Anda di halaman 1dari 14

2.2 Pusat Pengendali motor ( Motor Control Center) MCC merupakan pusat pengontrolan operasi motor induksi.

Sebagai pusat pengontrolan, artinya suatu MCC mampu mengontrol operasi beberapa motor. Secara lengkap, yang dimaksud dengan MCC adalah kumpulan beberapa komponen, yaitu motor starter, bus bar dan peralatan control, yang kesemuanya berfungsi untuk melakukan pengontrolan operasi motor induksi dan menempatkan komponen komponen tersebut di dalam suatu panel yang terintegrasi.

Gambar 2.1 Ruangan MCC 2.1.1 Jenis jenis Motor Control Center (MCC) Motor Control Center (MCC) ditinjau dari tegangan yang mesuplainya dan bedasarkan jenis jenis pengoperasian motornya dapat dibagi sebagai berikut : a) MCC berdasarkan tingkat tegangan pensupalai. Berdasarkan tingkat tegangan yang mensupalai, MCC dapat dibedakan menjadi dua jenis antara lain :

1. MCC bersistem tegangan rendah, dimana level tegangan maksimum adalah 600V. 2. MCC bersistem tegangan menengah, dimana level tegangan maksimum sebesar 7,2 KV. Pada aplikasinya, MCC bersistem tegangan rendah dipakai untuk mengontrol operasi motor yang mempunyai tegangan nominal dari fasa ke fasa 380 V 480 V. b) MCC berdasarkan jenis pengoperasian motor Dari jenis pengoperasiannya, dapat dibagi menjadi empat bagian antara lain: 1. Gabungan beberapa komponen (Motor Combination Starter). Dalam proses pengontrolan motor, jenis ini didukung oleh beberapa peralatan utama, antara lain : Moulded Case Circuit Breaker (MCCB) atau Motor Circuit Protector (MCP). Kontaktor Magnetik. Relay pengaman gangguan beban lebih ( Overload Relay ) Trafo kontrol ( Control Power Tronformer ). Pada umumnya jenis ini digunakan dalam proses pengontrolan motor dengan daya kuda maksimum 200 HP atau 1150 KW dengan sitem tegangan rendah. Keuntungan jenis ini adalah hanya membutuhkan ruangan yang lebih kecil. Hal ini disebabkan karena komponen serta peralatan diletakkan dalam suatu panel dan tidak terpisah. Keuntungan lainnya adalah waktu yang

dibutuhkan untuk melakukan penyambungan secara draw in dan pencabutan secara draw out antara unit starter dengan busbar jauh lebih cepat. Hal ini sangat bemanfaat bagi kelangsungan jalannya operasi karena akan

mempermudah kerja petugas pemelihara jika unit tersebut mengalami gangguan. Selain itu keamanan akan lebih baik dari sistem pengoperasiannya baik petugas operasi maupun alat ini sendiri. 2. Pengoperasian secara manual Pada jenis ini umumnya digunakan untuk mengontrol operasi motor yang mempunyai daya kuda atau HP maksimum 10 HP. Manual starter hanya berupa suatu 0n off saklar yang dioperasikan secara manual dimana alat tersebut berfungsi sebagai pengaman terhadap ganguan beban lebih. Keuntungan dari tipe ini adalah pada saat tegangan sumber hilang karena posisi saklar masih on sehingga pada saat tegangan sumber kembali normal, motor akan kembali bekerja secara otomatis. Hal tersebut disebabkan karena tidak dilengkapi dengan alat pengaman terhadap gangguan berupa hilangnya atau turunnya tegangan sumber. Akan tetapi jenis ini memiliki kekurangan yakni system motor yang otomatis dapat membahayakan petugas maupun bagi peralatan itu sendiri. Selain itu dengan tidak adanya system pengamanan terhadap gangguan berupa turunnya tegangan sumber, misalnya pada suatu kondisi tiba tiba tegangan sumber turun menjadi sebesar 85% dari tegangan nominal maka dengan jumlah KVA yang sama, motor akan menarik arus listrik yang lebih

besar dari arus nominalnya. Akibatnya jika penurunan tegangan sumber cukup lama maka akan memperpendek usia motor. 3. Motor Starter Pada jenis ini umumnya digunakan untuk mengontrol operasi motor yang bersistem tegangan menengah. Motor starter jenis ini mempunyai peralatan pendukung berupa : No load break switch dan fuse atau circuit breaker Vacuum kontaktor Pengaman terhadap gangguan beban lebih 4. Pengaturan Kecepatan Kontrol (Adjustable Speed Controller) Ada beberapa jenis motor yang aplikasinya membutuhkan perubahan kecepatan putar dalam melayani beban. System pengontrolan combination starter, manual starter dan motor starter tidak dapat diterapkan pada system jenis ini karena ketiga system pengotrolan di atas merupakan system pengontrolan dengan kecepatan putar yang tetap (frekuensi motor tetap). System ini memungkinkan kecepatan putar operasi motor dapat berubah sesuai dengan keinginan proses operasi. Cara merubah kecepatan putar operasi motor dengan merubah frekuensi tegangan pada sisi motor. Selain itu system ini juga dapat diaplikasikan sebagai alat soft starter suatu motor, dimana soft starter ini berfungsi untuk meminimalkan tegangan drop pada saat proses penstarteran motor. 2.1.2 Sistem Pengasutan Motor Induksi

Penggunaan Motor Indulsi Tiga Phasa untuk aplikasi di mesin mesin industri telah banyak digunakan pada dunia Industri. Motor induksi tiga phasa mempunyai kontruksi yang sederhana sehingga mudah dalam perawatannya, bahkan bisa dikatakan tanpa perawatan yang khusus. Untuk dapat menjalankan motor induksi diperlukan suatu sistem pengasutan diantaranya sebagai berikut : Pengasutan DOL (Direct On Line) Starter Pengasutan bintang segitiga (Y - ) Pengasutan dengan Autotrafo Pengasutan dengan tahanan primer Pengasutan Sistem Soft stater 2.1.3 Pengasutan DOL (Direct On Line) Starter Starter model ini sangat banyak dipakai saat ini, terutama untuk motor motor kecil. Komponen komponennya terdiri dari satu kontaktor dan satu proteksi arus dengan Termal Overload Reley (TOR). Kelemahan starter model ini adalah kemungkinan timbulnya arus start yang sangat tinggi, biasanya bisa mencapai 6 sampai 7 kali. Pada saat starter ini di start, torsi saat ini juga sangat tinggi dan biasanya lebih tinggi dari kebutuhan.

CB

kontaktor

TOR

M 3~
Gambar 2.2 Diagram pengasutan sistem DOL 2.1.4 Pengasutan Bintang Segitiga Y - Secara umum, pengasutan motor induksi dapat dilakukan baik dengan cara menghubungkan rotor secara langsung ke rangkaian pencatu atau dengan menggunakan tegangan yang telah dikurangi ke motor selama periode pangasutan. Sistem pengasutan bintang segitiga adalah metode pengasutan dengan pengurangan tegangan. Sebuah motor induksi dengan hubungan bintang segitiga memiliki enam buah terminal sehingga dapat diswitch, baik untuk
9

hubungan bintang atau segitiga. Motor dihubungkan bintang (Y) pada waktu pertama kali di-start, dan ketika motor telah mendekati kecepatan normal, hubungan diubah menjdi hubungan segitiga (). Saat terhubung bintang, tegangan masing-masing fasa dikurangi sebesar 1/3 (57,7 % tegangan saluran) karena itu torsi yang timbul menjadi 1/3 dari motor yang langsung terhubung delta. Arus saluran dikurangi sebesar 1/3. Ist per fasa =

Dimana : Isc = arus start bila motor terhubung Ist = arus start bila motor terhubung Y Pada pengasutan ini selama periode start lilitan motor akan berada dalam hubungan bintang dan setelah selang waktu tertentu akan berpindah ke hubungan lilitan delta. Dengan cara ini kenaikan arus start dapat dibatasi hingga sepertiga kali saja dibandingkan bila motor langsung terhubung delta.

10

K2

K1

K3

OL

M 3~

Gambar 2.3 Rangkaian Daya Y -


11

Fu

S1

S2

K2 K1

K3

K1

K1 N

K2

K3

Timer

Gambar 2.4 Rangkaian kendali Y- Rangkaian kendali pengasutan dengan cara ini disuplai oleh tegangan 220 Volt. Cara kerjanya: Jika tombol start S2 ditekan, arus mengalir melalui F2 S1 S2

12

kontak bantu timer T (NC) kontak bantu K3 K1. Kontaktor magnetik 1 (K1) bekerja dan motor terhubung dalam lilitan bintang. Saat itu juga kontak bantu K1 (NC) membuka dan kontak bantu K1 (NO) menutup sehingga arus mengalir melalui F2 S1 S2 kontak bantu K1 (NO) K2. Kontaktor magnetik 2 (K2) bekerja dan motor terhubung pada sumber tegangan. Pada saat yang sama kontak bantu K2 (NO) menutup dan timer T bekerja. Setelah t detik kontak bantu T (NC) membuka sehingga K1 tidak dilewati arus (K1 tidak bekerja), kontak bantu T (NC) menutup, arus mengalir melalu F2 S1 kontak K2 (NO) kontak bantu T (NO) kontak bantu K1 (NC) K3. Kontaktor magnetik K3 bekerja, motor terhubung dalam belitan delta. Tombol S1 digunakan untuk melepaskan motor dari sumber tegangan. 2.1.5 Pengasutan dengan autotransformator Untuk mengurangi tegangan pada terminal motor selama periode percepatan, suatu pengasut autotransformator umumnya memiliki dua autotransformator yang terhubung delta terbuka. Selama starting dengan pereduksian tegangan, motor itu terhubung ke tap - tap pada autotransformator. Dikarenakan tegangan starting yang rendah, motor tersebut menarik arus yang lebih sedikit dan menghasilkan torsi yang lebih sedikit dibandingkan jika ia terhubung langsung dengan tegangan jala jala. Suatu relay waktu yang dapat diatur mengendalikan perpindahan dari keadaan tegangan yang dikurangi ke tegangan totalnya. Suatu relay yang sensitif terhadap arus mungkin digunakan untuk mengendalikan perpindahan untuk memperoleh percepatan yang terbatas arus.

13

Prinsip kerja pengasutan dengan autotransformator. Ketika tombol START ditekan untuk sementara, relay pewaktuan energized dan menjaga rangakaian yang terletak pada tombol START dengan kontak instantaneous normally open. Koil starting S energized dari terminal empat melalui kontak penundaan waktu di awal TR dan melalui interlok yang normally closed. Pengasut operasi (running starter) tak dapat ditutup pada saat ini disebabkan karena terbukanya kontak interlock normally closed S dan bekerjanya interlok mekanis. Setelah suatu periode pewaktuan preset TR, kontak kontak yang normally close terbuka dan yang normally open tertutup. Ketika koil S deenergized, NC interlock S menutup dan meng energize kan pengasut operasi R.

Gambar 2.5 Diagram pengkawatan dan diagram pengasutan autotrafo


14

2.1.6 Pengasutan Dengan Tahanan Primer Metode ini menggunakan sebuah resistor yang terhubung seri dengan jala - jala pada motor. Hal ini menyebabkan penurunan arus dan kecepatan starting motor. Tahanan tersebut dapat dilepaskan ketika motor mencapai kecepatan tertentu dan motor tersebut bekerja pada tegangan total jala jala. Pemakaian dan pelepasan tahanan pada rangkaian pengasut motor dapat dilakukan secara manual maupun otomatis. Pengasut dengan tahanan primer digunakan untuk mengasut motor rotor sangkar dimana suatu pembatasan torsi diperlukan untuk menghindari kerusakan pada mesin tersebut. Starting semacam ini juga digunakan pada inrush current yang terbatas untuk menghindari gangguan saluran tenaga yang berlebihan. Gambar di bawah menunjukkan pengasut yang terhubung dengan suatu motor induksi 3 jenis rotor sangkar. Ketika tombol start ditekan, suatu rangkaian tercipta dari L1 menuju tombol STOP, tombol START, koil (M) dan relay kontak beban lebih hingga L2. Ketika koil (M) energized, kontak kontak daya utama M dan holding contact (kontak penahan) M tertutup. Sehingga motor pun energized melalui relay termal beban lebih dan tahanan pengasut. Dengan terhubung serinya terminal terminal motor dengan tahanan, suatu jatuh tegangan timbul pada tahanan tersebut yang menyebabkan motor bekerja dengan tegangan yang direduksi.

15

Gambar 2.6 Diagram garis untuk suatu pengasut tahanan primer Seiring motor mengalami percepatan, jatuh tegangan pada tahanan tadi berkurang secara bertahap dikarenakan adanya pengurangan arus starting motor. Pada saat yang sama, tegangan terminal motor meningkat. Setelah suatu masa percepatan tertentu, kontak delay M menghubungkan rangkaian hingga koil kontaktor S. Koil S, secara langsung, menutup kontak kontak S, tahanan tahanan tadi terhubung paralel, dan motor tersebut terubung langsung ke tegangan jala jala. Perhatikanlah bahwa tombol STOP secara langsung mengontrol koil M. ketika kontak kontak daya M terbuka, koil koil S terlepas. Setelah koil M energized, suatu unit pewaktuan neumatik yang terhubung dengan unit
16

pengasut M menunda penutupan kontak waktu M. Skema ini menggunakan pengasut M untuk suatu tujuan ganda dan menghilangkan suatu koil, suatu relay pewaktuan. 2.1.7 Pengasutan Sistem Soft stater Soft starter sangat berbeda dengan starter lain. Alat ini mempergunakan thyristor sebagai komponen utamanya. Tegangan yang masuk ke motor akan diatur dimulai dengan sangat rendah sehingga arus dan torsi saat start juga rendah. Pada saat start ini tegangan yang masuk hanya cukup untuk menggerakkan beban dan akan menghilangkan kejutan pada beban. Secara perlahan tegangan dan torsi akan dinaikkan sehingga motor akan mengalami percepatan hingga tercapai kecepatan normal. Salah satu keuntungan mempergunakan alat ini adalah kemungkinan dilakukannya pengaturan torsi pada saat yang diperlukan, tidak terpengaruh ada atau tidaknya beban.

Gambar 2.7 Rangkaian dasar soft starter

17