Anda di halaman 1dari 18

Elektrokardiografi Dasar

SEJARAH EKG Rekaman listrik jantung pertama kali dilakukan oleh seorang warga negara belanda kelahiran Indonesia yang bernama Sir Einhovent. Dengan menggunakan alat rekam listrik sederhana, einthoven mendapatkan gambaran pola aktivitas listrik yang berbeda-beda pada pergelangan tangan kanan, tangan kiri dan kaki kiri. Pola defleksi aliran listrik inilah yang selanjutnya berkembang pesat dan kini dapat direkam menggunakan alat elektrokardiografi (EKG). Dengan menggunakan alat EKG maka seorang dokter tidak perlu membuka dinding dada untuk mengetahui penyakit jantung yang diderita pasien, namun cukup mengetahui perangai listrik jantung dengan menggunakan EKG maka kita dapat mengetahui kelainan jantung yang sebenarnya. Terdapat 12 sadapan yang rutin digunakan, namun ada sadapan tambahan lainnya. Sadapan ventrikel kanan dan dinding posterior. Agar mendapatkan gambaran seluruh aktifitas listrik jantung maka dibuatlah sadapan yang mewakili semua area jantung. Untuk menilai pola aktifitas listrik jantung di area sumbu vertikal maka diwakili oleh sadapan bipolar (meliputi sadapan I, II dan III) dan sadapan ekstremitas (meliputi sadapan aVR, aVL dan aVF). Untuk menilai pola aktifitas listrik jantung di area sumbu horizontal maka diwakili oleh sadapan V1, V2, V3, V4, V5, dan V6. Konsensus menggunakan ke-12 sadapan inilah yang rutin dikerjakan sehari-hari pada perekaman EKG, namun dengan catatan bahwa jantung pasien dalam posisi normal (bukan dekstrokardi). Jika dicurigai suatu gangguan iskemi ventrikel kanan maka harus dibuat sadapan tambahan V3R, V4R atau jika dicurigai iskemia dinding posterior maka dibuat sadapan V7, V8 dan V9. Lihatlah selalu sadapan aVR saat pertamakali merekam EKG. Pada jantung normal, maka defleksi negatif dari gelombang P (bahkan gelombang kompleks QRS) di sadapan aVR menunjukkan bahwa arus listrik menjauhi kutub aVR. Defleksi positif gelombang P atau kompleks QRS di sadapan II dan aVF menunjukkan arus listrik menuju ke bawah (daerah inferior). Jika saat perekaman EKG ditemukan gelombang P defleksi positif di aVR maka kemungkinan terdapat kesalahan dalam pemasangan sadapan atau dekstrokardi, segera lakukan cek and re-cek. Kecepatan kertas adalah 25 mm/detik, amplitude kalibrasi 10 mm = 1 mVolt.. Kertas grafik khusus memanjang biasanya digunakan dalam mencetak gambaran EKG, namun saat ini sudah banyak macam kertas EKG seiring alat-alat EKG canggih dan modern yang digunakan di Indonesia.

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 1

Kertas grafik EKG terdiri atas kotak-kotak ukuran sedang yang didalamnya terdapat kotak-kotak kecil ukuran 1 mm2 . ukuran satu kotak kecil = 1mm = 0,04 detik. Ukuran satu kotak sedang = 5 mm = 0,02 detik.

Namun pada prinsipnya kecepatan kertas dan amplitudo kalibrasi EKG harus diperhatikan. Sebagai konsensus standar maka kecepatan laju kertas EKG adalah 25 mm/detik (5 kotak sedang per detik) dengan amplitudo kalibrasi 10 mm = 1 mV. Pada kasus takiaritmia dimana analisa gelombang sangat diperlukan maka kecepatan kertas dapat ditingkatkan sehingga jarak antar kompleks QRS menjadi lebih lebar. Pada kasus-kasus voltase tinggi (seperti pada kasus hipertrofi ventrikel) maka kalibrasi amplitudo kertas dapat di atur lebih pendek (setengah kali atau seperempat kali). Sadapan

Grafik yang menunjukkan hubungan antara elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor listrik), dan kompleks yang ditampilkan di EKG. ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 2

Sebuah elektrokardiogram diperoleh dengan menggunakan potensial listrik antara sejumlah titik tubuh menggunakan penguat instrumentasi biomedis. Sebuah sadapan mencatat sinyal listrik jantung dari gabungan khusus elektrode rekam yang itempatkan di titik-titik tertentu tubuh pasien.

Saat bergerak ke arah elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor listrik) menciptakan defleksi positif di EKG di sadapan yang berhubungan. Saat bergerak dari elektrode positif, muka gelombang depolarisasi menciptakan defleksi negatif pada EKG di sadapan yang berhubungan. Saat bergerak tegak lurus ke elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor listrik) menciptakan kompleks equifasik (atau isoelektrik) di EKG, yang akan bernilai positif saat muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor listrik) mendekati (A), dan kemudian menjadi negatif saat melintas dekat (B).

Ada 2 jenis sadapanunipolar dan bipolar. EKG lama memiliki elektrode tak berbeda di tengah segitiga Einthoven (yang bisa diserupakan dengan netral stop kontak dinding) di potensial nol. Arah sadapan-sadapan ini berasal dari tengah jantung yang mengarah ke luar secara radial dan termasuk sadapan (dada) prekordial dan sadapan ekstremitasVL, VR, & VF. Sebaliknya, EKG baru memiliki kedua elektrode itu di beberapa potensial dan arah elektrode yang berhubungan berasal dari elektrode di potensial yang lebih rendah ke tinggi, mis., di sadapan ekstremitas I, arahnya dari kiri ke kanan, yang termasuk sadapan ekstremitas --I, II, dan III. Catat bahwa skema warna untuk sadapan berbeda antarnegara. Sadapan bipolar Sadapan I, II dan III disebut sadapan bipolar. EKG ini membentuk dasar yang kini dikenal sebagai segitiga Einthoven. Elektrode-elektrode itu masih menjadi 3 sadapan pertama EKG 12 sadapan modern.

Sadapan I adalah dipol dengan elektrode negatif (putih) di lengan kanan dan elektrode positif (hitam) di lengan kiri. Sadapan II adalah dipol dengan elektrode negatif (putih) di lengan kanan dan elektrode positif (merah) di kaki kiri. Sadapan III adalah dipol dengan elektrode negatif (hitam) di lengan kiri dan elektrode positif (merah) di kaki kiri.

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 3

Sadapan Unipolar Sadapan Unipolor terdapat dua jenis yaitu Sadapan aVR, aVL, dan aVF merupakan sadapan ekstremitas tambahan dan sadapan prekordial V1, V2, V3, V4, V5, dan V6. Sadapan ekstremitas

Sadapan aVR atau "vektor tambahan kanan" memiliki elektrode positif (putih) di lengan kanan. Elektrode negatif merupakan gabungan elektrode lengan kiri (hitam) dan elektrode kaki kiri (merah), yang "menambah" kekuatan sinyal elektrode positif di lengan kanan. Sadapan aVL atau "vektor tambahan kiri" mempunyai elektrode positif (hitam) di lengan kiri. Elektrode negatif adalah gabungan elektrode lengan kanan (putih) dan elektrode kaki kiri (merah), yang "menambah" kekuatan sinyal elektrode positif di lengan kiri. Sadapan aVF atau "vektor tambahan kaki" mempunyai elektrode positif (merah) di kaki kiri. Elektrode negatif adalah gabungan elektrode lengan kanan (putih) dan elektrode lengan kiri (hitam), yang "menambah" sinyal elektrode positif di kaki kiri.

Sadapan ekstremitas tambahan aVR, aVL, dan aVF diperkuat dengan cara ini karena sinyal itu terlalu kecil untuk berguna karena elektrode negatifnya adalah terminal sentral Wilson. Bersama dengan sadapan I, II, dan III, sadapan ekstremitas tambahan aVR, aVL, dan aVF membentuk dasar sistem rujukan heksaksial, yang digunakan untuk menghitung sumbu kelistrikan jantung di bidang frontal.

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 4

Sadapan prekordial

Penempatan sadapan prekordial yang benar. Sadapan prekordial V1, V2, V3, V4, V5, dan V6 ditempatkan secara langsung di dada. Karena terletak dekat jantung, 6 sadapan itu tak memerlukan augmentasi. Terminal sentral Wilson digunakan untuk elektrode negatif, dan sadapan-sadapan tersebut dianggap unipolar. Sadapan prekordial memandang aktivitas jantung di bidang horizontal. Sumbu kelistrikan jantung di bidang horizontal disebut sebagai sumbu Z.

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 5

Sadapan V1, V2, dan V3 disebut sebagai sadapan prekordial kanan sedangkan V4, V5, dan V6 disebut sebagai sadapan prekordial kiri. Kompleks QRS negatif di sadapan V1 dan positif di sadapan V6. Kompleks QRS harus menunjukkan peralihan bertahap dari negatif ke positif antara sadapan V2 dan V4. Sadapan ekuifasik itu disebut sebagai sadapan transisi. Saat terjadi lebih awal daripada sadapan V3, peralihan ini disebut sebagai peralihan awal. Saat terjadi setelah sadapan V3, peralihan ini disebut sebagai peralihan akhir. Harus ada pertambahan bertahap pada amplitudo gelombang R antara sadapan V1 dan V4. Ini dikenal sebagai progresi gelombang R. Progresi gelombang R yang kecil bukanlah penemuan yang spesifik, karena dapat disebabkan oleh sejumlah abnormalitas konduksi, infark otot jantung, kardiomiopati, dan keadaan patologis lainnya.

Sadapan V1 ditempatkan di ruang intercostal IV di kanan sternum. Sadapan V2 ditempatkan di ruang intercostal IV di kiri sternum. Sadapan V3 ditempatkan di antara sadapan V2 dan V4. Sadapan V4 ditempatkan di ruang intercostal V di linea midclavicula Sadapan V5 ditempatkan secara mendatar dengan V4 di linea axillaris anterior. Sadapan V6 ditempatkan secara mendatar dengan V4 dan V5 di linea midaxillaris.

Interpretasi Singkat EKG Interpretasi laporan EKGyang telah dibuat harus dilaporkan secara berurutan dan sistematis. Laporan hasil EKG antara lain : 1. Irama (Rhythm) 2. Laju jantung (QRS rate) 3. Aksis 4. Gelombang P 5. Interval PR 6. Kompleks QRS (durasi, morfologi, dan amplitudo) 7. Segmen ST 8. Gelombang T dan U Irama Jantung Irama jantung ditentukan oleh area jantung yang mengawali atau mendominasi aktifitas listrik jantung. Irama sinus berarti aktifitas listrik diawali dan berasal dari nodus sinus di atrium. Berdasarkan pembagian aktifitas listriknya, daerah jantung dibagi menjadi 2 bagian yaitu daerah supraventrikel dan daerah ventrkel. Daerah supraventrikel meliputi sinus, atrium, AV groove atau Atrioventricular Junction. Gambaran EKG berupa durasi QRS sempit menunjukkan aktifitas listrik berasal dari supraventrikel sedangkan gambaran EKG berupa durasi QRS lebar menunjukkan bahwa aktifitas listrik berasal dari ventrikel Terdapat empat langkah singkat yang dapat digunakan untuk mempermudah kita dalam menentukan irama EKG : ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 6

Normal sinus Sinus rhythm characteristics : Rate 60-100 bpm Constant R R interval Negative P wave in aVR and positive di II P wave is always followed by QRS complex Menentukan laju jantung (QRS rate/heart rate) Untuk menentukan laju jantung dengan EKG dapat digunakan beberapa cara yaitu: A. Jarak R R : 1 kotak sedang = 300 x / menit 2 kotak sedang = 150 x / menit 3 kotak sedang = 100 x / menit 4 kotak sedang = 75 x / menit 5kotak sedang = 60 x / menit 6 kotak sedang = 50 x / menit

HAFALKAN

B. Hitung jumlah R- R dalam 6 kotak besar = 6 detik Jumlah QRS x 10 = heart rate / menit C. 300/ jarak R-R (kotak sedang) = heart rate / menit D. 1500 / jarak R-R ( dlm mm ) = heart rate / menit

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 7

Menentukan Aksis Untuk menentukan aksis jantung secara cepat dan sederhana maka cukup menggunakan sadapan aVF (sumbu inferior) dan sadapan I (sumbu horisontal). Dengan mengukur resultan defleksi QRS di sadapan aVF dan sadapan I maka akan didapatkan sudut vektor aksis QRS dengan menggunakan rumus phytagoras. Contoh: resultan sadapan aVF = 5 mm ,resultan sadapan I = 5 mm maka aksis = + 450

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 8

Untuk menentukan aksis jantung dengan tepat dan cepat maka tetap menggunakan sadapan aVF (sumbu inferior) dan sadapan I (sumbu horisontal). Dengan mengukur resultan defleksi QRS di sadapan aVF dan sadapan I maka akan didapatkan daerah axis jantung. Selanjutnya dicari sadapan qrs yang mempunyai hasil resultan yang isoelektrik. Daerah axis jantung itu merupakan garis yang tegak lurus dengan garis isoelektirk tersebut dan terdapat pada daerah axis yang telah kita cari sebelumnya.

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 9

Sumbu kelistrikan jantung merujuk ke arah umum muka gelombang depolarisasi jantung (atau rerata vektor listrik) di bidang frontal. Biasanya berorientasi di arah bahu kanan ke kaki kiri, yang berhubungan dengan kuadran inferior kiri sistem rujukan heksaksial, meski -30o hingga +90o dianggap normal.

Deviasi sumbu kiri (-30o hingga -90o) dapat menandakan blok fasciculus anterior kiri atau gelombang Q dari infark otot jantung inferior. Deviasi sumbu kanan (+90o hingga +180o) dapat menandakan blok fasciculus posterior kiri, gelombang Q dari infark otot jantung lateral atas, atau pola nada ventrikel kanan. Dalam keadaan blok cabang berkas kanan, deviasi kanan atau kiri dapat menandakan blok bifasciculus.

Gelombang P Untuk menilai gelombang P maka lihatlah sadapan II dan aVR. Gelombang P berasal dari nodus sinus jika defleksi postif di sadapan II dan defleksi negatif di sadapan aVR. Jika ditemukan gelombang P defleksi negatif di sadapan II maka kemungkinannya adalah terdapat cetusan ektopik di atrium atau situs inversus. Pembesaran atrium kanan dan kiri dapat diketahui dengan melihat morfologi gelombang P di sadapan II dan V1. Bentuk gelombang P normal di sadapan V1 adalah bifasik (initial P defleksi positif dan terminal P defleksi negatif). Jika terminal P mengalami defleksi yang cukup dalam maka disebut P terminal force yang menandakan pembesaran atrium kiri. Pembesaran atrium kanan di tandai dengan tingginya gelombang P di sadapan 2 (lebih dari 3 mm) atau tingginya P initial di sadapan V1.

Gambar Morfologi gelombang P ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 10

Interval PR Interval PR diukur dari awal gelombang P ke awal kompleks QRS, yang biasanya panjangnya 120-200 ms. Pada pencatatan EKG, ini berhubungan dengan 3-5 kotak kecil.

Interval PR lebih dari 200 ms dapat menandakan blok jantung tingkat pertama. Interval PR yang pendek dapat menandakan sindrom pra-eksitasi melalui jalur tambahan yang menimbulkan pengaktifan awal ventrikel, seperti yang terlihat di Sindrom WolffParkinson-White. Interval PR yang bervariasi dapat menandakan jenis lain blok jantung. Depresi segmen PR dapat menandakan lesi atrium atau perikarditis. Morfologi gelombang P yang bervariasi pada sadapan EKG tunggal dapat menandakan irama pacemaker ektopik seperti pacemaker yang menyimpang maupun takikardi atrium multifokus

Kompleks QRS

Sejumlah kompleks QRS beserta tatanamanya. Kompleks QRS adalah struktur EKG yang berhubungan dengan deplarisasi ventrikel. Karena ventrikel mengandung lebih banyak massa otot daripada atrium, kompleks QRS lebih besar daripada gelombang P. Di samping itu, karena sistem His/Purkinje mengkoordinasikan depolarisasi ventrikel, kompleks QRS cenderung memandang "tegak" daripada membundar karena pertambahan kecepatan konduksi. Kompleks QRS yang normal berdurasi 0,06-0.10 s (60-100 ms) yang ditunjukkan dengan 3 kotak kecil atau kurang, namun setiap ketidaknormalan konduksi bisa lebih panjang, dan menyebabkan perluasan kompleks QRS. Tak setiap kompleks QRS memuat gelombang Q, gelombang R, dan gelombang S. Menurut aturan, setiap kombinasi gelombang-gelombang itu dapat disebut sebagai kompleks QRS. Namun, penafsiran sesungguhnya pada EKG yang sulit memerlukan penamaan yang pasti pada sejumlah gelombang. Beberapa penulis menggunakan huruf kecil dan besar, bergantung pada ukuran relatif setiap gelombang. Sebagai contoh, sebuah kompleks Rs akan menunjukkan defleksi positif, sedangkan kompleks rS akan menunjukkan defleksi negatif. Jika kedua ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 11

kompleks itu dinamai RS, takkan mungkin untuk menilai perbedaan ini tanpa melihat EKG yang sesungguhnya.

Durasi, amplitudo, dan morfologi kompleks QRS berguna untuk mendiagnosis aritmia jantung, abnormalitas konduksi, hipertrofi ventrikel, infark otot jantung, gangguan elektrolit, dan keadaan sakit lainnya. Gelombang Q bisa normal (fisiologis) atau patologis. Bila ada, gelombang Q yang normal menggambarkan depolarisasi septum interventriculare. Atas alasan ini, ini dapat disebut sebagai gelombang Q septum dan dapat dinilai di sadapan lateral I, aVL, V5 dan V6. Gelombang Q lebih besar daripada 1/3 tinggi gelombang R, berdurasi lebih besar daripada 0,04 s (40 ms), atau di sadapan prekordial kanan dianggap tidak normal, dan mungkin menggambarkan infark miokardium.

Segmen ST Segmen ST menghubungkan kompleks QRS dan gelombang T serta berdurasi 0,08-0,12 s (80120 ms). Segmen ini bermula di titik J (persimpangan antara kompleks QRS dan segmen ST) dan berakhir di awal gelombang T. Namun, karena biasanya sulit menentukan dengan pasti di mana segmen ST berakhir dan gelombang T berawal, hubungan antara segmen ST dan gelombang T harus ditentukan bersama. Durasi segmen ST yang khas biasanya sekitar 0,08 s (80 ms), yang pada dasarnya setara dengan tingkatan segmen PR dan TP.

Segmen ST normal sedikit cekung ke atas. Segmen ST yang datar, sedikit landai, atau menurun dapat menandakan iskemia koroner. Elevasi segmen ST bisa menandakan infark otot jantung. Elevasi lebih dari 1 mm dan lebih panjang dari 80 ms menyusul titik J. Tingkat ukuran ini bisa positif palsu sekitar 1520% (yang sedikit lebih tinggi pada wanita daripada pria) dan negatif palsu sebesar 2030%.

Gelombang T Gelombang T menggambarkan repolarisasi (atau kembalinya) ventrikel. Interval dari awal kompleks QRS ke puncak gelombang T disebut sebagai periode refraksi absolut. Separuh terakhir gelombang T disebut sebagai periode refraksi relatif (atau peride vulnerabel). Pada sebagian besar sadapan, gelombang T positif. Namun, gelombang T negatif normal di sadapan aVR. Sadapan V1 bisa memiliki gelombang T yang positif, negatif, atau bifase. Di samping itu, tidak umum untuk mendapatkan gelombang T negatif terisolasi di sadapan III, aVL, atau aVF.

Gelombang T terbalik (atau negatif) bisa menjadi iskemia koroner, sindrom Wellens, hipertrofi ventrikel kiri, atau gangguan SSP.

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 12

Gelombang T yang tinggi atau "bertenda" bisa menandakan hiperkalemia. Gelombang T yang datar dapat menandakan iskemia koroner atau hipokalemia. Penemuan elektrokardiografi awal atas infark otot jantung akut terkadang gelombang T hiperakut, yang dapat dibedakan dari hiperkalemia oleh dasar yang luas dan sedikit asimetri. Saat terjadi abnormalitas konduksi (mis., blok cabang berkas, irama bolak-balik), gelombang T harus didefleksikan berlawanan dengan defleksi terminal kompleks QRS, yang dikenal sebagai kejanggalan gelombang T yang tepat.

Interval QT Interval QT diukur dari awal kompleks QRS ke akhir gelombang T. Interval QT yang normal biasanya sekitar 0,40 s. Interval QT di samping yang terkoreksi penting dalam diagnosis sindrom QT panjang dan sindrom QT pendek. Interval QT beragam berdasarkan pada denyut jantung, dan sejumlah faktor koreksi telah dikembangkan untuk mengoreksi interval QT untuk denyut jantung. Cara yang paling umum digunakan untuk mengoreksi interval QT untuk denyut pernah dirumuskan oleh Bazett dan diterbitkan pada tahun 1920. Rumus Bazett adalah , di mana QTc merupakan interval QT yang dikoreksi untuk denyut, dan RR adalah interval dari bermulanya satu kompleks QRS ke bermulanya kompleks QRS berikutnya, diukur dalam detik. Namun, rumus ini cenderung tidak akurat, dan terjadi kelebihan koreksi di denyut jantung tinggi dan kurang dari koreksi di denyut jantung rendah. Gelombang U Gelombang U tak selalu terlihat. Gelombang ini khasnya kecil, dan menurut definisi, mengikuti gelombang T. Gelombang U diperkirakan menggambarkan repolarisasi otot papillaris atau serabut Purkinje. Gelombang U yang menonjol sering terlihat di hipokalemia, namun bisa ada di hiperkalsemia, tirotoksikosis, atau pemajanan terhadap digitalis, epinefrin, dan antiaritmia Kelas 1A dan 3, begitupun di sindrom QT panjang bawaan dan di keadaan pendarahan intrakranial. Sebuah gelombang U yang terbalik dapat menggambarkan iskemia otot jantung atau kelebihan muatan volume di ventrikel kiri.

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 13

Kumpulan sadapan klinis

Diagram yang menunjukkan sadapan-sadapan yang berdampingan dengan warna yang sama Jumlah sadapan EKG ada 12, masing-masing merekam aktivitas kelistrikan jantung dari sudut yang berbeda, yang juga berkaitan dengan area-area anatomis yang berbeda dengan tujuan mengidentifikasi iskemia korner akut atau lesi. 2 sadapan yang melihat ke area anatomis yang sama di jantung dikatakan bersebelahan (lihat tabel berkode warna).

Sadapan inferior (sadapan II, III dan aVF) memandang aktivitas listrik dari tempat yang menguntungkan di dinding inferior (atau diafragmatik) ventrikel kiri. Sadapan lateral (I, aVL, V5 dan V6) melihat aktivitas kelistrikan dari titik yang menguntungkan di dinding lateral ventrikel kiri. Karena elektrode positif untuk sadapan I dan aVL terletak di bahu kiri, sadapan I dan aVL terkadang disebut sebagai sadapan lateral atas. Karena ada di dada pasien, elektode positif untuk sadapan V5 dan V6 disebut sebagai sadapan lateral bawah. Sadapan septum, V1 and V2 memandang aktivitas kelistrikan dari titik yang menguntungkan di dinding septum anatomi kiri, yang sering dikelmpkkan bersama dengan sadapan anterior. Sadapan anterior, V3 dan V4 melihat aktivitas kelistrikan dari tempat yang menguntungkan di anterior ventrikel kiri. Di samping itu, setiap 2 sadapan prekordial yang berdampingan satu sama lain dianggap bersebelahan. Sebagai contoh, meski V4 itu sadapan anterior dan V5 lateral, 2 sadapan itu bersebelahan karena berdekatan satu sama lain. Sadapan aVR tak menampakkan pandangan khusus atas ventrikel kiri. Sebagai gantinya, sadapan ini melihat bagian dalam dinding endokardium dari sudut pandangnya di bahu kanan.

Pembesaran jantung Pembesaran jantung bisa merupakan dilatasi atau hipertrofi otot jantung. Pada dilatasi ruang jantung otot jantung meregang dan ruang jantung membesar. Pada hipertrofi serabut otot jantung bertambah ukurannya, pada EKG akan terlihat bertambahnya voltase dan durasi gelombang P atau kompleks QRS. Gelobang P yang normal mempunyai amplitude </= 2,5 mm ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 14

(0,25 mV) dan lebarnya kurang dari 0,12 detik. Overload atrium kanan, baik dilatasi maupun hipertrofi dapat menyebabkan peningkatan voltase sehingga akan tampak gelombang P yang tinggi (lebih dari 2,5 mm), karena abnormalitas atrium kanan biasanya tidak menyebabkan peningkatan durasi depolarisasi atrium secara keseluruhan maka lebar gelombang P akan tetap normal. Abnormalitas gelomabng P pada dilatasi atrium kanan disebut sebagai P pulmonal karena biasanya hal ini terjadi pada penyakit paru yang berat. Pembesaran atrim kiri karena dilatasi atau hipertrofi juga akan menghasilkan perubahan pada gelombang P. Biasanya atriuk kiri akan terdepolarisasi setelah atrium kanan. Pembesaran atrium kiri akan menyebabkan perpanjangan waktu depolarisasi atrium yang akan menyebabkan pelebaran gelombang P. Ciri pembesaran atrium kiri pada EKG adalah gelombang P yang lebar dengan durasi >/= 0,12 detik. Amplitude gelombang P bisa tetap normal atau meningkat. Kadang terlihat gelombang P mempunyai dua tonjolan punggung. Tonjolan yang kedua merupakan cirri adanya keterlambatan depolarisasi atrium kiri yang bisa dilihat pada lead ekstremitas. Pada lead V1 akan tampak gelombang P yang bifasik dengan defleksi awal positif yang kecil diikuti defleksi negative yang dominan akibat keterlambatan depolarisasi dari atrium kiri yang membesar, dengan kedalaman minimal 1 mm dan lebar minimal 0,04 detik. Istilah lama P mitral seringkali masih dipakai untuk menggam barkan gelombang P yang abnormal karena dilatasi atrium kiri.

Hipertrofi ventrikel kanan Ventrikel kana mempunyai masa otot yang lebih kecil daripada ventrikel kiri, oleh karena itu agar ventrikel kanan bisa merubah vector bergeser ke kanan berarti ventrikel kanan harus mengalami hipertrofi yang sangat berat, hal ini juga berarti bahwa kriteria EKG untuk hipertrofi ventrikel kanan (RVH) tidak akan terlalu sensitive untuk kondisi hipertrofi ventrikel kanan yang baru Pada keadaan yang normal, ventrikel kiri dan kanan terdepolarisasi bersamasama, teteapi karena ventrikel kiri secara elektrik lebih dominan maka pada lead yang ditempatkan di dada sebelah kanan (missal V1) akan merekam pola rS, gelombang S yang dalam menunjukan penyebaran voltase depolarisasi yang menjauhi lead tersebut atau menyebar ke ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 15

sebelah kiri, sebaliknya lead yang ditempatkan pada sebelah kiri dada (missal V5, V6) akan merekam polar R, dimana gelombang R merupakan voltase dominan depolarisasi yang mengarah ke kiri. Pada RVH yang telah memadai untuk merubah dominasi elektrik ventrikel kiri, arah vector utama akan semakin bergeser ke kanan, dan menghasikan gelombang R yang semakin tinggi di lead prekordial sebelah kanan (V1 dan V2) dan sebaliknya akan mengakibatkan gelombang S yang di prekordial lead sebelah kiri (V5 dan V6). RVH selain mempengaruhi depolarisasi juga akan memperngaruhi repolarisasi (kompleks ST-T), karena alasan yang belum diketahui dengan jelas, RVH akan menyebabkan timbulnya pola strain berupa depresi segmen ST dan inverse gelombang T yang terlihat pada lead di kanan dan tengah dada. Beberapa penyebab RVH, diantaranya penyakit jantung congenital dan penyakit pada paru, yang juga biasanya menyebabkan dilatasi venteikel kanan, sehingga kita juga bisa menjumpai pola RVH pad EKG disertai dengan pola pembesaran atrium kanan secara bersamasama.

Kriteria hipertrofi ventrikel kanan sebagi berikut 5:

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 16

Hipertrofi Ventrikel Kiri Ketika terjadi hipertrofi ventrikel kiri (LVH) , maka dominasi elektrik ventrikel kiri akan semakin menonjol sehingga akan terlhat gelombang R yang tinggi pada lead prekordial di sebelah kiri (V5,V6) dan gelombang S yang dalam akan terrekam pada lead prekordial sebelah kanan (V1,V2).

Kriteria diagnostik LVH pada EKG, sebagai berikut 5 : Kriteria Sokolow-Lyon : - S wave di V1 + R wave di V5 atau V6 > 35 mm, atau - R wave di V5 atau V6 > 26 mm. Kriteria Cornell Voltage : - Perempuan : R di aVL + S di V3 > 20 mm - Laki-laki : R di aVL + S di V3 > 28 mm Kriteria Skoring Romhilt-Estes :

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 17

ECG COURSE IN DAILY PRACTICE Optima-| 18