Anda di halaman 1dari 36

II. TEORI DASAR A.

Pengertian Impact Test Impact test merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk menguji ketangguhan suatu specimen bila diberikan beban secara tiba-tiba melalui tumbukan. Ketangguhan adalah ukuran suatu energy yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak suatu bahan yang diukur dari luas daerah dibawah kurva tegangan regangan. Suatu bahan mungkin memiliki kekuatan tarik yang tinggi tetapi tidak memenuhi syarat untuk kondisi pembebanan kejut. Suatu paduan memiliki parameter ketangguhan terhadap perpatahan yang didefinisikan sebagai kombinasi tegangan kritis dan panjang retak. http://pahatbaja.blogspot.com/2011/06/teori-dasar-impact.html

B. METODE PENGUJIAN IMPACT (Cara Charpy dan Izood) 1. Metode Charpy (USA) Merupakan cara pengujian dimana specimen dipasang secara horizontal dengan kedua ujungnya berada pada tumpuan, sedangkan takikan pada specimen diletakkan di tengah-tengah dengan arah pembebanan tepat diatas takikan.

Gambar 1. Charpy test Kelebihan : a. Hasil pengujian lebih akurat b. Pengerjaannya lebih mudah dipahami dan dilakukan c. Menghasilkan tegangan uniform di sepanjang penampang d. Harga alat lebih murah e. Lebih praktis

Kekurangan : a. Hanya dapat dipasang pada posisi horizontal b. Spesimen dapat bergeser dari tumpuannya karena tidak dicekam c. Pengujian hanya dapat dilakukan pada specimen yang kecil

d. Hasil pengujian kurang dapat atau tepat dimanfaatkan dalam perancangan karena level tegangan yang diberikan tidak rata. e. Tumbukan tidak tepat

2. Metode Izood (Inggris) Merupakan cara dimana specimen berada pada posisi vertical pada tumpuan dengan salah satu ujungnya dicekam dengan arah takikan pada arah gaya tumbukan. Tumbukan pada specimen dilakukan tidak tepat pada pusat takikan melainkan pada posisi agak diatas dari takikan seperti yang tertera pada gambar sbb :

Gambar 2. Izood test

Kelebihan : a. b. c. Tumbukan tepat pada takikan karena benda kerja di cekam Dapat menggunakan specimen dengan ukuran yang lebih besar. Specimen tidak mudah bergeser karena dicekam pada salah satu ujungnya d. e. Tumbukan tepat Hasil pengujian dapat dimanfaatkan dalam perancangan

Kerugian : a. Biaya pengujian yang lebih mahal b. Pembebanan yang dilakukan hanya pada satu ujungnya, sehingga hasil yang diperoleh kurang baik. c. Proses pengerjaan pengujiannya lebih sukar d. Hasil perpatahan yang kurang baik e. Memerlukan mesin uji yang berkapasitas 10000 ton http://www.google.co.id/imglanding?q=impact+test&hl=id&sa=X&biw=1 D744&imgurl

B. JENIS JEINS CACAT PADA MATERIAL 1. Cacat titik a. Kekosongan, yaitu sisi yang seharusnya ditempati atom, kehilangan atomnya. Vakansi terbentuk selama proses pembekuan, dan juga karena getaran atom yang mengakibatkan perpindahan atom dari sisi kisi normalnya. Contoh : Proses Welding (Pengelasan)

Gambar 3. Vakansi

b.

Pengotor, atom asing yang hadir pada material. Logam murni yang hanya terdiri dari satu jenis atom adalah tidak mungkin. Impuritas bisa menyebabkan cacat titik pada kristal. Contoh : perak sterling adalah paduan 92,5% perak - 7,5% tembaga dimana perak yang ditambahkan tembaga akan menaikkan kekuatan mekaniknya secara signifikan. 1) Pengotor Intersisi 2) Pengotor Subtitusi

Gambar 4. Pengotor/atom asing

2. Cacat garis (dislokasi), merupakan pergeseran dari struktur butir karena adanya bagian yang kosong, sementara pada satu tempat terjadi penumpukan butir, maka pada saat itu diberi perlakuan butir yang akan mengisi ruang kosong di dekatnya. a. Dislokasi garis

Gambar 5. Dislokasi Garis

b. Dislokasi ulir

Gambar 6. Dislokasi Ulir

3. Cacat bidang, batas yang mempunyai dua dimensi yang biasanya memisahkan daerah-daerah pada material yang mempunyai struktur kristal dan/atau orientasi kristalografi yang berbeda. Cacat jenis ini antara lain: permukaan luar, batas butir, batas kembar, dll. a. Batas butir

Gambar 7. Batas butir

b. Batas kembar, adalah batas butir tipe khusus dimana terdapat simetri kisi cermin, yaitu atom-atom pada sebuah sisi batas berada pada posisi cermin dari atom-atom pada sisi lainnya . Daerah antara batas butir ini disebut kembar/twin.

Gambar 8. Batas kembar

4. Cacat volume, Cacat lainnya yang ada pada semua material padat dimana cacat ini lebih besar dari yang sudah dibicarakan adalah pori, retak, inklusi benda asing dan fasa-fasa lainnya. Cacat-cacat ini timbul biasanya selama tahap-tahap proses dan pabrikasi. http://www.scribd.com/doc/23978435/Material-Teknik-00-1

C. FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPACT 1. Bentuk takikan Bentuk takikan amat berpengaruh pada ketangguahan suatu material, karena adanya perbedaan distribusi dan konsentrasi tegangan pada masing-masing takikan tersebut yang mengakibatkan energi impact yang dimilikinya berbeda-beda pula. Berikut ini adalah urutan energi impact yang dimiliki oleh suatu bahan berdasarkan bentuk takikannya. Bentuk takikan yang digunakan pada specimen dalam pengujian tumbukan yaitu : a) Takikan segitiga Memiliki energi impact yang paling kecil, sehingga paling mudah patah. Hal ini disebabkan karena distribusi tegangan hanya terkonsentrasi pada satu titik saja, yaitu pada ujung takikan.

p Gambar 7. Takikan Segitiga

b) Takikan segi empat Memiliki energi yang lebih besar pada takikan segi tifga karena tegangan terdistribusi pada 2 titik pada sudutnya.

Gambar 8. Takikan Segiempat c) Takikan Setengah lingkaran Memiliki energi impact yang terbesar karena distribusi tegangan tersebar pada setiap sisinya, sehingga tidak mudah patah.

P P P

P P

Gambar 9. Takikan Setengah Lingkaran

2. Beban Semakin besar beban yang diberikan , maka energi impact semakin kecil yang dibutuhkan untuk mematahkan specimen, dan demikianpun sebaliknya. Hal ini diakibatkan karena suatu material akan lebih mudah patah apabila dibebani oleh gaya yang sangat besar. 3. Temperatur Semakin tinggi temperature dari specimen, maka ketangguhannya semakin tinggi dalam menerima beban secara tiba-tiba, demikinanpun sebaliknya, dengan temperature yang lebih rendah. Namun temperature memiliki batas tertentu dimana ketangguhan akan berkurang dengan sendirinya. Grafik dibawah ini akan menunjukkan hubungan antara temperature dengan energi impact, laju patah getas Y (%), beban mulur (P), dan beban maks. (Kg).

http://www.scribd.com/doc/51579999/ACCimpact-Test D. Tegangan Bidang (keadaan tegangan dalam dua dimensi)

Gambar 10. Tegangan dalam dua dimensi Pada kondisi praktis, tinjauan tegangan biasa disederhanakan menjadi kondisi tegangan dua dimensi seperti terlihat pada gambar 10. Pada gambar juga ditunjukkan matrik tegangan dan matrik regangannya. Persyaratan-persyaratan tegangan yang di jumpai dalam batangbatang yang di bebani secara aksial,poros-poros yang mengalami puntiran dan balok-balok adalah contoh-contoh dari suatu keadaan tegangan yang disebut tegangan bidang(plane stress) Dalam tegangan bidang,hanyalah permukaan-permukaan x dan y dari elemen ini yang di kenakan tegangan- tegangan dan semua tegangan berkerja sejajar sumbu x dan y. Sebuah tegangan normal memiliki sebuah indek bawah yang mengidentifikasi permukaan padamana tegangan ini berkerja. Tegangan positif menunjukkan tarik sebuah tegangan geser memiliki 2 indek bahwa: 1. Permukaan pada dimana tegangan berkerja 2. Menunjukkan arahnya pada permukaan.Jadi, tegangan xy berkerja pada permukaan x dalam arah sumbu y dan tegangan yx berkerja pada permukaan y dalam arah sumbu x. Tegangan geser positif bila bekerja pada permukaan positif dalam arah positif

dari salah satu sumbu koordinat, dan berharga negative apabila bekerja pada permukaan positif element tapi dalam arah negatif sumbu koordinat titik. Perjajian tanda untuk tegangan geser ini mudah diingat dengan menggunakan aturan bahwa, xy = yx Tegangan-tegangan yang bekerja pada element x1 y1 yang terotasikan ini dapat dinyatakan dalam tegangan-tegangan pada element xy dengan menggunakan persamaan-persamaan kesetimbangan static. Untuk maksud ini kita pilih sebuah element berbentuk baji (wedge shaped) yang permukaan miringnya adalah permukaan x1 dari elemen yang terotasikan itu dan yang ke dua permukaan lainnya sejajar sumbu-sumbu x dan y. Untuk menuliskan persamaan-persamaan kesetimbangannya,kita perlu mengetahui gaya-gaya yang bekerja pada permukaan-permukaannya. Baiklah kita nyatakan luas dari permukaan yang bekerja pada permukaan ini adalah xA0 dan xyA0.Luas permukaan alasnya(atau permukaan y negative) adalah A0 tan,dan luas permukaan miringnya (atau permukaan x1 posotif) adalah A0 sec. Jadi, gayagaya normal dan lintang yang bekerja pada permukaan perrmukaan sebelah kiri dan alas elemen sekarang dapat diuraikan ke dalam komponen komponen orthogonalnya yang bekerja dalam arah arah x1 dan y1. Kemudian kita dapat menjumlahkan gaya gaya dalam arah arah itu dan memperoleh dua buah persamaan kesetimbangan elemen. Persamaan pertama gaya gaya arah sumbu x adalah xA0 sec - xA0 cos xyA0 sin - yA0 tan sin yxA0 tan cos= 0 http://xeonisme.student.umm.ac.id/2010/07/13/tegangan-bidang/

E. TEGANGAN TIGA SUMBU

B Gambar 9. Tegangan dalam tiga dimensi

Pada gambar terlihat bahwa penumpukan plat yang tebal akan mengakibatkan tegangan yang tinggi. Bila tebal specimen (B) bertambah, maka x dan y akan mengecil karena adanya pengaruh momen inersia yang dialami specimen, dimana tegangan masing-masing dalam arah x dan y yaitu x dan y. Penekanan yang dilakukan pada arah sb. x dan sumbu y hanya akan menghasilkan pengaruh pada arah sumbu x dan y saja. Untuk ketebalan specimen yang lebih besar, tegangan yang dialami oleh sumbu x dan y

mengecil karena adanya tegangan ke tiga arah (triaksial) pada sumbu koordinat seperti yang terlihat pada gambar. http://www.google.co.id/imglanding?q=tegangan+tiga+sumbu&hl.com.

F. TIPE TIPE PERPATAHAN 1. Transgranular, merupakan perpatahan yang terjadi akibat retakan yang merambat melalui butiran material..

Gambar 10. Transgranular 2. Intergranular, merupakan perpatahan yang terjadi akibat retakan yang merambat di antara butiran material

Gambar 11. Intergranular http://www.sv.vt.edu/classes/MSE2094_NoteBook/97ClassProj/exper/ball ard/www/ballard.html

G. JENIS JENIS PERPATAHAN 1. Perpatahan Ulet Merupakan perpatahan yang terjadi akibat pembebanan yang berlebih dimana sebelumnya terjadi penyerapan energi dan deformasi plastis.

Gambar 12. Perpatahan Ulet


a. Penyempitan awal

b. Pembentukan rongga-rongga kecil (cavity) c. Penyatuan rongga-rongga membentuk suatu retakan d. Perambatan retak e. Perpatahan geser akhir pada sudut 45o

Gambar 13. Perpatahan Ulet

2.

Perpatahan Getas Merupakan perpatahan akibat penambahan retak tanpa keuletan dengan didahului oleh deformasi plastis, namun tidak disertai dengan penyerapan energi.

Gambar 14. Perpatahan Getas 3. Perpatahan Rapuh Merupakan perpatahan tanpa didahului oleh deformasi plastis dan penyerapan energi.

Gambar 16. Perpatahan Rapuh http://www.scribd.com/doc/23412605/Pengujian-Bahan-Material H. MODE MODE PERPATAHAN Perpatahan dapat pula diklasifikasikan berdasarkan arah beban yang diberikan terhadap material. Kita dapat menggambarkan arah tersebut sbb :
Y X Z

Gambar 17. Arah Perpatahan Pada Sumbu Jadi berdasarkan gambar diatas, dapat diperoleh 3 mode perpatahan, sebagai berikut. : 1. Mode I (opening shear) Merupakan perpatahan akibat pemberian beban yang

mengakibatkan tegangan yang arahnya tegak lurus dengan bidang perpatahan dan tegangan tersebut berada pada posisi yang sejajar berlawanan arah pada masing-masing sisi dari bahan. (sb.Y). Contoh : perpatahan pada shock breaker

Gambar 18. Arah Perpatahan Pada Sumbu

2. Mode II (In-Plane Shear) Pada mode ini tegangan terjadi pada sumbu Z dari bahan artinya melintang terhadap arah perpatahan. Hal ini terjadi karena beban diberikan tidak sejajar dan berlawanan arah pada kedua ujung material, sehingga seakan-akan terjadi sliding. Contoh : perpatahan pada kopling gesek

Gambar 19. Perpatahan Mode I (opening shear)

3. Mode III (Out-Plane Shear) Pada mode ini, tegangan terjadi pada sb. x dari bahan (vertical), dimana tegangan tsb berada pada arah yang tidak sejaajr dan berlawanan arah pada sb. x. Contoh : perpatahan pada roda gigi.

Gambar 20. Perpatahan Mode I (opening shear)

202.91.15.14/upload/files/8893_Bab_05_MPEL.pp I. FATIK DAN FAKTOR- FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA FATIK Fatik merupakan kelelahan yang timbul akibat pembebanan yang diberikan secara terus-menerus pada material. Adapun factor-faktor

penyebabnya, sebagai :berikut : 1. Tegangan maksimum yang cukup tinggi 2. Fluktuasi yang cukup tinggi 3. Siklus penyerapan yang cukup besar 4. Konsentrasi tegangan Temperatur ruangan dan specimen 5. Korosi 6. Kelebihan beban 7. Struktur metalurgi 8. Tegangan sisi 9. Tegangan kombinasi yang cenderung mengubah kondisi kelelahan. Fatik biasanya terjadi pada permukaan suatu specimen dimana pada specimen tersebut terjadi kelenturan, dan menyebabkan terjadinya tegangan tinggi di tempat yang tidak rata.

Gambar 21. Skema Fatik Skema menunjukkan atas suatu distribusi tegangan elastis pada balok di bawah M momen lentur tanpa tegangan sisa. Di pusat skema, distribusi tegangan sisa khas dikaitkan dengan perlakuan permukaan mekanis seperti peening shot rinci. Perhatikan bahwa tegangan tekan di permukaan adalah dikompensasi oleh tegangan tarik setara atas interior penampang. Dalam skema dasar, distribusi karena penjumlahan aljabar dari tegangan yang diterapkan (yang disebabkan oleh momen lentur M) dan tegangan sisa ditampilkan.Perhatikan bahwa tegangan tarik maksimum pada permukaan telah dikurangi dengan jumlah dari tegangan sisa. Juga, tegangan tarik puncak kini telah dipindahkan ke bagian dalam balok. Besarnya tegangan ini akan tergantung pada gradien tegangan dan distribusi tegangan sisa. Dengan kondisi tersebut, bawah permukaan retak awal menjadi suatu kemungkinan. http://www.scribd.com/doc/51579999/ACCimpact-Test 202.91.15.14/upload/files/8502_Bab_08_FATIK.ppt

J.

1. GRAFIK TRANSISI ULET GETAS Transisi Ulet Getas Temperatur Transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-beda. Jadi, nantinya terlihat bahwa suatu material yang apabila pada temperatur tinggi maka sifatnya akan ductile, dan apabila pada suhu rendah maka yang terjadi material tersebut cenderung brittle. Berbagai macam kriteria digunakan untuk menentukan temperature transisi, tergantung dari kegunaan aplikasi. Fenomena diatas berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan pada temperature yang berbeda dimana pada temperature kamar vibrasi terjadi dalam keadaan kesetimbangan dan akan meningkat seiring meningkatnya temperature. Dan vibrasi inilah yang menghalangi pergerakan dislokasi dan menyebabkan diperlukannya energi lebih besar untuk mematahkan benda uji dan sebaliknya. Untuk melihat temperature transisi, kita bisa menggunakan kurva yang disebut Kurva DBTT (Ductile-Brittle Temperature Transition) atau kurva temperature transisi ulet-getas. Pada kurva DBTT, plotting pada sumbu Y adalah energy yang dapat diserap material sebelum patah. sedangkan untuk sumbu X, kurva tersebut menunjukkan Temperatur. Pada kurva tersebut memperlihatkan perilaku patah suatu material ulet pada temperature tinggi dan getas pada temperature rendah.

Bentuk serta posisi kurva DBTT sangat penting dalam menentukan temperature transisi suatu material. Ada beberapa factor yang mempengaruhi kurva DBTT, yaitu struktur Kristal, atom interstisi, grain size, heat treatment, orientasi dari specimen dan ketebalan dari specimen. Dan pada paper ini akan dibahas hanya pada factor grain size terhadap kurva DBTT (temperature transisi) Dibawah ini merupakan kurva yang menunjukkan temperature transisi yang dipadukan dengan bentuk patahannya.

Gambar 22. Transisi Ulet Getas


1. Temperatur Transisi T1 adalah Temperatur dimana perpatahan 100%

ductile (fibrous).
2. Temperatur transisi T2 adalah Temperatur dimana perpatahannya 50%

ductile dan 50% cleavage

3. Temperatur Transisi T3 adalah Temperatur dimana energy diserap rata-

rata dari upper dan lower shelves.


4. Temperatur transisi T4 adalah temperature sebesar Cv = 20J 5.

Temperatur transisi T5 adalah temperature dimana perpatahan 100% cleavage.

6. Ukuran butir memiliki pengaruh yang besar terhadap temperature transisi.

Berikut ini adalah Kurva DBTT dari pengaruh grain size.

Gambar 23. Transisi Ulet Getas Dari grafik diatas, maka kita dapat mengetahui efek dari ukuran butir terhadap temperature transisi adalah semakin kecil ukuran butir, maka grafik DBTT akan bergeser ke kiri, yang berarti temperature transisinya akan berkurang. Hal ini dapat kita kaitkan dengan hubungan butir dengan sifat material. Dengan butir yang kecil, menyebabkan

material tersebut bersifat keras, dengan sifatnya yang keras itulah yang menyebabkan ketahanan impak akan berkurang dan efeknya pada temperature transisi yang akan menurun http://nurazizoctoviawan.blogspot.com/2010/11/temperatur-transisiadalah-temperatur.html

2.

GRAFIK S-N

Gambar 24. Grafik S-N

Grafik S-N diatas menunjukkan hubungan antara tegangan (S) dengan siklus sampai patah (N), semakain panjang nilai siklus perpatahan material maka akan mengakibatkan nilai tegangan material tersebut semakin menurun, begitu pula sebaliknyajika semakin pendek atau kecil nilai siklus perpatahan suatu material sehingga akan mengakibatkan nilai tegangan dari suatu material tersebut akan menjadi naik atau tinggi. Kekuatan tarik dapat dijadikan pedoman desain untuk konstruksi yang mengalami beban statis. Jumlah untuk siklus N yang dipukul oleh logam akan turun dengan naiknya tegangan kurva S-N yang akan diperoleh untuk perpatahan Fatik baja untuk desain M. tegangan perlu dibatasi yaiytu dibawah batas tegangan (Indarance limit). Kurva tersebut kita dapat lihat hubungan antara besarnya siklus yang dapat diterima bahan dengan tegangan yang dapat dinaikkan bahan sampai pada batas ketahanannya, maka tegangan yang dapat ditanggung akan tetap. Dalam siklus kelelahan situasi-tinggi, bahan kinerja umumnya ditandai oleh kurva SN, juga dikenal sebagai Whler kurva. Ini adalah grafik besarnya tegangan siklik (S)terhadap skala logaritmik siklus untuk

kegagalan (N)

Gambar 25. Kurva S-N kurva SN berasal dari tes pada sampel material yang ditandai (sering disebut kupon) dimana biasa sinusoidal stres diterapkan oleh mesin uji yang juga menghitung jumlah siklus untuk kegagalan. Proses ini kadang dikenal sebagai pengujian kupon. Setiap tes kupon menghasilkan sebuah titik pada plot meskipun dalam beberapa kasus ada runout dimana waktu kegagalan melebihi yang tersedia untuk ujian (lihatmenyensor ). Analisis data kelelahan memerlukan teknik dari statistik , khususnya analisis survival dan regresi linier www.instron.com/wa/applications/test.../impact/default.aspx

3.

GRAFIK HUBUNGAN TEMPERATUR DENGAN ENERGI IMPACT Telah dijelaskan sebelumnya bahwa temperature sangat

berpengaruh pada ketangguhan suatu material. Dimulai dari rapuh, yakni pada suhu yang sangat rendah. Pada tahap ini, akibat suhu yang sangat rendah mengakibatkan ukuran butir mengecil sehingga jarak antar butir semakin jauh, ikatan melemah, dan rapuh. Dengan demikian material amat mudah patah, sehingga energi yang dibutuhkan untuk mematahkannya sangat kecil pula. Selanjutnya dengan bertambahnya temperature, maka ukuran butir

makin membesar sehingga jaraknya semakin dekat dan ikatannya menguat serta ketangguhannya meningkat, namun masih getas. Dengan demikian energi impactnya meningkat. Kemudian apabila temperature makin meningkat, hingga material mencapai keuletan sampai pada temperature maksimalnya, energi yang dibutuhkan untuk

mematahkannya akan bertambah pula sampai nilai maksimum. Selanjutnya jika lewat dari titik ini, maka energi akan menurun karena adanya deformasi.

Gambar 26.Grafik Hubungan Antara Temperatur dan Energi Impact http://xeonisme.student.umm.ac.id/2010/07/13/temp-impact/

4.

GRAFIK HUBUNGAN TEMPERATUR DENGAN BEBAN

Gambar 27.Grafik Hubungan Antara Temperatur dan Beban

Penjelasan Grafik:
1. Titik I

Pada titik ini menunjukkan specimen diuji pada suhu -80o Cdan tingkat kegetasan 100% sehingga energy hamper dikatakan tidak ada.
2. Titik II

Pada titik ini menunjukkan specimen diuji pada suhu 60 o C dan tingkaat kegetasan 100% dengan energy yang mulai ada.
3. Titik III pada titik ini menunjukkan specimen diuji pada suhu -40 o C dan

tingkat kegetasan sudah mulai turun menjadi 45% dengan energy kurang lebih 1 Kg.m.
4. Titik IV

Pada titik ini menunjukkan specimen diuji pada suhu 20o C dan tingkat kegetasan mulai turun menjadi 70% dengan energy kurang lebih 2 Kg.m
5. Titik V

Pada titik ini menunjukkan specimen diuji pada suhu 20 o C dan tingkat kegetasan mulai turun menjadi 20% dengan energy yang dihasilkan kurang lebih 12 Kg.m 6. Titik VI

Pada titik ini kondisi sudah mencapai titik maksimum dan energinya sudah mencapai 16 Kg.m sehingga suhunya naik, sehingga specimen tidak akan bertambah ulet Hubungan antara Temperatur (0C) dengan Beban Maksimum (Ps) dan Beban Patah (Pb). Pada grafik di atas diperlihatkan bahwa pada kuva I sampai pada kurva III beban maksimum (Ps) suatu material akan naik seiring dengan bertambahnya temperatur sehingga pada tahap ini material bersifat getas. Sehingga pada saat mencapai beban maksimum maka material tersebut akan mengalami beban break pula. Sedangkan pada kurva IV sampai VI diperlihatkan bahwa beban maksimum (Ps) maupun beban break (Pb) akan turun seiring dengan bertambahnya temperatur. Pada tahap ini material bersifat ulet sehingga ketika material mencapai beban maksimum, material tersebut tidak langsung mengalami beban break tetapi material tersebut terlebih dahulu melewati tahap necking setelah itu barulah terjadi beban break (Pb).

http://www.scribd.com/doc/3403424/impact_test

5. GRAFIK BEBAN VS WAKTU

Gambar 28. Grafik Beban VS Waktu http://yefrichan.wordpress.com/2010/05/page/7/

K. Sifat-Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam pemilihan material, sifat tersebut adalah: a. Sifat mekanik

b. Sifat fisik c. Sifat teknologi

Dibawah ini akan dijelaskan secara terperinci tentang sifat-sifat material tersebut, diantaranya: 1. Sifat Mekanik Sifat mekanik material, merupakan salah satu faktor terpenting yang mendasari pemilihan bahan dalam suatu perancangan. Sifat mekanik dapat diartikan sebagai respon atau perilaku material terhadap pembebanan yang diberikan, dapat berupa gaya, torsi atau gabungan keduanya. Dalam prakteknya pembebanan pada material terbagi dua yaitu beban statik dan beban dinamik. Perbedaan antara keduanya hanya pada fungsi waktu dimana beban statik tidak dipengaruhi oleh fungsi waktu sedangkan beban dinamik dipengaruhi oleh fungsi waktu. Untuk mendapatkan sifat mekanik material, biasanya dilakukan pengujian mekanik. Pengujian mekanik pada dasarnya bersifat merusak (destructive test), dari pengujian tersebut akan dihasilkan kurva atau data yang mencirikan keadaan dari material tersebut. Setiap material yang diuji dibuat dalam bentuk sampel kecil atau spesimen. Spesimen pengujian dapat mewakili seluruh material apabila berasal dari jenis, komposisi dan perlakuan yang sama. Pengujian yang tepat hanya didapatkan pada material uji yang memenuhi aspek ketepatan pengukuran, kemampuan mesin, kualitas

atau jumlah cacat pada material dan ketelitian dalam membuat spesimen. Sifat mekanik tersebut meliputi antara lain: kekuatan tarik, ketangguhan, kelenturan, keuletan, kekerasan, ketahanan aus,

kekuatan impak, kekuatan mulur, kekeuatan leleh dan sebagainya. Sifar-sifat mekanik material yang perlu diperhatikan: 1) Tegangan yaitu gaya diserap oleh material selama berdeformasi persatuan luas. 2) Regangan yaitu besar deformasi persatuan luas. 3) Modulus elastisitas yang menunjukkan ukuran kekuatan material. 4) Kekuatan yaitu besarnya tegangan untuk mendeformasi material atau kemampuan material untuk menahan deformasi. 5) Kekuatan luluh yaitu besarnya tegangan yang dibutuhkan untuk mendeformasi plastis. 6) Kekuatan tarik adalah kekuatan maksimum yang berdasarkan pada ukuran mula. 7) Keuletan yaitu besar deformasi plastis sampai terjadi patah. 8) Ketangguhan yaitu besar energi yang diperlukan sampai terjadi perpatahan. 9) Kekerasan yaitu kemampuan material menahan deformasi plastis lokal akibat penetrasi pada permukaan.

2.

Sifat Fisik

Sifat penting yang kedua dalam pemilihan material adalah sifat fisik. Sifat fisik adalah kelakuan atau sifat-sifat material yang bukan disebabkan oleh pembebanan seperti pengaruh pemanasan, pendinginan dan pengaruh arus listrik yang lebih mengarah pada struktur material. Sifat fisik material antara lain : temperatur cair, konduktivitas panas dan panas spesifik. Struktur material sangat erat hubungannya dengan sifat mekanik. Sifat mekanik dapat diatur dengan serangkaian proses perlakukan fisik. Dengan adanya perlakuan fisik akan membawa penyempurnaan dan pengembangan material bahkan penemuan material baru.

3. Sifat Teknologi Selanjutnya sifat yang sangat berperan dalam pemilihan material adalah sifat teknologi yaitu kemampuan material untuk dibentuk atau diproses. Produk dengan kekuatan tinggi dapat dibuat dibuat dengan proses pembentukan, misalnya dengan pengerolan atau penempaan. Produk dengan bentuk yang rumit dapat dibuat dengan proses pengecoran. Sifat-sifat teknologi diantaranya sifat mampu las, sifat mampu cor, sifat mampu mesin dan sifat mampu bentuk. http://yefrichan.wordpress.com/2010/05/21/sifat--sifat-material/

4.

Sifat Kimiawi

Sifat kimia adalah kemampuan suatu logam dalam mengalami peristiwa korosi. Korosi adalah terjadinya reaksi kimia antara suatu bahan dengan lingkungannya. Secara garis besar ada dua macam korosi, yaitu korosi karena efek galvanis dan reaksi kimia langsung.

Sifat pengerjaan adalah suatu sifat yang timbul setelah diadakannya proses pengolahan tertentu . Sifat pengerjaan ini harus diketahui terlebih dahulu sebelum pengolahan logam dilakukan. Ada dua macam pengerjaan yang biasa dilakukan yaitu sebagai berikut :

a. Mineral Mineral merupakan suatu bahan yang banyak terdapat di dalam bumi, yang mempunyai bentuk dan ciri-ciri khusus serta mempunyai susunan kimia yang tetap. Mineral memliki ciri-ciri khas antara lain: 1) Warna, mineral mempunyai warna tertantu, misalnya malagit berwarna hijau, lazurit berwarna biru, dan ada pula mineral yang memiliki bermacam-macam warna misalnya kuarsa. 2) Cerat, merupakan warna yang timbul bila mineral tersebut digoreskan pada porselen yang tidak dilicinkan. 3) Kilatan merupakan sinar suatu mineral apabila memantulkan cahaya yang dikenakan kepadanya. Misalnya emas, timah, dan tembaga yang mempunyai kilat logam. Kristal atau belahan merupakan mineral yang mempunyai bidang datar halus. Misalnya, seng, bentuk kristalnya dapat dipecah-pecah menjadi beberapa kubus dan patahannya akan

terlihatk dengan jelas. Setiap mineral memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. Contohnya bentuk kubus pada galmer (bilih seng), bentuk heksagonal (enam bidang) pada kuarsa. dan lain-lain. 4) Berat jenis, mineral mempunyai berat jenis antara 2 4 ton/m2. Berat jenis ini akan berubah setelah diolah menjadi bahan. http://najmi156.blogspot.com/2009/04/material-teknik.html