Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

HUKUM MENDEL II

Oleh : MURDIONO NPM. E1J010065

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2011

A. Dasar Teori Hukum mendel II dikenal pula sebagai Hukum Asortasi atau Hukum Berpasangan Secara Bebas. Menurut hukum ini, setiap gen/sifat dapat berpasangan secara bebas dengan gen/sifat lain. Meskipun demikian, gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen yang lain yang bukan termasuk alelnya. (Syamsuri, 2004). Hukum Mendel II dikenal disebut hukum pengelompokan gen secara bebas, dalam bahasa inggris the law of independent Assortment of genes. Hukum ini menyatakan bahwa gen-gen dari sepasang alel memisah secara bebas ketika berlangsung pembelahan reduksi ( meiosis ) pada waktu pembentukan gamet-gamet. Oleh karena itu pada contoh dihibrid itu terjadilah 4 macam pengelompokan dari dua pasang gen yaitu: Gen B mengelompok dengan gen K, terdapat dalam gamet BK Gen B mengelompok dengan gen k, terdapat da;lam gamet Bk Gen B mengelompok dengan gen k, terdapat da;lam gamet bK Gen B mengelompok dengan gen k, terdapat da;lam gamet bk Hukum mendel II menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling memengaruhi (Wiki, 2011). Hukum Mendel 2 ini dapat dijelaskan melalui persilangan dihibrida, yaitu persilangan dengan dua sifat beda, dengan dua alel berbeda. Misalnya, bentuk biji (bulat+keriput) dan warna biji (kuning+hijau). Pada persilangan antara tanaman biji bulat warna kuning dengan biji keriput warna hijau diperoleh keturunan biji bulat warna kuning. Karena setiap gen dapat berpasangan secara bebas maka hasil persilangan antara F1 diperoleh tanaman bulat kuning, keriput kuning, bulat hijau dan keriput hijau.

Hukum Mendel II ini hanya berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan. Jika kedua gen itu letaknya berdekatan hukum ini tidak berlaku. Hukum Mendel 2 ini juga tidak berlaku untuk persilangan monohibrid. Perhatikan analisis papan catur di bawah ini tentang persilangan tanaman ercis (Pisum Sativum) dengan dua sifat beda (dihibrida). Tanaman ercis biji bulat warna kuning disilangkan dengan biji keriput warna hijau. Keturunan pertama semuanya berbiji bulat warna kuning. Artinya, sifat bulat dominan terhadap sifat keriput dan kuning dominan terhadap warna hijau. Persilangan antar F1 mengasilkan keturunan kedua (F2) sebagai berikut: 315 tanaman bulat kuning, 101 tanaman keriput kuning, 108 tanaman bulat hijau dan 32 keriput hijau. Jika diperhatikan, perbandingan antara tanaman bulat kuning : keriput kuning : bulat hijau : keriput hijau adalah mendekati 9:3:3:1. P F1 : BBKK (bulat, kuning) X bbkk (keriput, hijau) : BbKk (bulat, kuning)

F1XF1 : BbKk (bulat, kuning) X BbKk (bulat, kuning) Gamet : BK, Bk, bK, bk BK, Bk, bK, bk Gamet-gamet ini dapat berpasangan secara bebas (Hukum Mendel II) sehingga F2 dapat digambarkan sebagai berikut: Gamet BK Bk bK bk BK BBKK 1 BBKk 5 BbKK 9 BbKk 13 Bk BBKk 2 BBkk 6 BbKk 10 Bbkk 14 bK BbKK 3 BbKk 7 bbKK 11 bbKk 15 bk BbKk 4 Bbkk 8 bbKk 12 bbkk 16

Keterangan: Tanaman bulat kuning : 1,2,3,4,5,7,9,10,13 jumlah 9 Tanaman keriput kuning : 11,12,15 jumlah 3 Tanaman bulat hijau : 6,8,14 jumlah 3 Tanaman keriput hijau : 16 jumlah 1 Jadi, perbandingan homozigot terdapat pada kotak nomor 1,6,11 dan 16 sedangkan lainnya heterozigot. Bastar konstan atau individu baru terdapat pada kotak nomor 6 dan 11. Bastar konstan adalah keturunan homozigot yang memiliki sifat baru (berbeda dengan kedua induknya), sehingga dalam persilangan antar sesamanya tidak memisah, konstan. (Syamsuri, 2004). B. Tujuan Praktikum Praktikum ini bertujuan untuk menentukan perbandingan fenotipe menurut hokum mendel pada persilangan dua sifat beda (dihibrida). C. BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM o Bahan dan Alat Adapun bahan dan alat yang digunakan pada praktikun ini adalah: Kancing genetic 4 warna Dua buah stoples o Cara Kerja Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah: Ambil sepasang model gen merah, putih, kuning, dan hijau. Dalam hal ini warn gen merah (B) pembawa sifat untuk biji bulat dan dominan terhadap putih (b) pembawa sifat untuk biji keriput. Sedangkan warna gen kuning (K) adalah pembawa sifat untuk biji kuning dan dominan terhadap warna hijau (k) pembawa sifat untuk biji warna hijau.

Bukalah pasangan gen tersebut diatas. Hal ini dimpamakan sebagai pemisah gen pada saat pembentukan gamet dari kedua induk. Pada proses ini di asumsikan bahwa fertilisasi terjadi secara acak. Tentukan kombinasi genotype yang terbentuk pada F1. Buatlah pasangan model gen untuk meneruskan macam gen yang ter bentuk pada F1. Harus diingat bahwa 1 pasang gen dianggap satu macam gamet. Buatlah model gamet yang sama seperti diatas (langkah 4). Masingmasing 16. Delapan pasang dari masing-masing pasangan model gen (gamet) masukkan kedalam stoples I dan 8 pasangan lagi ke toples II. Kocok atau aduk hingga bercampur dengan baik. Secara serentak dan acak, ambil model gamet dari masing-masing stoples tersebut, lalu pasangkan guna menentukan kombinasi genotipe nya. Catat hasil kombinasi yang didapatkan. Bila stoples I terambil model gen (gamet) pasangan putih-kuning (bK) dari stoples II terambil merah-hijau (Bk), maka kombinasi genotipenya adalah BbKk. Demikian seterusnya. Pasangan yang terambil kembalikan ke stoples masing-masing dan lakukan pengambilan sebanyak 32 kali dan 64 kali.

D. HASIL Tabel 1. Nisbah Pengamatan Fenotipe Frekuensi genotipe 32x III IIII III I IIII III II III II IIII III IIII III IIII IIII IIII IIII I IIII III IIII 5 5 8 13 20 37 64x Frekuensi fenotipe 32x 64x

Fenotipe Bulat-kuning

Genotype BBKK BBKk BbKK BbKk

Bulat-hijau

BBkk Bbkk

Keriput-kuning

bbKK

bbKk Keriput-hijau Total bbkk

III II 32

IIII III IIII I 64 2 32 6 64

Tabel 2. Perbadingan/nisbah fenotipe pengamatan/observasi (O) dan nisbah Harapan/teoritis/expected (E) Pengamatan 32 x 20 5 5 2 32 64 x 37 8 13 6 64 Harapan 32 x 18 6 6 2 32 64 x 36 12 12 4 64 deviasi 32 x 2 -1 -1 0 0 64 x 1 -4 1 2 2

Fenotipe Bulat-kuning Bulat-hijau Keriput-kuning Keriput-hijau Total

E. PEMBAHASAN Dari percobaan yang dilakukan kali ini dilakukan persilangan dihibrid (persilangan dengan dua sifat beda) yaitu antara bentuk dan warna biji. Dalam hal ini warna gen merah (B) pembawa sifat untuk biji bulat dan dominan terdapat putih (b) pembawa sifat untuk biji keriput. Sedangkan warna gen kuning (K) adalah pembawa sifat untuk warna biji kuning dan dominan terhadap wartna hijau (k) pembawa sifat untuk warna biji hijau. Persilangan antara biji bulat berwarna kuning (BBKK, yang diwakili kancing genetic berwarna merah dengan biji keriput berwrna hijau (bbkk) diperoleh F1 yang berwarna bulat berwarna Kuning (BbKk), karena biji bulat dan biji berwarna kuning bersifat dominan terhadap biji keriput dan biji berwarna hijau. Jika F1 disilangkan dengan sesamanya (F1), maka diperoleh empat macam fenotipe yaitu Bulat-Kuning, Bulat-Hijau, Keriput-Kuning, dan Keriput-Hijau. Dengan genotipe untuk Bulat-Kuning (1 BBKK; 2 BBKk; 3 BbKK dan 4 BbKk), Bulat-Hijau (1 BBkk; 2 Bbkk), KeriputKuning (1 bbKK; 2 bbKk) serta Keriput-Hijau (bbkk). Menurut hukum Mendel II, perbandingan fenotipe untuk persilangan dihibrid pada F2 adalah 9:3:3:1.

Hasil dari percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 32x diperoleh data rasio fenotifnya, yaitu sifat Bulat-kuning sebanyak 20 kali, sifat Bulat-Hijau sebanyak 5 kali, dan sifat Keriput-kuning sebanyak 5 kali dan keriput-hijau sebanyak 2 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 20:5:5:2 yang mendekati angka ratio 9:3:3:1. Dengan deviasi 2 untuk Bulat-Kuning, -1 untuk Bulat-hijau, -1 untuk Keriput-Kuning dan 0 untuk Keriput-Hijau. Deviasi menyatakan besarnya penyimpangan hasil pengamatan terhadap besarnya harapan. Untuk pengambilan 64x diperoleh data rasio fenotifnya, untuk sifat Bulat-kuning sebanyak 37 kali, sifat Bulat-Hijau sebanyak 8 kali, dan sifat Keriput-kuning sebanyak 13 kali dan keriput-hijau sebanyak 6 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 37:8:13:8 yang mendekati angka ratio 9:3:3:1. Dengan deviasi 1 untuk Bulat-Kuning, -4 untuk Bulat-hijau, 1 untuk Keriput-Kuning dan 2 untuk Keriput-Hijau. jika hasil percobaan mendekati nilai teoritis dapat disebut data yang diambil itu bagus, dan tak ada faktor lain yang mengganggu. Tapi kalau perbangdingan o/e makin menjauhi angka 1, data itu buruk, dan pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki berarti dipengaruhi oleh faktor lain. F. KESIMPULAN Dari praktikum yang kami lakukan dapat kami simpulkan bahwa: Hukum mendel II merupakan hukum pengelompokan secara bebas Gen yang bersifat dominan akan menutupi gen yang bersifat resesif Persilangan dihibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe 9:3:3:1 Tujuan dari persilangan dua sifat beda adalah untuk mempelajari hubungan antara pasangan-pasangan alela dari karekter tersebut. Hukum Mendel II ini hanya berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan. Jika kedua gen itu letaknya berdekatan hukum ini tidak berlaku.

Jawaban Pertanyaan 1. Ada berapa kombinasi genotipe yang muncul dari persilangan tersebut? Jawaban : Ada sembilan macam yaitu, BBKK, BBKk, BbKK, BbKk, BBkk, Bbkk, bbKK, bbKk, bbkk 2. Tulis perbandingan fenotipe yang diperoleh! Jawaban : 9 : 3 : 3 : 1. 3. Jelaskan prinsip persilangan yang dilakukan diatas dengan kejadian di alam nyata? Jawaban : Misalnya untuk memperoleh tanaman jeruk yang rasanya manis dan berbuah banyak, maka disilangkanlah tanaman jeruk yang rasanya asam dan berbauh lebat dengan tanaman jeruk yang rasanya manis dan berbuah sedikit. Sehingga F2 yang terbentuk diharapkan tanaman jeruk yang rasanya manis dan berbuah lebat.

DAFTAR PUSTAKA Fandri. 2009. Hukum Mendel II. http://samudra-fox.blogspot.com/2009/05/hukummendel-1.html. 19 maret 2011 Suryati, Dotti. 2011. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu. Syamsuri, istamar dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga Wiki. 2011. Pewarisan Hukum Mendel. http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Pewarisan _Mendel. 25 maret 2011