Anda di halaman 1dari 12

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

KATA PENGANTAR

Januari 2012

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya senantiasa kita umat-Nya dalam keadaan sehat, sehingga kami dapat menyelesaikan paper yang berjudul Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA). Terima kasih kami haturkan kepada dr. Amiruddin, Sp.P atas bimbingannya sehingga kami dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya, dan kepada semua pihak yang ikut serta dalam penyelesaian paper ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Adapun tujuan pembuatan paper ini adalah untuk memenuhi persyaratan Kepanitraan Klinik Senior (KKS) pada Stase Paru di RSUD Pirngadi Kota Medan. Kami sadar paper ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi kemajuan kita bersama, kami berharap paper menggunakannya. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian proposal penelitian ini, lebih dan kurang kami mohon maaf. ini dapat menjadi tambahan ilmu bagi pihak-pihak yang

Medan,

Januari 2012

Penulis

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)


DAFTAR ISI

Januari 2012

KATA PENGANTAR ............................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... BAB II

1 2 3 3 4

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perhatian terhadap penyakit yang disebakan oleh infeksi jamur makin hari makin meningkat. kasus-kasus infeksi jamur juga makin banyak ditemukan. Hal ini disebabkan karena perhatian dan teknik pemeriksaan laboratorium yang makin maju. Penyakit paru karena jamur (mikosis paru) termasuk kedalam mikosis sitemik. kekerapan dan masalah yang ditimbulkan mikosis paru ini juga meningkat. Di medan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ternyata dijumpai 3,35 % mikosis paru pada pasien dengan gejala batuk kronik dan berdahak. Penyebab terbanyak adalah Candida albicans 36,67 %, kemudian Aspergillus fumigatus 27,33 %, Candida sp. dan A. flavus masing-masing 11,6 %, Rhizopus sp. 5,56 %, A.niger 3.70 %, Mukor sp. 1,85 % dan Nocardia sp. 1.85 %. (1)

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

Aspergillus dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, antara lain reaksi hipersensitivitas tipe I dan III. Pada paru, Aspergillus dapat menyebabkan 4 sindrom utama yaitu Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA), Chronic Necrotizing Pulmonary Aspergillosis (CNPA), Aspergilloma, dan Invasive Aspergillosis.

1.2 Rumusan Masalah Untuk mengetahui penyakit Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

1.3 Tujuan Penulisan Untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang Allergic

Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

BAB II ALLERGIC BRONCHOPULMONARY ASPERGILLOSIS

2.1 Definisi Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA) merupakan suatu rekasi hipersentivitas terhadap kolonisasi Aspergillus fumigates pada bagian trakeobronkial dimana pada umumnya terjadi pada pasien dengan riwayat penyakit asma maupun fibrosis kistik.(4)

2.2 Etiologi

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)


Jamur Aspergillus fumigatus.

Januari 2012

Aspergillus fumigates (90%) Aspergillus flavus Aspergillus niger Aspergillus clavatus (10%) (2%) (<1 %)

Aspergillus bisa tumbuh di daun-daun yang telah mati, gandum yang disimpan, kotoran burung, tumpukan pupuk dan tumbuhan yang membusuk lainnya. Infeksi akibat aspergillus (misalnya pneumonia atau aspergiloma) jarang terjadi. Tetapi beberapa orang menunjukkan suatu reaksi alergi (hipersensitivitas) terhadap jamur ini (disebut allergic bronchopulmonary aspergillosis), yang ditandai dengan adanya peradangan pada saluran pernafasan (bronkus) atau kantong udara (alveolus). Penyakit ini bisa menyerupai asma atau pneumonia, dan pada kenyataanya, sebagian besar penderita ABPA juga menderita asma. Resiko tinggi terjadinya ABPA ditemukan pada penderita asma atau fibrosis kistik.(2)

2.3 Epidemiologi Penyakit ini dijumpai pada 8% pasien asma dan sampai 20% pasien asma kronik yang masuk rumah sakit di Inggris. Kasus pertama ABPA dilaporkan pada tahun 1952

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

oleh Hinston di Inggris, sedangkan dari Amerika baru dilaporkan 1965. Mulanya penyakit ini jarang terjadi di Amerika, tetapi sejak 15 tahun kasus semakin meningkat baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Di Medan (Indonesia) APBA ini juga dijumpai dan pertama kali dilaporkan oleh Tanjung A pada tahun 1987, kemudian dilaporkan beberapa kasus lagi. Patogenesis penyakit ini belum sepenuhnya dimengerti. Mungkin reaksi imunologis tipe I dan III mempunyai peran.(1)

2.4 Patofisiologi Faktor-faktor yang mendasari pengembangan ABPA tetap tidak jelas. Peran faktor genetik, kualitas lendir, preactivation sel epitel dan sejauh mana, aktivasi ini memfasilitasi pengembangan Aspergillus spora ke dalam hifa, penetrasi bronkial Aspergillus, respon imun dan bronkus / bronkiolus inflamasi, mation dan kehancuran belum sepenuhnya dipahami. Memang, mekanisme yang terlibat dalam pengembangan ABPA adalah kompleks (Gambar 1). Pepys menunjukkan bahwa ABPA merupakan hasil jenis I dan tanggapan imunologi III, diklasifikasikan menurut Gell dan Coombs. Namun, klasifikasi memberikan pandangan terbatas patogenesis ABPA.

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

Faktor Genetik CD4+ limfosit Th2 dari pasien ABPA yang dibatasi sampai enam MHC kelas II HLD-R subtipe. Genetik menunjukkan bahwa molekul HLA-DR (DR2, DR5, dan mungkin, DR4 atau DR7) berhubungan dengan kerentanan untuk ABPA, sedangkan molekul HLA-DQ2 terkait dengan resistensi. Dengan demikian, kombinasi dari genetik elemen dapat menentukan hasil dari ABPA pada pasien dengan fibrosis kistik dan asma (12, 13). Marchand et al. Marchand dkk. menemukan bahwa frekuensi cystic fibrosis trans- membran konduktor regulator (CFTR) gen mutasi tinggi pada pasien dengan ABPA dibandingkan dengan mereka yang alergi asma, meski kedua kelompok menunjukkan yang normal konsentrasi klorida keringat. Hal ini menunjukkan bahwa CFTR mutasi gen yang terlibat dalam pengembangan ABPA. Selain itu, Saxena et al diidentifikasi asosiasi antara polimorfisme di wilayah kolagen dari Pulmonary surfaktan protein A2 dan kecenderungan untuk ABPA dan tingkat keparahan penyakit. Kondisi di mana A. fumigatus berkolonisasi yang saluran pernafasan pada pasien mengembangkan ABPA lain. faktor yang terkait dengan patofisiologi penyakit. Spora Aspergillus yang dihirup

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

dan menembus lendir lapisan. Kombinasi faktor dapat menyebabkan lebih bronkial kepatuhan Aspergillus dan tingkat tinggi Aspergillus antigen penyerapan pada pasien berkembang.(4)

2.5 Gejala Klinis Manifestasi klinis ABPA sangat bervariasi, berupa badan tidak enak, demam, sesak, sakit dada, wheezing, dahak yang purulen, dan batuk darah. Berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratories, dan serologis sudah dikenal 5 macam staging ABPA, yaitu : 1. staging akut pasien memberikan gejala demam, batuk, sesak, dan sulit mengeluarkan dahak. Laboratorium menunjukkan peninggian serum IgE dan eosinofilia. Secara radiologi dapat dijumpai infiltrat di paru. Pada keadaan akut ini diberikan kortikosteroid sampai timbul remisi. 2. staging remisi pasien tidak memberikan gejala sedangkan secara laboratorium menunjukkan penurunan IgE dan eosinofil darah. Pemeriksaan radiologis menunjukkan resolusi infiltrat di paru. Tidak diperlukan kortikosteroid pemeliharaan. 3. staging eksaserbasi berulang pasien dapat memberikan gejala asma yang memerlukan kortikosteroid jangka

panjang. Laboratorium menunjukkan peningkatan IgE sedangkan gambaran radiologis berubah-ubah. 4. staging asma dependen terhadap kortikosteroid 5. staging fibrosis paru pasien memberikan gejala sesak nafas dan manifestasi fibrosis paru. Faal paru menunjukkan adanya obstruksi dan atau restrikti yang reversible. Peninggian IgE menunjukkan aktivitas penyakit masih berlanjut. Pemeriksaan radiologis

menunjukkan adanya fibrosis paru. Pada staging ini diperlukan kortikosteroid jangka panjang.(1)

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

2.6 Diagnosis Aspergillosis Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA) ditegakkan berdasarkan kriteria yang terdiri atas : 1. asma 2. eosinofilia (>1000/ mm3) 3. tes kulit positif terhadap A.fumigatus 4. presipitin antibody terhadap Aspergillus 5. radiologis adanya infiltrate 6. serum IgE total meninggi 7. bronkiektasis proksimal 8. IgE dan IgG spesifik meninggi terhadap A.fumigatus

Gambaran lain termasuk hasil kultur positif terhadap Aspergillus fumigatus dan reaksi tes kulit tipe lambat positif.(1) Jika pasien memiliki semua delapan dari atas, diagnosis pasti. Jika pasien memiliki tujuh, diagnosis untuk ABPA adalah sangat mungkin. Jika pasien memiliki asma, eosinofilia dan sejarah infiltrat maka ABPA harus dianggap sebagai mungkin dan tes lainnya dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi. Jika pasien memiliki kurang dari tujuh dari diagnosis di atas menjadi kurang yakin. Jika jawaban yang diperlukan cepat dan jika kesehatan pasien memungkinkan maka biopsi adalah cara yang sangat baik untuk memutuskan diagnosis.(6)

2.7 Pemeriksaan Penunjang ABPA harus dipertimbangkan pada penderita asma dengan hasil foto toraks abnormal serta jumlah eosinofil yang tinggi. 1. tes kulit : hasil tes kulit terhadap Aspergillus spp. harus positif (atau kenaikan IgE spesifik dalam serum) untuk menegakkan diagnosis.

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

2. tes darah : jumlah eosinofil meningkat, terutama pada episode akut. IgE serum total sangat meningkat. Antibodi pemicu (IgE) dijumpai pada 70%. 3. pemeriksaan sputum : hifa jamur bisa dijumpai dalam sputum. 4. foto toraks : infiltrat perihilar transien (berganti-ganti) dijumpai selama serangan akut. Bisa terjadi kolaps lobus atau segmental akibat sumbatan bronkus. Pada penyakit kronis bisa terjadi kontraksi lobus atas, fibrosis, dan bronkiektasis.(5)

2.8 Diagnosis Banding 1. Aspergiloma 2. Aspergilosis kronik nekrotizing (1)

2.9 Pengobatan Pengobatan dengan diberikan kortikosteroid oral (glukokortikoid jangka pendek) dan hendaknya dilanjutkan untuk beberapa bulan, serta diberikan profilaksis itrakonazol. Dengan profilaksis itrakonazol oral 2 kali 200 mg sehari dapat mengurangi pemakaian glukokortikoid dan eksaserbasi berkurang.(1)

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

Oral glucocorticoids - 0.5 mg/kg/d for 1-2 wk then on alternate days for 6-8 wk. Then taper by 5-10 mg/2wk
- 0,5 mg / kg / hari selama 1-2 minggu kemudian pada hari alternatif selama 6-8 minggu. Kemudian lancip oleh mg/2wk 5-10

- Repeat total IgE and radiography in 6 to 8 wk


- Ulangi IgE total dan radiografi dalam 6 sampai 8 minggu

- 35% decline in IgE level signifies response


- Penurunan 35% di tingkat IgE menandakan respon

Oral Itraconazole - 200 mg bid for 16 wk then once a day for 16 wk - First relapse ABPA or glucocorticoid-dependent ABPA - Inhibits the metabolism methylprednisolone
- 200 mg tawaran untuk 16 minggu dari sekali sehari selama 16 minggu - Pertama kambuh ABPA atau glukokortikoid bergantung ABPA - Menghambat metabolisme metilprednisolon

Inhaled Corticosteroids No superiority over placebo.


Tidak ada superioritas atas plasebo.

2.10 Pencegahan

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

10

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

Orang-orang dengan faktor predisposisi (asma, fibrosis kistik, dll), sebaiknya menghindari lingkungan dimana jamur aspergillus ditemukan.(2)

2.11 Komplikasi

2.12 Prognosis
ABPA biasanya berlanjut menjadi bronkiektasis.(5)

There is no current cure for ABPA, but management of the inflammation and scarring using itraconazole and steroids usually succeeds in stabilising the symptoms for many years.ABPA can very rarely progress to CCPA.
Tidak ada obat saat ini ABPA, tetapi manajemen peradangan dan jaringan parut menggunakan itrakonazol dan steroid biasanya berhasil dalam menstabilkan gejala-gejala selama bertahuntahun. ABPA sangat jarang berkembang menjadi CCPA.(6)

PENUTUP
ABPA is a common manifestation in chronic allergic asthma and cystic fibrosis patients. Despite the high frequency of the disease among the sepatients, diagnoses are not generally made until a long time after the initiation of the asthmatic disease. When the clinical, radiological and biological criteria for ABPA appear in combination and the diagnosis is made, a treatment that includes both corticosteroids and the antifungal agent, itraconazole, needs to be administered. However, the treatment regimes for this antifungal therapy have yet to be definitely established.

ABPA merupakan manifestasi umum pada asma alergi kronis dan pasien cystic fibrosis. Meskipun frekuensi tinggi penyakit antara sepatients, diagnosis umumnya tidak dibuat sampai waktu yang lama setelah mulai dari penyakit asma. Ketika, klinis radiologis dan kriteria biologis untuk ABPA muncul dalam kombinasi dan diagnosis dibuat, pengobatan yang meliputi kortikosteroid dan agen antijamur, itrakonazol, perlu diberikan. Namun, rezim pengobatan untuk terapi antijamur belum ditetapkan secara pasti. (4)

RUJUKAN

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

11

Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA)

Januari 2012

1. Tanjung A, Keliat EN. Penyakit Paru Karena Jamur. Dalam: Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jilid II. Edisi IV. IPD FKUI. Jakarta : 2006. 1016-1018. 2. http://medicastore.com/penyakit/433Aspergilosis_Bronkopulmoner_Alergika_ABP A.html 3. http://emedicine.medscape.com/article/296052-overview 4. Tillie-Leblond*, A.-B. Tonnel.Department of Pulmonology and Allergology, University Hospital of Lille, Lille, France 5. Davey, Patrick. At a Glance Medicine. Erlangga. Jakarta : 2002. 196-197. 6. http://www.aspergillus.org.uk/newpatients/ABPA.php 7. Immuno-

KKS Stase Paru RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

12