Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR(TEE115P)

UNIT VII MERANGKAI DAN MENGUJI OP-AMP.

NAMA NIM HARI PRAKTIKUM TANGGAL PRAK

: : : :

NATHAN SITOHANG 36017 KAMIS 27 MEI 2010

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR JURUSAN TEKNIK ELEKTRO & TEKNOLOGI INFORMASI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010

I.

PENDAHULUAN

Op-amp merupakan suatu jenis penguat elektronika arus searah (dc) yang memiliki gain (penguatan) sangat besar dengan dua masukan serta satu keluaran. Op-amp dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki impedansi input yang sangat tinggi dan impedansi output sangat rendah, hal ini dilakukan agar diperoleh penguatan yang ideal. Penguat operasional pada umumnya tersedia dalam bentuk sirkuit terpadu dan yang paling banyak digunakan adalah seri 741.

Gambar IC seri LM 741 Seperti tampak pada gambar, IC LM 741yang merupakan salah satu rangkaian opamp ini, dibuat menjadi satu komponen yang terdiri atas 8 kaki,di mana isinya di dalamnya telah teraplikasi rangkaian penguat. Masukkan amplifier yang masing-masing digunakan untuk memfeedback sinyal output, hingga akhirnya menghasilkan output yang berisolasi secara terus-menerus. Sedangkan yang satu lainnya digunakan untuk mengontrol operasi karakteristik dari komponen itu sendiri. Dari hasil perbandingan antara sinyal tegangan input(Vin) dan sinyal tegangan output atau hasil penguatan(Vout), akan diperoleh gain tegangan(Av) yang menunjukkan besar penguatan dari rangkaian op-amp tersebut. Secara matematis dituliskan dengan:

Ada beberapa jenis op-amp yang berdasarkan karekter ouput yang dihasilkannya, di antaranya adalah inverting amp.,noninverting amp.,differentiator amp., integrator amp.dan summing amp.(adder amp.). Inverting amp. merupakan rangkaian yang memberikan input tegangan yang lebih positif pada kaki input positif di op-amp tersebut. Sehingga hasil outputnya menghasilkan output yang memiliki sifat yang sama dengan input. Pada akhirnya diperoleh gelombang output dengan beda fase 3600 atau 0 terhadap gelombang inputnya . Inverting amp. merupakan kebalikan dari non-inverting amplifier. Pada kaki input positifnya diberikan input tegangan yang lebih negatif. Sehingga hasil outputnya akan menghasilkan output yang memiliki sifat yang berbeda dengan input. Pada akhirnya diperoleh gelombang output dengan beda fase 180 terhadap gelombang inputnya .

Sedangkan, differentiator amp.merupakan rangkaian dengan output berupa tingkat perubahan dari sinyal outputnya, di mana grafik gelombang output nya merupakan hasil pendiferensialan dari gelombang input. Integrator amp. merupakan rangkaian dengan bentuk keluaran output berupa luas dari gelombang input.Seperti pada namanya,integrator amp. memiliki bentuk grafik output menyerupai bentuk integral dari tegangan input. Dan yang terakhir summing/adder amp, merupakan jenis op amp yang dapat menerima beberapa inputan dan menghasilkan output yang merupakan penjumplahan dari inputannya.

II.

ALAT DAN KOMPONEN - Alat Oskiloskop AFG Breadboard Power supply Kabel jumper(jika dibutuhkan) - Komponen IC LM 741 Resistor(20 K) 5 buah Resistor(100 K) 3 buah Resistor(3300 ) 1 buah Resistor(220 ) 1 buah Kapasitor(10 nF) 1 buah

III.

GAMBAR DAN ANALISIS RANGKAIAN 1. Inverting Amp.

Pada rangkaian ini, hambatan input inverting(Ri) pada kaki 2 dan noninverting pada kaki 3 masing-masing adalah sebesar 20 K. Sedangkan feed-back resistornya menggunakan hambatan sebesar 100 K. Rangkaian ini merupakan rangkaian penguat inverting (pembalik), hal ini dikarenakan sinyal input yang masuk, masuk melalui kaki inverting (-). Sinyal inputnya adalah gelombang sinusoidal yang dari AFG dengan frekuensi 1 KHz, dan amplitude 0,5 Vpp. Rangkaian ini akan menghasilkan penguatanan(Av) sebesar : Av = Rf / Ri

= (100K / 20 K) = 5 kali

2. Noninverting Amp.

Pada rangkaian ini, hambatan input inverting(Ri) sebesar 20 K. Dan input noninverting tanpa resistor terhubung ke AFG sebagai pemberi sinyal input.Feed-back resistornya masih menggunakan hambatan sebesar 100 K. Rangkaian ini merupakan rangkaian penguat noninverting(tak membalik), hal ini dikarenakan sinyal input yang masuk, masuk melalui kaki noninverting (+). Sinyal inputnya adalah gelombang sinusoidal yang dari AFG dengan frekuensi 1 KHz, dan amplitude 0,5 Vpp. Rangkaian ini akan menghasilkan penguatanan(Av) sebesar : Av = (Rf+Ri) / Ri = (100K+20K) / 20 K = 6 kali 3. Defferential Amp.

Pada percobaan kali ini akan dirangkai rangkaian difrensial amplifier. Rangkaian difrensial amplifier ini menerima sinyal input pada kedua kaki, baik kaki inverting maupun kaki noninverting. Tetapi dikarenakan pada kaki non-inverting diberi ground, dan pada kaki inverting tetap ada sinyal input yaitu sinyal AFG 1 Khz beramplitude 2 Vpp yang mengalir, maka konsep kerjanya hampir mirip dengan rangkaian inverting amplifier. Tetapi untuk perhitungan AVnya adalah :

Av

1 ( R3 Rin ( R1 R2 ) R F ) Rin ( R1 R2 R3 )

4. Differentiator

Rangkaian diatas adalah rangkaian difrensiator amplifier. Rangkaian ini memiliki resistans input pada kaki inverting sebesar 1K. Dan juga adanya kapasitor pada kaki inverting, yang terhubung dewngan feedback yang dihubungkan dengan resistans sebesar 20K. Lalu pada kaki non-invertingnya diberi hambatan juga sebesar 20K. Rangkaian ini akan menghasilkan sinyal yang berbentuk difrensial dari sinyal input yang diberikan. Inputnya tetap diberikan pada kaki inverting. 5. Integrator

Rangkaian ini hanya memiliki satu perbedaan dalam susunan rangkaiannya dengan rangkaian integrator. Yaitu terletak pada penyusunan kapasitornya. Untuk rangkaian integrator, kapasitor disusun secara parallel. Sedangkan untuk rangkaian difrensiator tadi, kapasitor disusun secara seri. Sinyal inputnya tetap diberikan pada kaki inverting. Dan tentunya rangkaian ini akan menghasilkan sinyal yang berbentuk integral dari sinyal input. 6. Adder Amp. Pada rangkaian kali ini, rangkaiannya disebut adder amplifier. Rangkaian ini disebut sebagai penguat penambah dikarenakan dalam perhitungan tegangan output atau sinyal output dilakukakn dahulu perhitungan dari tegangan-tegangan di titik-titik parallel tersebut. Vout = Rf/Rin ( V1+V2+V3 ) Rumus ini dapat dihasilkan oleh karena pada rangkaian hambatan input memiliki nilai yang sama, yaitu sebesar 20 K.

Gambar rangkaian, dapat dilihat di bawah ini:

IV.

HASIL PENGUJIAN 1. Inverting Amp. V out = 2,32 Vpp Gambar gelombang:

V2 = 8,4 mVpp 3. Differential Amp. V out = 32 mVpp

V in = 0,48 Vpp Gambar gelombang:

V in = 2,16 Vpp V2 = 7,2 mVpp 2. Noninverting Amp. V out = 0,52 Vpp V2 = 84 mVpp V in = 2,16 Vpp

4. Differentiator a. Input gel. Sinus V out=9,44 Vpp

b. Input gel. Kotak V out=27,8 Vpp

c. Input gel. Segitiga V out=8,6 Vpp

5. Integrator a. Input gel. Sinus V out = 0,46 Vpp

b. Input gel. Kotak V out = 27,8 Vpp

c. Input gel. Segitiga V out= 8,6 Vpp

6. Adder Amp V 1 = 0,232 Vpp V 2 = 0,244Vpp V 3 = 0,244 Vpp V out = 3,52 Vpp

V.

ANALISIS HASIL PENGUJIAN

Inverting Amp.

Pertama, nilai Av dicari terlebih dahulu,yaitu Av = Rf / R1 = 100K / 20K = 5 Dan berdasarkan perhitungan, dengan Vin 0,5 Vpp, V out yang akan dihasilkan adalah : V out = Av * Vin = 5 * 0,5Vpp = 2,5Vpp Hasil pengukuran = 2,32Vpp, mendekati perhitungan. Sementara itu V2 itu mendekati nol(pada pengukuran=7,2m Vpp), menunjukkan bahwa arus yang mengalir ke op-amp kecil, yang mengindikasikan bahwa op-amp mendekati ideal. Dan karena rangkaian ini merupakan rangkaian inverting amplifier, maka output yang dihasilkan berbeda 180 dari inputnya.

Noninverting Amp.

Av juga dihitung terlebih dahulu,yaitu: Av = (Rf+Ri)/Ri= (100K+20K) /20K = 5 + 1 = 6 Dan berdasarkan perhitungan, dengan Vin 0,5Vpp, maka V out yang akan dihasilkan adalah : Vout = Av * Vin = 6 * 0,5Vpp = 3Vpp Hasil pengukuran = 0,52Vpp, tidak sesuai perhitungan. Kemungkinan besar, pada waktu praktikum, ada kesalahan dalam perangkaian.

Differential Amp.
1 ( R3 Rin ( R1 R2 ) R F ) Rin ( R1 R2 R3 ) atau; 1 Av (20 K 20 K (20 K 20 K )100 K ) 20 K (20 K 20 K 20 K ) maka,Av=-3 Tanda negative menyatakan bahwa rangkaian memberikan input sebagai rangkain inverting. Dan V outnya jika dihitung : Vout = AV * Vin = 3 * 2Vpp = 6Vpp Av

Hasil pengukuran = 32mVpp dan gelombang output meruncing pada bagian bawah,. Hal ini tidak sesuai perhitungan dan tidak memenuhi prinsip differential amp. Kemungkinan besar, pada waktu praktikum, ada kesalahan dalam perangkaian.

Diffrentiator

--Input gelombang sinus Pada teorinya difrensial atau turunan dari sinus adalah cosinus. Bentuk dari fungsi cos adalah berbentuk gelombang transversal seperti gelombang sinus.Dan dalam pengujian, diperoleh gelomabang output yang transversal seperti gelombang input. --Input gelombang kotak Untuk masukan berupa gelombang kotak maka keluaran merupakan nilai gradient dari masukan. Saat masukan pada fase positif atau negative di mana gelombang keluaran berupa garis horizontal maka nilai gradiennya adalah 0. Ditunjukkan dengan keluarannya yang berupa garis lengkung mendekati nilai 0. Tetapi saat masukan pada bagian diskontinu(garis vertical), maka nilai gradiennya adalah tak hingga yang ditunjukkan dengan garis vertical ke atas atau ke bawah pada keluaran yang ujung puncaknya tidak dapat diketahui akhirnya. --Input gelombang segitiga Seperti pada masukan kotak, deferensiator akan mendeferensialkan masukan sehingga diperoleh keluaran berupa nilai gradien sinyal masukannya. Saat sisi segitiga condong ke kanan, maka keluaran berupa garis horizontal berlevel positif, sedangkan saat sisi segitiga condong ke kiri maka keluaran berupa garis horizontal berlevel negatif. Dan dalam pengukuran juga terlihat gelombang kotak (agak lengkung).

Integrator

--Input gelombang sinus Sesuai dengan rumus pengintegralan trigonometri, bahwa integral dari sin adalah cos. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya pada differentiator,bentuk dari fungsi cos adalah berbentuk gelombang transversal seperti gelombang sinus. Dan dalam pengujian, diperoleh gelombang output yang transversal seperti gelombang input. --Input gelombang kotak Pada dasarnya gelombang kotak merupakan gelombang yang terbentuk dari garis-garis yang konstan terhadap waktu, sehingga secara matematis, bila gelombang tersebut diintegralkan maka akan menghasilkan suatu fungsi linear yang selau berubah secara konstan terhadap waktu . Pada saat gelombang input naik dari low ke high, maka pada output akan diperoleh grafik linear yang menanjak, sebaliknya pada saat gelombang input turun dari high ke low, maka pada output akan dipeoleh grafik linear yang menurun. Akibatnya, diperoleh output segitiga. -- Input gelombang segitiga Sesuai dengan prinsip pengintegralan menyatakan bahwa dari fungsi linier diperoleh kurva fungsi eksponensial. Apabila gelombang segitiga(input) yang dibentuk dari grafik-grafik linier diintegralkan,maka akan diperoleh kurva kurva fungsi kuadrat yang akhirnya membentuk gelombang sinus. Dan hasil pengukuran juga menunjukkan output berupa gelombang sinusoidal

Adder Amp.

Pada pengujian penguat jumlah dilakukan pengukuran untuk V1,V2,V3, dan Vout. Untuk perhitungan V1,V2, dan V3, rangkaian yang menghubung V1, V2, dan V3 bisa dianggap seri. Untuk V1 :

V1

R 4 R5 R6 100 100 220 Vin 4 0,45 R R4 R5 R6 3300 100 100 220

Hasil Pengukuran = 0,232 Vpp.

Untuk V2 :

V2

R5 R6 100 220 Vin 4 R R4 R5 R6 3300 100 100 220 =0,34

Hasil pengukuran = 0,244 Vpp). Jujur saja, pada saat praktikum, saya kebingungan menentukan letak pengukuran V2. Maka,kemungkinan besar, saya salah menempatkan posisi pengukuran V2 Dan untuk V3 :

V3

R6 220 Vin 4 R R4 R5 R6 3300 100 100 220 = 0,23


Hasil pengukuran = 0,244 Vpp, sedikit galat.

VI. PERTANYAAN DAN JAWABAN 1. Perbandingan perhitungan teori dengan pengukuran

Inverting Amp. Perhitungan : Vout = 2,5Vpp Selisih: 0,18Vpp Noninverting Amp. Perhitungan : Vout = 3Vpp Error : 2,48Vpp Differential Amp. Perhitungan : Vout = 6Vpp Error : +/-6Vpp=100% Diffrentiator Integrator

Pengukuran : Vout = 2,32Vpp

Pengukuran : Vout = 0,52Vpp

Pengukuran : Vout = 32mVpp

Hasil difrensial dari semua macam gelombang yang seharusnya ditunjukkan juga saat pengukuran Hasil integral dari semua macam gelombang yang seharusnya ditunjukkan juga saat pengukuran

Adder Amp.
Perhitungan : V1 = 0,45Vpp V2 = 0,34Vpp V3 = 0,23Vpp Vout = 5,1Vpp Pengukuran : V1 = 0,232Vpp V2 = 0,244Vpp V3 = 0,216Vpp Vout = 3,52Vpp

2. Aplikasi Op-amp secara umum antara lain inverting amplifier, non-inverting amplifier, adder / penguat penjumlah, penguat diode, active filter (penguat integrator sebagai LPF dan penguat diferensiator sebagai HPF), komparator, ADC (analog digital converter),DAC (digital analog comverter), dan buffer. 3. Karakteristik Op-Amp ideal : a. Gain = ~ (tak hingga) Dengan gain yang tak hingga, maka akan diperoleh sistem yang hemat daya. Di mana daya inputannya kecil sedangkan output yang diperoleh berdaya besar. b. Impedansi masukan(Zin)= ~ (tak hingga) c. Impedansi outputnya(Zout) = 0(nol) Kedua poin b dan c akan saling melengkapi.

Dari rumus gain yaitu: Av=Rf/Ri , Av=(Rf+Ri)/Ri -Rf atau bisa juga disebut impedans input berbanding lurus dengan Av, sehingga apabila Rf(Zin) tak hingga, maka diperoleh gian yang tak hingga(lihat poin a) -Ri atau bisa juga disebut impedans output berbanding terbalik dengan Av, sehingga jika Ri(Zout) bernilai nol, maka gainnya pun akan tak hingga. d. Tidak ada arus yang masuk ke op-amp Semakin banyak arus yang mengalir ke op-amp, maka semakin banyak daya yang digunakan hanya untuk mengalirkan arus tersebut. Jadi, akan lebih baik, jika tak ada arus yang mengalir pada op-amp. 4. LM 741, LM 358, L298N,TEA2025B

VII. KESIMPULAN Penguat op-amp adalah penguat yang dapat menghasilkan output sesuai yang kita inginkan melalui rangkaian untai di luar op-amp Penguat op-amp dapat memiliki berbagai fungsi yang menghasilkan output yang berbeda pula, antara lain inverting, non-inverting, difrensial,difrensiator,integrator, dan penjumlah Rangkaian inverting dibuat dengan memasukkan sinyal input pada kaki inverting Rangkaian non-inverting dibuat dengan memasukkan sinyal input pada kaki non-inverting Difrensial amplifier dan difrensiator amplifier berbeda Rangkaian difrensiator akan menghasilkan output yang adalah difrensial dari input Rangkaian integrator akan menghasilakn output yang adalah integral dari input