Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM PESTISIDA PERTANIAN ACARA IV UJI CARA MASUK INSEKTISIDA

Di susun Oleh :

Nama : Utami Handayani Nim : 11839

LABORATORIUM TOKSIKOLOGI PESTISIDA JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

ACARA IV UJI CARA MASUK INSEKTISIDA

I. Tujuan Mengetahui cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga.

II.

Tinjauan Pustaka

Pestisida dapat diartikan sebagai senyawa kimia yang dipakai untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Pestisida memiliki banyak jenis seperti insektisida (untuk mengendalikan serangga), fungisida (untuk jamur/cendawan), bakterisida (untuk bakteri), herbisida (untuk gulma), dll. Namun dewasa ini penggunaan pestisida kimia telah banyak menimbulkan dampak negatif baik itu bagi penggunanya, konsumen, maupun lingkungan (Tarumingkeng, 2010). Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran -cide ("pembasmi") (Anonim, 2011) Insektisida adalah bahan-bahan kimia yang digunakan untuk memberantas serangga. Berdasarkan atas stadium serangga yang dibunuhnya, maka insektisida dibagi menjadi imagosida yang ditujukan pada serangga dewasa, larvasida yang ditujukan kepada larva serangga dan ovosida yang ditujukan untuk membunuh telurnya (Soedarto, 1990). Insektisida dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni serangga tersebut. Menurut cara masuknya insektisida ke dalam tubuh serangga dibedakan menjadi 3 kelompok sebagai berikut: a. Racun Lambung Racun lambung adalah insektisida yang membunuh serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran yang mematikan sesuai dengan jenis bahan aktif insektisida. Beberapa tempat sasaran itu seperti: menuju ke pusat syaraf serangga, menuju ke organ-organ respirasi, meracuni sel-sel lambung dan sebagainya. Dalam hal ini serangga harus memakan tanaman yang sudah disemprot insektisida yang mengandung residu dalam jumlah yang cukup untuk membunuh.

b. Racun Kontak Racun kontak adalah insektisida yang masuk ke dalam tubuh serangga melalui kulit, celah/lubang alami pada tubuh (trachea) atau langsung mengenai mulut serangga. Serangga akan mati apabila bersinggungan langsung (kontak) dengan insektisida tersebut. Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun lambung. c. Racun Pernafasan Racun pernafasan adalah insektisida yang masuk melalui trachea serangga dalam bentuk partikel mikro yang melayang di udara. Serangga akan mati bila menghirup partikel mikro insektisida dalam jumlah yang cukup. Kebanyakan racun pernafasan berupa gas, asap, maupun uap dari insektisida cair (Munaf, 1997). Dalam menentukan pestisida yang tepat, perlu diketahui karakterisitk pestisida yang meliputi efektivitas, selektivitas, fitotoksitas, residu, resistensi, LD 50, dan kompabilitas (Djojosumarto, 2008). Pengunaan pestisida sintesis dalam pengendalian hama oleh petani sudah dianggap lazim. Mereka tidak memperhitungkan dampak negatif yang ditimbulkan, baik terhadap organisme bukan sasaran, kesehatan manusia, maupun lingkungan (Kardiman, 2002). Penggunaan dosis yang tidak tepat, misalnya kurang dari dosis anjuran tidak akan mematikan OPT. Namun, ada kemungkinan OPT akan membentuk sistem kekebalan terhadap jenis senyawa tersebut dan akan memicu terjadinya resistensi atau resurgensi (Dadang, 2006)

III. Metodologi Praktikum acara IV yang berjudul Uji Cara Masuk Insektisida dilaksanakan pada hari jumat tanggal 09 November 2012 di Laboratorium Toksikologi Pestisida, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gelas plastik, kain trico dan labu takar (volumetric flash) dengan ukuran. Bahan yang digunakan yaitu insektisida Etiprol, Fipronil, hama wereng coklat (Nilaparvata lugens) dan bibit padi. Cara kerja pada praktikum ini yang pertama yaitu menyiapkan bahan praktikum dan alat praktikum yang sudah dicuci bersih. Kemudian membuat larutan dengan kepekatan (konsentrasi) yaitu sesuai anjuran (K) dan K, kemudian membuat kontrol dengan air. Setelah itu bibit padi dicelupkan kedalam larutan selama 10 detik dan dikeringanginkan selama 15 menit. Setelah itu bibit padi dimasukkan kedalam gelas berlubang dan serangga hama wereng kemudian ditutup dengan kain trico. Setelah ditutup kemudian dmasukkan ke dalam gelas yang tidak berlubang. Setiap perlakuan digunakan 10 serangga dengan 9x ulangan setiap perlakuan. Setelah itu diamati mortalitas serangga setiap 24 jam selama 96 jam. Kemudian hasil pengamatan apabila didapat hasil mortalitas kontrol < 20% maka koreksi dengan rumus ABBOT.

IV.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan

A. Persentase mortalitas wereng coklat

Insektisida Fipronil (Regent) Etiprol (Curbix)

Konsentrasi (mL/100 mL) 0,1 0,05 0,1 0,05 Kontrol

Mortalitas (%) 40 27,78 33,33 22,22 15,56

Abbot (P) 28,944 14,472 21,045 7,887

Tabel 01. Persentase mortalitas wereng coklat pada konsentrasi dan jenis pestisida tertentu B. LC 50 pestisida

Insektisida Fipronil (Regent) Etiprol (Curbix)

Lethal Consentration (LC) 50 0,141 0,175

Tabel 02. LC 50 dari jenis pestisida

C. Analisis varian mortalitas wereng coklat

WAKTU (Jam) PERLAKUAN 24 1 K (0.1 mL/100 mL) Fipronil (Regent) K (0.05 mL/100 mL) 1 K (0.1 mL/100 mL) Etiprol (Curbix) K (0.05 mL/100 mL) 48 72 96 8,33f 8,78f 4,00a 7,11a 8,00c 2,78a 7,22a 8,56c

3,33a 5,22a 6,44d 7,22g 2,22a 4,33a 5,33d 5,56g

Kontrol

1,56b 2,22b 3,56e 4,00h

Tabel 03. Hasil analisis ANOVA

Pembahasan Pestisida adalah semua zat campuran zat yang khusus di gunakan untuk mengendalikan, mencegah gangguan serangga, binatang mengerat, nematode, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang di anggap hama. Pestisida dapat di golongkan berdasarkan sasaran yaitu insektisida untuk mengendalikan serangga hama, fungisida untuk mengendalikan cendawan, rodentisida untuk mengendalikan binatang pengerat, nematisida untuk mengendalikan nematode, mulliksisida untuk mengendalikan molluska atau siput, akarisida untuk mengendalikan akarina atau tungau, herbisida untuk mengendalikan gulma dan bakterisida untuk mengendalikan bakteri. Menurut cara masuknya insektisida ke dalam tubuh serangga dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu Racun Lambung, Racun kontak, Racun pernafasan. a. Racun Lambung Racun lambung adalah insektisida yang membunuh serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran yang mematikan sesuai dengan jenis bahan aktif insektisida. Beberapa tempat sasaran itu seperti: menuju ke pusat syaraf serangga, menuju ke organ-organ respirasi, meracuni sel-sel lambung dan sebagainya. Dalam hal ini serangga harus memakan tanaman yang sudah disemprot insektisida yang mengandung residu dalam jumlah yang cukup untuk membunuh. b. Racun Kontak Racun kontak adalah insektisida yang masuk ke dalam tubuh serangga melalui kulit, celah/lubang alami pada tubuh (trachea) atau langsung mengenai mulut serangga. Serangga akan mati apabila bersinggungan langsung (kontak) dengan insektisida tersebut. Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun lambung. c. Racun Pernafasan

Racun pernafasan adalah insektisida yang masuk melalui trachea serangga dalam bentuk partikel mikro yang melayang di udara. Serangga akan mati bila menghirup partikel mikro insektisida dalam jumlah yang cukup. Kebanyakan racun pernafasan berupa gas, asap, maupun uap dari insektisida cair. Dari segi racunnya pestisida dibedakan atas: 1. Racun sistemik, artinya dapat diserap melalui sistem organisme misalnya melalui akar atau daun kemudian diserap ke dalam jaringan tanaman yang akan bersentuhan atau dimakan oleh hama sehingga mengakibatkan peracunan bagi hama. 2. Racun kontak, langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian insektisida atau dapat pula serangga target kemudian kena sisa insektisida (residu) insektisida beberapa waktu setelah penyemprotan. Dalam menentukan pestisida yang tepat, perlu diketahui karakterisitk pestisida yang meliputi efektivitas, selektivitas, fitotoksitas, residu, resistensi, LD 50, dan kompabilitas. 1. Efektivitas Merupakan daya bunuh pestisida terhadap organisme pengganggu. Pestisida yang baik seharusnya memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan organisme pengganggu dengan dosis yang tidak terlalu tinggi, sehingga memperkecil dampak buruknya terhadap lingkungan. 2. Selektivitas Selektivitas sering disebut dengan istilah spektrum pengendalian, merupakan kemampuan pestisida untuk membunuh beberapa jenis organisme. Pestisida yang disarankan didalam pengendalian hama terpadu adalah pestisida yang berspektrum sempit. 3. Fitotoksitas Fitotoksitas merupakan suatu sifat yang menunjukkan potensi pestisida untuk menimbulkan efek keracunan bagi tanaman yang ditandai dengan pertumbuhan yang abnormal setelah aplikasi pestisida. 4. Residu Residu adalah racun yang tinggal pada tanaman setelah penyemprotan yang akan bertahan sebagai racun sampai batas tertentu. Residu yang bertahan lama pada tanaman akan berbahaya bagi kesehatan manusia tetapi residu yang cepat hilang efektivitas pestisida tersebut akan menurun. 5. Persistensi

Persistensi adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang mempunyai persistensi tinggi akan sangat berbahaya karena dapat meracuni lingkungan. 6. Resistensi Resistensi merupakan kekebalan organisme pengganggu terhadap aplikasi suatu jenis pestisida. Jenis pestisida yang mudah menyebabkan resistensi organisme pengganggu sebaiknya tidak digunakan. 7. LD 50 atau Lethal Dosage 50% Berarti besarnya dosis yang mematikan 50% dari jumlah hewan percobaan.

8. Kompatabilitas Kompatabilitas adalah kesesuaian suatu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif. Informasi tentang jenis pestisida yang dapat dicampur dengan pestisida tertentu biasanya terdapat pada label di kemasan pestisida. Sedangkan resurgensi adalah peledakan serangga hama sekunder akibat aplikasi pestisida kimia yang berpengaruh negatif bagi lingkungan. Dalam praktikum ini digunakan insektisida fipronil karena insektisida tersebut merupakan insektisida sistemik. Dengan menggunakan insektisida sistemik tersebut dapat dilihat pengaruhnya terhadap serangga. Apabila terjadi perubahan nutrisi pada serangga karena adanya senyawa dalam makanannya, maka serangga akan melakukan suatu respon kompensasi. Respon ini dilakukan sabagai upaya untuk mempertahankan kehidupannya, yaitu dengan cara pengubahan laju konsumsi dan efisiensi pencernaan serta metabolismenya. Pengaruhnya akan terlihat pada pertumbuhan, lama perkembangan dan mortalitas serangga, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah npopulasi serangag tersebut di alam. Sedangkan etiprol merupakan insektisida kontak sehingga apabila serangga terkena insektisida tersebut akan mengalami gangguan seperti menyebabkan dehidrasi, yaitu keluarnya cairan tubuh dari serangga. Serangga langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian insektisida atau dapat pula serangga target kemudian kena sisa insektisida (residu) insektisida beberapa waktu setelah penyemprotan. Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan antara yang diberikan perlakuan pestisida dibandingkan dengna kontrol, Antar jenis pestisida tidak berikan pengaruh yang nyata terhadap mortalitas wereng coklat pada 24 jam, 48 jam dan 72, Perlakuan pemberian pestisida memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas wereng coklat, Perlakuan pestisida tidak mempengarui mortalitas wereng coklat pada 24 awal waktu

inkubasi, Perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas wereng coklat pada 48 jam waktu inkubasi, Jenis pestisida memberikan pengaruh yang berbeda satu sama lain pada 96 jam waktu inkubasi, dan Dosis pestisida yang diberikan tidak mempengaruhi mortalitas wereng coklat.

V. Kesimpulan Menurut cara masuknya insektisida ke dalam tubuh serangga dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu Racun Lambung, Racun kontak, Racun pernafasan.

Daftar Pustaka Anonim. 2011. http://isroi.wordpress.com/2008/06/02/pengendalian-hama-dan-penyakitdengan-pestisida-nabati/. Diakses 20 November 2012. Dadang. 2006. Pengenalan pestisida dan teknik aplikasi. Workshop Hama dan Penyakit Tanaman Jarak (Jatropa curcas Linn.): Potensi Kerusakan dan Teknik Pengendaliannya. Bogor. Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Jakarta.

Tarumingkeng dan Rudi C. 2010. Pestisida dan Kegunaannya. Institut Pertanian Bogor.

Lampiran Konsentrasi (mL/100 mL) Etiprol (Curbix) Ulangan 1 1 2 2 3 1 2 0,5 2 3 1 3 0,125 2 3 1 4 0,03125 2 3 1 5 0,0078125 2 3 1 6 0,001953125 2 3 7 Kontrol 1 24 Jam 6 9 6 3 7 4 2 5 3 2 2 0 2 1 1 0 0 0 1 48 Jam 7 9 8 4 10 6 4 7 3 2 4 1 7 2 3 3 1 1 2 72 Jam 9 9 9 5 10 6 5 7 7 4 4 1 7 2 3 5 2 6 3 96 Jam 9 9 10 7 10 6 6 7 9 6 6 2 7 3 4 6 2 8 5 46,667 53,333 46,667 46,667 73,333 76,667 93,333 % mortalitas

No.

2 3

0 1

0 3

1 3

4 5

No.

Konsentrasi (mL/100 mL)

Sipermetrin (Starban) % mortalitas 24 Jam 10 48 Jam 10 10 10 8 9 7 2 7 10 4 4 1 2 7 1 3 72 Jam 10 10 10 8 10 7 5 7 10 4 5 1 3 7 3 4 96 Jam 10 10 10 10 10 8 5 7 10 5 5 3 4 7 5 6 46,667 53,333 43,333 73,333 93,333 100

10 10 8

0,5

8 2 2

0,125

7 10 3

0,03125

4 1 2

0,0078125

6 0

0,001953125

2 1 0 7 Kontrol 0 0

2 1 2 1 3

2 1 5 3 5

4 4 6 3 6 50