Anda di halaman 1dari 21

NYERI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


BIOLOGI RONGGA MULUT II

Disusun oleh kelompok 1: Adillah Ardha Heppi : Dody Parianto : Siti Hardianti M : Indy Varienty : Lani Valini : Zul Santritus : Intan Derry S. : (10-09) (11-001) (11-003) (11-005) (11-009) (11-007) (11-011) (11-013) Prinita Rahmi P Putra Hadi Kiki Zayufa Tri Utami N Putri Apridesvita Rhizky Mentari Diolla Intan K (11-017) (11-015) (11-019) (11-021) (11-023) (11-025) (11-027)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS BAITURRAHMAH PADANG/2012


Microsoft 1

Kata Pengantar
Alhamdulilah, puji syukur penulis ucapkan kehadirat zat Yang Maha Agung yaitu Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat merampungkan tugas Yang berjudul obat simpatomimetik tepat pada waktunya

Pada kesempatan ini, Penulis juga dengan rendah hati mengucapkan terima kasih dan rasa hormat kepada :Bapak Drs.Jufri Aldi,Apt,Msi Farmakologi. selaku fasilitator pada mata kuliah

Tiada yang patut Penulis berikan kepada sahabat, rekan-rekan dan semua pihak yang telah memberikan sumbangan pikiran dan dorongan untuk menyelesaikan Laporan Makalah ini selain ucapan terima kasih, semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik dan lebih mulia. Amin.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan baik dari segi bahasa maupun ilmiahnya. Oleh sebab itu Penulis dengan lapang dada mengharapkan saran dan kritik dari pembaca semua agar dapat memberikan kesempurnaan dan manfaat maksimal dalam Laporan Makalah ini.

Harapan Penulis semoga dengan selesainya penyusunan Laporan makalah ini akan bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan Penulis khususnya.

Padang,4 oktober 2012

penulis

Microsoft

DAFTAR ISI PENGANTAR............................................................................................................................ DAFTAR ISI............................................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang........................................................................................................... I.2 Tujuan....................................................................................................................... I.3 Rumusan Masalah. BAB II PEMBAHASAN II.1 Pengertian. II.2 Fisiologi Nyeri.. II.2.1 Patofisiologi.. II.2.2 Mekanisme Nyeri Nosiseptif II.2.3 Nyeri Neuropatik.. II.3 Teori Pengontrolan Nyeri (Gate Control Theory) II.4 Faktor Yang Mempengaruhi Respon Nyeri... II.5 Intensitas Nyeri II.6 Tujuan Penatalaksanaan Nyeri II.7 Prinsip Penatalaksanaan Nyeri BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan............................................................................................................ 3.2 Saran...................................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA. 20 20 21 6 6 9 9 10 11 14 16 18 18 4 5 5 2 3

Microsoft

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada zaman dulu nyeri dikaitkan dengan hukuman, setan, atau magic penghilangan

nyeri merupakan tanggung-jawab dari pendeta, dukun, atau pengusir setan, menggunakan tanaman, atau ritual dan upacara tertentu. Teori pertama tentang nyeri datang dari Yunani dan Romawi yang menyatakan bahwa otak dan sistem saraf berperan dalam menghasilkan persepsi nyeri. Abad pertengahan dan jaman Renaissance (1400-1500an) :terkumpul fakta-fakta yang mendukung teori tersebut. Leonardo da Vinci mempercayai bahwa otak merupakan organ utama yang bertanggung-jawab terhadap sensasi tersebut. Da Vinci juga mengembangkan idea bahwa korda spinalis merupakan organ yang berperan menghantarkan sensasi nyeri ke otak. Tahun 1664 : seorang filsuf Perancis Ren Descartes menggambarkan apa yang sekarang disebut sebagai jalur nyeri (pain pathway). Pada abad 19, nyeri menjadi ilmu tersendiri yang menjadi jalan bagi berkembangnya ilmu penatalaksanaan nyeri. Saat itu mulai ditemukan senyawa opium: morfin, kodein, kokain, yang dapat digunakan untuk mengobati nyeri. Nyeri adalah perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang terkait dengan adanya kerusakan jaringan potensial atau actual Nyeri : akut dan kronis survival function dengan cara mengarahkan tubuh untuk memberikan refleks dan sikap protektifterhadap jaringan yang rusak hingga sembuh.

Microsoft

I.2 Rumusan Masalah I.2.1 I.2.2 I.2.3 I.2.4 I.2.5 Apa itu nyeri ? Bagaimana fisiolagis dari nyeri tersebut ? Bagaimana mekanisme kerja dari nyeri tersebut ? Apa-apa saja factor sehingga timbulnya nyeri ? bagaimana Tujuan dan prinsip tata laksanaan nyeri ?

I.3 Tujuan I.3.1 I.3.2 I.3.3 I.3.4 I.3.5 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan nyeri untuk memahami Bagaimana fisiolagis dari nyeri tersebut memahami mekanisme kerja nyeri mengetahui factor yang menimbulkan nyeri mengetahui azas dari prinsip nyeri itu sendiri

Microsoft

BAB II PEMBAHASAN II.1 PENGERTIAN

Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

II.2 FISIOLOGI NYERI

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.

Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.

Microsoft

Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :

a. Reseptor A delta

Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan

b. Serabut C

Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi

Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.

Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.

Respon fisiologis terhadap nyeri

1) Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)

Microsoft

- Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate

-Peningkatan heart rate

-Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP

- Peningkatan nilai gula darah

-Diaphoresis

- Peningkatan kekuatan otot

- Dilatasi pupil

- Penurunan motilitas GI

2) Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)

- Muka pucat

-Otot mengeras

- Penurunan HR dan BP

- Nafas cepat dan irreguler

- Nausea dan vomitus

- Kelelahan dan keletihan

Microsoft

II.2.1 PATOFISIOLOGI

Berdasarkan durasinya :

1. Nyeri akut 2. Nyeri kronis Berdasarkan asalnya: 1. Nyeri nosiseptif(nociceptive pain) 2. Nyeri perifer asal: kulit, tulang, sendi, otot, jaringan ikat, dan lain lain nyeri akut, letaknya lebih terlokalisasi. 3. Nyeri visceral/central lebih dalam, lebih sulit dilokalisasikan letaknya 4. Nyeri neuropatik II.2.2 MEKANISME NYERI NOSISEPTIF

Stimulasi
Sebagian besar jaringan dan organ diinervasi reseptor khususNnyeri nociceptor yang berhubungan dgn dengan saraf aferen primer dan berujung di spinal cord. Jika suatu stimuli (kimiawi, mekanik, panas) datang diubah menjadi impuls saraf pada saraf aferen primer

ditransmisikan sepanjang saraf aferen ke spinal cord ke SSP. Transmisi dan persepsi nyeri Transmisi nyeri terjadi melalui serabut saraf aferen (serabut nociceptor), yang terdiri dari dua macam: serabut A-(A- fiber) : peka thd nyeri tajam, panas first pain serabut C (C fiber) : peka thd nyeri tumpul dan lama second pain. Contoh : nyeri cedera, nyeri inflamasi.
Microsoft 9

Mediator inflamasi dapat meningkatkan sensitivitas nociceptor ambang rasa nyeri turun nyeri. Contoh: prostaglandin, leukotrien, bradikinin pada nyeri inflamasi substance P, CGRP (calcitonin gene-related peptide) pada nyeri neurogenik Persepsi nyeri Setelah sampai di otak nyeri dirasakan secara sadar menimbulkan respon: Aduuh ..!!

II.2.3 NYERI NEUROPATIK Karakteristik Nyeri Akut Dan Kronis Karakteristik Peredaan nyeri Ketergantungan terhadap obat Komponen psikologis Nyeri Akut Sangat Diinginkan Tidak Berasa Umumnya Tidak Ada Nyeri Kronis Sangat Diinginkan Sering Sering Merupakan Masalah Utama

Microsoft

10

Penyebab organic Kontribusi lingkungan dan keluarga Insomnia Tujuan pengobatan Depresi

Sering Kecil

Seringkali Tidak Ada Signifikan

Jarang Kesembuhan Jarang

Sering Fungsionalisasi Sering

Gejala dan tanda Nyeri bisa berupa nyeri tajam, tumpul, rasa terbakar, geli (tingling), menyentak (shooting) yang bervariasi dalam intensitas dan lokasinya Suatu stimulus yang sama dapat menyebabkan gejala nyeri yang berubah sama sekali (mis. tajam menjadi tumpul) Gejala kadang bersifat nonspesifik Nyeri akut dpt mencetuskan hipertensi, takikardi, midriasis tapi tidak bersifat diagnostik Untuk nyeri kronis seringkali tidak ada tanda yang nyata Nyeri bersifat subyektif

II.3 TEORI PENGONTROLAN NYERI (GATE CONTROL THEORY)

Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007)

Microsoft

11

Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.

Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. tehnik distraksi, konseling dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter, 2005).

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:

1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)

Microsoft

12

Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut.

2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)

Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. seseorang dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)

Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat.

Microsoft

13

II.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPON NYERI

1) Usia

Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.

2) Jenis kelamin

Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).

3) Kultur

Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.

4) Makna nyeri

Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.

5) Perhatian
Microsoft 14

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.

6) Ansietas

Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.

7) Pengalaman masa lalu Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

8) Pola koping

Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.

9) Support keluarga dan sosial

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan

Microsoft

15

II.5 INTENSITAS NYERI

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).

Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :

1) skala intensitas nyeri deskritif

2) Skala identitas nyeri numerik

3) Skala analog visual

Microsoft

16

4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan :

0 :Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.

4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.

7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi

10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.

Karakteristik paling subyektif pada nyeri adlah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau

Microsoft

17

parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.

II.6 TUJUAN PENATALAKSANAAN NYERI 1. Mengurangi intensitas dan durasi keluhan nyeri 2. Menurunkan kemungkinan berubahnya nyeri akut menjadi gejala nyeri kronis yang persisten 3. Mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan akibat nyeri 4. Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri 5. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengoptimalkan kemampuan pasien untuk menjalankan aktivitas sehari-hari Strategi terapi 1. Terapi non-farmakologi 2. Intervensi psikologis: Relaksasi, hipnosis, dll. 3. Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) untuk nyeri bedah, traumatik, danoral-facial 4. Terapi farmakologi 5. Analgesik : non-opiat dan opiate II.7 PRINSIP PENATALAKSANAAN NYERI Pengobatan nyeri harus dimulai dengan analgesik yang palingringan sampai ke yang paling kuat Tahapannya: A. Tahap I : analgesik non-opiat : AINS B. Tahap II : analgesik AINS + ajuvan (antidepresan) C. Tahap III :analgesik opiat lemah + AINS + ajuvan
Microsoft 18

D. Tahap IV : analgesik opiat kuat + AINS + ajuvan Contoh ajuvan : antidepresan, antikonvulsan, agonis 2, dll. Penatalaksanaan nyeri neuropati 1. Hampir sebagian besar nyeri neuropatik tidak berespon terhadap NSAID dan analgesik opioid 2. Terapi utamanya : the tricyclic antidepressants (TCA's), the anticonvulsants and the systemic local anesthetics. 3. Agen farmakologi yang lain : corticosteroids, topical therapy with substance P depletors, autonomic drugs and NMDA receptor antagonists Contoh obat baru : pregabalin (Lyrica) dari Pfizer untuk nyeri Neuropati.

Microsoft

19

BAB III PENUTUP

III.1

KESIMPULAN

nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.Banyak kondisi yang dapat menyebabkan nyeri tersebut timbul salah satunya adalah factor usia,jenis kelamin,kultur,dll.

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.

III.2

SARAN Dalam penulisan makalah ini, banyak sekali terdapat kesalahan dan kelemahan. Baik isi

makalah maupun tata bahasa penulisan yang dibuat oleh penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan tanggapan dan koreksi yang membangun dari pembaca sehingga kedepannya makalah yang dibuat akan lebih baik pada masa yang akan datang.

Microsoft

20

DAFTAR PUSTAKA

Sherwood Lauralee.2001.Fisiologi Manusia. Jakarta : EGC

http://qittun.blogspot.com/2008/10/konsep-dasar-nyeri.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20095/4/Chapter%20II.pdf

Microsoft

21