Anda di halaman 1dari 18

punya kita

Senin, 13 Februari 2012


LP hidrokel testis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sejarahnya pada 1552 sebelum Masehi di Mesir telah dilaporkan pengobatan untuk hidrokel dengan melakukan suatu tekanan dari luar. Galen pada tahun 176 Masehi melaporkan penurunan duktus testikularis melalui lubang kecil pada lower abdomen, kemudian ia meneliti dari awal tentang sebab terjadinya hidrokel pada testis.Susruta pada abad ke 5 sesudah Masehi pertama kali melaporkan pengobatan bedah terhadap hidrokel. Pada autopsi terhadap orang yang menderita hidrokel sebanyak 500 orang pada abad ke 18 dan 19 didapatkan 56% adanya patensi dari prosesus vaginalis peritonei. Camper dengan kawan-kawan pada permulaan abad ke 19 telah mempelajari struktur anatomis dari kanalis inguinalis, sedangkan Later pada abad ke 19 melakukan berbagai metode pembedahan dalam mengatur kembali lapisan anatomis dari kanalis inguinalis dengan memperhatikan hubungan sekitarnya seperti struktur dari funikulus spermatikus. Bank pada tahun 1884 menyatakan bahwa pengobatan hidrokel yang definitif adalah dengan melakukan ikatan yang baik, kegagalan daiam tindakan tersebut didapatkan akibat kelemahan ikatannya. Selanjutnya dilaporkan pula pengangkatan lengkap kantong hidrokel melalui cincin hidrokel eksterna. Fergusson pada tahun 1899 menekankan ligasi tinggi dari kantong skrotum tanpa merusak struktur anatomis funikulus dan lapisan anatomis dari kanalis inguinalis dengan melakukan insisi aponeurosis otot obliquus externus. Mc Lennan pada tahun 1914 menyatakan pengobatan bedah merupakan tindakan definitif untuk suatu hidrokel. Botts, Riker dan Lewis pada tahun 1950 mendukung untuk dilakukan ligasi tinggi dan pengangkatan kantong hernia sebagai hal yang rutin dikerjakan pada pembedahan hidrokel. Tunika vaginalis di skrotum sekitar testis normalnya tidak teraba, kecuali bila mengandung cairan membentuk hidrokel, yang jelas bersifat diafan (tembus cahaya) pada transiluminasi. Jika tidak dapat ditemukan karena besarnya hidrokel, testis harus dicari di

sebelah dorsal karena testis terletak di ventral epididimis sehingga tunika vaginalis berada di sebelah depan. Bila ada hidrokel, testis dengan epididimis terdorong ke dorsal oleh ruang tunika vaginalis yang membesar. Hidrokel testis mungkin kecil atau mungkin besar sekali. Hidrokel bisa disebabkan oleh rangsangan patologik seperti radang atau tumor testis. Hidrokel dapat dikosongkan dengan pungsi, tetapi sering kambuh kembali. Pada operasi, sebagian besar dinding dikeluarkan. Kadang ditemukan hidrokel terbatas di funikulus spermatikus yang berasal dari sisa tunika vaginalis di dalam funikulus; benjolan tersebut jelas terbatas dan bersifat diafan pada transiluminasi. Pada pungsi didapatkan cairan jernih. Jarang sekali ditemukan benjolan diafan di funikulus yang dapat dihilangkan dengan tekanan, sedangkan memberikan kesan terbatas jelas di sebelah kranial. Bila demikian, terdapat tunika vaginalis yang berhubungan melalui saluran sempit dengan rongga perut dan berisi cairan rongga perut. Hernia inguinalis lateralis atau indirek yang mengandung sedikit cairan rongga perut ini kadang diberikan nama salah hidrokel komunikans. Karena hubungan dengan rongga perut terlalu sempit sekali. Kelainan ini memberi kesan hidrokel funikulus; kantong hernia ini tidak dapat dimasuki usus atau omentum. Hidrokel sering ditemukan pada bayi baru lahir. Hidrokel terjadi akibat adanya kegagalan penutupan saluran tempat turunnya testis dari rongga perut ke dalam skrotum. Cairan peritoneum mengalir melalui saluran yang terbuka tersebut dan terperangkap di dalam skrotum sehingga skrotum membengkak. Secara normal, hidrokel akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa bulan setelah bayi lahir. B. Tujuan Secara umum diharapkan kepada pembaca terutam mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami tentang gangguan asuhan keperawatan pada anak dengan hidrokel. Secara khusus diharapkan setelah mempelajari makalah ini, mahasiwa/i dapat: 1. Menjelaskan dan menyebutkan pengertian hidrokel. 2. Menyebutkan Anatomi dan Fisiologi Testis 3. Menyebutkan etiologi dari hidrokel 4. Menjelaskan patofisiologi dari hidrokel. 5. Menyebutkan tanda dan gejala hydrocele testis 6. Menyebutkan pemeriksaan penunjang 7. Mengetahui penatalaksanaan medis. 8. Mengetahui komplikasi dari hidrokel. 9. Mengetahui dan dapat Mengaplikasikan asuhan keperawatan pada klien dengan

hidrokel.

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Pengertian Hidrokel berasal dari dua kata yaitu hidro (air) dan cell (ronggga atau celah). Dapat diartikan secara harfiah bahwa hidrokel adalah adanya penumpukan air pada rongga khususnya pada tunika vaginalis. (Behram. 2000) Hidrokel adalah penimbunan cairan dalam selaput yang membungkus testis, yang menyebabkan pembengkakan lunak pada salah satu testis. Penyebabnya karena gangguan dalam pembentukan alat genitalia eksternal, yaitu kegagalan penutupan saluran tempat turunnya testis dari rongga perut ke dalam skrotum. Cairan peritonium mengalir melalui saluran yang terbuka teersebut dan terperangkap didalam skrotum sehingga skrotum membengkak. (Pramono, Budi .2008) B. Anatomi dan Fisiologi

a. Testis Terletak di dalam skrotum.Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang utama).

b. Saluran 1. Epididimis Fungsinya mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses pematangan sperma. 2. Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis. 3. Uretra punya 2 fungsi: Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih. Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen. 4. Vesicula Seminalis adalah sepasang kantong yang memproduksi 60% cairan air mani dimana air sperma diangkut, cairan ini digunakan untuk menyediakan nutrisi bagi sperma. c. Kelenjar 1. Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma. 2. Kelenjar Cowper menghasilkan cairan berwarna bening menuju saluran kencing saat rangsangan seksual sebelum ejakulasi dan orgasme. d.Organ Genitalia Eksterna Organ Genitalia eksterna terdiri atas : 1. Penis terdiri dari: a) Akar (menempel pada didinding perut) b) Badan (merupakan bagian tengah dari penis) c) Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut). d) Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di ujung glans penis. 2. Dua rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan. 3. Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.Jika terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi). 4. Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh. C. Etiologi Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan peritonium ke prosesus vaginalis atau belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi

cairan hidrokel. Pada bayi laki laki hidrokel dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia kehamilan 28 minggu, testis turun dari rongga perut bayi kedalam sskrotum, dimana setiap testis ada kantong yang mengikutinya sehingga terisi cairan yang mengelilingi testis tersebut. Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan dikantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor, infeksi, atau trauma pada testis atau epididimis. Kemudian hal ini dapat menyebabkan produksi cairan yang berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus. Hidrokel komunikan. Pada hidrokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritonium sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. D. Tanda dan Gejala Gambaran klinis hidrokel kongenital tergantung pada jumlah cairan yang tertimbun. Bila timbunan cairan hanya sedikit, maka testis terlihat seakan akan sedikit membesar dan teraba lunak. Bila timbunan cairan banyak terlihat skrotum membesar dan agak tegang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan dikantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis, secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel, yaitu hidrokel testis. Pada hidrokel testis, kantong hidrokel seolah olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang hari. Pada hidrokel funikulus, kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah kranial testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada diluar kantong hidrokel.

E. Patofisiologi

Cairan dari rongga peritonium

Kantong hidrokel di testis

F. Pemeriksaan Penunjang a.Ultrasonografi

Ultrasonografi dapat mengirimkan gelombang suara melewati skrotum dan membantu meihat adanya hernia, kumpulan cairan (hidrokel atau spermatokel), vena abnormal (varikokel), dan kemungkinan adanya tumor. b. Transilumisasi Scrotum Bila dilakukan transiluminasi pada hidrokel terlihat translusen, terlihat benjolan terang dengan masa gelap oval dari bayangan testis c. Pemeriksaan Urin Kadang-kadng terdapat nanah dalam urin dan kemungkinan juga terdapat bakteri. Juga perlu diperiksa cairan prostat untuk mengetahui adanya penjalaran ke prostat. d. Rontgen abdomen Sebuah sinar X-dasar menggunakan radiasi elektromagnetik untuk membuat gambar tulang, gigi dan organ internal. X-ray dapat membedakan hidrokel dari hernia inguinalis. G. Penatalaksanaan Medis Hidrokel biasanya tidak berbahaya dan pengobatan biasanya baru dilakukan jika penderita sudah merasa terganggu atau merasa tidak nyaman, atau jika hidrokelnya sedemikian besar sehingga mengancam aliran darah ke testis. Pengobatan bisa berupa aspirasi ( pengisapan cairan ) dengan bantuan sebuah jarum atau pembedahan. Tetapi jika dilakukan aspirasi, kemungkinan besar hidrokel akan berulang dan bisa terjadi infeksi. Setelah dilakukan aspirasi, bisa disuntikkan zat sklerotik tetrasiklin, natrium tetra desil sulfat atau urea, untuk menyumbat/ menutup lubang dikantong skrotum sehingga cairan tidak akan tertimbun kembali. Hidrokel yang berhubungan dengan hernia inguinalis harus diatasi dengan pembedahan sesegera mungkin. Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri, tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu difikirkan untuk dilakukan koreksi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah : 1) Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah. 2) Indikasi kosmetik. 3) Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari. Tindakan pembedahan berupa hidrokelektomi. Pengangkatan hidrokel bisa dilakukan anestesi umum ataupun regional ( spinal ). Teknik Operasi

Secara singkat tehnik dari hidrokelektomi dapat dijelaskan sebagai berikut : dengan pembiusan regional atau umum. Posisi pasien terlentang ( supinasi ). Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik. Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril. Insisi kulit pada bagian skrotum yang paling menonjol lapis demi lapis sampai tampak tunika vaginalis. Dilakukan prepasi tumppul untuk mmeluksir hidrokel, bila hidrokelnya besar sekali dilakukan aspirasi isi kantong terlebih dahulu. Insisi bagian yang paling menonjol dari hidrokel, kemudian dilakukan teknik jaboulay: tunika vaginalis parietalis dimarsupialisasi dan bila diperlukan diplikasi dengan benang chromic cat gut. Teknik lord: tunika vaginalis parietalis dieksisi dan tepinya diplikasi dengan benang chromic cat gut. Luka operasi ditutup lapis demi lapis dengan benang chromic cat gut Komplikasi operasi. Komplikasi pasca bedah ialah pendarahan dan infeksi luka operasi Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri; tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu difikirkan untuk dilakukan koreksi. Tindakn untuk cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. 1. Aspirasi Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena selain angka kekambuhannya tinggi, kadang kala dapat menimbulkan penyakit berupa infeksi. Beberapa indikasi untuk melakukan pada hidrokel adalah : a. Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah b. Indikasi kosmetik c. Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan menganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari hari. 2. Hidrokelektomi Pada hidrokel kongenintal dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat opersai hidrokel, sekaligus melakukan herniografi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan pendekatan scrotal dengan melakukan aneksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel sesuai cara Winkelman atau plokasi kantong hidrokel sesuai cara Lord. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi. Pada hidrokel tidak ada terapi khusus yang diperlukan karena cairan lambat laun akan diserap, biasanya menghilang sebelum umur 2 tahun. Tindakan pembedahan berupa hidrokelektomi. Pengangkatan hidrokel bias dilakukan anastesi umum ataupun regional (spinal). Tindakan lain adalah dengan aspirasi jarum (disedot pakai jarum). Cara ini tidak begitu digunakan

karena cairan hidrokelnya akan terisis kembali. Namun jika setelah di aspirasi kemudian dimasukkan bahan pengerut (sclerosing drug) mungkin bias menolong. H. Komplikasi dan Prognosa 1. Kompresi pada peredaran darah testis 2. Jika dibiarkan, hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna biasa menekan pembuluh darah yang menuju testis sehingga menimbulkan atrofi testis. 3. Perdarahan yang disebabkan karena trauma dan aspirasi 4. Sekunder Infeksi I.Asuhan Keperawatan A. Pengkajian 1. Identitas klien yang mencakup nama, jenis kelamin, umur, alamat, pekerjaaan. 2. Anamnese Anamnese berkaitan tentang lamanya pembengkakan skrotum dan apakah ukuran pembengkakan itu bervariasi baik pada waktu istirahat maupun pada keadaan emosional (menangis,ketakutan). 3. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, hidrokel dirasakan sesuatu yang oval atau bulat, lembut dan tidak nyeri tekan. Hidrokel dapat dibedakan dengan hernia melalui beberapa cara : a. Pada saat pemeriksaan fisik dengan Transiluminasi/diaponaskopi hidrokel berwarna merah terang, dan hernia berwarna gelap. b. Hidrokel pada saat di inspeksi terdapat benjolan yang hanya ada di scrotum, dan hernia di lipatan paha. c. Auskultasi pada hidrokel tidak terdapat suara bising usus, tetapi pada hernia terdapat suara bising usus. d. Pada saat di palpasi hidrokel terasa seperti kistik, tetapi pada hernia terasa kenyal. e. Hidrokel tidak dapat didorong, hernia biasanya dapat didorong. f. Bila dilakukan transiluminasi pada hidrokel terlihat transulen, pada hernia tidak.

4. Kaji sistem perkemihan 5. Kaji setelah pembedahan : infeksi, perdarahan, disuria, dan drainase 6. Lakukan transluminasi test : ambil senter, pegang skrotum, sorot dari bawah ; bila sinar merata pada bagian skrotum maka berarti isinya cairan ( bila warnanya redup ) B. Diagnosa keperawatan 1. Pre operasi a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d pembengkakan skrotum b. Resiko kerusakan integritas kulit : skorotum b.d adanya gesekan dan peregangan jaringan kulit skrotum. c. Perubaan body image : citra tubuh b.d perubahan bentuk skrotum. d. Ansietas pada orangtua b.d kondisi anaknya dan kurang pengetahuan merawat anak. 2. Intra Operasi a. Resiko tinggi terjadi hipotermia akibat suhu di ruangan b. Resiko cedera b/d posisi yang kurang tepat 2. Post operasi a. Resiko infeksi b.d insisi post op. b. Deficit pengetahuan orangtua b.d kondisi anak : prosedur pembedahan, perawatan post op, program penatalaksanaan. c. Nyeri berhubungan dengan gangguan pada kulit jaringan, trauma pembedahan. C. Perencanaan dan intervensi Pre Operasi No Dx Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d pembengkakan skrotum

Diharapkan setelah 1.Kaji skala, karakteristik 1. Mengidentifikasi dilakukan intervensi, dan lokasi nyeri yang nyeri akibat rasa tidak nyaman dialami klien gangguan lain. berkurang bahkan hilang 2. Catat petunjuk 2. Mendeskripsikan dengan Kriteria hasil : nonverbal seperti 1) Pembengkakan gelisah, menolak untuk tingkat nyeri. skrotum berkurang bergerak, berhati-hati 2) Klien merasa nyaman, saat beraktifitas dan nyeri klien berkurang meringis bahkan hilang 3. Ajarkan pasien untuk 3) Skala nyeri 0-3 memulai posisi yang nyaman atau tekhnik 3. Mengurangi sensasi nyeri relaksasi misalnya duduk dengan kaki agak dibuka dan nafas dalam 4. Berikan tindakan nyaman massage punggung, mengubah 4. Mengurangi sensasi nyeri. posisi dan aktifitas senggang 5.Observasi dan catat pembesaran skrotum ( bila perlu ukur tiap 5. Menjadi acuan dalam hari ), cek adanya perrkembangan keluhan nyeri. 6. Kolaborasi pemberian terapi yang sudah diberikan. analgetik sesuai 6. Mengurangi sensasi indikasi. nyeri. Diharapkan setelah a) Kaji adanya tanda dilakukan intervensi, kerusakan kulit kerusakan integritas kulit seperti lecet dan tidak terjadi, dengan kemerahan sekitar Kriteria hasil : area pembesaran 1) Tidak ada lecet dan ( lipatan paha ). kemerahan di sekitar b) Berikan salep atau area pembesaran. pelumas. c) Kurangi aktifitas klien selama sakit a. Mengetahui lebih dini gejala kerusakan kulit untuk dilakukan intervensi selanjutnya. b. Mencegah kerusakan kulit. c. Mencegah kerusakan yang lebih parah. d) Berikan posisi yang d. Memberikan nyaman : abduksi sirkulasi bagi aliran darah. e) Anjurkan klien e. Mencegah iritasi menggunakan yang lebih parah. pakaian yang longgar terutama celana.

Resiko kerusakan integritas kulit : skorotum b.d adanya gesekan dan peregangan jaringan kulit skrotum.

Perubaan body image : citra tubuh b.d perubahan bentuk skrotum.

Diharapkan setelah a)Kaji tingkat a) Mengidentifikasi dilakuakan intervensi, pengetahuan pasien luas masalah dan klien tidak merasa tentang kondisi dan perlunya bahwa penyakitnya pengobatan, dan intervensi. adalah suatu ansietas sehubungan penderitaan, dan pada dengan situasi saat ini. bayi, orangtua harus b) Perhatikan perilaku b) Indicator memahami bahwa menarik diri pada terjadinya penyakit ini dapat keluarga, tidak efektif kesulitan disembuhkan, dengan menggunakan menangani stress Kriteria hasil : pengingkaran atau terhadap apa yang 1) Keluarga sabar perilaku yang menghadapi kondisi mengindikasikan terlalu terjadi. anaknya. mempermasalahkan tubuh dan fungsinya. c)Tentukan tahap berduka. Perhatikan tanda depresi berat c) Identifikasi tahap /lama. yang pasien sedang alami memberikan pedoman untuk mengenal dan menerima perilaku dengan tepat. Depresi lama menunjukan intervensi lanjut. d) Akui kenormalan perasaan d) Pengenalan perasaan tersebut diharapkan membantu orangtua pasien untuk menerima perilaku dan mengatasinya secara efektif. e) Menyampaikan harapan untuk mengatur situasi dan membantu perasaan harga diri dan orang lain.

e) Anjurkan orang terdekat untuk memperlakukan pasien secara normal dan bukan sebagai orang cacat

f)Yakinkan keluarga bahwa penyakit ini dapat disembuhkan dan

f) Memperkuat

tetap sabar menghadapi kondisi anaknya.

keyakinan keluarga dan memberikan semangat yang mempertahankan harga diri keluarga dan menghindari kecemasan yang berlebihan.

d. Ansietas pada orangtua b.d Diharapkan setelah a) Beritahu dan a. Menghilangkan kondisi anaknya dan kurang dilakukan intervensi, jelaskan tentang kecemasan pengetahuan merawat anak. orangtua memahami dan prognosa dan orangtua klien mengerrti tentang diagnosis penyakit \ karena prognosa dan diagnose yang dialami oleh ketidaktahuan penyakit yang dialami anaknya. tentang prosedur. oleh anaknya, dengan b) Jelaskan tindakan b. Menghilangkan Kriteria hasil : yang akan dilakukan kecemasan 1) cemas yang dialami terhadap anaknya orangtua klien orangtua klien sebelum tindakan karena berkurang bahkan dilakukan. ketidaktahuan hilang. tentang prosedur. c) Libatkan orangtua c. Mengindari dalam perawatan persepsi yang terhadap anaknya. salah dan membantu menghilangkan kecemasan pada anak. d) Berikan informasi d. Menghilangkan bahwa penyakit ini kecemasan dapat hilang dengan orangtua klien sendirinya. karena ketidaktahuan tentang prosedur. 2.Intra Operasi

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Dx Hasil 1 Resiko tinggi terjadi hipotermia Diharapkan setelah dilakuakan intervensi, akibat suhu di ruangan klien tidak mengalami hipotermia dengan kriteria hasil: 1.tidak menggigil

Intervensi 1.Berikan alat pemanas pada saat pembedahan

Rasional 1.agar tidak terjadi hypotermi.

Resiko tinggi cedera b/d posisi Diharapkan setelah 1.atur posisi klien 1.menghindari dilakuakan intervensi, terjadinya yang kurang tepat kien tidak mengalami dekubitus 2.pertahankan posisi dekubitus dengan 2.memberikan klien. kriteria hasil: keselamatan 1.tidak terjadi cedera kepada klien. dalam keadaan pembiusan Kurangnya pengetahuan b/d Diharapkan setelah 1. Diskusikan tentang 1. Mempertahankan dilakuakan intervensi keseimbangan nutrisi. daya tahan tubuh salah interprestasi ditandai klien. Pengetahuan klien dengan sering bertanya tentang bertambah dengan penyakitnya Kriteri Hasil: 1.Klien berpartisipasi dalam program keperawatan.

3. Post Operasi No Dx 1 Diagnosa Keperawatan Resiko infeksi b.d insisi post op. Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

Diharapkan resiko a) Cuci tangan sebelum dan a. mengurangi terjadinya infeksi tidak sesudah melakukan aktivitas kontaminasi terjadi dengan kriteria walupun menggunakan silang. hasil : sarung tangan steril. 1) Berkurangnya b) Batasi penggunaan alat tanda-tanda atau prosedur invasive jika b. mengurangi peradangan seperti memungkinkan. jumlah lokasi kemeraha-merahan, yang dapat gatal, panas, menjadi tempat perubahan fungsi, masuk organisme c) Gunakan teknik steril pada c. mencegah waktu penggatian masuknya bakteri, balutan / penghisapan /berikan mengurangi risiko lokasi perawatan, misalnya infeksi jalur invasive. nosokomial d) Gunakan sarung tangan/pakaian pada waktu d. Mencegah merawat luka yang penyebaran terbuka/antisipasi dari kontak infeksi / langsung dengan sekresi kontaminasi ataupun ekskresi silang

Deficit pengetahuan orangtua b.d kondisi anak : prosedur pembedahan, perawatan post op, program pentalaksanaan.

Diharapkan setelah a) Kaji ulang pembatasan diberikan intervensi, aktivitas pascaoperasi. klien memahami dan mengerti tentang prosedur pembedahan, perawatan setelah b) Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode operasi dan pengobatanya dengan istirahat periodic kriteria hasil : 1) klien menyatakan pemahamannya proses penyakit, c) Diskusikan perawatan insisi, c. termasuk mengganti balutan, pengobatan dan pembatasan mandi, dan potensial kembali ke dokter untuk komplikasi. mengangkat jahitan / pengikat.

a. Mencegah komplikasi lanjut dari pergerakan dan aktivitas yang berlebihan. b. mencegah kelemahan, meningkatkan penyembuhan, dan lekas kembali pulih normal. pemahaman meningkatkan kerjasama dengana program terapi, meningkatkan penyembuhan dan program perbaikan.

d. upaya intervensi menurunkan risiko d) Identifikasi gejala yang komplikasi serius memerlukan evaluasi medic, contoh lambatnya contoh peningkatan nyeri; penyembuhan. edema/eritema luka, adanya drainase, demam. 3 Nyeri berhubungan dengan gangguan pada kulit jaringan, trauma pembedahan. Diharapkan setelah a) Kaji nyeri, catat lokasi, a. Berguna dalam diberikan terapi, nyeri karakteristik, beratnya (0-10). pengawasan klien berkurang Selidiki dan laporkan keefektifan obat, bahkan hilang dengan perubahan nyeri dengan kemajuan kriteria hasil skala cepat. penyembuhan. nyeri 0-3 dan kllien b) Pertahankan istirahat dengan b. Gravitasi tidak menangis serta posisi semifowler. melokalisasi gelisah. c) Dorong ambulasi dini. eksudat inflamasi. d) Berikan aktivitas hiburan. c. Meningkatkan e) Berikan analgetik sesuai normalisasi indikasi. fungsi organ d. Focus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi, dan dapat meningkatkan kemampuan koping. e. Menghilangkan nyeri mempermuda kerja sama dengan

intervensi terapi lain contoh batuk dan ambulasi.

Laporan Kasus
1. Pre operatif care Pada pukul 10.15 wib klien Tn. K dibawa dari ruangan perawatan dengan menggunakan brankar, identitas klien sebagai berikut : a. Identitas Nama pasien Jenis kelamin Usia Status perkawinan Agama Suku Pekerjaan Alamat Diagnosa medik Tanggal pengkajian Tanggal Operasi Tempat Praktek 2. Keluhan utama Pasien mengeluhkan adanya benjolan pada skrotum dan terasa nyeri 3. Riwayat penyakit Pasien mengeluhkan adanya benjolan pada kantong skrotum. Benjolan tersebut muncul semenjak 1 tahun yang lalu. Benjolan terasa nyeri. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit apapun sebelumnya. : Tn. K : Laki laki : 50 tahun : Kawin : Budha : Tiong Hoa : Petani : Air Raja : Hydrocele Testis Sinistra : 11 Januari 2012 : 11 Januari 2012 : Ruangan OK RS BLUD

4. Pemeriksaan fisik Keadaan umum Tingkat kesadaran GCS : Baik : CM :E4

Anda mungkin juga menyukai