Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang Pengambilan judul tentang pelestarian permukiman Tradisional Dusun Ende, dilatar belakangi oleh potensi lahan pertanian yang baik, budaya dan adat istiadat serta permukiman tradisionalnya yang masih tetap terjaga, yang dapat dikembangkan secara lebih jauh. Selain itu, juga di latar belakangi oleh beberapa permasalahan diantaranya: Terdapat beberapa bangunan tradisional tampak kurang terawat dan hilangnya beberapa elemen bangunan disebabkan

pemeliharaan bangunan yang sangat tergantung pada tingkat ekonomi masingmasing pemiliknya, adanya kecenderungan masyarakat ingin mengalami perubahan dalam bentuk dan konstruksi bangunan rumah, terlihat dari berkembangnya ruang-ruang baru (rumah semi permanen) di sekitar batas pekarangan yang di khawatirkan akan merusak konsep tata ruang permukiman tradisional, dan belum adanya kebijakan khusus yang mengatur tentang bentuk pelestarian kawasan Desa budaya di Dusun Ende tersebut. Sejak lama di sadari bahwa budaya memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk struktur ruang permukiman. Penggambaran struktur ruang permukiman juga dapat di lihat dari sisi budaya lain seperti pada pelaksanaan ritual dan acara keagamaan. Acara ini bersifat rutin akan tetapi ruang yang digunakan tidak semata untuk ritual saja, sehingga strukturnya juga nampak temporal. Bagi masyarakat Sasak tradisional, rumah bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya. Pola tata ruang permukiman tradisional serta gaya arsitektur tradisional yang terdapat di Dusun Ende merupakan salah satu bentuk seragam serta budaya yang kaya akan nilai sejarah, filosofi, seni, dan budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu Dusun Ende perlu mendapatkan perhatian khusus yang dimaksudkan untuk tetap memperhatikan eksistensi dan kesinambungan prinsip-prinsip ke dalam tradisi yang baku, yaitu berupa pola tata ruang permukiman tradisional yang telah terwujud dalam ruang tradisional Dusun Ende.

Namun sayangnya pada saat ini arahan dari pemerintah mengenai permukiman tradisional belum terlalu menegenai terhadap pelestarian

permukiman tradisional yang sebenarnya. Pembentukan pola permukiman berdasarkan aturan adat Ende yang di wariskan secara turun temurun menjadi suatu hal yang menarik. Namun sayangnya desa adat ini kurang di ketahui oleh perhatian masyarakat luar kota maupun luar negeri. Pada perumahan ini elemen permukimannya meliputi rumah/bale, berugaq, dapur/pawon, lumbung, KM/WC, dan kandang. Dalam menata rumah dan elemen lain memiliki pola berjajar, dalam arti bale semua berjajar dalam satu garis lurus, demikian juga dengan berugaq dan lumbung atau kandang. I.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan dibahas, yaitu : 1. 2. Bagaimana karakteristik permukiman Adat Ende ? Bagaimana kelayakan Desa Ende sebagai Desa Adat atau permukiman Tradisional ? 3. I.3. Bagaimana arahan pelestarian Desa Ende ? dirumuskan beberapa

Tujuan Penelitian Dari berbagai rumusan-rumasan masalah di atas, maka dapat di ketahui tujuannya sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui karakteristik permukiman baik dari segi fisik maupun sosial budayanya. 2. Untuk mengetahui kelayakan Desa Ende sebagai Desa Adat. 3. Untuk mengetahui arahan pelestarian Desa Ende.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Landasan Teori Pada landasan ini menjelaskan mengenai dasar-dasar sebagai panduan dalam mengdentifikasi suatu permukiman baik dari karakteristik social budaya ataupun karakteristik pola perumahan dan permukimannya. II.1.1. Permukiman Tradisional Permukiman tradisional adalah tempat dimana yang masih memegang nilai-nilai adat dan budaya yang berhubungan dengan nilai kepercayaan atau agama yang bersifat khusus atau unik pada suatu masyarakat tertentu yang berakar dari tempat tertentu pula di luar determinasi sejarah (Sasongko 2005). Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang

diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan merupakan sebuah endapan dari kegiatan dan karya manusia yang meliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan mempunyai sifat kerohanian. Para ahli antropologi mengatakan kebudayaan merupakan sebuah dinamika masyarakat namun belum terjawab secara definisi mengenai kebudayaan yang sebenarnya. Seperti Robet H Lowie mengatakan bahwa sebuah kebudayaan mempunyai sifat abstrak dari prilaku nyata manusia yang berlokasi dari otak manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai
3

sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. II.1.2. Arsitektur Tradisional Sasak Rumah-rumah yang ada di Sasak sangat berbeda dengan orangorang Bali. Di dataran, rumah orang Sasak cendrung luas dan melintang. Desa-desa di gunung terpencil tertata rapi dan mengikuti perencanaan yang pasti. Di bagian utara, tata ruang desa-desa pegunungan yang ideal terdiri atas dua baris rumah (bale), dengan sederet lumbung padi di satu sisi, dan di antara rumah-rumah ada sederet balai bersisi terbuka (beruga) dibagun diatas enam tiang. Bagunan lain di desa adalah rumah besar (bale bele) milik para pejabat keagamaan, yang konon didiami arwah leluhur yang sakti. Semtara makam leluhur yang sebenarnya merupakan rumahrumah kayu dan bambu kecil dibangun di atasnya. Dalam arsitektur Sasak, bangunan tradisionalnya juga memiliki bagian dan fungsinya tersendiri. Menurut Saptaningtyas (2006:14) faktor yang dinilai sangat penting dalam perencanaan dan pembangunan arsitektur tradisional Sasak adalah skala dan ukuran bangunan yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selain skala, ketepatan jumlah hitungan dari ukuran masing-masing unit rumah juga menjadi perhatian utama, karena dipercaya ada pengaruhnya terhadap kehidupan

penghuninya yang menyangkut keselamatan, kabahagiaan, kemujuran, rejeki dan lain sebagainya. a. Rumah ; Tumah orang Sasak, yang berdenah persegi, tidak lazim disbandingkan dengan bentuk arsitektur asli daerah lain dalam hal ini di dalamnya tidak disangga oleh tiang-tiang. Bubungan atap curam dengan atap jerami berketebalan kurang lebih 15 cm, menganjur ke dinding dasar yang menutup panggung setinggi sekitar satu meter setengah terbuat dari campuran lumpur, kotoran kerbau, dan jerami yang

permukaannya halus dan dipelitur. Perlu tiga atau empat langkah untuk mencapai ke rumah bagian dalam (dalam bale) di atas panggung ini, yang ditutup dinding anyaman bamboo, dan sering kali dilengkapi dengan daun pintu ganda yang diukir halus. Anak laki-laki tidur di panggung di luar dalam bale;
4

anak perempuan di dalamnya. Rumah bagian dalam berisi tungku di sisi sebelah kanan, dengan rak untuk mengeringkan jagung di atasnya. Di sisi sebelah kiri dibagi untuk kamar tidur bagi para anggota rumah tangga, berisi sebuah rumah tidur dengan rak langit-langit untuk menyimpan benda-benda pusaka dan berharga di atasnya. Bagian ini merupakan tempat untuk melahirkan anak. Kayu bakar disipan di bagian belakang rumah, dibawah panggung. b. Masjid Wetu Telu ; Sebanyak kurang lebih 28.000 orang Sasak taat pada bentuk sinkretis islam yang ditunjukan dalam Wetu Telu, yang menggabungkan hindu dan kepercayaan animisme asli. Masjid Wetu Telu sering dibangun dengan gaya asli dari kayu dan bamboo, serta atap terbuat dari alang-alang atau sirap bamboo. Dengan bentuk denah persegit empat dan atap piramid tumpang yang di sangga dengan empat tiang, apabila diperhatikan maka akan terlihat mirip dengan masjid lama Ternate dan Tidore. c. Lumbung Padi ; lumbung padi menjadi cirri pembeda arsitektur suku Sasak. Bangunan itu dinaikan pada tiang-tiang dengan cara khas Austronesia dan memakai atap berbentuk topi yang tidak lazim, ditutup dengan ilalang. Empat tiang besar menyangga tiang balok melintang di bagian atas, tempat kerangka, atap penopang dengan kaso bambu bersandar. Satusatunya bukaan adalah sebuah lubang persegi kecil yang terletak tinggi di atas ujung sopi-sopi, yang merupakan tempat penyimpanan padi hasil panen. Piringan kayu yang besar (jelepreng) disusun di atas puncak tiang dasar untuk mencegah hewan pengerat mencapai tempat penyimpanan padi. d. Bale Tani ; Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal dari masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Bale Tani berlantaikan tanah dan terdiri dari beberapa ruangan, yaitu: satu ruang untuk serambi (sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale). Walaupun dalem bale merupakan ruangan untuk tempat tidur, tetapi kamar tersebut tidak
5

digunakan sebagai tempat tidur. Dalem bale digunakan sebagai tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya atau digunakan sebagai tempat tidur anak perempuannya, sedangkan anggota keluarga yang lain tidur di serambi (=sesangkok). Untuk keperluan memasak (dapur), keluarga Sasak membuat tempat khusus yang disebut pawon. Desain atapnya dengan sistem jurai yang terbuat dari alang-alang (rumbia) atau dari bahan penutup jerami di mana ujung atap bagian serambi (sesangkok) sangat rendah, tingginya sekitar kening orang dewasa. Dinding rumah bale tani pada bagian dalem bale terbuat dari bedek (anyaman bamboo), sedangkan pada sesangkok tidak menggunakan dinding. Posisi dalem bale lebih tinggi dari pada sesangkok oleh karena itu untuk masuk dalem bale dibuatkan tangga (undakundak) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawangkuri. e. Bale Jajar ; Bale jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah ke atas. Bentuk bale jajar hampir sama dengan bale tani, yang membedakan adalah jumlah dalem balenya. Bale jajar mempunyai dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (sesangkok), kedua kamar tersebut dipisah oleh lorong/koridor dari sesangkok menuju dapur di bagian belakang. Ukuran kedua dalem bale tersebut tidak sama, posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar. Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bale jajar adalah tiang kayu, dinding bedek dan alang-alang untuk membuat atap.

Penggunaan alang-alang, saat ini, sudah mulai diganti dengan menggunakan genteng tetapi dengan tidak merubah tata ruang dan ornamennya. Bangunan bale jajar biasanya berada di komplek pemukiman yang luas dan ditandai oleh keberadaan sambi yang menjulang tinggi sebagai tempat penyimpanan kebutuhan rumah tangga atau keluarga lainnya. Bagian depan bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil (disebut berugaq atau sekepat) dan pada bagian belakangnya terdapat
6

sebuah bangunan yang dinamakan sekenam, bangunan seperti berugaq dengan tiang berjumlah enam. f. Barugak/ Sakepat ; Rumah adat sasak Berugaq / sekepat mempunyai bentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) tanpa dinding, penyangganya terbuat dari kayu, bambu dan alangalang sebagai atapnya. Berugaq atau sekepat biasanya terdapat di depan samping kiri atau kanan bale jajar atau bale tani. Berugaq/sekepat ini didirikan setelah dibuatkan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya. Di antara keempat tiang tersebut, dibuat lantai dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dengan ketinggian 40 50 cm di atas permukaan tanah. Fungsi dan kegunaan berugaq / sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah. Berugaq / sekepat juga digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar). g. Sekenam ; Sekenam bentuknya sama dengan berugaq/sekepat, hanya saja sekenam mempunyai mempunyai tiang sebanyak enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam biasanya digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, penanaman nilai-nilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga. h. Bale Bonter ; Bale bonter merupakan bangunan tradisional Sasak yang umumnya dimiliki oleh para perkanggo/Pejabat Desa, Dusun/kampong. Bale bonter biasanya dibangun di tengah-tengah pemukiman dan atau di pusat pemerintahan Desa/kampung. Bale bonter dipergunakan sebagai temopat pesangkepan / persidangan adat, seperti: tempat penyelesaian masalah pelanggaran hokum adat, dan sebagainya. Bale bonter juga disebut gedeng pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejarah atau pusaka warisan keluarga. Bale bonter berbentuk segi empat bujur sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah. Bangunan ini
7

dikelilingi dinding bedek sehingga jika masuk ke dalamnya seperti aula, atapnya tidak memakai nock/sun, hanya pada puncak atapnya menggunakan tutup berbentuk berwarna hitam. i. Bale Beleq Bencingah ; Bale beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan. Bale beleq diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut Bencingah. Adapun upacara kerajaan yang biasa dilakukan di bale beleq diantaranya adalah: (1) Pelantikan pejabat kerajaan, (2) Penobatan Putra Mahkota Kerajaan, (3) Pengukuhan / penobatan para Kiai Penghulu (Pendita) Kerajaan, (4) Sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti pustaka /dokumen-dokumen Kerajaan, dsb. j. Bale Tajuk ; Bale tajuk merupakan salah satu sarana pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki keluarga besar. Bale tajuk berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah lima buah dan biasanya berada di tengah lingkungan keluarga Santana. Tempat ini dipergunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan pelatihan macapat takepan, untuk kopyah

menambah wawasan dan tata krama. k. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq ; Selain jenis bangunan yang telah disebut di atas, adapula jenis bangunan lain yang dibangun berdasarkan kondisi-kondisi khusus, seperti bale gunung rate dan bale balaq. Bale gunung rate biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal di lereng pegunungan, sedangkan bale balaq dibangun dengan tujuan untuk

menghindari bencana banjir, oleh karena itu biasanya berbentuk rumah panggung. II.2. Kebijakan tentang Permukiman Menurut undang-undang nomor 4 tahun 1992, permukiman adalah lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik kawasan perkotaan maupun

perdesaan sebagai lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

a.

Undang- undang mengenai permukiman tradisional.

Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992, permukiman adalah


lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik kawasan perkotaan maupun perkotaan sebagai lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan;

Menurut Sinulingga (1999: 187), permukiman adalah gabungan 4


elemen pembentuknya (lahan, prasarana, rumah dan fasilitas umum) dimana lahan adalah lokasi untuk permukiman. Kondisi tanah mempengaruhi harga rumah, didukung prasarana permukiman berupa jalan lokal, drainase, air kotor, air bersih, listrik dan telepon, serta fasilitas umum yang mendukung rumah;

Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992, perumahan adalah


kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, sedangkan rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.

Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian akan dilakukan, beserta jalan dan kota/kabupatennya. Dalam penelitian ini saya mengambil di Desa Adat Ende yang terletak di Jl. Priwisata, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Lombok tengah merupakan salah satu Kabupaten dari Provinsi NTB yang memiliki beberapa titik-titik lokasi Desa Adat atau Permukiman Tradisional dengan potensi yang baik yaitu kerajinan tangan (nyesek songket dan patung ukir) dan pertanian yang memiliki hasil yang baik.

3.2.

Rancangan Penelitian Penelitian kualitatif lebih menitik beratkan diri pada pendekatan emik, akan tetapi walaupun sudah jelas batas-batas dan caranya, masih saja terdapat pekerjaan yang berada di antara emik dan etik (Moleong,1991:59). Pendekatan emik oleh Moleong (1991:54) adalah struktural yang berarti peneliti berasumsi bahwa perilaku manusia terpola dalam sistem pola itu sendiri. Satuan-satuan dari sistem terpola tersebut bersama-sama dengan satuan-satuan kelompok struktural itu membentuk masyarakat tertentu melalui aksi dan reaksi para anggotanya. Menurut Moleong (1994:5), dalam penelitian kualitatif digunakan metoda kualitatif dengan pertimbangan, (1) menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda, (2) metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, dan (3) metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Sugiyono (2008:222) mengatakan bahwa metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai dibalik data yang tampak. Penelitian Pelestarian Pola Permukiman (P3) di Desa Adat Wisata di Dusun Ende di Desa Sengkol, Lombok Tengah.

10

Rancangan Penelitian

Kurangnya perhatian dan optimaliasi terhadap potensi yang dimiliki oleh Dusun Ende

belum adanya arahan khusus yang mengatur tentang bentuk pelestarian kawasan Desa budaya di Dusun Ende tersebut.

mengidentifikasi karakteristik permukiman dan kelayakan desa sebagai Desa Adat terkait dengan upaya pelestarian permukiman di Desa Adat Ende.

Bagaimana pengembangan pelestarian permukiman tradisional berdasarkan dengan konsep Dusun Ende

Analisis - Informasi; - Karakteristik fisik permukiman; - Karakteristik sosial budaya;

Analisis Kelayakan - Nilai historis; - Keistimewaan; - kelangkaan; - kejamakan; dan - Estetika

Arahan Pelestarian

Kesimpulan

3.3.

Variabel Penelitian Dengan adanya masalah itu, kemudian rumusan masalah dapat dikembangakan. Rumusan masalah pada umumnya berupa kalimat pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyan yang ada pada rumusan masalah tersebut nantinya akan menjawab variabel penelitian. Menurut Sugiono (2009) menyatakan bahwa Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi
11

tentang hal tersebut, yang kemudian ditarik kesimpulannya. Suatu variabel mengandung variasi. Variasi dalam variabel tersebut diperoleh dari sekelompok sumber data atau obyek yang bervariasi. Variabel dapat dipelajari yang kemudian bisa ditarik kesimpulan. Hubungan antara variabel yang satu ke variabel yang lain perlu kita ketahui bagamaina hubungannya. Oleh karena itu, dari rumusanrumusan masalah maka dapat di tentukan suatu variabel yaitu Variabel Pelestarian Permukiman. Tabel. 3.3. Operasionalisasi Variabel Penelitian No. 1 Sasaran Identifikasi Karakteristik Permukiman Kriteria Karakteristik Fisik Variabel Fisik Bangunan Sub Variabel/ Parameter Keadaan rumah: material yang masih baik dan bersifat alami. struktur bangunan yang terdiri dari pondasi, dinding, dan atap. Keadaan kandang: material yang bersifat alami (natural). struktur bangunan yang terdiri dari tiang penegak dan atap saja. Keadaan koperasi: material penggunaan bangunannya yang bersifat natural struktur bangunannya terdiri dari dinding dan atap saja. Struktur Ruang Bangunan Rumah: Tangga Sengko (tangga undakan luar). Ada ruang Sengko, yang terdiri dari : sesangkok kiri dan sesangkok kanan. Tangga Bale dalem (tangga undakan dalem) Dalem Bale, yang terdiri dari : ruang tidur, pawon dan sempare.

12

Kandang: Kandang yang terdiri dari : ruang kerbau dan penempatan rumput kerbau. Koperasi: Ruang Koperasi yang terdiri dari : ruang pengunjung, dan penempatan barangbarang hasil karya tangan warga Ende. Pola Ruang Permukiman Konsep arah matahari: menghadap ke arah timur (sinar matahari) menunjukkan pembentukan karakter
masyarakat Sasak bahwa yang muda melindungi yang tua.

Konsep sejajar dan seragam: Suatu kelompok dan


dapat dikatakan secara keseluruhan merupakan satu warga besar yang terdiri atas anak, cucu, kemenakan, merupakan satu kesatuan dari keluarga.

Karakteristk Sosial

Kependudukan

Kekerabatan: Asal muasalnya keberadaan masyarakat Ended an terbentuknya Dusun tersebut. Tingkat kependudukan: Tingkat penduduk yang masih rendah dengan jumlah 19 kk = 76 Orang. Kehidupan Ekonomi: Dengan cara bertani dan kerajinan tangan. Kehidupan Religi: Semua penduduk Dusu
13

Ende beragama Islam. Kebudayaan Upacara adat antara Manusia dengan Tuhan Rowah Wulan dan Sampet Jumat Maleman Pitrah dan Lebaran Tinggi Lebaran Pendek Mulud Buang Au Ngurisang dan MolangMalik Ngitangan Merosok Merari, Mentikah, dan Sorong Serah Sajikrama Rowah Bale Gawe Pati Mempertahankan fungsi-fungsi bangunan serta keistimewaan sejarah terbentuknya Dusun tersebut. Selain mempertahankan guna mengembangkan dan menjadikan Permukiman Tradisional yang benarbenar Original.

Upacara adat antara Manusia dengan Manusia

Identifikasi kelayakan permukiman adat Dusun Ende

Budaya

Sejarah Keistimewaan Estetika

Arah Pelestarian Pengembangan

Preservasi dan Konservasi

3.4.

Teknik Pengumpulan Data Menurut Rachman, bahwa penelitian menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Metode yang digunakan untuk proses pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan proses triangguasi, yaitu:

1. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

Percakapan itu dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu pewancara

14

(interviuewer) yang mengajukan pertanyaan dari yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan atas itu. Wawancara digunakan untuk mendapatkan suatu data informatik dan orientik mengenai keadaan permukiman (settleman) di Desa Adat Ende. Metode interview adalah sebuah dialog atau Tanya jawab yang dilakukan dua orang atau lebih yaitu pewancara dan terwancara (nara sumber) dilakukan secara berhadap-hadapn (face to face). Sedangkan interview yang penulis gunakan adalah jenis interview pendekatan yang menggunakan petunjuk umum, yaitu mengharuskan pewancara membuat kerangka dan garis-garis besar atau pokok-pokok yang dinyatakan dalam proses wawancara, penyusunan ini dilakukan sebelum wawancara. 2. Pengamatan/observasi Sebagai metode ilmiahobservasi dapat di artikan sebagai

pengamatan, meliputi pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi observasi merupakan suatu penyelidikan yang dilakukan secara sistematik dan sengaja di adakan dengan menggunakan alat indra terutama mata terhadap kejadian yang berlangsung dan dapat di analisa pada waktu kejadian itu terjadi. Metode ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap kondisi yang akan diteliti. Dimana dilakukan pengamatan atau pemusatan perhatian terhadap obyek dengan

menggunakan seluruh alat indra, jadi mengobservasi dilakukan melalui penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya. 3. Dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang tertulis, metode dokumentasi berarti cara pengumpulan data dengan mencatat data-data yang sudah ada. Metode dokumentasi adalah mencari data hal-hal atau variabel yang berupa catatan buku, surat, transkrip, majalah, prasasti, motulen, rapat, lengger, agenda dan sebagainya. Namun pada study ini dokumentasi yang kami artikan sebagai gambar sebuah obyek survey yang lebih mengarah ke gambar fasade bangunan maupun kawasan survey.

15

3.5.

Metode Analisis Data Dari data yang telah di dapatkan maka dapat dilakukan suatu analisis dengan Metode Analisis Deskriptif dan Kualitatif. Metode kualitatif adalah pengamatan seorang peneliti untuk menginterpretasikan suatu obyek dimana tempat melakukan riset. 1. Tahap pertama: mengidentifikasi karakteristik sosial budaya masyarakat Dusun Ende. a. Tinjauan sejarah dan perkembangan Dusun Ende dan budaya bermukim masyarakat Suku Sasak Ende yang meliputi sejarah munculnya dusun dan permukiman tradisional. b. Analisis sosial budaya (Koentjaraningrat, 1982) 1) Sistem kelembagaan; 2) Sistem kemasyarakatan/kekerabatan; 3) Kehidupan ekonomi; dan 4) Kehidupan budaya dan religi Hasil interpretasi sejarah dan pengaruhnya terhadap karakteristik sosial budaya masyarakat Dusun Ende, dijadikan dasar untuk mendukung kajian untuk analisis karakteristik pola tata ruang permukiman tradisional. 2. Tahap kedua: mengidentifikasi pola tata ruang permukiman Dusun Ende dan menganalisis kesesuaiannya dengan konsep pola tata ruang tradisional Suku Sasak. a. Analisis tata guna lahan dilakukan untuk melihat elemen apa saja yang membentuk ruang permukiman, pengaruhnya terhadap pemanfaatan guna lahan, dan peletakan elemen berdasarkan konsep yang dikenal dalam pola tata ruang tradisional Suku Sasak. Selanjutnya, untuk melihat keterkaitan antar elemen-elemen pembentuk kawasan

pedesaan, dilakukan analisis dengan teknik super impose guna lahan. Kajian elemen pembentuk kawasan pedesaan meliputi: 1) Perairan; 2) Hutan; 3) Permukiman; 4) Pertanian;
16

5) Infrastruktur; dan b. Analisis ruang budaya dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan hirarki ruang dan sifat penggunaan ruang yang ada di Dusun Ende. Pendekatan yang dilakukan adalah secara eksploratif, dengan melihat fungsi dan kepentingan ruang permukiman dari hasil analisis kehidupan budaya dan religi dan kegiatan masyarakat sehari-hari. c. Analisis pola tata ruang tempat tinggal. Pada tahap ini, analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tiga variabel, yaitu di antaranya: 1) Fisik bangunan dan pekarangan; 2) Struktur tata ruang tempat tinggal; dan 3) Pola tata bangunan. 3. Tahap ketiga: menentukan arahan pelestarian secara fisik dan non fisik berdasarkan analisis pola permukiman sebelumnya dengan kondisi bangunan eksisisting yang ada.

17

BAB IV PEMBAHASAN

4.1.

Sejarah Terbentuknya Permukiman Tradisional Sasak Dusun Ende Dusun Ende adalah salah satu permukiman tradisional di pulau Lombok dan kalau di lihat dari segi kualitas bangunannya masih terlihat sangat natural karena belum adanya bangunan-bangunan yang mempengaruhi fasade bangunan di Dusun tersebut. Terbentuknya Dusun Ende berasal dari pecahan kerajaan tertua di Pulau Lombok akibat dari meletusnya gunung Rinjani masing-masing sekelompok orang membangun suatu permukiman di berbagai tempat termasuk salah satunya di Desa Sengkol. Kata Ende merupakan salah satu bahasa dari suku sasak yang berarti perisai. Dimana fungsi perisai sebagai alat atau tameng dalam berperang pada zaman terdahulu. Namun pada saat ini perisai (Ende) itu di gunakan sebagai salah satu alat dalam melakukan suatu adat kesenian bela diri yang di kenal dengan sebutan Presean. Presean adalah sebuah tradisi yang digelar rutin tiap tahun oleh masyarakat suku Sasak di mana dalam Presean ini diadakan sebuah pertarungan antar dua orang di arena dengan bersenjatakan sebilah rotan dengan lapisan aspal dan pecahan kaca yang dihaluskan, sedangkan perisai (Ende) terbuat dari kulit lembu atau kerbau. Setiap pemainnya/pepadu dilengkapi dengan ikat kepala dan kain panjang. Tak heran jika di lihat dari segi pola permukian pada dusun ini berbentuk persegi yang melambangkan model dari suatu Perisai.

Gambar 4.1. Kesenian Bela Diri Suku Sasak (sumber: Google)

18

4.2.

Identifikasi Kawasan Dusun Ende merupakan salah satu Permukiman Tradisional yang terdapat di Pulau Lombok yang terletak di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Sketsa. 4.2. Dusun Ende

4.3.

Karakteristik Fisik 4.3.1. Struktur Ruang Permukiman Permukiman di Desa Adat Ende terbentuk karena adanya keterikatan secara keturunan. Sama seperti di wilayah lainnya di Pulau Lombok, masyarakatnya hidup secara mengelompok. Masyarakat di Desa Adat Ende tinggal bersama atau berkelompok mengikuti garis keturunan ayah (patrilineal). Keturunan laki-laki yang baru menikah biasanya akan membangun rumah baru di lahan yang sama dengan orang tuanya. Kepercayaan masyarakat terhadap susunan letak rumah dalam satu rumpun keluarga berdasarkan senioritas terus diturunkan kepada anak cucu mereka. Hal ini didukung dengan keyakinan masyarakat Ende akan adanya sanksi jika tidak mengikuti aturan adat ini. Sanksi yang dipercaya adalah keluarga yang melanggar akan terkena musibah penyakit. Selain itu juga, aturan ini bertujuan untuk memudahkan dalam melihat silsilah keturunan dalam kelompok keluarga tersebut.

19

a.

Konsep Arah Matahari Konsep filosopis yang dimiliki warga sasak yang sering di gunakan

di berbagai desa di pulau Lombok. Dimana konsep filosopis ini adalah konsep arah matahari.

Gambar 4.3.1.a. Sumber (Google)

Semua permukiman adat di Dusun Ende menghadap ke arah timur (sinar matahari) menunjukkan pembentukan karakter masyarakat Sasak
bahwa yang muda juga harus melindungi yang tua, dan jika ada musuh menyerang maka kaum yang mudalah yang terlebih dahulu harus menyerang. b.

Konsep pembangunan Rumah dan elemennya secara berderet dan tanah

berundak-undak Pembangunan rumah dengan konsep ini mencerminkan penduduk yang terdiri dari satu kelompok dan dapat dikatakan secara keseluruhan merupakan satu warga besar yang terdiri atas anak, cucu, kemenakan, merupakan satu kesatuan dari keluarga majemuk.

Peta. 4.3.1.b. Struktur Ruang Permukiman Konsep undak-undakan ini di iterprestasikan pada baris horizontal maupun vertikal. Dari baris horizontal semakin ke tengah undakundakannya semakin rendah, dan dari baris vertikal semakin ke arah belakang maka undak-undakannya semakin tinggi selain memiliki fungsi
20

dari segi keamanan agar menghindari bencana alam jika suatu saat terjadi, serta terhindar dari malapetaka yang dapat menimpa Dusun Ende, juga menjaga agar rumah generasi tua yang terletak di baris belakang, akan tetap mendapatkan sinar matahari yang cukup mengingat tempatnya yang lebih tinggi dari baris didepannya.

Gambar1. 4.3.1.b. Tampak Sebelah Utara

Gambar2. 4.3.1.b. Struktur Pola Ruang (Hasil Survei) c. Konsep Sejajar dan Seragam (seteran) Pola ruang permukiman yang yang berderet horizontal UtaraSelatan dan arah rumah berhadap Timur/barat. Di Dusun ini terdapat 19 unit rumah, 5 buah kandang, 2 lumbung padi, 5 barugak, dan 1 koperasi.

21

Gambar. 4.3.1.c. Struktur Penataan Ruang

4.3.2. Struktur Ruang Bangunan Bale adat sasak Ende yang menghadap ketimur sebagian memilki elemen berupa kandang di depan bale. Struktur dari beberapa bangunan di Dusun Ende sebagai berikut: 1. Bale Sasak Bale Sasak ini memiliki denah berbentuk segi empat, yang terbagi menjadi dua ruang yaitu ruang sengko (ruang bawah) yang berfungsi sebagai ruang tamu (sesangkok), dan dalem bale (ruang atas) yang terdiri dari kamar tidur, dan dapur, antara ruang sengko dan dalam bale dibatasi oleh undak-undak (anak tangga).

Gambar. 4.3.2.1. Striktur Ruang Bale (sumber google)

Fungsi elemen-elemen ruang rumah pada bagian dalem bale (ruang atas) tersebut antara lain: a. Dalem bale (Ruang Tidur) berfungsi untuk tempat tidur biasanya masyarakat Ende digunakan untuk para wanita baik istri maupun anak, dan ruang khusus bila perempuan

22

akan melahirkan atau mayat seseorang disemayamkan sebelum dikebumikan; b. Pawon atau dapur bagi masyarakat Ende difungsikan sebagai tempat memasak; c. Sempare (ruang simpan barang), letak sempare biasanya berada di atas dapur/ langit-langit rumah atau di sebelah kiri tempat tidur; d. Ruang Sengko (Ruang Bawah) yang terdiri dari sesangkok (ruang tamu) yang letaknya berada di depan pintu masuk rumah utama sebagai tempat menerima tamu dan tempat duduk-duduk; 2. Kandang Kandang komunal yang dijadikan satu dan berada di luar ruang atau halaman besar permukiman asli Sasak, terletak tepat di depan baleq sasak.

Gambar. 4.3.2.2. Kandang

4.4.

Karakteristik Sosial Budaya Masyarakat Ende yang dulunya berasal dari berbagai kerjaan yang kini masih memegang adat-adat budaya tersebut. Beberapa kegiatan budaya yang sering di laksanakan masyarakat Ende. 4.4.1. Upacara Adat Terkait dengan Hubungan Manusia dengan Tuhan a. Rowah Wulan dan Sampet Jumat Upacara adat Rowah Wulan dan Sampet Jumat dilaksanakan untuk menyambut tibanya bulan puasa. Rowah Wulan dilaksanakan pada hari pertama bulan Saban, sedangkan Sampet Jumat
23

dilaksanakan pada hari Jumat terakhir di bulan Saban. Upacara adat ini dilaksanakan oleh para tokoh adat di tiap-tiap kampu; b. Maleman Pitrah dan Lebaran Tinggi Upacara adat Maleman Pitrah dilaksanakan sehari sebelum perayaan Lebaran Tinggi. Upacara adat Lebaran Tinggi dilaksanakan untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri. Pelaksanaan upacara adat Maleman Pitrah berupa pengumpulan zakat fitrah oleh masyarakat Ende. Masyarakat mengantarkan zakat fitrah di masing-masing bale (rumah) tetangga yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka. Setelah semua zakat fitrah terbagaikan, masing-masing rumah akan mengirim utusannya untuk membawa zakat fitrah tersebut ke Masjid terdekat. Pada keesokan hari setelah pengumpulan zakat fitrah, dilaksanakan upacara adat Lebaran tinggi;

Gambar 4.4.1.b. Pelaksanaan Upacara Adat Lebaran Tinggi (sumber: Google)

c.

Lebaran Pendek Upacara adat lebaran pendek dilaksanakan untuk merayakan Hari Raya Idul Adha. Lebaran pendek diadakan berdasarkan penanggalan adat Ende yang ditetapkan dalam begundem oleh para pemuka adat;

24

Gambar 4.4.1.c. Pelaksanaan Upacara Adat Lebaran Pendek (sumber: Google)

d.

Mulud Upacara adat mulud dilaksanakan untuk memperingati

perkawinan antara Adam dan Hawa. Upacara adat ini dirayakan pada Hari Raya Maulid Nabi Muhammad SAW. berdasarkan penanggalan adat Ende yang ditetapkan dalam begundem oleh para pemuka adat di Kampu Adat Ende.

Gambar 4.4.1.d. Pelaksanaan Upacara Adat Mulud (sumber: Google)

4.4.2. Upacara Adat Terkait dengan Hubungan Manusia a. Buang Au Upacara adat Buang Au dilaksanakan untuk membuang abu hasil pembakaran arang yang diletakkan di bawah tempat tidur si bayi. Upacara adat Buang Au dilaksanakan sebagai symbol pengislaman pada seorang bayi yang baru lahir. Selain itu, upacara adat ini juga bertujuan untuk mengumumkan nama si bayi; b. Ngurisang dan Molang-Malik Upacara adat Ngurisang merupakan upacara potong rambut yang dilaksanakan setelah upacara adat Buang Au. Upacara adat ini diadakan pada anak yang sudah berusia antara 1 7 tahun. Setelah upacara adat Ngurisang, biasanya dilanjutkan dengan upacara adat Molang-Malik atau upacara adat pemotongan umbaq kombong. Upacara adat Ngurisang dilaksanakan sebagai simbol pengislaman pada seorang anak; c. Ngitangan Upacara adat ngitanang merupakan upacara adat khitanan yang diadakan untuk anak laki-laki berusia 3 10 tahun. Upacara ngitanang
25

dilaksanakan sebagai simbol pengislaman kepada seorang anak lakilaki; d. Merosok Upacara adat Merosok merupakan upacara adat meratakan gigi/potong gigi, untuk menandai peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa. Upacara ini dilaksanakan pada anakanak yang mulai memasuki usia remaja; e. Merari, Mentikah, dan Sorong Serah Sajikrama Merari merupakan tradisi yang mengawali upacara adat Mentikah. Merari atau kawin lari di lakukan sebagai ganti acara lamaran yang di lakukan oleh calon pengantin laki-laki. Kawin lari melibatkan pertemuan rahasia antara si laki laki dengan si perempuan. Kedua pasangan ini kemudian akan bersembunyi di tempat persembunyian (penyembuan). Biasanya tempat persembunyian ini merupakan salah satu rumah keluarga dari pihak calon pengantin lakilaki. Upacara adat Mentikah di laksanakan tiga hari setelah Merari di rumah kerabat dari calon pengantin laki-laki yang merupakan tempat persembunyian kedua calon pengantin. Mentikah dilaksanakan oleh kedua pengantin, kerabat tempat persembunyian, dan Kiai. Tujuannya adalah untuk memberkati dan mengesahkan kedua pengantin sebagai sepasang suami istri. Upacara adat Sorong Serah Sajikrama dilaksanakan ketika pihak keluarga pengantin laki-laki sudah siap membayar sajikrama yang diminta oleh keluarga pengantin

perempuan. Upacara adat ini bertujuan untuk menyerahkan sajikrama dari pihak keluarga pengantin laki-laki kepada pihak keluarga pengantin perempuan, dan pemberkatan pasangan pengantin; f. Rowah Bale Upacara adat Rowah Bale bertujuan agar rumah/bale yang baru dibangun dan keluarga yang menempati bisa hidup dengan tentram dan sejahtera. Upacara adat ini dilaksanakan pada bangunan rumah/bale yang baru dibangun. g. Gawe Pati Upacara adat gawe pati merupakan rangkaian prosesi untuk jika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal. Pada
26

pelaksanaan upacara adat yang terkait dengan hubungan manusia dengan manusia atau daur hidup manusia, biasanya menggunakan ruang dalam lingkup lingkungan tempat tinggal. Masyarakat yang mengadakan upacara adat biasanya akan mengundang seorang Kiai adat dan para tetangga. Upacara adat ini berpusat di berugaq dan halaman pekarangan. Untuk penyiapan kebutuhan upacara adat biasanya menggunakan rumah sendiri dan rumah kerabat atau tetangga di sekitar tempat tinggal. Upacara adat terkait hubungan manusia dengan alam atau siklus tanam padi. 4.5. Kelayakan Desa Adat Ende

27

Kriteria Kelayakan Bangunan

variabel Nilai Historis

Sub variabel Tangga

komponen Makna dari 3 anak tangga

gambar

Deskripsi

Arahan

Bentuk 3 anak tangga yang Preservasi dimana artinya ada Ayah, Ibu dan anak.

Kejamakan

Ornamen

Gaya dan bentuk ornamen Ukuran

Fasade Atap Kelangkaan Ornamen

Bangunan lumbung adalah salah satu bangunan yang dimiliki oleh setiap permukiman tradisional lainnya.

Preservasi dan Konservasi.

Bentuk dan Material Dimensi atap Gaya dan bentuk ornamen Ukuran Koperasi adalah salah satu bangunan yang tidak terdapat pada permukiman tradisional lainnya. Preservasi.

28

Keistimewaan

Konstruksi

Kekuatan Material Bentuk Dimensi Bale sasak

Material kayu,bambu dan bahan dari alam yang digunakan menambah kekuatan bangunan lebih permanen namun tetap perlu perawatan

Preservasi

Estetika

Fasade

Bentuk fasade yang Konservasi menampilkan ciri khas balek sasak +Bali dgn tetap menggunakan material yang natural yang menambah nilai estetika bangunan tersebut.

29

4.5.1. Nilai Historis Ende yang berarti perisai dalam bahasa sasak ini telah menjadi nama di sebuah Dusun di Desa Sengkol. Dapat di ketahui nilai historis yang terkandung dalam sejarah ini adalah terkandung nilai para pejuang dulu untuk berperang guna sebagai tameng yaitu perisai (Ende). Itulah nilai sejarah yang terkandung dalam sejarah terbentuknya Dusun ini. 4.5.2. Keistimewaan Desa Ende Dusun Ende adalah termasuk salah satu permukiman tradisional yang lain dari permukiman tradisional lainnya di Pulau Lombok. Maksud dari kata lain ini adalah Dusun Ende yang masih lebih Natural di bandingkan dengan permukian tradisional lainnya, maka dari itu akan lebih baik apabila melakukan suatu preservasi dan konservasi guna mempertahankan dan mengembangkan Dusun ini sebagai Desa Adat yang jauh lebih baik atau lebih natural dari Desa Adat lainnya. 4.6. Pelestarian Permukiman Desa Adat Ende 4.6.1. Arahan Pelestarian Fisik Arahan pelestarian fisik pada pola permukiman tradisional di Desa Adat Ende adalah dengan mempertahankan pola-pola yang sudah ada berdasarkan awig-awig adat Ende. Selain itu juga, perlu diadakan perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana di Desa Adat Ende yang dapat mendukung upaya pelestarian pola permukiman dan menunjang kegiatan masyarakatnya. Dalam menentukan arahan pelestarian fisik, dengan menggunakan langkah sebagai berikut: 1. Preservasi berupa: pemelihaaraan secara berkala, mengganti bahan bangunan yang sudah rusak/ lapuk, mempertahankan arah hadap, bahan dan konstruksi bangunan, serta aturan adat pembangunan rumah. Menjaga elemen permukiman tradisional dari kerusakan seperti elemen Rumah, Barugak, Lumbung, jalan di dalam permukiman adat; 2. Konservasi (rehabilitasi) berupa Pengembalian kondisi bangunan yang telah rusak atau menurun berupa atap,lantai, dinding, sehingga dapat berfungsi kembali seperti sedia kala; dan
30

3.

Konservasi (rekonstruksi) berupa upaya mengembalikan kondisi dan membangun kembali bangunan dan elemen yang telah hilang semirip mungkin dengan penampilan seperti aslinya.

4.6.2. Arahan Pelestarian Non-fisik Untuk arahan pelestarian non-fisiknya maka dapat di jabarkan sebagai berikut : 1. Aspek ekonomi, dengan insentif pajak dan retribusi, pemberian subsidi, dan pengenaan denda. 2. Aspek sosial, dengan mempersiapkan SDM, pemberian

penghargaan, dan membina kehidupan sosial dan budaya, serta adat istiadat Ende. 3. Aspek hukum, dengan perlindungan yang Sah, penetapan pemberlakuan izin khusus bangunan, serta penyempurnaan Awigawig Desa Adat Ende.

31

DAFTAR PUSTAKA

Tanudirjo,A. 2003.Warisan Budaya Untuk Semua Arah Kebijakan Pengelolaan Warisan Budaya Indonesia di Masa Mendatang. Makalah Kongres Kebudayaan V. Bukit Tinggi, 2002. Dewi, Pancawati. 2005. Peran Perapian dalam Pembentukan Ruang Baru di Sasak. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, Vol. 33 No. 1 Hlm. 94 98.

http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals/.html Saptaningtyas, Rini S. 2009. Kearifan Lokal Dalam Arsitektur Tradisional Sasak di Pulau Lombok. http://lombokculture.blogspot.com Tanudirjo,A. 2003.Warisan Budaya Untuk Semua Arah Kebijakan Pengelolaan Warisan Budaya Indonesia di Masa Mendatang. Makalah Kongres Kebudayaan V. Bukit Tinggi, 2002. Sasongko, Ibnu. 2005. Harmonisasi Tata Ruang Permukiman Melalui Mitos (Studi Kasus: Permukiman Sasak Desa Puyung). Jurnal Plannit, Vol. 3 No.2. Soeroto, Myrtha. 2003. Dari Arsitektur Tradisional Menuju Arsitektur Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

32