Anda di halaman 1dari 5

Mineral Lempung Merupakan kelompok mineral, kristalnya sangat kecil, hanya dapat dilihat dan dibedakan dengan mikroskop,

biasanya dengan mikroskop elektron. Berdasarkan struktur kristal dan variasi komposisinya dapat dibedakan menjadi belasan jenis mineral lempung. Mineral lempung merupakan koloid dengan ukuran sangat kecil (kurang dari 1 mikron). Masing-masing koloid terlihat seperti lempengan-lempengan kecil yang terdiri dari lembaranlembaran kristal yang memiliki struktur atom yang berulang. Lembaran-lembaran kristal yang memliki struktur atom yang berulang tersebut adalah: 1. Tetrahedron / Silica sheet Merupakan gabungan dari Silica Tetrahedron 2. Octahedron / Alumina sheet Merupakan gabungan dari Alumina Octahedron.

Pembentukan Mineral Lempung


Mineral lempung terbentuk di atas permukaan bumi dimana udara dan air berinteraksi dengan mineral silikat, memecahnya menjadi lempung

Mineral lempung adalah mineral sekunder yang terbentuk karena proses pengerusakan atau pemecahan dikarenakan iklim dan alterasi air (hidrous alteration) pada suatu batuan induk dan mineral yang terkandung dalam batuan itu.

Asal Mula jadi Lempung atau clay merupakan material yang terdiri dari mineral kaya alumina, silika dan air.

Jenis Jenis Mineral Lempung Jenis mineral lempung yang utama ialah: - Kaolinit 1:1 Al2 (Si2O5 (H2O))

memperlihatkan strong peak pada 7 , serupa dengan smektit dan klorit basal kedua. Namun kaolin tidak memperlihatkan perubahan bila diberi larutan glikol dandestroyed saat dipanaskan 550oC. Ciri inilah yangmembedakannya dengan klorit dan smektit.

- Illit 2:1 KAl2 (AlSi3O10 (OH)2) umumnya menunjukkan strong peak pada ~10 dan tidak menunjukkan perubahan bilamana preparat diberi glikolataupun dipanaskan.

- Smektit 2:2 (AlMg)4 Si8 O20 (OH)10) umumnya memperlihatkan strong peak pada ~14 untuk basal pertama dan mengembang menjadi 17 bilamana preparat (conto lempung) diberi larutan glikol, namun strongpeak relatif tetap 14 bila conto dipanaskan 550oC. Basal kedua dan ketiga akan memperlihatkan panjang gelombang ~7 dan 3.5 .

- Klorit 2:1:1 (MgFe)6-x (AlFe)x Si4-x Alx (OH)10 akan memperlihatkan strong peak pada ~14 dan tidakmemperlihatkan perubahan walaupun telah diberi glikol, tetapi intensitasnya meningkat bila dipanaskan hingga 550oC.

Ortoklas, apabila lapuk dan terubah menjadi illit, manakala Kplagioklas, amphibol dan piroksin pula selalunya menjadi smektit. Berdasarkan struktur kristal dan variasi komposisinya dapat dibedakan menjadi belasan jenis mineral lempung dan diantaranya: kaolinit halloysite momtmorillonite (bentonites)

illite smectite vermiculite chlorite attapulgite allophone

Dalam dunia perdangan kita mengenal beberapa tipe mineral lempung, diantaranya adalah: Ball clay Bentonite Common clay Fire clay Fullers earth Kaolin.

Metode Penentuan Jenis Mineral Lempung Dalam penentuan jenis mineral lempung baik secara kimia maupun secara fisik telah dikembangkan berbagai metode dengan menggunakan alat mulai dari yang sederhana sampai penggunaan alat yang modern. Menurut Sastiono (1997) dan Sjarif (1991), penentuan mineral lempung secara kualitatif dan kuantitatif dapat dibagi atas dua kelompok besar, yaitu : 1. metode berdasarkan sifat kimia 2. metode berdasarkan sifat fisik. Salah satu metode berdasarkan sifat fisik adalah penggunaan sinar X. Penggunaan sinar X untuk analisis mineral lempung mempunyai kemampuan untuk mengetahui jenis mineral lempung secara kualitatif dan kuantitatif bahkan juga untuk menentukan sifat-sifat khas dari suatu mineral lempung (Sjarif, 1991). Penggunaan sinar x terutama untuk mineral yang bersifat kristalin, sedangkan untuk mineral yang sulit diidentifikasi dengan sinar X digunakan

analisis thermal (Sastiono, 1997). Setiap metode mempunyai kelemahan dan kelebihan, sehingga kombinasi beberapa metode perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Proses Interkalasi dalam Mineral Lempung Kelemahan dari lempung di alam adalah rusaknya struktur lapis dan hilangnya porositas karena pemanasan pada suhu tinggi (Cool dan Vansant, 1998). Hal ini dapat diatasi dengan melakukan proses penyisipan ion atau molekul ke dalam interlayer yang dikenal dengan proses interkalasi. Pemanasan interkalat akan menghasilkan pilar, sehingga proses ini lebih dikenal dengan sebutan proses pilarisasi. Pilarisasi dapat dilakukan dengan menginterkalasikan polikation hidroksi terhadap lempung. Selanjutnya dikalsinasi sehingga membentuk pilar-pilar oksida logam (Yang dkk., 1992). Berbagai macam kation dapat digunakan sebagai agen pemilar, antara lain ion-ion alkil ammonium, kation amina bisiklis, dan beberapa kation kompleks seperti kelat serta kation hidroksi logam polinuklir dari Al, Zr, Ti, Fe, dan lain-lain (Clearfield, Yang dkk., 1992). Lempung terpilar memiliki beberapa kelebihan, antara lain stabilitas termal yang lebih tinggi, volume pori dan luas permukaan yang lebih besar. Adanya sifat unggul dari lempung terpilar menjadikan material tersebut potensial untuk digunakan sebagai adsorben. Penelitian terus berlanjut sampai ditemukan metode baru dalam sintesis lempung terpilar, yaitu interkalasi surfaktan ionik ke dalam rongga antarlapis lempung. Penambahan surfaktan bertujuan untuk membuka rongga pada antarlapis lempung sehingga mudah untuk diinterkalasi lebih lanjut dengan kation logam. Dengan adanya surfaktan diharapkan akan mampu meningkatkan porositas serta luas permukaan dibandingkan dengan lempung terpilar tanpa surfaktan. Keberhasilan interkalasi ke dalam struktur lempung bentonit diharapkan menjadikan lempung bentonit sebagai pengadsorb (penyerap) bahan limbah yang efektif pada minyak daun cengkeh dan juga ke depan dapat digunakan sebagai adsorben untuk logam berat dengan kemampuan ion exchange-nya.
Asal Pembentukan Mineral Lempung Mineral lempung terbentuk di atas permukaan bumi dimana udara dan air berinteraksi dengan mineral silikat, memecahnya menjadi lempung.

Kaolin adalah mineral lempung paling tidak aktif yang pernah diamati. Kaolin dapat dihasilkan oleh pelapukan beberapa mineral lempung yang lebih aktif atau dapat juga terbentuk langsung dari produk sampingan pelapukan batuan. Keluarga kaolin adalah haloisit (hauoysite). Mineral ini berbeda dari kaolin, karena tertumpuk secara lebih acak sehingga satu molekul air dapat masuk diantara satuan-satuan. Mineral ini juga berbeda dari kaolin disebabkan lembaran-lembaran elemennya tergulung menjadi suatu silinder. Dehidrasi akibat

panas sebesar 60 sampai 70 C, dan bahkan pengeringan udara, sering dapat mengubah haloisit ini secara permanen, sehingga menjadi 2H20 atau sama sekali meniadakan molekul air dan berubah menjadi kaolin. Sifat-sifat teknis dari haloisit sangat berbeda dengan kaolin, karena pengeringan udara dapat mempengaruhi reaksi-reaksi kimia yang secara tidak langsung dapat di ukur dengan batas Atterberg. Dalam analisis diperlukan ketelitian untuk mendapatkan contoh yang realitis antara batas Atterberg dan analisis hidrometer. Mineral lempung illit diturunkan dari muskovit (mika) dan biotit dan kadang-kadang disebut lempung mika. Mineral lempung illit, terdiri atas lapisan gibsit oktahedral yang terletak diantara dua lapisan silika tetrahedra. Hal ini menghasilkan mineral 1 : 2, dengan tambahan perbedaan dimana beberapa posisi silika akan terisi oleh atom-atom aluminium dan ion-ion potasium ikut berada di antara lapisan-lapisan untuk mengatasi kekurangan muatan. Rekatan seperti ini mengakibatkan kondisi yang kurang stabil jika dibandingkan dengan kaolin, karena itu aktivitas illit adalah lebih besar. Vermikulit merupakan mineral lempung dalam keluarga illit yang bersifat sama, kecuali molekul air lapisan-ganda di antara lapisan-lapisannya diselangi dengan ion-ion kalsium atau magnesium, dengan substitusi oleh brusit sebagai pengganti gibsit di dalam lapisan oktahedralnya.