Anda di halaman 1dari 67
PENGARUH (1 PEMBERIAN BEBERAPA KADAR DAUN PETAl CINA (Le.?~aena leucocephala (LAM.) DE WIT.) TERHADAP PERTAMBAHAN
PENGARUH (1 PEMBERIAN BEBERAPA KADAR DAUN PETAl CINA (Le.?~aena leucocephala (LAM.) DE WIT.) TERHADAP PERTAMBAHAN

PENGARUH

(1

PEMBERIAN BEBERAPA KADAR DAUN

PETAl

CINA (Le.?~aena leucocephala (LAM.) DE WIT.)

TERHADAP PERTAMBAHAN

BOBOT BADAN DAN EFISIENSI

MAKANAN

PADA KELINCI JANTAN

LOKAL

KARYA

ILMIAH

ANWARSYARIF

DAN EFISIENSI MAKANAN PADA KELINCI JANTAN LOKAL KARYA ILMIAH ANWARSYARIF FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN 1980 BOGOR

FAKULTAS

PETERNAKAN

INSTITUT

PERTANIAN

1980

BOGOR

.-'.

l~upersembahkan .buar, ibui ayah,

kak~ dan adik~adik tercinta,

yang setiap

untUk keselamatan dankeberha-

saat

selalu berdoa

silarl perjuangahku

PENGARUH. PEMBERIAN BEBERAPA KADAR DAUN

PETAl eINA (Leucaena leucocephala

(LAM.)

DE vaT.)

TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN EFISIENSI

HAKANAN PADA KELINGI

J ANlI'AN LOKA!,

Oleh

ANWAR SYARIF

Karya Ilmiah ini

telah

diperiksa dan d~setujui oleh

SYARIF Karya Ilmiah ini telah diperiksa dan d~setujui oleh ?2~·t~~ Ir. Subadio Susetyo Ir. Ignatius Kis.mono

?2~·t~~

Ir.

Subadio Susetyo

diperiksa dan d~setujui oleh ?2~·t~~ Ir. Subadio Susetyo Ir. Ignatius Kis.mono Pembimbing Anggota jJ. Ir. Sri

Ir.

Ignatius Kis.mono

Pembimbing Anggota

jJ.

Ir. Sri Harini

Pembimbing Anggota

?2~·t~~ Ir. Subadio Susetyo Ir. Ignatius Kis.mono Pembimbing Anggota jJ. Ir. Sri Harini • Pembimbing Anggota

Tanggal

"Kal'ya Ilmiah ini

tel~h disidangkan

di hadapan ~~atu Komisi Ujian Lis~~

pada tanggal

25

A,e;ustus , 1980

II

Ketua Seksi Pendidikan Sa~jana

Fakultaa Peternakan

, 1980 I I Ketua Seksi Pendidikan Sa~jana Fakultaa Peternakan Institut ertanian Bogor 1J~~ ( ~k;::Ha;l'p;nJradjib)

Institut

, 1980 I I Ketua Seksi Pendidikan Sa~jana Fakultaa Peternakan Institut ertanian Bogor 1J~~ ( ~k;::Ha;l'p;nJradjib)

ertanian Bogor

1J~~

( ~k;::Ha;l'p;nJradjib)

RINGKASAN

PENGARUH PEMBERIAN BE~E~APA KAbAR

DAU~

PETAl

CINA (~eUCaeha leuoooeEhala

(LAM.)

pm WIT.)

TERHADAP PERTAMBM1AN BOBOT

ADAM DAN EFISIENa~

MAKANAN PADA KELtNor

"TANTAN MKAL

Salah satu cara untuk memenuhi keb~tuhan masya~akat akan daging dan sekaligus memenuhi kebutuhan protein he~ wani adalah dengan menguSahakan peternakan seCara inten- sif. Di antara berbagai jenis ternak, kelinci merUpakan salah satu jenis yang baik untuk dikembangkan, terutama untuk peternakan rakyat kare~a mudah dipeliharat cepat berkembang biak dan biaya pemeliharaannya ~elat1f mutant

adalah berupa

hijauan,

zi, tinggi

bantu meningkatkan pertumbuhan dan prOduks~nya.

Sebagian besar makanan ternak kelinci

karena itu

seperti

penggunaan hijauan yang bathilai gi-

jenis kacang-kaeangan aksn dapat mem~

Suatu penelitian

tentang pengaruh pemherian tlaun pe-

DE WIT.)

terhadap

tai eina (Leucaena leucocepha~a (LAM.)

pertambahan bObot badan dan e isiensi makanan pada ternak

kelinci telah dilakukan di Departemen IlmU Makanan Tarnak Fru~ultas Peternakan Institut Pertanian Bogor selama 37

hari,

sejak tanggal 9 Mei sampai dengan15 Juni 1980.

Hewan pereobaan

terdiri dari 16 ekor kalinei jsntan

yang dikelompokkan menjadi

em-

lokal berumur 3-3t bulan l

pat kelompok berdasarkan bobot badan awal pe:):'C)obaan.

Perlakuan yang diberikan adalah berupa ransum da:in~ puran antara daun wortel (Daucus ,2.arota LINN.) dangati da- un petai eina dalam perbandingan sebagai berikutl A ~

100 % daun wortel + 0 % daun petai

eina,

cina,

B =',85 % daun

+

wortel + 15 %daun petai

30 %daun petai eina dan D = 55 %daun wortel + 45 %da-

un petai cina.

C = 70 %daun wortel

Pengulmran pertambahan bopot badan dilakukan

seti.ap

enam hari sekali. Perhitungan efisiensi makanan didasar-

kan atas konsumsi bahan

ransum. Efisiensi penggunaan bahan segar dan efisiens1 penggunaan bahan !tering ransum diperhitungkan sebagai perbandingan antara konsumsi bahan segar dan konsumsi bahan kering ransum dengan pel':tambahan bobot badan ke-.

segar dan konsumsi bahan kering

li':lci.

Raneangan ~ercobaan yang digun~an adalah Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design) dengan Rancangan Acak

Kelompok sebagai

perlakuan,

kan

rancangan dasar.

Petakutama adalah ,

sedang periode

pengukuran bobot badan dijadi~

sebagai anak petak.

Hasil pe~oobaan menunjUkkan bahwa perl~tuah berpenga- ruh nyata (pi 0;05) terhadap pertambahan bobot badan hari- an kelinci, l?ertambahan babot badan harian kelinoi adalah .

9,8 gram/ekot dan 12.1 gram/

6,2 gram/~kor. 912 gram/ekorj

ekor,

Uji Jarak DUnoan ternyata bahwa pertambahan bobot badan,

harian kellnci pada perlakuan B. C dan D berbeda nyata (plO,O,) dengan per~akUan A. sedangantara perlakUah 0

dengan B.

mas~ng-masing untuk perlakuan At

B,

0 dan

D.

Dengan

C dangan a ~~n D ~eng~n C tidak berbeda nyata,

ran sum dalam bobot badan ha-

rlan kelinci·berbentuk linier, dengan persamaan garis reg-

kisaran 0 % sampai 45 %dengan pertambahan

ressit Y = 7.95 + O;06X (Y = pertambahan bobot badan hari- an kelinci (gram); X ; kadar daun petai cina ransum).

Hubungan antara kadar daun petal

cina

Periode tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan

sedang interaksi antara per-

bobot badan harian k'Jl~".:.c,

lakuan dengan periode adalah nyata (PL 0,05).

Hasil analisa kimia ransummenunjukkan bahwa kadar

antara konsumsi bahan kerin

bahan kering re,nl.JUm meningkat dengan semakin ~·:!.ngginya ka- dar daun petai eina. Mungkin karena perbedaan kadar bahan

kering ini.

analisa sidik ragam menunjukkan perbedaan yang

b sotiap

sangat nyata (pL 0,01)

ransum.

walaupun konsumsi bahan segar tidak berbeda nyata.

Periode berpengaruh sangat nyata (Pi 0,01)

terhadap

konsumsi bahan kering ransum.

dapatkan pula bahwa interaksi antara perlakuan dengan pe-

riods adalah nyata (Pi 0,05).

Dati analisa sidik ragam di-

Efisiensi penggunaan bahan segar ransum adalah 0,0248,

masing-Illasing untuk perlakuan A,

°.0387 , 0,0419

dan 0,0518,

B, C dan D. Uji Jarak Duncan menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan bahan·segar ransum pada perlakuan D dan C ber-

beda nyata (PL 0,05) dengan perlakuan A, sedang antara D

dengan

B, D dengan C, C dengan B dan B dengan A tidak ber-

0,2078,

beda nyata. Efisiensi'penggunaanbahan kering ransum ada-

0,2113 dan 0,2528, masing-masing untuk

perlakuan A, B, C dan D. Uji Jarak Duncan menunjukkan bah- wa efisiensi penggunaan ~aban kering ransum pada perlakuan D berbeda nyata (PL 0,05) dengan perlakuan A, sedang anta- ra D dengan B, D dengan C, C dengan A, C dengan B dan B

lah 0,1586,

dengan A tidak berbeda nyata.

Periods tidak berpengaruh nyata terhadap efisiensi

dan bahan kering ransum,

penggunaan banan segar

teraksi antara perlakuan dengan periode adalah nyata

sedang in-

(PL O~05).

yang

lain,

Perlakuan tidak mengakibatkan adanya kerontokan bulu

jelas pada kelinci.

Tidak nampak pula adanya kelainan

dan urine.

bail!:: pada kondisi hewan maupun pada feces

KARYA UMIAK

01eh

ANWAR

SYARIF

FAKULTAS PETERNAKAJ.'l

INSTITUT PERTANIAN

1980

BOGOR

PENGARUH tJEMEl!Jn!AN BEBERAPA KADAR DAUN,

PETAl GINA (Leucaena leUcocephala (LAM.)

DE WIT.)

~ERHADAP PERTAMEAHAN BQEOT EADAN DAN EFISIENSI MAKANAN PADA KELlNeI JAN~AN tOKAL

,

KARYA ILMlAH

Suah! Karya Ilm1ah yang Dibuat Untuk

Memenuh~.

Sebagian dari SyaratMsYarat Untuk Mer.lperoleh Gelar Sarjana Peternakan pada Fw~ult~s

Peternakan,

Institut Pertanian Bogo~

Oleh

AnWar Syarif

Banjarbar",

Kalimantan Selat2n

Pembimbing Utruna

11'.

Subadio Susetyo

Dosen llmu Tanaman Makanan Ternak

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANlAN BOGOR

1980

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

SyQkur alhamdulillah

penulis panjatkan ke

hadirat

Allah s.w.t., karena hanya dengan rahmat dan karuniaNya

akhirnya penelitian dan penulisan Karya Ilmiah ini da- pat diselesaikan.

Karya Ilmiah ini merupakan

salah satu

syarat un-

tuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fru,ultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari bahwa isinya masih jauh dari sempurna, walaupun demiki-

an semoga dapat merupakan sumbangan yang bermanfaat ba- gi dunia peternakan.

penulis menyruapaikan ucapan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ir. Subadio Susetyo sebagai pembimbing utama, Bapak Ir. Ignatius Kismono dan Ibu Ir. Sri Harini sebagai pembimbing anggota, yang telah memberikan bimbingan,

nasehat serta saran sejak mulai pene~itian sampai akhir penyelesaian Karya Ilmiah ini.

Pada kesempatan ini

Ucapan

terima kasih

penulis

sampaikan pula kepada

Dekan Fakultas Peternakan IPB besrta staf atas segala fasilitas, birabingan dan ilrau yang diberikan selaraa pe-

nulis kuliah di Fakultas Peternakan IPB.

Selanjutnya penulis

sampaikan ucapan

terima l~asih

kepada pegawai Bagian

Agrostologi

Departemen Ilmu Makan-

an Ternru~ Fakultas Peternakan IPB atas segala bantuan

iii

iv

yang

te1ah diberikan

Kepada

se1ama pene1itian.

semua teman-teman yang

te1ah re1a menyum-

bangkan

dan

an banyak terima kasih. M~hirnya penulis sampaikan ucapan banyak terima kasih kepada semUa pihak yang telah ikut memberikan bantuan.

pikiran,

wall:tu dan

tenaganya da1am peneli tian

penu1is

penu1isan Karya I1miah ini,

sampaikan ucap-

Bogor,

Juli 1980

Penulis

DAFTAR lSI

Ha1aman

 

iii

.

vi

vii

viii

•.

1

3

3

4

9

KATA PENGANTAR

DAFTAR TABEL

DAFTAR ILUSTRASI

DAFTAR LAMPIRAN

PENDAHULUAN

••

TINJAUM~ PUSTAKA

••••••••• 1:1

"

Q

 

.,

0 •

.0.

Arti hijauan sebagai makanan ternak

kelinci

•••••••••••••••••••••••••••••••••

Petai cina (Leucaena 1eucocepha1a (LAM.) DE

Xebutuhan zat

ternak. kelinci

dan bahan makanan bagi

•••.••••.•••.••.••••.•.•••

MATERI DAN METODA PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi ran sum

•• " ••• 0 ••••• 0 ••••••••••••

Pertambahan bobot

Efisiensi makanan

Ke1ainan-ke1ainan pada hewan percobaan

badan

It

.

•••

KESIMPULAN DAN SARAN

 

,

DAFTAR PUSTAKA

1:1

"

0

LAMPIRAN

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••

11

16

16

19

25

29

30

33

35

v

it

DAFTAR

TABEL

Tabel

Halaman

1. Komposisi Kimia

2. Komposisi I\imia Ransum yang

Daun Petai

Cina

Diberikan

Dalam Penelitian

•••••••••••••••••••• It ••••

3. Bagan Percobaan

Acak Kelompok

dengan Menggunakan Rancangan

•••••••.••• G q •••••• 0, •• 10 •• 00

4.

5.

Konsumsi Bahan Segar

Perlakuan Selama

Konsumsi Bahan Kering Harian Ran sum Perlakuan Selama Penelitian

Harian Ransum

Penelitian

•• • • • •

13

13

14

16

: 1:7

6. Pertambahan Bobot Badan Total Kelinci

Selama Penelitian

••••••••••••••••••••••••

20

7. Pertambahan Bobot Badan Harian Kelinci

Selama Penelitian

••••••••••••••••••••••••

21

8. Efisiensi Penggunaan Bahan Segar Ransum

Selama Penelitian •••••••••••••••••••••••• 27

9. Efisiensi Penggunaan Bahan Kering Ransum

Selama Penelitian

••••••••••••••••••••••••

vi

28

DAFTAR ILUSTRASI

Ilustrasi

Halaman

1. Grafik Pertambahan Bobot Badan Total

Kumulatif Kelinci

Selama Tigapuluh Hari

•••

2. Hubungan Kadar Ransum denge.n Harian Kelinci

3. Pertambahan Bobot Badan Harian Kelinci

Daun Petai

Cina dalam

Pertambahan Bobot Badan •••••••••

Selama Penelitian

pada Berbagai Kadar Daun Petai

Cina

dalam Ransum

•••••••••••••••••••••••••••••

vii

22

24

26

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halainan'

Perhitungan Ana1isa Sidik Ragam Konsumsi

Bahan Segar Ransum Secara Petak Terpisah

2. Perhitungan Ana1isa Sidik Ragam Konsumsi

1,

Bahan

Kering Ransum Secara Petak

Terpisah

••••••••• 0 ••••• .,

.,

"

••

3. Perhitungan Ana1isa Sidik Ragam Pertam-

bahan Bobot Badan.Harian Ke1inci

Secara

Petak Terpisah

•••••••••••••••••••••••••••

;6

38

42

4. Perhitungan Penentuan Hubungan Kadar Daun

Petai Gina da1am Ransum dengan Pertambahan

Bobot Badan Harian Ke1inci dingan Ortogona1 Po1inomia1

dengan Perban- ••••••••••••••

5. Perhitungan Ana1isa Sidik Ragam Efisiensi

Penggunaan Bahan Segar Ransum

Secara Petak

Terpisah

, ••

11

if ••

•••••••••••••

6. Perhitungan Ana1isa Sidik Ragam Efisiensi

Penggunaan Bahan Kering Ransum

Secara

Petak Terpisah

•••••••••••• , ••••••••••••••

viii

45

47

50

Salah satu

PENDAHULUAN

cara untuk memenuhi kebutuhan masyara-

kat akan daging dan sekaligus memenuhi kebutuhan prote-

in hewani adalah dengan mengusahakan peternakan secara

intensif. Di antara berbugai jenis ternak, kelinci me- rupakan jenis yang cukup potensiil untuk dikembangkan terutwna untuk peternakan rakyat karena kelinci mudah dipelihara, cepat berkembang biak dan biaya pemelihara- annya relatif murah,

Di

swnping menghasilkan daging yang mengandung

protein tinggi, dari peternakan kelinci akan diperoleh

pula hasil swnpingan berupa kulit dan pupuk organik

yang baik untuk tanaman. Sebugian besar makanan

adalah beru-

pa hijauan, karena itu penyediaannya kurang bersaing

clengan bahan makanan manusia. Pada umumnya ran sum kelinci terdiri dari kira-kira

65 % hijauan dan 35 % konsontrat.

sentrat dalam ransum dapat ditekan sampai sekeci1 mung-

kin atau digantikan seluruhnya oleh hijauan tanpa me-

ngurangi pertumbuhan dan produksinya, maka biaya makan- on dapat lebih dihemat karena harga makanan hijauan

umumnya 1ebih murah daripada harga konsentrat.

ternak kelinci

Jika pemakaian

kon-

Dengan ransum yang

terdiri dari hijauan saja,

ha-

.: 1. yang baik hanya mungkin

dicapai

jika hij au an yang

diguna};:an bernilai gizi tinggi. Di antara semua jenis

2

hijauan jenis l~acang-kacangan (leguminosa) paling meme- nuhi syarat tersebut. Jenis ini di samping kaya akan

protein dan mineral, ternak.

juga umumnya lebih disukai oleh

Salah satu jenis kacang-l~acangan yang banyak ter- sebar di daerah tropis termasull: di Indonesia adalah pe- tai cina (Leucaena leucocephala (LAM.) DE WIT.). Telah banyak penelitian yang dilakukan untull: mengetahui pe- '1garuh pemberian hijauan petai cina terhadap produktiv-

~. tas dari ternak. Pada umumnya

ransum memberikan pengaruh yang baik asal tidal~ melam-

paui batas jumlah yang dapat ditolerir oleh ternak.

penggunaannya dalam

bagaimana penga-

ruh beberapa kadar daun petai cina dalam ransum campur- an antara daun wortel dengan daun petai cina terhadap ternak kelinci lokal, terutama terhadap pertambahan bo- bot badan dan efisiensi mal~anan. Di samping itu dia-

-,ati llula adanya kelainan-kelainan yang mungkin timbul pada ternak akibat pemberian daun petai cina tersebut.

Dalam penelitian ini

akan dilihat

TINJAUAN PUSTAKA

Arti hijauan sebagai makanan ternak kelinci.-- Ke- linc1 termasuk hewan herbivora dan dapat memanfaatkan sejumlah besar tanaman yang mengandung serat kasar (NRC, 1954), Bahan makanan ternak kelinci adalah berupa rum- put, daun dan pucuk-pucuk dari beberapa jenis leguminosa dan sayur-sayuran, umbi-umbian dan biji-bijian (Burgos, 1953; Anonim, 1973).

menggolongkan makanan ternak

Secara umum NRC (1954)

kelinci menjadi tiga macam yaitu:

jauan dan c) bahan-bahan lainnya seperti sisa-sisa dapur dan sebagainya.

Hijauan merupakan bagian yang terbesar dalam ransum

ternak kelinci. Dari susunan

dan Templeton (1968), kira-kira 65 % dari

leh NRC (1954) ransum terdiri

35 %lagi adalah konsentrat.

a)

konsentrat,

b)

hi-

ran sum yang dianjurkan 0-

sedang

dari hijauan

(dalam bentuk hay)

Menurut

Susetyo

dkk.

(1969)

ada dua golongan hijau-

an yaitu golongan rumput-rumputan dan golongan kacang- kacangan (leguminosa). Di samping itu ada dua sumber lain yang tida~ kecil artinya dalam budi daya peternakan yaitu perdu dan pohon-pohonan serta sisa-sisa hasil per-

tanian. Daun wortel

satu sisa hasil pertanian yang baik untuk makanan ternak

(Daucus carota LINN.)

merupru~an salah

kelinci.

Dari

4

suatu hasil panen wortel,

kira-kira 37 %

·i

merupakan bagian yang

terbuang,

yaitu berupa daun,

ba-

tang dan

sisa-sisa potongan lainnya

(FAO,

1972).

Kom-

posisi zat-zat makanan dari daun wortel berdD.ourkan a-

nalisa bahan kering adalah:

5,0 %, serat !:asar 13,3 %, BETN 38,9 % dan abu

protein kasar 18,9 %,

lemak

23,9 %

(Anonim,

1975).

Pada umumnya hijauan kacang-kacangan

lebih tinggi

kadar protein dan mineralnya daripada

innya serta lebih disukai oleh ternlli{ (Mor~son. 1957;

jenis hijauan la-

Susetyo dkk., 1969), oleh karena itu sangat baik diguna-

kan

Termasuk ke dalam jenis kacang-kacangan ini misalnya alfalfa (Medicago sativa LINN,), CenJ£9sema Qubescens BENTH., turi (Sesbania gradiflora PERS.), petai cina (Leucaena leucocephala (LAM.) DE VITT.) dan lain-lain.

dalam ransum

terutama sebagai

sumber protein.

Petai cina (Leucaena leucocephala (LM1.) DE WIT.).-

Petai

yang dulu

di beberapa daerah di Indonesia dikenal dengan nama kem- landingan, lamtoro, metir, pelending atau peuteuy selong

cina atau Leucaena leucoceQhala (LAM.)

DE WIT.

dikenal dengan nama Leucaena glauca BENTH"

(Heyne,

1950),

sedangkan di

Filipina dikenal dengan nama

ipil-ipil dan di Hawaii disebut koa haole. Tan~~an ini berasal dari Amerika Tengah dan seka-

rang

telah

tersebar ke negara-negara tropis.

Sebenarnya

5

petai cina terdiri dari beberapa tipe, tetapi yang se-

karang banyak tersebar

adalah tipe

Hawaii,

tipe Peru

dan tipe Salvador (Anonim, 1977).

Petai

cina tumbuh baik terutama di

daerah tropis

dan sub tropis. nyatakan bahwa di

dengan baik mulai

taran tinggi dengan ketinggian 800 meter.

Siregar dan Prawiradiputra

Indonesia tanaman ini

dari

(1978)

me-

dapat tumbuh

dataran rendah sampai dengan da-

Petai

cina tumbuh lebih baik di

tanah netral atau

tanah basa daripada di tanah asam. Karena sistim per-

a1tarannya yang

petai cina dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah,

dari tanah berbatu-batu sampai dengan tanah liat dan

bahkan

lebih dalam daripada tanaman lain,

maka

pada batu karang

(Anonim,

1977).

curah hujan yang

tinggi (600-1700 mm/tahun). Walaupun demikian di Ha-

waii ia

pat yang curah hujannya hanya 250 mm/tahun (Anonim,

Umumnya

tanaman ini

menghendaki

dapat merupa1;:an tanaman yang dominan pada tem-

1977).

Di antara

jenis kacang-kacangan tropis,

yang paling luas

petai ci-

dalam peman-

no. lilempunyai kemungkinan

faatannya.

Petai cina dapat menghasilkan hijauan ma-

penghasil ka-

kanan ternak yang tinggi

yu bakar

pupuk organik

nilai gizinya,

dan kayu untuk bangunan serta

(Anonim,

1977).

sebagai

sumber

Daun,

bunga,

buah dan biji

petai

cina semuanya

6

dapat dimakan oleh ternak. Sebagai makanan ternak, pe- tai cina dapat ditanam sebagai tanaman pagar di ha1runan dan pinggir ja1an, sebagai tanaman di padang rumput ma- upun berupa tanaman potongan. Da1am bentuk potongan da- pat lang sung diberikan da1am keadaan segar atau dike- ringkan dulu untuk dijadikan tepung dan dapat pula di- buat sebagai si1ase (Anonim, 1977; Siregar dan Pralura- diputra, 1978),

l1enurut Siregar dan Prawiradiputra

(1978)

tanaman

ini dapat menghasilkan sampai dengan 70 ton bahan segar

atau lebih kurang 20 ton bahan kering per ha per tahun.

Di daerah tropis yang kering hasilnya agak menurun ka-

rena tanaman ini mengalami stress selama musim kering.

Di1ihat dari komposisi kimianya,

gizi yang tinggi.

hijauan petai 01- Kandungan prote-

na mempunyai nilai

innya tinggi, berkisar antara 27-34 %per bahan kering dengan imbangan asam-asam amino yang sarna baiknya de-

ngan alfalfa. Di samping itu kandungan karoten, vita- min-vitamin dan mineralnyapun tinggi (Anonim, 1977).

cina dalam ran-

Pengaruh penggunaan hija~an petai

sum terhadap produksi ternak CQ~UP baik. Blunt dan Jones (1977) melaporkan bahwa sapi Shorthorn muda ke- biri yang dipelihara di padang penggembalaan campuran petai cina dengan rumput pangola se1uas 5,6 ha dengan

kapasitas tampung 5,6 ekor per ha menunjukkan pertam-

7

bahan bobot badan yang Dagus •

gembalaan

nunjukkan pertambahan bobot badan di

per hari

pemberian petai

tongan ujung

an bobot badan 0,6 kg per

1976).

selama musim panas

(0,9 kg/ekor/hari) •

Sapi-sapi muda yang digembalakan di padang peng-

campuran petai

cina dengan Nandi-setaria me-

(Anonim,

1

1977),

atas

kg

per

ekor

Dan bila

cina dicampurkan dengan potongan-po-

tanaman

tebu,

akan menghasilkan pertambah-

ekor

per

hari

(Siebert dkk.,

Australia Utara dengan penggu~ campuran dalam ran sum , produksi

Hanya

saja pada susu yang dihasilkan akan timbul bau yang !m-

susu dapat mencapai 5000-6000 liter

naan petai

Pada sapi

perah di

v

cina sebagai

susu per ha.

rang enai~ (Anonim l

1977).

v Dingayan dan

lironda

(1950)

membandingkan antara

tiga macam hijauan yang diberikan pacta ayam yaitu cen-

trosema

caena glauco. BENTH.)

(Centrosema pubescens BENTH,),

dan ubi

ipil-ipil

(~­

jalar (Ipomoea batatas

LINN.),

ipil memberikan pengaruh yang terbaik terhadap pertum-

buhan anak-anak ayam bila jauan lainnya. Namun ll:elemahan dari

gunaannya yang terlalu

normalnya fungsi fisiologis ternak karena adanya mimo-

banyak akan mengakibatkan tidak

di mana dalam laporannya dinyatakan bahwa ipil-

dibandingkan

dengan dua hi-

petai

cina ialah bahwa peng-

sin dalam daun,

batang dan biji

(Falvey, 1976).

8

Jika ransum ternak mengandung tidak lebih dari 30 %

petai cina, tida~ akan timbul pengaruh negatif pada ter-

nak. Tetapi bila kandungan petai cina dalam ransum le-

bih dari setengahnya dan diberikan terus-menerus selama 6 bulan atau lebih, maka akan timbul aldbat-akibat se-

perti rontoknya bulu di bagian ekor dan pantat, keluar-

nya air liur dengan terus-menerus dan merosotnya per- tumbuhan (Anonim, 1977),

cina yang

berlebihan dapat mengakibatkan ron'toknya bulu, keluarnya

air liur secara terus menerus serta lepasnya kuku (He- garty dkk., 1964),

Pada ternak

domba pemberian hijauan petai

Untuk

sapi dara yang dikandangkan

serta

diberi ran-

sum basal ditambah petai cina dapat bertumbuh secara

normal akan tetapi

sedang kelenjar thyroidnya membesar (Hamilton dkk.,

anak yang dilahirlwn

berukuran kecil,

1971) •

Babi

sangat

sensitif terhadap mimosin,

walaupun de-

mikian di

Papua Nugini

dan Filipina

tepung petai

cina

digunakan

sebagai suplemen

dalam ran sum sampai dengan

kadar 10 %untuk babi yang sedang bertulllbuh (Anonim,

1977).

Pada unggas pelllberian petai

cina dapat memperlambat

dewaaa kelamin, l~arena i tu pemberian daun petai cina

yang dikeringkan pada unggas harus dibatasi jangan sampai

melampaui 5 %dari

ransum

(Anonim,

1977).

9

Pemberian biji

petai

cina yang dikeringkan pada ku-

se-

hingga suatu usapan pada

nimbulkan noda yang jelas akibat rontoknya bulu. Pembe

rian mimosin yang te1ah dipisahkan dari hijauannya pada

da menyebabkan lemahnya ikatan bulu

terhadap kulit,

tub'.lh heV/an tersebut

akan me-

kuda menyebabkan rontoknya bulu pada bagian leher

ekor

(Kraneveld dan Djaenoedin,

1950).

dan

bagi ternak keli.!:!" .

2i.-- Jumlah zat-zat makanan dan ransum yang dibutuhkan

oleh ternak ke1inci antara lain

besarnya hewan dan tujuan pemeliharaan.

Henurut dang menyusui,

bertumbuh ransum harus mengandung:

2-3,5 % lemak,

5-6,5 %abu per bahan kering.

Keb,utuhan zat

dan bahan mak

§!;nan

tergantung kepada umur,

Templeton

(1968)

untuk induk yang ti~

pejantan dan kelinci muda yang sedang

20-27 % serat kasar,

12-15 %protein,

43-47 %BETN dan

Untlli, induk yang

sedang bunting dan induk yang

se-

dang menyusui,

yang lebih

susunan ransum harus mengandung protein

16-20 %protein,

tinggi yaitu:

3-5,5 %lemak,

14-20 % serat kasar,

44-50 % BETN dan 4,5-6,5 % abu per

bahan kel'ing. Mengenai kebutuhan

ci,

akan dijadil,an bibit

ring kira-kira 6,7 % dari bobot badan,

bahan kering

bagi

ternal{ kelin-

Templeton

(1968)

menyatakan bahwa ke1inci muda yang

setiap hari membutuhkan bahan 1I:e-

sedang 1,e1inci

10

dewasa, pdjaotan. atau induk yang tidak sedang menyusui membutuhkan bahan kering kira-kira 3,8 %dari bobot badannya,

MATERI

DAN METODA PENELITIAN

Tempat dilakukan di

Peternakan IPE selama 37 hari,

pai dengan tanggal 15 Juni 1980,Waktu percobaan sela-

ma 37 hari

sejak tanggal 9 Mei sam-

dan wak~ti penelitian,--

Penelitian telah

Fakultas

Departemen Ilmu Makanan Ternak

tersebut terdiri dari 7 hari periode penda-

huluan dan 30 hari

periode

pengambilan data,

Bahan dan perlengkapan,--

Hewan percobaan yang

di-

guna!;:an

mur 3-3t bulan,

patkan dalam kandang individual yang dibuat dari bambu

Cm 3 , Kandang di-

dan kawat

-cerdiri

dari 16 ekor kelinci

Selama percobaan

50

x

25

x

jantan lokal beru-

ditem-

setiap kelinci

50

dengan ulwran

lengkapi dengan bak makanan dari bambu dan tempat air

minum

kandang, Perlengkapan lain

dari

mangkuk plastik

yang

dilekatkan

pada dinding

yang digunakan adalah berupa

timbangan untuk menimbang ran sum dan menimbang bobot

dan hewan percobaan.

ba-

Rancangan percobaan.--

Rancangan percobaan yang

(Split Plot

digunakan adalah Rancangan Petak Terpisah

Design)

dengan Rancangan Acak Kelompok

sebagai rancang-

an dasar

(Steel dan Torrie,

1960;

Haeruman,

1972),

Se-

bagai Petru, Utama adalah perlakuan,

pengukuran bobot badan dijadill:an

sedang periode

sEibagai Anak Petak,

12

Pelaksanaan percobaan.-- Perlakuan yang diberikan adalah berupa ran sum campuran antara daun wortel dengan daun petai cina dalam perbandingan sebagai berikut:

A = 100 % daun wortel + daun wortel + 15 %daun

tel + 30 % daun petai cina dan D = 55 % daun wortel + 45 %daun petai cina.

Daun Vlortel dipotong sepanjang kira-kira 5 Cm dan dicampurkan dengan daun petai cina, kemudian diaduk sampai merata.

0% daun petai cina,

petai

cina,

C =

70

B

=

85

%

% daun

wor-

Daun petRi cina yang digunakan dalam penelitian

diperoleh dari Ko~ek Fakultas Peternakan IPB dan rumah

Jl. Abesin No.1 Bogor, sedangkan daun wortel diperoleh dari pasar sayur Ramayana Bogor. Daun wortel tersebut merupakan bagian sisa yang tor ':luang dari wortel yang akan dijual. Untuk mengetahui susunan kimia daun petai cina dan

keempat macam ransum yang diberikan, dilakukan pengam-

bilan contoh daun petai cina dan contoh ransum sebanyak

lima kali selama penelitian. Contoh ini kemudian di-

analisa di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fakultas

Peternakan IPB.

Hasil anaiisa tersebut

dapat dilihat

pada Tabel 1

dan Tabel

2.

Kelinci

percobaan

dibagi menjadi em pat kelompok

berdasarkan bobot badan awal percobaan. Setiap e'-or

kelinci dalam masing-masing kolompok mendapat satu

TABEL 1.

13

KOMPOSISI KIlHA DAUN PETAl

CINA

===========================================================

Sumber

Air

Abu

Pro-

tein

Serat

kasar

Le-

mak

BETN

Ca

P

-----"-------,,------------

Dari bahan

1. Hasil analisa

segar

percobaan

75,17

Dari bahan kering

1. Hasil ana1isa percobaan
2.

Susetyo dkk.

(1969)

------------------- %

2,9

7,88

4,95

9,23 31,75 19,93

10,60 36,80 13,20

0,95

8,76

0,491 0,075

3,83 35,26

1,98

0,31

1,37

38,03 ------

TABEL 2.

KOMPOSISI KIMIA RANSUM YANG DIBERIKAN DALAM PENELITIAN

====~================================================= =====

Ransum

Air

Abu

Pro-·

Serat

Le-

BETN

Ca

P

 

tein

kasar

ma.lI:

Dari bahan segar

------------------ %------------------

A

83,53

2;62

4,14

2,97

B

81,37

2,49

2,50

5,10

3, Lf7

C

80,21

5,56

3,27

D

78,28

2,52

6,19

3,93

0,39

0,58

0.66

0;78

6,35

6,99

7,80

8,30

0,335 0,059

0,367 0,059

0;389 0,062

0,435 0,063

D

arl

-

b

a

h

an

k

erlng ------------------

.

&

~ ----~-----------~-

A

15,90 25,14 18,02

2,37 38,57

2,03

0,36

B

13;38 27;38 18,64

3,12 37,48

1,97 0,32

C

12,61 28,09 16,51

3,31 39,48

2,01

0,31

D

11,60 28,49 18,11

3,60 38,20

2,00 0,29

A = 100 % daun worte1

85

70

55 % daun worte1

BETN = Bahan

+

+

+

° % daun petai cina

cina

cina

% daun petai cina

B =

C

D

=

=

01

/0

l

c

/0

daun wox-';01 + 15 % daun petai

daun wortel

cl.aun petai

30

45

0

/)

'

ekstrak tanpa N

macam perlalman secara acak.

Hasil pengelompokan dan

TABEL 3.

14

BAGAN PERCOBAAllf

RANCANGAN ACAK KELOMPOK

DENGAN MENGGUNAKAN

.

===========================================~======~=~~

No.

Bobot badan

(gram)

Kelompok

Per).ruman

1,

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

II.

12.

13.

14.

15.

16.

522,8

518,5

506,3

494,6

478;0

L,70,O

L,70,0

466,0

449,1

447,2

427,8

422,3

406,1

403,0

403,0

380,0

I

A

I

D

I

C

I

B

II

C

II

A

II

B

II

D

III

D

III

C

III

B

III

A

IV

B

IV

A

IV

C

IV

D

-~~-'"

~ .~.

Per.1berian ran sum

dilakukan

pukul

dua kali

08.30 dan

sehari yai tu

sore hari ki-

ra-kira pukul 17.00. Pan sum yang diberikan kepada se-

pada pagi hari kira--kira

tiap

ekor kelinci

sotiap hari

rl.iborikan

dalam

jumlah

yang sediki t berlebih dari .iumlah yang dapat dihabis-

kan

pada periode

pendahl'lUJoc1o

Untuk mencukup:i. kebu'cuhail

dir"rikan

soUa,?

gar-am,

kedalam ransum

1968; NRC,

di tambahhan garam d"lpur sehan-Tal;: 0.' 5 % dari borat ran_

sum yang

1954),

l~ar:i. (Templeton,

Air minum di bed.kan !'l( \ih-i tu

Pada awal ::'·::-:0(' . ~.-.:'.'. :'l.uan kopada hewan-hewan

ll!

per cobaan diberikan

cocc:i.di.o s'cat

borupa Quinoxalin-U.

15

Pengukuran pertrunbahan bobot badan dilakukan

de-

ngan menimbang bobot badan kelinci

kali.

periode pengukuran.

setiap enam hari se-

ada lima kali

Dengan demikian

selama penelitian

Efisiensi makanan dihitung dengan dasar konsumsi

bahan

segar dan konsuTIlsi bahan kering

ransum.

Efisiensi penggunaan bahan segar =

konsuosi bahan Segar Efisiensi penggunaan bahan kering =

hari

'~Pte~r~t~am~b~a5h~a~n~b~o~b~o~t~b~a~d~a~n~'~~~~~7hpari~

ertambahan bobot badan

ertambahan bobot badan onsuTIlsi bahan kering Untuk mengetahui konsumsi ransUffi,

onsuTIlsi bahan kering Untuk mengetahui konsumsi ransUffi, bangan sisa ransUffi setiap hari.

pada hewan percobaan

adalah berupa pengamatan terhadap ada tidaknya keron-

tokan bulu dan kelainan-kelainan pada kondisi hewan

serta pada feces dan urine. Analisa data dilakukan dengan analisa

sidik ragam

sesuai dengan rancangan percobaan yang diguncl~an. Un-

tuk membandingkan pengaruh dari setiap perlrucuan ter- hadap parameter yang diamati dilakllican Uji Jarrut

Duncan (Haeruman, 1972; steel dan Torrie, 1960).

dilakukan penim-

Pengamatan terhadap kelainan

HASIL DAN PEl1BAHASAN

Konsumsi

ransum.--

Data konsumsi

bahan segar harian

ransum se1ama

peneli tian

disajilmn

dalam Tabel 4,

sedang

data konsumsi bahan kering ransum disajikan

dalam Tabel

TABEL 4.

KONSUl'1S1 BAHAN SEGAR HARIAN RANSUM PERLM(Um1 SELAl1A PENELITIM~

5.

========================================================

Perlakuan Kelompok

~

1

Rata-

rata

~P£;er=

:l;;.:·o~d~e,--

3

_

5

2

4

-~----------- gram/ekor

A

I

230,0

235,0

221,0

226,3

250,0

232,5

II

224,5

228;4
IV

230,0

III

236,0

240,0

235,0

236,7

236,7

234,2

237,7

239,0

236,5

234,8

.245,0237,8

235,1

239,1

240,0

Rata-rata

228,2

236,5

232,1

234,9

243,5

235,0

B

I 230;0

232,0

232,0

226,5

II

III

IV

234,3

237,0

232;4

237,0

238,3

240;2

237,2

238,9

239,5

240;7

242,2

239,7

245,0

246,0

244;0

234,5

237,4

239,2

237,6

235,3

Rata-rata

230,1

235,2

238,7

240,5

242,4

237,4

C

I

230,5

234,0

238,3

239,7

239,7

236,4

II

III

233,0

230,5

229,0

235,0

236,0

236,3

239,3

239,5

235,0

232,5

234,5

234,8

IV

228,0

234,5

239,3

240,2

236,5

235,7

Rata-rata

230,5

233,1

237,5

239,7

235,9

235,3

D

I

II

224;0

234,0

233;3

231,7

236,8

238,7

229,6

237,2

235;0

233,5

231,7

235,0

III

228,0

234,2

235,5

238;8

233;0

233,9

IV

235,7231,0238,5

,

2 4.1 ,5

237,5236,8

Rata-rata

230,4

232,6

237,4

236,8

234,8

234,4

A =

B.=

C =

D = 55 %daun worte1 +

%daun worte1 +

100

85 %daun worte1

worte1

70 %daun

+

+

° %daun

15

%daun

4-5 % daun

30

%daun

petai

Gina

petai

petai

petai

Gina

Gina

Gina

TABEL 5.

17

KONSUMSI

PERLAKUAN SELAMA PENELITIM~

BAHAN KERING HARLAN RANSUM

======================================================

Per1alman Ke1ompok

1

Pe~

2

3

4

5

Rata-

rata

_-----_---- gram/ekor -----------

A

I

37,9

38,7

36,4

37,3

41,2

38,3

II

III

IV

38,0

37,6

37,9

38,9

39,5

38,7

38,9

39,0

38,6

39,1

39,4

39,0

39,4

40j3

39:7

38,9

39,2

38,7

Rata-rata

37,9

37,0

38,2

38,7

40,1

38,8

B

I

II

III

IV

42,8

43,2

42,8

42,2

43,7

44,1

43,2

44·,1

44;4

44,7

4h2.,

44,5

44,6

44,8

45,1

44·,7

45,6

45,8

45,5

43,7

44;2

44,5

44,2

43,8

Rata-rata

L,2, 8

43,8

44,4

L,I+,8

45,1

44,2

e

I

II

III

IV

45,6

1+6,1

45,7

L,5,1

4·6,3

45,3

46,5

46,4

47,2

4·6,7

46,8

47,4

47,4·

1+7,4

h7.

47,5

,.L·.

47,4

46,5

46;0

46,8

L,6,8

46,4

h65. ,

46,6

Rata-rata

45,6

L,6,1

47,0

4·7,4

46,7

L,6,6

D

I

II

III

IV

48,7

50,8

49,5

51,2

50,7

50,3

50,9

50,2

51,4

51,3

51,1

51,8

49,9

51,5

51,9

52,4

51,0

50,7

50,6

51,6

50,3

51,0

50,8

51,4

Rata-rata

50,0

50,5

51,5

51,4

51,0

50,9

konsumsi bahan segar per ekor per hari ada-

1ah rata-rata 235,0 grL®, 237,4 gram, 235,3 gram dan

234,4 gram, masing-masing untuk perlo.kuan A, B, e dan

D. Ana1isa sidik ragam tida~ menunj~~~an adanya perbe-

daan yang nyata (p> 0,05) antara konsumsi bahan 'segar

BMo.r

setiap ransum. Hal ini diduga karena pa1atabilitas ma-

sing-masing ransum tidak berbeda.

Menurut

Susetyo

dkk.

18

(1969) besar keci1nya kon-

sumsi hijauan makanan ternak tergantung kepada bebera- pa faktor misalnya disukai atau tidaknya oleh terna~ (palatability), jumlah yang tersedia, gerru,lajunya

sebagai makanan (rate of passage) dan pengaruh ling- kungan.

Eesarnya konsumsi

dalam bentuk bahan kering

per

ekor per hari untuk setiap ran sum adalah rata-rata 38,8

gram, 44,2 gram, 46,6 gram dan 50,9 gram, masing-ma-

sing untuk perlakuan A,

E,

C dan

D.

Ana1isa sidik

ra-

gam menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering setiap ran-

sum berbeda sangat nyata (PL 0,01), Dari Uji Jarak

Duncan ternyata bahwa konsumsi bahan kering antara ran-

sum D dengan

A, D dengan E, D dengan C, C dengan

A,

C

dengan B dan E dengan A berbeda sangat nyata (PL 0,01).

lni mungkin disebabkan oleh perbedaan kadar bahan ke-

ring ~asing-masing ransum.

Analisa Idmia keempat lllaCam ranSUlll Llel;lperlihat~:o." bo.hwa kado.~· bahan kering selllru,in tinggi dengan semakin tingginya kadar daun petai cina dal~n ransum. Dengan demikian untuk konsumsi bahan segar yang sama, pada

ran sum dengan kadar daun petai cina

kelinci mengkonsulllsi lebih banya~ bahan lwring,

yang lebih tinggi

Periode berpengaruh sangat nyata

(PL 0,01)

terha-

dap konsumsi bahan kering.

Dengan Uji

Jarak

Duncan

19

periode 4 dan periode 3 berbeda sangat nyata dengan

periode 1

(Pi. 0,01),

sedang antara

periode

5 dengan

periode 2,

periode

4 dengan periode

2

dan

periode 2

dengan'periode 1 berbeda nyata

(Pi. 0,05).

Ini menun-

jukkan bahwa bertambah lamanya waktu penelitian

nyata meningkatl~an jumlah lwnsuiUsi bahan kering ransum,

sangat

sesuai dengan bertambah besarnya hewan.

Analisa teraksi yang periode.

sidik ragam

juga menunjukkan pengaruh in-

nyata

(Pi. 0,05)

an tara

perlakuan dengan

KonSUillsi

bahan

segar ransurn per kg bobot badan

kelinci selama pen eli tian

0,36 gram dan 0,33 gram, masing-masing untuk perlakuan

A, B, C dan D.

per kg bobot badan kelinci adalah 0,07 gram, 0,07 gram,

0,07 gram dan 0,07 gram, masing-masing untuk perlakuan A, B, C dan D.

adalah 0, LJ·l gram,

0,38

gram,

Sedangkan konsumsi bahan kering ran sum

Perta.lllbahan bobot ba-

dan total kelinci selama 30 hari disajikan dalam Ta-

bel 6, sedang pertambahan bobot badan harian disajikan dalam Tabel 7.

untuk seti-

ap perlakuan adalah 185,6 gram/ekor, 274,3 gram/ekor, 295 gram/ekor dan 363,2 gram/ekor, masing-masing untuk perlakuan A, B, C dan D. Grafik pertambahan bobot

Pertambahan bobot badan.--

Pertambahan bobot badan total kelinci

TABEL 6.

20

PERTIJ-lBl;HLJ'l

BOBOT BLDliN TdTfJ.1 KELINCI

SELf~A PENELITIAN

======================================================

Per1akuan Ke1ompok.

Periode

Total

1 2

3

4

,

5

------------ gram/ekor ----_------

A

I

8,1

39,5

14,8

37,4

44,9

144,7

II

III

IV

5,5

66,2

27,1

7,9

61,6

19,4

47,8

53,1

40,Lf

51,2

47,5

40,9

50,9

40,2

37,9

163,3

165,7

165,7

Rata-rata

26,7

32,1

39,0

44,3

43,5

185,6

B

I

II

III

IV

63,9

65,9

58,0

95,2

58,9

60,3

28,9

33,1

71,8

76,5

77,9

52,5

50,6

75,9

63,8

28,0

30,5

48,4

38,7

18,5

275,7

327,0

267,3

227,3

Rata-rata

70,8

45,3

69,7

54,6

34·,0

274,3

C

I

79,3

76,7

56,1

56,1

45,4

313,6

II

III

IV

55,6

70,6

80,2

36,8

29,7

46,8

42,4

31,2

61,9

83,0

87,9

62,0

58,8

8 L h8

35,0

276,6

304,2

285,9

Rata-rata

71,4

47,5

47,9

72,2

56,0

295,0

D

I

103,9

132,6

51,9

33,8

46,0

368,2

II

III

I'll

125,9

112,7

111,6

57,2

63,2

78,7

45,4

40,6

47,7

83,4

67,3

79,8

57,6

66,1

47,5

369,5

3

5.3

Rata-rata

113,5

82,9

46,4

66,1

54,3

363.2

badan tot.a1 ini digambarkan pada 11ustrasi 1.

Rata-rata pertambahan bobot badan harian ke1inci

untuk setiap per1akuan ada1ah 6,2 gram/ekor, 9,2 gram/

ekor, 9,8 gram/ekor dan 12,1 gram/ekor, masing-masing

untuk per1akuan A, B, C dan D. Dari data tersebut ter~

U.l1:<t bahwa semakin tinE/5i kadar d.:lun petai cina da1am

tahaL'.nt, pertambahan bobo.t badan ke1inci 'serJakin tinSGi

21

PERT.AMBll.HAN BOBOT BliDLN Hl.RIJiN KELINCI SELJJ'vlA PENELITIAN

===================================================~==

Tl,BEL 7.

Perlakuan Kelompok

1

Ra ta-

rata

;'P;.;,ee

3

:r:

::i:.::o~d~e: -

4

2

5

------------ gram/ekor

 

I

1,3

6,6

2,5

6,2

7,5

4,8

II

0,9

1,3

8,0

8,5

8,5

5,4

III

IV

11;0

4,5

10,2

3,2

8,9

6,7

7,9

6,8

6,7

6,3

8,9

5,5

Rata-rata

4,4

5,3

6,5

7,4

7,2

6,2

--------------------

---------------

B

I

10,7

9,8

12,0

8,4

5,1

9,2

II

11,0

10,0

12,8

12,7

8,1

10,9

III.

9,7

4,8

13,0

10,6

6,4

8,9

IV

15,9

5,5

8,8

4,7

3,1

7,6

Rata-rata

11,8

7,5

11,7

9,1

5,7

9,2

C

I

13,2

12,8

9,3

9,3

7,6

10,4

II

9,3

6,1

7,1

13,8

9,8

9,2

III

11,8

5,0

5,2

14,7

14,1

10,2

IV

13,4

7,8

10,3

10,3

5,8

9,5

------------------.---- ------,--------

11,9

7,9

8,0

12,0

5,6

IJ,9

11,2

13,3

9,3

9,8

,------

12,3

12,3

11,7

12,2

7,7

9,6

11;0

7,9

Rata-rata

----------------------------

D

I

II

III

IV

17;3

21,0

188,

18,9

22,1

9,5

10,5

13,il

Rata-rata

18,9

13,8

8,7

7,6

6,8

8,0

7,8

11,0

9,0

12,1

pula. Analisa sidik ragalll menunjukkan bahwa perlakuan

berpengaruh nyata (Pi 0,05) terhadap pertambahan bobot

badan harian kelinci. Setelah dilakukan Uji Jarru{

Duncan ternyata bahwa pertarabahan bobot badan harian

pada perlru,uan E, C dan D berbeda nyata (Pi 0,05) de-

ngan pertambahan bobot badan harian pada perlakuan A,

sedang antara perlakuan D dengan E, C dengan B dan

22 380 360 / / 340 / ~ 320 H / 0 >:l 300 /'
22
380
360
/
/
340
/
~
320
H
/
0
>:l
300
/'
ill
/
~
280
;:
/
H
bO
260
/
~
r;ci
240
/'
+'
/"
/
0
220
8
/
/
p
/
/
<il
200
,.I'
/
't:J
<il
f"
r:o
/J
180 -
,
/'
/
/
<-'
I
,/
I
,
160
0
/
/
.n
I
-/
0
r:o
,
/
140
I
/
/
§
"
120
. I
,
<:l
/
<il
.n
/
100
,
~
/
~~
Cil
.
/
/
+'
,
80
I /
/
H
ill
/
p.,
,/
60
I
;;
, ./
I
40
./
'I
/
20
t
.¥"-,,
./
0
1
2
3
4
5
Periode ( 6 hari
)
-.-.-.-.-.-.-.-.-
0 % daun
petai cina
-----------------
15 % daun
petai cina
30 0/ daun petai cina
/0
/
45 0/ daun petai cina
-
-
-
-
-
/0

ILUSTRASI

1.

GRAFIIC

KUMULATIF KELIHeI HARI

PERTAJ1BAHAN BOBOT BADAN

TOTAL

SELAHA TIGA PULUH

23

D dengan C tidak berbeda nyata. Jadi berarti bahwa pe- nambahan daun petai cina dalam ransum nyata pengaruhnya

dalam meningkatkan pertambahan bobot badan harian kelin-

ci selama penelitian.

Hubungan antara kadar daun petai cina dalam ransum dengan pertambahan bobot badan harian kelinci adalah berbentuk linier, dengan persamaan garis regressi

y = 7,95 + O,06X, di mana Y adalah pertambahan bobot badan harian kelinci dalam gram dan X adalah kadar daun

cina ran sum dalam persen. Hubungan ini digambar-

kan pada Ilustrasi 2. Perbedaan pertambahan bobot badan kelinci

setiap perlakuan mungkin disebabkan oleh perbedaan ll:On- sumsi bahan kering ransum. Kelinci yang mendapat ran- sum dengan kadar daun petai cina yang lebih tinggi mengkonsulllsi lebih banyak bahan kering, sehingga per- tambahan bobot badannya lebih tinggi.

petai

antara

Kemungkinan lain

adalah karena meningkatnya nilai

gizi ransum akibat penambahan daun petai cina. Dari

hasil analisa kimia ran sum yang digunakan terlihat bah-

wa ada peningkatan kadar protein dan kadar lemak sesuai

dengan meningkatnYa kadar daun petai cina da1am ransum,

Henurut Templeton

(1968)

kadar protein yang lebih

tinggi al{an memberikan pengaruh yang 1ebih baik terha-

dap ternak 1I:e1inci daripada kadar protein rendah.

,-.

H

0

':<:!

ill

"-

~

H

bO

'-'

§

.r!

H

nJ

::r::

Q

nJ

'tJ

nJ

~

+'

0

.n

0

~

Q

m

.s:::

m

.n

~

+>

H

ill

Pi

y

12

11