SPINAL CORD INJURY

Diposkan oleh Putri Bebek di 20.27 http://ikabuntud.blogspot.com/2012/05/spinal-cord-injury.html SPINAL CORD INJURY Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Neurosains Disusun oleh : Ikawati Mardiana Kunmangesti Wahyu D P Nuzulis Hazjar A Putri Marganingtyas K D Riski Excavani Amalia P 27226011 105 P 27226011 108 P 27226011 114 P 27226011 118 P 27226011 119

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI JURUSAN FISIOTERAPI POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA SURAKARTA 2012

DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................ i A. Pengertian Spinal Cord Injury ......................................................... B. C. Klasifikasi Spinal Cord Injury ......................................................... Anatomi Fisiologi Spinal Cord (Medula Spinalis) ...........................

D. Gejala dan Penyebab Spinal Cord Injury ........................................ E. F. Diagnosis ......................................................................................... Prognosis .........................................................................................

........................... Daftar Pustaka .............................. Komplikasi .....G.................................................................................................... ..............

Spinal Cord Injury (SCI) adalah cedera yang terjadi karena trauma sumsum tulang belakang atau tekanan pada sumsum tulang belakang karena kecelakaan yang dapat mengakibatkan kehilangan atau gangguan fungsi baik sementara atau permanen di motorik normal. disk. yang bila terjadi cedera di tulang belakang maka akan mempengaruhi syaraf-syaraf tersebut (Mansjoer. 5 buah tulang sacral. Skala kerusakan menurut ASIA/ IMSOP Grade A Komplit Tidak ada fungsi motorik/ sensorik yg diinervasi o/ segmen sakral 4-5 Grade B Inkomlpit Fungsi sensorik tapi bukan motorik dibawah tingkat lesi dan menjalar sampai segmen sakral (S4-5). Diskus intervertebrale merupakan penghubung antara dua korpus vertebrae. Di dalam susunan tulang tersebut terangkai pula rangkaian syaraf-syaraf. 5 buah tulang lumbal. Spinal cord injury (SCI) terjadi ketika sesuatu (seperti: tulang. Marianne Chulay. et al. Pengertian Spinal Cord Injury Tulang belakang (vertebrae) adalah tulang yang memanjang dari leher sampai ke selangkangan. antara lain : 7 buah tulang servikal. vertebralis dan lumbalis akibat trauma . Tulang vertebrae terdiri dari 33 tulang. 12 buah tulang torakal. atau fungsi otonom serta berkurangnya mobilitas atau perasaan (sensasi). 1997). Arif. indera. jatuh dari ketinggian. Klasifikasi Spinal Cord Injury American Spinal Injury Association (ASIA) bekerjasama dengan Internasional Medical Society Of Paraplegia (IMSOP) telah mengembangkan dan mempublikasikan standart internasional untuk klasifikasi fungsional dan neurologis cedera medula spinalis. 2005 : 487). Grade C Inkomlpit Gangguan fungsi motorik di bawah tingkat lesi dan mayoritas otot-otot penting dibawah tingkat lesi memiliki nilai kurang dari 3. B. Grade D Inkomlpit Gangguan fungsi motorik dibawah tingkat lesi dan meyoritas otot-otot penting memiliki nilai lebih dari 3.A. Cidera tulang belakang adalah cidera mengenai cervicalis. kecelakakan lalu lintas. Sistem otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas vertebrae. . Klasifikasi ini berdasarkan pada Frankel pada tahun 1969. Grade E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal. 2000). Klasifikasi ASIA/ IMSOP dipakai di banyak negara karena sistem tersebut dipandang akurat dan komperhemsif. kecelakakan olah raga dan sebagainya yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra sehingga mengakibatkan defisit neurologi (Sjamsuhidayat. atau benda asing) masuk atau mengenai spinal dan merusakkan spinal cord atau suplai darah (AACN.

Sering terjadi pada individu di usia pertengahan dengan spondilosis cervicalis. yang mengindikasikan adanya edema. Pemulihan fungsi ekstremitas bawah biasanya lebih cepat. terutama pada vertebra C4-C6.Terdapat 5 sindrom utama cedera medula spinalis inkomplet menurut American Spinal Cord Injury Association yaitu : (1) Central Cord Syndrome. ekstremitas atas dan Dapat sering terjadi ekstremitas bawah jarang . Central Cord Syndrome (CCS) biasanya terjadi setelah cedera hiperekstensi. Edema yang ditimbulkan dapat meluas sampai 1-2 segmen di bawah dan di atas titik pusat cedera. (3) Brown Sequard Syndrome. Predileksi lesi yang paling sering adalah medula spinalis segmen servikal. (4) Cauda Equina Syndrome. dan (5) Conus Medullaris Syndrome.Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak komplet berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi. Bagian medula spinalis yang paling rentan adalah bagian dengan vaskularisasi yang paling banyak yaitu bagian sentral. Hal ini terutama disebabkan karena pusat cedera paling sering adalah setinggi VC4-VC5 dengan kerusakan paling hebat di medula spinalis C6 dengan ciri LMN. Nama Sindroma Central cord syndrome Pola dari lesi saraf Kerusakan ke daerah Cedera pada posisi Menyebar sentral dan sebagian sacral. Pada Central Cord Syndrome. Sebagian besar kasus Central Cord Syndrome menunjukkan hipo/isointens pada T1 dan hiperintens pada T2. Sebagian kasus tidak ditandai oleh adanya kerusakan tulang. Mekanisme terjadinya cedera adalah akibat penjepitan medula spinalis oleh ligamentum flavum di posterior dan kompresi osteofit atau material diskus dari anterior. bagian yang paling menderita gaya trauma dapat mengalami nekrosis traumatika yang permanen. (2) Anterior Cord Syndrome. Gambaran klinik dapat bervariasi. Lee menambahkan lagi sebuah sindrom inkomplet yang sangat jarang terjadi yaitu Posterior Cord Syndrome. sementara pada ekstremitas atas (terutama tangan dan jari) sangat sering dijumpai disabilitas neurologik permanent. Gambaran khas Central Cord Syndrome adalah kelemahan yang lebih prominen pada ekstremitas atas dibanding ektremitas bawah. pada beberapa kasus dilaporkan disabilitas permanen yang unilateral. Kelemahan otot pada daerah lateral.

Holdsworth membuat klasifikasi Spinal Cord Injury (SCI) sebagai berikut : 1.Sequard Syndrome Anterior dan posterior Kehilangan hemisection dari proprioseptiv ipsilateral dan fungsi medulla spinalis atau kehilangan cedera menghasilkan medulla unilateral Anterior cord syndrome Kerusakan pada Kehilangan dan spinalis akan motorik.abu secara komplit.abu Funsgis medulla spinalis terganggu motor juga Cauda syndrome equine Kerusakan pada saraf Kerusakan sensori dan lumbal atau sacral lumpuh flaccid pada samapi ujung medulla ekstremitas bawah dan spinalis kontrol defekasi. selanjutnya akan mengakibatkan terjadinya dislokasi . dan selanjutnya dapat menimbulkan kompresi pada bagian anterior korpus vertebra dan mengakibatkan wedge fracture (teardrop fracture). berkemih dan Sedangkan secara lebih spesifik lagi. Cedera Fleksi Cedera fleksi menyebabkan beban regangan pada ligamentum posterior.pada daerah servikal terjadi pada ekstremitas bawah Brown. 2. putih dan abu. medulla spinalis Posterior syndrome cord Kerusakan pada Kerusakan proprioseptiv anterior dari daerah diskriminasi dan getaran. funsgsi sensorik anterior dari daerah motorik putih dan abu. Cedera semacam ini dikategorikan sebagai cedera yang stabil. Cedera Fleksi-Rotasi Beban fleksi-rotasi akan menimbulkan cedera pada ligamentum posterior dan kadang juga terdapat pada prosesus artikularis.

korset. dan korset untuk beberapa minggu. Cedera Ekstensi Cedera ekstensi biasanya merusak ligamentum longitudinalis anterior dan menimbulkan herniasi diskus. Ketidaknyamanan yang berkepanjangan tidak lazim ditemukan. dan ambulasi dini diperlukan. Cedera Stabil Fleksi Cedera fleksi akibat fraktura kompresi baji dari vertebra torakolumbal umum ditemukan dan stabil. dan penatalaksanaannya terdiri atas perawatan di rumah sakit selama beberapa hari istirahat total di tempat tidur dan observasi terhadap paralitik ileus sekunder terhadap keterlibatan ganglia simpatik. Cedera stabil mencakup cedera kompresi korpus vertebra baik anterior atau lateral dan burst fracture derajat ringan. . Cedera ini stabil. 4.fraktur rotasional yang dihubungkan dengan slice fracture korpus vertebra. analgetik. 6. Jika tidak. Cedera ini menimbulkan rasa sakit. dan defisit neurologik tidak terjadi. Fleksi ke Lateral dan Ekstensi Cedera ini jarang ditemukan pada daerah torakolumbal. fraktur prosesus artikularis serta ruptur ligamen. Terapi untuk kenyamanan pasien dapat diberikan berupa analgetik dan korset. 5. Terapi yang dapat diberikan berupa analgetik. maka cedera ini masih tergolong stabil. Cedera ini merupakan cedera yang paling tidak stabil. Kelly dan Whitesides mengkategorikan cedera spinal menjadi cedera stabil dan cedera non-stabil. Ini merupakan fraktura yang stabil. Berdasarkan sifat kondisi fraktur yang terjadi. Cedera robek langsung (direct shearing) biasanya terjadi di daerah torakal dan disebabkan oleh pukulan langsung pada punggung. istirahat ditempat tidur selama beberapa hari. Yang pertama terjadi pada pasien muda dengan protrusi nukleus melalui lempeng akhir vertebra kedalam tulang berpori yang lunak. fleksi-rotasi. dislokasifraktur (slice injury). (2) fraktura ledakan. dan burst fracture hebat. Selama kolum vertebra dalam posisi fleksi. dan defisit neurologik jarang. brace atau gips dalam ekstensi dianjurkan. Jika baji lebih besar daripada 50 persen. Sedangkan cedera yang tidak stabil mencakup cedera fleksi-dislokasi. Cedera kompresi vertical mengakibatkan pembebanan pada korpus vertebra dan dapat menimbulkan burst fracture. Kompresi Vertikal Tenaga aksial mengakibatkan kompresi aksial yang terdiri dari 2 jenis : (1) protrusi diskuske dalam lempeng akhir vertebral. 3. Biasanya terjadi pada daerah leher. sehingga salah satu vertebra bergeser. Kerusakan neurologik tidak lazim ditemukan.

Jika cedera terjadi pada daerah toraks. keterlibatan neurologik dapat terjadikarena masuknya fragmen ke dalam kanalis spinalis. 9. fragmen harus dipindahkan dari kanalisneuralis. Pedikel atau prosesus artikularis biasanya patah. Setelah radiografik yang akurat didapatkan (terutama CTScan). 7. Stabilisasi dengan batang kawat. mengakibatkan paraplegia lengkap. Pendekatan bisa dari anterior. plat atau graft tulang penting untuk mencegah ketidakstabilan setelah dekompresi. jarang terjadi gangguan neurologi karena ruang bebas yang luas pada kanalis neuralis lumbalis.Meskipun fraktura ”ledakan” agak stabil. Fraktura “Potong” Vertebra dapat tergeser ke arah anteroposterior atau lateral akibat trauma parah. 8 pasang syaraf servikal. 8. C. Cedera Fleksi-Rotasi Change fracture terjadi akibat tenaga distraksi seperti pada cedera sabuk pengaman. lateral atau posterior. Terbentang dari foramen magnum sampai dengan L1. CT-Scan memberikan informasi radiologik yang lebih pada cedera. Fraktura iniditangani seperti pada cedera fleksi-rotasi. Jika tidak ada keterlibatan neurologik. Meskipun fraktura ini sangat tidak stabil pada daerah lumbal. Direkomendasikan juga untuk menggunakan brace atau jaket gips untuk menyokong vertebra yang dapat digunakan selama 3 atau 4 bulan. dan fraktura biasanya tidak stabil. Fraktura dislokasi ini paling sering terjadi pada daerah transisional T10 sampai L1 dan berhubungan dengan insiden yang tinggi dari gangguan neurologik. Karena cedera ini sangat tidak stabil. dekompresi dengan memindahkan unsur yang tergeser dan stabilisasi spinal menggunakan berbagai alat metalik diindikasikan. Anatomi Fisiologi Spinal Cord (Medula Spinalis) Spinal Cord atau Medulla Spinalis merupakan bagian dari Susunan Syaraf Pusat. pasien harus ditangani dengan hati-hati untuk melindungi medula spinalis dan radiks. Terjadi pemisahan horizontal. pasien ditangani dengan istirahat di tempat tidur sampai gejala-gejala akut menghilang. . Cedera Tidak Stabil Rotasi-Fleksi Kombinasi dari fleksi dan rotasi dapat mengakibatkan fraktura dislokasi dengan vertebra yang sangat tidak stabil. Stabilisasi bedah direkomendasikan. Terbentang dibawah conus terminalis serabut-serabut bukan syaraf yang disebut filum terminale yang merupakan jaringan ikat. Terdapat 31 pasang syaraf spinal: a. Jika ada keterlibatan neurologik. di L1 melonjong dan agak melebar yang disebut conus terminalis atau conus medullaris.

c. diameter medula spinalis membesar. setiap saraf perifer dibuat dari serat beberapa radiks segmental yang berdekatan. segmen medula spinalis. serat saraf aferen berasal dari satu radiks dorsalis yang bergabung dan mensuplai daerah segmen tertentu dari kulit. dengan kata lain. Dari sini ke bawah. Setelah itu. mempersarafi ekstrimitas bawah. Radiks dari segmen C1 sampai C7. Dermatom-dermatom letaknya saling tumpang tindih satu sama lain. d. e. spasium subarakhnoid yang seperti kantong. Di bawah tingkat ini. ditunjukkan oleh radiksnya.b. Medula spinalis berakhir kira-kira pada tingkat diskus intervertebralis antara vertebra lumbalis pertama dan kedua. hanya mengandung radiks posterior dan anterior yang membentuk cauda equina. Ke arah perifer dari saraf. 12 Pasang syaraf Torakal. Pembentukan pleksus-pleksus ini menyebabkan serat-serat dari setiap pasang radiks bercabang menjadi saraf-saraf perifer yang berbeda. Kadang-kadang. disebut dermatom atau daerah dermatomik. radiks segmen ke-8 meninggalkan kanalis melalui foramina yang terletak antara vertebra servikalis ke-7 dan torasikus ke-1. 5 Pasang syaraf Lumbal. Karena bagian servikalis mempunyai satu segmen lebih daripada vertebra servikalis. langsung menghadap ke vertebra yang bersangkutan. dan juga antara L2 dan S3. conus terminalis dapat mencapai sampai tingkat vertebra lumbalis ke-3. Syaraf Spinal dilindungi oleh tulang vertebra dan ligamen dan juga oleh meningen spinal dan CSF. Pada orang dewasa. meninggalkan kanalis spinalis melalui foramina intervertebralis yang terletak pada sisi superior atau rostral setiap vertebra. Setiap pasangan syaraf keluar melalui Intervertebral foramina. akhirnya terletak pada tingkat vertebra lumbalis ke-2. 1 pasang syaraf koksigeal Akar syaraf lumbal dan sakral terkumpul yang disebut dengan Cauda Equina. Dermatom berjumlah sebanyak radiks segmental. Radiks tetap melekat pada foramina intervertebralis asalnya dan menjadi bertambah panjang ke arah akhir medula (conus terminalis). kolumna tumbuh lebih cepat daripada medula. Antara C4 dan T1. medula spinalis lebih pendek daripada kolumna spinalis. 5 Pasang syaraf Sakral . dan yang dari regio lumbo-sakral membentuk pleksus lumbosakralis. mempersarafi ekstrimitas atas. radiks saraf meninggalkan kanalis melalui foramina yang lebih bawah. Sebelum usia 3 bulan. sehingga hilangnya satu radiks saja sulit untuk dideteksi. Intumesensia servikalis dan lumbalis ini terjadi karena radiks dari separuh bawah bagian servikalis naik ke pleksus brakhialis. Harus terjadi hilangnya beberapa radiks yang berdekatan supaya dapat timbul .

trapezius) Saraf servikalis C1-C4 Pengangkatan dada atas. pektoralis mayor dan minor C5-T1 C3-C5 . dan eksorotasi leher Otot Saraf Pleksus servikalis C1-C4 Mm. Fungsi dan Persarafan Otot Periferal dan Segemental Fungsi I. Diafragma Pleksus brakhialis C5-T1 Saraf torakalis anterior Aduksi dan endorotasi lengan. Menurunkan bahu ke dorsoventral Saraf torakalis longus Fiksasi skapula selama mengangkat lengan Saraf skapularis dorsal Elevasi dan aduksi skapula ke arah kolumna spinalis Saraf supraskapularis Mengangkat dan eksorotasi lengan.hilangnya sensorik dari karakter segmental. M. infraspinatus C4-C6 M. C5-C8 M. skaleni C3-C5 Saraf frenikus Inspirasi II. Dermatom berhubungan dengan berbagai segmen radiks medula spinalis. C4-C6 M. supraspinatus. Fleksi. M. Eksorotasi lengan pada sendi bahu Saraf torakalis dorsal Endorotasi sendi bahu. seratus anterior C5-C7 M. Mm. levator skapula. rhomboidei C4-C5 M. sehingga mempunyai nilai diagnostik yang besar dalam menentukan tingkat ketinggian dari kerusakan medula spinalis. rotasi. sternokleidomastoideus. inspirasi Mm. koli profundi (M. ekstensi. latissimus dorsi.

Oposisi metakarpal I M. fleksor polisis longus C6-C8 C5-C6 C7-T1 C7-T1 M. pronator teres M. subskapularis Saraf aksilaris Abduksi lengan ke garis horizontal. Fleksi falangs distal ibu jari tangan. (dari daerah dorsal pleksus) M. Pronasi lengan bawah. palmaris longus M. deltoideus C5-C6 . Fleksi falangs distal jari II dan III tangan. menurunkan lengan yang terangkat M. C5-C6 M. fleksor polisis brevis C7-T1 C7-T1 C7-T1 M. fleksor karpi radialis C5-C6 M. Elevasi dan aduksi lengan.aduksi dari ventral ke dorsal. Fleksi falangs proksimal ibu jari tangan. abduktor polisis brevis M. fleksor digitorum profundus (radial) M. biseps brakhii. Jari II dan III tangan C6-C7 Saraf medianus C8-T1 M. Fleksi jari II-V pada falangs tengah. oponens polisis brevis Mm. fleksor digitorum superfisialis M. C5-C7 M. Eksorotasi lengan M. korakobrakhialis. teres major. Fleksi lengan bawah M. teres minor C4-C5 Saraf muskulokutaneus Fleksi lengan atas dan bawah dan supinasi lengan bawah. Abduksi metakarpal I. brakhialis C5-C6 Saraf medianus Fleksi dan deviasi radial tangan. Fleksi tangan. lumbrikalis Fleksi falangs proksimal dan ekstensi sendi lain.

abduktus digiti V M. Fleksi falangs proksimal jari tangan IV dan V. ekstensor karpi ulnaris C6-C8 C6-C8 M. fleksor digiti brevis V C7-T1 . M. ekstensor digitorum C6-C8 C6-C8 C5-C6 C6-C8 Mm. interosei palmaris dan dorsalis Mm. fleksor digitorum profundus (ulnar) M. biseps brakhii dan M. dan V pada sendi tangan dan distal seperti juga gerakan membuka dan menutup jari-jari Saraf radialis Ekstensi siku. meregangkan jari tangan III. lumbrikalis III dan IV C8-T1 M. ekstensor digiti V M. Ekstensi falangs proksimal jari II-IV. M. Fleksi siku. oponens digiti V C8-T1 C8-T1 C7-T1 C7-T1 M. Ekstensi siku dan abduksi radial tangan. Oposisi jari tangan V. Ekstensi falangs proksimal jari V. Aduksi metakarpal I. fleksor karpi ulnaris C7-T1 Saraf ulnaris Fleksi jari V pada sendi metakarpofalangeal.Saraf ulnaris Fleksi falangs proksimal dan ekstensi sendi lain Jari IV dan V tangan C8-T1 Saraf ulnaris Fleksi dan pembengkokan ke arah ulnar jari tangan. ankoneus M. Pembengkokan falangs proksimal. IV. Abduksi jari tangan V. aduktor polisis M. ekstensor karpi radialis M. brakhioradialis M.

Ekstensi dan deviasi ke arah ulnar dari tangan. sartorius L2-L4 M. aduktor magnus M. Abduksi metakarpal I: ekstensi radial dari tangan. grasilis Aduksi dan eksorotasi paha IV. Ekstensi falangs distal ibu jari. supinator M. Fleksi dan endorotasi tungkai bawah. kompresi abdomen. ekstensor polisis longus C7-C8 M. anterofleksi dan laterofleksi tubuh. obturator eksternus L2-L3 L2-L3 L2-L4 L3-L4 L2-L4 L3-L4 M. III. ekstensor indisis proprius C6-C8 M. ekspirasi. toracis T1-L1 M. Ekstensi tungkai bawah pada tungkai lutut Saraf obturatorius Aduksi paha M. Pleksus lumbalis T12-L4 Saraf femoralis Fleksi dan endorotasi pinggul. iliopsoas L1-L3 L2-L3 Mm. Ekstensi ibu jari tangan pada falangs proksimal. Ekstensi falangs proksimal jari II Elevasi iga. ekstensor polisis brevis C7-C8 M. toracis dan abdominalis N. quadriseps femoris M. aduktor brevis M. abduktor polisis longus C5-C7 C6-C7 . Supinasi lengan bawah. Pleksus sakralis L5-S1 M. pektineus M. aduktor longus M.

semitendinosus M. Eksorotasi paha dan abduksi Saraf glutealis inferior Ekstensi paha pada pinggul. gluteus medius dan minimus M. biseps femoris M. gemeli M. Ekstensi ibu jari kaki Ekstensi ibu jari kaki M. Eksorotasi paha M. ekstensor halusis longus M. semimembranosus L4-S2 L4-S1 L4-S1 Saraf peronealis Dorsifleksi dan supinasi kaki. ekstensor halusis brevis Saraf peronealis Pengangkatan dan pronasi bagian luar kaki Mm. quadratus L4-S1 Saraf skiatikus Fleksi tungkai bawah M.Saraf glutealis Abduksi dan endorotasi paha. gluteus maksimus M. soleus Supinasi dan fleksi M. M. tibialis anterior M. abduksi dan endorotasi. Fleksi tungkai atas pada pinggul. triseps surae M. tensor fasia lata superior L4-S1 L4-L5 Ekstensi kaki dan jari-jari longus kaki. ekstensor digitorum brevis M. M. piriformis L5-S1 M. tibialis posterior L4-L5 L5-S2 . gastroknemius M. obturator internus Mm. Ekstensi jari kaki II-V. ekstensor digitorum profunda L4-L5 L4-S1 L4-S1 L4-S1 L4-S1 L4-S2 L5-S1 M. peronei superfisialis L5-S1 Saraf tibialis Fleksi plantar dan kaki dalam supinasi.

dan dapat bibedakan menjadi 4 kelompok yaitu : 1. menutup. Fleksi jari kaki II-V pada falangs tengah. Anterior cord syndrome. dengan gejala : a. Central cord syndrome. plantaris pedis S1-S3 M. Fleksi falangs distal ibu jari kaki. fleksor halusis longus M. dan fleksi falangs proksimal jari-jari kaki Saraf pudendalis Menutup sfingter kandung kemih dan rectum Otot-otot perinealis dan sfingter S2-S4 Mm. dissociated sensory loss : gangguan rasa nyeri dan raba namun sensasi kinestesi tetap ada 2. fleksor digitorum longus L5-S2 D.plantar dari kaki Fleksi falangs distal jari kaki II-V (plantar fleksi kaki dalam supinasi). Melebarkan. dengan gejala : . Gejala dan Penyebab Spinal Cord Injury Cedera medula spinalis mempunyai gambaran klinik yang berbeda-beda tergantung letak lesi dan luasnya. para / tetraplegia b. fleksor digitorum brevis L5-S2 S1-S3 M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful