Anda di halaman 1dari 10

ISOLASI JAMUR TERBAWA BENIH (Laporan Praktikum Mikrobiologi Pertanian) Oleh Tety Maryenti 1014121179

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2011 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh yang disesuaikan dengan lingkungan hidupnya. Media kultur berdasarkan konsistensinya dibedakan atas tiga macam, yaitu media cair, media semi padat, dan media padat. Saat ini media agar merupakan media yang sangat umum digunakan dalam penelitianpenelitian mikrobiologi. Media agar ini memungkinkan untuk dilakukannya isolasi jamur dari suatu sample. Bentuk koloni jamur dan warna-warninya mudah sekali dikenali dengan cara meneliti jamur dengan menggunakan miroskop. Beberapa koloni mikroba dapat hidup di tempat yang sama dan saling berinteraksi antara satu populasi mikroba dengan populasi lainnya. Pemanfaatan mikroba alami relatif sulit karena adanya populasi mikroba lain yang mempengaruhinya. Dengan demikian, hasilnya dapat menjadi lebih baik dari yang diinginkan atau terjadi hal yang tidak diinginkan. Untuk mencegah hal tersebut, perlu dilakukan proses isolasi agar diperoleh mikroba alami sesuai kebutuhan. Isolasi mikroorganisme dari alam atau sampel merupakan tahap awal dalam skrining tipe dan jumlah mikroba. Pada prinsipnya tujuan isolasi mikroba yaitu untuk mendapatkan mikroba yang dikehendaki. Sedangkan pengertian isolasi sendiri adalah suatu usaha untuk memindahkan mikroba dari lingkungannya di alam dan menumbuhkan sebagai biakkan murni dalam medium buatan. Dalam Mikrobiologi ini kita mengenal jamur. Jamur merupakan suatu kelompok organisme yang umumnya bersifat mikroskopis, memiliki inti sejati, berbentuk benang bercabang-cabang, berspora, tidak berklorofil, memiliki dinding sel yang berisi khitin dan glukan. Tubuh vegetative jamur berupa kumpulan benang-benang

memanjang dan bercabang-cabang yang disebut miselium, dan individu-individu benang tersebut disebut hifa. Diameter hifa berukuran 1-2 m. Jamur dapat berkembang biak secara asexual maupun sexual. Beberapa peran jamur ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Untuk menelaah jamur di laboratorium, kita harus dapat menumbuhkan atau mengembangkan jamur tersebut, sehingga kita dapat mengklasifikasikan spesies baru dan mendeterminasi suatu agen penyebab penyakit. B. Tujuan Percobaan 1. Mengisolasi jamur-jamur yang terbawa atau yang berdasarkan dengan benih II. TINJAUAN PUSTAKA Saat ini media agar merupakan media yang sangat umum digunakan dalam penelitian-penelitian mikrobiologi. Media agar ini memungkinkan untuk dilakukannya isolasi jamur dari suatu sample. Bentuk koloni jamur dan warna-warninya mudah sekali dikenali dengan cara meneliti jamur dengan menggunakan miroskop (Achmad, 2007). Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrien) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat fisiologis dan perhitungan sejumlah mikroba. Supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus memenuhi syarat-syarat, antara lain : harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba, harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba yang akan tumbuh, tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba, harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang ditumbuhkan dapat tumbuh dengan baik (Sutedjo, 1990). Agar-agar, gelatin atau gel silika merupakan bahan untuk membuat medium menjadi padat. Namun, yang paling umum digunakan adalah agar-agar. Meskipun bahan utama agar-agar adalah gelatin, yaitu suatu kompleks karbohidrat yang diekstraksi dari alga marin genus gelidium, namun sebagian mikroorganisme tidak dapat menggunakannya sebagai makanan sehingga agar-agar dapat berlaku hanya sebagai pemadat (Hadioetomo, 1993). Di alam populasi mikroba tidak terpisah sendiri menurut jenisnya, tetapi terdiri dari campuran berbagai macam sel. Di dalam laboratorium populasi bakteri ini dapat diisolasi menjadi kultur murni yang terdiri dari satu jenis yang dapat dipelajari morfologi, sifat dan kemampuan biokimiawinya (Pradika, 2008). Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Kultur murni atau biakan murni diperlukan karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993).

Mikroorganisme merupakan mahluk hidup yang sangat banyak, baik di tanah, air maupun udara. Untuk itu perlunya isolasi maupun permurnian untuk mendapatkan mikroorganisme tersebut. Populasi yang besar dan kompleks dengan berbagai mikroba terdapat dalam tubu manusia termasuk dimulut, saluran pencernaan dan kulit (Sutedjo, 1991). Fungi atau jamur biasanya bersifat multiselluler, setiap pertumbuhan jamur terdiri atas lebih dari satu sel. Namun demikian tiap-tiap sel memiliki kemampuan untuk tumbuh sendiri oleh karenanya jamur dapat diklasifikasikan sebagai mikroorganisme. Jamur terdiri atas untaian seperti benang tipis, disebut hifa. Hifa tumbuh sebagai masa di permukaan atau menembus medium tempat jamur tersebut tumbuh. Masa hifa disebut misellium (Lim, 1998). Biakan murni bakteri adalah biakan yang terdiri atas satu spesies bakteri yang ditumbuhkan dalam medium buatan. Medium buatan tersebut berfungsi sebagai medium pertumbuhan. Pada medium ini bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak. Bahan dasar yang digunakan untuk medium pertumbuhan ini adalah agar-agar. Untuk bakteri heterotrof, medium dilengkapi dengan air, molekul makanan (misal gula) sumber nitrogen dan mineral. Untuk hasil yang lebih baik agar bakteri tumbuh, alat dan bahan yang digunakan disterilkan terlebih dahulu (Lay,1992). III. METODOLOGI PERCOBAAN A. Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah : air destilasi, larutan NaOCl, cawan Petri, pinset, tissue, nampan,10 biji kedelai, alcohol 70%, media PDA, spritus, lampu Bunsen, laminar air flow, dan jarum ose. B. Prosedur Kerja Disiapkan alat dan bahan percobaan Disiapkan 8 cawan Petri per kelompok (4 cawan Petri untuk perlakuan NaOCl, 4 lainnya untuk non NaOcl 5 biji kedelai dimasukkan ke 4 cawan Petri dengan dilakukan berurutan, begitu pula yang NaOCl Setelah semua biji kedelai kering di atas kertas tissue, biji kedelai dimasukkan ke media PDA di laminar air flow Diberi label nama kelompok dan tanggal Kemudian dimasukkan ke nampan Tunggu hasilnya selama 7 hari IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan 1. Hasil dengan NaOCl Hari/Tanggal Gambar Hasil Pengamatan

Rabu,16 Maret 2011

Belum terdapat jamur yang ditemukan tumbuh pada biji kedelai di dalam media PDA

Kamis, 17 Maret 2011

Belum terdapat jamur yang ditemukan tumbuh pada biji kedelai di dalam media PDA, akan tetapi biji terlihat keriput dan tidak dalam kondisi baik.

Jumat, 18 Maret 2011

Terdapat beberapa jenis jamur yang hidup pada benih kacang kedelai

Selasa, 22 Maret 2011

Terdapat banyak sekali jamur yang hidup pada biji kedelai

2. Tanpa NaOCl Hari/Tanggal

Gambar

Hasil Pengamatan

Rabu,16 Maret 2011

Belum terdapat jamur yang ditemukan tumbuh pada biji kedelai di dalam media PDA

Kamis, 17 Maret 2011

Belum terdapat jamur yang ditemukan tumbuh pada biji kedelai di dalam media PDA, akan tetapi biji terlihat keriput dan tidak dalam kondisi baik.

Jumat, 18 Maret 2011

Ditemukan beberapa jenis jamur yang hidup pada benih kacang kedelai

Selasa, 22 Maret 2011

Terdapat banyak sekali jamur yang hidup pada biji kedelai

3. Identifikasi Jenis Jamur Kelompok Dengan NaOCl Tanpa NaOCl

1 2 Aspergillus Rhizopus sp 3 4 5 6 7 8 B. Pembahasan Isolasi memiliki pengertian yaitu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Kultur murni atau biakan murni diperlukan karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Pada prinsipnya tujuan isolasi mikroba yaitu untuk mendapatkan mikroba yang dikehendaki sebanyakbanyaknya.Untuk maksud tersebut dapat digunakan teknik diperkaya dan sistem pengenceran. Misalnya sampel

tanah atau air diencerkan sedemikian rupa sehingga diharapkan pertumbuhan koloni tidak lebih 200 koloni per plate. Suspensi tersebut dengan metode taburan spread plate diinokulasikan pada cawan petri yang mengandung media diperkaya. Setelah diinkubasi, akan terliha koloni-koloni pada cawan tersebut dan siap untuk diisolasi. Namun dalam praktek cara tersebut kurang efisien karena harus mengisolasi banyak mikroba yang potensinya belum jelas, sehingga para peneliti sudah membatasi jenis mikroba yang akan diisolasi. Untuk kepentingan isolasi ini maka larutan yang akan diisolasikan mikrobanya harus dilakukan pengenceran apabila di duga jumlah mikrobanya sangat banyak. Pada subtrat-substrat tertentu seperti substrat susu,substrat tanah maupun yang lain kadang sampai menggunakan pengenceran yang konsentrasinya cukup tinggi. Berikut adalah gambar jenis-jenis jamur a. Aspergillus sp

b. Trichoderma sp

c. Rhizopus sp

Berikut adalah deskripsi tentang jamur a. Aspergillus sp Aspergillus sangat mudah dikenali, baik dari morfologi selnyamaupun dari morfologi koloninya. Genus Aspergillus mempunyaimorfologi sel seperti pada gambar di bawah ini.Aspergillus sangat mudah dikenali, baik dari morfologi selnyamaupun dari morfologi koloninya. Genus Aspergillus mempunyaimorfologi sel seperti pada gambar di bawah ini. Aspergillus niger mempunyai kepala pembawa konidia yang besar, dipak secara padat, bulat dan berwarna hitam coklat atau ungu coklat.Kapang ini mempunyai bagian yang khas yaitu hifanya bersepta, sporayang bersifat seksual dan tumbuh memanjang di alas stigma, mempunyaisifat aerobik, sehingga dalam pertumbuhannya memerlukan oksigen yangcukup. Aspergillus niger termasuk mikroba mesofilik dengan pertumbuhanmaksimum pada suhu 35 C - 37 C. Derajat keasaman untukpertumbuhannya adalah 2 - 8,5 tetapi pertumbuhan akan lebih baik padakondisi keasaman atau pH yang rendah (Fardiaz, 1989). b. Trichoderma sp Trichoderma sp. merupakan sejenis cendawan / fungi yang termasuk kelas ascomycetes. Trichoderma sp. memiliki aktivitas antifungal. Di alam, Trichoderma banyak ditemukan di tanah hutan maupun tanah pertanian atau pada substrat berkayu. Pada Trichoderma yang dikultur, Morfologi koloninya bergantung pada media tempat bertumbuh. Pada media yang nutrisinya terbatas, koloni tampak transparan, sedangkan pada media yang nutrisinya lebih banyak, koloni dapat terlihat lebih putih. Konidia dapat terbentuk dalam satu minggu, warnanya dapat kuning, hijau atau putih. Pada beberapa spesies dapat diproduksi semacam bau seperti permen atau kacang. Reproduksi aseksual Trichoderma menggunakan konidia. Konidia terdapat pada struktur konidiofor. Konidiofor ini memiliki banyak cabang. Cabang utama akan membentuk cabang. Ada yang berpasangan ada yang tidak. Cabang tersebut kemudian akan bercabang lagi, pada ujung cabang terdapat fialid. Fialid dapat berbentuk silindris, lebarnya dapat sama dengan batang utama ataupun lebih kecil. Fialid dapat terletak pada ujung cabang konidiofor ataupun pada cabang utama. Konidia secara umum kering, namun pada beberapa spesies dapat berwujud cairan yang berwarna hijau bening atau kuning. Bentuknya secara umun adalah elips, jarang ditemukan bentuk globosa. Secara umum konidia bertekstur halus. Pada Trichoderma juga ditemukan struktur klamidospora. Klamidospora ini diproduksi oleh

semua spesies Trichoderma. Bentuknya secara umum subglobosa uniseluler dan berhifa, pada beberapa spesies, klamidosporanya berbentuk multiseluler. Kemampuan Trichoderma dalam memproduksi klamidospora merupakan aspek penting dalam proses sporulas. c. Rhizopus sp Rhizopus mempunyai koloni abu-abu kecoklatandengan tinggi 1mm atau lebih (gambar 17). Sporangiofor tunggal atau dalam kelompokdengan dinding halus atau agak sedikit kasar, dengan panjang lebih dari1000m dan diameter 10-18m. Sporangia globosa yang pada saat masak berwarna hitam kecoklatan, dengan diameter 100-180m. Morfologi sel rhizopus. Rhizopus adalah kapang yang termasuk dalam ordo Mucorales danfamilia Mucoraceae (Alexopoulus et al,1996). Kapang termasuk ke dalamzygomicetes mempunyai hifa tidak bersekat, berinti banyak (coenocitic),dan melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reprofuksi secaraaseksual dilakukan dengan membentuk sporangiospora atau klamidospora,yaitu spora yang memiliki dinding tebal yang terbentuk dari modifikasisegmen hifa.

Repoduksi seksual, yaitu dengan membentuk zygospora yangterbentuk dari peleburan dua hifa yang kompatibel dan diselubungi olehdinding yang tebal. Kapang dari kelass zigomycetes tersebut dapat bersifatheterotallic atau homotallic. Kapang disebut heterotallic apabila ada duastrain yang kompatibel dapat melakukan perkawinan dan membentukzigospora. Kapang disebut homotallic apabilsa pembentukan zigosporaterjadi pada perkawinan

satu koloni yang berasal dari satu spora.Zigospora pada umumnya berwarna kuning, coklat atau kehitaman yangdiselubungi struktur seperti duri (spine) atau benjolan (warts) (Samson et all. 1995)

Kolumela globosa sampai sub globosa dengan apofisa apofisa berbentuk corong. Ukuran sporangiospora tidak teratur dapat globosa atau elip dengan panjang 7-10m. Klamidospora banyak, tunggal atau rantaianpendek, tidak berwarna, dengan berisi granula, terbentuk pada hifa,sporangiofor dan sporangia. Bentuk klamidospora globosa, elip atau silindris dengan ukuran 7-30m atau 12-45m x 7-35m.(Kasmidjo, 1990). Pengertian dari spora adalah alat reproduksi pada jamur. Hifa adalah benang-benang yang menyusun tubuh jamur, sedangkan miselium adalah kumpulan dari hifa. Sporangiospora adalah hifa berbentuk kantung yang berisi spora. Kemudian sporangium adalah ujung hifa membulat seperti kantong. Konidia adalah bagian ujung hifa yang membagi-bagi menjadi berbagai bentuk. Konidiofor adalah tangkai spora. Konidiospora adalah kantung spora. Hifa berseptat memiliki dinding sekat yang disebut septa yang bertindak sebagai pembatas antara sel jamur dan memiliki inti yang sedikit. Hifa tidak bersepta adalah hifa yang tidak dibatasi oleh dinding sekat dan memiliki inti yang banyak Terdapat 3 cara bagaimana jamur bisa terbawa benih. Cara pertama adalah dengan kontaminasi yaitu benih itu terbawa jamur di permukaan benih. Cara kedua adalah infestasi, yaitu jamur tercampur oleh gulma atau sesuatu yang membawa jamur. Cara ketiga yaitu infeksi, yaitu terbawanya jamur sejak masih dibenih itu sendiri. Dari percobaan yang telah dilakukan, hari pertama biji kedelai masih dalam kondisi baik, tidak ada perbedaan seperti pertama kali dimasukkan ke dalam cawan petri. Begitupun hari kedua, akan tetapi hari kedua kondisi benih mulai keriput, tidak segar dan tidak dalam kondisi baik. Dan hari ketiga, terdapat jamur disekitar benih, baik dimedia PDA nya, maupun di bagian benih kedelai tersebut. Dan hari terakhir, terdapat banyak sekali jamur pada media PDA dan pada benih itu sendiri.

IV. KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang didapatkan dari hasil percobaan adalah 1. Pengertian isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. 2. Tujuan dari isolasi adalah untuk mendapatkan mikroba yang dikehendaki sebanyak-banyaknya. 3. Untuk kepentingan isolasi, larutan yang akan diisolasikan mikrobanya harus dilakukan pengenceran apabila di duga jumlah mikrobanya sangat banyak 4. Terdapat 3 cara bagaimana jamur bisa terbawa benih, yaitu kontaminasi, infestasi, dan infeksi. DAFTAR PUSTAKA Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Lay, W. 1992. Mikrobiologi. Rajawali Pers, Jakarta Lim, D. 1998.Microbiology, 2nd Edition. McGrow-hill book. New York. Penn, C. 1991. Handling Laboratory Microorganism. Open University. Milton Keynes, Philadelphia Pradhika, E. I. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-1-pengenalan-alat.html. Diakses tanggal 12 Oktober 2010. Sutedjo, dkk. 1991. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta, Jakarta. Waluyo, Lud. 2005. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang.