Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

Identitas Pasien Nama pasien Suku Jenis kelamin Status perkawinan Agama Alamat No Rekam Medik Anamnesa Keluham utama : Pasien mengeluh di dalam mulut pada permukaan pipi kiri dekat gigi paling belakang minta diobati. Riwayat Perawatan Gigi Pasien pernah dirawat untuk untuk pemasangan alat orthodonti sejak 3 tahun yang lalu, penambelan gigi posterior atas dengan amalgam kira-kira 5 tahun yang lalu dan pembersihan karang gigi kira-kira 6 bulan yang lalu. Kebiasaan Buruk Tidak ada Riwayat sosial Pasien melakukan diet vegetarian dalam diet sehari harinya sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu. terdapat sariawan sejak kurang lebih 3 hari yang lalu ( 8 Desember 2010 ). Pasien merasa tidak nyaman dalam berbicara sehingga pasien : Lidia, S.KG : Chinese : Perempuan : Belum nikah : Buddha : Jalan Karya Baru no 479 PAlembang : 0000.37.41.74 Tempat/tanggal lahir : Palembang, 19 Juli 1988

Riwayat Penyakit Sistemik Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik Pemeriksaan Objektif a. Pemeriksaan Ekstra Oral Wajah Bibir sakit b. Pemeriksaan Intra Oral Debris Plak Kalkulus Gingiva Mukosa : ada,a,c : ada, regio a,c : ada, regio a,c : mudah berdarah dan merah pada regio a dan c : terdapat lesi pada permukaan pipi kiri didekat gigi paling belakang, lesi berwarna putih kekuningan dikelilingi lingkaran kemerahan. Lesi sakit jika bersentuhan dengan permukaan yang lain. Diameter lesi kurang lebih 6mm Palatum Lidah Dasar mulut : sehat : normal : sehat : simetri : sehat

Kelenjar getah bening submandibula kanan dan kiri tidak teraba dan tidak

Pemeriksaan gigi geligi dan jaringan penyangga Tumpatan amalgam : 16 pada permukaan oklusal gigi

Diagnosa sementara Diagnosa sementara : ulkus traumatikus Diagnosa banding : ulkus traumatikus, stomatitis aphtosa rekuren

Tinjauan Pustaka Ulkus adalah kondisi patologis dimana hilangnya jaringan epitel.1 Ulkus merupakan suatu peradangan pada epitelium mukosa yang merupakan suatu lesi yang dangkal dan berbatas tegas dimana lapisan epidermal diatasnya hilang sehingga meninggalkan suatu permukaan cekung dan dibatasi oleh daerah eritem di sekelilingnya. Ulkus dapat terjadi pada semua usia dan semua jenis kelamin. Lokasi ulkus traumatikus umumnya pada mukosa pipi, bibir, palatum, dan tepi perifer lidah. Penyebab paling umum dari ulkus traumatikus ini adalah trauma. Biasanya pasien dapat menceritakan mengenai bagaimana trauma yang dialaminya. Dalam penegakkan diagnosis dari ulkus traumatikus ini dapat diperoleh dengan pemeriksaan klinis dan riwayat trauma pasien.2,3 Etiologi 1. Ulkus adalah lesi pada jaringan lunak yang sering terjadi. Sebagian besar disebabkan oleh trauma ringan akibat tergigit atau benturan.3 Sering kali trauma terletak pada suatu regio yang terletak diantara gigi seperti bibir bawah, lidah dan mukosa bukal.2 2. Overhang tambalan atau karies dan penggunaan protesa (ggi tiruan). Tekanan dari dasar atau sayap gigi tiruan yang tidak pas adalah sumber dari ulkus trumatikus.3 3. Factitious ulserasi adalah lesi pada rongga mulut yang disebabkan oleh diri sendiri. Biasanya sebagai akibat dari kelainan psikologis. Seringkali sulit dalam penanganan karena faktor penyebab yang tidak terdiagnosa. Untuk pemecahan masalah diperlukan bantuan psikolog.2 4. 5. Faktor iatrogenic disebabkan oleh kekurang hati-hatian praktisi kesehatan dalam melakukan perawatan atau prosedur diagnostik.2 Bahan kimia bisa menyebkan ulserasi dari kandungannya yang bersifat asam atau basa menyebabkan iritasi lokal atau alergi kontak. Beberapa diantara luka bakar yang dsebabkan aspirin, fenol dalam medikasi perawatan dental, bahan etsa asam gigi, prosedur endodontik, dan penggunaan bahan hydrogen peroksida 30% untuk prosedur bleaching.2

6. Luka bakar yang disebakan suhu panas ketika memakan makanan yang masih panas atau selama perawatan dental, misal ketika lagi memanaskan wax atau dental compound.2 7. Terapi radiasi yang menyebabkan terjadinya atropi mukosa dan ulserasi.2 Mengetahui penyebab dari suatu ulkus memberikan peranan penting dalam tindakan perawatan selanjutnya. Penatalaksanaan meliputi pemberian polycresulen karena polycresulen merupakan antiseptik dan mempunyai efek selektif yang hanya bekerja terhadap jaringan rusak atau patalogis. Dan dapat memacu terjadinya re-epitalisasi karena timbulnya reaksi hiperemi sekitar daerah pengobatan dan karena perangsangan granulasi dan jaringan normal. Namun, bila bertahan lebih dari 2-3 minggu perlu dilakukan biopsi untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yaitu keganasan.2,4,5 ,6 Diagnosa Ulkus traumatikus Rencana Perawatan Fase Emergensi pemberian polycresulen

Fase I scalling dan kontrol plak

Fase IV Kontrol untuk melihat keadaan ulkus Kontrol plak dan DHE

Pembahasan

Berdasarkan anamnesis didapat informasi dari pasien bahwa semenjak pasien memasang fixed orthodontic appliances, pasien sering mengalami ulkus traumatikus, pasien memasang fixed orthodontic appliances sejak 3 tahun yang lalu. Berdasarkan pemeriksaan klinis yang dilakukan kepada pasien ditemukan adanya lesi tunggal pada permukaan pipi kiri didekat gigi paling belakang, lesi berwarna putih kekuningan dikelilingi lingkaran kemerahan. Lesi sakit setiap bersentuhan dengan permukaan yang lain. Diameter lesi kurang lebih 6mm. Terdapat perbedaan data pada pemeriksaan klinis gingiva pada laporan kasus dan rekam medik pasien hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan operator dalam mengisi rekam medik pasien.

Gambar 1. Gambar Ulkus Traumatikus Ulkus adalah kondisi patologis dimana hilangnya jaringan epitel.1 Ulkus merupakan suatu peradangan pada epitelium mukosa yang merupakan suatu lesi yang dangkal dan berbatas tegas dimana lapisan epidermal diatasnya hilang sehingga meninggalkan suatu permukaan cekung dan dibatasi oleh daerah eritem di sekelilingnya. Ulkus dapat terjadi pada semua usia dan semua jenis kelamin. Lokasi ulkus traumatikus umumnya pada mukosa pipi, bibir, palatum, dan tepi perifer lidah. Penyebab paling umum dari ulkus traumatikus ini adalah trauma. Pada kasus ini trauma dari pasien ini berasal dari fixed orthodontic appliances yang dikenakan oleh pasien.

Dari anamnesis dan pemeriksaan klinis maka pada kasus ini dapat ditegakkan diagnosisnya adalah ulkus traumatikus. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah pemberian polycresulen karena sifat antiseptik pada bahan dan hanya bekerja terhadap jaringan rusak atau patalogis. Dan dapat memacu terjadinya reepitalisasi pada diskontuinitas lapisan epitel akibat ulkus karena timbulnya reaksi hiperemi sekitar daerah pengobatan dan karena perangsangan granulasi dan jaringan normal. Setelah 1 minggu dan 4 bulan lesi tidak terjadi rekurensi dan pasien tidak mengeluh adanya rasa sakit dari mukosa bukal kiri. Tetapi Rekurensi dapat saja terjadi selama pasien masih menggunakan alat orthodonsi cekat.

Gambar 2. Setelah perawatan Kesimpulan Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis yang dilakukan kepada pasien dapat ditegakkan diagnosis ulkus traumatius. Perawatan ulkus traumatikus ini meliputi pemberian polycresulen dan pemberian DHE (instruksi untuk menjaga kebersihan mulut, mengontrol alat orthodonsi cekat secara rutin ke dokter gigi. Rekurensi dapat terjadi selama pasien masih menggunakan alat orthodonsi cekat Daftar Pustaka

1. Birnbaum, W. 2002. Diagnosis Kelainan dalam Mulut. Jakarta: EGC. Hal. 242, 245-6. 2. Regezy. 2008. Ed.5. Oral Pathology: Clinical Pathologic Correlations St. Louis, Missouri: Elsevier. p.143-152. 3. Cawson, RA. 2002. Cawsons Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine. 7th ed. London: Churchill Livingstone. p. 192 4. Scully, C. 2005. Oral Medicine: Aphthous And Other Common Ulcers. British Dental journal. vol 199 no.5. p. 259-263 5. Field, A. 2003. Tyldesleys Oral Medicine. 5th ed. UK: Oxford University Press. p. 152-53. 6. Lamey, P-J. 1991. Oral Medicine in Practice. Glasgow: Departement of Oral Medicine and Pathology, Glasgow Dental Hospital and School. p. 5.

LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

Identitas Pasien Nama pasien Suku Jenis kelamin Status perkawinan Agama Alamat No Rekam Medik Anamnesa Keluhan utama Pasien mengeluh bahwa tonjolan tulang pada langit-langit mulut terasa sakit sampai mencapai hidung pasien kurang lebih sejak satu minggu yang lalu( 3 Febuari 2011). Sehingga pasien minta diobati Riwayat Perawatan Gigi Pasien pernah elakukan perawatan gigi yaiu pencabutan gigi kiri atas belakang kirakira 3 tahun yang lalu. Kebiasaan Buruk Berdasarkan anamnesis pasien tidak memiliki kebiasaan buruk Riwayat sosial Pasien merupakan pegawai negri sipil Riwayat Penyakit Sistemik Pasien memiliki penyakit kelainan pencernaan yaitu sakit maag yang ditandai : Eni Yusita : Melayu : Perempuan : Sudah nikah : Muslim : Jalan Gotong Royong II RT 006 RW 003 : 0000.66.45.81 Tempat/tanggal lahir : Palembang, 5 September 1978

Pemeriksaan Objektif a. Pemeriksaan Ekstra Oral

Wajah Bibir b. Pemeriksaan Intra Oral Debris Plak Kalkulus Gingiva Mukosa Palatum

: simetri : sehat

Kelenjar getah bening submandibula : tidak teraba dan tidak sakit : ada,regio a,b,c,d,e,f : ada, regio a,b,c,d,e,f : ada, regio a,b,c,d,e,f : berwarna merah dan mudah berdarah pada regio a,b,c,d,e,f : sehat : Terdapat penonjolan keras dan padat pada tengah-tengah palatum Penonjolan ini keras dan berbatas tegas. Sakit palpasi negatif,dan, tunggal dengan mukosa licin sedikit pucat. Ukuran torus diameter adalah 1,5cm Lidah Dasar mulut : sehat : sehat

Perdarahan papila interdental : ada, regio a,c,d,f

Pemeriksaan gigi geligi dan jaringan penyangga D6 : 16 ( Pulpitis Irreversible Akut ) D3 : 37( Non Iritatio Pulpa ) dan 46 ( Non iritatio Pulpa) Im : 38 Kehilangan gigi 26 Diagnosa sementara Diagnosa sementara : Torus palatinus Diagnosa banding Tinjauan Pustaka : Torus palatinus, osteoma

Torus palatinus adalah perluasan tulang yang terdapat di pertengahan palatum, ukuran torus dapat besar maupun kecil dengan bentuk yang bervariasi berupa tonjolan kecil tunggal ataupun tonjolan multilobuler yang luas.
1,2,3

Torus

palatinus hadir sebagai massa tulang yang keras disepanjang sutura medialis pada palatum keras.4 Kebanyakan torus mempunyai ukuran yang kecil dengan diameter kurang dari 2cm dan dilapisi oleh mukosa tipis berwarna merah jambu seperti gusi.1,2,3 Gambaran histolgis Jaringan yang melapisi torus palatinus adalah jaringa submukosa yang tebal dengan tulang yang padat. Gambaran mikroskopik torus palatinus adalah seperti lapisan tebal tulang kompak dan area sentral tulang spons. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan massa yang tebal dan padat trlihat tulang kortikal dan kadang-kadang dapat terlihat tulang trabekula pada area sentral.4 Etiologi Torus palatinus adalah pertumbuhan tulang yang dijumpai pada semua usia, pria dan wanita merupakan lesi kongenital yang berkembang berlahan , tidak membesar secara tiba-tiba. Etiologi torus palatinus diduga berasal dari faktor herediter Klasifikasi Torus Palatinus berdasarkan morfologi :1 1. Torus datar (flat ) Mempunyai dasar yang luas, dan permukaan yang halus dan biasanya simetris dari sutura medialis 2. Torus gelombang (spindle) 3. Torus noduler Gambaran klinisnya adalah penonjolan yang multiple 4. Torus lobuler Diagnosa Torus Palatinus

Rencana Perawatan Fase I Kontrol plak, DHE, scalling ( regio a,b,c,d,e,f), PSA gigi 16

Fase II Oddontektomi gigi 38

Fase III Perawatan restorative pada gigi geligi yaitu Tumpatan GIC di gigi 37 dan 46

Fase IV Kontrol plak, DHE

Pembahasan Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis yang dilakukan kepada pasien terdapat penonjolan keras dan padat pada tengah-tengah palatum Penonjolan ini keras dan berbatas tegas. Sakit palpasi negatif,dan tunggal dengan mukosa licin sedikit pucat. Ukuran torus diameter adalah 1,5cm. Terdapat perbedaan data pada pemeriksaan klinis gingiva pada laporan kasus dan rekam medik pasien hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan operator dalam mengisi rekam medik pasien.

Gambar 1. Gambar pasien torus palatinus Torus palatinus adalah perluasan tulang yang terdapat di pertengahan palatum, ukuran torus dapat besar maupun kecil dengan bentuk yang bervariasi berupa tonjolan kecil tunggal ataupun tonjolan multilobuler yang luas.1 Torus palatinus hadir sebagai massa tulang yang keras disepanjang sutura medialis pada palatum keras.2 Kebanyakan torus mempunyai ukuran yang kecil dengan diameter kurang dari 2cm dan dilapisi oleh mukosa tipis berwarna merah jambu seperti gusi. Pada pasien ini keluhannya bahwa tonjolan tulang pada langit-langit mulut terasa sakit sampai mencapai hidung pasien kurang lebih sejak satu minggu yang lalu( 3 Febuari 2011). Sehingga pasien minta diobati. Rasa sakit pada pasien ini disebabkan adanya kesalahan persepsi akibat adanya rasa sakit yang menyebar dari gigi 16 dengan diagnosa pulpitis irreversible akut sehingga pasien dianjurkan untuk melakukan perawatan syaraf pada gigi tersebut. Bila tidak ada keluhan, torus palatinus tidak memerlukan perawatan. Kesimpulan Torus palatinus dapat dibedakan dari diagnosa lainnya berdasarkan anamnesa pasien, gambaran klinis. Selama tidak menimbulkan keluhan, maka torus palatinus tidak perlu dilakukan perawatan.

Daftar Pustaka 1. Regezy. 2008. Ed.5. Oral Pathology: Clinical Pathologic Correlations St. Louis, Missouri: Elsevier. 2. Cawson, RA. 2002. Cawsons Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine. 7th ed. London: Churchill Livingstone 3. Neville, Damm. Oral maxillofacial pathology. 2nd edition. USA : WB.Saunder.2002 4. Febhyani. Penatalaksanaan torus palatinus untuk persiapan pembuatan gigi tiruan. Medan : USU. 2005 5. Greenberg. Burkerts Oral Medicine and Treatment. 10th ed.USA : WB Saunders ; 2003.p. 601-604

LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

Identitas Pasien Nama pasien Suku Jenis kelamin Status perkawinan Agama Alamat No Rekam Medik Anamnesa Keluhan utama Pasien mengeluh bahwa ada daging tumbuh di langit-langit mulutnya sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu( Desember 2010). Daging tumbuh ini sudah pernah tumbuh kemudian dihilangkan di rumah sakit daerah MUBA, kemudian daging tersebut tumbuh lagi. Kejadian ini sudah terjadi sebanyak empat kali, sehinnga pasien minta untuk disembuhkan. Riwayat Perawatan Gigi Pasien pernah melakukan pembuangan daging tumbuh dengan lokasi yang sama dengan lokasi daging tumbuh saat ini. Pembuangan dilakukan 3x di rumah sakit daerah MUBA. Pembuangan yang pertama dilakukan 1,5 tahun yang lalu, yang kedua 1 tahun yang lalu dan pembuangan yang ketiga dilakukan kira-kira 7 bulan yang lalu. Kebiasaan Buruk Tidak ada : Gustrinawati Ningsih : Melayu : Perempuan : Belum nikah : Muslim : Dusun II Rantau Panjang Babat Toman MUBA : 0000.48.28.81 Tempat/tanggal lahir : Palembang, 15 Agustus 1992

Riwayat sosial Pasien merupakan pegawai negri sipil daerah MUBA bagi pasien gaji yang diterima sekarang cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, pasien juga tinggal didaerah yang kebersihannya terjaga dengan baik. Riwayat Penyakit Sistemik Pasien memiliki riwayat alergi seafood yang disadari pasien sejak pasien masih kira-kira berumur 7 tahun dan memiliki penyakit maag, sakit maag ini mulai terasa menganggu oleh pasien kira-kira 3 tahun yang lalu. Rasa sakit pada lambung ini mulai dirasakan pasien apabila pasien lupa untuk makan ( terlalu lapar sehingga lupa mengisi perut) Pemeriksaan Objektif Pemeriksaan Ekstra Oral Wajah Bibir Pemeriksaan Intra Oral Debris Plak Kalkulus Gingiva Mukosa Palatum : ada, regio a,b,c,d,e,f : ada, regio a,b,c,d,e,f : ada, regio a,b,c,d,e,f : tampak kemerahan dan mudah berdarah pada regio a,b,c,d,e,f : sehat : Benjolan pada palatum dekat gigi incisivus sentralis dengan diameter 1,5cm, bertangkai, batas jelas, warna merah, permukaan halus, sakit, konsistensi padat kenyal, mudah berdarah. Lidah Dasar mulut : sehat : sehat : simetri : sehat

Kelenjar getah bening submandibula : tidak teraba dan tidak sakit

Pemeriksaan gigi geligi dan jaringan penyangga D3 : 46 ( Non Iritatio Pulpa )

D4 : 36 ( Hiperemi pulpa)

Diagnosa sementara Diagnosa sementara : Epulis Granulomatosa Diagnosa Banding : Epulis fibromatosa, fibroma

Pemeriksaan Penunjang : Dilakukan pemeriksaan laboratorium patologi anatomi didapat hasil mukosa berlapis epitel skuamous kompleks dijumpai epitel berupa jaringan ikat fibrokolagen padat6 bersebuk padat, terdapat sel-sel radang PMN, limfosit dan plasma dijumpai poliferasi. Tinjauan Pustaka Epulis adalah suatu tumor yang bersifat jinak dan pertumbuhannya berada di atas gingival dan berasal dari periodontal dan jaringan periosteum. Merupakan akibat iritasi dan infeksi.1 Epulis dapat dibedakan berdasarkan gejala klinis yaitu :1 a. Epulis Congenitalis Epuli ini terdapat mukosa bayi yang baru lahir. Etiologinya secara jelas elum diketahui namun diduga berasal dari sel epitel bakal benih gigi (odontogenik). Epulis ini terlihat seperti benjolan yang muncul dari alveolar ridge dalam rongga mulut. Hal ini menghambat pernafasan dan asupan makanan bayi. Histologinya terlihat sel polygonal yang menyebar teratur dan mengandung ovalnuclei dan abundant coarsley granular cytoplasm.Pada sebagian besar kasus, epulis cenderung mengecil dan menghilang saat bayi mencapai usia sekitar 8 bulan. Dengan demikian lesi yang berukuran kecil tidak membutuhkan perawatan.2,4

b. Epulis Fibromatosa Epulis ini terjadi pada rongga mulut terutama pada tepi gingival dan juga terjadi pada pipi dan lidah. Etimologinya bereasal dari iritasi kronis. Tampak klinis yang terliaht antara lain bertangkai, dapat pula tidak, warna agak pucat, konsistensi kenyal, batas tegas, padat, dan kokoh. Epulis ini tidak mudah berdarah dan tidak mudah menimbulkan rasa sakit. Histologis ditandai oleh proliferasi jaringan ikat collagenic dengan berbagai derajat dari sel infiltrasi inflamasi. Permukaan lesi ditutupi oleh epitel skuarnosa berlapis. Pengobatan ini dengan eksisi biopsi bedah dan memiliki tujuan untuk menyingkirkan lesi/neoplasma lainnya.2,4 c. Epulis Granulomatosa Epulis ini terjadi pada interdental gingiva, benjolan massa irregular, warna kemerahan/kebiruan, bertangkai dan mudah berdarah. Gambaran histopatalogisnya adalah terlihat jaringan gusi dilapisi epitel gepeng berlapis yang mengalami proliferasi dengan rete peg yang tidak beraturan. Stroma terdiri dari jaringan granulasi yang disusun oleh jaringan ikat, terdapat sebukan sel radang akut dan kronis. Bila ada ulserasi sel radang yang banyak dijumpai adalah PMN sehingga gambarannya menyerupai granuloma piogenikum. 2,4,5 d. Epulis Fissuratum Epulis fissuratum adalah hiperplasia pada jaringan ikat fibrous yang disebabkan karena pemakaian gii tiruan yang tidak beradaptasi dengan baik. Epulis ini tampak sebagai lipatan fibrous satu atau lebih pada vestibulum. Epulis ini tidak menimbulkan rasa sakit. Epulis fissuratum banyak ditemukan pada usia pertengahan atau lebih tua. Gambaran histopatologisnya tampak epithelium yang menutupinya biasanya tampak mengalami hiperkeratotik. Perawatan pada epulis ini adalah eksisi pada epulis dan perbaikan pada gigi tiruan pasien.2,4

e. Epulis Gravidarum Terjadi pada kehamilan . Pada umumnya akan menghilang spontan setelah melahirkan dan beberapa juga rekurens bila hamil lagi dan pada tempat yang sama.2,4 f. Giant cell epulis Epulis ini dapat terjadi karena adanya iritasi lokal atau trauma. Gambaran klinis dari epulis ini adalah massa noduler merah atau merah kebiru-biruan, dan dapat bertangkai ataupun tidak bertangkai. Gambaran histopatologisnya menunjukkan adanya proliferasi pada multinucleated giant cell. Perawatan pada epulis ini adalah eksisi pada epulis.2,4 Perawatan pada kasus ini yaitu eliminasi faktor penyebab dan eksisi dan biasanya memberikan prognosa yang baik.2. Diagnosa: Epulis Granulomatosa Rencana Perawatan Fase I Kontrol plak, DHE, scalling pada regio a,b,c,d,e,f

Fase II Eksisi epulis granulomatosa pada palatum dekat gigi incisivus sentralis dengan diameter 1,5cm

Fase III Perawatan restorative pada gigi geligi yaitu Tumpatan GIC klas I di gigi 46 Tumpatan komposit klas I di gigi 36

Fase IV Kontrol plak, DHE Kontrol epulis ( benjolan epulis telah hilang, keluhan pasien pasca eksisi tidak ada )

Pembahasan Berdasarkan anamnesis didapat informasi dari pasien bahwa epulis granulomatosa tersebut sering terjadi di tempat yang sama berulang sebanyak 4 kali,sehingga epulis granulomatosa ini dieksisi 3 kali di RSUD MUBA. Berdasarkan pemeriksaan klinis yang dilakukan kepada pasien ditemukan adanya benjolan pada palatum dekat gigi incisivus sentralis dengan diameter 1,5cm, bertangkai, batas jelas, warna merah, permukaan halus, sakit, konsistensi padat kenyal, mudah berdarah. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan patologi anatomi didapat kesan bahwa sediaan dilapisi mukosa berlapis epitel skuamous kompleks dan juga terdapat sel-sel radang PMN, limfosit dan plasma dijumpai pembuluh darah proliferasi. Terdapat perbedaan data pada pemeriksaan klinis gingiva pada laporan kasus dan rekam medik pasien hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan operator dalam mengisi rekam medik pasien.

Gambar 1. Foto awa Epulis adalah suatu tumor yang bersifat jinak dan pertumbuhannya berada di atas gingival dan berasal dari periodontal dan jaringan periosteum. Merupakan akibat iritasi dan infeksi.1 Diagnosa dapat ditegakkan dengan adanya anamnesa, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium patologi anatomi

sehingga diagnosis dapat ditegakkan yaitu epulis granulomatosa. Pada kasus ini perawatan dilakukan dengan eksisi pada epulis granulomatosa dan mengilangkan faktor etiologi berupa keadaan deep bite pada pasien dengan membuat peninggi gigitan. Pasien juga dilakukan perawatan pebersihan karang gigi sebagai faktor predisposisi timbulnya epulis. Eksisi dilakukan dengan anestesi infiltrasi pada daerah epulis, kemudian dilakukan pengikatan pada tangkai epulis. Potong dilakukan dengan scalpel sampai dengan batas di bawah tungkai tempat

pengikatan. Bila terjadinya perdarahan yang banyak, pemotongan dapat dilakukan pemotongan dengan alat kauterisasi. Buang jaringanjaringan yang tersisa, untuk menghindari rekurensi epulis. Tutup dengan jahitan interrupted suture. Oleskan daerah jahitan dengan povidone iodine 10% untuk membesihkan daerah operasi. Pada saat kontrol, didapat benjolan epulis telah hilang dan penutupan luka baik. Tidak ada kluhan subyektif dari pasien.

Gambar 2. Foto setelah eksisi Kesimpulan Penegakkan diagnosis epulis granulomatosa berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan laboratorium patologi anatomi. Perawatan pada epulis ini adalah eksisi dan mengeliminasi faktor etiologi dan faktor predisposisi.

Daftar Pustaka 1. Greenberg. Burkerts Oral Medicine and Treatment. 10th ed.USA : WB Saunders ; 2003.p. 601-604 2. Regezy. 2008. Ed.5. Oral Pathology: Clinical Pathologic Correlations St. Louis, Missouri: Elsevier.

3. Cawson, RA. 2002. Cawsons Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine. 7th ed. London: Churchill Livingstone 4. Neville, Damm. Oral maxillofacial pathology. 2nd edition. USA : WB.Saunder.2002 5. Benjamin, Amit. Epulis haemangiotosa-post ekstraction sequalae. Scientific journal 2009 6. Riyanti,Eriska. Ekstirpsi Fibroma pada lidah anak.Bandung : UNPAD.2010

LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

Identitas Pasien Nama pasien Suku Jenis kelamin Status perkawinan Agama Alamat Anamnesa Keluhan utama Timbul benjolan di leher yang makin lama makin membesar kurang lebih satu bulan yang lalu Riwayat Perjalanan Penyakit Kurang lebih sejak satu bulan yang lalu, pasien mengeluh timbul benjolan di leher, nyeri pada benjolan, benjolan awalnya sebesar kelereng dan makin lama makin membesar dan sekarang sebesar telur ayam. Pasien juga mengeluh demam yang naik turun, nafsu makan berkurang dan badan terasa lemas, pasien juga mengeluh sariawan. Kurang lebih dua minggu yang lalu benjolan makin mebesar, pasien tersebut ke rumah sakit umum Prabumulih selama empat hari, pasien mencret, pasien lalu dirujuk ke RS umum Palembang. Pasien juga pernah mengalami sakit yang sangat dan tiba-tiba pada gigi geliginya, tetapi pasien hanya meminum obat pereda rasa sakit dan tidak melakukan perawatan terhadap gigi yang sakit tersebut Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah batuk-batuk lama : Juhro : Melayu : Perempuan : Sudah nikah : Muslim : Prabumulih Tempat/tanggal lahir : Prabumulih, 12 Maret 1977

Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga tidak pernah mengalami penyakit yang sama Riwayat Perawatan Gigi Pasien tidak pernah melakukan perawatan gigi Riwayat sosial Riwayat Penyakit Sistemik Pasien terinfeksi HIV Pemeriksaan Objektif Pemeriksaan Ekstra Oral Wajah : simetri Bibir : Pada sudut mulut pasien sebelah kiri terdapat lesi yang meluas sampai pertengahan pipi pasien. Permukaan epidermis pipi rusak. Terlihat permukaan yang menghitam akibat nekrosis jaringan dengan ukuran lesi 2x1,5x0,2 cm. Lesi sakit, sehingga pasien tidak dapat membuka mulutnya sama sekali Kelenjar getah bening submandibula : teraba lunak dan sakit disebelah kiri dan sebelah kanan tidak teraba dan tidak sakit Pemeriksaan Intra Oral dan Pemeriksaan gigi geligi dan jaringan penyangga Tidak dapat dilakukan karena pasien tidak dapat membuka mulutnya Diagnosa sementara Cancrum oris Diagnosa Banding : Cancrum oris, Necrotizing Ulceratif Gingivitis Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Sputum didapat hasil negatif, Pemeriksaan biakan dan uji sensitivitas hasil biakan terdapat Streptococcus pyogens, Klebsiella Pemeriksaan pneumonie,Candida glabrata, Fusobacterium necropkorum.

hematologi didapat hasil peningkatan hitung jenis segmen, Pemeriksaan patologi anatomi didapat hasil lyphadenitis kronik. Pemeriksaan anti HIV Tinjauan Pustaka NOMA atau cancrum oris adalah lesi yang merusak jaringan orofasial serta struktur sekitarnya. Lesi dapat terjadi unilateral maupun bilateral. Tetapi yang sering terjadi adalah unilateral.1 Cancrum oris biasanya dapat terjadi akibat adanya malnutrisi, oral hyginene yang buruk, sakit sistemik atau kombinasi dari ketiganya.2 Gambaran klinis dari cancrum oris adalah pasien mengalami bau mulut, anemia, dehidrasi berat, lymhadenopaty.2 Lesi awal dari cancrum oris adalah adanya ulserasi yang sakit pada gingiva atau mukosa bukal pasien, ulserasi ini menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan nekrosis pada jaringan Perawatan meliputi pemberian debridement pada jaringan nekrotik dapat membantu jika terjadi nekrosis yang meluas.1 Pemberian antibiotik spektrum luas seperti penicillin dan metronidazole dapat membantu penyembuhan dari pasien ini Human Immunodeficiency Virus Merupakan retrovirus, virion HIV berbentuk bola dan mempunyai inti berbentuk konus, padat dengan elektron, dan dikelilingi selubung lipid yang didapat dari membran sel host. Inti virus dikelilingi oleh protein matriks yang dinamakan p17, yang berada di bawah selubung virion. Pada selubung terdapat dua glikoprotein, yaitu gp 120 dan gp41, yang penting untuk infeksi HIV pada sel host.8 Diagnosa Cancrum oris

Rencana Perawatan Fase Emergensi

Pemberian debrdement pada cancrum oris kompres dengan NaCl 0,9% 3x1/2 jam per hari. Pemberian antibiotik amoksillin. Perbaikan gizi pasien

Fase IV Kontrol untuk melihat keadaan lesi, Kontrol plak dan DHE Pembahasan Berdasarkan anamnesis didapat informasi dari keluarga pasien bahwa pasien pernah mengalami sakit gigi yang sangat sakit pada regio kiri atas belakang, tetapi pasien tidak mencari pertolongan ke dokter gigi maupun puskesmas untuk sakit gigi tersebut. Dikatakan oleh keluarga pasien bahwa pasien tidak pernah ke dokter gigi atau klinik gigi untuk melakukan perawatan gigi dan mulutnya. Pasien juga sering mengalami perdarahan gusi pada saat menyikat giginya pada tekanan yang ringan. Berdasarkan pemeriksaan klinis yang dilakukan kepada pasien ditemukan adanya lesi pada sudut mulut pasien sebelah kiri terdapat lesi yang meluas sampai pertengahan pipi pasien. Permukaan epidermis pipi rusak. Terlihat permukaan yang menghitam akibat nekrosis jaringan dengan ukuran lesi 2x1,5x0,2 cm. Lesi sakit, sehingga pasien tidak dapat membuka mulutnya sama sekali. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan sputum BTA didapat hasil negatif, pemeriksaan ini menunjukkan bahwa pasien tidak menderita tuberculosis. Pada pemeriksaan biakan laboratorium mkrobiologi yang sampel diambil dari lesi di sudut mulut pasien didapat hasil biakan terdapat Streptococcus pyogens, Klebsiella pneumonie,Candida glabrata, Fusobacterium necropkorum. Pada Pemeriksaan patologi anatomi didapat hasil bahwa tidak adanya keganasan dan terdapat lymphadenopathy kronik. NOMA atau cancrum oris adalah lesi yang merusak jaringan orofasial serta struktur sekitarnya. Lesi dapat terjadi unilateral maupun

bilateral. Tetapi yang sering terjadi adalah unilateral.1 Pada kasus ini pasien pernah menderita sakit gigi dan tidak pernah melakukan perawatan pada gigi tersebut, infeksi gigi ini kemudian menyebar sehingga terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening colii sinistra, dimana pada hasil perabaan didapat hasil teraba lunak dan sakit. Pembengkakan kelenjar getah bening ini menunjukkan adanya proses infeksi pada kelenjar getah bening colii sinistra.6 Keadaan pasien yang positif HIV menunjukkan terdapatnya penurunan sistem imun karena virus ini menyerang sel T CD4 akibat terjadinya penurunan sistim imun ini maka mudah terjadi infeksi oprtunistik dan infeksi gigi mudah menyebar ke kelenjar getah bening, dan mudah terjadi lesi pada sudut mulut kiri pasien yang sebelumnya diduga adanya infeksi dari kandida. Penurunan sistim imun pasien ini menyebabkan lesi semakin menyebar dan menyebabkan nekrotik jaringan pada sudut mulut kiri pasien. Peningkatan insidensi cancrum oris terjadi pada pasien yang terinfeksi HIV, cancrum oris merupakan suatu penyakit yangbiasanya diawali oleh infeksi HIV, leukemia, tuberculosis, dan measles. Hal ini dapat terjadi akibat penurunan sistem imun karena virus ini menyerang sel T CD4.8

Gambar 1. Foto Pasien Dari hasil anamnesa,pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium maka dapat ditegakkan suatu diagnosa yaitu cancrum oris. Perawatan pada pasien

ini meliputi Pemberian debridement pada cancrum oris kompres dengan NaCl 0,9% 3x1/2 jam per hari, debridement ini dilakukan untuk mengirigasi daerah lesi sehingga jaringan nekrotik dapat disingkirkan.1,2,3 Dan pemberian antibiotik spektrum luas seperti penicillin untuk melawan bakteri-bakteri yang berperan terhadap terjadinya cancrum oris, dimana penicillin bekerja pada dinding sel bakteri, sehingga terjadi lisis dari sel bakteri tersebut. 3,4,5 Untuk HIV dirresepakan antiviral nevirapine.Pasien ini diberikan antifungal berupa flukonazole, pada cancrum oris kompres dengan NaCl 0,9% 3x1/2 jam per hari, dan pemberian antibiotik spektrum luas seperti penicillin, nevirapine Pada saat kontrol, pasien sudah dapat membuka mulutnya sebesar 15mm, sehingga pasien dapat menerima makanan lunak. Jaringan nekrotik pada lesi sudah tidak terlihat lagi.

. Gambar 2. Foto kontrol Kesimpulan Cancrum oris biasanya dapat terjadi akibat adanya malnutrisi, oral hyginene yang buruk, sakit sistemik atau kombinasi dari ketiganya. Canrum oris sebaiknya ditegakkan diagnosanya berdasarkan anamnesa,pemeriksaan klinis ekstraoral dan intraoral, dimana pada kasus ini tidak dapat dilakukan pemeriksaan intraoral karena keterbasan pasien dalam pembukaan mulut, tetapi temuan dalam pemeriksaan klinis ekstraoral yang diperkuat dengan pemeriksaan laboratorium, dapat dipergunakan untuk menegakkan diagnosa. Daftar Pustaka

1. Regezy. 2008. Ed.5. Oral Pathology: Clinical Pathologic Correlations St. Louis, Missouri: Elsevier. 2. Neville, Damm. Oral maxillofacial pathology. 2nd edition. USA : WB.Saunder.2002 3. Auluck, Aujitt. NOMA : Life cycle a devastating sorecase report and literature review. J Cant Dent Assc. 2005 4. Tonna, Joseph. A case and review of NOMA. Tropical jornal. 2010 5. Cawson, RA. 2002. Cawsons Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine. 7th ed. London: Churchill Livingstone 6. Birnbaun, Warren. Diagnosis kelainan dalam mulut. Jakarta : EGC. 2004 7. Sufiati, Irna. Kadar IgA saliva pada pasien yang terinfeksi HIV di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Jakrta: FKG UI : 2008