Anda di halaman 1dari 7

Penyakit kulit yang berhubungan dengan diabetes Scleredema diabeticorumKondisi menebalnya kulit pada bagian belakang leher dan

n punggung atas. Kondisi ini biasanya menyerang penderita diabetes tipe 2. Pelembab dapat membantu untuk menghaluskan kembali kulit. VitiligoAdalah penyakit yang mempengaruhi warna kulit. Sel yang merusak pigmen (zat pengatur warna kulit), menyebabkan timbulnya bercak pada kulit (biasanya pada dada, perut, wajah, sekitar mulut, hidung dan mata). Vitiligo umumnya terkait dengan diabetes tipe 1. Perawatan bagi vitiligo adalah pemberian topikal steroid, ultraviolet dan mikro pigmentasi. Untuk sehari-hari dapat menggunakan tabir surya dengan SPF 30 atau lebih. Penyakit kulit yang berhubungan dengan resistensi insulin Akantosis nigrikans Adalah penyakit yang menyebabkan penggelapan dan penebalan pada kulit, terutama pada lipatan. Warna kulit menjadi kecoklatan, kadang mengelupas. Kebanyakan tampak seperti kutil, disamping atau belakang leher, ketiak, dibawah dada dan pangkal paha. Bagian atas buku-buku jari juga berubah warna.Biasanya terjadi pada penderita obesitas parah dan mendahului diabetes. Mengurangi berat badan bisa jadi membantu mengurangi/mencegah penyakit ini. Ada kondisi lain yang juga diketahui menyebabkan nigricansacanthosis, misalnya akromegali dan sindrom Cushing. Penyakit yang berhubungan dengan berkurangnya suplai darah ke kulit Aterosklerosis Adalah penyempitan pembuluh darah akibat menebalnya dinding pembuluh karena penumpukan plak. aterosklerosis paling sering dikaitkan dengan pembuluh darah didekat atau didalam jantung, hal ini bisa mempengaruhi pembuluh darah seluruh bagian tubuh termasuk suplai darah ke kulit. Saat pembuluh darah yang mensuplai ke kulit menyempit, perubahan terjadi karena kurangnya oksigen, misalnya rambut rontok, penipisan kulit pada tulang kering, perubahan warna kuku kaki dan kulit menjadi dingin. Nekrobiosis lipoidika diabetikorumDisebabkan oleh perubahan pada kolagen dan lemak didalam kulit. Area kulit menjadi menipis dan memerah. Kebanyakan ditemukan dibawah kaki dan bisa menjadi bisul jika

terjadi trauma. NLD menyebabkan gatal dan perih. Selama tidak terjadi luka terbuka, tidak diwajibkan menjalani perawatan. Dermopati diabetesTerlihat seperti area bulat yang mengkilap dan menebal pada tulang kering. Digital sclerosis. Kondisi dimana kulit jari kaki, jari tangan mengeras dan menebal. Sendi pada jari menjadi kaku. Pelembab dapat membantu menghaluskan kembali kulit dan turunkan kadar gula dalam darah Eruptive xanthomatosisTerjadi saat kadar trigliserida sangat tinggi. Resitensi insulin membuat tubuh kesulitan membuang lemak dari darah. Dengan peningkatan lemak dalam darah yang ekstrim, seseorang beresiko terkena pangkreatitis (peradangan pangkreas). Gejalanya seperti benjolan pada kulit, kuning, kemerahan. Biasanya terdapat di wajah, bokong, belakang lengan dan kaki. Ruam, benjolan dan melepuh Diabetic blistersGejalanya seperti melepuh di jari, tangan, jari kaki, kaki, telapak tangan, tidak sakit dan akan sembuh dengan sendirinya. Disseminated granuloma annulareBerbentuk seperti ruam, umumnya pada daerah jari dan telinga, bisa juga di dada atau perut. Bakteri dan infeksi jamur Infeksi bakteri Disebabkan oleh bakteri stafilokokus. Infeksi ini akan semakin parah jika diabetes tidak terkontrol. Bakteri ini menimbulkan radang pada tempat tumbuhnya rambut, infeksi kelenjar kelopak mata atau kuku. Infeksi jamur Candida albicans adalah jenis jamur yang menyebabkan gangguan kulit bagi penderit diabetes. Wanita cenderung terinfeksi di vagina. Sering terjadi pada sudut mulut (angular cheilitis, menyerupai sobekan), diantara jari kaki, kuku (onikomikosis). Jamur ini menyebabkan gatal, kemerahan, bisul dan kerak. Infeksi jamur yang paling umum adalah kadas, kurap dan kutu air.

PENDAHULUAN Diabetes mellitus merupakan suatu kondisi yang sering disertai dengan manifestasi pada kulit. Manifestasi yang muncul pada kulit pun dapat bermacam-macam bentuknya. Adanya efek metabolik didalam mikrosirkulasi dan berubahnya susunan kolagen dikulit mengakibatkan banyak kelainan yang mungkin terjadi pada kulit penderita DM.3 A. KELAINAN KULIT PADA DIABETES MELLITUS Banyak manifestasi kelainan kulit yang dapat muncul pada penderita diabetes mellitus, hal ini dapat dijelaskan berdasarkan pengambilan glukosa dari protein dan akibat metabolisme kombinasi ini menyebabkan perubahan struktur, fungsi dan warna kulit. 1. Lesi Kulit Non-Spesifik Pada Diabetes Mellitus a.Pruritus Pruritus pada diabetes mellitus merupakan keluhan yang sering terdengar, tetapi tidak selalu ada. Sensasi tersebut tidak hanya disebabkan oleh hiperglikemi, tetapi juga iritabilitas ujung-ujung saraf dan kelainan-kelainan metabolik dikulit. Pruritus terutama berlokalisasi pada daerah anogenital (pruritus ani/vulvae/skroti) dan daerah-daerah intertriginosa (terutama submama pada wanita dengan adipositas). Kadar glikogen pada sel-sel epitel kulit dan vagina meningkat, hingga menimbulkan diabetes kulit. b. Acanthosis Nigricans Acanthosis Nigricans adalah merupakan kehitaman yang ada pada kulit atau hiperpigmentasi kulit. Biasanya terjadi pada ketiak, belakang leher, lipatan tangan dan pusar. Acanthosis Nigricans ditandai oleh adanya penebalan kulit seperti beludru yang berwarna kehitaman pada daerah ketiak, lipat paha dan leher bagian belakang. Karakteristik dari acanthosis nigricans yaitu plak hiperpigmentasi, hyperkeratosis dan terjadi simetris.3, 5 Hal ini terjadi karena jumlah insulin yang tidak berikatan dengan reseptornya meningkat sehingga insulin banyak berikatan dengan reseptor yang mirip dengan reseptor insulin sehingga terjadi resistensi insulin, yang kemudian tumbuh jaringan baru yang menyebabkan penebalan kulit dan perubahan warna (hiperpigmentasi).5 B. Dermopati Diabetikum Lesinya juga dapat terjadi pada lengan, dibagian samping depan dan bawah kaki. Kelainannya dimulai dengan papul-papul kecil dan plak yang kecil berwarna merah memudar. Kemudian lesi dapat berkembang menjadi banyak (multiple), bilateral, berbatas tegas, bulat atau oval, skar dangkal yang hiperpigmentasi dan atau macula hiperpigmentasi atropik yang bersisik halus pada daerah pretibial.3, 6 Meskipun etiologinya belum jelas, pada beberapa penelitian menunjukkan gambaran bercak-bercak tibial muncul karena respon trauma panas, dingin atau trauma tumpul pada pasien diabetes.

Kelainan ini asimtomatik dan membutuhkan terapi.3, 6 C. Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum Gambaran klinisnya berupa bercak-bercak numuler yang nyeri atau plak eritem dengan warna kuning pada bagian central yang menandakan akumulasi dari lipid. Lesi secara perlahan dapat membesar. Dengan bentukkan plak yang irreguler, tepi lesi terkadang sedikit meninggi dan kulit disekitar lesi berwarna merah kebiruan. Biasanya NLD paling sering berlokasi pada kedua tungkai, pretibial, bagian medial maleolus dan 15 % terdapat di tangan, pergelangan tangan, badan, wajah dan kulit kepala dimana NLD dapat menyebabkan atropi dan allopesia. 3, 6 Patogenesis dari NLD belum diketahui secara pasti. Ada pendapat yang menghubungkan mikroangiopati diabetikum yang berkaitan dengan neuropati dengan terjadinya NLD. Terapi pada NLD ditujukan untuk menghambat perkembangan proses penyakit. Terapi yang digunakan yaitu dengan steroid topical potensi tinggi atau steroid intralesional injeksi pada daerah yang aktif. 3 D. Granuloma Annulare Bentuk lesinya berupa plaque anular yang berwarna merah seperti daging, atau papul-papul berwarna merah kecoklatan dengan susunan bilateral dapat terjadi pada tubuh bagian atas, leher, lengan, dan kadang pada kaki.6 Etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti. Terapi yang disarankan adalah kortikosteroid intralesi dan topical (5 mg/mL acetonide triamcinolone) dan niacinemide 500 mg 3 kali dalam sehari, penggunaanya dimonitor karena dapat meningkatkan kadar gula darah. Obat lain yang digunakan pada kasus yang lebih berat adalah dapsone dan Psoralen-Ultraviolet A (PUVA)3 kali dalam seminggu.6 E. Bula Diabetikum Adanya bentuk lepuh blister yang besar, longgar, tanpa rasa nyeri dan non-inflammatoris, sering terjadi pada ekstremitas bawah tapi terkadang juga bisa ditemui pada tangan dan jari. Penyebab terbentuknya bula diabetikum belum diketahui secara pasti. Bula biasanya muncul secara secara tiba-tiba dan kelainan ini bukan akibat dari trauma maupun infeksi.3, 6 Terdapat 2 tipe bula diabetikum yaitu intraepidermal dan subepidermal. Bula intraepidermal terdiri dari cairan jernih, steril, nonhemorragik, dan umumnya sembuh sendiri dalam waktu 2 sampai 5 minggu tanpa skar atropi. Tipe bula subepidermal memiliki ciri yang sama dengan bula intraepidermal hanya saja kadang-kadang tipe subepidermal berupa bula hemorragik dan penyembuhannya menimbulkan skar atropi.

2. Manifestasi Kulit yang Umum Terjadi Pada Diabetes Mellitus a. Infeksi Kutaneus Pada Diabetes Mellitus Infeksi Kandida Diabetes mellitus dan infeksi kandidiasis adalah dua hal yang saling berhubungan, dimana Diabetes mellitus dapat menyebabkan terjadinya infeksi kandidiasis dan sebaliknya infeksi kandidiasis juga dapat memperparah keadaan Diabetes mellitus. Oleh karena itu, penanggulangannya harus berkesinambungan.3, 7, 8 Infeksi kandidiasis vulva-vaginalis merupakan masalah yang sering menimpa wanita yang mengidap diabetes. Hal ini merupakan penyebab tersering timbulnya pruritus vulva selama glukosuria. Klinisnya dapat berupa eritem pada vulva, yang dapat disertai fissure dengan atau tanpa satelit pustul. Vaginitis biasanya ditunjukkan dengan adanya discharge berwarna putih. Kandidiasis oral sering ditemukan pada penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol. Secara klinis kandidiasi oral memberikan gambaran berwarna putih, ada bagian eritematous, daerah dengan fissure terutama pada sudut mulut atau patch berwarna putih pada buccal dan palatum. Selain itu nfeksi juga dapat terjadi pada kaki dan tangan. 3, 7, 8 Dermatofitosis Diabetes mellitus dikenal sebagai faktor predisposisi terjadinya infeksi dermatofita yang melibatkan kuku dan area intertriginosa. b. Gangren Pada Diabetes Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan pembuluh darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi. Adapun gejalanya berupa rasa sakit, dingin, jika ada luka sukar sembuh karena aliran darah ke bagian tersebut sudah berkurang. Nadi kaki sukar diraba, kulit pucat atau kebiru-biruan, kemudian dapat menjadi gangren/jaringan busuk, kemudian terinfeksi dan kuman tumbuh subur, hal ini akan membahayakan pasien karena infeksi bisa menjalar ke seluruh tubuh (sepsis). Gangren diabetik merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan emboli trombus kecil. Angiopati diabetik hampir selalu juga mengakibatkan neuropati perifer. Neuropati diabetik ini berupa gangguan motorik, sensorik dan autonom yang masing-masing memegang peranan pada terjadinya luka kaki. c. Diabetic Thick Skin Berdasarkan banyak pengamatan, penderita diabetes memiliki kulit yang lebih tebal daripada pasien non-diabetik. Ada 3 bentuk dari diabetik thick skin yaitu : perubahan kulit seperti scleroderma pada jari dan punggung tangan yang berkaitan dengan persendian ; gambaran klinis yang tidak tampak tapi penebalan kulit dapat diukur dan

dibandingkan dengan kontrol ; scleredema adult.3 Diabetic thick skin syndrome, secara klinis tampak sebagai pengerasan kulit, dikaitkan dengan diabetik neuropathy, dan terjadi secara independent tidak tergantung pada tingkat keparahan penyakit yang mendasarinya, usia pasien, atau regimen terapi.3 d. Skleredema pada Diabetes. Skleredema adultorum pada diabetes merupakan sindrom yang di tandai dengan adanya penambahan ketebalan kulit terutama pada bagian punggung dan leher pada penderita paruh baya, kelebihan berat badan, yang tidak mengontrol dengan baik diabetes tipe II nya. e.Yellow Skin Akibat berkurangnya kemampuan metabolisme hepatic dari karotenoid, sekitar 10 % dari penderita diabetes yang kronik mengalami perubahan warna kulit kekuning-kuningan (yellowish discoloration) yang dikenal sebagai aurantiasis. f. Red Skin and Rubeosis Facei Kemunculan patch eritem yang menutupi seluruh permukaan telapak tangan dan kadang-kadang juga telapak kaki merupakan ekspresi respon refleks simpatis yang mengalami perubahan pada pasien diabetes. Para pasien kadang-kadang mengalami serangan eritem dan edema secara tiba-tiba dengan sensasi terbakar dan panas abnormal yang melibatkan kaki dan bagian distal tungkai. Kelainan ini dianggap sebagai neuropathy akut.3 3. Manifestasi Vaskular Pada Diabetes Mellitus a. Makroangiopati Kelaian pembuluh darah besar (atherosclerosis) juga dapat terjadi pada ekstremitas bawah dan mengakibatkan atropi kulit, kerontokan rambut, dingin pada kaki, distropi kuku, dan lain-lain.3 b. Mikroangiopati Mikroangiopati merupakan komplikasi kronik yang mengenai pembuluh darah kecil. Klinisnya dapat berupa hemorragik, eksudat, devaskularisasi pada area yang terkena.3, 11 c. Pigmented Purpura Purpura diabetikum adalah suatu kondisi kulit pada ekstremitas bagian bawah yang merupakan hasil dari ekstravasasi sel darah merah dari pleksus vascular superficial. Kelainan ini ditandai dengan macula kecil sampai patch, multiple yang berwarna coklat kemerahan sampai orange. Kelainan ini sering diderita pada pasien diabetik usia tua.3 C. KELAINAN KUKU PADA DIABETES MELLITUS

Kelainan pada kuku biasanya berupa oychomycosis dan paronikia biasanya ditemukan ditangan tapi juga dapat ditemukan pada kaki. Infeksi biasanya mulai pada daerah lateral kuku sebagai eritem, bengkak, dan terpisah antara pinggiran kuku ke bagian lateral kuku. Kemudian infeksi lebih lanjut memberikan gambaran pada kuku bagian proksimal dan memisahkan antara kutikula dan kuku. Adanya pelembab yang terperangkap pada celah-celah tadi mengakibatkan jamur tumbuh semakin pesat dan memperberat inflamasi yang terjadi. Pada saat itu dapat terbentuk discharge purulen di tempat tersebut. diagnosa infeksi jamur dapat ditegakkan dengan pengambilan sample discharge lalu dilakukan pengecatan dengan KOH.3, 7, 8 D. KOMPLIKASI DERMATOLOGI PADA PENGOBATAN DIABETES MELLITUS Sulfonilurea yang hipoglikemik Obat ini dapat menimbulkan reaksi alergi, misalnya pruritus, eritema, urtika, bahkan dermatitis generalisata dengan debris. Biasanya reaksi timbul setelah 2-3 pekan. Kadang-kadang timbul foto-sensitisasi (fotodermatitis bulosa) atau purpura. Senyawa Biguanidin Obat ini dapat menyebabkan reaksi-raksi dermatologik, tetapi jauh lebih jarang daripada reaksi-reaksi dalam alat cerna. Insulin Obat ini dapat menyebabkan lipodistrofi, obesitas, reaksi-reaksi alergik (biasanya urtika) atau kadang-kadang juga keloid. Lipodistrofi hipertrofi menimbulkan penonjolan yang menyerupai lipoma tidak nyeri. Penonjolan akan menghilang dalam beberapa pekan atau bulan, bila pemberian insulin dihentikan. Lipodistrofi atrofik tampak sebagai kulit yang lekuk dan atrofik. Kelainan tersebut jarang mengalami regresi spontan