Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II PEMILIHAN ANTIBIOTIKA

TANGGAL PRAKTIKUM SHIFT/KELOMPOK

: Kamis, 28 Februari 2013 : D/6

FITRIAH PATTIIAH (10060307025) ARFIAH TUANKOTTA (10060310134) ANNISHA IMANIA (10060310135) NIDA MAHDA ANIDA (10060310137)

ASISTEN : DINA ROSDIANA SARI, S.Farm

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT D PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2012

PEMILIHAN ANTIBIOTIKA

I.

Tujuan 1. Mengenal metode pemilihan antibiotika berdasarkan kepekaan mikroba 2. Mampu menerapkan metode pemilihan antibiotika untuk penyakit infeksi oleh metode patogen Teori Dasar Bahan kimia, berbagai jenis bahan kimia dapat menghambat pertumbuhan kuman, misalnya kadar gula yang tinggi, zat warna, desinfektan, antibiotika. Bahan kimia ini dapat menghambat pertumbuhan kuman, disebut efek bakteriostatik, atau dapat membunuh kuman, disebut efek bakterisid. Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk sanitasi, disinfeksi, antisepsis, dan membunuh kuman. Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman-kuman sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Para peneliti diseluruh dunia memperoleh banyak zat lain dengan khasiat antibiotik namun berhubung dengan adanya sifat toksis bagi manusia, hanya sebagian kecil saja yang dapat digunakan sebagai obat diantaranya adalah streptomycin vial injeksi, Tetrasiklin kapsul, Kanamicin kapsul, Erytromicin kapsul, Colistin tablet, Cefadroxil tablet dan Rifampisin kapsul (Djide, 2003). Antibiotik digunakan untuk membasmi mikroba penyebab terjadinya infeksi. Gejala infeksi terjadi akibat gangguan langsung oleh mikroba dan berbagai zat toksik yang dihasilkan mikroba. Pada dasarnya suatu infeksi dapat ditangani oleh sistem pertahanan tubuh, namun adakalanya sistem ini perlu ditunjang oleh penggunaan antibiotik. Antibiotik yang digunakan untuk membasni mikroba penyebab infeksi pada manusia, harus memiliki sifat toksisitas selektif. Artinya antibiotik harus bersifat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes. Toksisitas selektif tergantung kepada struktur yang dimiliki sel bakteri dan manusia misalnya dinding sel bakteri yang tidak dimiliki oleh sel manusia, sehingga antibiotik dengan mekanisme kegiatan pada dinding sel bakteri mempunyai toksisitas selektif relatif tinggi (Ganiswarna, 1995). Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tergantung kapada kemampuan antibiotik tersebut untuk menembus dinding sel bakteri. Antibiotik lebih banyak yang efektif bekerja terhadap bakteri Gram positif karena permeabilitas dinding selnya lebih tinggi dibandingkan bakteri Gram negatif. Jadi suatu antibiotik dikatakan mempunyai spektrum sempit apabila mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan antibiotik berspektrum luas jika pertumbuhan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dihambat oleh antibiotik tersebut (Sumadio, dkk. 1994).

II.

Berdasarkan sasaran tindakan antibiotik terhadap mikroba maka antibiotik dapat dikelompokkan menjadi lima golongan yaitu antibiotik penghambat sintesis dinding sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, dan vankomisin. Yang kedua yaitu antibiotik penghambat sintesis protein sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan aminoglikosida, makrolida, kloramfenikol, linkomisin dan tetrasilin. Yang ketiga yaitu antibiotik penghambat sintesis asam nukleat sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah rifampisin dan golongan kuinolon. Keempat yaitu antibiotik pengganggu fungsi membran sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan polien. Dan yang kelima yaitu antibiotik penghambat metabolisme mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah sulfonamida, trimetoprin dan asam p-amino salisilat (Ganiswarna, 1995). Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhamabat pertumbuhannya akibat antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik. Contohnya: tetracycline, erytromycin, dan streptomycin. Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Pelczar, 1986). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi luas daerah hambatan dengan cara difusi ini adalah sebagai berikut : Ingredient medium pertumbuhan Pemilihan medium pertumbuhan Pengaruh pH Ukuran inokulum Stabilitas mikroorganisme Aktivitas antibiotic Waktu inkubasi Teknik dan keterampilan analis E. coli merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 micrometer dan diamater 0.5 micrometer. Volume sel E. coli berkisar 0.6-0.7 micrometer kubik. Bakteri ini termasuk umumnya hidup pada rentang 20-40 derajat C, optimum pada 37 derajat. S. aureus merupakan bakteri berbentuk bulat (coccus), yang bila diamati di bawah mikroskop tampak berpasangan, membentuk rantai pendek, atau membentuk kelompok yang tampak seperti tandan buah anggur. Organisme ini Gram-positif. Beberapa strain dapat menghasilkan racun protein yang sangat tahan panas, yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Dosis infektif toxin/racun sebanyak kurang dari 1.0 mikrogram dalam makanan yang terkontaminasi dapat menimbuknan gejala keracunan staphylococcal. Tingkat racun ini dicapai apabila populasi S. aureus lebih dari 100.000 per gram.

III.

Alat dan Bahan Mikroba uji : Staphylococcus aureus, Escherichia coli Medium : Agar kaldu, air kaldu, air suling Antibiotik : Ampisilin Na, Tetrasiklin HCl, Kloramfenikol Bahan lain : cakram kertas, kapas berlemak, aluminium foil Alat : spektrofotometer, pinset, vortex, autoklaf, inkubator, pipet Eppendorf, jarum ose, cawan petri, tabung reaksi, labu Erlenmeyer, batang pengaduk Prosedur Pembuatan lempeng agar - Medium agar kaldu dicairkan diatas tangas air sampai mencair, ditunggu sampai suhu mencapai 450C sambil digoyang. - Disiapkan 2 cawan petri yang telah diisi oleh suspensi bakteri 0,1 ml - Ditambahkan medium agar cair dalam masing-masing cawan petri, campur, biarkan memadat. - Ditambahkan empat cakram kertas steril diletakan pada tiap lempeng agar dalam cawan petri. Setiap cakram ditetesi dengan 10 l larutan antibiotik yang berbeda. Larutan antibiotik dibuat dengan konsentrasi 1g/ml, 10g/ml, 50g/ml, 100g/ml, 200g/ml, 1000g/ml. - Dibiarkan 1 jam. Lalu inkubasi selama 18-24 jam. - Amati dan ukur diameter hambatan pertumbuhan bakteri. Pengamatan

IV.

V.

Aktivitas Antibiotik terhadap Staphylococcus aureus Diameter Hambatan (mm) 0,5 0,1 1 2 g/cakra g/cakram g/cakram g/cakram m 10,1 0,6 10,2 11,8 1,01 0,6 10,2 11,8 15 13 20 25

Antibiotik

Kel. cawan I/A I/B II/A II/B III/A III/B

0,01 g/cakram 8

10 g/cakram 22,9 22,9 30

Ampisilin Tetrasiklin Kloramfenikol

Kurva Hubungan Antara Konsentrasi dengan Diameter Hambatan terhadap Staphylococcus aureus
35

diameter hambatan (mm)

30 25 20 15 10 5 0 0 2 4 6 8 10 12 konsentrasi (g/cakram) ampisilin tetrasiklin kloramfenikol

Aktivitas Antibiotik terhadap Escherichia coli Diameter Hambatan (mm) 0,5 0,1 1 2 g/cakra g/cakram g/cakram g/cakram m 36,7 35,1 37,8 40,6 32,8 32,1 35,4 36,3 -

Antibiotik

Kel. IV/A IV/B V/A V/B VI/A VI/B

0,01 g/cakram 19,1 18,2 -

10 g/cakram 45,6 38,9 -

Ampisilin Tetrasiklin Kloramfenikol

Kurva Hubungan antara Konsentrasi dengan Diameter Hambatan terhadap Escherichia coli
50 diameter hambatan (mm) 40 30 ampisilin 20 10 0 0 2 4 6 8 10 12 konsentrasi (g/cakram) tetrasiklin kloramfenikol

VI.

Pembahasan Pada praktikum pemilihan antibiotika yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan suatu antibiotika dalam menghambat pertumbuhan mikroba patogen. Antibiotik yang digunakan adalah ampisilin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Dengan menggunakan metode cakram kertas. Bakteri yang digunakan adalah Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil pengamatan yang telah dilakuakan menunjukkan bahwa aktivitas antibiotik ampisilin terhadap Escherichia coli memiliki diameter hambat yang lebih baik dibandingkan dengan akivitas antibiotik ampisilin terhadap Staphylococcus aureus. Dengan adanya diameter hambat pada konsentrasi 0,01g/cakram untuk bakteri Escherichia coli sedangkan untuk bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi yang sama menunjukkan tidak adanya diameter hambat. Hal ini terjadi dikarenakan ampisilin merupakan senyawa turunan pertama 6-aminopenisilanat atau disebut juga penisilin spektrum luas yang bekerja terhadap sejumlah bakteri gram negatif seperti E.coli. (Ernst Mutschler, 1991) Aktivitas antibiotik tetrasiklin memiliki diameter hambat yang lebih baik pada bakteri Escherichia coli dibandingkan dengan bakteri Staphylococcus aureus. Ditunjukkan dengan adanya diameter hambat pada konsentrasi 0,01g/cakram untuk bakteri Escherichia coli sedangkan untuk bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi yang sama menunjukkan tidak adanya diameter hambat. Hal ini terjadi dikarenakan antibiotik tetrasiklin merupakan antibiotik yang bekerja pada semua mikroba yang peka terhadap penisilin, berbagai bakteri gram negatif, mikoplasma, spirokhacta dan leptospira, riketsia, chlamydia serta dalam dosis tinggi terhadap amuba. Tetrasiklin bekerja baik pada mikroba ekstrasel maupun

intrasel. Dengan tipe kerjanya yaitu bakteriostatik, menghambat pada sintesis protein ribosom yaitu dengan menghambat pemasukan aminoasil-t-RNA pada fase pemanjangan yang termasuk fase translasi, sehingga dapat menyebabkan blokade perpanjangan rantai peptida. Hal ini menunjukkan bahwa ampisilin dan tetrasiklin dapat beraktifitas dengan baik pada bakteri Escherichia coli. Tetapi menurut hasil dari pengamatan ampisilin lebih baik terhadap aktivitas bakteri Escherichia coli karena pada konsentrasi 0,01 diameter hambat antibiotik ampisilin lebih besar yaitu 19,1 mm dibandingkan dengan antibiotik tetrasiklin yaitu 18,2 mm. Hal ini terjadi dikarenakan ampisilin bekerja dengan cepat terhadap Escherichia coli yang merupakan gram negatif sedangkan antibiotik tetrasiklin bekerja pada penyakit infeksi yang meningkatnya resistensi. Dan waktu paruh ampisilin lebih cepat yaitu 1 jam sedangkan tetrasiklin memiliki waktu paruh 5 jam. (Ernst Mutschler, 1991) VII. Kesimpulan Aktivitas kerja ampisilin lebih baik untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli VIII. Daftar Pustaka
Djide, M.N, 2003. Mikrobiologi Farmasi, Jurusan Farmasi Unhas, Makassar. Ganiswarna, S.G, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat: Farmakologi dan Toksikologi. ITB: Bandung
Pelczar, Michael J, 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, UI-Press, Jakarta. Sumadio, H., dan Harahap, 1994, Biokimia dan Farmakologi Antibiotika, USU Press, Medan.