Anda di halaman 1dari 10

Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia / Manula

Post Description : Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia Manula, askep gerontik, tinjauan teori, penampilan fisik, kesadaran, fungsi afektif, patologik, Geriatric Depresion scale (Yesavage & brink, 1983 ), karakteristik bicara, orientasi, perhatian konsentrasi, memori, persepsi, isi proses pikir Ditulis oleh: Kang Kapuk - Sabtu, 08 Oktober 2011 kapukonline.com update Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia / Manula - ASKEP GERONTIK, Posting ini berkaitan dengan ( Baca : Proses Menjadi Lanjut Usia / Menua )

I. PENDAHULUAN
Populasi penduduk lanjut usia ( lansia ) di Indonesia saat ini khususnya yang berusia diatas 60 tahun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada tahun 2005 2010 diperkirakan jumlah lansia adalah 8,5 % dari jumlah seluruh penduduk Indonesia atau sekitar 19 juta jiwa. Kondisi tersebut akan menimbulkan berbagai perubahan pada masalah kesehatan baik fisik maupun mental pada populasi ini.

Golongan lansia dapat mengalami berbagai gangguan mental seperti pada kelompok usia yang lebih muda. Untuk mengidentifikasi masalah mental yang muncul pada lansia perlu dilakukan pengkajian. Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal yang menentukan langkah berikutnya untuk menentukan diagnosa keperawatan dan perencanaan. Pengkajian keperawatan pada klien psikogeriatri merupakan proses yang komplek. Pengaruh aspek biologik, psikologik, dan sosiokultural akibat proses penuaan menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi masalah yang muncul. Pengkajian status mental merupakan pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data tentang fungsi psikososial. Pengkajian ini meliputi : Penampilan umum klien, kesadaran, Fungsi afektif, Karakteristik bicara, orientasi, perhatian dan konsentrasi, penilaian, memori, persepsi, serta isi dan proses pikir. Pengkajian ini bertujuan untuk menentukan pikiran pikiran dan proses mental yang mempengaruhi pada pencapaian tingkat optimal dari fungsi lansia. Pengkajian ini terintegrasi dalam wawancara dan pemeriksaan fisik.

II. TINJAUAN TEORI


PENGKAJIAN STATUS MENTAL LANSIA PENAMPILAN UMUM

Penampilan umum dapat memberikan gambaran mengenai fungsi psikologik. Penampilan umum meliputi : Penampilan fisik, koordinasi gerakan, ekspresi muka dan postur tubuh. Penampilan fisik meliputi : cara berpakaian, cara berdandan, perawatan dan kebersihan diri. Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji penampilan umum : 1. Apakah penampilan fisik klien menandakan adanya gangguan fungsi psikologik ? 2. Apakah gaya berjalan, postur tubuh dan ekspresi muka menandakan adanya gangguan psikologik ? 3. Apakah ada tanda tanda tardive dyskineksia atau efek yang kurang baik akibat medikasi ? Tabel 1 Penampilan umum berhubungan dengan fungsi psikologik

TANDA

KETERANGAN Penampilan fisik : pakaian compang camping, tidak rapi, kau badan tidak sedap dapat dihubungkan dengan adanya depresi, tetapi perlu dikaji faktor lain seperti : adanya inkontinensia, kemampuan kognitif, kondisi keuangan, gangguan pengelihatan/ penciuman, dan kemampuan melakukan perawatan diri.

Penampilan fisik

Postur tubuh

Postur tubuh yang bukuk dapat menandakan adanya depresi

Koordinasi gerak : gaya berjalan

Gaya berjalan yang tidak terkoordinasi atau tardive dyskineksia dapat diakibatkan oleh efek pengobatan psikotropika Gaya berjalan dengan lambaian tangan seolah olah tubuh lemah dengan kepala ditekuk dapat menandakan adanya depresi dan menarik diri.

Ekspresi muka

Ekspresi muka dengan kontak mata ynag kurang dapat menandakan adanya depresi.

KESADARAN

Kesadaran adalah kemampuan individu untuk mengadakan hubungan dengan lingkungannya serta dengan diri sendiri ( melalui panca indra ). Bila kesadaran baik ( tidak menurun ) maka kemampuan orientasi seperti waktu, tempat dan orang akan baik serta dapat mengolah informasi yang masuk secara efektif ( melalui daya ingat dan pertimbangan ). Dalam menilai tingkat kesadaran perlu dipertimbangkan : 1. Pengaruh medikasi 2. Gangguan afektif 3. Kondisi patologik Tabel 2 Beberapa tingkatan penurunan kesadaran

Tingkat kesadaran

KETERANGAN

Apati

Keadaan mengantuk dan acuh tak acuh terhadap rangsang yang masuk, diperlukan rangsang yang lebih keras dari biasanya untuk menarik perhatiannya.

Somnolen

Keadaan sangat mengantuk, diperlukan rangsang yang lebih keras dari biasanya untuk menarik perhatiannya.

Sopor

Hanya bereaksi dengan rangsang yang keras , ingatan , orientasi dan pertimbangan sudah hilang

Koma

Tidak ada lagi respon terhadap rangsang yang keras sekalipun.

Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji tingkat kesadaran : 1. Apakah tingkat kesadaran klien saat ini ? 2. Apakah ada fluktuasi pada tingkat kesadaran klien . Jika ada apakah ada pola tertentu ? 3. Apakah ada faktor fisik yang mempengaruhi tingkat kesadaran, misal : pengaruh medikasi, kondisi patologik, dan gangguan afektif ? 4. Apakah ada faktor psikososial yang mempengaruhi tingkat kesadaran misal : cemas, depresi, atau gangguan tidur ? FUNGSI AFEKTIF

Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji fungsi afektif pada lansia yaitu : 1. Penting untuk mengkaji arti dari suatu kejadian bagi lansia dengan mengkaji kedalaman dan lamanya afek yang ditampilkan 2. Ekspresi emosi dipengaruhi oleh budaya dan karakteristik personal 3. Pada lansia biasanya tidak mengekspresikan perasaannya secara langsung/ verbal. Oleh karena iti penting untuk mengobservasi adanya reaksi tidak langsung/ non verbal dari lansia. 4. Penting untuk menggunakan istilah istilah yang dapat diterima oleh lansia pada saat wawancara dengan berfokus pada perasaan yang dirasakan oleh lansia. Dapat diawali dengan menggunakan open ended question misalnya : bagaimana kabarnya hari ini ? Tabel 3 Temuan temuan pada Fungsi afektif

AFEK

KETERANGAN

Afek tidak serasi

Respon emosional yang tidak sesuai dengan pikiran, pembicaraan

Afek tumpul

Respon emosional yang sangat kurang

Afek ambivalen

Dua jenis perasaan yang berlawanan terhadap suatu objek yang timbul pada saat yang bersamaan

Euforia

Kegembiraan berlebihan tidak sesuai dengan realitas

Depresi

Perasaan sedih, murung, susah. depresi sering disertai dengan gejala somatik : pusing, konstipasi, nyeri perut, nyeri otot, nafsu makan berkurang dan insomnia. Kecemasan, kekawatiran, was was, takut. Sering disertai dengan gejala somatik : ketegangan motorik ( gemetar, tegang, nyeri otot, mudah kaget, gelisah ) dan hiperaktivitas

Anxietas

saraf otonomik ( berkeringat , telapak tangan lembab, jantung berdebar cepat, mulut kering, pusing, kesemutan, rasa mual, sering kencing, dan rasa tidak enak di ulu hati ) Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji fungsi afektif : 1. Bagaimana perasaan klien saat ini ? 2. Apakah indikator yang menggambarkan mood/ rasa cemas / depresi pada klien ? 3. Apakah ada faktor faktor dibawah ini yang mengakibatkan cemas pada klien seperti : kondisi patologik, pengobatan atau intervensi yang berpengaruh pada sistem saraf pusat ? 4. Cara yang dilakukan oleh klien untuk mengatasi perasaannya yang tidak seperti biasanya ? 5. Apakah ada hal yang ingin didiskusikan mengenai perasaaan klien ? Gangguan fungsi afektif pada lansia yang sering terjadi adalah depresi. The Geriatric Depresion scale ( GDS ) adalah pengukurang yang valid dan reliabel untuk menentukan adanya depresi. Pemakaian GDS dapat memudahkan klien mengungkapkan sikap dan perasaan yang sulit diutarakan yang sebetulnya berkaitan dengan depresi. Tabel 4 The Geriatric Depresion scale (Yesavage & brink, 1983 )

No PERTANYAAN

JAWABAN

Apakah pada dasarnya anda puas dengan kehidupan anda ?

TIDAK

Sudahkah anda meninggalkan aktivitas dan minat YA anda ?

Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong ? YA

Apakah anda sering bosan ?

YA

Apakah anda mempunyai semangat setiap waktu TIDAK ?

Apakah anda takut sesuatu akan terjadi pada anda YA ?

Apakah anda merasa bahagia disetiap waktu ?

TIDAK

Apakah anda merasa jenuh ?

YA

Apakah anda lebih suka tinggal dirumah pada malam hari, dari pada pergi melakukan sesuatu yang baru ?

YA

10 Apakah anda merasa bahwa anda lebih banyak mengalami masalah dengan ingatan anda daripada yang lainnya ? YA

11 Apakah anda berfikir sangat menyenangkan hidup sekarang ini ?

TIDAK

12 Apakah anda merasa tidak berguna saat ini ?

YA

13 Apakah anda merasa penuh berenergi saat ini ?

TIDAK

14 Apakah anda saat ini sudah tidak ada harapan lagi ?

YA

15 Apakah anda berfikir banyak orang yang lebih baik dari anda ?

YA

Keterangan : Nilai 1 poin untuk setiap respon yang cocok dengan jawaban ya dan tidak setelah pertanyaan. NILAI 5 ATAU LEBIH DAPAT MENANDAKAN DEPRESI KARAKTERISTIK BICARA

Karakteristik bicara meliputi : pemahaman , artikulasi, jeda, kualitas, kuantitas dan koheren. Faktor budaya dapat mempengaruhi karakteristik bicara. Observasi untuk mengkaji karakteristik bicara : 1. Apakah klien dapat menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan ? 2. Apakah jeda bicara normal, lambat atau cepat ? 3. Apakah nada suara menunjukan perasaan tertentu seperti marah, bermusuhan, sedih, putus asa, dll ? 4. Apakah suara terdengar lembut atau keras ? 5. Apakah adal kesulitan artikulasi ? 6. Apakah kalimat kalimat yang diucapkan lansia koheren ? 7. Apakah terdapat faktor faktor dibawah ini yang dapat berpengaruh terhadap karakteristik bicara seperti : mulut kering, ompong, adanya efek medikasi atau alcohol ? 8. Apakah ada tanda tanda agnosia, pengulangan kata atau aphasia ? ORIENTASI Orientasi meliputi orientasi terhadap tempat, orang dan waktu. Wawancara untuk mengkaji orientasi klien : 1. Orang : Siapakah nama anda, Siapakah nama anak anda ? Siapakah nama istri/ suami anda ?, dll 2. Waktu : Jam berapa sekarang ? , Kapan waktu anda makan pagi ? Hari apa sekarang ? , Bualan apa sekarang ? , dll 3. Tempat : Dimanakan saudara saat ini ? , Dimanakah alamat saudara ? Apa nama kota ini ? , Apakah nama tempat ini ? dll. PERHATIAN DAN KONSENTRASI Perawat harus mengobservasi dan mencatat respon yang ditampilkan oleh lansia pada saat pengkajian , yaitupada saat menjawab pertanyaan. Observasi untuk mengkaji perhatian dan konsentrasi : 1. Bagaimana tingkah laku klien saat wawancara ? 2. Apakah klien bersemangat dalam menjawab pertanyaan ? 3. Jika tidak menjawab pertanyaan atau jawaban yang diberikan salah apakah karena tidak mampu, factor cultural atau kurang motivasi ? 4. Apakah ada tanda tanda marah, bermusuhan, sedih, putus asa, dll ? PENILAIAN Penilaian merupakan kemampuan menilai suatu situasi secara benar dengan berbuat sesuai dengan situasi yang ada.

Observasi dan wawancara yang dapat dilakukan untuk mengkaji penilaian klien : 1. Apakah klien berpakaian dan berdandan sesuai dengan situasi ? 2. Apakah klien mengetahui cara mencari pertolongan jika membutuhkan bantuan ? MEMORI Memori meliputi memori baru, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Gangguan memori dapat mengidentifikasikan adanya gangguan intelektual/ kognitif. The Short Portable Mental Status Quesionnaire ( SPMQ ) digunakan untuk mendeteksi tingkat gangguan intelektual. Tabel 5. The Short Portable Mental Status Quesionnaire ( SPMQ )

No PERTANYAAN JAWABAN

BETUL 1 Tanggal berapa hari ini ? 2 Hari apakah hari ini ? 3 Apakah nama tempat ini ? 4 Berapa no. telepon rumah anda ? 5 Berapa usia anda ? 6 Kapan anda lahir ( Tgl/Bln/ Thn ) ? 7 Siapakah nama presiden sekarang ? 8 Siapakah nama presiden sebelumnya ? 9

SALAH

Siapakah nama ibu anda ? 10 5 + 6 adalah ? Keterangan : Jumlah kesalahan : 1. 2. 3. 4. 0 2 kesalahan : Baik 2 4 kesalahan : Gangguan ringan 5 7 kesalahan : Gangguan sedang 7 10 kesalahan : Gangguan berat

PERSEPSI Persepsi adalah daya mengenal benda, kualitas, hubungan dan perbedaan melalui proses mengamati, mengetahui dan mengartikan setelah panca indranya mendapatkan rangsang. Tabel 3 Temuan temuan pada Gangguan persepsi

Persepsi

Keterangan

Halusinasi

Persepsi panca indra tanpa objek/rangsang sensorik. Jenis : Visual, Akustik, olfaktorik, gustatorik, dan taktil

Ilusi

Persepsi / interpretasi yang salah terhadap suatu rangsang sensorik.

Pada lansia gangguan persepsi biasanya berhubungan dengan demensia, depresi dan delirium. Beberapa alasan pengkajian gangguan persepsi pada lansi sulit dilakukan adalah : 1. 2. 3. 4. Klien berusaha mennyembunyikan adanya gangguan persepsi ? Jika gangguan persepsi muncul akibat isolasi sosial, pengkajian sulit dilakukan Diperlukan pengamatan yang jeli Pengaruh latar belakang budaya

ISI DAN PROSES PIKIR

Proses pikir dapat dikaji pada saat dilakukan wawancara. Tabel 3 Temuan temuan pada Proses pikir

PROSES PIKIR

KETERANGAN Arus pikiran kacau, pikiran/ kata kata tanpa hubungan logis, atau tidak mengikuti aturan tata bahasa.

Inkoherensi

Asosiasi pikiran longgar

Pokok pikiran satu pindah ke pokok pikiran lain tanpa hubungan yang jelas/ relevan.

Waham/ Delusi

Isi pikiran yang salah, tidak sesuai dengan realitas yang diyakini dan tidak dapat dikoreksi dengan akal sehat. Contoh : waham kebesaran, paranoid, nihilistik

Obsesi

Pikiran yang terus menerus mendesak dalam kesadaran dan tidak dapat dihilangkan dengan cara yang logis, klien menyadari hal tersebut tidak wajar , berkaitan dengan kecemasan.

Fobia

Ketakutan irasional terhadap suatu objek atau situasi dan berusaha menghindarinya. Klien sadar akan kondisi tersebut.