Anda di halaman 1dari 9

A. TUJUAN Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat : 1.

Memasang peralatan perfusi usus dan pecatat gerakan usus. 2. Memasang sediaan usus dalam tabung perfusi dan menghubungkannya dengan pencatat sehingga kerutannya. Dapat dicatat pada kimograf. 3. Menjelaskan pengaruh pelbagai faktor dibawah ini pada frekuensi dan amplitude kerutan serta tonus sediaan usus dalam tabung perfusi : a. Epinefrin. b. Asetilkolin. c. Ion Kalium. d. Pilokarpin. e. Ion Barium. B. DASAR TEORI I. Pengaruh epinefrin terhadap usus Transmitter kimiawi yang dijumpai pada hampir semua ujung saraf pasca ganglion simpatis adalah norepinefrin. Zat ini tersimpan di dalam vesikel yang berinti padat. Pada tonjolan sinaptik dari neuron yang mensekresikannya. II. Pengaruh Asetilkolin terhadap usus Asetilkolin (Ach) merupakan neurontransmiter yang dikeluarkan oleh semua serat praganglion otonom, serat pascaganglion parasimpatis, dan neuron motorik. Asetilkolin terbentuk melalui reaksi kolin dengan asetat. Raksi antara asetat aktif ( asetil koenzim A, asetil COA ) dengan kolin dikatalisis oleh enzim kolinasetiltransferase. Enzim ini terdapat dalam konsentrasoi yang tinggi di sitoplasma ujung saraf kolinergik.

Tempat pengeluaran Asetilkolin dan Norepinefrin ASETILKOLIN NOREPINEFRIN

Semua ujung (terminal) praganglion system Sebagian besar ujung pascaganglion simpatis saraf otonom Semua ujung pascaganglion parasimpatis Medulla adrenal

Ujung pascaganglion simpatis di kelenjanr Susunan saraf pusat keringat dan sebagian pembuluh darah di otot rangka Ujung neuron aferen yang mempersarafi otot rangka (neuron motorik) Susunan saraf pusat

C. ALAT SEDIAAN DAN BAHAN KIMIA YANG DIPERLUKAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kaki tiga + kawat kasa + pembakar Bunsen dengan pipa karet + statip. Gelas beker pireks 600 cc + tabung perfusi usus dengan klemnya. Pipa kaca bengkok untuk perfusi usus + balon rangkap + thermometer kimia. Pencatat gerakan usus + sinyal maknit + kawat listrik + kimograf rangkap. Sepotong usus halus dengan panjang + 5 cm. Larutan : - Locke biasa dan locke bersuhu 350C - Epinefrin 1 : 10.000 - Locke tanpa kalsium - CaCl2 1% - Asetilkolin 1 : 1.000.000 - Pilokarpin 0,5% - BaCl2 1% 7. Es + Baskom D. TATA KERJA 1. Hangatkan air dalam gelas beker pireks sehingga larutan locke didalam tabung perfusi mencapai suhu 350C. 2. Pasang sediaan usus sebagai berikut : a. Ikatkan dengan benang salah satu ujung sediaan usus pada ujung pipa gelas bengkok. b. Ikatkan ujung yang lain pada pencatat usus (usahakan supaya sediaan usus tidak terlampau teregang). 3. Alirkan udara kedalam larutan locke dalam tabung perfusi dengan memompa balon dan mengatur klem. 4. Selama percobaan, perhatikan suhu larutan locke dalam tabung perfusi yang harus dipertahankan pada suhu 350C. Apa tujuan pengaliran udara kedalam cairan perfusi ? Agar gelembung udara tidak terlalu menggoyangkan sediaan usus yang telah dipasang. I. Pengaruh Epinefrin 1. Catat 10 keratan usus sebagai kontrol pada tromol yang berputar lambat, tetapi setiap kerutan masih tercatat terpisah. 2. Catat waktunya dengan interval 5 detik. 3. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 5 tetes larutan Epinefrin 1 : 10.000 kedalam cairan perfusi. Apa pengaruh epinefrin dalam percobaan ini ? Menurunkan jumlah spike dan tegangan otot polos. 4. Hentikan tromol dan cucilah sediaan usus untuk menghilangkan pengaruh epinefrin sebagai berikut : a. Pindahkan pembakar Bunsen, kaki tiga + kawat kasa dan gelas beker pireks dari tabung perfusi. b. Letakkan sebuah Baskom dibawah tabung perfusi. c. Bukalah sumbat tabung perfusi sehingga cairan perfusi keluar sampai habis.

d. Tutup kembali tabung perfusi, dan isilah dengan larutan locke yang baru (tidak perlu yang bersuhu 350C) dan besarkan aliran udara sehingga usus bergoyang-goyang. e. Buka lagi sumbat untuk mengeluarkan larutan lockenya. f. Ulangi hal diatas 2 kali lagi, sehingga dapat dianggap sediaan usus telah bebas dari pengaruh epinefrin. g. Sesudah selesai hal-hal diatas, tutup kembali tabung perfusi, dan isilah dengan larutan locke baru yang bersuhu 350C (disediakan) serta atur kembali aliran udaranya. h. Pasang kembali gelas beker pireks, kaki tiga + kawat kasa dan pembakar bunsen. II. Pengaruh Asetilkolin 1. Catat 10 kerutan usus sebagai kontrol. 2. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 2 tetes larutan asetilkolin 1 : 1.000.000 kedalam cairan perfusi. Beri tanda pada saat penetesan. 3. Teruskan dengan pencatatan sampai pengaruh asetilkolin terlihat jelas. 4. Hentikan tromol dan cucilah sediaan usus untuk menghilangkan pengaruh asetilkolin seperti pada ad I. Apa pengaruh asetilkolin pada sediaan usus ? Meningkatkan jumlah spike dan tegangan otot polos. III. Pengaruh Ion Kalsium 1. Catat 10 kerutan usus sebagai kontrol. 2. Hentikan tromol dan gantilah larutan locke dalam tabung perfusi dengan larutan locke tanpa Ca yang bersuhu 350C (disediakan). 3. Jalankan kembali tromol dan catatlah terus sampai pengaruh kekurangan ion Ca terlihat jelas. 4. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 1 tetes CaCl2 1% kedalam cairan perfusi. Beri tanda saat penetesan. 5. Teruskan dengan pencatatan, sampai terjadi pemulihan. Bila pemulihan tidak sempurna, gantikanlah cairan dalam tabung perfusi dengan cairan locke baru yang bersuhu 350C. Apa pengaruh kekurangan ion Ca terhadap kerutan usus ? Apabila kekurangan ion Ca maka akan menurunkan jumlah spike dan tegangan otot polos. IV. Pengaruh Pilokarpin 1. Catat 10 kerutan usus sebagai kontrol. 2. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 2 tetes larutan pilokarpin 0,5% kedalam cairan perfusi. Beri tanda saat penetesan. 3. Teruskan dengan pencatatan, sehingga pengaruh pilokarpin terlihat jelas. Apa pengaruh pilokarpin terhadap kerutan usus ? Tidak terjadi perubahan jumlah spike dan tegangan. 4. Hentikan tromol dan cucilah sediaan usus untuk menghilangkan pengaruh pilokarpin seperti pada ad. I.4.

V. Pengaruh Suhu 1. Catat 10 kerutan usus sebagai kontrol pada suhu 350C. 2. Hentikan tromol dan turunkan suhu cairan perfusi sebanyak 5 0C dengan jalan memindahkan pembakar Bunsen dan mengganti air hangat didalam gelas beker pireks dengan air biasa. 3. Segera setelah sampai suhu 300C, jalankan tromol kembali dan catatlah 10 kerutan usus. 4. Hentikan tromol lagi dan ulangi percobaan ini dengan setiap kali menurunkan suhu cairan perfusi sebanyak 50C, sampai tercapai 200C dengan jalan memasukkan potongan-potongan es kedalam gelas beker pireks, dengan demikian didapat pencatatan keaktifan berturutturut pada suhu 350C, 300C, 250C dan 200C. 5. Hentikan tromol perfusi dan naikkan suhu cairan perfusi sampai 35 0C dengan jalan mengganti air es didalam gelas beker pireks dengan air biasa kemudian memanaskan air itu. 6. Segera setelah suhu mencapai 350C jalankan tromol kembali dan catatlah 10 kerutan usus. Apa pengaruh suhu pada keaktifan usus ? Semakin rendah derajat suhu maka akan menurunkan jumlah spike dan tegangan. VI. Pengaruh Ion Barium 1. Catat 10 kerutan usus sebagai kontrol. 2. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 1 tetes larutan BaCl2 1% kedalam cairan perfusi. Bila 1 tetes tidak memberikan hasil setelah 5-10 kerutan, lanjutkan penambahan BaCl 2 tetes demi tetes yang diberikan setiap sesudah 5-10 kerutan yang tidak jelas. Apa pengaruh yang diharapkan terjadi pada penambahan larutan BaCl ? Meningkatkan jumlah spike dan tegangan otot polos. E HASIL I.. Pengaruh Epinefrin

II. Pengaruh Asetilkolin

III. Pengaruh Ion Kalsium

IV. Pengaruh Pilokarpin

V. Pengaruh Suhu

350C

300C 250C 200C

VI. Pengaruh Ion Barium

F. KESIMPULAN Depolarisasi yang dihubungkan dengan gelombang rangsangan lambat melewati suatu ambang tertentu disebut dengan spike potensial. Lama kontraksi bergantung jumlah spike. Yang meningkat jumlahspike dan tegangan otot polos yaitu asetilkolin, ion Ca2+, suhu yang tinggi, dan ion barium. Dan yang menurunkan jumlah spike dan tegangan otot polos yaitu epinefrin, pilokarpin dan suhu yang sangat rendah.

Percobaan Kaffein Tujuan : Untuk mengetahui jumlah gerakan peristaltik yang dipengaruhi oleh cafein sebelum dan setelah makan Teori Dasar : Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid yang dikenal sebagai trimetilsantin dengan rumus molekul C8H10N4O2. Jumlah kandungan kafein dalam kopi adalah 1-1,5%, sedangkan pada teh 1-4,8%. Kafein bekerja dalam tubuh dengan mengambil alih reseptor adenosin dalam sel syaraf yang akan memacu produksi hormon adrenalin Manfaat kopi Dalam dunia kedokteran, kafein sering digunakan sebagai perangsang kerja jantung dan meningkatkan produksi urin. Dalam dosis yang rendah kafein dapat berfungsi sebagai bahan pembangkit stamina dan penghilang rasa sakit. Mekanisme kerja kafein dalam tubuh adalah menyaingi fungsi adenosin (salah satu senyawa yang dalam sel otak bisa membuat orang cepat tertidur). Dimana kafein itu tidak memperlambat gerak sel-sel tubuh, melainkan kafein akan membalikkan semua kerja adenosin sehingga tubuh tidak lagi mengantuk, tetapi muncul perasaan segar, sedikit gembira, mata terbuka lebar, jantung berdetak lebih kencang, tekanan darah naik, otot-otot berkontraksi dan hati akan melepas gula ke aliran darah yang akan membentuk energi ekstra. Itulah sebabnya berbagai jenis minuman pembangkit stamina umumnya mengandung kafein sebagai bahan utamanya. Kerugian Kopi Selain manfaatnya untuk kesehatan ternyata kopi juga memiliki kerugian. Salah satunya adalah efek ketergantungan. Minum kopi ternyata dapat meningkatkan resiko terkena stroke. Sebuah penelitian yang dimuat dalam journal of neurology, neurosurgry and psychiatry tahun 2002 menyimpulkan bahwa minum lebih dari 5 gelas kopi perhari akan meningkatkan resiko terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah. Kafein juga dapat menyebabkan insomnia, mudah gugup, sakit kepala, merasa tegang dan cepat marah. Pada wanita hamil juga disarankan tidak mengkonsumsi kopi dan makanan yang mengandung kafein. Hal ini karena kafein dapat meningkatkan denyut jantung. Pada janin

dapat menyerang plasenta dan masuk dalam sirkulasi darah janin. Dampak terburuknya, bisa menyebabkan keguguran. Diduga beberapa unsur yang dikandung kopi, merangsang diproduksinya getah pankreas dan meningkatkan konsentrasi hormon pencernaan. Proses inilah yang menyebabkan produksi asam lambung berlebihan, serta gerak peristaltik lambung. Kopi merupakan campuran rumit dari lebih dari 100 unsur, yang beberapa diantaranya bereaksi terhadap saluran pencernaan. Yang juga menarik, perempuan lebih mudah kecanduan kopi ketimbang lakilaki.Penyebabnya, adalah hormon perempuan Estradiol, yang memperlambat penguraian Kaffein dalam darah. Juga peneltian terhadap 8000 relawan yang gemar minum kopi, menunjukan, risiko mereka terkenan sindroma penyakit Parkinson juga menurun drastis. Alat dan Bahan : 1. Segelas kopi manis 2. Stetoskop Tata Kerja : 1. Seorang o.p yang belum makan dan sudah makan sebelumnya dihitung gerak peristalik ususnya 2. Masing-masing o.p diberikan segelas kopi 3. Setelah satu menit, hitung kembali geral peristaltik ususnya Hasil :

1 menit sebelum minum kopi

1 menit sesudah minum kopi

Belum makan

8x per menit

13x per menit

Sudah makan

12x per menit

11x per menit

Kesimpulan : 1. Pada seseorang yang belummakan, kaffein menyebabkan peningkatan gerak peristaltik usus. 2. Pada seseorang yang sudah makan, kaffein menyebabkan penurunan gerak peristaltik usus.

Daftar Pustaka

Sherwood, Lauralee.2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem .Jakarta:EGC Ganong.2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran .Jakarta:EGC www.carahidup.um.ac.id