Anda di halaman 1dari 8

Efektifitas Implementasi Hybrid Active Power Filter Untuk Mereduksi Harmonisa Pada Jaringan Distribusi 20 kV

Rahim Frihatna Saputra Jurusan Teknik Elektro S-1, Konsentrasi Teknik Energi Listrik Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional Malang Jl. Raya Karanglo Km 2 Malang E-mail : boo13_go@yahoo.com Abstrak Gangguan tegangan merupakan permasalah kualitas daya yang sangat penting yang dihadapi oleh banyak pengguna industri. Gangguan tegangan meliputi naik dan turunnya tegangan sistem dan timbulnya harmonisa. Harmonisa dapat ditimbulkan oleh pensaklaran (switching) beban atau beban non-linier, karena setiap kali terjadi pensaklaran akan muncul pulsa-pulsa arus yang tidak teratur. Munculnya pulsa arus yang tidak teratur ini karena adanya spektrum harmonisa frekuensi, termasuk frekwensi dasar 50 Hertz dan kelipatannya. Untuk memenuhi kebutuhan atas permasalahan harmonisa yang dihadapi oleh PT Budi Texindo Prakasa Serang-Banten, sebuah industri dengan sistem jaringan 20 kV, maka dipasang dan disimulasikan sebuah hybrid active power filter (HAPF). Pemodelan dari sistem dan simulasi profil harmonisa dengan dan tanpa hybrid active power filter menggunakan software PSCAD/EMTDC pada bus-bus yang dipilih. Dari simulasi tersebut didapatkan bahwa total harmonic distortion (THD) masing-masing untuk arus dan tegangan mengalami penurunan yang cukup signifikan dari 18.81% menjadi 4.17 % dan 14.06% menjadi 2.4%. Kata kunci : sistem distribusi, HAPF, Harmonisa Arus dan Tegangan Abstract Voltage disturbance is the most important power quality problem faced by many industrial customers. Voltage disturbances include voltage sag, swell, spikes and harmonic. Harmonics are created by switching loads or nonlinear loads, because each time the current is switched on and off, a current pulse is created. The resulting pulsed waveform is made of a spectrum of harmonic frequencies, including 50Hz fundamental and multiples of it. To meet the demand for more efficient mitigation solution of harmonics problem faced by PT Budi Texindo Prakasa Serang-Banten, an industry with 20 kV power distribution system network, a hybrid active power filter (HAPF). To model the system components and simulate the harmonics profile with and without hybrid active power filter a PSCAD/EMTDC software were used on selected buses. The simulation results showed that the total harmonic distortion (THD) of current and voltage is reduced significantly from 18.81% to 4 .17% and 14.06% to 2.4% respectively. Key words: distribution system, HAPF, Current and Voltage Harmonics

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan meningkatnya usaha di sektor industri dan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka kebutuhan akan energi listrik semakin meningkat pula, sehingga diperlukan penyediaan energi listrik beserta jaringan dan penyaluran yang sangat baik. Berkembangnya industriindustri menyebabkan peran penggunaan alat-alat listrik dan beban-beban non linier akan semakin luas. Sistem distribusi daya listrik dengan beban non linier yang besar dapat menyebabkan kualitas daya yang buruk pada ujung hubungan atau sisi penerima, seperti penurunan besaran tegangan, faktor daya yang rendah dan kenaikan konten harmonisa arus maupun tegangan. Fenomena seperti tersebut diatas terjadi pada sistem jaringan distribusi 20 kV di industri tekstil PT.Budi Texindo Prakarsa. Sebagai akibatnya, terjadi gangguan dan penurunan performa sistem antara lain seperti kerusakan pada trafo, motor listrik dan penurunan tingkat produksi. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki fenomena tersebut diatas adalah dengan memasang filter aktif harmonisa, berupa Hybrid Active Power Filter. Dengan pemasangan HAPF tersebut, total daya listrik yang didistribusikan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan beban dan dapat menurunkan distorsi harmonisa tegangan dan arus tidak melebihi batas yang ditetapkan sesuai standar IEEE Std. 5191992, yaitu 5.00 % dan 3.00 % untuk sumber tegangan di bawah 69 kV [1] 1.2 Rumusan masalah Permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana performa sistem industri tekstil di PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA dalam kondisi base case (sebelum dipasang HAPF)? 2. Bagaimana timbulnya fenomena penurunan performa sistem pada kondisi base case? 3. Bagaimana performa sistem industri tekstil PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA dalam kondisi setelah dipasang HAPF?

4. Bagaimana efek dari implementasi HAPF pada sistem jaringan distribusi 20 kV di PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA secara keseluruhan? 1.3 Tujuan penulisan Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas maka, tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah: 1. Untuk melihat pengaruh harmonisa tegangan dan arus pada sistem jaringan distribusi 20 kV di industri tekstil PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA. 2. Merancang dan mengimplementasikan Hybrid Active Power Filter untuk mereduksi harmonisa tegangan dan arus pada sistem jaringan distribusi 20 kV di di industri tekstil PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA. 3. Menganalisa pengaruh pengaruh hasil implementasi Hybrid Active Power Filter pada sistem jaringan distribusi 20 kV di industri tekstil PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA. 1.4 Batasan Masalah Untuk mencapai sasaran yang diinginkan, maka lingkup pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Sistem yang akan di teliti sebagai studi kasus dalam penelitian ini adalah jaringan distribusi 20 kV pada industry tekstil PT. Budi Texindo Prakarsa. 2. Untuk melihat performa sistem dalam penelitian ini menggunakan software PSCAD/EMTDC V4.2 Power Simulation. 3. Indikator akhir dari analisis sistem tersebut adalah Total Harmonic Distortion (THD) arus dan tegangan. II. Kajian Pustaka 2.1 Pengertian Harmonisa Harmonisa adalah gangguan yang terjadi pada sistem distribusi tenaga listrik akibat terjadinya distorsi gelombang arus dan tegangan. Pada dasarnya, harmonisa adalah gejala pembentukan gelombanggelombang dengan frekuensi berbeda yang merupakan perkalian bilangan bulat dengan frekuensi dasarnya.

adanya masalah harmonisa pada beban tersebut. 2.4 Teori Perhitungan 1. Crest factor (CF) [2] Crest-factor adalah suatu pengukuran nilai puncak dari gelombang dibandingkan dengan nilai RMS. Gambar 1. Bentuk Gelombang Resultan dari Frekuensi Dasar dan Harmonisanya 2.2 Sumber Harmonisa Beban non linier yang umumnya merupakan peralatan elektronik yang didalamnya banyak terdapat komponen semi konduktor, dalam proses kerjanya berlaku sebagai saklar yang bekerja pada setiap siklus gelombang dan sumber tegangan. Proses kerja ini akan menghasilkan gangguan atau distorsi gelombang arus yang tidak sinusoidal. Bentuk gelombang ini tidak menentu dan dapat berubah menurut pengaturan pada parameter komponen semi konduktor dalam peralatan elektronik. Perubahan bentuk gelombang mi tidak terkait dengan sumber tegangannya. Beberapa peralatan yang dapat menyebabkan timbulnya harmonik antara lain komputer, printer, lampu fluorescent yang menggunakan elektronik ballast, kendali kecepatan motor, motor induksi, batere charger, dll. Peralatan ini dirancang untuk menggunakan arus listrik secara hemat dan efisien karena arus listrik hanya dapat melalui komponen semikonduktornya selama periode pengaturan yang telah di tentukan. 2.3 Identifikasi Harmonisa Untuk mengidentifikasi kehadiran harmonisa pada sistem distribusi, dapat diketahui melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1. Identifikasi Jenis Beban Jenis beban yang dipasok. 2. Pemeriksaan Transformator Apabila arus netralnya lebih besar maka dapat diperkirakan adanya harmonisa dan kemungkinan turunnya kinerja transformator. 3. Pemeriksaan Tegangan Netral Tanah Apabila tegangan yang terukur lebih besar dari 2 Volt maka terdapat indikasi CF = Peak of waveform Rms of waveform (1)

Suatu gelombang sinus sempurna arus atau tegangan akan mempunyai suatu CF = akar 2 2. Faktor Harmonisa atau persentase total harmonic distortion (%THD) Individual Harmonic Distortion (IHD) adalah rasio antara nilai RMS dari harmonisa individual dan nilai RMS dari fundamental. Total Harmonic Distortion (THD) adalah rasio antara nilai RMS dari komponen harmonisa dan nilai RMS dari fundamental. Berdasarkan standar IEEE 519, 1992, ada dua kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi distorsi harmonisa, Yaitu batasan untuk harmonisa arus dan batasan harmonisa tegangan. Tabel 1. Standar Harmonisa Tegangan Sistem Voltage Vrms 69 kV 69 kV Vrms 161 kV Vrms 161 kV IHDV (%) 3.0 1.5 1.0 THDV (%) 5.0 2.5 1.5

Tabel 2. Standar Harmonisa Arus Sistem Voltage Vrms 69 kV Isc / Iload 20 20-50 50-100 100-1000 1000 20 20-50 50-100 100-1000 1000 50 50 THDI 5.0 8.0 12.0 15.0 20.0 2.5 4.0 6.0 7.5 10.0 2.5 4.0

69kV Vrms 161kV

Vrms 161 kV

Isc =

(2)

THD Tegangan dan Arus [2] : THDV =

(3)

hitung menggunakan persamaan P-Q teori. Untuk menghitungnya, tegangan masukan pada sumber (va, vb, vc) dan arus masukan pada sumber (isa, isb, isc) harus diubah menjadi orthogonal dengan menggunakan persamaan matrik : [ ]= [ ][ ]

THDI =

(4)

(7)

Vh ; Ih = Komponen Harmonisa Vf ; If = Komponen Fundamental 2.5 Hybrid Active Power Filter Hybrid Active Power Filter merupakan filter yang memiliki topologi dan prosedur instalasi gabungan antara series active filter dengan shunt passive filter, dan shunt active filter dengan series passive filter.Kedua jenis gabungan filter ini mempunyai kegunaan yang sama yaitu dapat mereduksi komponen harmonisa arus dan tegangan pada orde orde ganjil yang dominan.Terlihat seperti gambar 2[13]. Pada penelitian ini hybrid active power filter yang digunakan adalah modifikasi gabungan antara series active filter dan shunt active filter seperti pada gambar 3. series active filter digunakan untuk mereduksi harmonisa tegangan sedangkan shunt active filter digunakan untuk mereduksi harmonisa arus. Kedua filter aktif ini dipasang secara terpisah pada jaringan dan menggunakan persamaan p-q teori untuk menganalisa harmonisa tersebut.Dan keunggulan dari modifikasi filter ini adalah dapat mereduksi komponen harmonisa secara keseluruhan tidak seperti hybrid active filter sebelumnya yang hanya mereduksi komponen harmonisa pada orde orde ganjil yang dominan. Kontrol Jaringan[3] Kontrol dari Series dan Shunt APF didapatkan dari persamaan yang sangat mudah : 2.6 Vc* = Kish Ic* = Kvsh (5) (6) [ ]= [ ][ ] (8)

Daya nyata dan reaktif dapat di hitung dengan : [ ]=[ ][ ] (9)

Dengan menggunakan Lowpass filter, osilasi komponen p dan q dapat dirubah menjadi p_osilasi dan q_osilasi. Dalam penelitian ini frekuensi dari lowpass filter di cutoff 50 Hz. Sehingga, sumber arus dan tegangan harmonisa dapat di hitung dengan: ][ ]

]= [ ]

(10) ][ ]

]= [ ] (11)

Dimana ish dan vsh adalah sumber arus dan tegangan harmonisa yang dapat di

L_sumber Vs

+ Vc -

Is

Iload

AC

AC

AC

Series Active Filter

Shunt Active Filter

DC

DC

Kontrol PWM

Kontrol PWM

Ia Ib Ic Va Vb Vc Perhitungan Alpha/Beta ke ABC Alpha Beta Perhitungan dengan Ish atau Vsh psh Low Pass Filter G(s) ps Alpha Perhitungan ABC ke Beta Alpha/Beta Ia Ib Ic

Perhitungan dengan p dan q

Va Vb Vc

Isa Isb Isc

Gambar 3. Hybrid Active Power Filter ( Series Active dan Shunt Active ) III . Sistem Jaringan Distribusi 20 kV di PT.BUDI TEXINDO PRAKARSA SERANG BANTEN 3.1 Single Line Sistem Kelistrikan PT.BUDI TEXINDO PRAKARSA SERANG BANTEN
AC 3 Phasa 20 kV

Trafo Step Down 2.5 MVA 20 / 0.38 kV Y/Y

Gambar 3. Bentuk rangkaian hybrid active power filter (Series Active dan Shunt Passive) Gambar 3 menunjukan rangkaian hybrid active power filter dengan gabungan series active dan shunt passive dapat dilihat bahwa setelah direduksi oleh filter ini bentuk gelombang arus dan tegangan yang mengandung harmonisa masih mengalami ripple atau cacat gelombang yang kecil. Dan dari bentuk spectrum nya dapat dilihat harmonisa dominannya yang direduksi masih ada.

MDSPA 7 Motor Induction 0.38 kV

MDSPB 7 Motor Induction 0.38 kV

Motor Induction 0.38 kV

Motor Induction 0.38 kV

Motor Induction 0.38 kV

Utility 4 Motor Induction 0.38 kV

Motor Induction 0.38 kV

Motor Induction 0.38 kV

Motor Induction 0.38 kV

Gambar 4. Single Line jaringan distribusi PT.BUDI TEXINDO PRAKARSA Gambar 3 menunjukan sistem jaringan 20 kV di PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA SERANG BANTEN, terdiri dari satu sumber 3 phasa dengan tegangan 20 kV yang di hubungkan secara parallel pada tiga trafo step-down dengan perbandingan CT primer dan skunder 20 / 0.38 kV. Sistem ini mempunyai 9 grup beban. Pada grup beban pertama dan kedua memiliki 7 beban, grup beban ketiga, keempat, kelima, ketujuh, kedelapan dan kesembilan memiliki 1 beban dan grup beban keenam memiliki 4

beban. Masing masing dari beban tersebut berupa motor induksi dengan tegangan 0.38 kV. IV. Analisa Hasil dan Simulasi Pada simulasi akan dilakukan pengambilan data berupa arus dan tegangan dengan perbandingan pada saat terjadi gangguan harmonisa tanpa filter dan dengan pemasangan filter. Setelah itu hasil keluaran dari arus dan tegangan akan dianalisa dan dapat dilihat seberapa besar kemampuan HAPF dalam mereduksi arus dan tegangan yang mengalami gangguan harmonisa.Untuk mensimulasikan system dalam software PSCAD Power Simulation maka terlebih dahulu digambarkan singleline sistem jaringan distribusi 20 kV pada PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA SERANG BANTEN. Kemudian mensimulasikan sesuai dengan langkah kerja dan menganalisa hasilnya. Berikut adalah flowchart simulasi sistem menggunakan HAPF pada software PSCAD.
START

4.1

Grafik hasil simulasi sebelum pemasangan Hybrid Active Power Filter

Gambar 6. Grafik Tegangan dan Arus pada jaringan 20 kV PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA SERANG - BANTEN Gambar 6 menerangkan tentang bentuk gelombang arus dan tegangan pada jaringan distribusi 20 kV. Terlihat pada gambar tersebut gelombang arus dan tegangan tidak berbentuk sinusoida secara sempurna melainkan mengalami cacat pada bentuk gelombangnya. Hal ini disebabkan karena bentuk gelombang arus dan tegangan tersebut telah mengandung harmonisa. Bentuk gelombang ini dapat berdampak negatif pada jaringan distribusi yaitu berupa menurunnya peforma sistem jaringan antara lain seperti kerusakan pada trafo dan motor listrik.

Input Data : - Power Grid - Transformator - Load

Check Parameter

Running Load Flow Pemasangan Hybrid Active Power Filter

THD I 5% THD V 3%

Y
Analisa Hasil

END

Gambar 7. Spektrum harmonisa dari arus dan tegangan. Gambar 7 menerangkan tentang spektrum harmonisa arus dan tegangan. Spektrum harmonisa adalah komponen yang digunakan untuk melihat nilai harmonisa secara jelas dari bentuk gelombangnya.

Gambar 5. Flowchart penggunaan Hybrid Active Power Filter dengan software PSCAD Power Simulation.

Pada spektrum harmonisa yang terjadi baik arus dan tegangan mempunyai nilai orde dominan yang sama yaitu orde ke 5th dan 7th. 4.2 Grafik hasil simulasi sesudah pemasangan Hybrid Active Power Filter

4.3

Grafik hasil simulasi injeksi arus dan tegangan pada Hybrid Active Power Filter

Gambar 8. Grafik Tegangan dan Arus pada jaringan 20 kV PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA SERANG - BANTEN Gambar 8 menerangkan tentang bentuk gelombang arus dan tegangan pada jaringan 20 kV. Pada gambar ini gelombang arus dan tegangan berbentuk sinusoida secara sempurna dikarenakan pada sistem jaringan distribusi 20 kV tersebut telah dipasang hybrid active power filter yang digunakan untuk mereduksi harmonisa arus dan tegangan. Gambar 10. Grafik arus dan tegangan Injeksi pada keluaran PWM Gambar 10 menerangkan tentang bentuk injeksi gelombang arus dan tegangan yang keluar dari PWM. Bentuk gelombang ini digunakan untuk mengurangi bentuk gelombang arus dan tegangan harmonisa pada sumber. Tabel 3. Performa sistem sebelum dan sesudah pemasangan hybrid active power filter Konfigurasi Sebelum Sesudah Sistem HAPF HAPF 0.00122 0.0000015 3th 0.00349 0.0000051 5th 0.00076 0.0000032 7th Harmonisa 9th 0.00014 0.0000021 Arus 11th 0.00041 0.0000021 13th 0.00024 0.0000045 15th 0.00019 0.0000059 0.00149 0.000023 3th 0.0246 0.000007 5th th 0.0101 0.000007 7 Harmonisa 9th 0.0027 0.000013 Tegangan 11th 0.0097 0.000013 th 0.0064 0.000002 13 0.0021 0.000002 15th 18.81 % 4.17 % THD % I 14.06 % 2.41 % V
THD % Pengukuran I V 15.38 % 10.06 % 4.17 % 2.41 %

Gambar 9. Spektrum harmonisa dari arus dan tegangan. Gambar 9 menerangkan tentang spektrum harmonisa arus dan tegangan. Pada spektrum harmonisa ini terlihat bahwa orde harmonisa yang dominan yaitu 5th,7th dan orde harmonisa yang lain dapat tereduksi dengan sempurna.

Tabel 3 menerangkan tentang kinerja sistem sebelum dan sesudah pemasangan hybrid active power filter (HAPF) pada jaringan distribusi 20 kV di PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA SERANG BANTEN. Pada saat sebelum pemasangan HAPF, dapat dilihat bahwa THD harmonisa arus dan tegangan yang dihasilkan sangat besar yaitu 18.81 % dan 14.06 %. Dan pada saat setelah pemasangan HAPF, dapat dilihat pula bahwa THD harmonisa arus dan tegangan yang dihasilkan berkurang secara signifikan yaitu 4.17% dan 2.41%. V. Kesimpulan Pengaruh pemasangan Hybrid Active Power Filter pada sistem jaringan distribusi 20 kV di PT. BUDI TEXINDO PRAKARSA pada saat terjadi gangguan harmonisa arus dan tegangan dengan menggunakan bantuan software PSCAD /EMTDC V4.2 Power System Simulation, maka dapat diambil kesimpulan : 1. HAPF (Hybrid Active Power Filter) dapat mereduksi gangguan harmonisa arus dan tegangan. 2. Pada saat terjadi gangguan harmonisa arus dan tegangan pada sistem, dengan dipasangnya HAPF maka arus dan tegangan pada sistem dapat di reduksi sehingga bentuk gelombang arus dan tegangan yang dihasilkan akan sinusoida. 3. Pemasangan HAPF pada sistem jaringan primer selain dapat mengatasi harmonisa arus dan tegangan juga mampu memperbaiki faktor (cos ). 4. Setelah di filter, nilai referensi diambil dari jumlah harmonisa arus dan tegangan yang dihasilkan yaitu menjadi 2.41% dari 14.06% dan 4.17% dari 18.81%. VI. Daftar Pustaka [1] Dennis J.Hansen, Harmonic Distortion, Engineering Standards And Technical Support Department, Salt Lake City : PacifiCorp, 1998 [2] I. Daut , H.S. Syafruddin, dkk, The Effects Of Harmonic Components On Transformer Losses Of Sinusoidal Source Supplying Non- Linear Loads, Malaysia : Science Publication, 2006.

[3] H. Akagi, Y. Kanazawa and A. Nabae, "Generalized Theory of the Instantaneous Reactive Power in Three-Phase Circuits," in Proc. IPECTokyo' 93 Int. Conf. Power Electronics, pp. 1375-1386, Tokyo, 1983. [4] H. Akagi, Y. Kanazawa and A. Nabae, "Instantaneous Reactive Power Compensator Comprising Switching Devices Without En ergy Storage Components,"IEEE Transactions on Industry Applications, vol. IA-20, no. 3, pp. 625-630, 1984. [5] M. Aredes, "New Concepts of Power and its Application on Active Filters," (in portuguese) M.Sc. Thesis, COPPE Federal University of Rio de Janeiro, Brazil, Nov. 1991. [6] E.H. Watanabe, R.M. Stephan and M. Aredes, "New Concepts of Instantaneous Active and Reactive Powers in Electrical Systems with Generic Loads," IEEE Trans. on Power Delivery, vol. 8, no. 2, pp. 697703, April 1993. [7] S. Fryze, Wirk-, Blind- und Scheinleistung in elektrischen Stromkainsen mit nicht-sinusfmigen Verlauf von Strom und Spannung, ETZArch. Elektrotech., vol. 53, 1932, pp. 596-599, 625-627, 700-702. [8] L. Malesani, L. Rosseto, P. Tenti, Active Filter for Reactive Power and Harmonics Compensation, IEEE PESC 1986, pp. 321-330. [9] T. Furuhashi, S. Okuma, Y. Uchikawa, "A Study on the Theory of Instantaneous [10] Reactive Power," IEEE Trans. on Industrial Electronics, vol. 37, no. 1, pp. 86-90, Feb. 1990. [11] L. Rossetto, P. Tenti, "Evaluation of Instantaneous Power Terms in Multi-Phase Systems: Techniques and Application to Power-Conditioning Equipments," ETEP Eur. Trans. Elect. Power Eng., vol. 4, no. 6, pp. 469-475, Nov./Dec. 1994. [12] M. Depenbrock, D. A. Marshall, J. D. van Wyk, "Formulating Requirements for a Universally Applicable Power Theory as Control Algorithm in Power Compensators," ETEP Eur. Trans. Elect. Power Eng., vol. 4,no. 6, pp. 445-455, Nov./Dec. 1994. [13] J.G Pinto, R.Pregetzer,Luis F.C Monteiro,Combined series active filter and passive filter for harmonics, IEEE 2007