Anda di halaman 1dari 7

ASKEP Fraktur Cruris Dextra 1/3 Tengah Terbuka a.

Pengertian Tulang adalah terdiri dari materi : intrasel baik berupa sel hidup ataupun sel yang tidak hidup. Bahan-bahan tersebut berasal dari embriohialin tulang rawan melalui osteogenesis kemudian menjadi tulang, proses ini oleh sel-sel yang disebut osteoblas. Kerasnya tulang merupakan hasil deposit kalsium. (Barbara C. Long, 1996, hal ; 320).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang.(Buku Ajar Ilmu Bedah 2004. Hal. 840).Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis.(Brunner and Suddarth 2002, hal. 2357).Fraktur tibia fibula sering disebut fraktur kruris yaitu fraktur tungkai.(Buku Ajar Ilmu Bedah 2004. Hal. 886).
b. Fungsi tulang 1.) Mendukung jaringan tubuh dan memberi bentuk tubuh. 2.) Melindungi organ tubuh (mis : jantung, otak, paru-paru) dan jaringan lunak). 3.) Memberikan pergerakan. 4.) Membentuk sel-sel daerah merah di dalam sum-sum tulang. 5.) Menyimpan garam-garam mineral seperti Mg, Ca, dan P. c. Klasifikasi tulang berdasarkan bentuknya. a.) Tulang panjang (femur, humerus, dan tibia). Terdiri dari dua bagian batang dan dua bagian ujung. Tulang pipa bekerja sebagai alat pengungkit dari tubuh yang memungkinkannya bergerak. b.) Tulang pendek (carpals). Bentuknya tidak teratur, bagian besar terbuat dari jaringan tulang karena diperkuat sifat yang ringan padat tipis. c.) Tulang pipih Terdiri dari lapisan jaringan tulang keras dan di tengahnya lapisan tulang seperti tulang seperti spons, dijumpai pada tulang tengkorak tulang inominata, tulang xosa, iga, dan skapula. Tulang pipih menyediakan permukaan luas untuk kaitan otot-otot d.) Tulang tak beraturan : vertebrae dan tulang wajah. e.) Tulang sesamoid Tulang kecil terpendek di sekitar tulang yang persendian dan tulang didukung oleh tendon dan jaringan fasial : misalnya patella. d. Struktur tulang tibia dan fibula/tulang panjang

1.) Tibia atau tulang kering Merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah yang terletak medial, dan fibula atau tulang betis. Tibia adalah tulang pipih dengan sebuah batang dan dua ujung. a.) Ujung atas memperlihatkan kondilus medial dan kondilus ini merupakan bagian yang paling atas dan bagian paling pinggir dari tulang. permukaan superiornya memperlihatkan dua dataran permukaan. Persendian untuk femur dalam permukaan. b.) Batang bentuk segitiga, anteriornya paling menjulang dan sepertinya sebelah tengah terletak sub kutan bagian ini membentuk kista tibia. Permukaan medial adalah subkutanens pada hampir seluruh panjangnya dan merupakan daerah berguna di mana dapat diambil serpihan tulang untuk transplantasi (genograf). c.) Ujung bawah masuk dalam formasi persendian mata kaki, tulangnya sedikit melebar dan ke bawah sebelah medial menjulang menjadi maleolus medial dan maleolus tibia. Permukaan lateral dari ujung bawah bersendi dengan fibula pada persendian fibia fibula inferior. Tibia membuat sendi dengan tiga tulang yaitu femur, fibula, dan talus. 2.) Fibula atau tulang betis Adalah tulang sebelah lateral tungkai bawah tulang ini adalah tulang pipa dengan seluruh batang dan dua ujung. a.) Ujung atas berbentuk kepala bersendi dengan bagian belakang luar dari tibia, tetapi tidak dalam formasi sendi lutut. b.) Batang ramping dan terbenam dalam otot tungkai dan memperbanyak kaitan. c.) Ujung bawah di sebelah bawah lebih memanjang menjadi maleolus atau maleolus fibulae. 3.) Tulang panjang Tulang panjang terdiri dari tiga bagian : a.) Diafise Merupakan bagian tengah tulang berbentuk silindris dan terdiri dari korteks tulang sehingga memiliki kekuatan yang besar sekali. b.) Epifise Merupakan tulang yang melebar dekat dengan ujung tulang. daerah ini sebagian besar terdiri dari trabekula tulang atau tulang spongiosa dan mengandung sum-sum tulang. Diantara epifise dan diafise terdapat cakra apifise yang terdiri dari tulang spongiosa dan osteoblast. Seluruh tulang dilapisi oleh lapisan fibrosa kecuali yang membentuk sendi yang disebut periosteum. c.) Periosteum Merupakan membran fibrosa yang putih dan tebal pada bagian yang meliputi diafise tulang dan merupakan lapisan menghubungkan tendon dan ligamentum. Periosteum mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi, dapat berperan dalam proses pertumbuhan tulang, juga terdapat pembuluh darah dan saraf. Di bagian dalam tulang panjang terdapat saluran medular atau lubang yang diisi dengan sum-sum tulang kering yang dibatasi oleh dinding osteoblast. Jaringan tulang merupakan jaringan yang terdiri dari matriks yang seluler dan aseluler. Jaringan kerja tulang terletak pada serabut kolagen dan garam mineral dan karbonat. Dengan adanya kombinasi antara serabut dan mineral sifat tulang menjadi kuat dan kokoh. 2. Patah tulang/fraktur a. Pengertian - Pengertian patah tulang : patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. (Patofisiologi, Sylvia A. Price Lorraine M. Wilson,1995, hal 1183). - Pengertian patah tulang : terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan. (Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga, 2000, hal 384). - Pengertian patah tulang : terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi, 1997, hal 1138). b. Penyebab patah tulang 1.) Trauma/tekanan pada tulang Jenis kekuatan yang menyebabkan luka menentukan jenis dan tingkatan serta jenis patah tulang. kekuatan itu dapat tensil tulang ditarik terpisah atau compresive dimana tulang terjepit dan untuk menentukan tipe injury dan luas patah tulang tergantung pada kerasnya trauma/tekanan yang mengenai tulang. - Trauma tulang/direk : bila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa cruris, benturan/pukulan pada antebrakii yang mengakibatkan fraktur. - Trauma tidak langsung/indirek cruris : penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada pergelangan tangan, collum cirurgicum humeri, suprakondiler, dan klavikula. - Trauma ringan pun dapat menyebabkan fraktur bila tulang itu sendiri sudah rapuh. 2.) Mineralisasi yang tidak adekuat dari tulang. Patah tulang dapat disebabkan tidak cukupnya mineral pada tulang dan ini mengacu pada patah tulang yang pathological, dapat terjadi karena terapi jangka panjang dengan steroid, osteoporosis carsinoma tulang dan tidak ada aktifitas yang lama. (Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, 2000, hal 384 385). c. Jenis-jenis patah tulang 1.) Fraktur tertutup Disebut fraktur simpleks, di sini patah tulang tidak mempunyai hubungan dengan udara terbuka. 2.) Fraktur terbuka Kulit robek dari dalam karena fragmen tulang yang menembus kulit oleh kekerasan yang langsung dari luar.

3.) Fraktur komplikasi. Di sini persendian, saraf pembuluh darah atau organ juga ikut terkena fraktur, ini dapat terbentuk fraktur terbuka maupun tertutup. 4.) Fraktur patologis Karena adanya penyakit lokal pada tulang, maka kekerasan yang ringan saja pada bagian tersebut sudah dapat menyebabkan fraktur. d. Klasifikasi patah tulang 1.) Sudut patah - Fraktur transveral Fraktur yang garis patahnya terjadi lurus terhadap sumbu dari panjang tulang. - Fraktur oblik Fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu tulang. - Fraktur spiral. Timbul akibat torsi pada ekstremitas, fraktur ini biasa pada cedera main ski. 2.) Fraktur multipel pada satu tulang a.) Fraktur segmental Yaitu dua fraktur berdekatan pada salah satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dan suplai darah.

b.) Comminuted fraktur Adalah serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dimana terdapat lebih dari dua fragmen tulang. 3.) Fraktur inpaksi Faktur kompresi terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berbeda antaranya. 4.) Fraktur patologik. Terjadi pada daerah-daerah tulang yang lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya. 5.) Fraktur beban lainnya Terjadi pada orang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka, baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau yang baru memulai latihan baru. 6.) Fraktur grenstick Adalah fraktur yang tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. 7.) Fraktur avulsion Untuk memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon maupun ligamen. 8.) Fraktur sendi Fraktur yang melibatkan sendi, terutama apabila geometri sendi tergantung bermakna. Derajat patah tulang terbuka dibagi atas tiga bagian : - Derajat I, luka lacerasi kurang dari 2 cm, keadaan fraktur sederhana dan dislokasi fragmen minimal. - Derajat II, luka lacerasi lebih dari 2 cm, confusi otot sekitarnya dan dislokasi fragmen jelas. - Derajat III, luka lebar rusak hebat atau hilang jaringan sekitar keadaan fraktur kominutof segmental dan tulang ada yang hilang. e. Gambaran klinik fraktur 1.) Riwayat trauma. 2.) Nyeri, pembengkakan dan nyeri tekan pada daerah fraktur (tendernes). 3.) Perubahan bentuk (deformitas). 4.) Hilang fungsi anggota badan dan persedian yang terdekat. 5.) Gerakan-gerakan yang abnormal. 6.) Krepitasi. f. Proses penyembuhan tulang Penyembuhan fraktur/patah tulang adalah suatu proses yang berlangsung secara terus-menerus dan bertahap dalam beberapa stadium penyembuhan yaitu : 1.) Stadium hematoma/perdarahan. Darah tertampung di suatu daerah tertutup dalam hematoma sel-sel subperiosteal dan endoteal berproliferasi. 2.) Stadium proliferasi/inflamasi. Sel-sel subperiosteal dan sel endosteal. 3.) Stadium callus Pengendapan kalsium pada anyaman hasil stadium I II. 4.) Stadium konsolidasi. 5.) Stadium remodelling (Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, 2000, hal 387). g. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur 1.) Luas fraktur. 2.) Reposisi yang tidak memadai. 3.) Immobilisasi yang tidak memadai dilihat dari segi waktu maupun luas immobilisasi. h. Penatalaksanaan fraktur Dalam menangani fraktur, yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaannya adalah :

1.) Recognisi/pengenalan Dimana riwayat kecelakaannya atau riwayat terjadi fraktur harus jelas. 2.) Reduksi/manipulasi Usaha untuk tindakan manipulasi fragmen yang patah sedapat mungkin dapat kembali seperti bentuk asalnya/letak normal.

3.) Retensi dan reduksi Retensi menyebabkan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen tersebut selama penyembuhan. Metode yang dipergunakan untuk mempertahankan reduksi adalah pemasangan gips dan traksi. a.) Gips Adalah balutan ketat yang digunakan untuk mengimobilisasi bagian tertentu (Barbara Engram, 1998, hal 280). Tujuan pemasangan gips : (1.) Mengimobilisasi organ fraktur. (2.) Mencegah atau koreksi deformitas (memperbaiki bentuk). (3.) Memberi tekanan pada jaringan lunak. (4.) Mensupport dan menstabilkan sendi-sendi yang lemah. (5.) Sebagai pembalut darurat. b.) Traksi Adalah menggunakan kekuatan penarikan pada bagian tubuh. Ini dapat dicapai dengan memberikan beban yang cukup untuk mengatasi penarikan otot. Tujuan pemasangan traksi : (1.) Meminimalkan spasme otot. (2.) Untuk mengurangi dan mempertahankan kesejahteraan tubuh. (3.) Untuk mengimobilisasi fraktur. (4.) Untuk mengurangi deformitas. c.) Tindakan pembedahan Metode yang paling banyak keunggulannya untuk mempertahankan reduksi dengan melakukan fiksasi eksterna. d.) Plat/fiksasi interna Kedua ujung tulang yang patah dikembalikan pada posisi asalnya dan difiksasi dan dengan plat dan skrup atau diikat dengan kawat. 4.) Rehabilitasi Rencana rehabilitasi harus segera dimulai dan dilaksanakan bersama dengan pengobatan fraktur. i. Komplikasi fraktur Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur antara lain-lain : 1.) Mal union, yaitu suatu keadaan fraktur ternyata sembuh dalam posisi yang kurang sesuai, membuat sudut atau posisi terkilir. 2.) Delayed union, yaitu proses penyembuhan yang terus berlangsung tetapi kecepatannya lebih rendah dari biasanya. 3.) Non union, yaitu suatu keadaan dimana tidak terjadi penyembuhan fraktur yang dapat menjadi komplikasi mencelakakan. Penyebabnya adalah : - Terlalu banyak tulang yang rusak pada cedera sehingga tidak ada yang membatasi fragmen. - Terjadi nekrosa tulang karena tidak aliran darah. Anemi, endokrin imbalance atau penyebab sistemik yang lain. B. Konsep Dasar Askep Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien ke berbagai tatanan pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan menggunakan metodologi proses keperawatan berpedoman kepada standar keperawatan dilandasi etik dan etika keperawatan, dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab perawat. Perawat daam memberikan asuhan keperawatan kepada klien melalui proses perawatan. Teori dan konsep diimplementasikan secara terpadu dalam tahapan terorganisir yang melalui pengkajian, diagnosa, perencanaan, tindakan, dan evaluasi. 1. Pengkajian Pengkajian pada klien dengan gangguan muskuloskletal khususnya fraktur cruris dextra 1/3 tengah terbuka (Barbara Engram, 1998, Hal 280) meliputi : a. Pengumpulan data meliputi : 1.) Biodata klien dan penanggung jawab klien. Biodata klien terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, agama, tanggal masuk RS, nomor medik, dan diagnosa medik. 2.) Keluhan utama Merupakan keluhan klien pada saat dikaji, klien mengalami fraktur dan immobilisasi biasanya mengeluh tidak dapat melakukan pergerakan, nyeri, lemah, dan tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. 3.) Pemeriksaan fisik Dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi terhadap berbagai sistem tubuh maka ditemukan sebagai berikut : a.) Keadaan umum Pada klien yang immobilisasi perlu dilihat dalam hal keadaan umum meliputi penampilan, postur tubuh, kesadaran, dan gaya bicara klien, immobilisasi biasanya mengalami kelemahan, kebersihan dirinya kurang, bentuk tubuh kurus akibat berat badan turun, dan

kesadaran composmentis. b.) Sistem pernafasan Perlu dikaji mulai bentuk hidung ada tidaknya secret pergerakan cuping hidung waktu bernafas. Kesimetrisan dada waktu bernafas, apakah ada ronchi, serta frekuensi nafas. Hal ini penting karena immobilisasi berpengaruh pada pengembangan paru dan mobilisasi sekret jalan nafas. c.) Sistem kardiovaskuler Mulai dikaji dari warna konjungtiva, warna bibir, ada tidaknya peninggian vena jugularis dengan auskultasi dapat dikaji bunyi jantung pada daerah dada dan pengukuran tekanan darah dengan palpasi dapat dihitung frekuensi denyut nadi. d.) Sistem pencernaan Yang dikaji meliputi keadaan mulut, gigi, bibir, lidah, nafsu makan, peristaltik usus dan bab. Tujuan pengkajian ini untuk mengetahui secara dini penyimpangan dari sistem ini. e.) Sisten genitourinaria Dapat dikaji ada tidaknya pembengkakan dan nyeri pada daerah pinggang, observasi dan palpasi daerah pinggang, observasi dan palpasi daerah abdomen bawah untuk mengetahui adanya retensi urine dan kaji tentang alat genitourinaria bagian luar mengenai bentuk ada tidaknya nyeri benjolan serta bagaimana pengeluaran urinenya lancar atau ada nyeri waktu miksi, ada nyeri atau tidak serta bagaimana warna urine. f.) Sistem muskuloskeletal Yang perlu dikaji pada sistem ini adalah derajat range of motion dari pergerakan sendi mulai dari kepala sampai anggota gerak bawah, adanya nyeri yang dilaporkan waktu bergerak, toleransi klien waktu bergerak, observasi adanya luka pada otot akibat fraktur terbuka. Selain ROM tonus dan kekuatan otot konus dikaji juga, karena klien dengan immobilisasi biasanya tonus otot dan kekuatannya menurun. g.) Sistem integumen Yang perlu dikaji adalah keadaan kulitnya, rambut dan kuku, pemeriksaan kulit meliputi tekstur, kelembaban turgor, warna dan fungsi perabaan. h.) Sistem neurosensori Sistem neurosensori yang dikaji adalah fungsi serebral, fungsi kranial, fungsi sensori serta fungsi refleks. 4.) Pola aktivitas sehari-hari Pola aktivitas sehari-hari pada klien fraktur meliputi frekuensi makan, jenis makanan, porsi makan, jenis dan kualitas minum dan kuantitas minum dan eliminasi yang meliputi BAB (frekuensi, warna, konsistensi) serta BAK (frekuensi, banyak urine yang keluar setiap hari dan warna urine). Personal hygiene (frekuensi mandi, gosok gigi, cuci rambut, serta memotong kuku), olahraga (frekuensi dan jenis) serta rekreasi (frekuensi dan tempat rekreasi). 5.) Data psikososial Pengkajian yang dilakukan pada klien dengan immobilisasi pada dasarnya sama dengan pengkajian psikososial pada sistem lain yaitu mengenai konsep diri (gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran diri dan identitas diri) dan hubungan atau interaksi klien dengan anggota keluarganya maupun dengan lingkungan. Pada klien yang fraktur dan diimobilisasi adanya perubahan konsep diri terjadi secara perlahan-lahan yang mana dapat dikenali melalui observasi terhadap adanya perubahan yang kurang wajar dalam status emosional. Perubahan tingkah laku, menurunnya kemampuan dalam pemecahan masalah dan perubahan status tidur. 6.) Data spiritual Klien yang fraktur perlu dikaji tentang agama dan kepribadiannya, keyakinan, harapan serta semangat yang terkandung dalam diri klien merupakan aspek yang penting untuk kesembuhan penyakitnya. 7.) Data penunjang a.) Studi diagnostik Sinar rontgen digunakan untuk menentukan luasnya fraktur bone scane, termogram dan CT scane digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan. b.) Studi laboratorium Dengan pemeriksaan darah dan urine untuk mengetahui kadar alkali fosfate kalsium, kreatinin, dan fhosfat. 2. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah kesimpulan yang dibuat oleh perawat berdasarkan data yang terkumpul yang berupa rumusan respon klien terhadap masalah kesehatan yang aktual dan potensial serta faktor etiologi yang berkontribusi terhadap timbulnya masalah yang dihadapi serta perlu diatasi dengan tindakan intervensi keperawatan. Diagnosa keperawatan pada klien dengan fraktur cruris dextra 1/3 tengah terbuka grade IIIB terpasang fiksasi eksterna dengan fraktur. 1.) Nyeri berhubungan dengan fraktur. 2.) Resiko terjadinya infeksi sekunder berhubungan dengan adanya luka yang masih basah. 3.) Gangguan mobilitas fisik/aktivitas berhubungan dengan fraktur. 4.) Gangguan pemenuhan ADL personal hygiene berhubungan dengan kurangnya kemampuan merawat diri. 5.) Resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya pengembangan paru oleh immobilisasi. 6.) Resiko terjadinya trauma tambahan berhubungan dengan terputusnya integritas tulang. 7.) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sirkulasi pada daerah tertekan. 8.) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi yang adekuat. (Marilynn E. Doenges, 2000, Edisi III. EGC, Jakarta). 3. Perencanaan

Setelah perencanaan mengenai data klien terkumpul dan penjabaran tentang masalah-masalah klien serta kebutuhan klien telah diidentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan tersebut. Perencanaan sesuai dengan masalah sebagai berikut : 1.) Nyeri berhubungan dengan fraktur. Tujuan : Nyeri berkurang/hilang dengan kriteria : tidak mengeluh nyeri, ekspresi wajah ceria. Tindakan keperawatan : 1.) Kaji lokasi dan karakteristik nyeri Rasional : Untuk mengetahui asal dan kapan datangnya nyeri sehingga dapat diberikan tindakan yang tepat. 2.) Pertahankan imobilisasi secara efektif dengan tirah baring dan fiksasi. Rasional : Mencegah pergerakan yang sering dari tulang yang patah sehingga tidak merangsang saraf. 3.) Mengatur posisi kaki dan luka tanpa mempengaruhi axis tulang. Rasional : Aliran darah lancar sehingga menimbulkan rasa nyaman. 4.) Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam Rasional : Menambah suplay O2 ke jaringan sehingga mengurangi ketegangan otot dan menurunkan ambang nyeri. 5.) Kolaborasi tim medik dengan pemberian analgetik. Rasional : Analgetik menghambat reseptor nyeri sehingga tidak dipersepsikan.

2.) Resiko terjadinya infeksi sekunder berhubungan dengan adanya luka yang masih basah. Tujuan : Luka sembuh dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Tindakan keperawatan : 1.) Observasi keadaan luka klien. Rasional : Dapat mengetahui adanya infeksi dini. 2.) Monitor tanda-tanda vital. Rasional : Memutuskan mata rantai kuman penyebab infeksi sehingga infeksi tidak terjadi 3.) Ganti balutan setiap hari dengan menggunakan balutan yang steril. Rasional : Menjaga agar luka tetap bersih dan dapat mencegah terjadinya kontaminasi. 4.) Beri antibiotik sesuai dengan program pengobatan. Rasional : Antibiotik membunuh kuman penyebab penyakit. 3.) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan immobilisasi. Tujuan : Untuk mempertahankan kemampuan pergerakan fisik kriteria terpelihara posisi fungsional dan dapat menunjukkan cara melakukan pergerakan fisik. Tindakan keperawatan : 1.) Kaji tingkat immobilisasi Rasional : Mengetahui persepsi klien sampai dimana klien dapat melakukan imobilisasi. 2.) Bantu klien dengan melakukan range of motion positif pada ekstremitas yang sakit maupun yang tidak. Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang, mencegah kontaktur, atropi otot dan mempertahankan mobilitas sendi tulang. 3.) Dorong klien melakukan latihan isometrik untuk anggota badan yang tidak diimobilisasi. Rasional : Membantu menggerakkan anggota badan serta dapat mempertahankan kekuatan dan massa otot. 4.) Kolaborasi dengan dokter/therapist untuk memungkinkan dilakukan rehabilitasi. Rasional : Berguna dalam menggerakkan program latihan dan aktivitas secara individual. 4.) Gangguan pemenuhan ADL personal hygiene berhubungan dengan kurangnya kemampuan merawat diri. Tujuan : Klien dapat melakukan personal hygiene secara mandiri. Tindakan keperawatan : 1.) Kaji tingkat pengetahuan klien tentang pentingnya perawatan diri dalam keadaan fraktur. Rasional : Akan tergambar sejauhmana klien mengetahui tentang perawatan diri. 2.) Bantu fasilitas klien dalam melakukan personal hygiene dengan mendekatkan alat yang dibutuhkan. Rasional : Mendorong kemandirian klien dalam beraktivitas. 3.) He tentang pentingya mobilitas secara bertahap. Rasional : Klien mengerti dan mau bekerja sama dalam proses perawatan. 5.) Resiko terjadinya gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya pengembangan paru oleh imobilisasi. Tujuan : Tidak terjadi gangguan pertukaran gas dengan kriteria : sesak nafas tidak ada, pengembangan paru sempurna, tidak ada wheezing dan ronchi. Tindakan keperawatan : 1.) Monitor usaha dan tingkat pernafasan. Rasional : Tacypnea dan dyspnoe merupakan gejala awal ketidakcukupan pernafasan. 2.) Dengar bunyi nafas dan perhatikan pengembangan dada. Rasional : Perubahan bunyi nafas serta adanya nafas yang berulang dapat menunjukkan adanya komplikasi pernafasan. 3.) Anjurkan dan bantu klien melakukan nafas dalam dan batuk. Rasional : Meningkatkan ventilasi oksigen dan perfusi alveoli

4.) Rubah posisi tidur klien.

Rasional : Meningkatkan pengeluaran sekresi serta mengurangi kongesti pada daerah paru yang bebas. 5.) Perhatikan bila ada kegelisahan lethargi dan stupor dan keburukan tingkat kesadaran seperti hipoxemia dan acidosis. 6.) Resiko terjadinya trauma tambahan berhubungan dengan terputusnya integritas tulang. Tujuan : Tidak terjadi trauma tambahan dengan kriteria : kestabilan dan kesinambungan fraktur tetap dipertahankan. Tindakan keperawatan : 1.) Pertahankan posisi dan kedudukan gips spalk. Rasional : Mencegah terjadinya pergeseran tulang, mengatasi tegangan otot dan memudahkan penyambungan tulang. 2.) Atur posisi klien supaya aksis tulang panjang dapat dipertahankan. Rasional : Mengurangi komplikasi misalnya tertundanya pertumbuhan tulang/tidak menyatu. 3.) Periksa kedudukan gips spalk tiap hari. Rasional : Letak gips spalk yang tepat mempercepat penyembuhan tulang. 4.) Kolaborasi tim medis untuk foto X-Ray. Rasional : Dapat membuktikan pembentukan callus serta letak tulang. 7.) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sirkulasi daerah tertekan. Tujuan : Gangguan integritas kulit teratasi dengan kriteria : tidak ada rasa panas pada punggung dan bokong, kulit pinggang dan bokong tidak nyeri. Tindakan keperawatan : 1.) Observasi daerah-daerah yang terkena. Rasional : Memberi gambaran daerah yang decubitus serta tekanan kulit akibat spalk gips dan lain-lain. 2.) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perasat. Rasional : Tindakan yang penting untuk mencegah kontaminasi mikroba yang berpindah secara langsung dari tangan. 3.) Bersihkan luka decubitus dengan obat antiseptik. Rasional : Mencegah berkembangnya kuman dalam luka. 4.) Pijat daerah tulang dan kulit yang mendapat tekanan dengan lotion. Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan mencegah lecet pada kulit. 5.) Rubah posisi tidur dengan ganjalan bantal/kain pada posisi daerah tertekan. Rasional : Mengurangi tekanan terus-menerus pada daerah tertentu. 8.) Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang adekuat. Tujuan : Pemahaman klien terpenuhi dengan kriteria : tidak tentang penyakitnya, lebih kooperatif dalam prosedur tindakan. Tindakan keperawatan : 1.) Jelaskan prosedur tindakan yang diberikan. Rasional : Meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat mengerti dengan tindakan dan lebih kooperatif. 2.) Jelaskan perlunya metode ambulasi yang tepat. Rasional : Mencegah komplikasi yang memperlambat penyembuhan. 3.) Beri penguatan positif bila klien mau menjelaskan kembali tentang prosedur tindakan dan kondisi luka. Rasional : Penguatan positif memberi motivasi dan meningkatkan semangat klien. 4. Pelaksanaan Pelaksanaan adalah perwujudan dari rencana keperawatan yang meliputi tindakan-tindakan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam melaksanakan rencana tersebut harus diperlukan kerjasama dengan tim kesehatan yang lain, keluarga klien, dan klien sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan : - Kebutuhan klien. - Dasar-dasar dari tindakan. - Kemampuan perseorangan, keahlian/keterampilan dan perawat. - Sumber dari keluarga dan klien sendiri. - Sumber dari instansi. 5. Evaluasi Evaluasi adalah merupakan pengukuran dari keberhasilan rencana keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. Tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam menggunakan proses keperawatan. Adapun evaluasi klien dengan fraktur cruris dextra 1/3 tengah terbuka grade IIIB dilakukan berdasarkan kriteria tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, dan asuhan keperawatan dinilai berhasil apabila dalam evaluasi terlibat pencapaian kriteria tujuan. DAFTAR PUSTAKA Barbara C. Long, 1996, Perawatan Medikal Bedah, volume 2, cetakan I EGC, Bandung. Barbara Engram, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta. Budi Anna Keliat, SKp, MSC., 1994, Proses Keperawatan, EGC, Jakarta. Chairuddin Rasjad, Ph.D. Prof November, Pengantar Ilmu Bedah Ortophedi, cetakan III penerbit : Lamumpatue, Makassar. Marilynn E. Doenges, at all, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi III, EGC, Jakarta. Oswari E. September, 2000, Bedah dan Perawatannya, cetakan III, Jakarta. Robert Priharjo, 1993, Perawatan Nyeri Untuk Paramedis, EGC, Jakarta. Sylvia A. Price, 1995, Patofisiologi, jilid II, EGC, Jakarta. Sylvia A. Price,2000, Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, penerbit : FKUI, Jakarta. Wim de Jong, 1997, Ilmu Ajar Bedah, edisi revisi, EGC, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai