Anda di halaman 1dari 8

Pengkajian Klien Chronic Kidney Disease Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronik adalah gangguan

fungsi renal yang progresif dan irreversible di mana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolism dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia/ retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah (Smeltzer & Bare, 2001). Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan CKD adalah sebagai berikut ( menurut Doegoes (2000), Alam dan Hadibroto (2007), serta Smeltzer dan Bare (2001) ada berbagai macam), meliputi : a. Lingkungan Lingkungan yang tercemar oleh kadmium, kroomium, timah, merkuri dan sumber air tinggi kalsium beresiko untuk penyakit ginjal kronik, kebanyakan menyerang umur 20-50 tahun, jenis kelamin lebih banyak perempuan, kebanyakan ras kulit hitam. b. Riwayat Penyakit Riwayat penyakit diabetes mellitus, hipertensi, obstruksi traktus urinarius, infeksi ginjal, glomerulonefritis kronik, lupus eritematosus sistemik, penyalahgunaan analgesik, pielonefritis kronik atau refluks, batu. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Riwayat penyakit batu ginjal, hipertensi, DM dalam keluarga, penyakit ginjal polikistik, gout. d. Pola Kesehatan 1) Pemeliharaan kesehatan Pola hidup dan pola kesehatan seseorang dalam konsumsi obat nefrotoksik yang berkepanjangan dan konsumsi makanan tinggi kalsium, purin, oksalat, fosfat, protein, kebiasaan minum suplemen, control. tekanan darah dan gula darah tidak teratur pada penderita tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus. 2) Pola nutrisi dan metabolik Peningkatan berat badan cepat (edema), penurunan berat badan (malnutrisi), anoreksia, nyeri ulu hati, mual, muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernafasan amonia), penggunaan diuretic perlu dikaji untuk mengetahui kesehatan ginjal klien. 3) Pola eliminasi Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal tahap lanjut), abdomen kembung, diare konstipasi, perubahan warna urin.

4) Pola aktivitas sehari-hari Kelemahan ekstrem, kelemahan, malaise, kelemahan otot, penurunan rentang gerak. 5) Pola istirahat dan tidur Gangguan tidur (insomnia/ gelisah atau somnolen). 6) Pola persepsi sensori dan kognitif Pada klien dengan CKD akan diperoleh pengkajian perubahan sensori berupa sakit kepala,penglihatan kabur, kram otot/ kejang, restless leg syndrom, kebas rasa terbakar pada telapak kaki, kebas/ kesemutan dan kelemahan khususnya pada ekstremitas bawah (nefropati perifer). 7) Hubungan dengan orang lain dan persepsi diri Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya dalam bekerja. Faktor stres, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan, menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian. e. Pengkajian Fisik 1) Keluhan umum : malaise, lemah, tampak sesak 2) Tingkat kesadaran : komposmentis sampai koma. 3) Pengukuran antropometri : berat badan menurun 4) Tanda vital : tekanan darah meningkat, suhu meningkat, nadi lemah, disritmia, pernapasan kusmaul, tidak teratur. 5) Kepala a) Mata: konjungtiva anemis, penglihatan kabur, edema periorbital. b) Rambut: rambut mudah rontok, tipis dan kasar, kotor. c) Hidung : pernapasan cuping hidung. d) Mulut : nafas berbau ammonia, ulserasi dan perdarahan, mual, muntah serta cegukan, peradangan gusi. 6) Leher : pembesaran vena leher. 7) Dada dan thoraks : penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan dangkal dan kusmaul serta krekels, nafas dangkal, edema pulmoner, efusi pleura. 8) Abdomen : nyeri area pinggang, asites. 9) Ekstremitas : melambat, kuku rapuh dan kusam serta tipis,kelemahan pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki, kekuatan otot.

10) Kulit : kering, pigmentasi, bekas garukan, ekimosis, pucat, lecet,warna mengkilat/ abuabu. f. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang penyakit ginjal kronik (Doengoes: 2000) adalah sebagai berikut a. Urine 1) Volume : biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tak ada (anuria). 2) Warna : secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus, bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat atau sedimen koor, kecoklatan menunjukkan adanya darah, Hb. 3) Berat jenis : kurang dari 1.015 (menetap pada 1.010 menunjukkan kerusakan ginjal berat). 4) Natrium : lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium. 5) Protein : dapat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila eritrosit dan fragmen juga ada. 6) Osmolalitas urine/serum b. Darah 1) BUN/ kreatinin meningkat diatas normal Kreatinin adalah produk limbah dari protein daging dalam makanan dan dari otototot tubuh. Kreatinin dibuang dari darah oleh ginjal. Kreatinin dalam darah dan urinmeningkat bila ada gangguan ginjal. Sedangkan BUN adalah kadar nitrogen yang disaring oleh ginjal dan dibuang lewat air seni. Nilai normal keduanya adalah sebagai berikut BUN : 6 24 mg/dl dan Kreatin : 0.5 1.2 mg/dl 2) Hitung darah lengkap : Hb menurun biasanya kurang dari 7-8 g/dL. Normalnya 12-16 pada wanita dewasa : 12 16 g/dl dan 14 18 g/dl pada pria dewasa 3) Kalium : Meningkat sehubungan dengan retensi urine dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merahhi). Pemeriksaan ini penting untuk memantau terjadinya hiperkalemia yang merupakan kondisi paling mengancam jiwa pada penyakit ginjal kronis. 4) Natrium serum : mungkin rendah atau normal. Natrium adalah salah satu mineral yang banyak terdapat pada cairan elektrolit ekstraseluler (di luar sel), mempunyai efek : Kurang dari 350 mosm/kg menunjukan kerusakan tubular, dan rasio

menahan air, berfungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh, mengaktifkan enzim, sebagai konduksi impuls saraf. Nilai normal dalam serum adalah 135-145 mEq/L 5) Magnesium fosfat meningkat 6) Kalsium : menurun. Merupakan elektrolit dalam serum, berperan dalam keseimbangan elektrolit, pencegahan tetani, dan dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi gangguan hormon t iroid dan paratiroid. Nilai normal kalsium adalah 9-11 mg/dl (di serum) ; <150 mg/24 jam (di urin & diet rendah Ca) . 7) Protein (khususnya albumin) : kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine, perpindahan cairan, penurunan pemasukan, atau penurunan sintesis karena asam amino esensial. 8) Osmolaritas serum : lebih besar dari 285 mOsm/kg ; sering sama dengan urine 9) GDA pH : Penurunan asidosis metabolik (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengeksresi hydrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun, PCO2 menurun . c.Pemeriksaan Radio diagnostic 1) Biopsi ginjal : mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histologik. 2) KUB foto : menunjukkan ukuran ginjal/ureter/kandung kemih dan adanya obstruksi (batu) 3) Pielogram retrograd : menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter. 4) Arteriogram ginjal : mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskuler , massa. 5) Sistouretrogram berkemih : menunjukkan ukuran kandung kemih , refluks kedalam ureter, retensi. 6) Ultrasono ginjal merupakan pemeriksaan imaging pada ginjal dengan e\menggunakan ultrasonografi unutk keperluan diagnosis kelainan pada ginjal. Hasil yang biasanya didapatkan pada klien dengan penyakit ginjal kronis : terbentuk adanya atropi 7) Endoskopi ginjal, nefroskopi : dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu, hematuria dan pengangkatan tumor selektif. 8) EKG : mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa.

9) Foto kaki, tengkorak, kolumna spinal, dan tangan : dapat menunjukkan demineralisasi, klasifikasi

Pengkajian Berdasarkan Kasus Seorang pria, berusia 32 th di rawat dengan diagnose medis CKD stage V. Gejala yang dikeluhkan saat ini adalah merasa seluruh badannya bertambah bengkak. Klien pernah menanyakan tentang kondisinya tersebut pada dokter tapi merasa tidak puas dengan informasi yang diberikan. Klien mengatakan selama perawatan ini mendapat obat yang akan membuatnya sering buang air kecil. Nn, seorang mahasiswa keperawatan mendapat kesempatan merawat klien. Dari pengkajian yang dilkukannya, didapatkan edema anasarka dan asites (+). Sejak 2 hari yll, klien mendapat terapi furosemid drip 250 mg drip dalam 150 cc D5%jam namun perkembangan edema tidak berkurang (skala +4), output urin 100 cc/hari. Pagi hari klien mengalami sesak berat yang mendadak dan diberikan terapi oksigenasi, tingkat kesadaran menurun. Dari pemeriksaan chest X-ray belum menunjukan perbaikan kondisi terhadap masalah cairan karena diintedifikasikan adanya edema paru. Terapi lain yang diberikan pada klien saat ini adalah Ca Co3 tab, Bicnat tab. Klien rencana akan diambil sampel darah dan urinnya untuk dilakukan pemeriksaan lab untuk mengevaluasi masalah overloadnya . Dokter mempertimbangkan perlunya dilakukan dialysis untuk mengatasi masalah overload cairannya.

1. Data Biografi Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Alamat : Tn. P (Pria) : 32 tahun : Pria ::-

Diagnosa medis : CKD stage 5 2. Keluhan utama : klien merasa badannya terasa bengkak,sesak di pagi hari dan kesadaran menurun. 3. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat kesehatan sekarang : seluruh badannya bertambah bengkak,mengeluh mendapat obat yang akan membuatnya sering buang air kecil, mengalami sesak mendadak b. Riwayat Kesehatan masa lalu : c. Riwayat kesehatan keluarga: 4. Pemeriksaan Fisik a. Tanda-tanda vital: b. Keluhan umum : sesak c. Tingkat kesadaran : kesadaran menurun (somnolen) d. Pengukuran antropometri : e. Kepala: f. Dada dan thoraks : g. Abdomen : asites (+) Ascites adalah akumulasi dari cairan (biasanya cairan serous yang adalah cairan kuning pucat dan bening) dalam rongga perut (peritoneal). Asites (+) yang terjadi dapat disebabkan karena ginjal mengalami ketidakmampuan ginjal mengatasi retensi garam dan air. h. Ditemukan adanya edema anasarka. Edema anasarka adalah edema yang terjadi di seluruh jaringan subkutan dan berlangsung berat. Edema anasarka dapat terjadi ketika pada penyakit ginjal kronis akan terjadi penurunan laju filtrasi. Tubuh akan melakukan kompensasi dengan meningkatkan kerja nefron hingga akhirnya mengalami hipertrofi. Pada kondisi hipertrofi akan meningkatkan filtrasi cairan tetapi reabsorbsi cairan tubulus menurun, protein di tubulus di ekskresikan ke urine (proteinuria) yang menyebabkan penurunan protein plasma (hipoproteinemia), hipoalbuminemia, dan penurunan tekanan onkotik kapiler. Penurunan tekanan onkotik kapiler menyebabkan edema anasarka. i. edema tidak berkurang (skala +4)

5. Pemeriksaan Penunjang a. urin Volume = 100 cc/hari (oliguria) Warna: Berat jenis : Natrium : Protein: -

b. Darah 1) BUN/ kreatinin : 2) Hitung darah lengkap : 3) Kalium : 4) Natrium serum : 5) Magnesium fosfat 6) Kalsium : 7) Protein (khususnya albumin) : 8) Osmolaritas serum : Pemeriksaan urin dan darah merupakan salah pemeriksaan yang penting pada kasus CKD hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh mengenai penyakit ginjal kronik yang di alami klien. Setelah melakukan pemeriksaan ini, akan didapat hasil yang menunjukan tingkat keparahan dari penyakit ginjal kronik.

c.Pemeriksaan Radio diagnostik

1) Biopsi ginjal : 2) KUB foto : 3) Pielogram retrograd : 4) Arteriogram ginjal : 5) Sistouretrogram berkemih : 6) Ultrasono ginjal : 7) Endoskopi ginjal, nefroskopi : 8) EKG : 9) Foto kaki, tengkorak, kolumna spinal, dan tangan : dapat menunjukkan demineralisasi, klasifikasi. 10) Chest Xray : belum menunjukan perbaikan kondisi terhadap masalah cairan karena diintedifikasikan adanya edema paru

Referensi: Horne Mima, Swearingen Pamela. (2000). Pocket Guide to fluids, Electrolytes and AcidBase Balance. Mosby Year Book, Inc Marylin E. Doengoes, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta: Peneribit Buku Kedokteran EGC. Sacher, Ronald and McPherson Richard. (2004). Widmans Clinical Interpretation of Labolatory Test. Philadephia : F.A. Davis Company Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC