Anda di halaman 1dari 34

I.

LATAR BELAKANG pulau-pulau kecil di Indonesia terkenal dengan kekayaan dan

Kawasan

keanekaragaman jenis sumberdaya alamnya baik yang terpulihkan renewable maupun yang tidak terpulihkan un-renewable. Sumberdaya alam pulau-pulau kecil bila dipadukan dengan sumber daya manusia yang handal serta didukung dengan iptek yang ditunjang dengan kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan yang tepat bisa menjadi modal besar bagi pembangunan nasional (Anggoro, 2000). Peluang yang dimiliki adalah kekayaan sumberdaya alam dan sumber daya manusianya yang potensial untuk ditumbuh kembangkan pendayagunaannya. Sumberdaya alam pulau-pulau kecil mempunyai arti penting bagi kegiatan perikanan, konservasi dan preservasi lingkungan, wisata bahari dan kegiatan jasa lingkungan lainnya. Seiring dengan banyaknya peluang usaha di berbagai wilayah pesisir Indonesia telah muncul permasalahan-permasalahan pembangunan terutama berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam yang over eksploitasi dan tidak bertanggungjawab. Permasalahan-permasalahan yang muncul secara umum disebabkan oleh dua hal yaitu akibat perubahan alam dan adanya aktivitas manusia. Akan tetapi permasalahan yang terbesar pada kenyataannya disebabkan oleh adanya aktivitas yang dilakukan manusia seperti kerusakan ekosistem yang banyak terjadi di wilayah-wilayah pesisir. Akibat adanya ekploitasi yang berlebihan dan aktivitas manusia lainnya, menyebabkan penurunan kuantitas maupun kualitas sumberdaya alam termasuk berbagai jenis flora dan fauna. Selain itu ditemukan konflik antar stakeholder yang masih sering terjadi akibat tumpang tindih kepentingan dalam pemanfaatan ruang pesisir. Hal ini disebabkan adanya banyak perbedaan persepsi diantara para pelaku pembangunan stakeholders dalam hal pengelolaan kawasan yang berhubungan dengan pengambilan kebijakan menyeluruh terhadap penataan ruang dan pengelolaan kawasan yang berimbang. Konflik masalah penentuan batas antar wilayah secara spasial maupun pengelolaan kawasan serta pemanfaatan sumberdaya alam yang makin marak juga merupakan permasalahan tersendiri. Kondisi geografis, demografis, sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar pulau-pulau kecil secara menyeluruh memerlukan strategi pengelolaan kawasan yang lebih dititik beratkan pada pembangunan
1

wilayah yang tepat dan synergies dalam bentuk pola pengelolaan wilayah baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang sehingga pembangunan menyeluruh dapat tercapai. Usaha peningkatan aktivitas kawasan dan kegiatan ekonomi yang kurang memperhatikan aspek kelestarian ekosistem dapat menimbulkan dampak yang sangat membahayakan bagi kawasan tersebut. Hal ini bisa juga terjadi di kawasan pesisir Kepulauan Raja Ampat, mengingat kawasan ini adalah wilayah konservasi cagar alam dan menjadi kawasan ekowisata yang harus tetap dijaga kelestariannya. Kabupaten Raja Ampat merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong yang dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002. Wilayah kabupaten ini secara geografis berada pada koordinat 2o25LU-4o25LS dan 130o132o55BT dengan luas lebih dari empat juta hektar yang meliputi areal darat dan laut. Kabupaten yang wilayahnya merupakan kepulauan ini terkenal sebagai Kepulauan Raja Ampat, memiliki lebih dari 600 pulau dengan empat pulau besar yaitu: Batanta, Salawati, Waigeo, dan Misool. Kepulauan Raja Ampat terletak di dekat jantung segitiga karang (coral triangle), sebuah kawasan yang mencakup bagian Utara Australia, Phlippina, Indonesia dan Papua Nugini yang memiliki keragaman karang tertinggi di dunia. Kekayaan keragaman hayati laut di Kepulauan Raja Ampat diindikasikan dari ditemukanya lebih dari 1.074 spesies ikan karang, 699 jenis moluska (hewan lunak) dan 537 jenis hewan karang (TNC dan WWF: 2002). Tidak hanya jenis-jenis ikan, Kepulauan Raja Ampat juga kaya akan keanekaragaman terumbu karang, hamparan padang lamun, hutan mangrove, dan pantai tebing berbatu yang indah. Hamparan karang dikepulauan Raja Ampat menyokong fauna karang terkaya di dunia, tercatat 565 spesies karang seleractinian (Veron, 2002). Selain memiliki keragaman hayati karang tertinggi di dunia, bagian permukaan laut kawasan ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah, di antaranya tonjolan-tonjolan puncak batu kapur yang unik membentuk pulau-pulau kecil yang kelihatan sangat indah, terutama apabila dilihat dari udara. Di kawasan ini juga banyak dijumpai celukan pantai yang dikelilingi oleh pasir dan pohon palem serta tepian
ekosistem yang sangat unik. Hamparan terumbu karang di wilayah perairan Kepulauan RajaAmpat secara umum relatif baik dan sehat kondisinya. Di beberapa lokasi masih dijumpai tutupan karang yang

mencapai 70 persen, namun secara umum di semua lokasi penutupan karang tergolong moderate, sebesar 33 persen (TNC dan WWF, 2002). Studi yang dilakukan oleh LIPI (2001) di Kepulauan Ayau dan Waigeo Barat (kepulauan Batang Pele) menemukan presentase tutupan karang di beberapa lokasi sekitar 40-50 persen. Akan tetapi masih dijumpai juga di beberapa lokasi yang penutupan karangnya mencapai 70 persen. Kondisi karang yang masih relatif baik juga ditunjukkan oleh studi yang dilakukan COREMAP-AMSAT, 2005 di beberapa lokasi di distrik Waigeo Selatan. Di beberapa wilayah perairan, seperti disekitar Arborek, Yenbuba dan Yenbekwan penutupan karang masih cukup baik sekitar 70 persen. Hasil survei LIPI yang dilakukan tahun 2006 di beberapa titik disekitar perairan Waigeo Selatan menunjukkan rata-rata tutupan karang sebesar 20.9 persen. Namun kondisi masing-masing stasiun pengamatan cukup bervariasi. Di beberapa lokasi dijumpai tutupan karang yang masih mencapai 30 sampai 35 persen. Namun di beberapa tempat lainnya tutupan karang hanya mencapai 7.8 persen. Meskipun secara umum kondisi terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat masih relatif baik, tetapi di beberapa wilayah telah mengalami degradasi dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Kerusakan karang di perairan Kabupaten Raja Ampat umumnya disebabkan karena penggunaan bom dalam menangkap ikan. Kerusakan yang cukup parah akibat penggunaan bom terjadi pada terumbu karang hampir pada semua lokasi survei kecuali di perairan Pulau Gemin dan Yensawai. Penggunaan bom untuk menangkap ikan, hingga saat ini masih terus berlangsung. Nelayannelayan yang menggunakan bom umumnya berasal dari luar Kabupaten Raja Ampat dan biasanya pengguna bom berasal dari Sorong. Kerusakan terumbu karang akibat penggunaan racun jugaterjadi. Di beberapa lokasi dijumpai karang yang mengalami bleaching (pemutihan) akibat penggunaan Potasium Sianida (TNCdan WWF, 2002; Atlas Potensi Sumber Daya Laut Kabupaten RajaAmpat Tahun 2006). Kegiatan ekowisata di Kabupaten Raja Ampat kian berkembang dari waktu kewaktu. Hal ini dapat dilihat dari semakin bertambahnya jumlah pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam Gugusan Kepulauan Raja Ampat baik wisatawan dalam negeri (domistik) maupun wisatawan manca negara. Pada tahun 2004 jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 217 orang, dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 746 orang (Anonim. 2006). Laporan Respect Edisi I Januari Maret 2009 menyebutkan bahwa pada tahun 2007 jumlah wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat mencapai 1.033 orang (983 wisatawan manca negara dan 50 orang wisatawan domestik) dan meningkat pada tahun 2008 (sampai bulan Juni) mencapai 1.124 orang (995 wisatawan manca negara dan 129 wisatawan domestik). Meningkatnya kunjungan wisata tersebut membawa dampak positif bagi peningkatan perolehan pendapatan asli daerah (PAD). Dilaporkan bahwa pada tahun 2004-2005 sektor pariwisata hanya mampu 3

menyumbangkan PAD sebesar Rp 45.600.000,- dan pada periode tahun 2007-2008 (sampai bulan Juli 2008) meningkat menjadi Rp 1.033.750.000,- . Sedangkan Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung pada tahun 2004 berjumlah 217 orang dan pada tahun berikutnya meningkat menjadi 746 orang. (Sumber :Buletin Konservasi Kepala Burung Balai Besar KSDA Papua Barat)

Lebih spesifik pertumbuhan dan jumlah kunjungan wisatawan di Meos Mansar (khususnya wisatawan mancanegara) sejak tahun 2004 sampai dengan 2008 memperlihatkan peningkatan yang cukup tajam (tabel 1), dengan rata-rata peningkatan sebesar 98,29% kunjungan pertahun untuk wisatawan mancanegara dan 73,31% kunjungan untuk wisatawan nusantara. Sekalipun jumlahnya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan di daerah lain, namun idealnya jumlah yang demikian dapat memberikan kontribusi yang nyata terutama terhadap pendapatan masyarakat lokal di daerah tersebut. Tabel 1. Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Raja Ampat (Meos Mansar) Tahun Wisatawan Jumlah Lokal Mancanegara 2004 189 189 2005 44 600 644 2006 46 652 746 2007 64 1,245 1,309 2008 261 2,447 2,708 2009 183 1,178 1,361* Jumlah 598 6,359 6,957 Keterangan : * Data sampai bulan Juli 2009 Sumber Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat 2009 A. Rumusan Masalah Raja Ampat merupakan kawasan ekowisata yang sedang berkembang yang tentunya tidak lepas dari permasalahan pengelolaan dan pengembangannya. Data menunjukkan kecenderungan kenaikan wisatawan dari tahun ke tahun semakin meningkat dan signifikan yang membawa peningkatan ekonomi daerah. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dapat menyebabkan terjadinya tekanan ekologis terhadap sumberdaya pesisir dan laut. Itu sebabnya persepsi dan partisipasi masyarakat merupakan
4

hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pengelolaan kawasan ekowisata ini selain peranan pemerintah. Untuk itu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut di atas sangat diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut daerah. B. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengkaji persepsi masyarakat setempat mengenai Kawasan Ekowisata Raja Ampat dan manfaatnya. 2. Mengkaji partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola Kawasan Lingkungan Pesisir dan Laut. 3. Mengkaji peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan sosial dan ekonominya 4. Mengkaji hubungan (korelasi) antara persepsi dan partisipasi masyarakat dengan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola Kawasan Konservasi Pesisir dan Laut di Raja Ampat. C. Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat berguna sebagai pertimbangan dan masukan kepada stakeholder, baik masyarakat maupun pemerintah dalam membuat program-program kegiatan yang mendukung terhadap keberadaan Ekowisata di Kawasan Konservasi Cagar Alam sesuai dengan karakterisitik dan kearifan masyarakat setempat. D. Lokasi Penelitian

Kabupaten Raja Ampat yang merupakan

pemekaran dari Kabupaten Sorong dan

termasuk salah satu dari 14 kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yang terbentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Kerom, Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. Kabupaten Raja Ampat terdiri dari empat pulau besar yaitu Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Salawati dan Pulau Misool. Pusat pemerintahan berada di Waisai, Distrik Waigeo Selatan, sekitar 36 mil dari Kota Sorong dan ibu kota kabupaten ini sebagai pusat pemerintahan baru berlangsung efektif pada tanggal 16 September 2005 (Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, 2006).

E. Metodologi Metode Penelitian persepsi masyarakat terhadap pengelolaan Kawasan Konservasi Cagar Alam Kepulauan adalah metode survei. Metode ini dilakukan untuk memperoleh data tentang fakta dan gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual yang terjadi di lokasi penelitian. Metode penelitian memfokuskan kepada masyarakat yang berhubungan erat dengan konservasi laut yaitu nelayan juga masyarakat lain seperti tokoh masyarakat yang berdomisili di lokasi penelitian, melalui wawancara langsung dengan daftar pertanyaan.Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi, metode ini bersifat deskriptif korelasi, yakni berusaha membuat gambaran atau lukisan secara sistematis dan faktual, mengenai fakta-fakta serta sifat-sifat hubungan antar fenomena yang diteliti. Dasar pemikiran dilakukan penelitian yang memfokuskan pengkajian aspek sosial terutama persepsi masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi laut dan pesisir dalam kaitannya wilayah Raja Ampat sebagai kawasan ekowisata. F. Jenis dan Sumber Data Studi ini baru dalam langkah observasi awal, yang akan dikembangkan pada penelitian yang lebih lengkap dan holistik. Namun data yang dikumpulkan adalah data primer yakni data yang diperoleh dari informasi langsung di lapangan, baik melalui kuisioner ataupun hasil wawancara langsung dengan responden. Data sekunder berasal dari monografi desa lokasi penelitian berupa keadaan wilayah, kependudukan dan instansi/lembaga yang terkait dengan penelitian ini. G. Populasi dan Sampel
6

Populasi dalam penelitian ini adalah warga setempat atau masyarakat nelayan yang bertempat tinggal di lokasi penelitian yaitu diwilayah Konservasi Pesisir dan Laut Kawasan Ekowisata Kepulauan Raja Ampat. Dalam hal ini responden yang diambil berdasarkan jumlah populasi orang penduduk yang meliputi wilayah penelitian, penelitian setara 15 % dari jumlah penduduk berprofesi sebagai nelayan. Sampel diambil dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap masyarakat untuk dipilih sebagai responden. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut : 1. Teknik observasi (pengamatan) : teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai potensi sumberdaya pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan setempat. 2. Teknik interview (wawancara) : untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur (semi structured interview) yakni wawancara yang pelaksanaannya lebih bebas dan menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang dilakukan secara porpusive dengan nara sumber atau responden yang dianggap paling banyak mengetahui permasalahan yang dihadapi masyarakat pesisir dalam pengelolaan kawasan konservasi laut yaitu nelayan, kepala kampung, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan, Kantor Lingkungan Hidup serta instansi terkait lainnya. 3. Kuesioner : untuk mendapatkan data primer digunakan kuesioner sebagai alat untuk mengukur. Respondennya adalah nelayan, kepala kampung, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat.

II.

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat berada pada koordinat 2025LU- 4025LS dan 130032055BT. Secara geografis batas wilayah Kabupaten Raja Ampat adalah sebagai berikut: 1. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Seram Utara, Provinsi Maluku. 2. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. 4. Sebelah Utara berbatasan dengan Republik Federal Palau.

Gambar 1. Peta Kabupaten Raja Ampat Peta administratif Kabupaten Raja Ampat dapat dilihat pada Lampiran Empat. Secara geoekonomis dan geopolitis, Kabupaten Raja Ampat memiliki peranan penting sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah Republik Federal Palau. Pulau Fani yang terletak di ujung paling utara dari rangkaian Kabupaten Raja Ampat, berbatasan langsung dengan Republik Federal Palau. Luas wilayah Kabupaten Raja
8

Ampat adalah seluas 46.108 km2, terbagi menjadi 11 distrik dan 86 kampung. Distrik dengan luas wilayah daratan terbesar adalah Distrik Samate yaitu 1.576 km2 dan dengan luas terkecil adalah Distrik Kepulauan Ayau yaitu 18 km2 (Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, 2006). B. Demografi Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2006 sebanyak 32.055 jiwa. Sesuai dengan kondisi alamnya, hampir seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat menetap di tepi laut (pantai). Hanya penduduk Kampung Kalobo, Waijan, Tomolol, Waisai, dan Magey yang tinggal agak jauh ke arah daratan. Jumlah kampung, luas wilayah daratan, dan jumlah penduduk dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah Kampung, Luas Wilayah Daratan, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk pada Tahun 2006.
Jumlah Jumlah Kepadatan Luas Kampung penduduk (jiwa/km2) 1 Waigeo Selatan 14 537 4.168 8 2 Teluk Mayalibit 9 1.118 1.511 1 3 Waigeo Timur 4 236 1.236 5 4 Waigeo Utara 9 672 2.781 4 5 Kepulauan Ayau 5 18 1.996 111 6 Waigeo Barat 10 944 3.335 4 7 Kofiau 3 196 2.170 11 8 Samate 13 1.576 6.800 4 9 Misool 8 1.509 3.412 2 10 Misool Timur Selatan 11 727 4.646 6 Jumlah 86 7.533 32.055 4 Sumber : Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, 2006 Keterangan : Distrik dan keterangan lainnya yang dicetak tebal atau bold adalah lokasi penelitian No Distrik

Dari Tabel 2. dapat dilihat bahwa jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2006 sebanyak 32.055 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 4 jiwa/km2. Distrik Samate merupakan distrik dengan jumlah penduduk terbesar yaitu sebanyak 6.800 jiwa atau sebesar 21,2% dari jumlah seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat dengan kepadatan penduduk sebesar 4 jiwa/km2. Distrik Waigeo Timur merupakan distrik dengan jumlah penduduk terkecil yaitu sebanyak 1.236 jiwa atau sebesar 3,9% dari jumlah seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat dengan kepadatan penduduk sebesar 5
9

jiwa/ km. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2000 - 2006, adalah 18,55% sehingga laju pertumbuhan rata-rata per tahun adalah 3,09%. Bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 yang sebesar 1,49%, maka laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Raja Ampat masih lebih tinggi. Sedangkan bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk Papua tahun 2000 yang sebesar 3,22%, maka laju pertumbuhan penduduk Kabupaten raja Ampat masih lebih rendah (Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, 2006). 1. Jumlah Penduduk dan Jenis Kelamin Secara keseluruhan jumlah penduduk laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan yaitu 52,55% dengan komposisi tiap-tiap distrik dapat dilihat pada tabel 3. Penduduk usia anak-anak masih sangat besar Penduduk yang berusia antara 15-64 tahun (usia produktif) mempunyai beban yang besar untuk menghidupi penduduk usia anakanak ini. Tabel 3. Jumlah Penduduk dan Jenis Kelamin di Tiap Distrik
Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan 1 Waigeo Selatan 2.204 1.994 2 Teluk Mayalibit 811 700 3 Waigeo Timur 654 582 4 Waigeo Utara 1.440 1.341 5 Kepulauan Ayau 1.030 966 6 Waigeo Barat 1.795 1.540 7 Kofiau 1.171 999 8 Samate 3.576 3.222 9 Misool 1.794 1.618 10 Misool Timur Selatan 2.387 2.259 Jumlah 16.864 15.191 Sumber : Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, 2006 No Distrik Total 4.168 1.511 1.236 2.781 1.996 3.335 2.170 6.800 3.412 4.646 32.055

2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan, umumnya masyarakat Raja Ampat merupakan lulusan SD (7.895 orang). Hanya sebagian kecil penduduk lulusan SLTP, SLTA, dan Perguruan tinggi (PT) dapat dilihat pada tabel 3. Rendahnya
10

tingkat pendidikan karena susahnya akses untuk menjangkau sarana pendidikan, kondisi ekonomi keluarga yang rendah sehingga tidak mampu membayar uang sekolah, fasilitas pendidikan yang minim, dan motivasi belajar masyarakat yang rendah. Banyak orang tua yang membawa anaknya dalam waktu yang lama (beberapa minggu) ketika mau menokok sagu sehingga ketika pulang anak mulai malas sekolah. Tabel. 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Tiap Distrik di Kabupaten Raja Ampat
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Distrik Belum Sekolah Tidak Sekolah Pendidikan Terakhir Yang Ditamatkan SD SLTP SLTA PT 974 249 626 293 224 66 29 183 310 96 203 73 543 459 274 375 358 2.007 51 69 1.217 149 94 160 793 85 356 194 1.449 316 2.100 11 797 0 15 0 1.230 24 16 51 7.895 450 27 13

Waigeo Selatan 280 421 Teluk Mayalibit 269 482 Waigeo Timur 152 46 Waigeo Utara 478 478 Kepulauan Ayau 383 578 Waigeo Barat 409 61 Kofiau 414 99 Samate 880 699 Misool 691 380 Misool Timur Selatan 942 238 Jumlah 4.894 3.482 Sumber : Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, 2006

3. Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian Mayoritas penduduk Kabupaten Raja Ampat menggantungkan kehidupnya dari sumberdaya alam yang ada diwilayah tersebut. Profil rumah tangga masyarakat didominasi oleh rumah tangga petani sebanyak 3.987 jiwa (12%), disusul kemudian sebagai nelayan sebanyak 2.633 jiwa (8%). Distrik dengan penduduk petani terbanyak adalah Distrik Samate, Misool, dan Waigeo Utara. Adapun nelayan banyak terdapat di distrik Waigeo Barat, Waigeo Selatan, dan Kepulauan Ayau. Selain nelayan atau petani, sebanyak 1.341 jiwa atau 4% penduduk Raja Ampat berprofesi sebagai PNS/TNI kemudian 1.312 jiwa atau 4% berprofesi sebagai buruh atau karyawan pada perusahaanperusahaan mutiara yang terdapat di Distrik Waigeo Barat, Distrik Samate, Distrik Misool, dan Distrik Misool Timur Selatan. Untuk wilayah yang mempunyai daratan yang tidak luas seperti Ayau, Arborek, Mutus, dan Wejim, umumnya penduduk di sana
11

bermata pencaharian sebagai nelayan sedangkan untuk daerah yang mempunyai daratan yang luas mayoritas sebagai petani seperti Kabare dan Bonsayor, namun paling banyak adalah yang bermata pencaharian ganda yaitu sebagai petani dan nelayan dilakukan berdasarkan musim yang berlangsung. Pada saat musim angin selatan mereka bertani dan di luar musim itu mereka melaut untuk mencari ikan, (Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat, 2006).

Tabel 5. Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian di Kabupaten Raja Ampat


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Distrik Petani 89 232 317 488 102 347 493 842 636 441 Nelayan 548 207 14 141 505 578 12 436 70 122 Mata pencaharian Pedagang Buruh PNS/TNI 9 68 930 1 20 14 0 5 31 1 15 61 0 10 15 17 74 20 2 24 28 15 258 113 6 91 58 33 747 71 1.312 1.341 Lain-lain 3 8 0 2 0 0 0 7 10 1 31

Waigeo Selatan Teluk Mayalibit Waigeo Timur Waigeo Utara Kepulauan Ayau Waigeo Barat Kofiau Samate Misool Misool Timur 10 Selatan Jumlah 3.987 2.633 84 Sumber : Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, 2006

C. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 1. Kampung Arborek

12

a. Geografis Kampung Arborek merupakan salah satu kampung yang termasuk dalam wilayah pemeritahan Distrik Meos Mansar dengan panjang 640 meter dan lebar 175 meter, merupakan dataran pulau dengan bentuk pantai yang landai dan ketinggian dari permukaan laut berkisar antara 1,5-2 meter. Luas wilayah berkisar 7 Ha dengan batasbatas wilayah sebagai berikut : 1). Bagian utara berbatasan dengan pulau Gam (Kampung Kapisawar) 2). Bagian selatan berbatasan dengan kampung Yensawai 3). Bagian timur berbatasan dengan Pulau Mansuar 4). Bagian barat berbatasan dengan Kampung Pam Seperti hal kampung pulau lainnya kampung Arborek dikelilingi oleh dangkalan yang ditumbuhi oleh hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. b. Keterjangkauan Arborek yang merupakan daerah pulau sehingga satu-satunya sarana transportasi yang digunakan untuk menunjang kegiatan masyarakat adalah transportasi laut. Kampung Arborek dapat ditempuh sekitar 90 menit perjalanan menggunakan perahu motor tempel 15 PK dari Ibukota Distrik Waigeo Selatan (Saonek), enam jam dari Sorong dengan menggunakan sarana transportasi yang sama, sedangkan dengan mengunakan ketinting dari Saonek memerlukan waktu tempuh kurang lebih 3,5 4,5 jam. c. Kondisi Sosial Budaya
13

1). Sejarah Kampung Kampung Arborek sudah berdiri sejak adanya migrasi orang Biak ke pulau-pulau di Raja Ampat. Nama Arborek sendiri berasal dari sejenis tanaman menjalar yang buahnya berduri dan banyak di temukan dipulau ini. Pada awalnya kampung tersebut memiliki jumlah penduduk cukup banyak, namun pada tahun 1977 sebagian ke daerah di sekitarnya (Kampung penduduknya dipindahkan oleh pemerintah

Kapisawar, Kampung Yenbuba dll). Komposisi jumlah penduduk berdasarkan hasil pendataan tahun 2005-2006 sebanyak 147 jiwa terhimpun dalam 25 kepala keluarga.

2). Sosial dan Budaya Masyarakat kampung Arborek berasal dari beberapa suku-suku antara lain : Suku Beser sebanyak 25 kepala keluarga, dari Suku Biak 23 kepala keluarga dan suku Ambon dua kepala keluarga. 3). Tingkat Pendidikan Hampir keseluruhan masyarakat Kampung Arborek pernah mengenyam bangku pendidikan walaupun hanya pendidikan dasar, dibandingkan dengan kampung sekitarnya kampung Arborek banyak yang sekolah diluar dari kampung atau daerah lain, hal ini berlangsung sudah lama. Tingkat pendidikannya bervariasi dari Sekolah Dasar 42 orang, lulusan SMP 16 orang, lulusan SMA 22 orang dan yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi sebanyak Sembilan orang. 2. Kampung Sauwandarek.
14

Kampung Sauwandarek diartikan dalam bahasa Indonesia artinya adalah Plabuhan Mengkudu (pace), Sau berarti pelabuhan dan Wandarek adalah mengkudu karena terdapat banyak pohon mengkudu. Dusun ini pertama kali di bangun pada tahun 1999, orang pertama yang masuk ke Sauwandarek adalah Korinus Urbata dan Beny Mambraku. Pada mulanya kedua orang ini berasal dari kampung Yenbekwan, namun karena keduanya masuk Agama Kristen Advent lalu pindah dan membuat dusun baru yaitu Dusun Sauwandarek. Kedua orang ini berpegang teguh pada kebenaran Firman Tuhan dalam Keluaran 20 : 4. Walaupun pada saat itu belum ada pendeta tapi dusun Sauwandarek terus berkembang hingga saat ini sudah ada 44 KK yang menetap. Pendeta Advent baru datang pada tahun 2003 yaitu Hugo Wambrau (Timor Biak) yang tinggal selama 1 tahun 6 bulan dan juga mendirikan sebuah sekolah di bawah naungan Yayasan Advent. Kemudian datang Pendeta Frans Boloy sebagai pengganti, selanjutnya Pendeta Wagimin hingga proses pembentukan kampung sebagai salah satu pemerintahan kampung yang baru pada tahun 2009 pecahan dari pemerintahan Kampung Kurkapa.

a. Jumlah Penduduk Kampung Sauwandarek penduduknya berjumlah 181 jiwa atau 44 KK dengan golongan umur sebagai berikut: anak-anak (0-12 tahun) sebanyak 90 orang (46 laki-laki dan 44 perempuan), remaja (13-18 tahun) sebanyak 11 orang (8 laki-laki dan 3 perempuan), dewasa (19-66 tahun dan manula) sebanyak 68 orang (34 laki-laki dan 41 perempuan) dan manula (66 tahun keatas) sebanyak 12 orang (5 laki-laki dan 7 perempuan)
15

b. Sosial Budaya

Sebagian besar masyarakat Kampung Sauwandarek berasal dari suku Beser kemudian ada dari suku Biak, Manado (Sanger), Ambon dan Buton. Penduduknya sebagian besar bermarga Watem serta marga lain yang merupakan pendatang dari kampung Yenbekwan (Urbata, Mambrasar, Mayor, Awom, Dimara, Mambraku, Sauyai), ada juga yang datang dari daerah lain (Pariri, Baransano, Rumbiak, Aelo, Laini, Umniwali, Rumbewas, Abindodifu, Sahensolar dan Saleo). Mayoritas masyarakat menganut Agama Advent dan masih terikat dengan budaya serta hukum adat ini dapat dilihat dari ketaatan masyarakat dalam ibadah, hubungan kekerabatan maupun pergaulan keseharian. Peraturan adat sangat terlihat jelas pada saat pernikahan seperti adanya mahar atau pembayaran harta, penghormatan bagi tua-tua adat, perilaku perempuan ditengah masyarakat, dan pergaulan sehari-hari bahkan ucapan terhadap saudara suami atau istri tetap diatur oleh adat. c. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat dapat dikategorikan dalam standar pendidikan rendah yakni: buta huruf 7 orang, SD 65 orang, SLTP 6 orang, SMA 4 orang dan Perguruan Tinggi 4 orang. Sebagian besar masyarakat yang buta huruf berusia antara 18-25 tahun yang disebabkan oleh jarak sekolah yang jauh pada masa-masa mereka sekolah, akibatnya banyak mereka yang putus sekolah dan belum sempat mengenal huruf. Kampung Sauwandarek mempunyai satu unit Sekolah Dasar yang dikelola oleh Yayasan Advent, namun kondisi bangunan sekolahnya sangat sederhana hanya terbuat dari kayu dengan mempunyai 4 ruang belajar dan yang digunakan hanya dua ruangan dikarenakan bangunan belum selesai. Sekolah ini di bangun pada tahun 2003 dengan tenaga pengajar
16

satu orang guru yang di kontrak oleh perusahan Papua Daving guru lainnya dan kepala sekolah baru ada pada tahun 2006 dari Yayasan Advent Jayapura. 3. Kampung Yenbekwan a. Geografis Kampung Yenbekwan merupakan ibu kota Distrik Meos Mansar yang merupakan perpecahan dari distrik induk Waigeo Selatan dengan luas wilayah berkisar 80.598 m2 dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1). Bagian Barat berbatasan dengan Kampung Kurkapa 2). Bagian Timur berbatasan dengan Kampung Yenbuba 3). Bagian Utara berbatasan dengan Kampung Yenwaupnor 4). Bagian Selatan berbatasan dengan Kampung Arefi/Yensawai Pengakuan terhadap batas wilayah dan luas Kampung Yenbekwan berdasarkan Hak Ulayat Masyarakat (tanah adat). b. Keterjangkauan Untuk menjangkau Ibu Kota Kabupaten yaitu Waisai dapat ditempuh dengan perahu bermotor tempel 15 PK selama 1,5 jam sedangkan dengan menggunakan katinting memerlukan waktu tempuh empat jam.

c. Sejarah Kampung Konon dikisahkan bahwa ada seorang warga dari Biak bernama Mansar Manar Maker merantau ke Kepulauan Raja Ampat dan ditahan oleh Kesultanan Tidore. Kemudian dicari oleh sanak saudaranya yang berangkat dari Biak dengn menelusuri pulau-pulau
17

yang ada di Raja Ampat. Pencarian ini melelahkan dan tidak membuahkan hasil, akhirnya rombongan bertekad pulang kembali ke Biak, sewaktu pulang sambil mencari ikan mereka bertemu dengan pulau kosong yang cukup panjang dan berpasir putih. Akhirnya rombongan sepakat untuk menetap di pulau yang baru ditemukan dan diberi nama Yenbekwan, dimana kata Yen berarti Pasir dan Bekwan berarti Panjang. 4. KAMPUNG YENWAUPNOR

a. Geografis Kampung Yenwaupnor merupakan salah satu kampung yang berada di pulau GAM dan termasuk dalam wilayah administrasi Distrik Meos Mansar, berkisar 19.185,95 m2 dengan batas sebagai berikut : 1). Bagian utara berbatasan dengan Holl Gaman. 2). Bagian selatan berbatasan dengan Laut Manswar. 3). Bagian timur berbatasan dengan Dorewar. 4). Bagian barat berbatasan dengan Dorekapar. Kampung ini sebagian lahannya mempunyai ketinggian lebih kurang 3m dari dengan luas wilayah

permukaan laut yang tentunya akan mempengaruhi jenis pasang dan surut serta jenisjenis biota yang berada di sekitar pesisir pantai. Terdapat bukit dengan ketinggian mencapai 5 - 17 meter di atas permukaan laut dan beriklim sub tropis dengan curah hujan tidak terlalu tinggi. Di Kampung Yenwaupnor ada dua musim sepanjang tahun yaitu
18

musim selatan (Juli Oktober) dan Musim Barat (November Februari). Curah hujang pada musim selatan hamper tidak ada sedangkan pada musim barat curah hujan relatif tinggi. Profil pantai sebelah barat cenderung datar dan tidak terlindung oleh mangrove, sehingga ketika ombak datang terjadi pergeseran garis pantai yang disebabkan abrasi. Dengan kondisi demikian, maka penduduk yang bermukim di tepi pantai sebelah barat telah melakukan penanaman bakau walaupun dalam jumlah yang masih terbatas. b. Keterjangkauan Yenwaupnor dapat dicapai dari pusat pemerintahan atau distrik kurang lebih satu jam dengan menggunakan motor tempel sedangkan dari ibukota Kabupaten Waisai kurang lebih empat jam. Jarak tempuh ini bila kondisi laut mendukung, laut tidak berangin dan berombak sehingga memudahkan dalam transportasi. Tetapi pada musim selatan transportasi ke Kampung Yenwaupnor relatif sulit karena perlu memperhitungkan halangan ombak. c. Demografi Penduduk Kampung Yenwaupnor berjumlah 294 jiwa dalam 57 kepala keluarga. d. Tingkat Pendidikan Pendidikan masyarakat kampung Yenwaupnor relatif rendah, kebanyakan dari mereka putus sekolah, pendidikan tertinggi mayoritas masyarakatnya adalah Tamat Sekolah Dasar, tetapi ada juga yang tamat sekolah lanjutan dan Sekolah Menengah Tingkat Atas tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kondisi ini terjadi disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu pertama lemahnya dorongan orang tua untuk menyekolahkan anaknya sampai pada jenjang yang lebih tinggi dengan alasannya keterbatasan biaya. Tetapi kalau dilihat dari pendapatan mereka bisa dikatakan cukup mampu untuk membiayai pendidikan anaknya. Sementara menurut masyarakat dengan bekerja atau membantu orang tua menangkap ikan hasilnya akan jauh lebih besar. Dengan pemikiran bahwa lebih baik mencari uang dari pada sekolah karena sekolah tidak bisa menghasilkan uang.

19

D. STRUKTUR SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT Seperti pada umumnya masyarakat Indonesia yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama, sedangkan perempuan menempati struktur pencari tambahan. Laki-laki bertanggung jawab terhadap kebutuhan keluarga dan perempuan bertanggung jawab mengurus rumah tangga. Proporsi lakilaki yang bekeja di empat desa penelitian cukup tinggi, dari jumlah responden yang ada, jumlahnya sebesar 82 persen. Sementara partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi masih relatif rendah yaitu hanya sekitar 18 persen. Masyarakat pesisir Kabupaten Raja Ampat merupakan salah satu golongan sosial yang kelangsungan hidupnya ditopang oleh kegiatan mengelola sumber daya perikanan laut yang tersedia di lingkungannya. Dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya perikanan, seperti perikanan tangkap sangat besar. Melihat kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa basis perekonomian dari rata-rata responden adalah perikanan tangkap.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa responden, bahwa menurut mereka penghasilan dari kegiatan melaut sifatnya sangat spekulatif dan tidak tentu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Apabila musim ikan, suami mendapatkan hasil yang banyak, karena pendidikan yang rendah dan kebiasaan dari nelayan apabila memperoleh hasil yang melimpah akan dihabiskan untuk bersenang-senang tanpa memikirkan untuk ditabung, sedangkan pada musim paceklik nelayan hampir tidak mendapatkan hasil sama sekali sehingga kaum perempuan perlu mengambil peran yang sangat penting dalam membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
20

E. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH Hasil tanggapan masyarakat yang disampaikan melalui jawaban dari pertanyaan terstruktur dalam kuesioner yang terbagi dalam empat kelompok yaitu masyarakat, Yenbekwan, Arborek, Sawendarek , dan Yenwapnor yang masing masing responden berbeda jumlahnya karena tergantung dari besarnya populasi jumlah penduduk yang didasarkan pada mata pencaharian terutama nelayan.
Tabel 6. Persepsi Masyarakat Mengenai Terumbu Karang
Lokasi Penelitian Persentase 4 3 2 1 4 1. Yenbekwan 1 4 1 0 75 5 % 2. Sawandare 1 1 2 1 45 k 4 3 % 3. Arborek 2 9 0 0 70 1 % 4. Yenwapnor 1 5 2 0 65 3 % Sumber : Data primer diolah, 2011 Keterangan : Nilai 4, Kondisi Terumbu Karang Sangat Baik Nilai 3, Kondisi Terumbu Karang Baik Nilai 2, Kondisi Terumbu Karang Rusak Nilai 1, Kondisi Terumbu Karang Sangat rusak No. Skore 3 20 % 40 % 22 % 27 % 2 10 % 13 % 8% 8% 1 0% 2% 0% 1%

Kerusakan terumbu karang umumnya disebabkan oleh kegiatan perikanan yang bersifat destruktif, yaitu penggunaan bahan-bahan peledak, bahan beracun sianida dan aktivitas penambangan karang untuk bahan bangunan, penambatan jangkar perahu serta akibat sidementasi. Sebagian dapat juga terjadi secara alami, yaitu pengaruh iklim global dan dimangsa biota laut serta rusak akibat penggunaan jaring pukat harimau (Trawl).

21

Penambangan karang yang dilakukan oleh masyarakat pada dasarnya digunakan untuk kepentingan pembangunan perumahan, pemecah ombak dan jetty. Kegiatan ini dapat menyebabkan peningkatan erosi pantai dan berbagai kerusakan pantai lainnya karena hilangnya fungsi terumbu karang sebagai penahan gelombang. Penambangan karang ini merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup sumberdaya perikanan dan ekosistem terumbu karang. Berbagai cara digunakan masyarakat dalam melakukan penambangan karang adalah dengan menggunakan bahan peledak dan penggalian. Dampak potensial yang dihasilkan dengan menggunakan bahan peledak ini dapat menimbulkan kematian masal biota terumbu karang. Dari rata-rata responden, tingkat persepsi penduduk terhadap kondisi terumbu karang di sekitar mereka sangat baik 63% responden, persepsi baik 31% responden, berpersepsi karang rusak ada 5% responden, dan responden yang menyatakan sangat rusak hanya 1%. Penduduk di lokasi ini sudah menyadari betul bagaimana manfaat terumbu karang bagi kelangsungan hidup mereka. Sedangkan alasan responden yang menyatakan rusaknya terumbu karang di lingkungan mereka adalah karena penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Tabel 7: Persepsi Masyarakat Mengenai Kondisi Mangrove

22

Lokasi Penelitian Persentase 4 3 2 1 4 1. Yenbekwan 1 5 2 1 60 2 % 2. Sawandare 1 1 2 1 45 k 4 3 % 3. Arborek 2 6 3 0 70 1 % 4. Yenwapnor 1 5 2 0 65 3 % Sumber : Data primer diolah, 2011 Keterangan : Nilai 4, Kondisi Terumbu Karang Sangat Baik Nilai 3, Kondisi Mangrove Baik Nilai 2, Kondisi Mangrove Rusak Nilai 1, Kondisi Mangrove Sangat rusak

No.

Skore 3 25 % 40 % 22 % 27 % 2 10 % 13 % 8% 8% 1 5% 2% 0% 0%

Secara umum masyarakat nelayan sadar arti pentingnya keberadaan mangrove sebagai tempat asuhan bagi berbagai jenis biota laut dimana apabila wilayah dengan mangrove yang masih baik maka akan terdapat hasil tangkapan yang banyak, terutama udang, kepiting serta hasil perikanan lainnya. Sebagian besar berkurangnya areal mangrove disebabkan oleh adanya penebangan yang dilakukan para pemilik dapur arang serta penggunaan kawasan sebagai tempat pemukiman/perumahan penduduk.

Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah, pada sub pertanyaan tentang kondisi mangrove tersaji pada Tabel: 7 di atas. Rata-rata responden umumnya mempunyai persepsi yang sangat baik terhadap kondisi mangrove di lingkungan mereka. Sebanyak 60% responden mempunyai persepsi yang sangat baik, 29% mempunyai persepsi yang baik, sedangkan 9% menyatakan kondisi mangrove rusak dan 2% yang menyatakan sangat rusak. Berdasarkan wawancara mendalam dengan beberapa tokoh masyarakat,

23

bahwa mangrove yang rusak di lingkungan mereka karena adanya penebangan untuk aktivitas rumah tangga dan lainnya.

Tabel 8: Persepsi Masyarakat Mengenai Aturan Daerah Perlindungan Laut


No. Lokasi Penelitian 4 4 1 4 6 1 2 3 1 5 1 3 2 1 5 2 1 2 3 2 1 0 1 0 1 Skore 4 20 % 45 % 22 % 65 % 3 75 % 40 % 70 % 27 % Persentase 2 10 % 13 % 8% 8% 1 0% 2% 0% 1%

1. 2. 3. 4.

Yenbekwan Sawandare k Arborek Yenwapnor

Sumber : Data primer diolah, 2011 Keterangan : Nilai 4, Sangat Mengetahui Nilai 3, Mengetahui Nilai 2, Cukup Mengetahui Nilai 1, Tidak Mengetahui

Rata rata responden mengetahui aturan Daerah Perlindungan Laut yang berada di kawasan Raja Ampat, spesifik di lokasi lingkungan mereka tinggal, hal ini dikarenakan
24

mereka telah mengetahui dari sosialisasi oleh pemerintah baik lewat penyuluhan, maupun beberapa papan pengumuman yang dipasang di kawasan tersebut. Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah, pada sub pertanyaan mengenai sanksi di Daerah Perlindungan Laut tersaji pada Tabel: 8 di atas. Sebanyak 36% masyarakat sangat mengetahui adanya aturan dan sanksi yang diterapkan oleh pemerintah, 54% mereka mengetahui adanya peraturan daerah dan sanksi bagi yang melanggar, sedangkan 8% cukup mengetahui saja, sedangkan 2% tidak mengetahui sama sekali. E. PERAN PEMERINTAH DALAM PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH. Berdasarkan hasil wawancara responden ternyata peran pemerintah masih kurang sekali, terutama dalam sosialisasi peraturan perundang-undangaan tentang perlindungan mangrove. Belum dapat diukur bagaimana keseluruhan responden dalam persepsinya terhadap peran pemerintah. Secara acak berdasarkan wawancara kurang mendalam beberapa responden menyatakan bahwa pemerintah tidak sering melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat. Sedangkan dalam konteks pemberdayaan, pemerintah juga sedikit sekali melakukannya. Bahkan ada kampung yang tidak pernah sama sekali mendapatkan sosialisasi dari pemerintah. F. KESIMPULAN Negara kita sebagai negara kepulauan mempunyai perairan yang amat luas, dangkal dan mempunyai potensi sumberdaya yang berlimpah yang berlimpah. Biota laut, hamparan terumbu karang begitu luas dan beraneka macam, begitu juga potensi perikanan yang perlu dilindungi dan dikelola secara terpadu dan berkelanjutan. Kekayaan akan perairan yang sudah kondang di dunia adalah Kabupaten Raja Ampat yang kaya akan sumberdaya alam terbaharui, sehingga dalam menfaatkannya harus mempertimbangkan dan menjaga kemampuan sumberdaya alam tersebut untuk memperbaharui dirinya. Nilai-nilai kearifan lokal yang ada pada masyarakat setempat perlu dijaga dan dikembangkan. Keberadaan masyarakat sekitar harus terlibat dalam
25

perencanaan maupun pengelolaan, karena mereka merupakan garda terdepan dalam pemanfaatan dan penjaga sumberdaya alam tersebut. Upaya peningkatan pendapatan atau ekonomi harus sejalan dengan upaya kesadaran tentang keberlanjutan potensi yang ada. Setelah ditetapkan sebagai kawasan wisata bahari, maka kawasan Raja Ampat tentu mengundang perhatian masyarakat. Peran masyarakat dalam pembangunan dan pendapatan daerah juga peningkatan ekonomi masyarakat merupakan potensi yang sangat besar baik di darat maupun di laut. Pemanfaatannya diupayakan sedemikian rupa dan diarahkan pada pembangunan yang berwawasan lingkungan, artinya sumber daya alam itu bukanlah untuk dieksploitasi, tetapi untuk dimanfaatkan secara arif dan bijaksana. Selanjutnya peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Raja Ampat ditujukan untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat perlindungan kawasan tersebut. Karenanya peran serta masyarakat harus dilibatkan pada identifikasi, perancangan dan pelaksanaan berbagai kemungkinan manfaat yang dapat diperoleh dari usaha perlindungan kawasan konservasi. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa keberhasilan upaya pengelolaan kawasan konservasi laut tidak hanya tergantung pada pemerintah saja, tetapi sejauh mana masyarakat sekitar terlibat dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah lebih lanjut. Mengingat penelitian awal ini belum secara lengkap mampu melihat keseluruhan masyarakat Raja Ampat lebih spesifik.Ini karena penelitian ini masih belum mampu membandingkan dengan keadaan masyarakat yang lebih heterogen kompleks. Lokasi yang berjauhan dan akses yang sulit ditempuh juga merupakan kendala yang perlu diperhitungkan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Persepsi Masyarakat Terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi Raja Ampat dalam kaitannya dengan ekowisata dapat, disimpulkan sebagai berikut : 1. Masyarakat mempunyai tingkat persepsi sangat tinggi terhadap arti pentingnya pengelolaan Kawasan Konservasi Laut, hal ini karena nelayan menyadari bahwa hasil tangkapan sangat tergantung kepada kondisi ekosistem yang baik, dan juga
26

mempunyai keuntungan yang dapat mensuport kawasan mereka sebagai kawasan kampung ekowisata.

2. Meskipun belum dilakukan studi yang lebih mendalam namun kesimpulan sementara dari survey awal yang dapat diberikan adalah bahwa peran pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut pada tiap-tiap kampung kurang karena responden menilai peran pemerintah khususnya dalam penghijauan pantai seperti rehabilitasi mangrove, pengawasan daerah konservasi dan pemberian tanda di daerah perlindungan laut sangat kurang.

3. Terdapat hubungan yang erat antara persepsi masyarakat dan peran pemerintah terhadap Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Dengan melakukan kegiatan peningkatan SDM, pembentukan dan peningkatan Lembaga Kemasyarakatan (POKJA,POKWASMAS, dan Kelompok MPA) yang dilakukan oleh Pemerintah yang dapat meningkatkan persepsi dan partisipasi masyarakat tentang arti pentingnya mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah secara bersama (Masyarakat dengan Pemerintah).

F. SARAN DAN REKOMENDASI 1. Diperlukan sosialisasi menyeluruh dan berkelanjutan kepada masyarakat mengenai program-program pemerintah khususnya tentang konservasi sumberdaya perikanan di wilayah KKLD. 2. Perlu dilakukan kajian partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan Kawasan Konservasi Laut, sejauh mana aktivitas dan kesiapan masyarakat dalam merespons dan mensuport kegiatan ekowisata. 3. Masyarakat diikutsertakan secara aktif dalam pelaksaan pengelolaan konservasi di wilayahnya masing masing.
27

4. Pemerintah harus melaksanakan kegiatan program pengelolaan daerah konservasi seperti pemasangan tanda daerah lindung, pengawasan dan kegiatan yang mendukung seperti penanaman mangrove dan transplantasi karang. 5. Diperlukan adanya kesinambungan program konservasi yang melibatkan secara aktif seluruh stakeholder (pemerintah pusat dan daerah serta nelayan). Selain itu perlu dibuat PERDA untuk menjamin keberadaan kawasan konservasi.
6. Dalam pembangunan Kepulauan Raja Ampat ini harus ada keterkaitan dan kerja

sama antar stakeholder agar tidak adanya kepentingan yang tumpang tindih dan yang paling penting setiap stakeholder maupun organisasi mempunyai keterkaitan terhadap lingkungan. Adapun strategi yang dipakai dalam proses pembangunan, yaitu sains, pengembangan masyarakat, kebijakan dan pengelolaan kolaboratif serta penyadaran publik. Diharapkan dengan sains masyarakat akan lebih memahami betapa pentingnya membangun wilayahnya dengan potensi yang ada, sedangkan dilain pihak pengembangan ekonomi masyarakat juga melalui pemanfaatkan potensi yang ada. Namun demikian pemerintah daerah harus tetap mempunyai kebijakan untuk pembatasan manfaat dan pengelolaan sumber daya alam yang merupakan potensi wilayah tersebut, yang harus dilakukan dengan cara kerja sama dengan pihak luar yang mempunyai minat membantu pembangunan Kepulauan Raja Ampat.

28

29

30

31

32

33

34