Anda di halaman 1dari 51

ISSN 0854 - 7890

Jurnal

Nomor 36 Tahun 14, Januari 2006

* Karakteristik Abu Terbang PLTU Suralaya dan Evaluasinya untuk Refraktori Cor * Penelitian Abu Batu bara sebagai Pembenah Tanah : Pengaruh Waktu Inkubasi terhadap Parameter Kualitas Tanah (Derajat Keasaman Tanah (pH-H2O), Mn, Fe, P - Total dan P - Tersedia) * Penelitian dan Pemisahan Ekstraksi ZirkonHafnium dari Tailing Pencucian Timah Bangka * Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral Studi Kasus : Tenaga Kerja Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Bauksit Kijang (PT. Antam Tbk.) * Analisis Jalur Transportasi Batu bara untuk Industri Tekstil di Kota/Kabupaten Bandung

Material : alumina silikat

Material : alumina silikat

tek MIRA

PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA

ISSN 0854 7890

Teknologi Mineral dan Batubara


Daftar Isi
Daftar Isi ........................................................................................................................................................... i Sekapur Sirih .................................................................................................................................................... ii Karakterisasi Abu Terbang PLTU Suralaya dan Evaluasinya untuk Refraktori Cor ............................................ 1 - 8 Muchtar Aziz, Ngurah Ardha dan Lili Tahli Penelitian Abu Batu bara sebagai Pembenah Tanah : Pengaruh Waktu Inkubasi terhadap .............................9 - 17 Parameter Kualitas Tanah (Derajat Keasaman Tanah (pH-H2O), Mn, Fe, P - Total dan P - Tersedia) Nia Rosnia Hadijah dan Retno Damayanti Penelitian Pemisahan dan Ekstraksi Zirkon-Hafnium dari Tailing Pencucian Timah Bangka ........................ 18 - 26 Supriyono HS, Rachmat Yusuf, Deden Amiruddin, Wawan Purnawan, Mutaqin dan Wahyu Agus S. Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ......................................................................... 27 - 40 Studi Kasus : Tenaga Kerja Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Bauksit Kijang (PT. Antam Tbk.) Bambang Yunianto dan Binarko Santoso Analisis Jalur Transportasi Batu bara untuk Industri Tekstil di Kota/Kabupaten Bandung ............................ 41 - 47 Triswan Suseno Petunjuk Bagi Penulis ...................................................................................................................................... 48

Jurnal

Nomor 36, Tahun 14, Januari 2006

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara terbit pada bulan Januari, Mei, September dan memuat karya ilmiah yang berkaitan dengan litbang mineral dan batubara mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, lingkungan, kebijakan, dan keekonomiannya. Redaksi menerima sumbangan naskah yang relevan dengan substansi terbitan ini. Biaya langganan : Rp 60.000,-/tahun, termasuk ongkos kirim, harga eceran Rp 20.000,-/eksemplar.
EDITOR IN CHIEF PEMIMPIN REDAKSI REDAKTUR PELAKSANA EDITORIAL BOARD EDITOR STAF REDAKSI PENERBIT ALAMAT REDAKSI : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Ka. Bid Program dan Informasi : Ka. Sub Bid Dokumentasi dan Informasi : Binarko Santoso (Ketua), Pramusanto (Anggota), Bukin Daulay (Anggota) dan Siti Rochani (Anggota) : Tatang Wahyudi, Nining S. Ningrum, Darsa Permana, Retno Damayanti, Sri Handayani, Maman Surachman, Tendi Rustendi dan Zulfahmi : Sumartono, Yusi Nuriana dan Bachtiar : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Jl. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211 Telpon : (022) 6030483 - 5, Fax : (022) 6003373 e-mail : smartono@tekmira.esdm.go.id
i

Sekapur Sirih
Sidang pembaca yang budiman, Abu terbang (fly ash) merupakan limbah padat yang dikeluarkan oleh PLTU berbahan bakar batu bara. Jumlahnya di Indonesia melimpah; pada tahun 2006 ini saja diperkirakan akan mencapai 2 juta ton dan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Limbah ini perlu mendapat perhatian yang serius karena berpotensi besar menjadi masalah lingkungan, bahkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menetapkannya sebagai Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) karena kandungan logam-logam berat yang bersifat toksik. Namun di sisi lain, telah diketahui pula bahwa abu terbang mengandung komponen-komponen sebagai bahan agregat dan beberapa logam jarang yang mempunyai nilai tinggi, sehingga abu terbang mempunyai potensi pula untuk dimanfaatkan. Dalam edisi kali ini, terdapat dua buah tulisan yang berkaitan dengan masalah penanganan dan pemanfaatan abu terbang tersebut. Tulisan utama memaparkan kemungkinan pemanfaatan abu terbang untuk bahan baku pembuatan refraktori cor, dan tulisan yang lain menjelaskan kemungkinan menggunakan abu terbang sebagai bahan pembenah tanah (soil conditioner) dan sumber beberapa hara mikro pada tanah ampas (tailing). Upaya-upaya penelitian tersebut dilakukan dengan harapan, bukan saja dapat mengatasi masalah lingkungan di PLTU berbahan bakar batu bara, tetapi sekaligus dapat memberi nilai tambah terhadap limbah. Hal itu merupakan bagian penting dari konsep sustainable production. Sebuah tulisan lain, berjudul Penelitian pemisahan dan ekstraksi zirkon-hafnium dari tailing pencucian timah Bangka masih terkait erat dengan konsep sustainable production, yaitu mencoba memanfaatkan dan memberi nilai tambah kepada tailing pencucian timah dengan cara mengambil mineral-mineral dan logam berharga di dalamnya. Konsep sustainable production adalah konsep industri masa depan yang sangat penting, terutama bagi industri pengolahan mineral karena selalu menghasilkan berbagai produk samping yang menjadi masalah bagi lingkungan. Di samping itu, terdapat masalah yang dihadapi oleh kegiatan pertambangan ketika memasuki masa pascatambang, yaitu banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan atau pindah kerja ke sektor lain. Sebuah tulisan menyajikan hasil observasi dan studi mengenai pola alih kerja pada pascatambang dengan studi kasus di UPB Bauksit Kijang PT Antam Tbk dan faktorfaktor yang melatarbelakanginya. Studi ini cukup penting bagi langkah antisipasi yang pasti akan dihadapi oleh setiap kegiatan pertambangan. Penggunaan batu bara untuk industri tekstil di Kota/Kabupaten Bandung, didatangkan dari luar Jawa melalui Cirebon. Namun, untuk mencapai Bandung melalui jalur konvensional, terdapat kendala yang dikhawatirkan dapat menghambat pasokan batubara, yaitu kepadatan lalulintas dan rawan longsor di beberapa tempat. Oleh karena itu, sebuah tulisan mencoba memberi hasil kajian alternatif transportasi batu bara ini untuk menjamin kelancaran pasokan batu bara untuk wilayah Kota dan Kabupaten Bandung. Selamat membaca. Salam Redaksi

ii

KARAKTERISASI ABU TERBANG PLTU SURALAYA DAN EVALUASINYA UNTUK REFRAKTORI COR

MUCHTAR AZIZ, NGURAH ARDHA DAN LILI TAHLI Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211, Telp. (022) 6030483, Fax. (022) 6003373 SARI Abu terbang dari PLTU berbahan bakar batu bara dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk, di antaranya untuk pembuatan refraktori cor. Hasil karakterisasi dan evaluasi abu terbang PLTU-Suralaya menunjukkan abu terbang tersebut secara teknis memiliki prospek untuk dijadikan sebagai salah satu komponen bahan baku refraktori cor, yang dapat saling melengkapi dengan komponen bahan baku refraktori cor lainnya, sehingga dapat memenuhi spesifikasi sebagai refraktori cor. Hasil evaluasi melalui rekayasa komposisi yang dibuat dengan beberapa perbandingan komponen komposit mentah, menghasilkan tipikal komposisi kimia yang memiliki nilai Al2O3/SiO2 tertinggi 1,69, yang dicapai pada komposisi abu terbang/grog/aloxi/Caaluminat=3/2/3/2. Nilai ini memenuhi salah satu karakteristik refraktori cor komersial tipe CAJ-16 (Al 2O3/ SiO2=1,62). Semakin tinggi nilai Al2O3/SiO2, semakin tinggi sifat kerefraktoriannya (kestabilan pada suhu tinggi). Komposisi komposit mentah lainnya dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ-14 (Al 2O3/ SiO2=0,9), yaitu 1,24 dan 1,31, dengan perbandingan komposit mentah 3/3/3/1 dan 4/2/3/1. ABSTRACT Characterization and evaluation of fly ash of Suralaya coal-fired power station indicate that the fly ash technically has good prospect as a component of castable refractory raw material. The mixing of fly ash and other components would react to form certain specification of castable refractory. A mixing of fly ash/grog/aloxi/Caaluminate with composition of 3/2/3/2 by volume yielded the highest typical grade of Al 2O3/SiO2 = 1.69. This value could be comparable to the grade of the commercial castable refractory of CAJ-16, in which the typical grade of Al2O3/SiO2 is 1.62. The higher the value of Al2O3/SiO2, the higher the value of refractoriness. Other compositions, 3/3/3/1 and 4/2/3/1 by volume yielded the grade of Al2O3/SiO2 of 1.24 and 1.31 respectively, which were comparable to the commercial castable refractory of CAJ-14, with typical grade of Al 2O3/ SiO2 is 0.9. Keywords : fly ash, castable refractory, mixing, waste management

1.

PENDAHULUAN

Abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) merupakan limbah padat yang dikeluarkan oleh PLTU berbahan bakar batu bara. Menurut laporan teknik PT PLN (Persero) (1997), di Indonesia produksi limbah abu terbang dan abu dasar dari PLTU diperkirakan akan mencapai 2 juta ton pada tahun 2006, dan meningkat menjadi hampir 3,3 juta ton

pada tahun 2009. Khusus untuk PLTU Suralaya, sejak tahun 2000 hingga 2006 diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton per tahun. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Jika limbah abu ini tidak ditangani akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Salah satu kemungkinan penanganannya adalah dengan memanfaatkan abu terbang ini untuk bahan baku pembuatan refraktori.

Karakterisasi Abu Terbang PLTU Suralaya dan Evaluasinya ... Muchtar Aziz, Ngurah Ardha dan Lili Tahli

Refraktori merupakan bahan tahan api sebagai penahan (isolator) panas pada tanur-tanur suhu tinggi yang banyak digunakan oleh berbagai industri, seperti industri peleburan logam, kaca, keramik, semen. Refraktori cor merupakan bahan tahan api berupa bubuk yang jika dicampur dengan air dan dibiarkan beberapa saat akan mengeras (setting). Penggunaannya sebagai isolator panas dilakukan dengan cara pengecoran adonan campuran bahan tersebut dengan air pada dinding tanur yang akan diisolasi. Ada 3 tipe refraktori cor berdasarkan kandungan CaO-nya (Kumar et al,2003; Silvonen,2001) yaitu: Low cement castables mengandung maksimum CaO 2,5 % Ultra - low cement castables mengandung CaO <1% No cement castables mengandung CaO < 0,2 %

industri cenderung meningkat namun sampai saat ini masih dipenuhi melalui impor (PT Indoporlen Refractories Indonesia, 2001). Salah satu bahan baku refraktori, mullite , pada tahun 1996 diimpor sebanyak 250 ton namun pada tahun 2000 jumlah impornya meningkat menjadi 700 ton. Bahan baku lainnya meliputi chamotte, andalusite, kyanite, sillimanite, zircon, diimpor sekitar 500 hingga 1000 ton per tahun. Selain bahan baku juga masih diimpor bahan pengikat (binder) seperti calcium aluminate. Bahan - bahan tersebut diimpor dari India, Australia dan Cina. Menurut Hwang (1991), komponen mineral utama abu terbang adalah aluminosilikat, besi oksida, silikat densitas rendah, dan sisa karbon, serta kemungkinan adanya mineral mullite. Penelitian dan aplikasi pemanfaatan abu terbang sebagai bahan refraktori sudah dilakukan di beberapa negara seperti India dan Cina. Abu terbang PLTU-Suralaya diduga mempunyai potensi sebagai salah satu bahan baku refraktori. Dalam rangka pemanfaatan abu terbang PLTUSuralaya untuk bahan baku pembuatan refraktori, khususnya refraktori cor (castable refractory), perlu terlebih dahulu dilakukan penelitian bahan baku ( raw materials ) abu terbang tersebut untuk mengetahui karakteristiknya melalui serangkaian penelitian dan pengujian.

Menurut data produk perdagangan dari Sharada Ceramic Ltd, India (2000), refraktori cor yang bersifat asam mengandung Al2O3 65 - 95%, dan SiO2 5 32%, tahan terhadap suhu 1750 - 1860C, bulk density 2,1 - 2,8 g/ml. Bahan refraktori yang baik harus memiliki kadar Al2O3 lebih tinggi daripada SiO2 dengan perbandingan Al2O3 : SiO2 = 65% : 35% atau nilai Al2O3/SiO2=1,85. Kebutuhan akan refraktori dan bahan bakunya untuk

Tabel 1. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU di Indonesia

Tahun 1996 2000 2006 2009

Kapasitas listrik PLTU (MW) 2,66 10,155 12,22 19,99

Konsumsi batu bara (Juta ton) 7,3 27,7 33,3 54,5

Produksi abu dasar (Juta ton) 0,04 0,25 0,30 0,49

Produksi abu terbang (Juta ton) 0,25 1,41 1,70 2,78

Jumlah abu (Juta ton) 0,29 1,66 2,00 3,27

Tabel 2. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU Suralaya

1996 Konsumsi batu bara (Juta ton/th) Produksi abu dasar (Ribu ton/th) Produksi abu terbang (Ribu ton/th) Jumlah produksi abu (Ribu ton/th) 4,36 44 175 219

2000 9,27 93 175 219

2006 9,27 93 175 219

2009 9,27 93 175 219

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 1 8

2.

METODOLOGI PENGUJIAN/ KARAKTERISASI

Sampling contoh-contoh dilakukan dengan teknik basung prapat (coning-quartering). Uji karakterisasi abu terbang PLTU Suralaya dilakukan melalui analisis kimia, analisis fisik (distribusi ukuran, porositas, berat jenis, analisis SEM). Hasil - hasil analisis yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan komposisi/ karakteristik yang dimiliki oleh refraktori cor komersial. Adapun alat/metoda yang digunakan adalah sebagai berikut : 3. 3.1 Analisis kimia dengan AAS Mineralogi dengan XRD Uji struktur mikro dengan SEM Uji distribusi ukuran dengan Fritsch Particle Sizer, dan ayakan mesh Tyler Uji porositas berdasarkan SNI 13-3604-1994 Uji densitas berdasarkan SNI 13-3602-1994 HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN Karakteristik dan Evaluasi Refraktori Cor Komersial

memanjang adalah karakteristik khas dari mineral mullite, sedangkan kristal sugary adalah khas corundum. Adapun kristal yang berbentuk sugary tetapi bersudut adalah mineral cristobalite . Mineral-mineral mullite, cristobalite dan corundum adalah mineralmineral yang tahan suhu tinggi. Komposisi kimia : Komponen/senyawa kimia yang terdeteksi dari analisis SEM untuk butiran kasar terdiri atas Al 2O 3 =72,7%, SiO 2 =16,6%, CaO=1,18%, ZrO 2 =9,4% dan FeO dan MoO3 dalam kadar rendah. Adapun partikel halus terdiri atas senyawa Al 2O 3=72,2%, SiO2=8,9%, ZrO2=5,71%, Ta2O5=13,2% dan CaO, MgO, C kadar rendah. Keberadaan senyawa Zirkonia dan Tantalum menambah ketahanan refraktori terhadap suhu tinggi. Adanya komponen C (karbon) kemungkinan berasal dari bahan abu terbang atau waktu proses sinterisasi menggunakan bahan bakar batu bara. Hasil analisis kimia terhadap contoh refraktori cor komersial menunjukkan komposisi kimia seperti tercantum pada Tabel 3.2. Tampak bahwa CAJ-14 memiliki nilai Al 2 O 3/SiO 2 = 0,9 dan CAJ-16 memiliki nilai Al2 O 3/SiO 2 = 1,6. Kandungan pengotor Fe2O3, TiO2 dan CaO relatif tinggi. Data meliputi pH pada 10% padatan= 10,0 dan bulk density bubuk = 1,74 g/ml. Dari hasil karakterisasi terlihat bahwa komposisi kimia utama bubuk refraktori cor tipe CAJ-16 adalah Al2O3, SiO2, Ta2O5 dan ZrO2 dengan nilai Al2O3/SiO2 = 1,6 mengandung mineral-mineral mullite, cristobalite dan corundum. Tekstur dari partikel-partikelnya adalah sugary dan needle yang saling berikatan. Adapun tipe CAJ-14 mempunyai nilai perbandingan Al 2 O 3 /SiO 2 = 0,9. Semakin tinggi nilai perbandingan Al2O3/SiO2 maka semakin tinggi sifat kerefraktoriannya. 3.2. Karakterisasi dan Evaluasi Abu Terbang PLTU-Suralaya

Refraktori cor (berupa bubuk) komersial yang dijual di pasaran digunakan sebagai bahan pembanding atau kontrol terhadap hasil-hasil karakterisasi abu terbang PLTU Suralaya. Bahan pembanding tersebut adalah refraktori cor komersial tipe CAJ-14 dan tipe CAJ-16, masing-masing tahan terhadap suhu 1400oC dan 1600oC. Komposisi mineral : komposisi mineral untuk kedua tipe refraktori cor komersial tersebut adalah sama yaitu Corundum (Al2O3), Mullite (Al6Si2O13) dan Cristobalite (SiO2). Ukuran butir : distribusi ukuran butir ditunjukkan pada Tabel 3.1, terlihat bahwa sekitar 44% butiran berukuran +30 mesh (lebih kasar dari 30 mesh). Tekstur : Uji spot EDS menggunakan SEM terhadap butiran kasar (+30 mesh) dan butiran halus (-200 mesh) menunjukkan, butiran kasar bertekstur seperti butiran gula pasir (sugary) yang berukuran < 3 m, dan partikel halus (fine) menunjukkan sugary dan tekstur jarum (needle) yang panjangnya sekitar 3 m ( Gambar 3.1). Berdasarkan pengamatan Supomo et al,(1997) dan Soewanto et al,(1997), kristal menjarum atau

Distribusi ukuran butiran : Hasil analisis distribusi ukuran menggunakan Fritch particle sizer menunjukkan bahwa rentang ukuran partikelpartikel abu terbang berkisar antara 0,31 - 300,74 mm, dengan distribusi 80% berukuran 0,31 40.99 mm, atau d 50 = 6,22 mm. Ukuran partikel yang sangat halus ini cocok sebagai bahan pengisi (fine grog) dalam sistem refraktori cor.

Karakterisasi Abu Terbang PLTU Suralaya dan Evaluasinya ... Muchtar Aziz, Ngurah Ardha dan Lili Tahli

Tabel 3.1 Distribusi ukuran butir refraktori cor komersial CAJ-14 dan CAJ-16

Mesh Berat, %

30 44,33

30 14,86

40 7,75

40 5,10

60 3,67

-200 24,47

Total 100

Sample code : CAJ-16, Detected particle : Chunk; magnification, 10.000x

Sample code : CAJ-16; Detected particle : fine grain; magnification : 10.000x

Butiran kasar

Partikel halus
Gambar 3.1 Mikrostruktur refraktori cor komersial (berupa bubuk)

Tabel 3.2 Komposisi kimia refraktori cor komersial

Kode CAJ-14 CAJ-16

%SiO2 38,2 29,1

%Al2O3 35,3 47,2

%Fe2O3 1,48 1,2

%TiO2 1,28 1,62

%CaO 3,64 4,04

%MgO 0,53 0,17

%K2O 0,88 0,58

%Na2O 0,7 0,62

%LOI 0,58 0,72

Komposisi mineral CAJ-14 dan CAJ-16 sama yaitu terdiri atas corundum, mullite dan cristobalite

Material : alumina silicate

Material : alumina silicate

Gambar 3.2 Bentuk partikel mikro abu terbang PLTU-Suralaya

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 1 8

Bentuk partikelnya menunjukkan bentuk-bentuk membulat (spheres), berukuran <15 m seperti terlihat pada Gambar 3.2. Partikel-partikel yang membulat tersebut satu sama lain terlepas (tidak berikatan). Bentuk membulat kemungkinan disebabkan karena pada saat aluminosilikat mengalami pembakaran suhu tinggi dalam boiler PLTU, alkali di permukaan partikel meleleh. Terlihat pada Gambar 3.2 bahwa permukaan partikel membulat tersebut tidak merata yang menunjukkan kemungkinan proses pelelehannya tidak sempurna. Partikel-partikel yang permukaannya meleleh tidak sempurna dan berukuran halus ini cenderung bergerak/berputar di dalam dapur pembakaran batu bara akibat tekanan udara panas, dan terbang melalui cerobong sehingga disebut sebagai abu terbang. Bentuk partikel halus yang membulat cocok untuk bahan tahan api cor karena memiliki sifat lambat pengendapan dan self flowing yang lebih baik. Keunggulan dari sifat pengendapan yang lambat adalah cenderung membentuk distribusi merata sehingga produk refraktori cor akan mempunyai struktur fisik yang uniform dengan daya tahan abrasif yang lebih baik. Mullite yang terdeteksi melalui XRD jumlahnya sangat kecil karena tidak nampak adanya tekstur menjarum/memanjang (tekstur khas mullite) seperti pada tekstur refraktori cor komersial. Selain itu juga tidak nampak adanya tekstur yang berikatan satu sama lain yaitu tekstur akibat perlakuan suhu tinggi/ pelelehan. Oleh karena itu, abu terbang-PLTU Suralaya belum bersifat refraktori. Komposisi mineral : Hasil uji terhadap contoh abu terbang PLTU-Suralaya menunjukkan mineral dominan kuarsa dan sedikit mullite . Keberadaan mullite menunjukkan bahwa aluminosilikat pada abu terbang telah mengalami kontak dengan suhu tinggi di dalam tungku pembakaran batu bara PLTU. Mullite (3Al2O3.2SiO2) adalah mineral alumina silikat yang tahan terhadap suhu tinggi hingga sekitar 1875C, tetapi karena masih ada mineral kuarsa kemungkinan ketahanan terhadap suhu akan berkurang. Komposisi kimia : komposisi kimia seperti tercantum pada Tabel 3.3 menunjukkan nilai perbandingan Al2O3/SiO2 = 0,16 berarti kadar aluminanya sangat kecil dibandingkan dengan silikanya. Jika dibandingkan dengan data dalam Tabel 3.4 (PT PLN,1997), terlihat kadar alu-

mina lebih tinggi dengan nilai Al2O3/SiO2 = 0,6. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena komposisi batu bara yang digunakan dulu dengan saat ini oleh PLTU-Suralaya sudah berubah. Saat ini batu bara yang digunakan berasal dari PT. Adaro. Selain itu juga terlihat ada senyawa pengotor seperti Fe2O3, TiO2, CaO, K 2O dan Na 2O yang relatif tinggi, sehingga mungkin akan menurunkan kualitas refraktori. Dengan kandungan CaO sekitar 3,2% maka abu terbang ini termasuk klasifikasi ASTM kelas C yang lebih cocok berfungsi sebagai bahan cementing castables refractory yang tahan suhu relatif rendah. Berdasarkan kandungan mineral dan komposisi kimianya seperti terlihat pada Tabel 3.4, maka abu terbang ini selain berfungsi sebagai bahan pengisi berbutir halus (fine grog) juga dapat berfungsi sebagai binder dalam sistem refraktori. Data yang ditunjukkan pada Tabel 3.5 adalah komposisi kimia abu PLTU-Suralaya hasil pengujian menurut laporan teknik PT PLN, 1977. Data tersebut memperlihatkan kandungan Al2O3 yang relatif lebih tinggi yaitu 30,8% untuk abu terbang dan 24% untuk abu dasar. Juga kandungan SiO2 yang lebih rendah yaitu 54% untuk abu terbang dan 63,4% untuk abu dasar. Untuk abu terbang, nilai perbandingan Al2O3/SiO2 adalah 0,57. Kandungan CaO relatif tinggi yaitu sekitar 4%. Menurut klasifikasi ASTM, abu terbang dengan nilai kandungan CaO tersebut termasuk kelas C, yang lebih cocok berfungsi sebagai bahan cementing castables refractory yang tahan suhu relatif rendah. Untuk mencapai kualitas refraktori yang tahan suhu tinggi, kandungan CaO maksimum 1%. Kualitas ini termasuk low/ultra-low cement castable refractory, yaitu klasifikasi ASTM kelas F (Hwang,1991). Oleh karena itu, untuk mencapai komposisi kimia refraktori diperlukan penambahan aluminium oksida atau bahan yang mengandung Al2O3 tinggi ke dalam abu terbang guna mengurangi kadar SiO2, CaO, K2O, Na2O, Fe2O3 sehingga dapat mendekati komposisi kimia refraktori cor komersial, dan memiliki nilai Al2O3/SiO2 sekitar 1,6 1,85. 3.3 Rekayasa dan Hasil Penghitungan Komposisi

Dari hasil karakterisasi abu terbang PLTU-Suralaya yang telah dilakukan maka diperlukan penelitian untuk merekayasa dan menghitung komposisi bahan baku refraktori cor (komposit mentah) yang terdiri dari 4 komponen : abu terbang, grog aluminosilikat

Karakterisasi Abu Terbang PLTU Suralaya dan Evaluasinya ... Muchtar Aziz, Ngurah Ardha dan Lili Tahli

Tabel 3.3 Komposisi kimia abu terbang PLTU-Suralaya

%SiO2 72,9

%Al2O3 11,37

%Fe2O3 5,93

%TiO2 0,76

%CaO 3,19

%MgO 1,99

%K2O 0,46

%Na2O 1,45

%LOI 1,04

Tabel 3.4 Komposisi kimia abu pada limbah PLTU Suralaya

Senyawa Al2O3 CaO Fe2O3 K2O MgO Na2O P2O5 SO3 SiO2 TiO2 Fe+Si+Al CaO bebas Kand. Silika LOI D50 D90

Abu dasar % 24,0 2,7 5,5 0,17 1,3 1,0 0,18 63,4 92,9 <0,06 0,68 -

Abu terbang % 30,8 4,0 4,6 0,18 1,9 1,3 0,23 54,0 89,4 <0,06 53,4 <0,5 15,5 (m) 67,9 (m)

Komponen lainnya adalah aluminium oksida (Aloxi) yang berfungsi untuk menambah kandungan Al2O3 sehingga sifat kerefraktorian dari refraktori cor diharapkan menjadi meningkat. Komposisi kimia salah satu tipikal Aloxi dapat dilihat pada Tabel 3.6. Kalsium aluminate (Ca-aluminate) berfungsi sebagai bahan pengikat, terutama saat pembentukan atau pencetakan untuk mempercepat waktu pengeringan dan pengerasan (setting time). Salah satu tipikal komposisi kimia Ca-aluminate ditunjukkan pada Tabel 3.7. Salah satu tipikal komposisi yang kemungkinan bisa dibangun dan diuji adalah seperti disajikan pada Tabel 3.8. Rekayasa komposisi yang dibuat dengan perbandingan komponen komposit mentah seperti ditunjukkan pada Tabel 3.9, menghasilkan tipikal komposisi kimia seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3.10. Nilai Al 2O 3/SiO 2 tertinggi dicapai pada komposit mentah kode A yaitu 1,69. Nilai ini dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ16. Komposit mentah kode B dan D dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ-14. 4. 4.1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil karakterisasi dan evaluasi abu terbang PLTU-Suralaya menunjukkan abu terbang tersebut secara teknis memiliki prospek untuk dijadikan salah satu komponen bahan baku refraktori cor, yang dapat saling melengkapi dengan komponen bahan baku refraktori cor lainnya sehingga dapat memenuhi spesifikasi sebagai refraktori cor.

(crushed brick), aluminium oksida, dan calcium aluminate (sebagai pengikat atau binder). Grog adalah material granular yang dibuat dari bahan tahan api hancur (crushed brick) sebagai pengisi bodi berukuran kasar yang dapat berfungsi mengurangi shrinkage dan thermal expansion, meningkatkan stabilitas saat mengalami suhu tinggi. Abu terbang mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai grog, pengisi refraktori berbutir halus dan sebagai binder karena mengandung aluminosilika aktif. Sebagai bahan grog kasar digunakan aluminosilikat yang telah mengalami perlakuan suhu tinggi dan telah dipecah (crushed brick). Salah satu tipikal grog untuk refraktori cor biasanya dibuat berukuran 30 mesh, mempunyai komposisi mineral: corundum, mullite dan cristobalite. Komposisi kimianya tercantum pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Tipikal komposisi kimia grog

%SiO2 39,0

%Al2O3 54,0

%Fe2O3 1,70

%TiO2 2,18

%CaO 1,33

%MgO 0,62

%K2O 0,65

%Na2O 0,22

%LOI 0,12

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 1 8

Tabel 3.6 Tipikal komposisi kimia aluminium oksida (Aloxi)

%SiO2 0,12

%Al2O3 98,5

%Fe2O3 0,094

%TiO2 0,12

%CaO 0,44

%MgO 0,004

%K2O 0,004

%Na2O 0,35

%LOI 0,23

Tabel 3.7 Tipikal komposisi kimia Ca-aluminate

%SiO2 5,24

%Al2O3 40,5

%Fe2O3 12,18

%TiO2 2,18

%CaO 35,6

%MgO 0,30

%K2O Tt

%Na2O 0,039

%LOI 3,52

Tabel 3.8 Tipikal komposisi kimia grog, aloxi dan Ca-aluminate

%SiO2 Grog Aloxi Ca-aluminate 39,0 0,12 5,24

%Al2O3 %Fe2O3 %TiO2 54,0 98,5 40,5 1,70 0,094 12,18 2,18 0,12 2,18

%CaO 1,33 0,44 35,6

%MgO 0,62 0,004 0,30

%K2O 0,65 0,004 Tt

%Na2O 0,22 0,35 0,039

%LOI 0,12 0,23 3,52

Tabel 3.9 Tipikal rekayasa komposisi komposit mentah refraktori cor (abu terbang, grog, Aloxi, Ca-aluminate)

Komponen komposit mentah Abu terbang Grog Aloxi Ca-aluminate

Kode komposit mentah (perbandingan berat) A 3 2 3 2 B 3 3 3 1 C 4 3 2 1 D 4 2 3 1

Tabel 3.10 Tipikal hasil penghitungan komposisi kimia komposit mentah refraktori cor

Kode CAJ-16 CAJ-14 A B C D

%SiO2 29,1 38,2 30,8 34,1 41,3 37,4

%Al2O3 %Fe2O3 47,2 35,3 52,0 42,2 34,4 49,0 1,2 1,48 4,5 3,5 4,1 3,9

%TiO2 1,62 1,28 1,0 1,0 1,1 0,9

%CaO 4,04 3,64 8,5 5,1 5,4 5,2

%MgO 0,17 0,53 1,9 2,4 2,6 2,0

%K2O 0,58 0,88 0,2 0,3 0,3 0,2

%Na2O 0,62 0,7 0,6 0,7 0,8 0,7

%LOI 0,72 0,58 1,1 0,7 0,7 0,8

Al2O3/ SiO2 1,62 0,9 1,69 1,24 0,83 1,31

Karakterisasi Abu Terbang PLTU Suralaya dan Evaluasinya ... Muchtar Aziz, Ngurah Ardha dan Lili Tahli

Rekayasa komposisi yang dibuat dengan perbandingan komponen komposit mentah menghasilkan tipikal komposisi kimia yang memiliki nilai Al2O3/SiO2 tertinggi 1,69 yang dicapai pada komposit mentah kode A. Nilai ini dapat memenuhi salah satu karakteristik refraktori cor komersial tipe CAJ-16. Komposit mentah kode B dan D dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ-14, bahkan nilainya lebih tinggi, yaitu 1,24 dan 1,31. Semakin tinggi nilai Al2O3/SiO2, semakin tinggi sifat kerefraktoriannya (kestabilan pada suhu tinggi). Saran

Kumar, D.S. Kumar, M.P. and Sankar R. 2003, Effect of Syntetic Aggregate on Alumina Castables Based on Fly Ash, Kyanite and Sillimanite, Bulletin of American Ceramic Society, Abstract on http://www.ceramicbulletin.org.28 January. 2004. PT.Indoporlen Refractories Indonesia 2001, (Brosur). PT PLN (Persero) dan PT Kema Teknologi Indonesia 1997, Pengelolaan Abu Terbang dan Abu Dasar Pembangkit Listrik Dengan Bahan Bakar Batu bara di Indonesia, Laporan Teknik. Sharada Ceramic Ltd. 2000, Product data of Castables Refractories , India, http:// www.castablerefractories.com. 4 Febr. 2004. Silvonen, J. 2001, Porous Ceramic Castable Refractories , Presentation Outline, TUT, Institute of Materials Science, Ceramic Materials Laboratory. Soewanto, R. dan Sagala, M. 1997, Karakterisasi Kromit Sulawesi Tengah sebagai Bahan Refraktori, Prosiding Kolokium Pengolahan Mineral Untuk Industri di Indonesia, Puslitbang Teknologi Mineral, hlm. 165. Supomo, Sagala, M. dan Pranggono, P. 1997, Pembuatan Mulit dari Topaz , Prosiding Kolokium Pengolahan Mineral Untuk Industri di Indonesia, Puslitbang Teknologi Mineral, hlm. 119.

4.2

Diperlukan penelitian lanjutan untuk melakukan rekayasa komposit mentah refraktori cor serta pengujiannya untuk mendapatkan komposisi bahan baku refraktori cor yang optimal dengan abu terbang sebagai salah satu komponennya. DAFTAR PUSTAKA J.Y. Hwang, 1991; Beneficial Use of Fly Ash, Technical Report, Michigan Technologycal University. http://www.ceramicbulletin.org, 28 Jan.2004. Hwang, J.Y dan Huang, X. 1995, Refractory Material Produced from Beneficiated Fly Ash, Proceedings 11th International Symposium on Use and Management of Coal-Combustion ByProducts, Orlando, January, Vol.1, pp.32-1-13.

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 1 8

PENELITIAN ABU BATU BARA SEBAGAI PEMBENAH TANAH : PENGARUH WAKTU INKUBASI TERHADAP PARAMETER KUALITAS TANAH (DERAJAT KEASAMAN TANAH (pH-H2O), Mn, Fe, P-TOTAL DAN P-TERSEDIA)

NIA ROSNIA HADIJAH DAN RETNO DAMAYANTI Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211, Telp. (022) 6030483, Fax. (022) 6003373 SARI Abu batu bara merupakan salah satu produk samping dari pembangkit tenaga listrik PLTU batu bara. Pada penelitian ini abu batu bara digunakan sebagai pembenah tanah ( soil conditioner) dan sumber beberapa hara mikro pada tanah ampas (tailing), karena secara kimia abu batu bara mengandung unsur Fe, Ca, Al, Si, K dan Mg dengan persentase tinggi, juga mengandung unsur Zn, B, Mn dan Cu dalam jumlah sedang, serta sejumlah kecil unsur C dan N yang terdapat dalam bentuk silikat, oksida, sulfat dan karbonat. Ampas yang digunakan berasal dari kegiatan pengolahan tembaga di Timika dan abu batu bara dari PLTU Asam-asam di Kalimantan. Ampas dan abu batu bara, serta kompos dicampur dengan perbandingan A0 (200:25:25), A1 (225:0:25), A2 (225:25:0), A3 (175:0:75) dan A4 (175:75:0). Campuran diinkubasi selama 2, 4 dan 6 minggu. Metode percobaan yang digunakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 (tiga) ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama masa inkubasi berpengaruh terhadap parameter pH, unsur Mn, Fe, Ptotal dan P-tersedia. Perubahan parameter tersebut optimum pada inkubasi 2 minggu. Terjadi penurunan Mn dan Fe, penurunan Mn rata-rata terbesar 4,14 ppm (99,7%) dan penurunan Fe rata-rata terbesar 323,85 ppm (99,75%) terjadi pada ikubasi 2 minggu. Kenaikan P-total dalam tanah berkisar 62,84 129,89 mg/100g sedangkan P-tersedia adalah 31,19 70,12 mg/100g. Penambahan abu batu bara signifikan terhadap perubahan parameter Fe dan Mn, tetapi peningkatan P-total dan P-tersedia hanya terjadi pada perlakuan penambahan kompos. ABSTRACT Fly ash is a by product of pulverized coal fired thermal power stations. As the fly ash contains high concentration of Fe, Ca, Al, Si, K and Mg, medium concentration of Zn, B, Mn and Cu and small amounts of C and N, it is predicted that fly ash can be used as the soil conditioner and as a source of some micro nutrient for tailing management. Most of those elements present in the forms of silicates, oxides, sulphates and carbonates. The tailing is from Timika copper processing plant and the fly ash is from Asam-asam Power Plant. Compost must be added to change the texture of tailing mixture. The composition ratio of tailing, fly ash and compost mixture were A0 (200:25:25), A1 (225:0:25), A2 (225:25:0), A3 (175:0:75) and A4 (175:75:0). The mixtures then were incubated for 2, 4 and 6 weeks. The experiment used Randomized Block Design (Rancangan Acak Kelompok) method which repeated 3 times. Result showed that incubation time influenced the soil parameter such as pH, Mn, Fe and P. The optimum changes occured in the 2 week of incubation. The Fe and Mn

Penelitian Abu Batu bara sebagai Pembenah Tanah ... Nia Rosnia Hadijah dan Retno Damayanti

concentration reduced about 323.85 ppm (99.75%) and 4.14 ppm (99.7%) respectively. Increasing in total P in soil was in the range of 62.84 129.89 mg/100 g and for the available P was 31.19 70.12 mg/100 g. It means that fly ash addition caused the significant reduction in soil Fe and Mn parameters but changes in phosphor concentration mostly came from compost addition. Keywords : fly ash, soil conditioner, incubation, waste management

1.

PENDAHULUAN

Salah satu produk samping dari pembangkit tenaga listrik PLTU batu bara adalah abu batu bara. Abu batu bara dapat dimanfaatkan karena berbentuk partikel halus amorf dan bersifat Pozzolan dan dapat bereaksi dengan kapur pada suhu kamar dengan media air dan membentuk senyawa yang bersifat mengikat. Hingga saat ini abu batu bara banyak dimanfaatkan untuk keperluan industri semen dan beton, bahan pengisi untuk bahan tambang dan bahan galian serta berbagai pemanfaatan lainnya. Salah satu pemanfaatan abu batu bara yang diteliti di Puslitbang tekMIRA adalah untuk mengelola tanah ampas (tailing) yang berasal dari kegiatan pengolahan emas. Dalam hal ini, abu batu bara digunakan sebagai pembenah tanah dan sumber beberapa hara mikro. Secara fisik abu batu bara merupakan partikel yang sangat kecil, dengan diameter rata-rata 10 mm dan luas permukaan yang besar. Sifat kimia dan mineralogi abu batu bara bergantung pada komposisi batu bara asal, kondisi selama pembakaran batu bara, penyimpanan dan penanganan abu serta iklim. Secara kimia abu batu bara mengandung unsur Fe, Ca, Al, Si, K dan Mg dengan persentase tinggi, juga mengandung unsur Zn, B, Mn dan Cu dalam jumlah sedang, serta sejumlah kecil unsur C dan N. Unsurunsur tersebut terdapat dalam bentuk silikat, oksida, sulfat dan karbonat. Abu batu bara sendiri dapat bersifat sangat asam (pH 3 4) tetapi pada umumnya bersifat basa (pH 10 12). Secara fisika abu batu bara tersusun dari partikel berukuran silt yang mempunyai karakteristik kapasitas pengikatan air dari sedang sampai tinggi, sifat-sifat pembentuk semen yang dapat menghambat perkembangan akar tanaman (Muhammad, 2004). Berdasarkan sifat-sifat fisika dan kimia abu batu bara tersebut, abu batu bara digunakan untuk memperbaiki tanah asam dan basa serta memperkaya tanah. Dengan ukuran partikel yang kecil, abu batu bara dapat memperbaiki tekstur tanah, meningkatkan porositas dan kapasitas penyimpanan air.

Penambahan abu batu bara meningkatkan pH tanah terutama pada tanah asam daripada tanah yang cenderung basa, karena CO2 bereaksi lebih reaktif dengan CaO menghasilkan CaCO3 sehingga pH tanah cenderung menjadi netral <http:// www.dailynews.lk/2004/02/17/fea09.html>. Pada penelitian ini telah dilakukan percobaan terhadap kemungkinan pemanfaatan abu batu bara sebagai bahan pembenah tanah (soil conditioner). 2. 2.1 BAHAN DAN METODE Bahan dan Peralatan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 2.2 a. Abu batu bara yang berasal dari PLTU Asamasam di Kalimantan Ampas yang berasal dari kegiatan pengolahan tembaga di Timika Bahan organik (kompos) yang diperoleh dari pasaran Penentuan karakteristik contoh abu batu bara dan ampas Analisis kimia contoh abu batu bara Contoh abu batu bara yang berasal dari Asamasam, dianalisis di Laboratorium Pengujian Kimia Mineral dan Laboratorium Pengujian Kimia Lingkungan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu bara (Puslitbang tek MIRA), di Bandung. Pengujian abu batu bara meliputi analisis unsurunsur mayornya (SiO2, Al2O3, Fe2O3, TiO2, K2O, Na2O, P2O5, CaO, MgO, MnO, SO32dan hilang pijar atau loss of ignition/LOI), dan analisis logam-logamnya (Cu, Pb, Zn, Cd, Cr, As dan Hg). Disamping pengujian secara kimia, dilakukan pula analisis mineralogi dengan menggunakan XRD. Analisis kimia contoh ampas Contoh ampas dianalisis di Laboratorium Pengujian Kimia Mineral dan Laboratorium

b.

10

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 9 17

Pengujian Kimia Lingkungan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu bara (Puslitbang tekMIRA), di Bandung. Pengujian terhadap contoh ampas meliputi analisis logam-logamnya (Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, As dan Al), pH, C-organik, N total, P2O5, K2O, perbandingan C dan N, basa yang dapat dipertukarkan (K, Na, Ca, Mg) dan kapasitas tukar kation/KTK atau cation exchange capacity/CEC. c. Percobaan inkubasi ampas sebagai media tanam Pada percobaan ini ampas dan abu batu bara dicampur dengan berbagai perbandingan. Metode percobaan yang digunakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 (tiga) ulangan. Variasi takaran abu batu bara dan yang dicoba dapat dilihat pada Tabel 1. Selanjutnya campuran tersebut ini diinkubasi selama 2, 4 dan 6 minggu dan pada masa tersebut kelembaban media diatur dengan cara penyiraman hingga mencapai kapasitas lapang. Analisis tekstur media tanam dilakukan pada akhir masa inkubasi. Selanjutnya analisis kualitas media tanam hasil inkubasi dilakukan di laboratorium pengujian kimia lingkungan untuk penentuan pH, P2O5 dan analisis logam-logamnya (Fe, Mn). 3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

terlihat bahwa di samping oksida-oksida di atas, abu batu bara juga mengandung beberapa logam berat seperti Pb, Cu dan Zn dan lain-lain dengan konsentrasi yang tidak terlalu tinggi (< 500 ppm). Perbandingan silika dan alumina dalam contoh asal Asam-asam sebesar 3.08 sehingga diperkirakan akan dapat dihasilkan zeolit sintetis dari jenis faujasit atau NaP. 3.2 Karakteristik contoh ampas

Karakterisasi contoh ampas yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis logam-logamnya (Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, As dan Al), pH, C-organik, N total, P2O5, K2O, perbandingan C dan N, basa yang dapat dipertukarkan (K, Na, Ca, Mg) dan kapasitas tukar kationnya (KTK). Hasil dari analisis tersebut ditunjukkan pada Tabel 3. Berdasarkan kriteria penilaian kesuburan tanah, dapat dikatakan bahwa ampas yang digunakan pada percobaan ini secara umum kesuburannya rendah dengan kondisi pH cenderung alkali (> 8). Kandungan P2O5 dan K2O potensial (P2O5 dan K2O dalam HCl 25 %) serta K2O tersedianya (K2O dalam sitrat 2 %) cukup tinggi tetapi P2O5 tersedia rendah. Kandungan P potensial dalam contoh ampas sangat tinggi yaitu 105 mg/100 g tetapi P tersedia (P2O5 Sitrat 2 %) tergolong sangat rendah yaitu 3,3 mg/100 g. Kandungan K potensial (K2O HCl 25 %) dan tersedia (K2O Sitrat 2 %) tergolong tinggi yaitu masing-masing sebesar 247 mg/100 g dan 22,9 mg/100 g. Kation-kation basa yang dapat dipertukarkan (K, Na, Ca dan Mg) juga tergolong tinggi tetapi kation-kation tersebut diperkirakan terdapat dalam bentuk garamgaram bebas yang tidak tersedia bagi tanaman (tidak terikat dalam kompleks jerapan). Hal ini juga ditunjukkan dengan nilai kejenuhan basa yang melampaui 100 % tetapi nilai KTK sangat rendah. Perbandingan C/N ampas berdasarkan kriteria kesuburan tanah tergolong sangat rendah yaitu 3,3. Kandungan bahan organik yang rendah akan mengurangi ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Konsentrasi Fe dan Al dalam ampas relatif cukup tinggi yakni untuk Fe: 1.61 12.78 % dan untuk Al: 2.5 5.0 %. Konsentrasi Mn dalam contoh ampas adalah 0.14 %. Logam Cu, Pb, Zn dan As dalam contoh ampas pada umumnya ada dalam jumlah kelumit ( 100 ppm) kecuali konsentrasi Cu dan Zn yang mencapai nilai 1800 ppm dan 287 ppm.

3.1 Karakteristik abu batu bara Karakterisasi abu batu bara PLTU Asam-asam yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis komposisi oksida-oksida unsur-unsur mayor (SiO2, Al2O3, Fe2O3, TiO2, K2O, Na2O, P2O5, CaO, MgO, MnO, SO32- dan hilang pijar atau loss of ignition/LOI), analisis konsentrasi logam-logam berat (Cu, Pb, Zn, Cd, Cr dan As). Hasil dari analisis tersebut disajikan pada Tabel 2. Komposisi kimia dari contoh abu batu bara yang diteliti terutama berupa silika (SiO2) dan alumina (Al2O3) dengan konsentrasi yang bervariasi masingmasing antara 55.3 59.3 % dan 19.40 30.9 %. Oksida-oksida lain yang terdapat dalam abu batu bara adalah yang mencapai 12.52 %. Oksida-oksida lain yang terdapat dalam abu batu bara adalah oksidaoksida asam seperti SO3 dan P2O5. Pada Tabel 2

Penelitian Abu Batu bara sebagai Pembenah Tanah ... Nia Rosnia Hadijah dan Retno Damayanti

11

Tabel 1.

Takaran pemberian abu batu bara dan pupuk

Contoh A0 A1 A2 A3 A4

Komposisi berat (gram) Ampas 200 225 225 175 175 Abu batu bara 25 25 75 Pupuk 25 25 75 -

Tabel 2.

Hasil analisis komposisi kimia abu batu bara asal PLTU Asam-asam

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Parameter pH SiO2 Al2O3 Fe2O3 TiO2 CaO MgO K2O Na2O MnO SO3 P2O5 LOI Pb Cu Zn Cr As H2O

Satuan

Abu batu bara Asam-asam 7,0 59,3 19,40 12,52 0,98 2,13 2,50 tt 0,16 0,19 0,53 0,104 1,30 19 298 391 224 10 0,033

% % % % % % % % % % % % ppm ppm ppm ppm ppm %

Keterangan: Contoh diperiksa dari bahan kering (105 110 C) kecuali H2O- yang ditentukan dari bahan asal. tt : tidak terdeteksi

3.3

Karakteristik media tanam

Dengan berbagai komposisi media tanam, contohcontoh ampas yang telah dicampur dengan bahan organik dan juga abu terbang diuji melalui percobaan inkubasi. Hasil percobaan inkubasi kemudian dibandingkan dengan kriteria kesuburan tanah dan dievaluasi.

Contoh untuk pengujian sifat kimia media tanam setelah inkubasi ini diperiksa dari bahan kering (105 110 C). Data hasil pengujian sifat kimia media perlakuan adalah sebagai berikut : 3.3.1 Derajat Keasaman Tanah (pH-H2O) Hasil analisis pH-H2O setelah diinkubasi selama 2,

12

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 9 17

Tabel 3.

Hasil analisis ampas dan kompos

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Parameter pH H2O pH KCl C-organik N total Kejenuhan Basa P2O5 (HCl 25%) P2O5 (Sitrat 2%) K2O (HCl 25%) K2O (Sitrat 2%) C/N KTK Kation dapat dipertukarkan K Na Ca Mg Logam-logam Fe Mn Al Cu Pb Zn As

Satuan

Ampas Timika 8,45 8,24 0,33 0,10 4042 105 3,30 247 22,99 3,3 1,15 0,94 0,56 42,06 2,89 12,78 0,14 5,00 1800 18 287 21 Kriteria AA SR R SR ST ST SR ST T SR T S ST T

% % % mg/100 gr mg/100 gr mg/100 gr mg/100 gr mg/100 gr mg/100 gr mg/100 gr mg/100 gr mg/100 gr % % % ppm ppm ppm ppm

Keterangan: Data primer tahun 2004 Contoh diperiksa dari bahan kering (105 110 C) AA: agak alkali SR: sangat rendah S: sedang T : tinggi ST: sangat tinggi

4 dan 6 minggu mengalami perubahan yang secara statistika perubahan itu signifikan pada uji varians. Hasil uji BNJ taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan nyata. pH ampas yang berasal dari Timika bersifat agak alkali (AA) yaitu sebesar 8.45. Pemberian abu terbang pada ampas (tailing) menyebabkan media cenderung menjadi netral. Peningkatan pH tertinggi terjadi pada contoh tailing dengan penambahan abu batu bara sebanyak 75 g (A4) dengan inkubasi selama 6 minggu.

3.3.2 Unsur Mn Mineral Mn dalam tanaman berfungsi dalam fotosintesis, dan memecahkan air. Mn diserap dalam bentuk Mn2+. Kelarutan Mn dikontrol oleh pH tanah, kelarutannya menurun 100 kali jika pH naik 1 unit http://www.tanindo.com/abdi12/ hal1501.htm.>. Hasil uji BNJ taraf nyata a 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan nyata.

Penelitian Abu Batu bara sebagai Pembenah Tanah ... Nia Rosnia Hadijah dan Retno Damayanti

13

Tabel 4.

Uji varians taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95%

JK Fk Jktot Jk kel Jk perl JK g 2,429.84 75.31 0.22 73.20 1.89

db

KT

Fhitung

F tabel

2 14 28

0.11 5.23 0.07

77.26

2.07

A4 A3 C o nto h A2 A1 Ao 4.00 5.00 6.00 7.00 pH-H2O 4 minggu 8.00 9.00

2 minggu

6 minggu

Gambar 1.

Pola perubahan pH-H2O pada tanah ampas (tailing) yang diberi dosis abu batu bara dan kompos dan lama inkubasi yang berbeda

Tabel 5.

Uji varians taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95%

JK Fk Jktot Jk kel Jk perl JK g 2,700.18 352.18 1.20 317.59 33.40

db

KT

Fhitung

F tabel

2 14 28

0.60 22.68 1.19

19.02

2.07

Tabel 6.

Kadar Mn rata-rata pada tanah ampas (tailing) yang diberi dosis abu batu bara dan kompos dan lama inkubasi yang berbeda

Kode contoh Ao A1 A2 A3 A4 Rata-rata

Waktu inkubasi (satuan ppm) 2 minggu 5,28 3,4 4,85 4,05 3,1 4,14 4 minggu 10,52 9,11 10,33 9,05 10,34 9,87 6 minggu 8,67 9,75 9,49 9,79 8,47 9,23

Rata-rata 8,16 7,42 8,22 7,63 7,3

14

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 9 17

Kadar Mn rata-rata pada inkubasi 2 minggu adalah 4,14 ppm (99,7%) dan pada masa inkubasi 4 minggu adalah 9,87 (99,3%) ppm, sedangkan pada inkubasi 6 minggu 9,23 (99,34%). Ini membuktikan lamanya inkubasi berpengaruh terhadap kadar Mn dalam tanah yang secara statistika pengaruhnya signifikan. Dari Tabel 6 terlihat bahwa kadar Mn rata-rata yang terendah terdapat pada A4, yaitu media tanam dengan komposis ampas dan abu batu bara (175:75), sehingga abu batu bara cukup efekktif sebagai pembenah tanah. 3.3.3 Unsur Fe Unsur Fe diserap akar dalam bentuk Fe 2+ atau Fe3+, umumnya Fe3+direduksi menjadi Fe2+ sebelum penyerapan. Kelarutan mineral Fe dalam tanah sangat rendah, mineral amorf Fe(OH)3 mengatur kadar Fe dalam larutan tanah. Pada tanah dengan drainase baik, kondisinya teroksidasi kadar Fe3+ lebih besar daripada Fe 2+. Sebaliknya pada tanah jenuh air Fe3+ mengalami reduksi menjadi Fe 2+. Kelarutannya juga berkurang 1000 kali lipat pada tanah dengan pH tinggi. Hasil uji BNJ taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan nyata.

Kadar Fe dalam tanah ampas (tailing) berdasarkan hasil analisis adalah 127.800 ppm. Kadar Fe ratarata setelah inkubasi 2 minggu adalah 323,85 ppm, pada inkubasi 4 minggu, yaitu sebesar 799,8 ppm, sedangkan Fe rata-rata pada inkubasi 6 minggu adalah 591,55 ppm. Persen penurunan Fe dengan masa inkubasi 2, 4 dan 6 masing-masing sebesar 99,75 %, 99,54% dan 99,37%. Dari Tabel 8 terlihat bahwa kadar Fe rata-rata yang terendah terdapat pada A4, yaitu media tanam dengan komposisi ampas dan abu batu bara (175:75), sehingga abu batu bara cukup efekktif sebagai pembenah tanah. 3.3.4 P-total dan P-tersedia Hasil analisis P-total (P dalam HCl 25%) dan Ptersedia setelah 2, 4 dan 6 minggu diinkubasi mengalami perubahan. P-total dalam ampas adalah 105 mg/100g, peningkatan P total setelah inkubasi berkisar 62,84 129,89 mg/100g, kenaikan tertinggi terjadi pada inkubasi 2 minggu, pada contoh A3. Hasil uji BNJ taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan nyata. P-tersedia (P dalam sitrat 2%) dalam ampas adalah

Tabel 7.

Uji varians taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95%

JK Fk Jktot Jk kel Jk perl JK g 14,709,715.29 2,923,513.46 35,589.21 2,325,260.20 562,664.05

db

KT

F hitung

F tabel

2 14 28

17,794,61 166,090,01 20,095.14

8.27

2.07

Tabel 8.

KadarFe rata-rata pada tanah ampas (tailing) yang diberi dosis abu batu bara dan kompos dan lama inkubasi yang berbeda

Kode contoh Ao A1 A2 A3 A4 Rata-rata

Waktu inkubasi (satuan ppm) 2 minggu 527,99 338,98 361,71 372,40 18,18 323,85 4 minggu 860,12 790,02 787,10 746,35 815,43 799,80 6 minggu 690,32 686,19 429,92 489,91 681,43 591,55

Rata-rata 686,14 605,06 526,24 536,22 505,01

Penelitian Abu Batu bara sebagai Pembenah Tanah ... Nia Rosnia Hadijah dan Retno Damayanti

15

Tabel 9.

Uji varians taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95%

JK Fk Jktot Jk kel Jk perl JK g 1,833,124.61 930,116.74 4,248.06 899,422.67 26,446.00

db

KT

Fhitung

F tabel

2 14 28

2,124.03 64,244.48 944.50

68.02

2.07

Tabel 10. Kadar P-total rata-rata (P dalam HCI 25%) pada tanah ampas (tailing) yang diberi dosis abu batu bara dan kompos dan lama inkubasi yang berbeda

Kode contoh Ao A1 A2 A3 A4 Rata-rata

Waktu inkubasi (satuan ppm) 2 minggu 164,99 182,65 91,197 340,93 59,41 167,835 4 minggu 206,6 221,6 102,2 393,4 89,6 202,68 6 minggu 187,8 183,3 95,068 607,4 100,9 234,8936

Rata-rata 186,46 195,85 96,16 447,24 83,30

Tabel 11.

Uji varians taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95%

JK Fk Jktot Jk kel Jk perl JK g 139,539.65 264,483.90 1,171.00 255,473.70 7,839.19

db

KT

Fhitung

F tabel

2 14 28

585.80 82,248.12 279.97

65.18

2.07

Tabel 12. Kadar P-total rata-rata (P dalam sitrat) pada tanah ampas (tailing) yang diberi dosis abu batu bara dan kompos dan lama inkubasi yang berbeda

Kode contoh Ao A1 A2 A3 A4 Rata-rata

Waktu inkubasi (satuan ppm) 2 minggu 58,4 59,2 3,8 239,5 6,2 73,42 4 minggu 28,76 24,9 2,97 233,7 4,9 59,046 6 minggu 69,1 78 2,33 18,1 4,93 34,492

Rata-rata 52,09 54,03 3,03 163,77 83,30

16

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 9 17

3,3 mg/100g. Peningkatan P-tersedia berkisar antara 31,19 70,12 mg/100g. Dengan nilai tertinggi terjadi waktu inkubasi 2 minggu, pada contoh A3. Ini membuktikan bahwa P-total maupun P-tersedia meningkat dengan adanya kompos atau zat organik, karena ketersediaan hara organik dalam tanah ikut menstimulasi aktifnya mikroorganisme dalam tanah. Hasil uji BNJ taraf nyata 5 % atau pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan nyata. 4. 1. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil perhitungan secara statistika pada uji varians dapat dikatakan berbeda nyata, menunjukkan bahwa lama masa inkubasi berpengaruh terhadap parameter pH, unsur Mn, Fe, P-total dan P-tersedia. Penambahan abu batu bara menyebabkan pH ampas (tailing) berubah dari agak alkali menjadi netral. Terjadi penurunan Mn dan Fe, rata-rata penurunan Mn terbesar 4,14 ppm (99,7%) terjadi pada ikubasi 2 minggu, dan rata-rata penurunan Fe terbesar 323,85 ppm (99,75%) terjadi pada ikubasi 2 minggu. Kenaikan P-total dalam tanah berkisar 62,84 129,89 mg/100g sedangkan P-tersedia adalah 31,19 70,12 mg/ 100g. Kenaikan P-total dan P-tersedia tertinggi

terjadi pada waktu inkubasi 2 minggu dan perlakuan penambahan kompos sebanyak 30%. 3. Penambahan abu batu bara signifikan terhadap perubahan parameter Fe dan Mn, tetapi peningkatan P-total dan P-tersedia hanya terjadi pada perlakuan penambahan kompos.

Pada penelitian selanjutnya perlu diukur kadar ion logam yang terlindi setelah inkubasi, dengan melakukan analisis ion logam dari abu batu bara dan ampas. DAFTAR PUSTAKA Muhammad, B.C. 2004, Aplikasi Indeks Biokimia Dalam Penentuan Karakteristik dan Kesuburan Tanah yang Diberi Bahan Organik Terinkubasi, J. Agroland 11(1): 65 - 72. V. Thivahary, 2004, Fly ash- A potentialsoil amendment for increasing corp yields, 7 Januari 2005, <http://www.dailynews.lk/2004/02/17/ fea09.html.> Anonim 2005, Pentingnya Menjaga Keseimbangan Unsur hara makro dan Mikro untuk tanaman, 3 Februari, <http://www.tanindo.com/abdi12/ hal.1501.htm.>

2.

Penelitian Abu Batu bara sebagai Pembenah Tanah ... Nia Rosnia Hadijah dan Retno Damayanti

17

PENELITIAN PEMISAHAN DAN EKSTRAKSI ZIRKONHAFNIUM DARI TAILING PENCUCIAN TIMAH BANGKA

SUPRIYONO HS, RACHMAT YUSUF, DEDEN AMIRUDDIN, WAWAN PURNAWAN, MUTAQIN DAN WAHYU AGUS S. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211, Telp. (022) 6030483, Fax. (022) 6003373 SARI Limbah dari pengolahan bijih timah milik PT. Timah dan PT. Kobatin, Bangka, banyak mengandung beberapa mineral berharga diantaranya adalah mineral zirkon, ZrSiO4. Logam zirkonium yang berasal dari mineral zirkon banyak digunakan sebagai bahan anti korosi dan penahan panas (refractory), dan bahan pada industri keramik halus. Sampel dari limbah pengolah bijih timah, diambil dari PT. Timah dan PT. Kobatin, telah berhasil ditingkatkan kadar zirkon dari 18,30% (bahan asal) hingga mencapai 94,76%. Hasil ini diperoleh dengan cara peningkatan kadar dengan pemisah magnetik (magnetic separator) yang dilanjutkan cara kimiawi melalui proses peleburan dengan Na2O2 dan pelindian dengan HCl pekat. Produk yang dihasilkan merupakan ZrO2 yang masih bercampur dengan hafnium dengan kadar ZrO2 94,76%. ABSTRACT The tin ore processing waste at PT. Kobatin and PT. Timah (Persero), contains valuable minerals, such as zircon, ZrSiO4. The zirconium metal that can be separated from zircon mineral has many applications, as anti corrosion, refractories and also used in fine ceramic industry. The sampel in this research was taken from PT. Timah and PT. Kobatin and the zircon was concentrated from 18,30% to 94,76%. Magnetic separator was used to separate zircon from the impurities, and followed by fusing the zircon with sodium peroxide and then leached with concentrated hydrochloric acid. The final separation to obtain hafnium (Hf) from zircon is still in progress. Keywords : tin ore processing waste, zircon, hafnium, extraction, separation, waste processing

1.

PENDAHULUAN

Penampilan suatu bahan atau material, dipengaruhi oleh komposisi unsur - unsur pembentuknya. Penambahan sedikit unsur logam jarang ke dalam suatu bahan dapat memberikan karakteristik yang khas terhadap bahan itu, misalnya menjadi kuat, tahan terhadap korosi, keras dan mengkilap ataupun kombinasi dari sifat-sifat tersebut. Begitu juga sifatsifat yang dimiliki oleh zirkonium dan hafnium, dua unsur yang selalu berasosiasi di alam. (Faith, 1965). Mineral zirkon (ZrO2.SiO2) banyak dikandung dalam tailing pengolahan bijih timah dan ditemukan

bersama-sama dengan xenotim dan monasit (Ce,La,Nd,Th)PO4 yang merupakan bagian dari pemisahan senyawa yang non-konduktor dan nonmagnetik. Zirkonia adalah bentuk antara sebelum menjadi logam zirkonium melalui jalur pelindian agitasi dengan media pelarut HCl. Zirkonium (Zr) dan Hafnium (Hf) masing-masing bernomor atom 40 dan 72, keduanya berada dalam golongan yang sama pada tabel periodik unsur kimia yaitu pada golongan IV B sehingga mempunyai banyak kemiripan dalam sifat kimianya. Kedua unsur ini selalu berasosiasi di alam yang secara empiris mempunyai perbandingan 10:1. Karena sifat kimia

18

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 18 26

yang berdekatan, ekstraksi Zr dan Hf hanya dapat dilakukan melalui cara kimiawi (ekstraksi pelarut). Mineral zirkon (umumnya 65-66% ZrO2 + HfO2) terdapat bersama-sama dengan rutil dan ilmenit pada pasir pantai, diolah melalui tiga tahap yang meliputi penambangan dengan pengerukan (dredging) atau scraping, konsentrasi basah (wet concentration) dengan proses gravitasi, kemudian dilakukan pemisahan kering (dry separation) dengan proses pemisahan magnetik dan elektrostatik. (Sukmadijaya, 2000). Zirkon digunakan dalam bentuk butiran pasir, bentuk gilingan (-200 mesh atau 300 mesh) dan tepung (1,5 atau 10 mikron), digunakan terutama pada alat refractor, keramik dan paduan logam. Penggunaan zirkonium pada paduan logam akan memberikan sifat tahan korosi sehingga banyak digunakan untuk keperluan pabrik pengolahan kimia dan pesawat terbang. Jika unsur hafnium dapat dipisahkan, maka zirkonium dapat digunakan pada peralatan reaktor nuklir. (Lynd and Lefond, 1975). Guna memperoleh unsur zirkonium (Zr) dan hafnium (Hf) dari mineral zirkon dapat dilakukan dengan cara pirometalurgi maupun hidrometalurgi. Dalam dunia industri, proses Kroll telah dikenal sejak lama. Selain itu telah dikenal juga proses ekstraksi mineral zirkon melalui cara pelindian dengan asam kuat, HCl. Proses ekstraksi mineral zirkon melalui jalur pelindian dengan media pelarut HCl dilakukan setelah ikatan zirkonium dengan senyawa silikat dilepaskan karena mineral zirkon tidak dengan mudah terdekomposisi atau terurai secara langsung oleh HCl. Pemisahan ini dapat dilakukan dengan penambahan Na 2 O 2 sehingga akan terbentuk senyawa sodium zirkonat dan sodium silikat. Terhadap zirkonat ini kemudian dilakukan pelindian dengan HCl. Walaupun demikian, jika dilihat dari diagram Eh-pH pada range tertentu, silikat (SiO2) tidak larut dalam HCl, sedangkan zirkonium larut sebagai ZrO2+ dan Zr4+ dan hafnium larut pula sebagai HfO2+ dan Hf4+ sehingga kemungkinan mineral zirkon langsung dilindi dengan HCl tetap dapat berlangsung. Kegiatan penelitian ini lebih menitikberatkan pada pemanfaatan tailing pengolahan bijih timah, Bangka khususnya yang berasal dari PT. Kobatin dan PT. Timah (Persero). Dengan menggunakan metoda grab sampling , sampel asal diambil dari lokasi penimbunan tailing, lalu dilakukan preparasi lanjutan di Lab. Kimia tekMIRA dan selanjutnya dilakukan

uji karakterisasi, peningkatan kadar (beneficiation) dan percobaan peleburan serta ekstraksi. Tujuan dari penelitian ini adalah pemisahan dan ekstraksi Zr-Hf dari mineral zirkon dengan pengamatan kondisi dan peubah yang mempengaruhi pelindian mineral zirkon dengan media pelindi HCI. Fokusnya adalah meningkatkan kadar zirkon dari sampel yang ada, kemudian pemisahan zirkon terhadap senyawa pengotor termasuk hafnium sebagai logam ikutan sehingga diperoleh zirkon yang lebih murni. 2. 2.1 METODE PENELITIAN Bahan yang digunakan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ialah sampel zirkon yang berasal dari PT. Timah dan PT. Kobatin. Semua reagen dipakai dalam asam khlorida p.a (pro analyses) untuk pelindian, asam mandelat untuk penetapan zirkon dan natrium peroksida yang dipakai sebagai bahan pelebur. Peralatan yang digunakan adalah pemisah magnetik untuk pemisahan pengotor yang bersifat magnet, XRD untuk penentuan struktur kristal mineral, SEM dan AAS digunakan untuk analisis kimiawi dan alat mikroskopi digunakan untuk analisis mineralogi. 2.2 Prosedur Percobaan Dilakukan preparasi terhadap sampel tailing pengolahan bijih timah dengan menggiling halus dalam ball mill. Seluruh ukuran sampel diratakan dan diayak menggunakan ukuran 200 mesh hingga homogen. Dilakukan pemisahan secara fisika menggunakan magnetic separator dan HTS (High Tension Separator) untuk melepaskan senyawa/mineral pengganggu yang bersifat magnetik, (zirkon tergolong mineral yang bersifat non konduktor dan non magnetik). Hasil pemisahan secara fisik dilanjutkan dengan proses kimia melalui peleburan dengan Na2O2 dan proses pelindian dengan HCl untuk memisahkan bagian zirkonat dan silikat. Dilakukan pencucian dan kalsinasi sehingga dihasilkan ZrO2 sebagai hasil akhir dari penelitian tahap ini.

Penelitian Pemisahan dan Ekstraksi Zirkon-Hafnium dari Tailing Pencucian ... Supriyono HS, dkk

19

2.2.1 Penetapan ZrO2 Cara Peleburan dengan Na2O2 Prosedur : 1. Ditimbang 0,2 gram sampel zirkon (kadar di atas 70%) + 2 gram Na2O2 dalam cawan nikel/ 2. Dilebur di atas nyala mekker ( 500 0C) selama 30 menit 3. Setelah terjadi lelehan, diamkan sambil digoyang-goyang 20-25 menit 4. Diangkat, dinginkan kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass 250 ml yang berisi 100 ml H2O 5. Setelah terlindi dengan sempurna, ditambahkan 25 30 ml HCl p.a, dipanaskan di atas hot plate sampai larut 6. Dinginkan, lalu ditambahkan larutan NH4OH sampai terjadi endapan putih dari campuran Si(OH) 4 dan Zr(OH) 4 7. Disaring dan diambil residu dan dicuci dengan H2O panas ( 600C) 10 kali. Disemprotkan air di atas kertas saring langsung ditampung di dalam beaker glass (hati-hati jangan sampai kertas saring rusak). Lalu ditambahkan 100 ml air. 8. Ditambahkan 5 ml H2SO4 1 : 1. Lalu dipanaskan dan diuapkan larutan sampai keluar asap putih (SO2) sampai terbentuk pasta. 9. Ditambahkan lagi 15 ml HCl pekat, dipanaskan sampai garam-garam zirkonat terlarut sempurna, hal ini akan terjadi dua fraksi : Residu sebagai SiO2 Larutan sebagai ZrOCl2 dan ZrCl4 10. Disaring, dan diambil filtrat, lalu dipanaskan dan ditetapkan sebagai garam zirkonat dari asam mandalat dengan menambahkan 16% asam mandalat sebanyak 50 ml. Residu ditetapkan sebagai SiO2 total 2.2.2 Percobaan Peleburan Zirkon Zirkon yang dilebur dengan natrium peroksida pada suhu 600 0 C selama 45 menit setelah dingin kemudian dilindi dengan air. Setelah penyaringan residu dilakukan pelindian langsung dengan asam klorida pekat dan ditambah sedikit dengan asam sulfat 1 M untuk menghilangkan pengaruh silika bebas. Proses ini berlangsung selama 4 hari agar terjadi kontak pelindian antara sampel dengan asam kuat. (Mohammad and Daher, 2002). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : ZrSiO4 + 4Na2O2 Na2ZrO3 + Na2SO3

sedangkan natrium zirkonat dihidrolisis menjadi zirkon hidrat dengan reaksi sebagai berikut : Na2ZrO3 + nH2O ZrO2 (n-1)H2O + 2NaOH

Percobaan ini dilakukan terhadap sampel zirkon asal PT. Kobatin hasil dari pemisahan bertingkat. Hal yang sama dilakukan terhadap sampel asal PT. Timah Bangka. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2 berikut ini. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis terhadap bahan asal (tailing dari PT. Kobatin) dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari pasir zirkon sehingga dapat ditentukan metoda pengolahan yang tepat. 3.1 Hasil Analisis Kimia Bahan Baku

Analisis kimia dilakukan dengan cara gravimetri, sprektrofotometri dan AAS terhadap bahan asal. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3. 3.2 Hasil Analisis Difraksi Sinar-X Bahan Baku

Terhadap bahan asal juga dilakukan analisis dengan alat difraksi sinar-X (XRD). Terlihat bahwa 3 komponen utama yang dominan adalah kuarsa, zirkon dan monasit. 3.3 Hasil Analisis SEM Bahan Baku

Hasil analisis menggunakan SEM pada bahan asal menunjukkan terdapat tampilan coklat kemerahan dan hitam. Deteksi dengan SEM dan EDS (dengan perbesaran 450 x ) menunjukkan bahwa partikel yang hitam adalah rutil, sedangkan yang transparan dan berwarna merah kecoklatan adalah zirkon. Tampak kristal zirkon bentuknya tetragonal. Beberapa pengotor yang terdekteksi adalah Mg, Ti, Mn, Fe, Al, Cr, Be, dan U. Di antara kedelapan unsur pengotor tersebut yang paling dominan adalah Be (97,02%). Kehadiran unsur-unsur pengotor berpengaruh terhadap kuantitas zirkon. Partikel zirkon yang di mapping terdapat unsur Zr hanya 21,14% sedangkan dalam bentuk oksida hanya 28,55%. 3.4 Hasil Analisis Mineralogi Bahan Baku

Selama pelindian natrium silikat dapat dipisahkan

Analisis mikroskopi terhadap bahan asal memperlihatkan bahwa kuarsa adalah mineral yang dominan sedangkan kandungan zirkon hanya sekitar seperlimanya dengan beberapa pengotor diantaranya

20

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 18 26

Tailing Pengolahan Bijih Timah, Bangka

Preparasi

Magnetik Separator Mineral Zirkon Peleburan

Bijih magnet (Monasit & Xenotim)

Na2O2

Pelindian dengan Air

Sodium Zirkonat

Na2SiO3

Pelindian dengan HCl

ZrOCl2 HfOCl2

NaCl

Gambar 1. Bagan alir pengolahan mineral zirkon-hafnium

Tabel 1.

Hasil analisis kimia proses peleburan

No 1 2

Asal sampel PT. Timah (Konsentrat) PT. Kobatin

Hasil (%) ZrO2 26,15 25,25 52,20 52,50 SiO2 18,35 20,50 32,85 32,80

Tabel 2.

Hasil analisis SEM proses peleburan

No 1 2

Asal sampel PT. Timah (Konsentrat) PT. Kobatin

ZrO2 94,76 78,15

Hasil (%) SnO2 0 21,85

Al2O3 5,24 0

Penelitian Pemisahan dan Ekstraksi Zirkon-Hafnium dari Tailing Pencucian ... Supriyono HS, dkk

21

ilmenit, kasiterit, monasit/xenotim, dan pirit. Komposisi mineral-mineral pada sampel bahan asal dapat dilihat pada fomikrograf, Gambar 2 dan 3 berikut ini. Setelah dilakukan peningkatan kadar zirkon dengan menggunakan pemisah magnetik (magnetic separator) dengan meningkatkan perbesaran nilai gauss (kekuatan magnet) di atas 10 ribu gauss, diperoleh dua bagian hasil yang disebut sebagai Magnetik (M1) dan Non Magnetik (NM-1). Hal ini dilakukan untuk memisahkan bagian yang lebih bersifat magnet (diantaranya mineral ilmenit, monasit/xenotim dan pirit) dan non-magnetik. Adapun bagian yang menjadi obyek penelitian ialah zirkon, masuk ke dalam katagori non-magnetik dan non-konduktor, sehingga proses pemisahan dilanjutkan dengan menggunakan alat HTS (High Tension Separator).

Terhadap sampel K-1 dan T-1 dilakukan analisis seperti dilakukan terhadap bahan asal. 3.5 Analisis Kimia Hasil Pemisahan Magnetik

Analisis kimia pada bahan yang telah dilakukan pemisahan magnetik, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4, dalam bentuk presen-berat. 3.6 Analisis Difraksi Sinar-X (XRD) Hasil Pemisahan Magnetik

Analisis menggunakan alat XRD terhadap sampel M-1 dan NM-1 memperlihatkan bahwa telah terjadi pemisahan yang relatif baik, karena pada sampel M1 (KS) terdapat mineral zirkon, kuarsa dan masih ada monasit. Pada sampel NM-1 (TL) hanya tinggal 2 mineral dominan yaitu kuarsa dan zirkon. Hasil

Tabel 3. Hasil analisis kimia bahan asal

SiO2 66,55

Al2O3 1,86

Fe2O3 2,25

TiO2 2,33

CaO 0,17

MgO 0,096

K2O 0,044

Na2O 0,14

SnO 0,62

ZrO2 18,3

LOI 7,64

Gambar 2.

Fotomikrograf sayatan poles sampel pasir zirkon (konsentrat). Tampak mineral zirkon (Z) dan kuarsa (K).Nikol Sejajar 142X

Gambar 3.

Fotomikrograf sayatan poles sampel pasir zirkon (tailing). Tampak mineral zirkon (Z), kuarsa (K), xenotime-monasit (XM) dan limonit (L). Nikol Sejajar 71X

Tabel 4. Analisis kimia hasil pemisahan magnetik

Kode M-1 NM-1

SiO2 7,55 59,5

Al2O3 2,34 1,41

Fe2O3 3,57 0,63

TiO2 2,10 0,66

CaO 0,16 0,26

MgO 0,093 0,10

K2O tt 0,04

Na2O 0,11 0,17

SnO 0,37 0,80

ZrO2 2,00 21,2

LOI 0,72 0,46

22

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 18 26

selengkapnya dapat dilihat pada difraktogram XRD Gambar 4 dan 5. 3.7 Analisis SEM Hasil Pemisahan Magnetik

perbesaran 10.000 x partikel zirkon coklat kemerahan memperlihatkan topografi yang tidak rata menampilkan rona abu-abu dan putih. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 6, 7 dan 8. 3.8 Analisis Mineralogi Hasil Pemisahan Magnetik

Analisis terhadap hasil pengkayaan kadar dengan pemisah magnetik dan HTS, dilakukan pada sampel yang kandungan zirkonnya lebih besar, yaitu sampel NM-1. Pada perbesaran 800x untuk zirkon transparan menunjukkan sistem kristal tetragonal yang telah mengalami perubahan permukaan yang mungkin karena pengaruh erosi, transportasi dan sedimentasi yang berlangsung bertahun-tahun. Hal yang sama terjadi pada permukaan zirkon coklat kemerahan yang dideteksi pada perbesaran 170 x. Pada

Analisis mikroskopi dilakukan terhadap sampel magnetik maupun non magnetik yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5. Untuk proses peleburan (dengan Na 2O2) perlu ditingkatkan hasilnya hingga minimal mencapai 60%. Oleh karena itu, sampel NM-1 ditingkatkan

Sample ident. : KS/1666/04 [%] 100 64 36 16 4 0 090904AZ 06 - 0266 05 - 0490 35 - 0731 0 10 20 30 ZrSiO 4 SiO 2 LaPO 4 40

9-Sep-2004 10:16

50

[20]

60

Zircon Quartz, low Monazite - (La), syn

Gambar 4. Hasil difraktogram sampel konsentrat asal PT. Kobatin, Bangka

Sample ident. : II/1665/04 [%] 100 64 36 16 4 0 090904A1 05 - 0490 06 - 0266 0 Quartz, low Zircon 10 20 30 S iO 2 ZrS iO 4 40

14 Sep-2004 10:03

50

[20]

60

Gambar 5. Hasil difraktogram sampel tailing asal PT. Kobatin, Bangka

Penelitian Pemisahan dan Ekstraksi Zirkon-Hafnium dari Tailing Pencucian ... Supriyono HS, dkk

23

Gambar 6.

Jenis zirkon coklat kemerahan dengan perbesaran 170x menggunakan SEM

Gambar 7.

Jenis zirkon transparan (colorless) dengan perbesaran 800x menggunakan SEM

2 sampel yang selanjutnya diberi kode K-2 (konsentrat zirkon) dan TL-2 (tailing yang banyak mengandung silika bebas). 3.9 Analisis SEM Hasil Pemisahan Magnetik Bertingkat

Gambar 8.

Jenis zirkon coklat kemerahan dengan pembesaran 10.000x

kadar zirkonnya dengan menggunakan meja goyang untuk memisahkan silika bebas yang masih ada dalam sampel tersebut. Perbedaan spesifik graviti antara silika dan zirkon (4,7) cukup besar sehingga diharapkan prosentase zirkon bisa meningkat. Hasil dari pemisahan ini didapatkan

Analisis terhadap sampel KS-2 adalah sebagai berikut: Partikel yang dideteksi adalah zirkon jenis transparan berukuran sekitar 0,4 mm masih memperlihatkan struktur kristal tetragonal yang baik. Ada dua unsur yang dominan dalam partikel tersebut yaitu zirkon dan silikon; hanya dibandingkan silikon, zirkon terlihat mempunyai kuantitas lebih banyak (52,30%) yang ditunjukkan pula oleh gradasi warna pada permukaan partikel tersebut. Selain kedua unsur di atas, terdeteksi pula oksigen. Puncak pada kurva spektrum yang tidak ada notasinya adalah karbon yang berasal dari carbon tape sebagai perekat partikel. 3.10 Analisis Mineralogi Benefisiasi Bertingkat Analisis mineralogi juga dilakukan terhadap sampel KS-2 dan TL-2 guna mengetahui meningkatnya prosentase zirkon dalam sampel tersebut. Hasil analisis mineraloginya dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 5. Analisis mikroskopi hasil pemisahan magnetik

Kode NM-1 M-1

Zirkon 20,61 20,51

Kuarsa 35,16 15,05

Monasit/xenotim 34,30 59,69

Kasiterit 2,61 1,62

Limonit 6,78 1,96

Pirit 0,54 1,17

24

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 18 26

Tabel 6. Hasil analisis mineralogi pemisahan magnetik bertingkat

Kode TL-2 KS-2

Zirkon 35,30 78,89

Kuarsa 49,29 12,95

Kasiterit 13,54 4,84

Monasit/xenotim 1,87 1,55

Ilmenit 1,08

Pirit 0,69

Gambar 9.

Fotomikrograft sayatan poles sampel pasir zirkon (magnetik). Tampak mineral kuarsa bebas (K) mendominasi. Nikol Sejajar 8X

Gambar 10. Fotomikrograft sayatan poles sampel pasir zirkon (non-magnetik). Tampak mineral kuarsa bebas (K) dan zirkon (Z). Nikol Sejajar 8X

4. 4.1

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN -

penanganan yang lebih tepat guna mendapatkan kadar zirkon yang lebih tinggi. Peleburan dengan menggunakan Na-peroksida dapat menghasilkan zirkon yang lebih bersih dibandingkan dengan menggunakan NaOH granular, seperti yang pernah dilakukan penelitian sebelumnya. Kadar zirkon yang dapat dicapai dari proses peleburan menggunakan Na peroksida adalah 94,76%. Peningkatan kadar ini signifikan mengingat bahan bakunya hanya mengandung zirkon 18,30%.

Berdasarkan hasil yang telah dicapai pada seluruh proses penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa: Pasir zirkon yang berasal dari tailing pencucian timah, Bangka masih banyak mengandung mineral ikutan yang perlu dipisahkan dengan cara fisik (magnetic separator). Mineral ikutan tersebut antara lain, ilmenit, monasit/xenotim dan kuarsa bebas, perlu

Penelitian Pemisahan dan Ekstraksi Zirkon-Hafnium dari Tailing Pencucian ... Supriyono HS, dkk

25

DAFTAR PUSTAKA Faith, W.L. 1965, Industrial Chemical, 3th edition, John Willey and Sons, New York. Lynd, L.E. and Lefond, S.J. 1975, Industrial Mineral and Rock, 4th edition, New York.

Mohammed, N.A. and A.M. Daher, 2002, Preparation of High-Purity Zirconia from Egyptian Zircon : an Anion-exchange Purification Process, Hydrometallurgy, Elsevier, hal. 1 - 6. Sukmadijaya, R.H.,S, 2000, Optimalisasi Pelindian Ilmenit dari Pasir Besi Cilacap untuk Mendapatkan TiO2 dengan Media Pelarut H2SO4, PPTM-FTUI, hal. 25 - 28.

26

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 18 26

TRANSFORMASI PEKERJA SEKTOR PERTAMBANGAN SECARA SEKTORAL STUDI KASUS : TENAGA KERJA UNIT BISNIS PERTAMBANGAN (UBP) BAUKSIT KIJANG (PT. ANTAM Tbk.)

BAMBANG YUNIANTO DAN BINARKO SANTOSO Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211, Telp. (022) 60304853, Fax. (022) 6003373 e-mail: yunianto@tekmira.esdm.go.id SARI Proses transformasi pekerja sektoral dipengaruhi oleh pertumbuhan sektor-sektor perekonomian dan karakteristik tenaga kerja sektor tersebut. Kegiatan pertambangan yang memasuki masa pascatambang, akan ditunjukkan oleh penurunan produksi, lalu tanpa produksi sama sekali. Sementara itu, banyak tenaga kerja yang akan menganggur, atau mengalami transformasi pekerja ke sektor lainnya. Pola alih kerja dalam kasus pascatambang UBP Bauksit Kijang (PT. Antam Tbk.) cenderung ke arah bidang wiraswasta (Sektor Jasa dan Perdagangan) sebesar 55,1% dan Sektor Industri (30,6%). Pergeseran pekerja ke Sektor Jasa dan Perdagangan dipengaruhi oleh peranan sektor ini yang memiliki kontribusi terbesar di Kabupaten Kepulauan Riau, sedangkan pergeseran pekerja ke Sektor Industri didasari oleh keterkaitan secara keahlian yang memiliki kesamaan teknologi dengan Sektor Pertambangan. Latar belakang proses transformasi pekerja tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial ekonomi, sosial spasial, dan persepsi mereka terhadap sektor non-tambang, tetapi dipengaruhi oleh kebutuhan akan modal, pendidikan, peralatan, dan lainnya untuk alih kerja. ABSTRACT The transformation process of sectoral worker is influenced by the growth of economic sectors and characteristic of the sectoral worker. Mining activity at post-mining period, will be indicated by product declining, and followed gradually by zero production. Many workers will have no opportunity, or in condition of being transformed to other sectors. A model of job transfer at post-mining of UBP Bauksit Kijang (PT. Antam Tbk.) indicates the percentage of enterpreneur activity (Service and Trading Sectors) amounting 55,1% and Industry Sector 30,6%. Worker transfer to Service and Trading Sectors is affected by the role of those sectors that have a great contribution in Kepulauan Riau regency, meanwhile the worker transfer to Industry Sector is caused by an interrelated skill which has similar tecnology with the Mining Sector. The causal factors of worker transformation to non-mining sectors are not affected by social-economy, social-spatial and their perception factors, but are affected by the need of financial capital, education, infrastructure and others. Keywords : worker transformation, post mining, non-mining sector

Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ... Bambang Yunianto dan Binarko Santoso

27

1. 1.1

PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

variabel terhadap variabel lainnya, baik pengaruh langsung maupun tidak langsung (Hair, 1992). Besarnya pengaruh suatu variabel penyebab terhadap variabel akibat disebut dengan koefisien jalur dan diberi simbol pYX . Dalam kajian ini akan dilihat pola alih kerja dan latar belakang proses transformasi tenaga kerja di lingkungan UBP Bauksit Kijang dalam menghadapi masa penutupan tambang, dengan beberapa variabel penelitian: SES (Status Sosial Ekonomi), SPA (Kondisi Sosial Spasial), PER (Persepsi Masyarakat), KEB (Kebutuhan Masyarakat) dan AKS (Akseptabilitas Transformasi Struktural Pascatambang). Sementara itu rumusan konseptual mengenai kondisi tenaga kerja dalam masa menghadapi pascatambang adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Antara SES dengan SPA membentuk suatu hubungan korelatif. SES dan SPA sama-sama memberikan pengaruh terhadap PER dan AKS. SES, SPA dan PER secara bersama-sama mempengaruhi KEB. SES dengan SPA, dan PER dan KEB secara bersama-sama mempengaruhi AKS. KONDISI WILAYAH Lokasi Studi dan Kewilayahan

Transformasi pekerja secara sektoral dipengaruhi oleh pertumbuhan sektor-sektor perekonomian dan karakteristik tenaga kerja tiap sektor tersebut, yaitu: tingkat pendidikan (keahlian), produktifitas dan kondisi sosial-demografisnya (Sigit, 1989). Sektorsektor yang tidak membutuhkan keahlian, biasanya menjadi tempat penampungan penganggur dan tenaga kerja tidak terdidik, seperti pertanian, perikanan, perkebunan, transportasi, jasa serta perdagangan. Tetapi, akibat terjadi pergeseran peranan sektoral akan diikuti oleh perubahan kemampuan dalam penyerapan tenaga kerja, seperti penurunan sektor agraris ke arah non agraris diikuti oleh membengkaknya pekerja di sektor non-formal (Rachbini, 1989). Dalam kajian ini akan dicoba membahas pola alih kerja dan proses transformasi tenaga kerja pertambangan pada saat terjadi penutupan tambang. Kajian ini mengambil contoh kasus pergeseran kerja secara sektoral yang terjadi pada tenaga kerja Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Bauksit Kijang pada saat akan memasuki masa penutupan tambang. Sektor pertambangan merupakan sektor yang membutuhkan tenaga kerja terdidik dan memiliki keahlian khusus dalam bidang pertambangan. Bagaimana pola transformasi pekerjanya terjadi dan latar belakang apa saja yang mendasari pola alih kerja dari sektor tambang ke sektor lainnya? Apakah keahlian di sektor pertambangan dapat dijadikan bekal untuk alih kerja ke sektor non-tambang, ataukah tidak? Sementara itu, Propinsi Riau merupakan daerah yang penuh dengan hasil tambang (Purnama, dkk., 2000), apakah hal ini akan mempengaruhi pergeseran alih kerja antar sektor? 1.2 Metodologi

2. 2.1

Obyek dan lokasi penelitian adalah tenaga kerja UBP Bauksit Kijang yang berada di Pulau Bintan, Kabupaten Kepulauan Riau, Propinsi Riau (Gambar 1). Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan penelitian survai yang mengoperasionalkan teknik observasi, wawancara, dan pendataan lapangan dengan kuesioner. Pengolahan dan analisis data menggunakan teknik analisis jalur dengan didukung teknik deskriptif, kompilasi dan tabelisasi. Teknik analisis jalur digunakan untuk menentukan pengaruh suatu

Secara geografis, wilayah operasional kegiatan UBP Bauksit Kijang terletak di wilayah Kabupaten Kepulauan Riau dalam 4 kecamatan, yakni: Kecamatan Bintan Timur, Teluk Bintan, Tanjung Pinang Timur dan Tanjung Pinang Barat. Berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999, dan diperbaharui dengan UU No.13 Tahun 2000, keempat kecamatan tersebut termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Riau hasil pemekaran menjadi 3 buah kabupaten, yakni Karimun, Natuna dan Kepulauan Riau. Luas wilayah daratan Kabupaten Kepulauan Riau setelah pemekaran 4.303,3 km2 dengan 513 buah pulau, 153 pulau di antaranya sudah dihuni dan sisanya belum berpenghuni, dimanfaatkan untuk pertanian dan usaha perkebunan. Secara administratif, kabupaten ini terdiri atas 9 kecamatan dan 90 desa/kelurahan, tercatat tahun 1999 terdapat 83 desa (92,2%) yang memiliki status swasembada dan 7 desa masih berstatus swakarya (Tabel 1).

28

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 27 40

10330' BT 10430'
RENCANA PENUTUPAN UBP BAUKSIT KIJANG PT ANEKA TAMBANG (PERSERO) Tbk.

10400'

130' LU

PETA ORIENTASI PULAU BINTAN

SINGAPORE 1 Jam (Dengan Ferry)

Kec. Bintan Utara

10 Kilometer

20

Kec. Bintan Timur BATAM PULAU BINTAN


Keterangan

Kec. Karimun

Batas Kabupaten Batas Kecamatan

100'

KEPULAUAN KARIMUN !
Ibukota Kabupaten Batas KP DU 21

Kec. Moro
TANJUNG. PINANG ! KIJANG

Batas KP DU 22

PULAU REPANG

Kec. Kundur
PULAU GALANG

MALAYSI A

Prop. Riau

Prop. Sumatera Barat

Prop. Jambi Prop Sumatera Selatan

Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ... Bambang Yunianto dan Binarko Santoso
SUMBER : - Peta Dasar Rupa Bumi Skala 1 :250.000 BAKOSURTANAL Datum WGS 84 - PT Aneka Tambang Kijang (Persero) Tbk

030'

PULAU SUMATERA

Gambar 1. Peta orientasi Pulau Bintan

29

Tabel 1.

Kecamatan dan luasnya di Kabupaten Dati II Kepulauan Riau

No. 1 2 3 4 5

Kecamatan

Luas (km2) 892,00 169,42 396,00 964,12 169,00 892,72 627,59 70,50 185,00 4.303,35

Jumlah Desa/ Kelurahan 10 6 7 11 5 23 14 5 10 90

Singkep Tambelan Senayang Bintan Timur* Tanjung Pinang Timur* 6 Lingga 7 Bintan Utara 8 Tanjung Pinang Barat* 9 Teluk Bintan* Jumlah

Dari hasil penelitian sosial ekonomi kerjasama Bappeda Riau dan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Universitas Riau, 1999, diketahui bahwa sebagian besar penduduk Kecamatan Bintan Timur bekerja di Sektor Pertanian dalam arti yang luas, mencapai hampir 85%, sisanya bekerja di Sektor Perdagangan, Industri dan Jasa. Mata pencaharian penduduk Kecamatan Tanjung Pinang Timur umumnya di Sektor Industri dan Bangunan sekitar 16,9%, kemudian Sektor Pertanian 9,7%, Sektor Perdagangan 3,4%, Sektor Transportasi 2,1% dan pegawai pemerintahan 28,7%. Sedangkan sisanya bergerak di bidang jasa-jasa lainnya. Sementara itu, penduduk Kecamatan Tanjung Pinang Barat yang bekerja di Sektor Pertanian sangatlah sedikit dan dianggap sebagai usaha sambilan masyarakat. Mayoritas penduduknya bergerak di Sektor Jasa dan Perdagangan. Sedangkan untuk daerah Kecamatan Teluk Bintan, tidak diperoleh rincian mengenai ketenagakerjaan. Masalah tenaga kerja yang dihadapi bersumber dari adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja. Penawaran atau penyediaan tenaga kerja sering kali lebih tinggi daripada permintaan, sehingga tenaga kerja yang dapat disalurkan jauh lebih sedikit. Selain itu, adanya ketidaksesuaian kualifikasi kerja sehingga tidak semua lowongan kerja yang ada dapat terisi. 2.3 Sosial Budaya dan Fasilitasnya

Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000 Keterangan : *) Wilayah Pengaruh Kegiatan UBP Bauksit Kijang (PT. Aneka Tambang Tbk.)

2.2

Penduduk dan Ketenagakerjaan

Dari hasil sensus tahun 2000 yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS), tercatat jumlah penduduk 318.566 jiwa. Dari jumlah tersebut diperoleh tingkat kepadatan penduduk 74 jiwa/km2. Penduduk yang tinggal di daerah perkotaan tercatat 224.273 jiwa (atau 71,0%), lebih besar dibandingkan yang tinggal di daerah pedesaan sekitar 91.600 jiwa (Tabel 2). Laju pertumbuhan penduduknya pada kurun 1990-2000 adalah 2,9%. Dari segi perekonomian, hal ini dapat dipandang sebagai suatu transformasi dari ekonomi pedesaan menjadi ekonomi yang bercirikan perkotaan.

Secara umum, kemajuan dan tingkat kesejahteraan sosial suatu daerah dapat dilihat dari berbagai indikator penting yang diturunkan dari kondisi pendidikan, kesehatan, dan sosial lainnya. Dari catatan BPS (2000), kondisi pendidikan di

Tabel 2.

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin per kecamatan

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kecamatan Singkep Tambelan Senayang Bintan Timur Tanjung Pinang Timur Lingga Bintan Utara Tanjung Pinang Barat Teluk Bintan Kep. Riau

Laki-laki 18.354 2.044 8.572 28.232 42.748 11.622 17.263 26.888 3.988 159.721

Perempuan 18.068 1.914 8.165 26.458 41.506 10.906 21.852 26.258 3.691 158.854

Total 36.422 3.958 16.737 54.717 84.254 22.528 39.115 53.146 7.689 318.566

Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000

30

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 27 40

Kabupaten Kepulauan Riau pada tahun 1999/2000 meliputi sekolah taman kanak-kanak sebanyak 34 unit dengan jumlah guru sebanyak 120 orang, untuk sekolah dasar (SD) terdapat 285 unit dan 2.099 orang guru. Pendidikan menengah terbagi atas dua jenjang, yakni menengah pertama dan menengah atas. Pada tahun 1999/2000, tercatat ada 41 unit Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dengan jumlah guru sebanyak 756 orang. Untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) terdapat 21 unit yang 13 unit di dalamnya berstatus sekolah negeri, dan sisanya dikelola oleh swasta. Sarana pendidikan setingkat SLTA belum tersedia di setiap kecamatan. Selama UBP Bauksit Kijang melakukan kegiatan penambangan, banyak sarana dan prasarana sosial yang telah dibangun oleh pihak perusahaan. Sarana dan prasarana yang yang dibuat tersebut tidak hanya untuk kepentingan perusahaan dan karyawannya, akan tetapi manfaatnya banyak dirasakan oleh masyarakat sekitar perusahaan/lokasi kegiatan penambangan maupun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Riau. Sarana dan prasarana yang telah dibangun oleh pihak perusahaan tersebut antara lain jalan di lokasi penambangan dan jalan yang menghubungkan lokasi perusahaan dengan daerah/lokasi lain. Dari sekian banyak sarana dan prasarana yang telah dibuat oleh perusahaan sudah banyak yang telah diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Dengan adanya prasarana jalan tersebut telah menjadikan UBP Bauksit Kijang sebagai daerah pertumbuhan di Pulau Bintan. Selain prasarana jalan, prasarana lain yang telah dibangun oleh perusahaan adalah bendungan air untuk menyediakan kebutuhan air bagi karyawan dan masyarakat sekitar perusahaan. Sekarang, pengelolaannya telah diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Riau melalui PDAM. Sedangkan sarana yang dibangun untuk kebutuhan karyawan dan masyarakat sekitarnya adalah rumah sakit, sekolah, sarana peribadatan, perumahan karyawan dan sarana lainnya. Di samping sarana yang dibangun oleh perusahaan, tumbuh juga sarana lain yang dibangun oleh masyarakat sebagai akibat adanya kegiatan usaha pertambangan di daerah ini, seperti Pasar Kijang yang menjadi pemasok kebutuhan bahan pokok bagi karyawan dan keluarganya serta masyarakat sekitarnya. 2.4 Perekonomian

serta Sektor Industri Pengolahan (24,9%-26%). Kedua sektor ini memberikan kontribusi setengah dari total pendapatan daerah (Tabel 3). Peranan Sektor Pertanian terlihat sangat kecil, hanya 6,8% pada tahun 1998 dan 1999, karena penduduknya sebagian besar bermukim di daerah perkotaan dan kurangnya minat bekerja di sektor ini. Nilai PDRB Sektor Pertambangan dan Penggalian sebagian besar berasal dari kontribusi UBP Bauksit Kijang. 3. KONDISI TENAGA KERJA PERUSAHAAN

Jumlah tenaga kerja UBP Bauksit Kijang pada bulan Maret tahun 2001 adalah 524 orang, terdiri atas pegawai tetap 208 orang dan pegawai tidak tetap 314 orang. Pegawai tidak tetap ini terdiri atas : pegawai percobaan 1 orang, Tenaga Harian Tetap (THT) 19 orang, Honor Full Time (HNR. FT) 7 orang, Honor Part Time (HNR. PT) 1 orang, dan Karyawan Penunjang Operasi (KPO) 286 orang. Sementara itu jumlah tenaga kerja yang telah pensiun sebesar 607 orang (Tabel 4). Dilihat dari tingkat pendidikan, pegawai tetap paling besar berpendidikan setingkat SD (85 orang) dan SLTA (60 orang) dari total pegawai sebesar 208 orang. Pegawai tidak tetap, di luar KPO, umumnya berpendidikan setingkat SD 12 orang. Untuk KPO
Tabel 3. Distribusi PDRB Kabupaten Kepulauan Riau atas dasar harga konstan 1993 menurut lapangan usaha (persen)

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Lapangan usaha Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan Pertambangan dan penggalian Industri pengolahan Listrik, gas dan air bersih Bangunan/konstruksi Perdagangan, hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan Jasa-jasa

1998 6,8 6,5 24,9 1,0 9,1 25,5 8,7 8,0 9,0

1999 6,8 6,3 26,0 1,4 9,1 25,4 8,7 7,8 9,0

Kondisi perekonomian Kabupaten Kepulauan Riau selama tahun 1998 dan 1999, didominasi oleh Sektor Perdagangan-Hotel dan Restoran (25,5%-25,4%)

Produk Domestik Regional Bruto 100,0 100,0


Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 2000

Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ... Bambang Yunianto dan Binarko Santoso

31

dan Pensiunan tidak diketahui tingkat pendidikannya. Secara organisatoris, jumlah tenaga kerja terbanyak ada pada kegiatan pengapalan, penimbunan dan pemuatan sebesar 58 orang, kemudian disusul tenaga kerja bidang SDM dan Umum sebesar 24 orang. Berdasarkan prediksi pada pascatambang yang telah dilakukan oleh PT. Antam (Persero) Tbk. terhadap jumlah pegawai di UBP Bauksit Kijang diperkirakan berjumlah 194 orang dan KPO sebanyak 284 orang. Komposisi pegawai UBP Bauksit Kijang tersebut adalah; 19 orang diatas 55 tahun, 63 orang berumur 50 54 tahun, 68 orang berumur 45 49 tahun dan 44 orang dibawah umur 45 tahun. Bagi pegawai tetap di bawah umur 50 tahun ditawarkan untuk pindah ke unit lain, bagi pegawai tetap di atas umur 50 tahun ditawarkan untuk pensiun dini. Sedangkan

tenaga kerja KPO pada diarahkan untuk ditampung oleh perusahaan baru pasca pengakhiran tambang. Penyaluran tenaga kerja tersebut dijadwalkan pada tahun 2004, dengan beberapa tahapan sesuai keinginan dari pegawai-pegawai tersebut. 4. 4.1 PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini, didata tenaga kerja berjumlah 98 orang sebagai responden, dengan karakteristik sebagai berikut. Dari sekian responden tersebut terdapat 89,8% orang berjenis kelamin laki-laki dan 10,2% perempuan. Berdasarkan status perkawinan ternyata 88,8% berkeluarga. Sementara itu, apabila

Tabel 4.

Kekuatan tenaga kerja UPB Kijang menurut pendidikan (keadaan Maret 2001)

Status pegawai/ peringkat A. Pegawai tetap: 1. I A 2. I B 3. II A 4. IIB 5. III A 6. III B 7. IV A 8. IV B 9. V 10. VI 11. VII 12. VIII 13. IX JUMLAH (A) = B. Pegawai tidak tetap 14. Pegawai percobaan 15. Tenaga harian tetap 16. Tenaga harian lepas 17. Honor FT 18. Honor PT 19. Karyawan penunjang operasi 20. Tenaga lain JUMLAH (B) = C. Pensiunan JUMLAH (A+B+C)

Pendidikan S1 1 1 2 1 2 3 3 1 2 5 1 4 1 8 1 11 28 8 3 60 SM SLTA SLTP SD

Total

1 2 4 2 15 5 22 53 52 50 2 208 1 19 7 1 286 314 607 921

3 15 10 9 37

1 10 34 38 2 85

13 1

13

4 1 2 2

5 1

10 2

2 15 13

8 68

6 43

12 97

Sumber : Laporan Kekuatan Pegawai UBP Bauksit Kijang Bulan Maret 2001

32

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 27 40

dilihat dari segi usia terdapat 28 orang (28,6%) yang berusia dari 25-35 tahun. Sedangkan untuk usia antara 36-45 tahun terdapat 26 orang (sekitar 26,5%), rentang usia 46-56 tahun ada 44 orang (atau 44,9%). Dari segi pendidikan terlihat bahwa mayoritas karyawan yang menjadi responden adalah tamatan SLTA (hampir 55,1%), SLTP kurang lebih 18,4%. Di atas Akademi/Perguruan Tinggi (S1) masingmasing adalah 16,3%. Dari segi daerah asal, ternyata karyawan dari putra daerah (Kepulauan Riau) yang sebesar 54,0% hampir berimbang dengan dari luar Propinsi Riau (44,9%). SES responden, dilihat dari segi pendapatan per bulan pekerjaan pokoknya, ternyata rata-rata berpendapatan di atas Rp 1.000.000,- ada sebanyak 42,9%. Sementara mayoritas pengeluaran keluarga mereka per bulannya adalah Rp 500.000,- 1.000.000,(52,0%). Sebagian besar dari responden tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan mereka, karena ada kebijaksanaan perusahaan. SPA responden dilihat dari peluang berusaha di daerah Kijang dan sekitarnya terdapat 89,8% yang menyatakan tergantung situasi dan kondisi. Dari jajak pendapat ini juga diketahui bahwa bidang industri merupakan bidang yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Sebagian besar responden tidak berkeberatan untuk pindah demi alasan pekerjaan yang lebih baik. Permasalahan yang sering muncul di dalam masyarakat, sebagian besar responden menyatakan berupa masalah pengangguran dan kenakalan remaja menempati 2 peringkat utama. Dari sisi kepemimpinan, peranan Ketua RT/RW setempat dan tokoh agama ternyata masih cukup kuat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jawaban terhadap kedua tokoh ini, dan juga didukung bahwa saluran komunikasi yang sering dimanfaatkan adalah semacam rapat desa merupakan pilihan tertinggi, di samping media massa dan kumpulan keagamaan. Mengenai kemajuan daerah, responden umumnya menilai bahwa pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, tranportasi maupun perekonomian masih kurang mendapat perhatian. Dari jawaban terbuka mengenai pandangan atas keberadaan UBP Bauksit Kijang mayoritas menjawab setuju, dengan alasan utama mengurangi pengangguran/menyerap tenaga kerja lokal (48 orang), alasan meningkatkan perekonomian/kemakmuran daerah (37 orang),

menambah devisa daerah dan nasional (15 orang) dan 2 orang menjawab isu lingkungan, yang berarti dapat membangun kesadaran masyarakat untuk menanggulangi masalah-masalah lingkungan. Tanggapan mengenai masalah yang paling mengganggu ternyata 54 orang menjawab ada masalah dan 34 menyebutkan tidak ada masalah yang berarti, dan 10 orang menjawab kosong. Masalah limbah sisa operasional tambang, polusi, dan debu merupakan 3 masalah utama menurut responden. Masalah lain yang timbul dalam kegiatan UBP Bauksit Kijang adalah masalah ganti tanam tumbuh dan lahan penambangan. Berbagai masalah tersebut, menurut sebagian besar responden, 95% sudah diselesaikan. Dari aspirasi dan KEB ini, hampir 95,0% responden mengakui bahwa UBP Kijang sudah membantu pembangunan masyarakat setempat, dengan sekitar 85,0% reponden menyebutkan bahwa bantuan tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dibutuhkan masyarakat pada dasarnya sudah dapat dipenuhi/dibantu, dan bantuan tersebut dapat disebut efektif, sebab apa yang sudah diberikan perusahaan ini sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Bentuk bantuan yang ideal menurut responden adalah bantuan permodalan untuk usaha (69 orang menjawab demikian). Mengenai saluran mana yang terbaik untuk menyalurkan bantuan tersebut, 59 orang menyebutkan saluran musyawarah antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat. 4.2 Pola Alih Kerja

Pada bagian ini akan dikemukakan hasil pengamatan atas potensi alih program kerja karyawan sehubungan dengan akan adanya penutupan operasional penambangan UBP Bauksit Kijang. Pengamatan ini dimaksudkan untuk melihat tanggapan kesiapan tenaga kerja untuk beralih kerja pada bidang-bidang yang diinginkan. Untuk keperluan tersebut telah dilakukan survai terhadap 98 orang tenaga kerja perusahaan. Di antara jumlah tersebut diketahui bahwa 63 orang adalah pegawai tetap (64,3%) dan 35 orang lagi merupakan pegawai tidak tetap (35,7%). Dari data yang terkumpul, diketahui terdapat 8 orang (8,2%) yang ingin terus bekerja pada bidang pertambangan yang terdiri atas 6 pekerja tetap atau 6,1% dan 2 orang pegawai tidak tetap atau 2,0% (Tabel 5). Untuk para pegawai tetap yang berjumlah 63 orang ini, terlihat bahwa bidang usaha alih kerja yang

Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ... Bambang Yunianto dan Binarko Santoso

33

paling banyak diminati adalah berwiraswasta, yakni sebanyak 39 orang, dan bidang non-tambang (bukan wiraswasta) ada 16 orang. Sementara itu, untuk pegawai tidak tetap yang berjumlah 35 orang, terlihat bahwa bidang usaha alih kerjanya antara berwiraswasta dan non-tambang (di luar wiraswasta) sebanding, masing-masing 15 orang dan 16 orang (Tabel 6). Apabila dilihat dari keseluruhan pegawai, ternyata yang memilih untuk berwiraswasta ada sebanyak 54

pegawai (55,1%), bidang non-tambang (di luar wiraswasta) ada 32 orang (32,6%), bidang lainnya ada 4 orang (4,1%). Sementara yang ingin tetap di bidang tambang ada 8 pegawai (8,2%). Untuk para pegawai yang ingin tetap bekerja pada bidang tambang, distribusi bidang tambang yang diinginkan adalah tetap tambang bauksit (6,1%), batu bara (1,0%), dan minyak (1,0%). Sementara itu, distribusi bidang kerja baru bagi pegawai yang ingin berpindah kerja pada bidang nontambang (di luar wiraswasta), wiraswasta dan lainnya

Tabel 5.

Potensi alih kerja dari pegawai tetap

Tenaga kerja Pegawai tetap Perbengkelan Transportasi Pendidikan Pertambangan Pertanian Perkebunan Perikanan Kehutanan Industri Perdagangan Keamanan Lainnya Jumlah Tambang 2 0 0 2 0 0 0 0 0 1 0 1 6

Bidang alih kerja yang diminati Non-tambang 2 1 2 4 2 0 0 0 0 1 0 4 16 Wiraswasta 6 2 3 7 2 3 3 0 0 3 2 8 39 Lainnya 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2

Total 10 3 5 13 4 3 3 0 0 5 2 15 63

Sumber: Survai lapangan di UBP Bauksit Kijang, Kabupaten Kepulauan Riau, 2001

Tabel 6.

Keahlian yang dimiliki

Potensi alih kerja dari pegawai tidak tetap

Tenaga kerja Pegawai tetap Perbengkelan Transportasi Pendidikan Pertambangan Pertanian Perkebunan Perikanan Kehutanan Industri Perdagangan Keamanan Lainnya Jumlah Tambang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2

Bidang alih kerja yang diminati Non-tambang 6 1 4 1 0 0 0 0 1 1 0 2 16 Wiraswasta 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 2 8 15 Lainnya 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 2

Total 7 3 5 3 0 0 0 0 2 1 3 11 35

Sumber: Survai lapang di UBP Bauksit Kijang, Kabupaten Kepulauan Riau, 2001

Keahlian yang dimiliki

34

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 27 40

sebagai berikut: industri (30,6%), perdagangan 21,4%, transportasi 11,2%, pariwisata 8,2%, perikanan 7,1%, PNS/ABRI 5,1%, perkebunan 3,0%, pertanian 2,0%, lainnya 10,2%, dan kosong (tidak memilih) 10,2%. Dari jawaban atas bidang kerja yang baru ini, 30,6% dari 98 orang menyatakan bidang industri merupakan bidang yang diminati. Hal ini adalah wajar, sebab Sektor Industri di Kepulauan Riau memiliki pertumbuhan dan kontribusi yang tinggi. Sedangkan bidang berikutnya banyak dipilih adalah bidang perdagangan sekitar 21,4% juga merupakan bidang usaha yang cukup menjanjikan di Kepulauan Riau ini. Dari kajian pola alih kerja ini diperoleh informasi, bahwa pola alih kerja cenderung ke arah bidang wiraswasta (Sektor Jasa dan Perdagangan) sebesar 55,1% dan Sektor-sektor Industri (30,6%). Pergeseran pekerja ke Sektor Jasa dan Perdagangan menunjukkan perubahan peranan sektor ini yang memilki kontribusi terbesar di Kabupaten Kepulauan Riau. Sementara itu, pergeseran pekerja ke Sektor Industri lebih banyak didasari oleh keterkaitan secara keahlian memiliki kesamaan dengan Sektor Pertambangan. Secara implisit diketahui pula bahwa mental para pegawai sudah siap dalam menghadapi kemungkinan alih kerja yang merupakan suatu implikasi dari penutupan tambang. Hal ini ditunjang juga oleh pernyataan sikap yang secara mayoritas bernada positif mengenai pandangan akan masa depan pekerjaan di sana. Sikap optimisme mengenai masa depan pekerjaan di Kepulauan Riau ini, secara mental, akan sangat membantu para pegawai dalam menghadapi program alih kerja ini. Dari hasil jajak pendapat, ternyata sikap optimisme dimiliki oleh tenaga kerja UBP Bauksit Kijang, jumlah pegawai yang menyatakan sikap optimistis ada 55 orang (sekitar 56,0%) dan ragu-ragu berjumlah 37 orang ini (atau sekitar 37,8%). Terlihat juga bahwa pegawai yang merasa pesimistis hanya 6,0%. Hal tersebut memberi gambaran bahwa dalam alih kerja tidak akan timbul potensi konflik yang berarti, namun dalam arti bahwa pihak-pihak yang terkait (masyarakat, pemerintah dan perusahaan) tidak boleh berpangku tangan begitu saja, melainkan harus ada tindak lanjut untuk mendukung program alih kerja ini melalui penyediaan segala seuatu hal yang dibutuhkan untuk keperluan program alih kerja ini. Dari hasil survai juga didapat suatu umpan balik bahwa untuk membantu percepatan dan kelancaran program alih kerja ini terdapat beberapa hal yang dibutuhkan tenaga kerja UBP Bauksit Kijang menurut prioritasnya, yakni modal dalam bentuk uang 35,7%,

pendidikan 33,7%, sarana dan prasarana 23,7%, dan dekat tempat tinggal 12,3%. Dalam mendorong upaya alih kerja ini ternyata hal yang paling banyak dibutuhkan atau yang paling banyak diminati adalah tersedianya modal, khususnya modal yang berbentuk uang (35,7%) dan keterampilan melalui penyelenggaraan pendidikan dan keahlian yang relevan (33,7%). Selain itu, para pegawai juga menyarankan apabila terjadi konflik, maka jalur pemecahan yang terbaiknya dapat ditempuh melalui musyawarah antara pemerintah-pekerja dan perusahaan (82,6%), kemudian disusul cukup melalui perusahaan (21,43%), melalui pemerintah/intansi terkait saja (3,1%), dan jalur lainnya (1,0%). 4.3 Pola Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan

4.3.1 Pengujian Untuk mengetahui latar belakang pola transformasi pekerja sektor pertambangan akan diuji dengan analisis jalur. Data yang digunakan diperoleh dari kuesioner yang disebarkan. Dalam kuesioner ini terdapat 5 buah variabel penelitian. Nilai untuk setiap variabel tersebut, diperoleh melalui cara menjumlahkan jawaban responden dalam tiap butir pada tiap variabel. Setelah diperoleh nilai untuk setiap variabel tersebut, maka selanjutnya dilakukan pengubahan skala dengan menggunakan metode suksesif interval. Kelima variabel tersebut diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran berskala ordinal, ukuran sampel untuk penelitian ini sebesar 98 orang. Oleh karena itu penghitungan koefisien korelasinya menggunakan Rank Spearman. Matrik Korelasi Rank Spearman untuk Lima Variabel (r) SES SPA PER KEB AKS SES SPA PER KEB AKS 1 -0.1053 -0.0359 -0.1053 1 0.0682 -0.0359 0.0682 1 -0.0550 0.0719 0.1906 -0.1078 -0.0262 0.0091 -0.0550 0.0719 0.1906 1 0.4249 -0.1078 -0.0262 0.0091 0.4249 1

Inverse Matrik Korelasi Rank Spearman untuk Lima Variabel (CR) SES SES 1.0247 SPA 0.1093 PER 0.0295 KEB -0.0063 AKS 0.1157 SPA 0.1093 1.0235 -0.0492 -0.0912 0.0778 PER 0.0295 -0.0492 1.0481 -0.2335 0.0916 KEB -0.0063 -0.0912 -0.2335 1.2827 -0.5460 AKS 0.1157 0.0778 0.0916 -0.5460 1.2457

Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ... Bambang Yunianto dan Binarko Santoso

35

Rumusan konseptual dalam Gambar 2 menyatakan bahwa diagram jalur terdiri atas 3 buah substruktur dan melalui substruktur ini koefisien jalur dihitung. Penghitungan koefisien jalur untuk substruktur 1 (Gambar 3) adalah: PPER-SES = (CRSES-SES x rPER-SES)+ (CRSES-SPA x rPER-SPA) = (1.0247 x -0.0359 )+( 0.1093x 0.0682) = 0.0293 = (CRSPA-SES x rPER-SES)+ (CRSPA-SPA x rPERSPA ) = 0.0659

Setelah semua koefisien jalur pada substruktur ini diketahui, maka langkah berikutnya adalah melihat keberartian secara statistik nilai koefisien-koefisien jalur tersebut melalui uji signifikansi F sebagai berikut. Berdasarkan kerangka wacana konseptual sebelumnya, akan dilihat apakah koefisien jalur pada substruktur 1 ini benar-benar berarti (secara statistik) atau tidak. Oleh karena itu dipasangkan perumusan hipotesis sebagai berikut: H0 : H1 : PPER-SES = PPER-SPA = 0 (artinya koefisien jalur tidak berarti) PPER-SES PPER-SPA 0

PPER-SPA

Pengaruh variabel lainnya terhadap PER (di luar SES dan SPA) dilambangkan dengan PPER-1, dihitung dengan cara PPER - 1 = 1-R Di mana : R2 PER - SES - SPA = 0,00635 Sehingga PPER-1 = 0,997
2 PER - SES - SPA

Statistik uji yang digunakan adalah :

F =

( n k 1) P x x r x x 0 i 0 i
i =1

k (1 P x 0x i r x 0x i )
i =1

( 98 2 1) x ( 0 . 00635 ) 2( 1 0 . 00635 )

= 0,3036

Dari Tabel Distribusi F-Snedecor diperoleh: Fa;k;(n-k-1) = F0.05;2;(98-2-1) = 3,11

SES

PER AK 3

SPA

KEB
2

Karena F < Fa;k;(n-k-1), maka H0 diterima, berarti semua koefisien jalur pada Substruktur 1 ini tidak berarti. Atau dalam kata lain, variabel SES dan SPA tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap variabel PER. Pada substruktur 2 (Gambar 4) tersebut, akan dilihat bagaimana pengaruh variabel SES, SPA, dan PER terhadap variabel KEB. Adapun penghitungan koefisien jalur untuk substruktur 2 ini adalah sebagai berikut: PKEB-SES = (CRSES-SES x rKEB-SES)+ (CRSES-SPA x rKEB-SPA) +(CRKEB-PER x rKEB-PER) = (1.0247 x 0.0550)+( 0.1093x0.0719)+(-0.2335x0.1906) = -0.0429 = (CRSPA-SES x rKEB-SES)+ (CRSPA-SPA x rKEBSPA)+ (CRPER-SPA x rKEB-PER) = (0.1093x0.0550)+(1.0235x0.0719)+(-0.0492x0.1906) = 0.0582 = (CRSPA-PER x rKEB-SES)+ (CRSPA-SES x rKEBSPA)+ (CRPER-PER x rKEB-PER) = 0.1946

Gambar 2. Hubungan kausal antar variabel yang diteliti

SES

P PER-SES
PER

r SES - SPA
SPA

PPER- 1 P PER-SPA

PKEB-SPA

PKEB-PER

Gambar 3. Substruktur 1

Pengaruh variabel lainnya terhadap KEB (di luar SES, SPA dan PER), dilambangkan dengan PKEB-2, yang

36

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 27 40

SES

PPERSES

PER

PKEB-SES rSES-SPA
SPA

PPER-SPA PKEB-SPA

PKEB-PER PPER-1 1 2
KEB

Pada substruktur 3 (Gambar 5) tersebut akan dihitung semua koefisien jalur yang memberikan pengaruh terhadap variabel AKS. Penghitungan koefisien jalur untuk substruktur 3 ini adalah sebagai berikut: PAKS-SES = (CRSES-SES x rAKS-SES) + (CRSES-SPA x rAKS-SPA) + (CRSES-PER x rAKS-PER) + (CRSESKEB x rAKS-KEB) = -0.1157 PAKS-SPA =(CRSPA-SPA x rAKS-SPA) + (CRSES-SPA x rAKS-SES) + (CRSPA-PER x rAKS-PER) + (CRSPA-KEB x rAKSKEB) = -0.0778 PAKS-PER = (CRKEB-KEB x rAKS-PER) + (CRPER-KEB x rAKS-KEB) = -0.0876 PAKS-KEB = (CRKEB-KEB x rAKS-PER) + (CRPER-KEB x rAKS-KEB) = 0.4432

PKEB-2

Gambar 4. Substruktur 2

dihitung dengan cara : PKEB-2 = 1 - R KEB-SES-SPA-PER R2KEB-SES-SPA-PER = PKEB-SESrKEB-SES + PKEB-SPArKEB-SPA + PKEB-PERrKEB-PER = 0.0436 Sehingga diketahui PKEB-2 = 0.978. Langkah berikutnya adalah melihat keberartian secara statistik dari nilai koefisien-koefisien jalur tersebut, atau dengan kata lain melihat apakah variabel SES, SPA dan PER tersebut memiliki pengaruh yang berarti terhadap variabel KEB. Metode pengerjaannya hampir mirip dengan pengerjaan pada substruktur 1, yakni: H0 : PKEB-SES = PKEB-SPA = PKEB-PER = 0 (artinya koefisien jalur tidak berarti) H1 : Sekurang-kurangnya ada satu koefisien jalur yang 0 Statistik uji yang digunakan adalah : Dari Tabel Distribusi F-Snedecor diperoleh:
( n k 1) P X X r X X 0 I 0 I
i =1 k
2

1
SES PER AKS SPA KEB

2
Gambar 5. Substruktur 3

Sedangkan pengaruh variabel lainnya terhadap AKS (diluar SES, SPA dan PER dan KEB), dilambangkan dengan PAKS-3, yang dihitung dengan cara : PAKS-3 = 1 - R2AKS-KEB-SES-SPA-PER R2AKS-KEB-SES-SPA-PER = PAKS-SESrAKS-SES + PAKS-SPArAKS-SPA + PAKS-PERrAKS-PER + PAKS-KEBrAKS-KEB = 0.2020 Diperoleh bahwa PAKS-3 adalah sebesar 0,8933. Langkah selanjutnya adalah menguji keberartian dari koefisien-koefisen tersebut dengan cara seperti sebelumnya. Digunakan pasangan hipotesis konseptual sebagai berikut: H0 : PAKS-SES=PAKS-SPA=PAKS-PER=PAKS-KEB=0 (koefisien jalur tidak berarti) H1 : Sekurang-kurangnya ada satu koefisien jalur yang 0

F =

k (1 P X X r X X ) 0 I 0 I
i =1

( 98 3 1)( 0,0436) 3( 1 0,0436)

= 1,429

Fa;k;(n-k-1) = F0.05;3;(98-3-1) = 3,1 Karena F < Fa;k;(n-k-1), maka H0 diterima, berarti semua koefisien jalur pada Substruktur 2 ini tidak berarti. Atau dalam kata lain, variabel SES, SPA dan PER ini tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap variabel KEB.

Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ... Bambang Yunianto dan Binarko Santoso

37

Statistik uji yang digunakan adalah :


( n k 1) P x 0x i r x 0 x i
i =1 k

H0 : PAKS-SPA = 0 (artinya koefisien jalur tidak berarti) H1 : PAKS-SPA = 0 (artinya koefisien jalur berarti)
= 11,77

F =

k (1 P x 0xi rx 0x i )
i= 1

( 98 4 1)( 0 .2020) 4 (1 0 .2020 )

Statistik uji yang digunakan adalah :

t2 =

P AKS SPA (1 R
2 AKS SES SPA PER KEB

Dari Tabel Distribusi F-Snedecor diperoleh: Fa;k;(n-k-1) = F0.05;3;(98-3-1) = 3,1 Karena F > Fa;k;(n-k-1), maka H0 ditolak, artinya semua koefisien jalur pada Substruktur 3 ini tidak sama dengan nol. Atau dalam kata lain, ada beberapa variabel dari SES, SPA, PER dan KEB ini memiliki pengaruh yang berarti terhadap variabel AKS. Karena hasil uji keberartian koefisien jalur pada substruktur 3 ini menunjukkan hasil yang signifikan, maka selanjutnya adalah mencari koefisien jalur mana yang sebenarnya tidak sama dengan nol. Langkah yang disarankan adalah dengan melakukan uji individu terhadap semua koefisien jalur pada substruktur 3 ini, dengan cara sebagai berikut: Pengujian koefisien jalur SES ke AKS atau PAKS-SES Digunakan pasangan hipotesis sebagai berikut: H0 : PAKS-SES = 0 (artinya koefisien jalur tidak berarti) H1 : PAKS-SES 0 (artinya koefisien jalur berarti) Statistik uji yang digunakan adalah :

)(CRSPA

SPA )

( n k 1) = 0 . 0778 ( 1 0 . 2020 )( 1. 0235 ) ( 98 4 1)


Kemudian nilai t tersebut dibandingkan dengan tabel t untuk t(1-);93, yang diperoleh untuk t(1-0.05);93 = 1,989. Dengan aturan keputusan : terima H 0 jika thitung berada dalam interval 1,989 <t-hitung< 1,989. Karena t-hitung berada dalam interval 1,989 <t-hitung< 1,989 maka H0 diterima. Atau dengan kata lain koefisien jalur PAKS-SPA bernilai nol atau tidak berarti. Pengujian koefisien jalur PER ke AKS atau PAKS-PER Digunakan pasangan hipotesis sebagai berikut: H0 : PAKS-PER =0 (artinya koefisien jalur tidak berarti) H1 : PAKS-PER = 0 (artinya koefisien jalur berarti) Statistik uji yang digunakan adalah :

= 0. 7436

t1 =

P AKS SES (1 R
2 AKS SES SPA PER KEB )( CRSES SES )

t3 =

P AKS PER (1
2 R AKS SES SPA PER KEB )( CRPER PER )

( n k 1) = 0 . 0876 ( 1 0. 2020 )( 1 . 0481 ) ( 98 4 1)


Dari hasil perbandingan dengan tabel t untuk t(1-);93, maka t-hitung berada dalam interval 1,989 <thitung< 1,989 sehingga H0 diterima. Atau dengan kata lain koefisien jalur PAKS-PER bernilai nol atau tidak berarti. Pengujian koefisien jalur KEB ke AKS atau PAKS-KEB Digunakan pasangan hipotesis sebagai berikut : H0 : PAKS-KEB =0 (artinya koefisien jalur tidak berarti) H1 : PAKS-KEB = 0 (artinya koefisien jalur berarti)

( n k 1) = 0 . 1157 ( 1 0 . 2020 )(1. 0247 ) ( 98 4 1)


Kemudian nilai t tersebut dibandingkan dengan tabel t untuk t(1-);93 , yang diperoleh untuk t(1-0.05);93 =1,989. Aturan keputusan : terima H0 jika t-hitung berada dalam interval 1,989 <t-hitung< 1,989. Karena t-hitung berada dalam interval 1,989 <thitung< 1,989 maka H0 diterima. Atau dengan kata lain koefisien jalur PAKS-SES bernilai nol atau tidak berarti. Pengujian koefisien jalur SPA ke AKS atau PAKS-SPA Digunakan pasangan hipotesis sebagai berikut:

= 1 . 1055

= 0. 9236

38

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 27 40

Statistik uji yang digunakan adalah :

t4 =

P AKS KEB (1 R
2 AKS SES SPA PER KEB )(CR KEB KEB )

( n k 1) = 0 . 4432 (1 0 . 2020 )( 1 . 2827) ( 98 4 1)


Dari hasil perbandingan dengan tabel t untuk t(1-a);93, maka t-hitung berada diluar interval 1,989 <thitung< 1,989 sehingga H0 ditolak. Atau dengan kata lain koefisien jalur PAKS-KEB bernilai tidak nol atau berarti. 4.3.2 Analisis Wacana konseptual yang diajukan pada penelitian ini tidak seluruhnya dapat dibuktikan. Namun setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni: a) Variabel SES dan variabel SPA memiliki hubungan korelasi sebesar 0,1053, namun tidak signifikan. Artinya tidak terdapat bukti yang cukup adanya hubungan korelasional antara keduanya. SES dan SPA tidak memiliki hubungan pengaruh yang signifikan terhadap PER, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Variabel SES, SPA dan PER tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap KEB, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Variabel SES, SPA, dan PER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap AKS baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, kecuali variabel KEB sendiri dengan besar pengaruh yang sebesar 19,6%.

= 3 . 786

oleh SES, SPA dan PER. Kedua hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya pengaruh residu masingmasing yang sangat besar, yakni masing-masing untuk PER adalah sebesar 99,4% dan untuk KEB adalah sebesar 95,6%. Dalam kasus ini, ternyata faktor kewilayahan tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi pekerja. Begitu pula, faktor kewilayahan, sosial ekonomi, dan persepsi pekerja tidak memiliki pengaruh terhadap kebutuhan alih kerja para pekerja UBP Bauksit Kijang. Dalam proses transformasi sektoral, mereka justru hanya mengandalkan berbagai macam kebutuhan yang diperlukan dalam proses alih kerja tersebut. Dari hasil pengujian, hanya variabel KEB saja yang memiliki cukup bukti dalam mempengaruhi AKS. Besar pengaruhnya secara langsung adalah sebesar 19,64%. Ini menjelaskan bahwa pergeseran pekerja UBP Bauksit Kijang ke Sektor Pertambangan lainnya (bukan bauksit) dan sektor non-tambang hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor kebutuhan yang diperlukan pada saat pascatambang, seperti: modal, pendidikan, peralatan dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa keahlian di sektor pertambangan masih belum menjadi jaminan para pekerja UBP Bauksit Kijang dalam pola alih kerjanya ke sektor non-tambang, atau masih membutuhkan tambahan pendidikan keahlian dan peralatan. Sementara itu, faktor-faktor sosial ekonomi, sosial spasial dan persepsi mereka tidak memiliki pengaruh sama sekali. Masalah ini muncul karena dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, antara lain: banyak pekerja yang akan kembali ke daerah asalnya (di luar Pulau Bintan), penghasilan sektor non-tambang kurang menjanjikan, kecenderungan alih kerja ke Sektor Jasa dan Perdagangan yang tidak didukung faktor wilayah (spasial) dan lainnya. 5. KESIMPULAN

b) c) d)

Dari hasil analisis pada substruktur 1 dan substruktur 2 di atas diketahui tidak ada koefisien jalur yang signifikan secara statistik. Atau dengan kata umum, dapat dikatakan bahwa pada penelitian pola transformasi tenaga kerja sektor pertambangan pada masa memasuki pascatambang ini tidak terdapat bukti yang cukup dilatarbelakangi oleh variabel SES, SPA dan PER, karena tidak ada hubungan pengaruh yang signifikan dari SES, SPA, dan PER terhadap AKS. Selain itu, juga tidak terdapat bukti yang memadai (secara statistik) bahwa PER dipengaruhi oleh SES, SPA dan KEB. Sementara itu, KEB tidak dipengaruhi

Dari hasil kajian diperoleh hasil pola alih kerja dan latar belakang proses transformasi pekerja UBP Bauksit Kijang pada masa memasuki pascatambang. 1) Pola alih kerja cenderung ke arah bidang wiraswasta (Sektor Jasa dan Perdagangan) sebesar 55,1% dan Sektor Sektor Industri (30,6%). Pergeseran pekerja ke Sektor Jasa dan Perdagangan menunjukkan perubahan peranan sektor ini yang memiliki kontribusi terbesar di Kabupaten Kepulauan Riau.

2)

Transformasi Pekerja Sektor Pertambangan Secara Sektoral ... Bambang Yunianto dan Binarko Santoso

39

3)

Pergeseran pekerja ke Sektor Industri lebih banyak didasari oleh keterkaitan secara keahlian memiliki kesamaan dengan Sektor Pertambangan. Latar belakang proses transformasi pekerja UBP Bauksit Kijang tidak dipengaruhi oleh faktor faktor sosial ekonomi, sosial spasial dan persepsi terhadap sektor non-tambang. Faktor - faktor yang berpengaruh adalah : modal kerja, pendidikan, peralatan dan faktor lain untuk dapat siap kerja di luar tambang bauksit.

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Riau 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dalam Angka 1999, Tanjung Pinang. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Riau 2000, Monografi Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Riau Tahun 2000, Tanjung Pinang. Bappeda Kabupaten Kepulauan Riau dan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Universitas Riau 1999, Rencana Pembangunan Lima Tahun 1999/2000-2003/2004 Kabupaten Dati II Kepulauan Riau. Tanjung Pinang. Hair, J.F. 1992, Multivariate Data Analysis. Maxwell Mac Millan. PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. dan PT. Bita Bina Semesta 2000, Studi Persiapan Pemanfaatan Aset-aset PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. di Pulau Bintan, Jakarta. Purnama, D. dkk. 2000, Menanam Harapan di Bumi Riau, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah, Pekanbaru. Rachbini, Didik J. 1989, Dilema Transformasi Ketenagakerjaan, Prisma No. 5 Tahun XVIII, 1989, LP3ES, Jakarta. Sigit, Hananto 1989, Transformasi Tenaga Kerja di Indonesia Selama Pelita, Prisma No. 5 Tahun XVIII, 1989, LP3ES, Jakarta. UBP Bauksit Kijang PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. 2001, Program Penutupan dan Pascatambang UBP Bauksit Kijang, Bahan Presentasi pada DPRD dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau. Kijang.

4)

Sementara itu, latar belakang proses transformasi pekerja UBP bauksit Kijang tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial ekonomi, sosial spasial dan persepsi mereka terhadap sektor non-tambang. Justru, dalam proses transformasi sektoral tersebut hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor kebutuhan yang diperlukan pada saat pascatambang, seperti: modal, pendidikan, peralatan dan lainnya. Faktor wilayah (sumber daya alam), sosial ekonomi dan persepsi pekerja terhadap sektor non-tambang bagi tenaga kerja UBP Bauksit Kijang tidak menjadi penentu dalam menyelesaikan pola alih kerja dan proses transformasi pekerja secara sektoral. Tetapi mereka masih memerlukan berbagai kebutuhan dalam alih kerjanya. Hal ini menunjukkan bahwa keahlian di sektor pertambangan masih belum menjadi jaminan bagi para pekerja UBP Bauksit Kijang dalam pola alih kerjanya ke sektor non-tambang, masih membutuhkan pendidikan keahlian dan peralatan. Masalah ini muncul karena beberapa faktor, antara lain: banyak pekerja yang akan kembali ke daerah asalnya (di luar Pulau Bintan), secara sosial ekonomi mereka termasuk di atas rata-rata penduduk Kabupaten Kepulauan Riau, sementara itu penghasilan sektor non-tambang kurang menjanjikan, kecenderungan alih kerja ke Sektor Jasa dan Perdagangan merupakan sektor unggulan yang tidak didukung faktor wilayah (sumber daya alam) dan lainnya.

40

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 27 40

ANALISIS JALUR TRANSPORTASI BATU BARA UNTUK INDUSTRI TEKSTIL DI KOTA/KABUPATEN BANDUNG

TRISWAN SUSENO Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211, Telp. (022) 6030483, Fax. (022) 6003373 e-mail: triswan@tekmira.esdm.go.id SARI Meningkatnya kepadatan lalu lintas jalur Cirebon-Sumedang-Bandung dan longsor adalah kendala yang dapat menghambat pengiriman batu bara dari pemasok (Cirebon) ke penggunanya (industri tekstil) di Bandung. Dalam upaya menjamin kelancaran pemasokan-kebutuhan batu bara dari Cirebon ke Bandung, telah dilakukan pengkajian terhadap 5 jalur alternatif transportasi batu bara untuk dikaji kelayakannya baik dari segi fisik jalan maupun biaya pengiriman. Berdasarkan hasil kajian tersebut, ternyata dari 5 jalur alternatif hanya 3 jalur yang layak digunakan untuk mengirim batu bara ke industri tekstil di Bandung, yaitu jalur Cirebon-CikampekBandung dengan biaya Rp. 55.000,00 per ton-km, jalur Cirebon-Cikajang-Kawali-Ciamis-Malangbong dengan biaya Rp. 81.000,00 per ton-km dan jalur Cirebon-Cimalaka-Sumedang-Bandung dengan biaya Rp. 40.000,00 per ton-km. ABSTRACT A lot of textile industries in the Bandung area have been using coal to substitute fuel oil for their burners. The coal is supplied by suppliers located at Cirebon which transport the coal by the dump trucks from their stockyards at Cirebon to the textiles stockyards in Bandung area. Until now, the coal transportation passes the conventional line of Cirebon-Sumedang-Bandung, but this line is very crowded and threatened with landslides at two points, Cadas Pangeran and Nyalindung. To maintain sustainable coal supply, a study on five alternatives of coal transportation lines has been done to decide the most feasible line. Based on this study, besides the conventional line there are three feasible alternative lines that could be suggested : CirebonCikampek-Bandung line with cost of Rp 55,000.- per ton-km, Cirebon-Cikajang-Kawali-Ciamis-MalangbongBandung line with cost of Rp 81,000.- per ton-km, and Cirebon-Cimalaka-Sumedang-Bandung line with cost of Rp 40,000.- per ton-km. Keywords : coal transportation, conventional line, alternative line

1.

PENDAHULUAN

Di wilayah Bandung terdapat lebih dari 300 perusahaan tekstil yang tersebar di dua wilayah, yaitu di Kota dan Kabupaten Bandung. Di Kabupaten Bandung industri tekstil terkonsentrasi di tiga wilayah, yaitu wilayah timur (sepanjang Jalan CileunyiCicalengka), Leuwigajah dan wilayah tengah (sepanjang Jalan Mohammad Toha DayeuhkolotMajalaya), dan wilayah barat (sekitar

Nanjung dan Padalarang). Untuk wilayah Kota Bandung penyebaran industri tekstil berbeda dengan penyebaran dengan Kabupaten Bandung. Di Kota Bandung, penyebarannya cenderung tidak terkonsentrasi dalam satu sentra. Sebagian besar bahan bakar yang digunakan untuk boiler industri tekstil adalah bahan bakar minyak (solar atau residu) dan hanya sebagian kecil perusahaan yang sudah menggunakan batu bara

Analisis Jalur Transportasi Batu bara untuk Industri Tekstil ... Triswan Suseno

41

sebagai bahan bakar pada boiler. Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bandung, pada tahun 2003 di wilayah Bandung tercatat ada sebanyak 18 perusahaan yang telah menggunakan batu bara dengan kebutuhan sebesar 274.163 ton. Hingga tahun 2004, bertambah sebanyak 20 perusahaan tekstil yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar untuk boilernya. Pemakaian batu bara hingga bulan Juni tahun 2004 tercatat sebesar 245.364 ton (Asosiasi Pertekstilan Indonesia, 2004). Tercatat 7 perusahaan yang paling banyak menggunakan batu bara yaitu PT. Kahatex, PT. Panasia Filamen Inti, PT. Ayoe Taihotex, PT. Bintang Agung, PT. Central Georgete Nusantara, Dewasuteratex dan PT. Trisulatex (Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten Bandung, 2004). Untuk saat ini, pemasokan batu bara ke beberapa industri tekstil masih tampak lancar. Akan tetapi, apabila seluruh perusahaan tekstil di Kota/Kabupaten Bandung telah menggunakan batu bara, maka kelancaran pemasokan batu bara harus tetap terjaga ketersediaannya. Selain jaminan pemasokan batu bara, sarana transportasi seperti jalan dan kendaraan sangat mempengaruhi kelancaran pengiriman batu bara di masa mendatang sehingga penanggulangan sarana transportasi harus dilakukan sejak dini. Oleh karena itu, penulis akan mencoba melakukan pengkajian/simulasi terhadap berbagai kemungkinan jalur transportasi pengiriman batu bara dari lokasi pemasokan (Cirebon) ke lokasi pemakai (industri tekstil) di Kota dan Kabupaten Bandung. Model ini dapat dijadikan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah dalam mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas akibat bertambahnya kebutuhan batu bara untuk industri tekstil di daerah ini. 2. DATA DAN MODEL ANALISIS

3. 3.1

PEMASOKAN-KEBUTUHAN BATU BARA CIREBON-BANDUNG Pemasok Batu Bara

Pemasokan batu bara dimulai dari produsen batu bara yang mengoperasikan tambangnya di lokasilokasi penambangan di Kalimantan Selatan, seperti PT. Arutmin, PT. Adaro dan Koperasi Unit Desa, di Kalimantan Selatan dengan kualitas yang diterima di lokasi pemakai berkisar antara 5400-6600 kkal/kg (Sudarto, 2004). Melalui kontrak pembelian yang telah disetujui sebelumnya, batu bara hasil penambangan ini dikirim ke lokasi yang telah ditentukan oleh para pembeli. Untuk pembeli yang berlokasi di Cirebon maka tujuan pengirimannya adalah pelabuhan Cirebon. Batu bara yang dihasilkan dari tambang, diangkut dengan truk ataupun ban berjalan ( belt coveyor) menuju terminal batu bara di pelabuhan. Di terminal tersebut batu bara akan ditimbun sementara untuk menunggu dikirim ke lokasi pembeli. Pada saat akan dikirim ke lokasi pembeli, batu bara tersebut dimuat ke atas tongkang untuk diangkut menuju pelabuhan Cirebon. Tongkang yang digunakan mempunyai kapasitas angkut yang bervariasi antara 5000 MT - 8000 MT. Setelah tongkang tersebut bersandar di dermaga pelabuhan Cirebon, muatan batu bara dibongkar dan diangkut menuju stockyard yang dimiliki oleh para pembeli. Secara keseluruhan jumlah batu bara yang diterima oleh pelabuhan Cirebon mencapai 150.000 ton per bulan. Pengiriman dengan tongkang biasanya dilakukan dengan menggunakan jasa perusahaan angkutan laut yang dibiayai oleh pembeli. Hal ini dilakukan karena perusahaan tambang biasanya hanya menyediakan layanan pemuatan ke atas tongkang saja ( Free on Board). Demikian pula pembongkaran muatan batu bara dari atas tongkang dan pengangkutannya menuju stockyard dibiayai oleh pembeli. Setelah batu bara tersebut berada di stockyard, baru kemudian didistribusikan ke para konsumen, yaitu industri-industri tekstil di wilayah Jawa Barat dan wilayah lainnya. Untuk industri tekstil di wilayah Jawa Barat, pasokan batu bara dilakukan oleh pembeli yang berlokasi di Cirebon. Sebagian pembeli juga bertindak/merangkap sebagai pemasok (supplier) bagi pabrik-pabrik tekstil

Untuk mengetahui jalur transportasi yang akan menjadi alternatif pengiriman batu bara dari Cirebon ke Bandung, penulis menelusuri 5 jalur transportasi yang mungkin dapat dilalui. Data/informasi yang berkaitan dengan perusahaan pemasok di Cirebon dan keberadaan perusahaan tekstil di Bandung diperoleh dengan cara melalukan penelitian (survai) ke lokasi tersebut. Data sekunder diperoleh dari Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten Bandung, Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia Propinsi Jawa Barat. Model yang digunakan untuk menganalisis jalur alternatif adalah Model Jaringan (Gaspersz, 1990).

42

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 41 - 47

di wilayah Bandung, Cimahi, Purwakarta, dan wilayah Jawa Tengah. Oleh karena itu, pemasok tersebut membangun lokasi penyimpanan (stockyard) yang berlokasi tidak jauh dari pelabuhan, yaitu di tepi jalan raya Losari dengan kapasitas yang bervariasi antara 3.0005.000 ton. Di samping itu, lokasi tersebut berdekatan dengan gerbang tol Kanci sehingga mempermudah pengiriman batu bara ke luar daerah. Di lokasi ini, tercatat 8 buah pemasok berada di sebelah timur tol Kanci dan 2 buah pemasok di sebelah baratnya. Di samping itu, terdapat 4 buah pemasok lain yang memilih stockyard yang berlokasi di pelabuhan Cirebon. Nama dan lokasi para pemasoknya tertera pada Tabel 1. Sebagian besar perusahaan tekstil membeli batu bara secara langsung ke agen-agen penyedia batu bara di wilayah Cirebon, harganya berkisar antara Rp.300.000 Rp.400.000 per ton sampai di tempat tujuan.

Secara keseluruhan jumlah stockyard di Cirebon mencapai 14 buah dengan kapasitas setiap stockyard berkisar antara 3000-5000 ton. Kalau kapasitas rataratanya adalah 4000 ton, maka jumlah kapasitas stockyard Cirebon akan mencapai 46.000 ton. Di sisi lain, konsumsi batu bara oleh pabrik tekstil ratarata mencapai 1.372 ton per hari atau 41.160 ton per bulan. Angka ini lebih rendah dari konsumsi batu bara oleh pabrik tekstil di wilayah Bandung yang tercatat di Pelabuhan Cirebon, yaitu 45.000 ton per bulan. Selisih yang terjadi sebagai akibat dari adanya penimbunan batu bara di beberapa pabrik tekstil sebagai cadangan pada musim hujan. Namun demikian selain pabrik tekstil juga terdapat konsumen lain, di antaranya adalah : pabrik semen, pabrik kertas, pabrik ban, dan industri peleburan baja. Besar konsumsi tiap pabrik tersebut tertera pada Tabel 2. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh stockyard batu bara adalah kebisingan dan debu di lokasi

Tabel 1.

Pemasok batu bara dan lokasi Stock Yard

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Nama pemasok Ad Coal Dharma Jaya Putra Berdikari Inti Mandiri Puskopad Berkala Dharma Jaya Putra Bandung Ekspres Lestari Terminal Batu bara Indah (TBI) Berdiri Inti Mandiri (BIM) Budi Usaha Makmur (BUM) Sentral Batu bara Jawa

Lokasi Sebelah timur tol Kanci Sebelah timur tol Kanci Sebelah timur tol Kanci Sebelah timur tol Kanci Sebelah timur tol Kanci Sebelah timur tol Kanci Sebelah barat tol Kanci Pelabuhan Cirebon Pelabuhan Cirebon Pelabuhan Cirebon Pelabuhan Cirebon

Sumber : Berdasarkan hasil survai

Tabel 2.

Distribusi batu bara dari Stock Yard Cirebon

No 1 2 3 4 5

Konsumen Pabrik Tekstil Bandung dan sekitarnya Pabrik Tekstil Batang, Pekalongan Pabrik Semen Palimanan Pabrik Semen Cibinong dan Cilacap Pabrik lain-lain (ban, kertas, peleburan, dll) Jumlah

Jumlah (ton/bln) 45.000 6.000 50.000 30.000 19.000 150.000

Sumber : Sudarto, PT. Terminal Batu bara Indah, 2004, Cirebon

Analisis Jalur Transportasi Batu bara untuk Industri Tekstil ... Triswan Suseno

43

bersangkutan dan sekitarnya. Kebisingan berasal dari deru mesin-mesin alat berat seperti buldoser, loader, dan backhoe yang sedang bekerja mengumpulkan dan memuat batu bara. Di samping itu, kebisingan juga berasal dari deru mesin-mesin truk pengangkut batu bara yang kesemuanya bermesin diesel dengan kapasitas di atas 20 ton. Debu batu bara berasal dari butiran batu bara berukuran halus, 60 100 mesh. Selain berukuran halus, debu ini juga ringan sehingga sangat mudah terbawa angin. Untuk mengurangi debu yang beterbangan, maka dilakukan penyemprotan air pada stockpile maupun halaman stockyard pada periode tertentu. Upaya lain adalah memasang dinding yang tinggi sekitar 3-4 meter di sekeliling stockyard untuk mengurangi terpaan angin yang bertiup kencang. Penyemprotan air selain bermanfaat bagi pengurangan debu yang berterbangan juga berguna untuk menurunkan suhu stockpile . Intensitas pemanasan yang berlebihan yang bersumber dari terik sinar matahari dapat berakibat meningkatnya suhu stockpile, sehingga beresiko terjadi swa bakar (self combustion) pada stockpile tersebut. Swabakar tersebut adalah reaksi oksidasi yang berlangsung secara alami pada batu bara, biasanya untuk batu bara peringkat rendah, sehingga batu bara tersebut menjadi terbakar. 3.2 Pemakai Batu bara

Kemungkinan lainnya adalah terjadinya gangguan pada jalur pengangkutan batu bara dari tambang ke pembeli di Cirebon, ke pemasok, hingga ke konsumen. Gelombang laut yang besar pada musim hujan, merupakan penghambat perjalanan tongkang batu bara menuju Cirebon. Di samping itu, gangguan keamanan yang pernah terjadi di lokasi stockyard Cirebon sebagai akibat dari konflik/benturan kepentingan dengan masyarakat setempat serta semakin padatnya jalur lalulintas Cirebon-Bandung merupakan faktor tambahan bagi keterlambatan pasokan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi resiko gangguan pasokan dapat dilakukan melalui peningkatan cadangan dan pembangunan stockyard di wilayah Bandung dan sekitarnya. Stockyard tersebut harus mampu memasok semua konsumennya di wilayah Bandung dan sekitarnya. Keterlambatan pasokan dari lokasi tambang ke pelabuhan Cirebon pada musim hujan sekitar 2 minggu. Dengan demikian, cadangan di stockyard Bandung harus mampu menopang operasi boiler minimal selama 2 minggu. Jumlah minimal cadangan batu bara di stockyard tersebut adalah 14 x 1372 ton = 19.208 ton. Pada umumnya industri tekstil yang telah memanfaatkan batu bara tidak terlepas dari kekhawatiran mengenai pemasokan batu bara dan masalah lingkungan. Berkaitan dengan masalah lingkungan adalah abu dasar (bottom ash) dari hasil pembakaran batu bara. Perusahaan mengalami kesulitan untuk membuang abu batu bara tersebut mengingat tidak tersedianya lokasi-lokasi tempat pembuangan. Jika di masa mendatang semua industri tekstil di Bandung menggunakan batu bara, maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan permasalahan dalam pemasokan batu bara dan juga transportasinya. 4. PENGANGKUTAN BATU BARA

Selama ini, pabrik tekstil yang mengoperasikan boiler di wilayah Bandung memiliki cadangan batu bara untuk operasi selama 4 8 hari, terutama pada musim hujan. Meskipun boiler tekstil di wilayah Bandung dan sekitarnya mengkonsumsi batu bara sebesar 41.160 ton per bulan (Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung, 2004), belum ada pemasok yang membangun stockyardnya di Bandung. Dengan demikian, seluruh boiler di wilayah ini sangat bergantung pada pasokan batu bara dari para pemasok di Cirebon. Apabila terjadi gangguan terhadap pasokan tersebut sehingga pasokannya terhenti selama 8 hari atau lebih, maka operasi semua boiler batu bara tersebut akan terancam berhenti. Pasokan dari tambang sering mengalami keterlambatan pada musim hujan antara bulan Oktober sampai Januari, terutama tambang berskala kecil yang dikelola oleh koperasi setempat. Gangguan hujan tersebut berpengaruh langsung terhadap tingkat produksi batu bara, baik dalam operasi penggalian maupun pengangkutannya di daerah tambang.

Dalam pengangkutan batu bara dari tambang sampai ke konsumen diterapkan moda transportasi yang beragam, yaitu transportasi darat dan laut. Berikut adalah moda transportasi yang sedang diterapkan untuk memasok batu bara dari tambang di Kalimantan Selatan sampai di stockyard pabrik tekstil di Bandung. Dalam bagian ini akan dibahas pengangkutan batu bara dari stockyard Cirebon sampai stockyard di Bandung, sesuai dengan ruang lingkup kajian. Moda

44

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 41 - 47

transportasi seperti tertera pada Tabel 3 adalah moda transportasi yang sedang dan telah diterapkan pada saat ini. Dengan moda tersebut, jalur transportasi dari Cirebon menuju Bandung dilakukan dengan truk melalui jalan raya. Kepadatan lalu lintas sepanjang jalan raya menyebabkan truk pengangkut batu bara memerlukan waktu sekitar 6 jam untuk menempuh jalur Cirebon-Sumedang-Bandung. Jarak tempuh truk adalah 128 km sehingga kecepatan rata-ratanya adalah 21,3 km/jam. Dalam transportasi ini, gangguan yang sering terjadi adalah terjadinya kemacetan lalu lintas dan tanah longsor. Kepadatan lalu lintas pada jalur tersebut cenderung terus meningkat seiring meningkatnya kegiatan ekonomi di wilayah Bandung-Cirebon dan sekitarnya. Oleh karena itu, kecepatan pengangkutan rata-rata terancam menurun dari 21,3 km/jam pada tahun-tahun mendatang. Jalur Cirebon Bandung menelusuri pinggang pebukitan, sehingga jalan yang dibangun sempit dan berkelok-kelok. Kondisi morfologis yang demikian sangat menyulitkan pemerintah setempat untuk meningkatkan dan melebarkan jalan raya yang ada. Di samping itu, lereng pebukitan yang curam dan tersusun oleh material lepas sangat rawan longsor. Daerah Nyalindung (Kecamatan Paseh) dan Cadas Pangeran (Kecamatan Rancakalong) di Sumedang merupakan titik-titik rawan longsor, terutama pada musim hujan. Titik tersebut merupakan potensi gangguan terhadap pasokan batu bara ke Bandung dan sekitarnya. Pada saat terjadi longsor di titik-titik tersebut, maka jalur transportasi ke dua arah tertutup sehingga menghambat pasokan sampai jalur normal kembali. 5. ANALISIS JALUR ALTERNATIF TRANSPORTASI BATU BARA

1)

Jalur Cirebon-Sumedang-Jalan Cagak-Bandung

Panjang jalur ini 156 km melalui daerah pegunungan sehingga jalan yang dilalui berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan. Meskipun demikian, jalur dari Cirebon sampai Jalan Cagak dapat dilalui oleh truk tronton pengangkut batu bara dengan mudah. Masalah terbesar adalah jalur Jalan Cagak sampai Bandung, karena jalur ini harus melalui tanjakan Emen, yaitu tanjakan terpanjang dan tertinggi yang membentang dari Ciater sampai simpang tiga ke arah Tangkuban Perahu. Truk tronton dengan muatan penuh 25 ton batu bara tidak akan mampu melalui tanjakan ini. Oleh karena itu, jalur alternatif ini tidak dapat dipilih untuk menggantikan jalur yang telah ada. 2) Jalur Cirebon-Indramayu-Pamanukan-SubangBandung

Panjang jalur ini 207 km, jauh lebih panjang dari jalur alternatif sebelumya. Jalur dari Cirebon IndramayuPamanukan merupakan bagian dari jalur pantura, sehingga jalannya relatif datar dan luas. Demikian pula jalur dari PamanukanSubang relatif datar sehingga tronton dengan mudah melaluinya. Namun karena jalur yang tersisa yaitu Subang Bandung harus melalui tanjakan Emen, maka tronton bermuatan penuh batu bara tidak akan mampu melewatinya. Dengan demikian, jalur alternatif ini tidak layak untuk dipilih untuk menggantikan jalur yang telah ada. 3) Jalur Cirebon-Cikampek-Bandung

Dengan semakin padatnya jalur transportasi Cirebon, Sumedang, Bandung menyebabkan truk pengangkut batu bara mengalami kesulitan dalam pengirimannya. Oleh karena itu, dicari beberapa jalur alternatif untuk menentukan jalur yang paling sesuai untuk dilalui :

Jalur ini jauh lebih panjang dari jalur yang telah ada, yaitu 231 km. Pada jalur ini pengangkutan batu bara tidak menggunakan truk tronton, namun menggunakan kereta api. Alternatif ini dimunculkan, karena selama ini telah tersedia jaringan rel kereta api antara CirebonCikampekBandung. Bila jalur ini dapat digunakan, maka pengangkutan batu bara akan menjadi lebih mudah. Pengangkutan batu bara dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: batu bara dari tongkang dibongkar ke atas truk, selanjutnya

Tabel 3.

Moda transportasi pemasokan batu bara

Jalur transportasi 1. Tambang - Pelabuhan Tambang 2. Pelabuhan Tambang Pelabuhan Cirebon 3. Pelabuhan Cirebon - Stockyard Cirebon 4. Stockyard Cirebon - Stockyard Bandung

Moda transportasi Darat, truk, belt conveyor Laut, kapal/tongkang Darat, jalan raya, truk Darat, jalan raya, truk

Keterangan Stockyard pelabuhan dan losari 128 km lewat Sumedang

Analisis Jalur Transportasi Batu bara untuk Industri Tekstil ... Triswan Suseno

45

truk bergerak menuju stasiun kereta api di pelabuhan. Batu bara dari atas truk dipindahkan ke atas gerbong, selanjutnya diangkut ke Bandung melalui Cikampek. Stasiun batu bara yang dipilih di Bandung adalah stasiun Gedebage.Biaya pengiriman batu bara dengan menggunakan kereta api melalui Cikampek sebesar Rp. 55.000,00 per ton. 4) Jalur Cirebon-Cikajang-Kawali-CiamisMalangbong

Dari ke lima jalur alternatif tersebut, ternyata hanya ada 3 jalur yang layak sebagai jalur transportasi pengiriman batu bara, yaitu Jalur Cirebon-CikampekBandung, jalur Cirebon-Cikajang-Kawali-CiamisMalangbong dan jalur Cirebon-Cimalaka-SumedangBandung. 6. PENUTUP

Jalur ini merupakan jalur transportasi terpanjang dengan menggunakan truk, yaitu 230 km melalui jalur selatan. Jalur yang dilalui adalah dari Cirebon menuju Cikijing (Kab. Kuningan), terus ke arah Kawali (Kab. Ciamis) dan menuju ke Kota Ciamis sehingga menembus jalur selatan Jawa. Selanjutnya mengikuti jalur selatan ini menuju ke Bandung. Selain panjang, jalur ini juga melewati daerah pebukitan dengan banyak kelokan dan tanjakan, terutama di daerah Panawangan (Kab. Ciamis), Malangbong (Kab. Garut), dan Nagreg (Kab. Bandung). Oleh karena itu waktu yang diperlukan menjadi lebih besar dari jalur Cirebon-SumedangBandung yang panjangnya sekitar 128 km dengan waktu tempuh 6 jam. Tranportasi lewat jalur selatan akan memerlukan waktu tempuh antara 1012 jam, sehingga konsekuensi penggunaan jalur ini adalah meningkatnya waktu tempuh antara 4-6 jam dan biaya transportasi. Dengan demikian, biaya transportasi batu bara lewat jalur ini menjadi sekitar Rp 81.000,-/ton. Harga batu bara melalui jalur Selatan ini menjadi berkisar antara Rp. 300.000 - Rp 450.000 per ton, namun demikian harga ini masih tetap lebih ekonomis daripada harga BBM untuk operasi boiler tekstil. 5) Jalur Cirebon-Cimalaka-Sumedang-Bandung

Proses penyediaan dan pemanfaatan batu bara untuk boiler dalam industri tekstil di Propinsi Jawa Barat, bukanlah suatu hal yang mudah dan sederhana, sehingga memerlukan penanganan yang khusus mengingat berbagai hal yang dapat menimbulkan permasalahan. Berdasarkan hasil analisis di lapangan, terdapat beberapa permasalahan yang mungkin timbul mulai dari pemesanan hingga pengirimannya, antara lain : Kedatangan batu bara di Pelabuhan Cirebon, akan menyebabkan terjadinya pembongkaran batu bara. Jika telah banyak batu bara yang dibutuhkan, maka bukan tidak mungkin kapal pengangkut batu bara (tongkang) akan semakin banyak jumlahnya merapat di pelabuhan ini. Akibat dari peristiwa ini akan menyebabkan antrian dari tongkang-tongkang yang akan melakukan pembongkaran. Untuk menanggulangi kemungkinan tersebut, maka sebaiknya instansi yang terkait meningkatkan kapasitas bongkar dan meningkatkan kapasitas sandar pelabuhan. Terbatasnya jalur transportasi pengiriman batu bara menyebabkan kemacetan/tingkat kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi. Penanganannya adalah dengan menyediakan jalur-jalur alternatif yang dapat memperlancar pengiriman batu bara. Konsekuensi yang dihadapi adalah bertambahnya biaya pengangkutan. Keterbatasan lahan penyediaan batu bara di setiap perusahaan tekstil menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan dalam penyimpanannya. Salah satu alternatif penanggulannya adalah dengan membuat atau mendirikan sentra-sentra penyediaan batu bara yang berdekatan dengan lokasi penyebaran industri tekstil. Meningkatnya permintaan batu bara akan menyebabkan kesulitan dalam penyimpanannya. Penanggulannya adalah dengan menentukan lahan penyimpanan yang sesuai dengan lokasi

Analisis pada jalur ini didasarkan pada asumsi bahwa rencana pembangunan jalan tol CileunyiCimalaka dapat segera diwujudkan. Oleh karena itu dengan melalui jalur ini, truk pengangkut batu bara dapat memperkecil jarak angkut dari 128 km menjadi 113 km. Selain menghemat waktu dan jarak angkut, jalur ini tidak melewati dua titik rawan longsor di Sumedang, yaitu Cadas Pangeran dan Nyalindung. Di samping itu, juga tidak dijumpai tanjakantanjakan yang panjang dan tinggi, seperti Malangbong dan Emen, sehingga biaya transportasi batu bara lewat jalur ini menjadi sekitar Rp 40.000,-/ton.

46

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Nomor 36, Tahun14, Januari 2006 : 41 - 47

penyebaran industri tekstil berdasarkan luas, lokasi serta memperhatikan masalah-masalah lingkungan. Kualitas batu bara sangat berpengaruh terhadap daya tahan (life time) peralatan (boiler) yang digunakan. Konsekuensinya adalah kerusakan pada boiler dan penurunan kapasitas. Penanganannya adalah dengan memilih/ membeli batu bara sesuai dengan spesifikasinya. Proses pembakaran menjadi penyebab tingkat pencemaran udara (gas, debu dan abu). Konsekuensinya adalah melampaui kadar abu yang diijinkan (masalah lingkungan). Pananganannya dengan melakukan pengawasan yang ketat terjadap kegiatan industri tekstil oleh badan yang berwenang.

2004, Indonesian Textile and Garment, Guiding Book 2002 - 2004, Bandung. Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung 2004, Daftar Perusahaan Tekstil Di Kota Bandung, Bandung. Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung 2004, Daftar Perusahaan Tekstil Di Kabupaten Bandung , Soreang. Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung 2004, Statistik Industri Di Kabupaten Bandun g , Soreang. Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung 2004, Statistik Industri Di Kota Bandung, Bandung. Gaspersz, Vincent, 1990, Analisis Sistem Terapan, Edisi pertama, Tarsito, Bandung, hal. 326 - 352. Sudarto 2004, PT. Terminal Batu bara Indah , Pelabuhan Cirebon, Cirebon.

DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat

Analisis Jalur Transportasi Batu bara untuk Industri Tekstil ... Triswan Suseno

47

Petunjuk Bagi Penulis


1. Naskah dan berkas dalam file dikirim ke Pemimpin Redaksi Jurnal tekMIRA, Jl. Jend. Sudirman No. 623 Bandung 40211. Naskah dalam file akan sangat membantu dalam proses peredaksian. Naskah harus asli dan belum pernah diterbitkan dalam publikasi lain. Judul naskah harus bersifat deskriptif dan ringkas. Redaksi akan melakukan seleksi dan memberitahukan ke penulis, bila naskah sudah diterima atau naskah tidak sesuai untuk penerbitan ini. Naskah diketik dalam dua spasi menggunakan kertas ukuran A4 dengan lebar margin kanan dan atas 3 cm serta kiri dan bawah 2 cm. Gambar dan tabel harus diberi judul dengan jelas dan dalam kertas terpisah serta ditunjukkan mengenai penempatan gambar dan tabel tersebut dalam naskah tulisan. Foto harus jelas dan siap untuk dicetak (tidak dalam bentuk negatif film). Peta maksimum berukuran A4 dan harus memakai skala. Semua huruf dalam peta harus jelas dan bila ukuran peta harus diperkecil, tinggi huruf dalam peta tersebut tidak lebih kecil dari 1,5 mm. Jumlah halaman naskah tidak ditentukan. Naskah ditulis secara ringkas sesuai isinya. 7. Nama penulis diketik pada halaman pertama di bawah judul naskah. Nama organisasi, alamat, nomor telepon dan faksimili, serta alamat e-mail (bila ada). Intisari naskah (abstract) memuat ringkasan yang jelas dari naskah tersebut serta ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Hanya rumus matematika yang penting yang dimuat dalam naskah.

2.

8.

3.

9.

4.

10. Daftar pustaka ditulis secara alfabet dengan huruf pertama (bila penulis lebih dari seorang). Urutan penulisan : nama penulis, judul referensi, penerbit, kota tempat buku diterbitkan dan tahun penerbitan. 11. Hanya artikel-artikel yang dipublikasikan yang dimasukkan sebagai referensi. Bilamana mengacu kepada artikel yang tidak dipublikasikan agar dijelaskan cara memperoleh bahan tersebut. 12. Catatan kaki supaya dihindarkan. 13. Izin untuk memproduksi hak cipta material adalah tanggung jawab penulis. Pengutipan seminimal mungkin. Bila pengutipan melebihi 250 kata penulis harus memperoleh izin tertulis dari penerbit dan penulis referensi yang bersangkutan.

5.

6.

48

Petunjuk Bagi Penulis