Anda di halaman 1dari 2

Luka robek (vulnus laceratum) sering disertai luka lecet (excoriasis), yakni luka atau rusaknya jaringan kulit

luar, akibat benturan dengan benda keras, seperti aspal jalan, bebatuan atau benda kasar lainnya. Sementara luka tusuk (vulnus functum), yakni luka yang disebabkan benda tajam seperti pisau, paku dan sebagainya. Biasanya pada luka tusuk, darah tidak keluar (keluar sedikit) kecuali benda penusuknya dicabut. Luka tusuk sangat berbahaya bila mengenai organ vital seperti paru, jantung, ginjal maupu abdomen. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk, salah satunya adalah reaksi korban saat ditusuk atau saat pisau keluar, hal tersebut dapat menyebabkan lukanya menjadi tidak begitu khas. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan mempengaruhi. Beberapa pola luka yang dapat ditemukan : 1. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan kembali melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai dengan gambaran biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan yang lebih dalam maupun pada organ . 2. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut, sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor. 3. Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga saluran luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat juga lebih luas dibandingkan dengan lebar senjata yang digunakan. 4. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian superfisial. Sehingga luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata yang digunakan. 5. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk ireguler dan besar. Pengertian Luka Tusuk Abdomen Luka tusuk merupakan bagian dari trauma tajam yang mana luka tusuk masuk ke dalam jaringan tubuh dengan luka sayatan yang sering sangat kecil pada kulit, misalnya luka tusuk pisau. Berat ringannya luka tusuk tergantung dari dua faktor yaitu : 1. Lokasi anatomi injury. 2. Kekuatan tusukan, perlu dipertimbangkan panjangnya benda yang digunakan untuk menusuk dan arah tusukan. Jika abdomen mengalami luka tusuk, usus yang menempati sebagian besar rongga abdomen akan sangat rentan untuk mengalami trauma penetrasi. Secara umum organ-organ padat berespon terhadap trauma dengan perdarahan. Sedangkan organ berongga bila pecah mengeluarkan isinya dalam hal ini bila usus pecah akan mengeluarkan isinya ke dalam rongga peritoneal sehingga akan mengakibatkan peradangan atau infeksi. Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma perut merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan laparatomi (FKUI, 1995). B. Etiologi dan Klasifikasi 1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium).Disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak. 2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium).Disebabkan oleh : pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt) (FKUI, 1995). C. Patofisiologi Tusukan/tembakan ; pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt)Trauma abdomen- : a. Trauma tumpul abdomen 1. Kehilangandarah. 2. Memar/jejas pada dinding perut. 3. Kerusakan organ-organ. 4. Nyeri 5. Iritasi cairan usus b. Trauma tembus abdomen 1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. Respon stres simpatis 3. Perdarahan dan pembekuan darah 4. Kontaminasi bakteri 5. Kematian sel c. 1 & 2 menyebabkan : 1. Kerusakan integritas kulit 2. Syok dan perdarahan 3. Kerusakan pertukaran gas

4. Risiko tinggi terhadap infeksi 5. Nyeri akut (FKUI, 1995). D. Tanda Dan Gejala a. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) : 1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. Respon stres simpatis 3. Perdarahan dan pembekuan darah 4. Kontaminasi bakteri 5. Kematian sel b. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium). 1. Kehilangan darah. 2. Memar/jejas pada dinding perut. c. Kerusakan organ-organ 1. Nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut. 2. Iritasi cairan usus (FKUI, 1995). E. Komplikasi 1. Segera : hemoragi, syok, dan cedera. 2. Lambat : infeksi (Smeltzer, 2001). F. Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar ; kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam lambung ; dan kateterisasi, adanya darah menunjukkan adanya lesi pada saluran kencing. 2. Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine. 3. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi. 4. IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma saluran kencing. 5. Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang berat, dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau 20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah atau digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli terlebih dahulu. 6. Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam rongga peritonium (FKUI, 1995). G. Penatalaksanaan 1. Pemasangan NGT untuk pengosongan isi lambung dan mencegah aspirasi. 2. Menilai urin yang keluar (perdarahan). 3. Pembedahan/laparatomi (untuk trauma tembus dan trauma tumpul jika terjadi rangsangan peritoneal : syok ; bising usus tidak terdengar ; prolaps visera melalui luka tusuk ; darah dalam lambung, buli-buli, rektum ; udara bebas intraperitoneal ; lavase peritoneal positif ; cairan bebas dalam rongga perut) (FKUI, 1995). H. Penanganan Luka Tusuk Di Lapangan Bila tusukan mengenai organ vital, seperti; paru, jantung, pembuluh darah besar, usus, ginjal: 1. Benda tajam jangan dicabut. 2. Beda antiseptik di sekitar luka lalu tutup dengan kasa, selanjutnya fiksasi dengan plester supaya tidak bergerak/ tetap pada posisinya. 3. Bawa ke UGD rumah sakit yang baik dan terdekat untuk perawatan/pengobatan lebih lanjut. 4. Bawa dengan hati-hati dan tidak menambah beban penderitaan korban. 5. Pastikan denyut jantung korban baik. Pertahankan jangan sampai pingsan Bila tusukan benda tajam pada tungkai oleh paku atau benda tajam lainya : 1. Paku/benda tajam bisa dicabut 2. Usahakan darah dari luka dikeluarkan dengan cara memijat 3. Bersihkan luka dengan air dan antiseptic 4. Biarkan luka terbuka (tidak ditutup plester), tetapi hindari luka dari terkena Kotoran yang dapat menyebabkan infeksi 5. Perhatikan Apakah: a. paku/benda penusuk (benda baru, benda lama, berkarat b. Kedalaman tusukan (dalam mm/cm ) c. Bila benda penusuk dicurigai kotor/berkarat, bawa ke UGD rumah sakit yang terdekat untuk perawatan luka lebih lanjut. Pulse oximetry is a non-invasive method allowing the monitoring of the saturation of a patient's hemoglobin.