Anda di halaman 1dari 4

Pajak Berganda Pajak Berganda bisa timbul karena penerapan azas (dasar) pengenaan pajak oleh masing-masing negara

a berbeda. Misalnya, cabang perusahaan Amerika Serikat di Indonesia akan dikenakan PPh di Indonesia berdasarkan azas sumber penghasilan. Selain itu atas penghasilan yang sama pihak otoritas atas pajak penghasilan di Amerika (IRS =Internal Revenue Service) akan mengenakan pajak berdasarkan azas kewarganegaraan atau azas domisili. Kejadian ini menimbulkan dua kali pengenaan pajak atas objek dan subjek yang sama. Jika di Indonesia, misalnya kena tarif 30% dan di Amerika Serikat, misalnya kena tarif 40%, maka total atas penghasilan yang sama dikenakan tarif 70% (30% + 40%). Pengenaan pajak berganda bisa juga timbul disebabkan karena perbedaan definisi mengenai undang-undang pajak pada masing-masing negara. Sebagai contoh, perbedaan definisi tentang subjek pajak antara beberapa negara yang akan menimbulkan potensi pengenaan pajak berganda oleh berbagai negara tersebut. Contoh: Si Polan warga negara Amerika Serikat tinggal selama delapan bulan di Indonesia. Pada saat yang sama Si Polan menerima penghasilan dari negara Singapura. Apabila negara Amerika Serikat menganut azas kewarganegaraan dalam menentukan subyek pajaknya, maka Amerika Serikat akan mengenakan pajak atas penghasilan yang diperoleh Si Polan.

Indonesia mendefinisikan subjek pajak LN adalah orang yang tinggal lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari di Indonesia, maka Indonesia juga akan mengenakan pajak atas penghasilan Si Polan tersebut. Begitu juga, jika negara Singapura mengenakan azas sumber dalam menentukan obyek pajaknya, maka negara Singapura juga akan mengenakan pajak atas penghasilan Si Polan yang bersumber dari negaranya. Dengan demikian dalam contoh kasus ini, terdapat pajak berganda. Tiga negara (Amerika Serikat, Singapura dan Indonesia) mengenakan pajak atas penghasilan (obyek pajak) yang sama dan subjek pajak yang sama. Untuk menghindari contoh kasus ini dilakukan perjanjian pajak (tax treaty) antara satu negara dengan negara lainnya, yang dikenal dengan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B).

Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Dalam rangka memberi kepastian dalam penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B), pada tanggal 30 April 2010 Direktur Jenderal Pajak menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No.PER-24/PJ/2010 tentang perubahan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No.PER-61/PJ/2009 tentang tata cara penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Dalam Pasal 3 peraturan ini diatur bahwa Pemotong / Pemungut Pajak harus melakukan pemotongan atau pemungutan pajak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam P3B, dalam hal :

1. Penerima penghasilan bukan Subjek Pajak Dalam Negeri Indonesia, 2. Persyaratan administratif untuk menerapkan ketentuan yang diatur dalam P3B telah dipenuhi, dan 3. Tidak terjadi penyalahgunaan P3B oleh WPLN sebagaimana dimaksud dalam ketentuan tentang pencegahan penyalahgunaan P3B. Dalam hal ketentuan tersebut tidak terpenuhi, Pemotong / Pemungut Pajak wajib memotong atau memungut pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU No.7 Th.1983 tentang PPh sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No.36 Th.2008. Persyaratan administratif yang dimaksud dalam ketentuan tersebut adalah Surat Keterangan Domisili (SKD) yang disampaikan oleh WPLN kepada Pemotong / Pemungut Pajak : 1. Menggunakan Form DGT 1 atau Form DGT 2, 2. Telah diisi oleh WPLN dengan lengkap, 3. Telah ditandatangani oleh WPLN atau diberi tanda yang setara dengan tanda tangan sesuai dengan kelaziman di negara mitra P3B, 4. Telah disahkan oleh pejabat yang berwenang, wakilnya yang sah, atau pejabat kantor pajak yang berwenang di negara mitra P3B, yang dapat berupa tanda tangan atau diberi tanda yang setara dengan tanda tangan sesuai dengan kelaziman di negara mitra P3B, dan 5. Disampaikan sebelum berakhirnya batas waktu dengan penyampaian SPT Masa untuk masa pajak terutangnya pajak.

Form DGT 1 yang disampaikan kepada Pemotong / Pemungut Pajak setelah berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Masa untuk masa pajak terutangnya pajak, tidak dapat dipertimbangkan sebagai dasar penerapan ketentuan yang diatur dalam P3B. Pemotong / Pemungut Pajak wajib menyampaikan fotokopi Form DGT 1 atau Form DGT 2 yang diterima dari WPLN sebagai lampiran SPT Masa. Form DGT 2 digunakan dalam hal WPLN menerima atau memperoleh penghasilan melalui Kustodian sehubungan dengan penghasilan dari transaksi pengalihan saham atau obligasi yang diperdagangkan atau dilaporkan di pasar modal di Indonesia, selain bunga dan dividen. Form DGT 2 juga digunakan dalam hal WPLN bank dan WPLN yang berbentuk dana pensiun yang pendiriannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di negara mitra P3B Indonesia dan merupakan Subjek Pajak di negara mitra P3B Indonesia. Bukti pemotongan atau pemungutan pajak wajib dibuat oleh Pemotong / Pemungut Pajak sesuai dengan ketentuan dan tata cara yang berlaku. Dalam hal terdapat penghasilan yang diterima atau diperoleh WPLN tetapi tidak terdapat pajak yang dipotong atau dipungut di Indonesia berdasarkan ketentuan yang diatur dalam P3B, Pemotong / Pemungut Pajak tetap diwajibkan untuk membuat bukti pemotongan atau pemungutan pajak. Informasi lebih detail dan teknis, silahkan lihat di : Perdirjen Pajak No.PER-24/PJ/2010 Perdirjen Pajak No.PER-61/PJ/2009 dan ralatnya SE Dirjen Pajak No.SE-114/PJ/2009.