Anda di halaman 1dari 13

STRATEGI PENINGKATAN EKONOMI RAKYAT MELALUI PENEGASAN HUKUM YANG ADIL TENTANG PERTAMBANGAN ILEGAL DI PULAU BANGKA

Awwab Hafizh

Mahasiswa Semester I Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Bangka Belitung

Email : awwab_sukses@yahoo.co.id

Abstrak

Pulau Bangka memiliki luas 1.294.050 ha dan seluas 27,56 persen daratan pulaunya merupakan area Kuasa Penambangan (KP) timah. Penambangan timah ini sebenarnya sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda dulu. Tetapi, hingga saat ini, walaupun proses penambangan timah terus berlangsung,rakyat belum mendapatkan kesejahteraan dan perekonomian yang sebanding dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki pulau Bangka. Hal ini mejadi sesuatu permasalahan yang harus diselesaikan agar rakyat mendapatkan hak yang memang harus didapatkannya.

Studi ini menerangkan penyebab terjadinya kurangnya optimalisasi hasil penambangan timah sebagai penunjang ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang dilihat dari segi penegakan hukum tentang pertambangan ilegal yang ada. Solusi yang diberikan dalam studi ini lebih cenderung mengacu pada analisa data dan fakta yang terjadi dan didapat melalui studi pustaka. Adapun beberapa informasi yang didapatkan melalui pengajuan pertanyaan langsung kepada penambang timah ilegal di pulau bangka.

Berdasarkan analisa data yang diperoleh,bahwasanya solusi untuk meningkatkan penegakan hukum yang tegas dan adil tentang penambangan ilegal sebagai bentuk peningktan kesejahteraan dan ekonomi rakyat pulau bangka adalah : satu, peningkatan sanksi yang adil dalam undang-undang, dua, peningkatan mutu dalam pembuatan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan), ketiga, membasmi musuh dalam selimut, keempat, sosialisasi pemerintah daerah secara menyeluruh dan bergantian dengan rakyat,kelima, pemantauan secara berkelanjutan.

Kata kunci : Penambangan Ilegal,Penegakan Hukum,Strategi,Ekonomi,Rakyat

PENDAHULUAN

Penambangan di Bangka telah dimulai pada tahun 1711, di Singkep pada tahun 1812, dan di Belitung sejak 1852

1

(PT Timah, 2006). Kegiatan penambangan timah di pulau-pulau ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Pulau Bangka menjadi pulau

penghasil timah terbesar di Indonesia. Pulau Bangka yang luasnya mencapai 1.294.050 ha, seluas 27,56 persen daratan pulaunya merupakan area Kuasa Penambangan (KP) timah. Area penambangan terbesar di pulau ini dikuasai oleh PT Tambang Timah, yang merupakan anak perusahaan PT Timah Tbk. Mereka menguasai area KP seluas 321.577 ha.Sedangkan PT Kobatin, sebuah perusahaan kongsi yang sebanyak 25 persen sahamnya dikuasai PT Timah dan 75 persen lainnya milik Malaysia Smelting Corporation, menguasai area KP seluas 35.063 ha (Bappeda Bangka, 2000). Selain itu terdapat sejumlah smelter swasta lain dan para penambang tradisional yang sering disebut tambang inkonvensional ( TI ) yang menambang tersebar di darat dan laut Babel. Permasalahan sekarang adalah bahwasanya penambangan timah yang telah berlangsung ratusan tahun itu belum mampu melahirkan kesejahteraan bagi rakyat. Padahal, cadangan timah yang ada kian menipis pula. Tak heran, jika kemudian pertambangan timah di Bangka Belitung membawa dampak sosial berupa masalah kemiskinan dan kecemburuan sosial di sekitar wilayah pertambangan. Kejadian ini muncul karena potensi timah yang berlimpah itu belum diatur secara optimal oleh perusahaan timah ataupun pemerintah daerah. Sehingga pendapatan berlimpah dari aktivitas penambangan pada akhirnya belum mampu mendukung bagi terwujudnya kemakmuran rakyatnya. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya

penyelundupan timah yang dilakukan melalui aktivitas penambangan illegal.Berdasarkan data tahun 2007, melalui penambangan legal, Indonesia menghasilkan timah sebesar 71.610 ton per tahun. Dan dari penambangan ilegal, sebanyak 60.000 ton per tahun. Pemberian ijin tambang inkonvesional (TI) di Bangka Belitung telah mengurangi pendapatan negara dan daerah akibat terjadinya penyeludupan, serta mengancam terkurasnya ketersediaan cadangan timah di Bangka Belitung. Pemberian izin TI mungkin mendukung usaha pertambangan PT Timah sebagai BUMN dan PT Kobatin, sebab kedua perusahaan tersebut tidak perlu membuka area penambangan baru. Namun, keberadaan TI ini pada akhirnya justru memperburuk ketersediaan logam timah di Bangka Belitung dan membuat rusak lingkungan wilayah Bangka Belitung karena penambangan dilakukan di semua tempat. Mestinya, pemerintah pusat dan daerah serta BUMN di bidang pertambangan timah berperan lebih besar agar hasil penambangan seluruhnya masuk ke kas negara. Bila kondisi seperti itu terwujud, jumlah produksi timah Indonesia bisa menyamai bahkan melampaui Cina yang mencapai 130.000 ton per tahun. Berdasarkan data dari pihak intelijen Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung pada tahun 2006,bahwasanya nilai penyelundupan timah di Bangka Belitung mencapai sekitar Rp 10 miliar per bulan. Penyelundupan timah terjadi

2

berkali-kali dan seolah menjadi suatu kelaziman. Pada akhir 2005, pernah terjadi penyelundupan timah sebanyak 714 karung pasir timah, atau senilai Rp 1 miliar.Timah yang diselundupkan ke luar wilayah Indonesia, umumnya berasal dari tambang-tambang rakyat (TI). Awalnya, penambang mitra PT Timah masih menjual seluruh hasil tambang timahnya ke PT Timah. Namun, godaan harga yang lebih tinggi dari pembeli lain membuat penjualan timah ke PT Timah menurun. Penambang TI menjadi marak setelah UU Otonomi Daerah disahkan dan Keputusan Menperindag No. 146/MPP/Kep/4/1999 tertanggal 22 April 1999 menyatakan timah dikategorikan sebagai barang bebas.Pemda Bangka Belitung kemudian menerbitkan Perda No. 6/2001 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum, Perda No. 20/2001 tentang Penetapan dan Pengaturan Tatalaksana Perdagangan barang Strategis, Perda No. 21/2001 tentang Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutan Lainnya. Semua peraturan ini untuk melegitimasi pembukaan tambang inkonvensional dengan tujuan mengatrol pendapatan daerah yang mandiri. Terkait hal ini, PT Timah menyatakan kebijakan otonomi daerah membawa dampak buruk bagi PT Timah dan daerah karena memicu kebocoran di lapangan yang dilakukan mitra. Jika timah diselundupkan ke luar negeri, tentu negara tidak mendapatkan royalti dan pajak, dan pemegang KP ditunggangi penambang. Kerugian lain pemerintah meliputi dana reklamasi dan pungutan lain yang diatur

dalam Perda, yang tidak dibayar oleh penambang liar. Sudah semestinya penegakan hukum yang adil dan tegas berpotensi memberikan sebuah dorongan yang besar bagi perekonomian rakyat dan daerah di Bangka. Pemda sebagai fasilitator dan penggerak untuk mendongkrak perekonomian rakyat yang lebih baik dengan melihat apa yang dihasilkan oleh pilau Bangka ini.

Studi ini berlandaskan data dan fakta yang diambil melalui kajian pustaka yang banyak. Selanjutnya, solusi-solusi yang didapat sangat memungkinkan untuk dijadikan pertimbangan Pemerintah Daerah dalam melakukan kewajiban memajukan perekonomian rakyat dan menjadikan Bangka sebagai acuan bagi daerah yang lain dengan menyeimbangkan sumber daya alam dan perekonomian rakyat.

PERUMUSAN MASALAH

Dari uraian di atas maka bisa diambil suatu rumusan masalah, yaitu bagaimana solusi dari penyelesaian masalah pertambangan ilegal yang mampu merugikan ekonomi daerah ?

MAKSUD DAN TUJUAN

3

Adapun

maksud

penelitian ini adalah :

dan tujuan dari

1. Memeberikan solusi dan strategi untuk meningkatkan ekonomi rakyat.

2. Meningkatkan kualitas hukum yang ada di undang-undang pertambangan.

3. Memberikan dampak kerugian akibat TI bagi daerah maupun negara.

KERANGKA TEORI

Pelaku tambang ilegal di Pulau Bangka ini sudah banyak sekali terjadi. TI memang diperbolehkan jika telah memenuhi syarat yang berlaku. Berdasarkan data dari pihak intelijen Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung pada tahun 2006,bahwasanya nilai penyelundupan timah di Bangka Belitung mencapai sekitar Rp 10 miliar per bulan. Penyelundupan timah terjadi berkali-kali dan seolah menjadi suatu kelaziman. Pada akhir 2005, pernah terjadi penyelundupan timah sebanyak 714 karung pasir timah, atau senilai Rp 1 miliar.Timah yang diselundupkan ke luar wilayah Indonesia, umumnya berasal dari tambang-tambang rakyat (TI). Awalnya, penambang mitra PT Timah masih menjual seluruh hasil tambang timahnya ke PT Timah. Namun, godaan harga yang lebih tinggi dari pembeli lain membuat penjualan timah ke PT Timah menurun. Penambang TI menjadi marak setelah UU Otonomi Daerah disahkan dan Keputusan Menperindag No. 146/MPP/Kep/4/1999 tertanggal 22 April 1999 menyatakan

4

timah dikategorikan sebagai barang bebas.Pemda Bangka Belitung kemudian menerbitkan Perda No. 6/2001 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum, Perda No. 20/2001 tentang Penetapan dan Pengaturan Tatalaksana Perdagangan barang Strategis, Perda No. 21/2001 tentang Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutan Lainnya. Semua peraturan ini untuk melegitimasi pembukaan tambang inkonvensional dengan tujuan mengatrol pendapatan daerah yang mandiri. Terkait hal ini, PT Timah menyatakan kebijakan otonomi daerah membawa dampak buruk bagi PT Timah dan daerah karena memicu kebocoran di lapangan yang dilakukan mitra. Jika timah diselundupkan ke luar negeri, tentu negara tidak mendapatkan royalti dan pajak, dan pemegang KP ditunggangi penambang. Kerugian lain pemerintah meliputi dana reklamasi dan pungutan lain yang diatur dalam Perda, yang tidak dibayar oleh penambang liar.

Dari data PT Timah pada tahun 2010,bahwa hasil penjualan timah secara ilegal yang terjadi pada tahun 2006 mencapai 10 miliyar per bulannya. Itu adalah penjualan yang baru diketahui,balum lagi penjualan ilegal yang belum diketahui dan masih banyak lagi yang perlu pnegasan hukum bagi pelakunya sehingga menimbulkan efek yang luar biasa agar tisak terjadi untuk ke depannya. Menurut fakta yang ada,bahwasanya penjualan timah dari tahun ke tahun semakin berkurang. Pada tahun 2006/2007 penjualan timah pertahunnya mencapai 120.000 ton. Kini

pada tahun 2011/2012,penjualan timah pertahunnya hanya mencapai 60.000 ton.

Turunnya produksi timah mengakibatkan beberapa kemungkinan penyebabnya. Seperti karena adanya penjulanan ilegal yang tidak terdata pemerintah akhir-akhir ini. Kedua,cadangan timah memang sudah semakin habis. Perlu diambil sikap siaga bagi masyarakat jika timah sudah habis untuk menyambung ekonomi mereka kembali yang sebelumnya bergantung pada timah.

Memang sudah selayaknya pemerintah memperketat hukum tentang permasalahan tambang ilegal ini. Peraturan sekarang ini bisa dibeli dengan uang. Uang yang dihasilkan tambang ilegal yang tidak terbebani pajak sangat besar untuk perorangan maupun golongan kelompok tertentu. Para pelaku penyeludupan timah mampu ‘membeli’ hukum dengan uang yang dihasilkan dari penjualan.

Solusi untuk meningkatkan ekonomi rakyat di Pulau Bangka ini yang paling utama adalah penegakan hukum yang adil dan tegas serta tanggung jawab dan perhatian yang lebih untuk permasalahan ini. Dikarenakan cadangan timah semakin menipis dan rakyat masih belum mendapatkan sesuatu yang layak sehingga harus dipercepat untuk menyelesaikan masalah ini.

METODOLOGI PENULISAN

Proses penelitian ini berlangsung dengan beberapa cara. Pertama,pengumpulan data dan fakta yang ada. Kedua,analisis data dan fakta tersebut.

5

Sehingga melalui metodologi ini akan menghasilkan pembahasan yang lebih tepat dan benar.

1. Pengumpulan Data dan Fakta

Metode yang dilakukan yang pertama adalah dengan cara pengumpulan data yang ada. Studi ini lebih mengutamakan mencari sumber data dari buku referensi-referensi yang akurat dan berdasarkan berita-berita yang beredar dari koran dan media masa. Hal ini menjadi sumber primer bagi rancangan studi ini. Sedangkan sebagai sumber skunder atau sumber penunjang adalah dengan cara wawancara dengan pegawai Timah Inkonvesional (TI) dengan memberikan sebuah pertanyaan yang akan memberikan fakta serta mendorong keberhasilan studi ini.

2. Analisis Data dan Fakta

Berdasarkan data yang dikumpulakan melalui proses wawancara dan studi pustaka yang kongkrit,maka dilakukan analisis data yang tepat agar dapat dibahas serta ditarik kesimpulan yang memuaskan. Analisis data diberikan secara deskripsi melalui data yang ada.

Hasil analisis akan dibuat berupa grafik perbandingan dari tahun ke-tahun tentang perbandingan kasus pertambangan ilegal yang diselesaikan kasusnya oleh pemerintah dan badan hukum. Hal tersebut dapat membuktikan seberapa tegasnya pemerintah dalam menangani masalah tambang ilegal di bangka belitung. Ketegasan dan keadilan pemerintah dalam menangani masalah tambang ilegal sebagai pokok bahasan dalam masalah ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.

Penyebab

Inkonvensional (TI) di Bangka

Maraknya

Tambang

Penambangan TI di Bangka ini sudah menjadi sesuatu yang sangat dibicarakan di berbagai media. Hal ini menjadi sesuatu masalah yang harus diselesaikan. UU Otonomi Daerah yang disahkan dan Keputusan Menperindag No. 146/MPP/Kep/4/1999 tertanggal 22 April 1999 menyatakan timah dikategorikan sebagai barang bebas. Hal ini membuat penambang TI semakin marak dan tidak teroganisir dengan baik. Pemda Bangka Belitung kemudian menerbitkan Perda No. 6/2001 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum, Perda No. 20/2001 tentang Penetapan dan Pengaturan Tatalaksana Perdagangan barang Strategis, Perda No. 21/2001 tentang Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutan Lainnya. Semua peraturan ini untuk melegitimasi pembukaan tambang inkonvensional dengan tujuan mengatrol pendapatan daerah yang mandiri. Terkait hal ini PT

Timahmenyatakan kebijakan otonomi daerah membawa dampak buruk bagi PT Timah.Sebab akan muncul saingan usaha.

Di sisi lain, pengawasan penuh

konsekuensi terutama di darat tak bisa dilakukan karena juga meliputi daerah- daerah hutan. Dengan demikian, banyak kebocoran di lapangan yang dilakukan mitra. Jika timah diselundupkan ke luar negeri, tentu negara tidak mendapatkan royalti dan pajak, dan pemegang KP ditunggangi penambang. Kerugian lain pemerintah meliputi dana reklamasi dan

pungutan lain yang diatur dalam Perda,

yang tidak dibayar oleh penambang liar. Menerut hasil wawancara kepada beberapa pekerja TI,mereka beralasan

untuk

tetap menjadi pekerja TI karena gaji

yang

besar. Mereka menganggap bahwa

kesalahan adanya TI semata-mata adalah kesalahan bos mereka. Mereka hanya menjalankan tugas dan bekerja semaksimal mungkin. Adapun alasan yang lain berupa

karena jarang aparat keamanan pemerintah mengadakan razia,mengisi kekosongan selama tidak masuk jam mata kuliah,bantu ekonomi keluarga,dan lain-lain. Hal ini akan dijelaskan secara rinci melalui gambar berikut:

6

Alasan-Alasan Pekerja TI Masih Menikmati

Pekerjaannya

Alasan-Alasan Pekerja TI Masih Menikmati Pekerjaannya Ketidaktakutan terhadap razia dari aparat kemanan Penunjang ekonomi

Ketidaktakutan terhadap razia dari aparat kemananAlasan-Alasan Pekerja TI Masih Menikmati Pekerjaannya Penunjang ekonomi keluarga Sulitnya mejadi pekerja tambang legal

Penunjang ekonomi keluargaKetidaktakutan terhadap razia dari aparat kemanan Sulitnya mejadi pekerja tambang legal Biaya kuliah dan

Sulitnya mejadi pekerja tambang legalterhadap razia dari aparat kemanan Penunjang ekonomi keluarga Biaya kuliah dan mengisi waktu luang Ikut-ikutan Lain-lain

Biaya kuliah dan mengisi waktu luangterhadap razia dari aparat kemanan Penunjang ekonomi keluarga Sulitnya mejadi pekerja tambang legal Ikut-ikutan Lain-lain

Ikut-ikutankemanan Penunjang ekonomi keluarga Sulitnya mejadi pekerja tambang legal Biaya kuliah dan mengisi waktu luang Lain-lain

Lain-lainkemanan Penunjang ekonomi keluarga Sulitnya mejadi pekerja tambang legal Biaya kuliah dan mengisi waktu luang Ikut-ikutan

Sumber : Hasil analisis dari data yang diperoleh melalui wawancara langsung ke pekerja TI

Timah sudah menjadi tumpuan bagi hampir seluruh warga bangka untuk penunjung ekonomi mereka. Grafik di atas menjelaskan bahwa kurang tegasnya pemerintah daerah dalam menangani hal ini. Berdasarkan beberapa informasi,terjadi adanya penyogokan uang kepada aparat keamanan. Sehingga adanya yang melindungi penambang TI tersebut. Hal ini sudah biasa terjadi di Negera Indonesia ini.

2.

Potensi

Tambang Inkonvensional (TI)

Kerugian

Akibat

Tidak salah lagi tambang tradisonal/tambang inkonvesianal ini dapat menyebabkan dampak yang sangat negatif bagi perekonomian daerah maupun negara. Seperti terjadinya penjualan ilegal yang dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah. Akibatnya penjualan tersebut tidak ada biaya pajak. Ini adalah kerugian besar bagi daerah maupun negara. Adapun kerugian lainnya adalah pembebanan reklamasi kolong kepada pemerintah. Ini bisa membuat perekonomian daerah semakin menipis dan ditambah lagi cadangan timah sudah hampir habis.

7

Belakangan ini pemerintah belum mendapatkan data yang akurat tentang cadangan timah yang terdapat di pulau bangka. Hal ini karena banyaknya TI yang tersebar luas di pulau Bangka. Bahkan PT Timah belum bisa memberikan berapa banyaknya timah yang dijual perharinya atau pertahunnya. Data yang didapat pada akhir-akhir ini hanyalah data yang kurang akurat karena tidak diketahuinya berapa timah yang berhasil lolos dari pengawasan pemerintah dalam transaksi penjualan ilegal ke negara tetangga.

fakta yang

ada,bahwasanya penjualan timah dari tahun ke tahun semakin berkurang. Pada tahun 2006/2007 penjualan timah pertahunnya mencapai 120.000 ton. Kini pada tahun 2011/2012,penjualan timah pertahunnya hanya mencapai 60.000 ton.

Menurut

produksi timah

mengakibatkan beberapa kemungkinan penyebabnya. Seperti karena adanya penjulanan ilegal yang tidak terdata

pemerintah akhir-akhir ini. Kedua,cadangan timah memang sudah

Turunnya

semakin habis. Perlu diambil sikap siaga bagi masyarakat jika timah sudah habis untuk menyambung ekonomi mereka kembali yang sebelumnya bergantung pada timah.

TI ini mengakibatkan banyaknya sikap ketidaktanggungjawaban yang akhirnya banyak kolong-kolong yang dibiarkan begitu saja tanpa adanya reklamasi. Sehingga udara dan kedaan cuaca di Bangka semakin buruk. Daerah pohon-pohon yang sudah ditebangi tidak dihijaukan kembali karena banyak alasan yang seharusnya tidak menjadi alasan.

3. Penurunan Ekonomi Rakyat Akibat Penyeludupan Ilegal Oleh TI

Proses penyeludupan timah yang ilegal dan dilakukan oleh panambang timah ilegal pula sangat menggoyahkan ekonomi rakyat. Hal ini dikarenakan ketiadaan pajak yang dibebani karena berhasil lolos dari pemerintah. Akibatnya pajak yang didapatkan pemerintah sangat sedikit dan hasil pajak tersebut akan sedikit pula untuk membangun daerah.

Dari data PT Timah pada tahun 2010,bahwa hasil penjualan timah secara ilegal yang terjadi pada tahun 2006 mencapai 10 miliyar per bulannya. Itu adalah penjualan yang baru diketahui,balum lagi penjualan ilegal yang belum diketahui dan masih banyak lagi yang perlu pnegasan hukum bagi pelakunya sehingga menimbulkan efek yang luar biasa agar tisak terjadi untuk ke depannya.

4. Peningkatan Penegakan Hukum dan Tindak Pidana Terhadap TI Menjadi Solusinya

Sudah menjadi kebiasaan proses tambang ilegal berlangsung sehingga terjadinya pengendoran tindak pidana dan hukum bagi tambang tradisiaonal atau tambang ilegal. Menurut data yang diperoleh dari berbagai sumber media,kasus penambangan ilegal banyak yang ditangani,tapi hanya sedikit yang berhasil diselesaikan. Berikut adalah data yang diperoleh yang akan dijelaskan melalui tabel di bawah ini :

Tahun

Penanganan

Kasus TI

2006 s/d 2010

Jumlah Kasus

Tahun Penanganan Kasus TI 2006 s/d 2010 Jumlah Kasus 230 Kasus Berhasil Ditangani 90 % Kasus

230

Kasus Berhasil

Ditangani

Kasus Berhasil Ditangani

90 %

Kasus Yang

Tidak Berhasil

Ditangani

10 %

Golongan Pelaku Penambangan Ilegal

Golongan Pelaku Penambangan Ilegal

Polisi : 16 orang DPRD: 1 orang Sisanya adalah masyarakat

Sumber : Bangka Pos 8 May 2010

Dari tabel di atas dapat dianalisa bahwa persentase kasus yang ditangani memang mendomianan,tetapi kasus yang ditangani tersebut tidak ditangani secara adil dan tegas. Ini dibuktikan dari apa yang disaksikan sekarang ini bahawasanya masih banyak pelaku tambang ilegal yang

8

berkeliaran yang bebas hukum. Berarti proses penanganan kasus TI belum maksimal. Apalagi pelaku tambang ilegal ada yang termasuk dari golongan polisi dan anggota dewan. Hal ini mebuktikan adanya proses backupyang berasal dari kuasa penegak hukum. Tidak menutup

kemungkinan bahwasanya masih banyak lagi dari kalangan pejabat atau aparat penegak hukum yang turut membela proses tambang ilegal sehingga tambang ilegal sampai sekarang ini masih berlanjut dan semakin bertambah

Menurut undang-undang pertambangan minerba tahun 2009,bahwa pertambangan rakyat boleh dilaksanakan,tetapi harus memiliki IPR(Izin Penambangan Rakyat). IPR harus berdasarkan persetujuan walikota dan bupati setempat. Tetapi menurut hasil wawancara terhadap beberapa pelaku tambang ilegal,mereka mengatakan bahwasanya hanya 5% dari tambang rakyat yang memiliki IPR yang sah. Ada juga yang memiliki IPR,tapi belum diperpanjang kembali setelah 5 tahun digunakan. Tentunya itu sangat melanggar hukum dan menjadi tugas penegak keadilan untuk menanganinya.

Strategi Penegakan Hukum yang Adil dan Tegas Untuk TI

Dengan adanya peningkatan keadilan dalam penegasan hukum dan tindak pidana maka akan sangat membantu perekonomian rakyat. Hal ini dikarenakan adanya pengurangan anggaran pemerintah untuk reklamasi kolong yang bertebaran di pelosok daerah pulau Bangka akibat dari TI dan meniadakan proses penjualan ilegal yang keuntungannya hanya didapatkan untuk pribadi atau golongan tertentu tidak untuk daerah karena tidak adanya pembebanan pajak.

1.

Peningkatan

Dalam Undang-Undang

Sanksi

yang

Adil

Menurut

bahwasanya :

undang-undang

tersebut

9

a.

mengeluarkan IPR (Izin Pertambangan Rakyat) yang bertentangan dengan Undang- Undang dan menyalahgunakan kewenangannya akan diberikan sanksi pidana paling lama 2(dua) tahun atau denda paling besar Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah). b. Pemegang IPR (Izin Pertambangan Rakyat) jika tidak menyampaikan laporan

yang

Setiap

orang

dan keterangan palsu akan diberi sanksi pidana paling lama 10(sepuluh) tahun atau didenda paling besar Rp10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah). c. Setiap orang pelaku panambangan rakyat yang melakukan penambangan tanpa ada IPR maka akan diberikan

sanksi pidana paling lama 10 (sepuluh) tahun atau didenda

banyak

Rp10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah).

paling

Dari undang-undang di atas,kita dapat mempeoleh ketidakadilan yang sangat besar. Sanksi yang diberikan kepada pemberi izin sangat tidak setimpal dengan apa yang didapatkan oleh penambang yang tanpa izin. Hal ini sangat mendorong para pemberi izin untuk melakukan perizinan dengan menyalahgunakannya karena ia akan mendapatkan hasilyang lebih dari perusahaan TIwalaupun dipenjara.

Seharusnya pemberi izin yang menyalahgunakan itu harus lebih besar

sanksinya karena ia dapat membahayakan masyrakat jika yang diberi izin tambang rakyat itu belum memenuhi syarat yang berlaku. Dengan sanksi yang berat,otomatis pemberian izin kepada perusahaan tambang rakyat tidak sangat mudah dilakukan jika tambang rakyat tersebut belum memenuhi syarat yang berlaku.

2. Peningkatan Mutu Dalam Pembuatan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan)

AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) pada saat ini sangat mudah sekali dibuat. Hanya dengan beberapa ketentuan,AMDAL sudah bisa dibuat. Bisa kita lihat pada sekarang ini,bahwa banyak sekali kapal keruk atau kapal hisap yang mengelilingi pulau Bangka. Menurut peraturan,kapal hisap tersebut dapat beroperasi jika sudah memeliki AMDAL. Hal ini sangat memicu para pengusaha tambang bawah laut untuk melakukan penambangan ini. Hanya dengan menyewa beberapa ahli pertambangan dalam pembuatan AMDAL,mereka dapat mengoperasikan kapal hisap yang dapat memicu perusakan terumbu karang.

Proses penyeludupan timah di laut sangat besar kejadiannya. Apalagi kalau tidak para penambang bawah laut yang sebagian besar melakukannya. Tentunya akar dari permasalahan ini adalah pembuatan AMDAL yang kurang terjamin mutunya. Menurut dari wawancara kepada narasumber,bahwasanya Gubernur Bangka Belitung sendiri punya 2 kapal hisap yang sekarang beroperasi di laut sekitar Bangka Belitung. Hal ini tentunya bisa memicu warga untuk iri dan mendirikan kapal hisap baru sebagaimana yang dilakukan Gubernur tersebut.

3.

Membasmi

Musuh

Dalam

Selimut

Musuh dalam selimut adalah pelaku proses penyeludupan timah yang dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya adalah orang yang berhak membasmi kejahatan tersebut. Sudah terjadi banyaknya penipuan yang dilakukan penjahat ini. Mereka adalah orang disebut sebagai ‘kebal hukum’. Dengan menduduki jabatan tinggi di daerah mereka mampu memanupulasi hukum yang berlaku di daerah tersebut.

Menurut data yang diperoleh dari seorang narasumber,yaitu dosen tetap fakultas hukum di universitas Bangka Belitung,bahawasanya dia pernah mendapat berita dari karyawan di PT Timah secara langsung akan adanya musuh dalam selimut. Bukan dari TI saja yang melakukan penyeludupan timah,tapi ternyata ada orang-orang tertentu di PT Timah sendiri yang melaukakan penyeludupan tersebut.

Sudah dangat merugikan masyarakat penyeludupan timah ini jika dilakukan. Timah sudah menjadi primadona masyarakat. Timah sebanarnya sangat memungkinkan meningkatan perekonomian mayarakat,mulai dari infrastruktur dan lainnya. Jika saja pejabat daerah sendiri yang melakukan penyeludupan tersebut,bagaimana bisa Pulau Bangka ini mampu menjadi daerah yang maju?.

4. Sosialisai Pemerintah Daerah Secara Menyeluruh dan Begilir Dengan Rakyat

Peningkatan pendidikan itu sangat perlu dilakukan. Kalau pada zaman ini

10

banyak dilakukannya seminar tentang bahaya narkoba dan lainnya,seharusnya pemerintah juga menyelenggarakan kegiatan berupa seminar secara menyeluruh kepada warga tentang bahayanya tambang ilegal. Tujuan utama pemerintah adalah kaum pemuda karena kaum pemuda adalah generasi penerus yang memperjuangkan daerah ini.

Dengan sosialisasi tersebut bisa menyadarkan mayarakat sekaligus bisa saling memberikan solusi untuk tercapainya ekonomi yang makmur. Maraknya proses penambangan rakyat yang bisa membuat ketidakseimbangan alam bisa teratasi. Pemerintah daerah tentunya tinggal mebuat jadwal ini.

5.

Proses

Berkelanjutan

Pemantauan

yang

Pemerintah daerah sering sekali kecurian dari proses tambang ilegal baik yang dilakukan oleh rakyat maupun pemerintah itu sendiri. Hal ini dikarenakan kurangnya pemantauan yang berkelanjutan oleh oknum-oknum tertentu yang bekerja sebagai pembrantas kejahatan tersebut. Tentunya ini memberikan peluar bagi penjahat untuk melakukan aksinya. Tapi dengan diadakannya pemantauan yang berkelanjutan,itu dapat meberikan sebuah gerakan baru untuk menciptakan penegasan hukum yang adil.

Penegasan hukum yang adil disertai pemantauan yang berkelanjutan sangat meberikan efek yang luar biasa. Tentunya dapat terciptanya ekonomi yang maju. Setelah dilakukan sosialisasi dengan masyarakat,seharusnya pemerintah mengadakan pemantauan. Aksi ini harus dilatarbelakangi dengan penegasan hukum yang adil,agar pelaku TI dapat berhenti

dari

rakyatnya sendiri.

aksinya

yang

dapat

merugikan

KESIMPULAN DAN SARAN

11

A. KESIMPULAN

1. Maraknya penambangan ilegal terjadi karena kurangnya penegasan hukum dari pemerintah daerah itu sendiri. Undang-undang yang berlaku seharusnya ditingkatkan lagi penggunaannya. Penyeludupan timah yang berlangsung lamanya di Bangka ini sudah sangat merugikan daerah,rakyat maupun Negara Indonesia. Ketiadaannya pembebanan pajak dari timah yang dijual sangat merugikan. Sudah sewajarnya pemerintah daerah menghentikan kejadian ini,bukan malah ikut-ikutan dalam melakukan kegiatan ini. Kerugian akibat tambang ilegal sudah

dialami sejak lamanya. Sudah tidak alasan sebenarnya bagi rakyat

Bangka atas

ketidakmajuannya ekonomi rakyatnya. Jika dari dahulu telah diatasi dengan baik,maka akan sangat maju ekonomi di Bangka ini.

2. Strategi dalam mengatasi tambang ilegal maupun penyeludupan ilegal harus dilakukannya pemantauan dari pemerintah secara berlanjut dan disertai peningkatan tindak pidana bagi pelakunya. Banyak terciptanya orang-orang yang ‘kebal hukum’ di Bangka ini, sehingga semakin sulitnya untuk terciptanya penegasan hukum yang adil. Sudah seharusnya pemerintah yang adil membasmi ‘musuh dalam

Pulau

 

selimut’. Merekalah yang sebenarnya pencuri uang rakyat. Semakin diadakannya pembasmian ini,maka akan terjaminnya keselamatan ekonomi rakayat. Pencarian musuh dalam selimut

kekuasaan merka di daerah. Bisa jadi pemerintah daerah meminta bantuan dari pemerintah pusat untuk mrnyelesaikan masalah ini untuk terciptanya kemajuan ekonomi rakyat Pulau Bangka.

3.

harus dilakukan dengan teliti dan diberikan hukuman yang sangat berat agar tidak terulang kejadian tersebut.

3. Sosialisasi pemerintah harus dilakukan kepada rakyat dan diutamakan kaum pemuda dengan disertai pemantauan secara berkelanjutan agar terciptanya

DAFTAR PUSTAKA

Konsep sosialisasi pemerintah daerah secara bergantian dan menyeluruh kepada masyrakat sangat mampu memberikan dampak positif bagi rakyat. Sosialisasi ini diutamakan kepada para pemuda di seluruh Pulau Bangka karena merekalah generasi penerus. Sosialisasi tersebut berupa

sinkronisasi. Jika adanya pemantauan secara berkelanjutan dan rutin dilaksanakan,maka pelaku tambang ilegal maupun penyelupan ilegal bisa teratasi dan terselesaikan.

dengan cara memberikan fakta yang terjadi pada saat ini dan saling

1. Rya. 8 mei 2010. 230 Kasus Illegal Mining Ditangani. Bangka Pos:

bertukar solusi agar terciptanya

1(kolom 4-6).

sebuah cara dan pandangan yang positif.

2. Suyartono,dkk. 2003. Good Mining Practice. Semarang : Studi Nusa.

4.

3. Undang-Undang No.4 tahun 2009

 

B. SARAN

tentang pertambangan mineral dan

1.

Pemerintah daerah harus

batu bara.

meningkatkan hukum yang adil bagi pelaku tambang ilegal dan

4. Undang-Undang Otonomi Daerah dan Keputusan Menperindag No.

penyeludupan timah. Prosen

146/MPP/Kep/4/1999.

penegakan hukum yang adil sudah seharusnya dilakukan pada saat ini mengingat semakin menipisnya

5. Peraturan Daerah No. 6/2001 tentang Pengelolaan Pertambangan Umum.

2.

cadangan timah dan kebutuhan ekonomi rakyat belum seperti yang diharapkan.

6. Peraturan Daerah No. 20/2001 tentang Penetapan dan Pengaturan Tatalaksana Perdagangan barang Strategis.

Pemerintah harus menyelesaikan masalah ‘musuh dalam selimut’ karena ‘musuh dalam selimut’ itu sebenarnya adalah diibarakan sebagai benalu bagi daerah.

7. Peraturan Daerah No. 21/2001 tentang Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutan Lainnya.

Mereka dapat semena-mena merkayasa hukum dan memanupulasi kejadian karena

8. Faisal,2012. Latihan Kepemimpinan Mahasiswa

12

Fakultas Teknik 22 Desember 2012. Balunijuk,Kab. Bangka.

http//www.tambangnews.com

[12/06/12].

9. Rb. 2012. DPR Soroti Lemahnya

11. Hariadi,Dwi.

2012.

Lemahnya

Penegakan Hukum Tambang

Penegakan

Perda.

Timah.

http//www.bangkapos.com[25/04/1

http//www.radarbangka.co.id

2].

[12/12/12].

12. Anonim.

2012.

TI

Mengancam

10. Anonim. 2012. KPK dan Menteri

Cadangan

Timah.

ESDM Sepakat Eleminir Kasus

http//www.rakyatmediaonline.com[

Pertambangan.

31/01/12]

13