Jalan-Jalan: Antara Eskapisme dan Gaya Hidup

Sarani Pitor Pakan

Abstract Travel is one of the integral part of human life. As an ancient part of life of man, travel is changing in the context of modern world. Where is its place in the modern urban society? This text mention two possible place of travel in modern urban society. First, travel as escapism which makes people seeking something they don’t find in the routine of social world. Second, travel as lifestyle in which people consume it to gain social status or position, or something else. Keywords: travel, modernity, urban society, escapism, lifestyle

I. Pendahuluan Perjalanan adalah hal yang esensial dalam peradaban umat manusia. Tidak ada satu manusia pun yang tidak pernah melakukan perjalanan dalam hidupnya. Catatan sejarah membuktikan bahwa sejak dahulu kala manusia ditakdirkan sebagai makhluk yang bergerak melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Pada berbagai kitab suci agama-agama besar di dunia dikisahkan bagaimana tokoh-tokoh didalamnya menempuh berbagai perjalanan. Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Mekkah ke Madinah, demikian pula Yesus yang berjalan dari Nazareth ke Galilea. Buddhisme pun menceritakan bagaimana Siddharta Gautama melakukan melakukan perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan sebelum akhirnya menjadi seorang Buddha. Catatan jaman prasejarah menunjukkan bahwa manusia purba hidup nomaden. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan tidak memiliki tempat tinggal yang permanen. Demikian pula teori yang menyebutkan bahwa manusia purba di Indonesia berasal dari Cina, itu berarti ada mobilitas geografis yang dilakukan manusia purbakala.

Selanjutnya saat manusia mulai menegenal tulisan, mereka tidak berubah dan tetap melakukan perjalanan sebagai sebuah ritus yang mau tak mau dialami. Bangsabangsa Eropa rela menempuh perjalanan berbulan-bulan lamanya lewat jalur laut demi menuju benua lain. Mereka ada yang berkepentingan untuk membuktikan bahwa bumi itu bundar maupun bertujuan untuk menjajah negeri lain yang jauh dari negara asal mereka. Tentu akan ada banyak sekali contoh yang bisa ditambahkan untuk disebut demi menggambarkan bagaimana perjalanan telah mengakar dalam kehidupan manusia sejak lama. Beragam alasan dan motivasi melatari perjalanan setiap orang. Beragam cara berpergian pun dilakukan oleh masing-masing orang. Beragam hal pun didapat oleh manusia dalam dan setelah menempuh perjalanan. Tidak dapat dipungkiri, meski kadang perjalanan dipandang sebagai hal yang remeh bahkan tidak diperhatikan, ia melingkupi kehidupan manusia secara sadar dan tak sadar. Maka, perjalanan rasanya perlu diberi tempat khusus dalam ruang-ruang pemikiran dan kontemplasi individual maupun dalam obrolan dan diskusi kelompok. Mempertanyakan perjalanan secara kritis sama artinya dengan merenungi kehidupan yang tiap hari bergulir di depan mata.

II. Perjalanan dalam ruang modernitas Meskipun terbuka pada perubahan, manusia nyatanya sering terperangkap dalam kebiasaan dan akhirnya ke dalam ketidakberubahan. Memasuki jaman modern, kita tetap saja melakukan mobilitas dari satu ruang ke ruang lain, dari kolong langit yang satu ke kolong langit yang lain. Tapi perjalanan modern punya alasan dan motivasi yang semakin kompleks dan beragam. Kompleksitas manusia tercermin disini: di satu sisi ia tidak berubah, di sisi lain ia berubah. Salah satu alasan dan motivasi yang berbeda dengan masa sebelumnya itu adalah untuk berwisata. Manusia kini melakukan perjalanan ke tempat lain untuk sejenak keluar dari rutinitas yang mereka jalani sehari-hari dan bertujuan agar sepulangnya ke tempat asal mereka mendapatkan kembali pikiran yang lebih segar.

Franklin (2003:2) mengatakan bahwa perjalanan wisata adalah komponen sentral dalam formasi kehidupan sosial modern. Perjalanan wisata pada mulanya didominasi oleh kalangan tertentu yang mampu mengakses aktivitas tersebut (Bennett 2005:141). Hal itu wajar karena untuk

melakukan perjalanan wisata membutuhkan biaya yang tidak murah, terlebih perjalanan jarak jauh, misalnya antarnegara atau antarkontinen. Selain itu, melakukan perjalanan wisata juga bukan kebutuhan primer manusia. Ia hanyalah kebutuhan sekunder bahkan tersier. Wajar apabila tak semua orang yang melakukannya karena hanya orang-orang yang telah memenuhi kebutuhan primer (dan sekunder) dengan baik yang kemudian melakukannya. Seiring berjalannya waktu, perjalanan wisata tak hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Berbagai lapisan masyarakat mulai bisa mengakses untuk melakukannya. Perjalanan wisata tak lagi menjadi barang yang eksklusif meski tetap saja ada hirarki di dalamnya. Dalam hal ini perjalanan wisata mulai meninggalkan jejak paradoksnya. Di satu sisi ia menghindarkan manusia sejenak dari “kehidupannya” tapi di sisi yang lain perjalanan wisata mulai disadari dan diterima menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Adalah modernitas yang sanggup menghadirkan itu semua, membuat perjalanan menjadi sebuah kebutuhan yang kalau bisa harus dipenuhi. Ia tak lagi dipandang sambil lalu, kehadirannya mulai mendapat tempat. Tapi sebenarnya dimanakah tempatnya pada modernitas?

III. Perjalanan sebagai eskapisme urban Sebagai sebuah gejala modern, perjalanan lahir dan tumbuh di kota, karena modern memang identik dengan perkotaan. Maka perjalanan hari ini dapat pula dikategorikan sebagai fenomena urban. Dalam konteks Indonesia saat ini, dapat disetujui bahwa maraknya fenomena jalan-jalan mengambil tempat lahir dalam suasana urban. Gejala itu jelas tidak muncul dari desa.

Kehadiran fenomena tersebut di konteks masyarakat kota tentu memiliki alasan tersendiri. Dalam studinya mengenai backpacking, McCannell (Richards, 2004:50) berpendapat bahwa fenomena backpacking, yang merupakan salah satu gaya dan varian perjalanan, dipengaruhi alienasi yang dialami masyarakat modern. Sebagai proses pencarian nilai dan pengalaman yang tidak didapatkan di kehidupan sosial sehariharinya, manusia melakukan perjalanan dan meninggalkan rutinitas yang dihidupinya untuk mendapatkan nilai dan pengalaman yang hilang tersebut. Penjelasan di atas menggambarkan bagaimana proses kelahiran gejala perjalanan sebagai aspek penting kehidupan modern perkotaan. Perjalanan diadakan demi

kebutuhan untuk mencari apa yang tidak ditemui dalam rutinitas. Manusia modern memang seringkali terjebak dalam kehidupan di dalam rutinitasnya yang kaku dan penuh sekat-sekat yang pada akhirnya justru menjauhkan dirinya dari dirinya sendiri. Dalam rutinitas yang memenjara itu, manusia terkadang berjalan sebagai robot yang telah tersistem. Di tengah usaha menghidupi diri, manusia justru kehilangan dirinya sendiri. Perjalanan datang bagai secercah cahaya di ujung terowongan yang mengundang individu, kelompok, atau bahkan masyarakat untuk keluar dari “kegelapan” yang menaunginya dalam hidup sehari-hari. Melihat cahaya tersebut, kita lalu tersadar bahwa selama ini di hidup kita ada sesuatu yang hilang “yang tak menemukan penyaluran dalam kehidupan yang tenang”1. Perjalanan akhirnya menjadi semacam eskapisme alias usaha untuk melarikan diri dan merasakan kebebasan.

Ada apa di kota kita? Masyarakat urban, berbeda dengan masyarakat rural, menekankan hubungan sosial antarpenghuninya pada sesuatu yang besifat kontraktual. Individu diformalisasi menjadi semacam mesin yang dituntut untuk memenuhi obligasi-obligasi sistemik yang dibebankan padanya. Hal itu harus dilakukan demi terciptanya tatanan sosial yang stabil. Karena pada dasarnya, masyarakat kota tergantung satu sama lain secara fungsional karena spesialisasi pembagian kerja yang terdapat didalamnya.
1

Dituliskan Leo Tolstoy dalam Family Happiness.

Dalam panggulan tanggung jawab yang terletak di punggungnya, individu seperti telah disebutkan sebelumnya merasakan apa yang pernah disebut Karl Marx sebagai alienasi. Saat itu Marx mengapungkan konsep itu dalam konteks buruh-buruh di pabrik yang membanting tulang bekerja demi sebuah benda, sepatu misalnya, tapi tidak pernah merasakan produk yang diciptakannya itu. Sang proletar terasing dari apa yang dikerjakannya. Pada konteks masyarakat kota hari ini, alienasi secara tidak sadar juga menjadi awan hitam yang menaungi kehidupan yang mungkin mewah, gemerlap, dengan lampulampu kota yang memincingkan mata. Di tengah senyum dan tawa dalam kehidupan di kota, manusia-manusia urban sebenarnya sedang terasing dari apa yang diperbuatnya setiap hari. Lebih parah lagi terasing dari dirinya sendiri akibat terlalu asyik hidup dalam sistem. Persis seperti buruh-buruh dalam konsepsi Marx. Tidak seperti masyarakat pedesaan yang umumnya lebih intim, integratif, dan komunal, masyarakat kota cenderlung individual, kompetitif, dan artifisial dalam berhubungan secara sosial. Kondisi seperti itu dapat menghadirkan situasi yang membuat kota seperti pabrik berukuran raksasa dimana tiap orang tak perlu mengenal orang lain karena yang terpenting adalah kebutuhan untuk tetap hidup. Dalam sebuah kuliah sosiologi perkotaan dijelaskan bahwa salah satu karakteristik urbanisme adalah individu di dalamnya cenderung teralienasi, sendiri, dan terapung-apung pada lautan kompetisi norma dan nilai. Alienasi, kesepian, dan keterapungan yang menjadi ciri masyarakat kota itulah yang secara sadar maupun tak sadar menjadi salah satu faktor pendorong masyarakat kota memilih menjadi turis, traveler, backpacker, atau apapun sebutannya. Perjalanan memang hanya menjadi salah satu akses untuk menyingkir dari kota beserta hidup yang ada di dalamnya. Tapi sebagai sebuah pelarian diri, perjalanan merupakan kendaraan paling romantik. Dalam kegundahan dan keresahan akibat kehidupan yang terasa sia-sia hari demi hari, bukankah terasa indah bila berpergian ke tempat yang asing, melihat matahari dari sudut yang berbeda, belajar dari masyarakat lokal, dan menemukan perspektif baru tentang kehidupan saat kembali ke rutinitas kelak?

Seperti yang diungkapkan W.Somerset Maugham dalam bukunya The Summing Up: "To me England has been a country where I had obligations that I did not want to fulfill and responsibilities that irked me. I have never felt entirely myself till I had put at least the channel between my native country and me."2

Mencari makna, mencari jati diri, menghapus lara Alasan klasik dari perjalanan adalah untuk mencari jati diri dan makna kehidupan lewat pengalaman yang dikoleksi selama berpergian ke tempat-tempat asing. Sekali lagi, tujuan tersebut ada karena ketiadaannya pada kehidupan sehari-hari. Atau mungkin ada, tapi terselip dalam setiap kerja yang kita hasilkan dalam rutinitas. Ketersembunyian itu membuat manusia mencari cara lain untuk mendapatkan jati diri dan makna kehidupan itu. Keterasingan yang dialami manusia modern dari dirinya sendiri kadang membuat ia terpaksa mencarinya jati dirinya sendiri lewat berbagai cara. Perjalanan adalah salah satu mediumnya. Dalam hal ini berpergian ke tempat lain bukanlah kegiatan untuk hura-hura dan bersenang-senang, maknanya lebih kontemplatif. Berpergian dan kadang tersesat membuat orang menemukan siapa dirinya yang sebenarnya dan juga makna kehidupan baginya. Keterasingan membuat orang perlu mengasingkan dirinya dari masyarakatnya dan berjalan ke tempat yang asing untuk menjadi tidak asing pada diri dan hidupnya sendiri. Dari pembelajaran selama perjalanan, jati diri dan makna hidup bisa saja ditemukan. Tapi tidak hanya itu. Bukan rahasia lagi jika perjalanan kadang menjadi alat sempurna untuk menghapuskan beban hidup yang dialami seseorang. Dalam kebudayaan Barat, sebuah perjalanan biasanya dilakukan saat seseorang berada dalam fase krisis kehidupannya atau pun dalam masa transisi.

2

Theroux, Paul. 2011. The Tao of Travel : Enlightenments from Lives on The Road. New York: Houghton Mifflin Harcourt Publishing.

Misalkan, individu melakukan perjalanan setelah lulus kuliah dan sebelum masuk ke dunia kerja. Perjalanan bisa dianggap sebagai sarana untuk menggapai kemampuan yang dibutuhkan seseorang di dunia kerja nanti, misalkan kemampuan menghadapi beragam situasi yang tentu bisa dipelajari lewat perjalanan. Mungkin juga perjalanan dalam masa transisi ini diadakan karena kejenuhan atas masa kuliah, maka untuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk menikmati dirinya sebagai komoditi pribadi, orang melakukan perjalanan. Buku dan film Into The Wild yang mengisahkan perjalanan Christopher McCandless mungkin bisa menjelaskan hal tersebut. Sementara tentang masa krisis dalam hidup, orang melakukan perjalanan setelah mengalami cerai atau diputus pekerjaannya, misalnya. Dalam hal ini perjalanan menemukan fungsinya sebagai tempat bagi individu untuk berpikir kembali akan kehidupan yang telah dijalani, untuk merenungi apa yang sedang terjadi, dan

membayangkan apa yang akan dilakukan sepulangnya nanti. Hal itu tercermin dengan jelas dalam kisah Elizabeth Gilbert dalam buku dan film berjudul Eat, Pray, Love. Oleh karena itu, perjalanan dimaknai sebagai rite de passage, sebagaimana yang dikatakan Erik Cohen dalam studinya tentang backpacking (dalam Richards 2004:52). Untuk merenunginya dalam konteks yang lebih “kita” mungkin dapat dijelaskan dengan fakta bahwa seringkali perjalanan yang dilakukan oleh orang-orang muda di Indonesia dilakukan atas dasar-dasar seperti di atas. Seseorang yang baru kehilangan orang tuanya merasa perlu untuk mencari arti hidup dalam keguncangan seperti itu melalui perjalanan. Beberapa yang lain bosan dan muak dengan kehidupan kampus lalu menyingkir beberapa waktu dan melakukan petualangannya. Terakhir, mungkin ini contoh yang paling mudah dimengerti, seseorang melakukan perjalanan untuk menghapus patah hatinya. Semua alasan dan motivasi itu membuat orang merasa perlu untuk melarikan diri sejenak dari kehidupan di masyarakat yang ditinggalinya. Sepulangnya, pada umumnya perjalanan membuat orang menjadi pribadi yang lebih “baru”. Mereka lalu menjalani rutinitas seperti biasa di kehidupannya dan pada suatu waktu mereka akan kembali perlu meretas perjalanan lagi.

IV. Perjalanan sebagai gaya hidup Dalam suasana urban, perjalanan bukan hanya berfungsi sebagai jalan keluar untuk melarikan diri dari kesesakan dalam suasana itu. Formasi sosial masyarakat modern perkotaan menghendaki perjalanan bertransformasi menjadi salah satu bentuk gaya hidup. Perjalanan bukan lagi sekedar tentang kebutuhan untuk menyingkir sejenak dari rutinitas. Sebagai suatu gaya hidup yang dikonsumsi masyarakat, perjalanan mendapatkan nama barunya. Masyarakat melabeli perjalanan sebagai gaya hidup dengan nama traveling atau jalan-jalan. Traveling biasanya dilakukan seseorang pada waktu luangnya. Aktivitas yang dilakukan pada waktu luang tersebut merupakan salah satu aspek yang signifikan untuk menggambarkan gaya hidup seseorang. Menurut Chaney (2009), gaya hidup merupakan ciri dari modernitas. Gaya hidup digunakan masyarakat modern untuk menggambarkan tindakannya sendiri maupun tindakan orang lain. Gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana seseorang membentuk citra di mata orang lain. Dalam hal ini perjalanan tidak mempunyai urusan dengan pencarian jati diri, makna hidup, atau eskapisme. Perjalanan adalah konsumsi yang dilakukan orang untuk menempatkan dirinya dalam posisi sosial yang diinginkannya dalam masyarakat. Chaney juga menyebutkan bahwa perjalanan dalam masyarakat modern harus dilihat sebagai salah satu aspek gaya hidup, yaitu aktivitas yang terhubung dengan pilihan dan preferensi gaya hidup lainnya. Perjalanan telah menjadi gaya hidup karena telah adanya kesadaran diri untuk menampilkan sesuatu yang konsisten dengan cerminan kesadaran terhadap gaya hidup. Sedangkan, Chaik menyebutkan bahwa perjalanan telah menjadi satu dengan leisure dan konsumsi kultural (dalam Bennett 2005:149). Alih-alih menjadi ruang perenungan, gaya hidup jalan-jalan justru lebih berhubungan pada sesuatu yang bersifat hura-hura semata. Ketika seseorang menyatakan ingin jalan-jalan ke suatu tempat, maka akan mudah ditangkap bahwa orang tersebut akan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan memberinya kepuasan,

meski terkadang kesenangan itu didapat dengan cara yang susah, misalnya jalan-jalan ala backpacker. Dalam konteks masyarakat Indonesia, belakangan ini istilah traveling sedang marak. Perkembangan jaman beserta perkembangan lain semisal teknologi informasi, transportasi, dan sebagainya menjadi pendorong kemunculan gaya hidup tersebut. Ramai-ramai masyarakat mengonsumsinya demi kepentingan untuk mendapatkan atau mempertahankan posisi sosial yang ingin ditempatinya. Sebuah artikel di situs National Geographic Indonesia diawali dengan kalimat “jalan-jalan bukan lagi dianggap pemborosan, tapi sebuah pemenuhan gaya hidup.”3 Artikel itu menjelaskan bahwa jalan-jalan menunjukkan pernyataan pencapaian seseorang. Dalam hal ini jalan-jalan mengandung dimensi kelas, seseorang melakukan perjalanan untuk bisa masuk ke kelas tertentu. Tapi “pernyataan” melalui jalan-jalan tidak hanya soal kelas sosial, tapi juga mengandung makna sosial lainnya.

Menjadi keren, menjadi penganut setia tren Mengapa masyarakat semakin banyak yang melakukan aktivitas gaya hidup jalan-jalan mengundang kecurigaan. Perjalanan memiliki makna yang dapat dipamerkan sebagai bagian identitas diri seseorang. Individu yang melakukan traveling mendapatkan kesan-kesan tertentu yang melekat pada dirinya, sebut saja salah satunya berkesan keren. Bagi laki-laki, berjalan menyandang ransel dengan wajah tertampar matahari memang terkesan “macho”. Sedangkan untuk perempuan, menjadi traveler pasti juga menimbulkan kesan-kesan tertentu yang diharapkan akan melekat padanya. Sekali lagi situasi sosial yang ada mau tak mau membuat traveling menjadi sebuah tren yang diikuti. Sebutlah keberadaan media sosial sebagai salah satunya. Dengan Facebook dan Twitter, kemudahan-kemudahan yang tidak ada pada masa sebelumnya menjadi mungkin tercipta. Dalam hal jalan-jalan, media sosial

3

Christiantiowati. “Gaya Jajan dan Pelesir Menunjukkan Pernyataan”. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/10/gaya-jajan-dan-pelesir-menunjukkan-pernyataan. Diakses pada 4 November 2012, 22.00 WIB

menghadirkan kecepatan dan ketepatan informasi yang murah dan juga menyediakan promosi-promosi jalan-jalan yang bisa dibeli oleh penikmatnya. Tak hanya itu, media sosial menguatkan kecurigaan bahwa orang-orang melakukan traveling hanya atas nama kekerenan. Memasang profile picture dengan latar belakang bangunan ikonik di luar negeri, di bibir pantai yang cantik, maupun di puncak gunung tentu mewujudkan hasrat narsistik yang dipunyai hampir setiap orang. Menyebar twitpic suatu lokasi wisata, memasang status di foursquare saat sedang jalanjalan, men-tweet informasi sedang berada di suatu tempat yang indah, memamer foto di Instagram, semuanya menjadikan jalan-jalan menjadi semakin terkenal, massal, sekaligus banal. Seiring dengan aktualisasi diri sebagai traveler melalui media sosial, orangorang lalu berlomba-lomba untuk melakukan perjalanan-perjalanan, memotret diri sendiri, dan memasangnya di dunia maya agar semua orang tahu bahwa dirinya pernah ke tempat A dibanding orang lain yang hanya ke tempat B. Jadilah perjalanan menjadi semacam kompetisi teselubung. Bukankah masyarakat urban identik dengan kompetisi?

Terseret arus budaya massa? Untuk mempertanyakan ulang mengenai praktik gaya hidup jalan-jalan, konsepsi tentang budaya massa tampaknya patut untuk dicermati. Budaya massa lahir dari industri budaya yang merupakan struktur rasional dan birokratis, misalnya televisi, yang mengontrol kehidupan modern. Budaya massa sendiri dianggap bukan real thing dan lebih dimaknai sebagai budaya yang diberikan, tidak spontan, tereifikasi, dan palsu. Para pemikir teori kritis mengkhawatirkan dua hal tentang budaya massa. Pertama, kebohongannya yang berisi seperangkat ide yang telah disiapkan dan kemudian disebarkan secara masif ke massa melalui media massa. Kedua, efeknya kepada masyarakat yang seolah menenangkan, represif, dan memesona (Ritzer 2008:147). Budaya massa ini erat kaitannya dengan upaya kapitalisme untuk menghimpun massa agar terseret arusnya.

Mengenai traveling dewasa ini di Indonesia, siapa yang memungkiri bahwa salah satu yang mempengaruhi perkembangannya adalah kehadiran acara-acara televisi bertemakan perjalanan dan semacamnya? Siapa pula yang tak setuju bahwa hal tersebut dipengaruhi keberadaan buku-buku tentang traveling yang hari demi hari makin banyak di toko buku? Teks televisi maupun buku-buku perjalanan secara sadar maupun tidak sadar membangun hasrat untuk jalan-jalan pada masyarakat. Simbol-simbol traveling yang ditangkap dari acara televisi maupun buku perjalanan itu mempengaruhi pula gaya masing-masing orang dalam berpergian. Dalam penelitian tentang backpacking yang pernah dilakukan penulis, yang berjudul “Mempertanyakan Backpacking dan Backpacker: Studi Mengenai Sebuah Gaya Perjalanan” (Pakan, 2012) seorang informan mengakui bahwa salah satu hal yang mendorongnya menjadi seorang backpacker (atau dia menyebut dirinya sendiri independent traveler) adalah buku tentang perjalanan yang memang menjadi “hits” berjudul The Naked Traveler. Selain itu, informan mengakui bahwa maraknya fenomena traveling di Indonesia salah satunya disebabkan banyaknya program televisi bertema wisata. Tak hanya dua hal itu, semakin bertambahnya majalah atau tabloid tentang perjalanan kemungkinan juga memegang andil dalam maraknya jalan-jalan belakangan ini. Jalan-jalan sebagai budaya massa memberi kesan yang “dangkal” bagi pelakunya karena mereka terseret arus untuk mengkonsumsi yang memang telah disusun sedemikian rupa oleh struktur kapitalisme dan kemudian disebarkan ke masyarakat melalui media massa yang bermacam rupa. Masyarakat terbawa kesadaran palsu untuk mempraktikkan gaya hidup jalan-jalan sebagai bagian hidupnya, menganggapnya keren, trendi, dan sebagainya. Dalam hal ini yang tersenyum adalah para kapitalis itu. Budaya massa memang menjadikan masyarakat banyak sebagai makhluk yang mau tak mau terperangah dan terpesona oleh suatu produk budaya, yaitu gaya hidup jalan-jalan tersebut. Dengan menonton televisi dan membaca buku atau majalah masyarakat secara tak sadar dipengaruhi keinginan untuk melakukan perjalanan dan lambat laun mengubahnya menjadi sebuah kebutuhan yang harus dilakukan demi

mencapai posisi sosial di masyarakat atau memperoleh identitas diri yang terkesan keren dan trendi.

V. Penutup Perjalanan dalam masyarakat modern mengambil tempat dalam rupa eskapisme dan gaya hidup. Keduanya merupakan saluran yang berbeda bentuk dan nilai. Meski begitu, keduanya bisa saja berjalan beriringan dan tak saling lepas. Individu atau kelompok bukan tidak mungkin meresapi perjalanan yang dilakukannya sebagai konsumsi gaya hidup sekaligus upaya melarikan diri. Eskapisme dari kesemrawutan sekaligus kehampaan kehidupan sosial menuntun orang untuk keluar darinya dan melakukan perjalanan ke latar-latar sosial lainnya. Disini perjalanan bukan sekedar hobi yang dilakukan pada waktu luang. Perjalanan adalah keperluan yang tidak terlalu mendesak tapi berarti penting untuk dilakukan. Dalam proses escaping tersebut, masyarakat sekaligus melakukan pencarian terhadap jati diri, makna kehidupan, atau menjalani rite de passage dalam hidupnya. Sementara itu, gaya hidup jalan-jalan merupakan komponen integral dalam tatanan sosial modern. Konsumsi lifestyle tersebut menyangkut kepentingan untuk menempatkan diri di posisi sosial tertentu. Selain itu, status sosial dan identitas diri yang digapai melalui gaya hidup jalan-jalan pun menjadi salah satu bahan pertimbangan masyarakat untuk mengonsumsinya secara masif. Meski begitu, masyarakat harus mulai memikirkan kembali untuk menyadari bahwa gaya hidup yang mereka “beli” itu mungkin saja merupakan skenario yang telah disusun suprastruktur tertentu yang mengontrol kehidupan modern dan menjadikan praktik gaya hidup masyarakat sebagai budaya massa. Akhirnya, penting rasanya untuk berulang kali mempertanyakan kembali makna perjalanan dalam modernitas yang tiap hari digeluti. Kesadaran untuk memahaminya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akan menuntun dalam pencarian esensi dari perjalanan di setiap jaman.

Daftar Acuan Buku Bennett, Andy. 2005. Culture and Everyday Life. London: Sage Publications. Chaney, David. 2009. Gaya Hidup (Lifestyle): Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra. Richards, Greg dan Wilson, Julie. 2004. The Global Nomad: Backpacker Travel in Theory and Practice. Clevedon: Channel View Publications. Ritzer, George. 2008. Modern Sociological Theory. New York: McGraw-Hill. Theroux, Paul. 2011. The Tao of Travel : Enlightenments from Lives on The Road. New York: Houghton Mifflin Harcourt Publishing. Sumber internet Christiantiowati. “Gaya Jajan dan Pelesir Menunjukkan Pernyataan”.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/10/gaya-jajan-dan-pelesir-menunjukkanpernyataan. Diakses pada 4 November 2012, 22.00 WIB Makalah Pakan, Sarani. 2012. Mempertanyakan Backpacking dan Backpacker: Studi Mengenai Sebuah Gaya Perjalanan. Makalah Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial Kualitatif.