Anda di halaman 1dari 51

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

DEPARTEMEN KEHUTANAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN BALAI TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI

KAWASAN BARAT INDONESIA

Jl. Ahmad Yani-Pabelan PO.Box 295 Telp./Fax. : 0271-716709 Surakarta

PENATA

PENAFSIRAN NAMA TANAH

Dengan Analisa Fisika dan Kimia di Lapangan

Oleh :

BENY HARJADI

SURAKARTA, 1996

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

11

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR LAMPIRAN

iii

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GAMBAR

v 1

I.

PENDAHULUAN

1

II.

BAHAN DAN ALAT

2

III.

BLANKO ISIAN DESKRIPSI PROFIL TANAH

3

- Data Lingkungan

3

- Sifat Fisik Tanah

3

- Sifat Kimia Tanah

3

IV.

KARTU SIMBOLISASI DESKRIPSI PROFIL

4

V

SIFAT KIMIA

5

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

12

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

DAFTAR LAMPIRAN

L1.

KLASIFIKASI TANAH

11

A. Tingkat Ordo

11

 

Padanan Nama Taksonomi Tanah

13

 

B. Tingkat Sub-Ordo

14

 

1. Entisols

14

2. Vertisols

14

3. Inceptisols

14

4. Aridisols

15

5. Mollisols

15

6. Spodosols

16

7. Alfisols

16

8. Ultisols

16

9. Oxisols

17

10. Histosols

17

 

C. Tingkat Great-Group

17

D. Tingkat Sub-Group

24

E. Tingkat Family

24

F. Tingkat Serie

24

L2.

PERMEABILITAS

25

 

1. Cepat

25

 

2. Agak Cepat

25

 

3. Sedang

25

 

4. Agak Lambat

26

5. Lambat

26

6. Lambat sekali

27

L3.

KECEPATAN INFILTRASI

28

L4.

SIMBOL HORISON

29

A. Horison Organik

29

B. Horison Mineral

29

 

Huruf Kecil

30

L5.

BATAS LAPISAN TANAH

32

- Topografi Batas Horison

32

- Lebar Batas Horison

32

- Tebal Horison

32

L6.

WARNA TANAH

33

A.

Warna Matrix

33

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

13

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

 

B.

Warna Bercak

34

L7.

TEKSTUR TANAH

36

L8.

STRUKTUR TANAH

40

L9.

KONSISTENSI

42

- Konsistensi Basah

42

- Konsistensi Lembab

42

- Konsistensi Kering

42

L10.

HORISON PENCIRI

44

1. Epipedon

44

2. Endopedon

44

3. Epiorganik

45

4. Ciri Khusus

46

5. Regim Temperatur

47

6. Regim Kelembaban

47

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

14

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

DAFTAR TABEL

1 Penetapan Tingkatan Nama Tanah yang Disesuaikan dengan Skala Peta dan Satuan Pengguna Peta

1

2 Kriteria Nilai KB (Kejenuhan Basa) berdasarkan Nilai pH

5

3 Penafsiran Kandungan Klorida dalam Tanah

7

4 Kadar Garam dapat Larut dalam Tanah Menurut DHL Jenuh

7

5 Deskripsi Singkat Sifat Penciri Tanah di Lapangan

9

6 Variasi Bentuk Batuan Berdasarkan Macam Bentuk dan Kemulusan Batuan

12

7 Padanan Nama Taksonomi Tanah

13

8 Kriteria Kelas Permeabilitas Tanah Berdasarkan Kondisi Fisik Tanah

25

9 Kriteria Permeabilitas Tanah atas dasar Kandungan Tekstur, Struktur dan Ba- tuan

27

10 Kriteria Kecepatan Infiltrasi dan Kesesuaian Lahan

28

11 Kategori Batas Horison dengan Kriterianya

32

12 Kriteria Ukuran Warna Bercak Profil Tanah

34

13 Kriteria Kekontrasan Warna Bercak Terhadap Warna Matrix Tanah

34

14 Kriteria Prosentase Kelimpahan Warna Bercak

34

15 Kelompok Kelas Tekstur Tanah dan Prosentase Kandungan Ketiga Fraksi Pasir, Debu dan Liat

36

16 Klasifikasi Kelas Tekstur tanah yang Digunakan di Lembaga Penelitian di Amerika Serikat

37

17 Kisaran Nilai pH (H 2 O) Tanah dan Tingkat Kemasaman Tanah

37

18 Tingkat Perkembangan Struktur Tanah

40

19 Matriks Hubungan Bentuk dan Ukuran Struktur Tanah

40

20 Kriteria Tingkatan Konsistensi Tanah dalam Keadaan Basah

42

21 Kriteria Tingkatan Konsistensi Tanah dalam Keadaan Lembab

43

22 Kriteria Tingkatan Konsistensi Tanah dalam Keadaan Kering

43

23 Watak Hara dalam Tanah dari Sangat Rendah sampai Sangat Tinggi

49

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

15

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

DAFTAR GAMBAR

1 Contoh Lembar Kartu Warna dari Munsell Soil Color Charts

33

2 Indeks Prosentase Warna Bercak Atau Noktah Profil Tanah Terhadap Keseluruhan Warna Matrix

35

3 Kelas-kelas Tekstur Tanah yang Berpedoman pada Segi- tiga Tekstur Tanah, Jika Ketiga Fraksi Pasir, Debu dan Liat Sudah Diketahui

38

4 Penetapan Tekstur Tanah Berdasarkan Rasa Rabaan dan Gejala Konsistensi

39

5 Contoh Bentuk Struktur Tanah

41

6 Penetapan Nama Ordo Tanah Berdasarkan Epipedon

48

7 Penetapan Nama Ordo Tanah Berdasarkan Endopedon

48

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

16

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Comment [NWS1]: PENAFSI RAN NAMA TANAH BENY HARJADI (BTP DAS

SOLO)

KATA PENGANTAR

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

17

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

KATA PENGANTAR

Buku pedoman tentang penetapan nama tanah di la- pangan, dimaksudkan untuk membantu bagi para pemula agar dapat menetapkan nama tanah secara mudah sampai pada tingkatan nama tanah yang dikehendaki, yaitu : Ordo, Sub-ordo, Great-group, Sub-group, Famili dan Seri sesuai dengan skala peta yang hendak dihasilkan.

Dengan bantuan metode analisa sifat fisik dan kimia serta beberapa penciri khusus tanah di lapangan, maka akan didapatkan nama tanah secara mudah, cepat dan tepat. Sehingga diharapkan buku pedoman ini dapat dipakai sebagai pedoman penetapan atau penafsiran nama tanah dalam rangka mendukung pengumpulan data ISDL (Inventarisasi Sumber Daya Lahan) secara akurat.

Akhirnya bagi para pemula dihimbau mengikuti tahapan-tahapan penetapan nama tanah seperti yang disaji- kan didalam isi buku, selanjutnya untuk tingkat lanjut di- harapkan dapat mendalami lebih jauh dengan mengikuti penetapan nama tanah secara lebih rinci seperti yang ditu- angkan dalam lampiran buku pedoman ini. Selanjutnya kritik dan saran untuk kesempurnaannya masih sangat di- harapkan.

Penulis BENY HARJADI

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

18

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

PENDAHULUAN

Kemiripan penampakan profil tanah pada daerah yang tersebar, menyebabkan ti- dak mudah seseorang menetapkan nama tanah secara tepat di lapangan. Begitu juga si- fat-sifat tanah baik itu sifat fisik maupun sifat kimia yang hampir berdekatan menyebab- kan sering keliru menafsirkan suatu nama tanah. Apalagi hasil analisa kimia di lapangan memerlukan waktu lama dan perlu ketelatenan serta ketelitian, kadang dikerjakan seadanya, sehingga menyebabkan hasil perolehan berbeda jauh antara penetapan di la- pangan dengan di laboratorium.

Hal tersebut mengingat bahwa penetapan horison penciri epipedon (lapisan atas) maupun endopedon (lapisan tanah bawah) sering perlu penetapan sifat kimia di lapangan selain juga sifat fisika. Dimana horison penciri tersebut baru pada tahap penetapan nama Ordo tanah. Sedangkan untuk menetapkan nama tanah lebih detil lagi sampai tingkat berikutnya : Sub-ordo, Great-group, Sub-group, Famili, dan Seri perlu sifat penciri khusus disamping juga beberapa regim penciri yaitu regim kelembaban dan regim tem- peratur.

Adapun penetapan nama tanah pada tingkatan tertentu tergantung dari skala peta yang mau dihasilkan dan juga kepada siapa hasil peta tersebut hendak disajikan (Tabel

1).

Tabel 1.

Penetapan Tingkatan Nama Tanah yang Disesuaikan dengan Skala Peta dan Sasaran Pengguna Peta

TINGKATAN

 

SKALA PETA

JENIS PETA

PENGGUNAAN PETA

NAMA TANAH

 

Ordo

1 : 2.500.000

Bagan

Menteri

Sub-Ordo

1 : 1.000.000 s/d

Eksplorasi

Dirjen

1 : 500.000

Great-Group

1 :

500.000 s/d

Tinjau

Kanwil

1 :

300.000

Sub-Group

1 :

60.000 s/d

Tinjau Mendalam

Bupati

1 :

125.000

Family

1 :

30.000 s/d

Semi Detil

Camat

1 :

50.000

Seri

1 :

10.000

Detil (Uji-coba)

Lurah

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

19

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Bertolak dari permasalahan kesulitan penetapan nama tanah secara tepat di lapan- gan, maka penyajian tulisan berikut dimaksudkan untuk membantu mengantarkan penaf- siran nama tanah pada tingkatan tertentu secara mudah di lapangan. Sehingga tujuan yang hendak dicapai adalah didapatkan metode yang sederhana, praktis dan mudah untuk menetapkan nama dari tingkat Ordo, Sub-ordo, Great-group, Sub-group, Famili, dan Seri dengan berdasarkan atas penetapan sifat-sifat fisik dan kimia di lapangan yang didukung dengan beberapa sifat penciri khusus tanah.

BAHAN DAN ALAT

Bahan :

pH meter/kertas pH

H 2 O 2 10%

HCl 30%

HOAc 1 N

NH 4 OAc 1 N

H 2 O 2 30%

AgNO 3

KOH pekat

Air Suling

Kertas Ba-Rhodizonat (Warna Merah)

Alat :

Cawan porselin

Munsell Soil Color Charts

Bor Tanah

Sekop

Cangkul

Palu Geologi

Kompas

Abney Level

Altimeter

Pisau Lapang

Meteran

Botol Air

Plastik Sampel

Loupe

Binokuler (keker)

Tustel

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

20

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

BLANKO ISIAN DESKRIPSI PROFIL TANAH

Data Lingkungan

Nomer Profil

:

Lokasi

Kabupaten

:

Kecamatan

:

Desa

:

Kampung/Letak

:

Nama Tanah

Ordo

O

:

Sub-Ordo

SO

:

Great Group

GG

:

Sub-Group

SG

:

Famili

F

:

Seri

S

:

Kematangan Tanah

:

Permeabilitas

:

Infiltrasi

:

Banjir

:

(cm)

Prosentase batu

Prosen (%)

:

Ukuran

:

Bentuk

:

Kekerasan

:

Sifat Fisik Tanah

1. Nomer Lapisan

       

2. Simbol Horison

       

3. Tebal Lapisan

       

4. Batas Lapisan

       

5. Warna

       

6. Tekstur

       

7. Struktur

       

8. Pori-pori Tanah

       

9. Konsistensi

       

10. Karatan

       

11. Perakaran

       

Sifat Kimia Tanah

1. Kejenuhan Basa (KB)

       

2. Kapasitas Tukar Kation (KTK)

       

3. Kalsium Karbonat (CaCO 3 )

       

4. Sulfurik (S)

       

5. Sulfidik (FeS 2 )/Pirit

       

6. Kalsium Sulfat (CaSO 4 )

       

7. Bahan Alkalin

       

8. Oksida Mangan

       

9. Klorida

       

10. Garam dapat larut

       

11. Bahan Semen

       

Horison Penciri

Epipedon

:

=

cm

 

Endopedon

:

=

cm

 

Ciri Khusus

:

=

cm

Regim Penciri

(R.Temperatur

± 50 cm)

:

=

cm

(R.Kelembaban

10-90 cm)

:

=

cm

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

21

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

KARTU SIMBOLISASI DESKRIPSI PROFIL

Nama Tanah L1

(Lampiran

1)

Bentuk Batuan

 

Struktur

(L8)

Ordo

 

b.

bulat

Bentuk Struktur

 

Ukuran Struktur

E.

Entisol

Huruf Kecil

j.

lonjong

y.

platy

l.

sangat halus

I.

Inceptisol

t.

tiang

p.

prismatic

h.

halus

O.

Oxisol

Sub-Ordo

l.

lempeng

c.

columnar

 

m.

sedang

U.

Ultisol

Great-Group

b.

blocky

k.

kasar

V.

Vertisol

Sub- Group

Lekukan Batuan

 

s.

sub-angular blocky

a.

sangat kasar

A.

Aridisol

Family

1. mulus

 

a.

angular blocky

 

T.

Perkembangan

S.

Spodosol

Serie

2. agak mulus

 

r.

crumb

0.

belum

F.

Alfisol

3. berlekuk

 

l.

loose

1.

lemah

M.

Mollisol

 

4. agak runcing

 

g.

granular

2.

sedang

H.

Histosol

5. runcing

 

m.

masif

3.

kuat

 

Kematangan

Tanah :

Kekerasan Batuan

 

Pori-Pori Tanah

 

b.

belum matang

jeblos

2,5 : kuku ibu jari

Ukuran

 

Jumlah

per dm 2

c.

cukup matang

lunak

3,0 :lempeng tembaga

mi.

mikro

< 2

mm

s.

sedikit

< 50

m.

telah matang

mantap

5,25 : kaca

me.

meso

2 - 5

m.

sedang

50 - 200

 

5,75 :pisau baja

ma.

makro

> 5

b.

banyak

> 200

7,0

: kikir

 

9,0

: silikon karbit

 

Konsistensi (L9)

 

Permeabilitas (L2)

(mm/jam)

Horison (L4)

 

BASAH

LEMBAB

 

KERING

1.

Cepat

>125

H.

bahan organik

ss.slightly sticky

vf.

very friable

 

s.

soft

2. Agak Cepat

65-125

O.

serasah/humus

s.

sticky

f.

friable

sh.slightly hard

3. Sedang

 

20-65

A.

tanah mineral

vs.

very sticky

t.

firm

h.

hard

4. Agak Lambat

5-20

E.

mineral resisten

po.non plastic

vf.

very firm

 

vh.very hard

5. Lambat

 

1-5

B.

pengendapan

ps.

slightly

ef.

extrem firm

eh.

extrem hard

6. Lambat Sekali

<1

C.

bahan induk

p.

plastic

 

R.

batuan induk

vp.

very plastic

Infiltrasi (L3)

 

Batas Lapisan L5

 

Karatan

 

6.

berlebihan

Tebal Batas

 

(cm)

Jumlah

(%)

Bentuk Karatan

5.

agak berlebih

d.

mendadak

< 2,5

s.

sedikit

< 2

bi.

bintik

4.

baik

j.

jelas

2,5-6,5

m.

sedang

2 -

20

bs.

bintik berganda

3.

cukup

t.

bertahap

6,5-12,5

b.

banyak

> 20

li.

lidah

2.

terhambat

 

b.

baur

>12,5

 

ap.

api

1.

buruk

Ukuran

(mm)

pi.

pipa

0.

sangat buruk

 

s.

kecil

< 5

fi.

serabut

 

m.

sedang

5 - 15

 

l.

besar

> 15

Banjir :

 

(bulan/1 tahun)

Topografi Batas

 

Batas

(mm)

t.

tanpa

<1

r.

rata

j.

jelas

tajam

j.

jarang

1-3

o.

berombak

m.

sedang

< 2

k.

kadang-kadang

3-5

t.

tidak beraturan

 

k.

kabur

> 2

m.

musiman

5-7

p.

patah

r.

sering

7-11

s.

selalu

>11

Warna Tanah L6

 

Batuan :

 

Tekstur

(L7)

Perakaran

 

SIFAT KIMIA

Prosentase batu

 

1. S

pasir

Ukuran

0. tidak ada

1. <1

%

2. LS

pasir berlempung

h.

halus

< 2

1. sedikit

 

2. 1-5

3. SL

lempung berpasir

m.

sedang

2 - 5

2. agak sedikit

3. 6-15

4. L

lempung

k.

kasar

> 5

3. sedang

 

4. 16-35

5. SiL

lempung berdebu

Jumlah

per dm2

4. agak banyak

5. 36-70

6. Si

debu

s.

sedikit

< 50

5. banyak

 

6. >70

7. CL

lempung berliat

 

m.

sedang

50- 200

 
 

8. SCL

lempung liat berpasir

b.

banyak

> 200

Ukuran Batuan

(diameter = cm)

9. SiCL

lempung liat berdebu

 

l.

sangat kecil

0,2-0,6

10. SC

liat berpasir

 

Horison Penciri (L10)

 

k.

kecil

0,6-2,0

11. SiC

liat berdebu

1. Epipedon

 

m.

medium

2,0-6,0

12. C

liat

2. Endopedon

 

b.

besar

6,0-20

3. Epiorganik

a.

sangat besar

20-60

4. Regim Temperatur

 

g.

amat besar

>60

5. Regim Kelembaban

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

22

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

LAMPIRAN

1. KLASIFIKASI TANAH

2. PERMEABILITAS

3.

KECEPATAN INFILTRASI

4.

SIMBOL HORISON

5.

BATAS LAPISAN TANAH

6.

WARNA TANAH

7.

TEKSTUR TANAH

8.

STRUKTUR TANAH

9. KONSISTENSI

10.

HORISON PENCIRI

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

23

Lampiran 1.

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

KLASIFIKASI TANAH

A. Tingkat Ordo

1. Entisol (E) = Alluvial, Regosol (ENT = recent = baru) Tanah masih muda, baru tingkat permulaan perkembangan tanah. penciri lain kecuali epipedon Okrik, Albik atau Histik.

Tidak ada horison

2. Vertisol (V) = Grumusol, Margalit (ERT= verto = berubah) Tanah dengan kandungan liat yang tinggi lebih dari 30 % pada seluruh horison, den- gan sifat mengembang dan mengkerut. Dimana pada saat kering tanah mengkerut menjadi pecah-pecah, dan sebaliknya saat basah tanah mengembang dan lengket.

3. Inceptisol (I) = Alluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus, (inceptum = permulaan) Tanah muda yang lebih berkembang dari pada Entisol, yang memiliki horison kam- bik, sehingga tanah ini cukup subur.

4. Aridisol (A) = Desert Soils (aridus = sangat kering) Tanah yang memiliki regim kelembaban tanah Arid (sangat kering), dan epipedon Okrik serta kadang adanya horison penciri lainnya.

5. Mollisol (M) = Molek (mollis = lunak) Tanah yang memiliki tebal epipedon lebih dari 18 cm dengan warna tanah hitam ge- lap, serta agregasi tanah baik yang dicirikan tanah tetap lunak/lembut dalam keadaan kering. Kandungan bahan organik cukup tinggi lebih dari 1 %, dan kejenuhan basa lebih dari 50 %.

6. Spodosol (S) = Podzol (spodos = abu) Horison bawah terjadi iluviasi (pengendapan) bahan-bahan humus serta Fe dan Al oksida yang ditunjukkan adanya horison Spodik, sedangkan lapisan bawahnya terjadi eluviasi (pencucian) yang mengakibatkan warna tanah pucat (Albik).

7. Alfisol (F) = Mediteran Merah Kuning, Latosol, Podsolik Merah Kuning Tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (Argilik) dan mempunyai ke- jenuhan basa lebih dari 35 % pada kedalaman tanah 180 cm dari permukaan.

8. Ultisol (U) = Podsolik Merah Kuning, Latosol, Hidromorf Kelabu (ultimus = akhir) Tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah dan bersifat masam yang ditun- jukkan nilai kejenuhan basa kurang dari 35 % pada kedalaman 180 cm.

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

24

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

9. Oxisol (O) = Latosol Merah, Latosol Merah Kekuningan, Laterit, Podzolik MK Tanah tua yang hanya meninggalkan sedikit sisa mineral yang mudah lapuk yang di- tunjukkan nilai KTK rendah ( < 16 me/100 g liat) dengan kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif. Di lapangan menunjukkan batas lapisan yang tidak jelas yang banyak mengandung oksida Fe dan oksida Al.

10. Histosol (H) = Gambut, Organosol, Tanah Organik (histos = jaringan) Tanah dengan kandungan bahan organik > 20% pada tekstur pasir atau kandungan bahan organik > 30% untuk tekstur liat. Lapisan bahan organik tersebut tebalnya le- bih dari 40 cm.

Rumus Kematangan Tanah :

 

(A - 0,2 DP)

n

= ---------------- (L + 3. O)

dimana :

A

: kandungan air (%)

DP

: debu + pasir

L

: liat (%)

O

:

bahan organik (%)

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

25

Tabel 6.

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Variasi Bentuk Batuan berdasarkan Macam Bentuk dan Kemulu- san Batuan (contoh : b4 = batuan bulat agak runcing)

b. bulat j. lonjong t. tiang l. lempeng 5. runcing 4. 3. berlekuk 2. ag.
b. bulat
j.
lonjong
t.
tiang
l.
lempeng
5. runcing
4.
3. berlekuk
2. ag. mulus
1. mulus
Bentuk x
ag.runcing
Kemulusan

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

11

Tabel 7. Padanan Nama Taksonomi Tanah

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Sistem Dudal & Soepraptohardjo

Modifikasi

FAO/Unesco

USDA Soil

1978/1981

1970

Taxonomy

(1957,1961)

1975

Organosol

Organosol

Histosol

Histosol

Litosol

Litosol

Litosol

Entisol

Aluvial

Ranker

Ranker

Lithic Sub Group

Regosol

Aluvial

Fluvisol

Entisol

Renzina

Kambisol

Cambisol

Inceptisol

Grumusol

Regosol

Regosol

Entisol

Andosol

Kambisol

Cambisol

Inceptisol

Podsolik coklat

Renzina

Renzina

Rendoll

Pods. ck.kelabuan

Grumusol

Vertisol

Vertisol

Brown Forest Soil

Kambisol

Cambisol

Inceptisol

Latosol

Kambisol

Cambisol

Inceptisol

Latosol

Cambisol

Inceptisol

Brunizem

Cambisol

Inceptisol

Nitosol

Nitosol

Ultisol

 

Phaeozem

Alfisol

 

Mollisol

 

Oksisol

Ferralsol

Oxisol

Kambisol-molik/

Greyzem/

Mollisol

Brunizem-molik

Chernozem/

 

Kastanozem

Podsolik Mr Kuning

Podsolik

Acrisol

Ultisol

Mediteran Mr Kn

Mediteran molik

Phaeozem

Mollisol

Podsol

Podsol

Podsol

Spodosol

Podsol Air Tanah

Podsol humik

Humic Podsol

Spodosol

Laterit Air Tanah

Oksisol

Plinthic Ferralsol

Aquox

gleiik/Plintik

Glei Humus

Gleisol Humik

Gleisol

Aquept

Glei Humus Rendah

Gleisol

Gleisol

Aquept

Hidromorf Kelabu

Podsolik Gleiik

Gleyik Acrisol

Aquult

Aluvial Hidromorf

Gleisol Hidrik

Fluvisol

Hydraquen

Planosol

Planosol

Planosol

Aqualf

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

12

B. Tingkat Sub-Ordo

1. E NTISOLS (ENT)

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Aquents

tekstur sangat kasar berpasir, tidak ada epipedon okrik, permeabilitas baik sampai berlebihan

Arents

ada bekas horison diagnostik yang rusak karena percampuran, dengan permeabilitas baik

Fluvents

ada tanda-tanda sedimentasi , lereng < 25%, tekstur lapisan bawah pasir sangat halus berlempung atau lebih halus, dengan bahan organik rendah

Orthents

tekstur sama dengan fluvent, dengan bahan organik rendah, permeabili- tas baik, serta suhu tanah dapat mencapai rata-rata setahun < 0 o C (ada permafost)

2. VERTISOLS (ERT)

Torrerts

biasanya dalam keadaan kering dan mempunyai retakan sepanjang tahun

Uderts

biasanya dalam keadaan lembab, retakan tampak selama kurang dari 90 hari kumulatif, atau kurang dari 60 hari berturut-turut

Usterts

retakan tampak selama 90 hari kumulatif atau lebih tetapi tidak sepan- jang tahun, dan iklim panas dengan rata-rata suhu tahunan 22 o C atau lebih

Xererts

retakan tampak selama 60 hari berturut-turut atau lebih, suhu rata-rata tahunan kurang dari 22 o C

3. INCEPTISOLS (EPT)

Andepts terdiri dari mineral liat Allophane dimana struktur longgar (BJ < 0,85), kadang mengandung zarah-zarah kaca volkan. Sebanyak 60% atau le- bih dalam fraksi debu atau fraksi diatas debu, memiliki permeabilitas baik dan tidak memiliki epipedon plaggen

Aquepts

permeabilitas buruk yang ditunjukkan adanya gleisasi, kadang terdapat epipedon histik/okrik, berbecak-becak, atau bersifat alkalin

Ochrepts

kadang terdapat padas, epipedon okrik terlalu merah cerah, dapat memiliki epipedon umbrik/molik setebal < 25 cm

Plaggepts

memiliki epipedon plaggen

Tropepts suhu sedang sampai panas sepanjang tahun, terdapat epipedon um- brik/molik/okrik dengan endopedon kambik, nilai KB < 50% dibawah molik

Umbrepts

suhu dingin sampai panas kurang dari 8 o C, memiliki epipedon umbrik/ antropik/molik dengan endopedon kambik dengan nilai KB < 50%, dan tebal epipedon dapat > 25 cm, beriklim lembab sampai basah serta per- meabilitas baik

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

13

4. ARIDISOLS (ID)

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Argids

mempunyai horison argilik/natrik/petrokalsik dangkal, dengan iklim le- bih kering dari pada Orthid

Orthids

aridisol khusus yang tidak mempunyai horison argilik/natrik, dapat mempunyai horison petrokalsik/salik/gypsik/kalsik, umumnya kering, DHL sama atau dibawah 2 mmho

5. MOLLISOLS (OLL)

Albolls terdapat horison Albik yaitu A2 pucat dibawah epipedon Molik atau diapit dua horison Molik. Disamping itu terdapat endopedon Ar- gilik/Natrik, adanya tanda-tanda gleisasi dengan becak konkresi besi dan mangan dengan ukuran diatas 2 mm, didalam horison endopedon mencakup tanah Solonchak, Solonet, dan Planosol.

Aquolls

permeabilitas buruk (ada gleisasi), hidromorf nyata (ada becak), dapat mempunyai epipedon Histik, dapat juga Kalsik, termasuk pada tanah glei humus

Burolls suhu rata-rata setahun dibawah 8 o C, dengan atau tanpa horison O, memiliki horison Albik/Argilik/Natrik/Kalsik/Gypsik, banyak mem- punyai krotovinas dengan permeabilitas baik, meliputi Chernozem

Rendolls

suara berisik bila tanah liat bergamping berwarna tua, epipedon Molik sama atau lebih tipis dari 50 cm tanpa endopedon Argilik dan Kalsik. Terdapat zarah-zarah gamping kasar (diameter < 7,5 cm) didalam atau dibawah Molik, mengandung kapur, seperti Renzina

Udolls suhu rata-rata sama atau diatas 8 o C, mempunyai endopedon Albik/ Kambik/Argilik, nilai KB < 80%, memiliki horison Kalsik yang terletak didalam, biasanya lembab, permeabilitas baik, meliputi Burnizem

Ustolls kadang-kadang kering selama 90 hari kumulatif atau lebih, nilai KB sama atau diatas 80%, dapat mempunyai horison Kambik/Argilik, suhu rata-rata terlalu tinggi atau kroma terlalu tinggi untuk Buroll

Xerolls kering selama 60 hari berturut-turut atau lebih, dapat mempunyai duri- pan dangkal atau Natrik/Kalsik/Petrokalsik/Gipsik/Argilik, suhu rata- rata sama atau diatas 8 o C

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

14

6. SPODOSOLS (OD)

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Aquods

permeabilitas buruk (ada gleisasi) dapat memiliki epipedon Histik, dapat mempunyai duripan dalam Albic, berbecak

Ferrods

permeabilitas baik, horison Spodik yang mempunyai nilai perbandingan Fe/C diatas 6 (pengumpulan besi jauh lebih banyak dari humus)

Humods

pengumpulan humus terdispersi, dengan pengumpulan Al lebih banyak dari pada Fe, permeabilitas baik

Orthods horison Spodik dengan Fe/C sama atau kurang dari 6, permeabilitas baik, pengumpulan Fe lebih banyak dari pada humus, dalam Spodik ter- dapat butiran-butiran humus berukuran debu

7. ALFISOLS (ALF)

Aqualfs

permeabilitas buruk (gleisasi, berbecak, konkresi Fe dan Mn)

Boralfs

suhu rata-rata dibawah 8 o C, horison Albik dengan permeabilitas baik

Udalfs

mempunyai horison Agrik/Natrik/Argilik atau Fragipan, permeabilitas baik, terdapat horison Albik terputus-putus dan berbentuk lidah-lidah yang menjulur kedalam horison Argilik/Natrik, dengan suhu rata-rata tahunan diatas 8 o C, biasanya keadaan lembab, serta DHL < 1 mmho

Ustalfs permeabilitas baik dan kadang kering selama 60 hari berurutan atau kurang selama 90 hari kumulatif atau lebih, nilai KB sama atau diatas 80% dan DHL diatas 1 mmho

Xeralfs

kering selama 60 hari berurutan atau lebih, suhu rata-rata tahunan 8-22 o C, permeabilitas baik

8. ULTISOLS (ULT)

Aquults

permeabilitas buruk (gleisasi), berbecak, konkresi Fe dan Mn

Humults tidak pernah jenuh air, warna lebih merah atau lebih cerah dari pada Aquult, kandungan bahan organik sedang sampai tinggi (sama atau lebih dari 1,5%), mempunyai horison Argilik

Udults

permeabilitas baik, warna lebih merah/cerah dari pada Aquult, dengan kadar bahan organik dibawah 1,5% biasanya bersifat lembab berurutan kurang 90 hari kumulatif dengan masa kering kurang dari 60 hari

Ustults

permeabilitas baik. lebih merah/cerah dari pada Aquult, kadar B.O. di- bawah 1,5% dengan masa kering lebih dari 90 hari kumulatif atau lebih 60 hari berurutan

Xerults suhu rata-rata tahunan dibawah 22 o C, dengan masa kering > 60 hari, kadar B.O. dibawah 1,5%, permeabilitas baik berwarna cerah dari pada Aquult

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

15

9. OXISOLS (OX)

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Torrox

biasanya kering, epipedon Okrik dengan value lembab sama atau lebih tinggi dari 4

Ustox

suhu rata-rata tahunan sama atau lebih tinggi 15 o C, biasanya lembab dengan musim kering > 60 hari, serta warna value lembab kurang dari 4

10. HISTOSOLS (IST)

Folists

berasal dari penimbunan daun-daun dan ranting-ranting yang sangat lambat proses dekomposisinya

Fibrists

paling rendah tingkat dekomposisi, sisa-sisa tumbuhan aslinya mudah disidik asal botaninya

Hemists

bahan-bahan berada dalam tingkatan dekomposisi setengah jalan

Saprists

paling jauh tingkat dekomposisi, dengan jaringan asli tumbuhan penyu- sun bahan organik tidak dapat disidik lagi

C. Tingkat Great-Group

1. E NTISOLS (ENT)

Aquents

Sulfaquents

Hydraquents

Cryaquents

Fluvaquents

Tropaquents

Psammaquents

Haplaquents

Arents

Fluvents

Cryofluvents

Xerofluvents

Ustifluvents

Torrifluvents

Tropofluvents

Udifluvents

Orthents

Cryorthents

Torriorthents

Xerorthents

Troporthents

Udorthents

Ustorthents

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

16

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Psamment

Cryopsamments

Torripsamments

Quartzipsamments

Udipsamments

Tropopsamments

Xeropsamments

Ustipsamments

2. VERTISOLS (ERT)

Torrerts

Uderts

Chromuderts

Pelluderts

Usterts

Chromusterts

Pellusterts

Xererts

Chromoxererts

Palloxererts

3. INCEPTISOLS (EPT)

Andepts

Cryandepts

Durandepts

Hydrandepts

Placandepts

Vitrandepts

Eutrandepts

Dystrandepts

Aquepts

Sulfaquepts

Placaquepts

Halaquepts

Fragiaquepts

Cryaquepts

Plinthaquepts

Andaquepts

Tropaquepts

Humaquepts

Haplaquepts

Ochrepts

Fragiochrepts

Durochrepts

Cryochrepts

Ustochrepts

Xerochrepts

Eutrochrepts

Dystrochrepts

Plaggepts

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

17

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Tropepts

Humitropepts

Sombritropepts

Ustropepts

Eutropepts

Dystropepts

Umbrepts

Fragiumbrepts

Cryumbrepts

Xerumbrepts

Haplumbrepts

4. ARIDISOLS (ID)

Argids

Durargids

Nadurargids

Natrargids

Paleargids

Haplargids

Orthids

Salorthids

Paleorthids

Durorthids

Gypsiorthids

Calciorthids

Camborthids

5. MOLLISOLS (OLL)

Albolls

Natralbolls

Argialbolls

Aquolls

Cryaquolls

Duraquolls

Natraquolls

Calciaquolls

Argiaquolls

Haplaquolls

Borolls

Paleborolls

Cryoborolls

Natriborolls

Argiborolls

Vermiborolls

Calciborolls

Haploborolls

Rendolls

Udolls

Paleudolls

Argiudolls

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

18

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

 

Vermudolls

Hapludolls

Ustolls

Durustolls

Natrustolls

Paleustolls

Calciustolls

Argiustolls

Vermustolls

Haplustolls

Xerolls

Durixerolls

Natrixerolls

Palexerolls

Calcixerolls

Argixerolls

Haploxerolls

6. SPODOSOLS (OD)

Aquods

Fragiaquods

Cryaquods

Duraquods

Placaquods

Tropaquods

Haplaquods

Sideraquods

Ferrods

Humods

Placohumods

Tropohumods

Fragihumods

Cryohumods

Haplohumods

Orthods

Placorthods

Fragiorthods

Cryorthods

Troporthods

Haplorthods

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

19

7. ALFISOLS (ALF)

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Aqualfs

Plinthaqualfs

Natraqualfs

Duraqualfs

Fragiaqualfs

Kandiaqualfs

Glossaqualfs

Albaqualfs

Umbraqualfs

Ochraqualfs

Boralfs

Paleboralfs

Fragiboralfs

Natriboralfs

Cryoboralfs

Eutroboralfs

Glossoboralfs

Udalfs

Agrudalfs

Natrudalfs

Ferrudalfs

Glossudalfs

Fraglossudalfs

Fragiudalfs

Kandiudalfs

Kanhapludalfs

Paleudalfs

Rhodudalfs

Hapludalfs

Ustalfs

Durustalfs

Plinthustalfs

Natrustalfs

Kandiustalfs

Paleustalfs

Rhodustalfs

Haplustalfs

Xeralfs

Durixeralfs

Natrixeralfs

Fragixeralfs

Plinthoxeralfs

Rhodoxeralfs

Palexeralfs

Haploxeralfs

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

20

8. ULTISOLS (ULT)

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Aquults

Plinthaquults

Fragiaquults

Kandiaquults

Kanhaplaquults

Paleaquults

Ochraquults

Tropaquults

Umbraquults

Humults

Sombrihumults

Plinthohumults

Kandihumults

Kanhaplohumults

Haplohumults

Tropohumults

Palehumults

Udults

Plinthudults

Fragiudults

Kandiudults

Kanhapludults

Paleudults

Rhodudults

Hapludults

Tropudults

Ustults

Plithustults

Kandiustults

Kanhaplustults

Paleustults

Rhodustults

Haplustults

Xerults

Palexerults

Haploxerults

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

21

9. OxI sols (OX)

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Aquox

Acraquox

Plinthaquox

Eutraquox

Gibbsiaquox

Umbraquox

Haplaquox

Torrox

Acrotorrox

Eutrotorrox

Ustox

Sombriustox

Acrustox

Eutrustox

Kandiustox

Haplustox

Perox

Sombriperox

Acroperox

Eutroperox

Kandiperox

Haploperox

Udox

Sombriudox

Acrudox

Eutrudox

Kandiudox

Hapludox

Humox

Acrohumox

Gibbsihumox

Haplohumox

Sombrihumox

10. HISTOSOLS (IST)

Folists

Cryofolists

Tropofolists

Borofolists

Fibrists

Spaghnofibrists

Cryofibrists

Borofibrists

Tropofibrists

Medifibrists

Luvifibrists

Hemists

Sulfohemists

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

22

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

 

Sulfihemists

Luvihemists

Cryohemists

Borohemists

Tropohemists

Medihemists

Saprists

Cryosaprists

Borosaprists

Troposaprists

Medisaprists

D. Tingkat Sub-Group

E. Tingkat Family

F. Tingkat Serie

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

23

Lampiran 2.

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

PERMEABILITAS

Tabel 8.

Kriteria Kelas Permeabilitas Tanah berdasarkan Kondisi Fisik Tanah

KELAS

KRITERIA

KONDISI, DESKRIPSI

KETENTUAN

1

CEPAT

tekstur pasir dan pasir berlempung

laju pergerakan air melalui profil tanah sangat cepat dan tidak pernah jenuh air, tetapi terlalu cepat menunjang pertum- buhan optimum kebanyakan tanaman pertanian.

2

AGAK

tekstur lempung berpasir, lempung liat ber-

tanah jenuh selama beberapa jam, se-

CEPAT

pasir atau liat berpasir yang tidak padat dan tidak menggumpal

hingga tidak menguntungkan bagi per- tumbuhan optimum tanaman pertanian.

tekstur liat atau lempung berliat dengan struktur yang gembur, bundar atau agak berbentuk kubus

3

SEDANG

permeabilitas antara kelas dua dan empat, dengan tekstur agak kasar dan sedikit padat dengan lapisan liat yang tipis sering terlihat

tanah jenuh selama beberapa hari yang tidak sampai merugikan tanaman perta- nian. Terdapat bercak diseluruh horison A dan B.

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

24

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

4 AGAK

LAMBAT

tekstur liat atau lempung berliat dengan warna keabu-abuan, kekuning-kuningan atau kecoklat-coklatan, kadang-kadang ter- dapat sedikit bercak masif dengan struktur kubus yang mantap dan cukup padat, di- mana lapisan liat yang tipis sering nampak jelas

Masa jenuh selama 1-2 minggu menim- bulkan pengaruh buruk tanaman. Tanah mempunyai muka air bumi cukup tinggi dengan bercak tanah pada horison A, B dan C.

tekstur lempung liat berpasir atau liat ber- pasir dengan struktur yang agak masif, cu- kup padat dan biasanya terdapat sedikit bercak atau memiliki warna yang ke- kuning-kuningan

tekstur liat akibat pengolahan tanah yang berlebihan, warna abu-abu gelap kecoklat- coklatan, dengan struktur yang cukup man- tap

kerikil-kerikil laterit, cukup padat, tetapi dapat ditembus perakaran

batuan dengan pelapukan ringan atau re- latif tidak lapuk bersatu menjadi gabungan dan sedikit dapat ditembus perakaran

 

5 LAMBAT

tekstur liat padat dengan struktur kubus atau prisma serta memiliki permukaan yang mengkilat

Tanah jenuh air selama 1-2 bulan, den- gan bercak warna abu-abu pada seluruh profil.

tanah yang tidak menggumpal

kerikil atau kerikil laterit, sangat padat dan sebagian disemen, dengan perakaran yang menembus sedikit

batuan dengan pelapukan yang berat, bertekstur liat dan padat, sering retak-retak menjadi bongkahan persegi kalau kering. Tanda-tanda water logging atau rendaman air sering terlihat pada lapisan tersebut

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

25

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

6

LAMBAT

tekstur liat yang lengket dan masif, dengan struktur kubus atau prisma serta permukaan yang mengkilat. Akar menjadi datar dan terdapat di sela-sela struktur. Warna gelap kekuning-kuningan, keabu-abuan atau hi- tam, biasanya terdapat bercak yang jelas kekuning-kuningan atau kebiru-biruan

tanah sama sekali tidak menggumpal

Tidak ada air bebas memasuki tubuh tanah. Muka air tanah hampir dekat dengan permukaan tanah sepanjang ta- hun

SEKALI

tanah laterit yang masif, disemen dan tidak tembus perakaran

 

batuan padat tanpa retakan dan tidak tem- bus perakaran

Tabel 9.

Kriteria Permeabilitas Tanah atas dasar Kandungan Tekstur, Struktur dan Batuan

Kode

Kriteria

Kecepatan

KANDUNGAN

 
   

mm/jam

Tekstur

Struktur

Batuan

1.

Cepat

 

> 125

kasar

remah

-

2.

Agak Cepat

65

-

125

agak kasar

granular

-

3.

Sedang

20

-

65

agak kasar

granul kasar

-

4.

Agak Lambat

5

-

20

sedang

kb/prisma kc

lunak

5.

Lambat

1

-

5

agak halus

kb/prisma bs

1/2 masif

6.

Lambat Sekali

 

<

1

halus

kb/prisma

masif

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

26

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

Lampiran 3. KECEPATAN INFILTRASI

Tabel 10. Kriteria Kelas Kecepatan Infiltrasi dan Kesesuaian Lahan

KODE

KELAS

KRITERIA

KESESUAIAN LAHAN

0

sangat buruk

pergerakan air tanah buruk, sehingga muka air tanah untuk waktu lama, yang dapat ditemui didaerah dataran atau cekungan.

tanah ini terlalu basah bagi tanaman pertanian, kecuali tanaman padi, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.

1

buruk

pergerakan air sangat lambat se- hingga tanah tetap basah untuk jangka waktu lama, tetapi tidak menggenang. Muka air tanah dekat dengan permukaan atau pada per- mukaan.

penggunaan tanah ini memer- lukan infiltrasi pada batuan.

2

terhambat

pergerakan air cukup lambat se- hingga mampu mempertahankan keadaan basah untuk beberapa waktu. Terdapat lapisan kedap air dengan muka air tinggi, rembesan.

pertumbuhan tanaman perta- nian menunjukkan gejala ter- hambat sampai batas tertentu, dan untuk memperbaiki diper- lukan infiltrasi pada batuan.

3

cukup

pergerakan air tanah agak lambat sehingga profil tanah basah untuk waktu singkat tetapi nyata. Mem- punyai lapisan cukup kedap atau langsung dibawah solum terdapat muka air bumi nisbi tinggi, penam- bahan air dari rembesan.

tanah cukup sesuai untuk ber- bagai macam tanaman perta- nian.

4

baik

air segera lenyap dari tanah tetapi tidak cepat, tanah bertekstur sedang.

tanah mampu memberikan lengas optimum untuk pertum- buhan tanaman setelah hujan atau penambahan air irigasi.

5

agak berlebih

air lenyap dengan cepat, tanah ada yang mengandung batuan, diferen- siasi horison sedikit, berpasir atau sangat sarang.

hanya beberapa jenis tanaman pertanian mampu tumbuh, umumnya memberikan hasil rendah kecuali jika dilakukan irigasi.

6

berlebih

air lenyap dari tanah sangat cepat. Tanah berbatu dan sangat sarang, yang sering ditemui pada tanah Lito- sol.

tidak sesuai untuk tanaman pertanian, khususnya tanaman pangan.

Lampiran 4.

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

27

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

SIMBOL HORIZON

A. Horizon Organik (O)

Tumpukan serasah segar atau telah terurai dan sebagian tercampur dengan bahan mineral.

Dengan batasan sebagai berikut :

1. terbentuk diatas bagian mineral profil tanah mineral

2. tidak jenuh air lebih dari beberapa hari dalam setahun, dan mengandung > 35%

bahan organik di lapisan atas

3. jika kandungan liat > 50% maka kandungan bahan organik = 10%

4. jika tidak mengandung liat, maka kandungan bahan organik = 20%

5. jika kandungan liat antara 0-5%, maka kandungan bahan organik setara dengan 20+(0,2 x % liat) O1 : horison organik yang terbentuk dari bahan tumbuhan atau hewan yang morfologinya masih dapat dilihat secara kasat mata O2 : horison organik yang bentuk bahan asalnya (tumbuhan atau he- wan) sudah sulit untuk dikenali secara kasat mata.

H :

B. Horizon Mineral

horison dari bahan organik pada lapisan atas yang selalu jenuh air.

Horizon mineral mempunyai ciri-ciri organis, antara lain :

1. jika tidak mengandung liat, kandungan C-organik < 12%

2. jika kandungan liat > 60%, kandungan C-organik > 18%

3. jika kandungan liat 0 - 60%, kandungan C-organik 12-18%.

A

horison tanah mineral dipermukaan yang memiliki bahan organik yang telah terurai dan memenuhi persyaratan sebagai hasil pembentukan tanah.

A1

horison mineral yang terbentuk pada atau berdekatan dengan permukaan tanah, sebagai tempat bahan organik terhumifikasi.

A2

horison mineral yang memperlihatkan kehilangan liat, besi atau almunium, dan meningkatkan kandungan kuarsa dan mineral lapuk lainnya.

A3

horison peralihan antara horison A dan B, serta didominasi oleh watak hori- son A1 dan A2 diatasnya serta sejumlah watak sub-ordinat B dibawahnya.

AB

horison peralihan antara horison A dan B yang bagian teratas didominasi wa- tak horison A dan bagian bawah horison B, dan horison ini sulit dikategorikan sebagai horison A3 atau B.

Pelatihan Perisalahan Hutan Lanjutan Tahun 1996 di Pusdik Kehutanan CEPU Praktek Lapangan dan Identifikasi Ketetapan Lokasi, Penandaan dan Pemetaan Unit Lahan

28

PENAFSIRAN NAMA TANAH DENGAN ANALISA FISIKA DAN KIMIA DI LAPANGAN Ir. Beny Harjadi, MSc

A dan B

horison yang mempunyai watak seperti horison A2, kecuali sebagian (<50%) horison mempunyai watak seperti horison B.

B

horison mineral dengan menampilkan satu atau lebih watak berikut :

tempat penimbunan liat silikat, besi, aluminium atau humus, baik secara tunggal maupun kombinasinya sebagai hasil iluviasi (pendendapan).

adanya peningkatan sisa-sisa seskuioksida (Fe 2 O 3 dan Al 2 O 3 ) atau liat silikat, dibandingkan bahan induknya.

merupakan hasil lapukan dengan pembentukan liat silikat dan oksida, atau berstruktur prisma, gumpal atau remah.

B1

horison peralihan antara horison B dan A1 atau antara horison B dan A2 yang didominasi watak horison B2 di bawahnya dan mempunyai watak subordinat horison A1 dan A2 diatasnya.

B dan A

harison yang 50% volume horison ini merupakan horison peralihan, meluas sampai mendekati horison A diatasnya atau berdekatan horison C dan R di- bawahnya.

B2

horison B yang tidak menampakkan sifat-sifat horison B secara tegas yang menunjukkan bahwa horison ini merupakan peralihan yang meluas sampai horison A diatasnya atau berdekatan dengan horison C dan R.

B3

horison peralihan antara horison B dan C atau R, yang memiliki sifat horison B2 diatasnya terlihat jelas, tetapi berkaitan dengan ciri horison C atau R.

C

horison mineral yang terdiri dari bahan tidak pejal dan diperkirakan sebagai bahan pembentuk tanah sedikit terpengaruh proses pedogenik dan kurang memperlihatkan sifat-sifat horison A dan B.

R

suatu lapisan batuan sangat keras (batuan kukuh), dengan tingkat kekerasan skala Mohs > 3.

Huruf Kecil

pembagian lebih lanjut dari horison utama dan menunjukkan proses pembentukan tanah. Penulisannya dibelakang huruf besar, dan da- pat mencantumkan lebih dari satu huruf.

a bahan organik saprik