Anda di halaman 1dari 9

Nama Nim Prodi

: Vera Fitria Rahmawati :III.11.3093 :S1 Keperawatan 2B

KONSEP BERMAIN PADA ANAK


A. PENGERTIAN Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara suka rela untuk memperoleh kesenangan dan bermain merupakan cermin kemampuan fisik, intelektual, emosional dan social (Depdikbud, 1983). Bemain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan/kepuasan. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social, dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak-anak akan berkata-kata(berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, mengenal waktu, jarak serta suara(Wong,2000). Bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stress pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak.(Champbell dan Glaser,1995). Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa yang dapat menurunkan stress anak, media yang baik bagi anak untuk belajar berkomunikasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri terhadap lingkungan, belajar mengenal dunia sekitar kehidupannya dan penting untuk meningkatkan kesejahteraan mental serta social anak.

B.

FUNGSI BERMAIN

Fungsi bermain bagi anak : 1. Perkembangan sensorik motorik. Aktivitas sensorik dan motorik merupakan komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensorik motorik dan alat permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.

2. Perkembangan intelektual Pada saat bermain, anak melakumbedakan eksploitasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek.

3. Perkembangan social Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan

lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan social dan belajar memesahkan masalah dari hubungan tersebut. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya di luar lingkungan keluarga.

4. Perkembangan kreatifitas Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan mewujudkannya ke dalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan bermain anak akan belajar dan mencoba merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang.

5. Perkembangan kesadaran diri Melalui bermain, anak akan mengembangkan kemampuannya dalam mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain.

6. Perkembangan moral Anak mempelajari nilai dasar dan salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan guru. Denagan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapat kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yang telah dilakukannya.

7. Bermain sebagai terapi Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stresorr yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permaianan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenanganya melakukan permainan. Dengan demkian permainan adalah media komunikasi antara anak dengan orang lain, termasuk dengan perawat atau petugas kesehatan di rumah sakit. Perawat dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang ditunjukkan selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang ditunjukan anak dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya.

C.

TUJUAN BERMAIN

Melalui fungsi yang terurai diatasnya, pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan sebagai berikut : a. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Walaupun demikian, selama anak dirawat di rumah sakit, kegiatan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya.

b. Mengekspresikan perasaan, keiginan, dan fantasi serta ide-idenya. Seperti yang telah di uraikan diatas pada saat sakit dan dirawat di rumah sakit, anak mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Pada anak yang belum dapat mengekspresikannya.

c. Mengembangkan kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah. Permainan akan menstimulasi daya piker, imajinasi, fantasinya untuk menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya. Pada saat melakukan permainan, anak juga akan dihadapkan pada masalah dalam konteks permainannya, semakin lama ia bermain dan semakin tertantang untuk dapat menyelesaikannya dengan baik.

d. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat di rumah sakit. Stress yang dialami anak dirawat di rumah sakit tidak dapat dihindarkan sebagaimana juga yang dialami orang tua. Untuk itu yang penting adalah bagaimana menyiapkan anak dan orang tua untuk dapat beradaptasi dengan stressor yang dialaminya di rumah sakit secara efeAKTORktif. Permainan adalah media yang efektif untuk beradaptasi karena telah terbukti dapat menurunkan rasa cemas, takut, nyeri dan marah.

D.
1. 2.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERMAIN


Tahap Perkembangan : setiap tahap perkembangan memunyai potensi/keterbatasan. Status kesehatan : anak yang sakit makan kemampuan kognitif atau psikomotornya terganggu.

3.

Jenis Kelamin : sangat dipengarhi oleh usia terutama perminan yang digunakan.

4. 5.

Lingkungan : lokasi, kultur, negara. Alat Permainan Yang cocok : alat permainan yang sesuai tahap perkembangan maka anak akan menggunakan dan merasa senang

E.

KLASIFIKASI BERMAIN

1. Menurut Isi : a. Social Play : belajar memberi respon, misalnya orang dewasa berbicara/memanjakan anak, maka anak akan merasa senang dengan respon mengeluarkan suara tersenyum. b. Sense Of Pleasure Play : dengan bermain akan memperoleh kesenangan dsri suatu objek disekelilingnya, misalnya : bermain pasir, air. c. Skill Play dengan bermain anak dapat memperoleh ketrampilan sehingga anak akan memperoleh berulang-ulang. d. Dramatik Play atau Role Play dengan bermain anak akan dapat melakukan peran, misalnya : sebagai perawat, dokter, guru, ibu, ayah dan anak akan membuat fantasi dari permainan tersebut. 2. Menurut Karakterisitik Sosial : a. b. Solitery Play bermain sendiri walaupun ada orang lain didekatnya(13 ). Paralel Play, bermain sejenis , anak bermain dalam suatu kelompok, masingmasing mempunyai mainan yang sama, tetapi tidak ada interaksi diantara mereka : tidak tergantung (interaksi tetapi belum bersosialisasi) Todler, Preschool. c. Associative Play bermain dalam kelompok. Anak bermain dalam suatu aktivitas yang sama tetapi belum terorganisasi. Tidak ada pembagian tugas, mereka bermain sesuai keinginannya. d. Cooperative pelayanan bermain dalam kelompok. Permainan terorganisir, terencana, ada tujuan, ada aturan-aturan misalnya : main kartu, balap sepeda. e. Unlocker play (pengamat). Anak melihat anak bermain hal ini sduah merupakan bermain, menurunkan stress.

F.
a.

KARAKTERISITIK BERMAIN SESUAI TAHAP PERKEMBANGAN


Bayi Tumbuh kembang saat bayi sangat pesat, maka berikan mainan yang berbeda. Yang menonjol pada waktu bayi yaitu affective play dan sense of pleasure play.

b. 1 bulan visual : lihat dari jarak jauh, gantungkan benda yang terang/menyolok. Auditory : Bicara dengan bayi, menyanyi, musik, radio, detik jam. Tactile : dipeluk, digendong. Kinetik : diayun, kereta untuk jalan-jalan. c. 2 3 bulan Visual : beri objek warna terang, bawa bayi ke ruangan berbeda, letakan bayi agar dapat memandang sekitar. Auditory : biacara dengan bayi, beri mainan yang berbunyi, ikut sertakan dalam pertemuan keluarga Tactile : membelai waktu memandikan, sisir rambut dengan lembut, gosok dengan lotion atau dengan bedak. Kinetik : jalan-jalan dengan kereta, gerakan berenang. d. 4 6 bulan visual : beri cermin, bawa nonton TV, beri mainan dengan warna terang. Auditory : ajak bicara, ulangi suara-suara yang dibuatnya, panggil namanya, remas kertas dekat telinganya, letakan mainan berbunyi dekat telinganya. Tactile : beri mainan berbagai tekstur lembut, kasar, bermain air, masukan ke dalam bak mandi. Kinetik : Bantu telungkup, sokong waktu duduk, tunjukan bangunan-bangunan agak jauh, bermain bola, Beri mainan yang dapat ditarik/didorong e. Mainan yang dianjurkan pada bayi umur 6 12 bulan Blockles dengan warna terang dan menyolok, bola besar, mainan yang dapat didorong/ditarik, boneka berbunyi, balon. f. Toddler (2-3 tahun)

Mulai berjalan, memanjat, lari; dapat memainkan sepatu dengan tangannya; senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu; perhatiannya sangat singkat; mulai mengerti memiliki milikku; toddler selalu bertengkar memperebutkan mainan. g. Preschool ( 3 6 tahun ) anak sangat aktif dan imaginative, mulai terbentuk perkembangan moral, dapat melompat. Karakterisitik bermain preschool adalah : peralatan rumah tangga, sepeda roda tiga, lilin, boneka, buku-buku dengan kata-kata simple, alat olah raga, kapal terbang,mobil truk. h. Usia ( 6 12 tahun ) : Bermain dengan kelompok, dapat belajar dengan aturan-aturan kelompok. Belajar mandiri, kooperative bersaing, menerima orang lain dan tingkah laku yang diterima. Bermain tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan fisik, intelektual, fantasi, tetapi anak mulai membentuk club serta persatuan dalam tim. Karakteristik cooperative play, mechanical serta Mother Roles : keduanya senang membaca. Mainan untuk usia sekolah : usia 6 8 tahun adalah kartu, boneka, alat-alat untuk melukis, alat-alat olah raga, buku-buku, sepeda; mainan usia 8 12 tahun adalah : buku, mengumpulkan perangko, main kartu, olah raga : berenang, sepeda, sepatu roda, pingpong. i. adolescense : - Dalam memilih permainan, orang tua harus dilibatkan sehingga anak merasa seperti dirumah sendiri dan dapat bermain dengan kelompok, anak mudah mengekspresikan perasaan, diskusi. BERMAIN DI RUMAH SAKIT A. Keuntungan bermain di Rumah Sakit 1. Meningkatkan hubungan perawat pasien di Rumah Sakit 2. Dapat mengekspresikan perasaan tidak enak, misalnya : takut sendirian, rasa marah. 3. Memulihkan rasa mandiri pada anak, dengan kegembiraan dalam bermain. 4. Bermain terapeutik : dapat meningkatkan penguasaan pengalaman yang traumatic, misalnya : peran perawat, dokter.

5. Membina tingkah laku positif di Rumah Sakit terhadap perawat. Di rumah Sakit selain mendapat pengalaman traumatic juga dapat bermain seperti anak lain. 6. Alat berkomunikasi antara perawat pasien yaitu cerita gambar. B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Prinsip Bermain di Rumah Sakit : Tidak banyak membutuhkan energi Permainan simple Kegiatan yang singkat waktunya Mempertimbangkan keamanan : perlukaan, infeksi silang. Kelompok umur yang sama. Melibatkan orang tua Permainan tidak bertentangan dengan pengobatan Semua alat bermain harus dicuci larutan desinfeksi.

Daftar Pustaka

http://sulantyballaskepns.blogspot.com/2011/06/konsep-bermain-pada-anak.html

Ida Samidah, Materi Kuliah KONSEP BERMAIN (Disampaikan Pada Perkuliahan Ners), PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2003, 2003 MAKASSAR.

Soetjiningsih, TUMBUH KEMBANG ANAK, BAGIAN KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYAHA BALI, Kedokteran EGC, 1995 Jakarta. Penerbit Buku