malam hari.

Sekresi kortisol yang berlebihan (sindroma Cushing) dapat disebabkan leh stimulasi berlebihan kortek adrenal oleh ACTH dan atau CRH, tumor adrenal (sehingga kortisol banyak diskresi), dan tumor penghasil ACTH di luar hipofisis (terutama paru). Gejala penyakit ini: terjadi peningkatan glukosa darah (hiperglikmi sehingga glukosuria, mirip gejala diabetes) dan kekurangan protein. Terjadi penimbunan glukosa sebagai lemak tubuh biasanya di abdomen,wajah, dan diatas bahu sedangkan anggota badan lain tetap kurus. Hilangnya protein diotot menyebabkan otot melemah, lelah. Kuliat abdomen menipis dan mengalami peregangan berlebihan oleh jaringan lemak di bawahnya sehingga jaringan subdermis rusak dan menimbulkan garis-garis ungu kemerahan. Terjadi kelemahan dinding pembuluh darah sehingga mudah lebam dan ekimosis. Luka sukar sembuh karena pembentukan jaringan ikat terhambat. Hilangnya rangka protein kolagen juga dapat menyebabkan tulang belulang lemah dan rawan terjadi fraktur.

Pada penyakit Addison, efek terhadap kortisol adalah penurunan respon terhadap stress, hipoglikemi, tidak adanya efek permisif. Dapat juga dijumpai hiperpigmentasi akibat sekresi ACTH berlebih.

c. Hormon seks adrenal Hormon seks adrenal dihasilkan dalam jumlah yang jauh lebih sedikit daripada dari gonad. feminisasi.
9

Pada keadaan normal, androgen dan estrogen serta progesteron Satu-satunya hormon seks adrenal yang memiliki makna biologis
42

adrenal tidakcukup banyak atau kuat untuk menghasilkan efek maskulinisasi atau
9,10

adalah androgen dehidroepiandrosteron (DHEA). Produk androgen primer testis adalah testosteron tapi androgen adrenal yang paling banyak adalah DHEA yang kekuatannya jauh lebih rendah. Pada pria, efek DHEA ini dikalahkan oleh efek testosteron sedangkan pada wanita karena kurang memiliki androgen, DHEA memiliki efek, yaitu pertumbuhan rambut pubis dan ketiak, peningkatan lonjakan pertumbuhan pubertas, perkembangan dan pemeliharaan dorongan seks wanita. 9

Kelebihan sekresi androgen adrenal, akibat tumor adrenokortikal dapat menyebabkan efek maskulinisasi yang bila pada perempuan dapat menyebabkan virilisasi seperti pertumbuhan rambut pola laki-laki (hirsutisme), kebotakan jika ada gen yang bersangkutan, suara menjadi berat, pertumbuhan clitoris sehingga menyerupai penis, dan deposit protein terutama pada otot seperti pada laki-laki (pseudoherrmafrodit wanita). Pada laki-laki prepubertas, efeknya akan sama seperti spada perempuan disertai dengan perkembangan organ seksual yang sangat cepat (pseudopubertas prekoks). Pada laki-laki dewasa, efeknya tak terlihat karena adanya efek testosteron testis. 9,10

Sindrom adrenogenital paling sering disebabkan oleh karena adanya defek enzim herediter padajalur steroidogenik kortisol sehingga penurunan sekresi kortisol tidak member umpan balik negatif pada sekresi CRH dan ACTH, mengakibatkan meningkatnya kedua hormone tsb dan merangsang korteks adrenal untuk menghasilkan lebih banyak hormon androgen. Gejala ini dapat ditanggulangi dengan pemberian glukokortikoid eksternal. 10

d. Adrenalin dan Noradrenalin Adrenalin merupakan 80% dari katekolamin yang disekresikan oleh medulla adrenal, sedangkan noradrenalin adalah sisanya. Adrenalin diproduksi secara langsung oleh medulla adrenal, sedangkan noradrenalin oleh serat pascaganglion simpatis dan dalam jumlah yang terlalu sedikit untuk dapat menghasilkan efek.

43

Efek hormon epinefrin adalah memperkuat aktivitas simpatis, namun juga memiliki efek khusus seperti efek metabolik karena hormon ini dapat mencapai bagian yang tidak dapat dicapai oleh saraf simpatis. Hormon ini hanya dapat berfungsi atas perintah sistem saraf simpatis. Efek pada sistem organ Meningkatkan kecepatan dan kekuatan kontraksi otot jantung sehingga meningkatkan curah jantung dan vasokonstriksi umum yang meningkatkan resistensi perifer total dan menyebabkan peningkatan tekanan arteri. Sementara itu terjadi vasodilatasi pembuluh darah koroner dan otot rangka yang menyebabkan darah dialirkan dari daerah-daerah yang mengalami vasokonstriksi ke otot rangka dan jantung.

Efek metabolik Merangsang mobilisasi simpanan karbohidrat dan lemak sehingga dapat dipakai sebagai energi untuk otot, yaitu dengan meningkatkan kadar glukosa darah dengan glukoneogenesis dan glikogenolisis di hati (dan otot rangka namun efek ini pada otot rangka hanya berfungsi untuk sumber energi otot). Menghambat sekresi insulin dan merangsang hormone glukagon dan hormon pancreas lainnya yang meningkatkan kadar gula darah. Mendorong lipolisis sehingga meningkatkan kadar asam lemak darah. Mendorong jaringan melalukan aktivitas metabolisme yang lebih tinggi.

Efek lain Mendorong keadaan terjaga dan peningkatan kewaspadaan SSP sehingga dapat berpikir cepat.

44

(Bersama noradrenalin) menyebabkan pengeluaran keringat akibat meningkatnya metabolisme tubuh

Membesarkan pupil dan mendatarkan lensa mata.

Satu-satunya gangguan katekolamin adalah feokromasitoma, yang merupakan tumor medulla adrenal yang jarang dijumpai. Efeknya adalah meningkatkan hormone katekolamin sampai dua puluh kali lipat dan tidak di bawah kendali saraf. Menyebabkan peningkatan tekanan darah, denyut jantung cepat dan berdebardebar, keringat berlebih, peningkatan kadar gula darah. 10

45