Anda di halaman 1dari 13

Analisis Obat dan Pemeriksaan Radiologi yang Perlu Ditambahkan Inpepsa (3x15 cc ) oral

Aktifitas sukralfat sebagai anti ulkus merupakan hasil dari pembentukan kompleks sukralfat dengan protein yang membentuk lapisan pelindung menutupi ulkus serta melindungi dari serangan asam lambung, pepsin dan garam empedu. Percobaan laboratorium dan klinis menunjukan bahwa sukralfat menyembuhkan tukak dengan tiga cara : - Membentuk kompleks kimiawi yang terikat pada pusat ulkus sehingga merupakan lapisan pelindung. - Menghambat aksi asam, pepsin dan garam empedu. - Menghambat difusi asam lambung menembus lapisan film sukralfat-albumin. Penelitian menunjukan bahwa sukralfat dapat berada dalam jangka waktu lama dalam saluran cerna sehingga menghasilkan efek obat yang panjang. Sukralfat sangat sedikit terabsorbsi disaluran pencernaan sehingga menghasilkan efek samping sistemik yang minimal. Indikasi: - Ulkus lambung & duodenum, gastritis (radang lambung) kronis Kontraindikasi: - Tidak diketahui kontraindikasi penggunaanya Efek samping: - Susah buang air besar, mulut kering.

Paracetamol (3x500 mg)

oral

Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesic. Bersifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat anti inflamasinya sangat lemah sehingga sehingga tindak digunakan sebagai antirematik. Indikasi: - Mengurangi nyeri pada kondisi : sakit kepala, nyeri otot, sakit gigi, nyeri pasca operasi minor, nyeri trauma ringan. - Menurunkan demam yang disebabkan oleh berbagai penyakit. Pada kondisi demam, paracetamol hanya bersifat simtomatik yaitu meredakan keluhan demam (menurunkan suhu tubuh) dan tidak mengobati penyebab demam itu sendiri. Kontraindikasi: - Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glokose-6-fosfat dehidroganase. - Penderita gangguan fungsi hati berat.

Efek samping: - Mual, nyeri perut, dan kehilangan nafsu makan. - Penggunaan jangka panjang dan dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati. - Reaksi hipersensitivitas/alergi seperti ruam, kemerahan kulit, bengkak di wajah (mata, bibir), sesak napas, dan syok. KSR (3x600mg) Indikasi: - Pengobatan & pencegahan hipokalemia. Kontraindikasi: - Gagal ginjal yang telah lanjut, hiperkalemia, penyakit Addison yang tidak diobati, dehidrasi akut, penyumbatan saluran pencernaan. Efek samping: - Mual, muntah, diare, nyeri perut. Jarang : ulserasi saluran pencernaan. oral

Metronidazole 3x500 mg Indikasi:

IV

- Trikomoniasis, seperti vaginitis dan uretritis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis. - Amebiasis, seperti amebiasis intestinal dan amebiasis hepatic yang disebabkan oleh E. histolytica. - Giardiasis. - Balantidiasis. - Blastocystis. - Penyakit infeksi gigi. - Gingivitis (peradangan gusi) ulseratif nekrotikans. - Infeksi bakteri anaerob. - Antibiotik profilaksis operasi. - Infeksi Helicobacter pylori.

Kontraindikasi: - Metronidazole jangan diberikan kepada penderita hipersensitif/alergi terhadap Metronidazole atau derivat nitroimidazole lainnya. - Metronidazole jangan diberikan pada kehamilan trimester pertama. Efek samping:

- Mual, sakit kepala, anoreksia, diare, nyeri perut ulu hati dan konstipasi. - Sariawan dan glositis karena pertumbuhan kandida yang berlebihan di rongga mulut. - Leukopenia dan trombositopenia yang bersifat sementara (transien). - Reaksi hipersensitivitas/alergi. - Peningkatan enzim fungsi hati, hepatitis kolestatik, dan jaundice (penyakit kuning) - Efek samping yang berpotensi fatal : Reaksi anafilaksis.

Actrapid 3x5 unit

SC

Larutan netral insulin manusia monokomponen. Rekombinan DNA asli. Insulin DNA rekombinan DNA origin. Dosis: 0,5 U/Kg/BB . Digunakan 30 menit sebelum makan, kemasan obat: vial, actrapid HM 40 IU/ml dan 100 IU/ml, actrapid penifil 100 IU/ml, actrapid novolet 100 IU/ml Indikasi: - terapi DM - Diabetes melitus yang memerlukan insulin. Kontraindikasi: - Hipoglikemia (kadar glukosa dalam darah rendah), insulinoma (tumor jinak yang terdiri atas sel-sel pulau Langerhans kelenjar ludah perut). Penggunaan bersama dengan pompa insulin. Efek samping: - Hiperglikemia - Alergi dan lipoatropi yang jarang terjadi.

Cefritaxone 2x2 gr

IV

Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin yang mempunyai spektrum luas dengan waktu paruh eliminasi 8 jam. Efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Ceftriaxone sangat stabil terhadap enzim laktamase. Indikasi: Septikemia (keracunan darah oleh bakteri patogenik dan atau zat-zat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut), meningitis (radang selaput otak), infeksi perut (saluran pencernaan, kandung empedu, peritonitis/radang selaput perut), tulang, sendi, dan jaringan lunak, pencegahan infeksi pada pembedahan, infeksi saluran kemih dan ginjal, infeksi pernapasan, infeksi gonokokal. Untuk infeksi-infeksi berat dan yang disebabkan oleh kuman-kuman gram positif maupun gram negatif yang resisten terhadap antibiotika lain :

- Infeksi saluran pernafasan - Infeksi saluran kemih - Infeksi gonoreal - Septisemia bakteri - Infeksi tulang dan jaringan - Infeksi kulit Kontraindikasi: - Hipersensitif terhadap Sefalosporin. Efek samping: - Reaksi pada darah, kelainan saluran pencernaan, reaksi kulit.

Pemeriksaan Radiologi - Foto rontgen thorax untuk pemeriksaan secara radiologi organ paru-paru klien. a. Indikasi Pemeriksaan foto thorax a. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif, pada kasus ini pemeriksaan foto thorax dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif b. Ketiga spesimen sputum hasilnya tetap negatife setelah 3 spesimen sputum SPS pada pemeriksaan sebelumnya BTA negative dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT c. Klien diduga mengalami komplikasi sesak napas berat yang memerlukan penanganan khusus b. Gambaran Radiologi yang dicurigai TB aktif : a. Bayangan berawan atau nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah b. Kapitas terutama lebih dari satu di kelilingi bayangan berawan atau noduler c. Bayangan bercak miler d. Efusi pleura unilateral c. Gambaran Radiologi yang dicurigai TB inaktif : a. Fibrotic pada segmen apical dan posterior lobus atas b. Kalsifikasi atau fibrotic c. Fibrothorax dan atau penebalan pleura d. Klasifikasi TB paru berdasarkan gambaran radiologis : a. Tuberkulosis Primer

Hampir semua infeksi TB primer tidak disertai gejala klinis, sehingga paling sering didiagnosis dengan tuberkulin test. Pada umumnya menyerang anak, tetapi bisa terjadi pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah. Pasien dengan TB primer sering menunjukkan gambaran foto normal. Pada 15% kasus tidak ditemukan kelainan, bila infeksi berkelanjutan barulah ditemukan kelainan pada foto toraks. Lokasi kelainan biasanya terdapat pada satu lobus, dan paru kanan lebih sering terkena, terutama di daerah lobus bawah, tengah dan lingula serta segmen anterior lobus atas. Kelainan foto toraks pada tuberculosis primer ini adalah adalah limfadenopati, parenchymal disease, miliary disease, dan efusi pleura. . Pada paru bisa dijumpai infiltrat dan kavitas. Salah satu komplikasi yang mungkin timbul adalah Pleuritis eksudatif, akibat perluasan infitrat primer ke pleura melalui penyebaran hematogen. Komplikasi lain adalah atelektasis akibat stenosis bronkus karena perforasi kelenjar ke dalarn bronkus. Baik pleuritis maupun atelektasis pada anak-anak mungkin demikian luas sehingga sarang primer tersembunyi dibelakangnya.

b. Tuberkulosis sekunder atau tuberkulosis reinfeksi Tuberkulosis yang bersifat kronis ini terjadi pada orang dewasa atau timbul reinfeksi pada seseorang yang semasa kecilnya pernah menderita tuberculosis primer, tetapi tidak diketahui dan menyembuh sendiri. Kavitas merupakan ciri dari tuberculosis sekunder.

Bercak infiltrat yang terlihat pada foto roentgen biasanya dilapangan atas dan segmen apikal lobi bawah. Kadang-kadang juga terdapat di bagian basal paru yang biasanya disertai oleh pleuritis. Pembesaran kelenjar limfe pada tuberkulosis sekunder jarang dijumpai. Klasifikasikasi Association ( ATA ): tuberkulosis sekunder menurut American Tuberculosis

a. Tuberculosis minimal : luas sarang-sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median, apeks dan iga 2 depan, sarang-sarang soliter dapat berada dimana saja. Tidak ditemukan adanya kavitas b. Tuberkulosis lanjut sedang ( moderately advance tuberculosis ) : Luas sarang sarang yang berupa bercak infiltrat tidak melebihi luas satu paru. Sedangkan bila ada kavitas, diameternya tidak melebihi 4 cm. Kalau bayangan sarang tersebut berupa awan - awan menjelma menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya tidak boleh melebihi 1 lobus paru . c. Tuberkulosis sangat lanjut (far advanced tuberculosis ) : Luas daerah yang dihinggapi sarang-sarang lebih dari 1 paru atau bila ada lubang -lubang, maka diameter semua lubang melebihi 4 cm. - Maag Duodenum: Pemeriksaan secara radiologi pada organ lambung dengan menggunakan bahan kontras melalui oral (barium sulfat yang dilarutkan dalam air). Proyeksi Pemotretan a. PA erect ( film 30 x 40 ) untuk melihat type dan posisi lambung

b. c. d. e.

Lateral erect untuk melihat space retrogastric kiri PA recumbent untuk melihat gastroduodenal surface PA Obliq ( RAO ) untuk melihat pyloric canal dan duodenal bulb Right Lateral Decubitus utk melihat duodenal loop, duodenojujunal junction dan retrogastric space

f.

AP Recumbent utk melihat bagian fundus terutama pada teknik double kontras, rotasi lateral untuk melihat lesi pada dinding anterior dan posterior, retrogastric portion dari jejunum dan illium Variasi supine dengan mengatur kepala lebih rendah 250 300 untuk melihat hernia hiatal dan 10 15 derajat dan rotasi pasien ke depan ( sisi kanan dekat meja ) untuk melihat gastroesophageal junction juga untuk melihat regurgitasi.

g.

- Renography: Pemeriksaan radiografi untuk melihat fungsi ginjal, hal ini karena dari pemeriksaan laboratorium, nilai nya di bawah nilai normal. Pada penilaian suatu pemeriksaan renografi, sangat membantu bila kita melihat urutan citra yang didapat dan menganalisa kurva aktivitas terhadap waktu secara hati-hati. Pada pencitraan dinilai penangkapan radioaktivitas oleh kedua ginjal untuk melihat kemampuan ginjal mengekstraksi radiofarmaka. Pada pencitraan normal ginjal relatif mempunyai ukuran yang sama dan selama dua menit pertama menunjukkan distribusi radiofarmaka yang sama. Pada citra berikutnya mungkin dapat terlihat kaliks, pelvis, dan ureter. Fungsi relatif ginjal bervariasi antara 40-60 %. Kedua ginjal biasanya terletak pada ketinggian yang sama, walaupun ginjal kanan dapat terletak pada posisi yang lebih rendah daripada ginjal kiri karena adanya organ hepar. Kurva normal secara khas memperlihatkan adanya tiga fase. Fase pertama/inisial dimana terjadi peningkatan secara cepat segera setelah penyuntikan radiofarmaka yang menunjukkan kecepatan injeksi dan aliran darah vaskuler ke dalam ginjal. Dari fase ini dapat pula dilihat dari teknik penyuntikan radiofarmaka, apakah bolus atau tidak. Fase ini terjadi kurang dari 2 menit. Fase kedua/sekresi menunjukkan kenaikan yang lebih lamban dan meningkat secara bertahap. Fase ini berkaitan dengan proses penangkapan radiofarmaka oleh ginjal melaui proses difusi lewat sel-sel tubuli dan filtrasi glomerulus, atau keduanya ke dalam lumen tubulus. Dalam keadaan normal fase ini mencapai puncak dalam waktu 2-5 menit. Ketika aktivitas radiofarmaka mulai meninggalkan daerah ginjal maka dimulailah fase ketiga. Fase ketiga/ekskresi dimana tampak kurva menurun dengan cepat setelah mencapai puncak kurva yang menunjukkan keseimbangan antara radioaktivitas yang masuk dan meninggalkan ginjal. Fase ketiga menggambarkan terutama untuk eliminasi radiofarmaka dari daerah ginjal. Bentuk kurva dari fase ketiga ini menggambarkan pola urodinamik dari ginjal dan pola eliminasi melalui sistem pelvikalises menuju ke ureter dan vesika urinaria, sehingga pada fase ini sangat sensitif untuk untuk kelainan pada saluran kemih (pelvis, ureter, dan vesika urinaria) dan suatu bentuk kurva yang normal dapat menyingkirkan dugaan adanya obstruksi pada saluran kemih.

Bentuk kurva renografi yang normal umumnya menggambarkan pula fungsi ginjal yang normal, walaupn mungkin ukuran ginjal kecil dan memberikan kontibusi dari fungsi ginjal di bawah 40 %. Kelainan pada fungsi ginjal yang terlihat pada renografi dapat disebabkan oleh perfusi ginjal yang berkurang, berkurangnya eliminasi radiofarmaka, berkurangnya filtrasi atau kelainan fungsi seluler tubulus. 3 Bila ginjal sudah tidak berfungsi, penangkapan radioaktivitas akan minim atau tidak ada sama sekali, dan kurva akan berjalan datar/tidak beraturan sebab hanya menggambarkan aktivitas background saja. Pada gambar obstruksi total, vesika urinaria tidak tampak dan fase kedua akan tampak naik terus dan tidak terlihat adanya fase ketiga. Parameter yang sering ditambahkan biasanya adalah Waktu Transit Seluruh Ginjal (Whole Kidney Transit Time/WKTT) adalah waktu total yang dibutuhkan radiofarmaka untuk transit melalui parenkim ginjal dan pelvis.WKTT adalah jumlah antara Waktu Transit Parenkim Rata-rata (Mean Parenchyma Transit Time/MPTT) dan Waktu Transit Pelvis (Pelvic Transit Time/PvTT). Nilai normal MPTT adalah 100-240 detik. Parameter yang lain adalah Indeks Waktu Transit Parenkim (Parenchymal Transit Time Index/PTTI) dan Indeks Waktu Transit Seluruh Ginjal (Whole Kidney Transit Time Index/WKTTI). PTTI adalah MPTT dikurangi Waktu Transit Minimum (MinTT), nilai normal untuk PTTI adalah 10-156 detik. WKTTI adalah WKTT dikurangi MinTT, nilai normalnya adalah 20-170 detik.

PENGOBATAN TUBERKULOSIS Pengobatan tuberculosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Panduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan tambahan. Obat yang dipakai: 1. Jenis obat utama (lini I) yang digunakan adalah : INH

Rifampisin Pirazinamid Streptomisin Etambutol

2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2) Kanamisin Amikasin Kuinolon Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam klavulanat Beberapa obat berikut ini masih tersedia di Indonesia antara lain: Kapreomisin, Sikloserin, PAS (dulu tersedia), Derivat rifampisin dan INH, Thiomides. Panduan Pengobatan : TB paru BTA + atau BTA -, lesi luas 2 RHZE / 4 RH atau 2 RHZE / 6 HE Kambuh : RHZES/ IRHZE sesuai hasil uji resistensi atau 2 RHZES/ 1 RHZE/ 5 RHE Gagal pengobatan: 3-6 kanamisin, oflosaksin, etionamid, sikloserin/ 15-18 ofloksasin, etionamid, sikloserin, atau 2 RHZES/1 RHZE/ 5 RHE TB paru putus obat. Sesuai lama pengobatan sebelumnya, lama berhenti minum obat dan keadaan klinis, baketeriologi, dan radiologi saat ini atau 2 RHZES/ IRHZE/ 5R3H3E3 TB paru BTA -, lesi minimal 2 RHZE/ 4 RH atau 6 RHE atau 2 RHZE/ 4 R3H3 TB paru kronik RHZES / sesuai hasil uji resistensi (minimal OAT yang sensitif) + obat lini 2 (pengobatan minimal 18 bulan) Multi Drug Resisten TB Sesuai uji reistensi + OAT lini 2 atau H seumur hidup.

Daftar Pustaka: Amin Z, Bahar S. Tuberkulosis paru. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I , Simadibrata KM, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI , 2006: 998-1005, 1045-9.

Price. A,Wilson. L. M. Tuberkulosis Paru. Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, bab 4, Edisi VI. Jakarta: EGC, 2004 : 852-64 Gerakan Terpadu Nasional Penanganan TB. 2007. Buku Pedoman Nasional Penanggulangan TB. edisi 2. cetakan pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Joshua Burrill, FRCR Christopher J. Williams, FRCR Gillian Bain, FRCR et all . Tuberculosis ; Radiological Review . Radiographics Vol 27 No.5 Pg.1255-1265 . September-October 2007