Anda di halaman 1dari 2

ANGIODISPLASIA Epidemiologi dan Insidensi Sekitar 2 sampai 5% dari hemoragi pada saluran pencernaan atas dan 3 sampai 6% dari

saluran pencernaan bawah merupakan kontribusi dari angiodisplasia. Pasien yang mengalami perdarahan akibat angiodisplasia kolon biasanya berusia lebih dari 60 tahun, tetapi ada laporan kasus baru yang terjadi pada anak dan infant. Ras dan jenis kelamin tidak berpengaruh pada prevalensi. Angiodisplasia bukan merupakan penyakit familial. Etiologi dan Patogenesis Peningkatan prevalensi dari angiodisplasia pada usia lanjut memunculkan teori bahwa hal ini terkait dengan degenerasi dari integritas vascular. Obstruksi kronis dari aliran balik vena pada lapisan muskularis memunculkan defek patofisiologis yang nyata, yang dapat berimbas pada pelebaran submukosa dari vena dan pembuluh kapiler. Mungkin juga factor neurovascular atau mekanisme hormonaldapat menginduksi angiodisplasia karena responnya terhadap hipoperfusi local. Angiodisplasia telah dikaitkan dengan beberapa penyakit. Prevalensi angiodisplasia dilaporkan meningkat pada stenosis aorta, akan tetapi, banyak studi-studi terdahulu gagal untuk menjelaskan hal ini. Angiodisplasia tercatat sebagai penyebab perdarahan gastrointestinal terbanyak pada pasien dengan gagal ginjal (19 samapai 32%), tetapi kaitan patofisiologis antara angiodisplasia dan gagal ginjal kronis masih controversial. Peningkatan prevalensi angiodisplasia paada scleroderma atau sindrom CREST, sindrom Turner, dan hipotensi portal telah dilaporkan. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis angiodisplasia adalah perdarahan gastrointestinal tanpa nyeri. Kebanyakan lesi kolonik berlokasi pada kolon kanan dan berkaitan dengan perdarahan kronis ringan atau anemia defisiensi besi, tapi 10-15% memperlihat perdarahan akut yang masif. Tes diagnostic Endoskopi adalah prosedur pilihan untuk mendiagnosis angiodisplasia. Endoskopi saluran pencernaan atas, endoskopi usus halus, endoskopi capsule, dan kolonoskopi adalah metode primer untuk mengidentifikasi angiodisplasia pada saluran pencernaan. Ukuran lesi berkisar antara 0.2 sampai 1 cm dengan tipikal discrete dan darah terang, tersusun oleh jaringan dense reticular dari pembuluh darah. Dapat dilakukan angiografi untuk menemukan lesi angiografi pada usus halu yang tidak tervisualisasi oleh enteroskopi ditambah endoskopi kapsul. Pasien dengan perdarahan saluran cerna bawah akut harus menjalani kolonoskopi emergensi atau erythrocyte scintigraphy sebagai prosedur pencitraan yang inisial. Tatalaksana Suplementasi Fe Terapi hormonal berupa estrogen atau dikombinasi dengan progesterone, khususnya untuk pasien dengan gagal ginjal atau telangiectasia. Hormonal terapi harus dihindari pada pasien dengan riwayat tromboembolism, aterosklerosis, atau neoplasma yang sensitive hormone estrogen. Transfusi darah pada pasien dengan perdarahan yang akut. Terapi endoskopis

Reseksi bedah, jika terapi medis dan terapi endoskopis tidak mampu untuk mengontrol perdarahan.