Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PESTISIDA PERTANIAN ACARA III UJI DAYA RACUN (TOKSISITAS) INSEKTISIDA

Disusun oleh : Nama NIM Asisten : Jatu Barmawati : 08/270191/PN/11481 : Dessi Rahma Rizzaliana K

LABORATORIUM TOKSIKOLOGI PESTISIDA JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

ACARA III UJI DAYA RACUN (TOKSISITAS) INSEKTISIDA I. TUJUAN Memberikan gambaran cara penentuan toksisitas suatu jenis insektisida II. TINJAUAN PUSTAKA Toksisitas (toxicity) atau daya racun pestisida adalah sifat bawaan pestisida yang menggambarkan potensi pestisida tersebut dalam menimbulkan kematian terhadap organisme sasaran (Djojosumarto, 2000). Bahan-bahan racun pestisida masuk ke dalam tubuh organisme (jasad hidup) berbedabeda menurut situasi paparan. Mekanisme masuknya racun pertisida tersebut dapat melalui melalui kulit luar, mulut dan saluran makanan, serta melalui saluran pernapasan. Melalui kulit, bahan racun dapat memasuki pori-pori atau terserap langsung ke dalam sistem tubuh, terutama bahan yang larut minyak (polar) (Afriyanto, 2008). Menurut WHO (1986), keracunan pestisida terjadi bila ada bahan pestisida yang mengenai dan/atau masuk ke dalam tubuh dalam jumlah tertentu. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keracunan pestisida antara lain : 1. Dosis. Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan pestisida, karena itu dalam melakukan pencampuran pestisida untuk penyemprotan petani hendaknya memperhatikan takaran atau dosis yang tertera pada label. Dosis atau takaran yang melebihi aturan akan membahayakan penyemprot itu sendiri. 2. Toksisitas senyawa pestisida. Merupakan kesanggupan pestisida untuk membunuh sasarannya. Pestisida yang mempunyai daya bunuh tinggi dalam penggunaan dengan kadar yang rendah menimbulkan gangguan lebih sedikit bila dibandingkan dengan pestisida dengan daya bunuh rendah tetapi dengan kadar tinggi. 3. Jangka waktu atau lamanya terpapar pestisida. Pada keracunan pestisida organofosfat, kadang-kadang blokade cholinesterase masih terjadi sampai 2-6 minggu. Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada paparan yang terputus-putus pada waktu yang sama. Jadi pemaparan yang telah lewat perlu diperhatikan bila terjadi resiko

pemaparan baru. Karena itu penyemprot yang terpapar berulang kali dan berlangsung lama dapat menimbulkan keracunan kronik. Insektisida yang sangat toksik terhadap hama, akan tetapi mempunyai toksisitas yang rendah terhadap musuh alami adalah sangat baik untuk program pengendalian hama terpadu. Aras toksisitas ditunjukkan oleh tingkat LD50. LD50 adalah dosis lethal (kematian) sampai 50% terhadap jumlah binatang uji dalam periode waktu tertentu. Nilai LD50 yang tinggi berarti bahwa sejumlah insektisida diperlukan untuk membunuh binatang uji, jadi insektisidanya mempunyai toksisitas tinggi (Triharso, 1996). Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam pnggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati, di samping menimbulkan cepatnya resistensi (Sudarmo, 1991). Curbix bekerja melalui pencampuran bagian-bagian ion khlorida melalui asam gamma amino butyric (GABA) yang pada dosis rendah bisa mematikan hama sasaran. Karena itu, Curbix sangat sesuai untuk pengendalian hama wereng yang sudah resisten atau kebal terhadap golongan insektisida lain (Jaya, 2008)

III.

METODOLOGI

Praktikum Pestisida pertanian dengan judul Uji Daya Racun (Toksisitas) Pestisida dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2012 di Laboratorium Toksikologi Pestisida Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Pestisida berbahan aktif Etiprol (Curbix), Sipermetrin (Starban) dan serangga uji yang digunakan adalah ulat hongkong dan makanan ternak. Sedangkan alat yang dibutuhkan diantaranya adalah Gelas ukur, Gelas piala, pipet, labu takar, corong, cawan petri, timbangan analitik, batang gelas, botol tempat pemeliharaan (vial). Disiapkan larutan pestisida dengan konsentrasi beragam. Pada masing-masing pestisida baik Etiprol maupun Sipermetrin, disiapkan konsentrasi 2%; 0,5%; 0.125%; 0.03125%; 0.0078125%; dan 0.001953125%. Kemudian disiapkan pakan ternak dalam tempat pemeliharaan. Disiapkan 3 buah vial masing-masing diisikan 10 ekor ulat hongkong yang kemudian ulat hongkong dicelup dalam larutan insektisida mulai dari konsentrasi terendah selama 10 detik. Kemudian serangga uji dimasukkan kembali dalam tempat pembiakan. Kemudian diamati selama 4 hari setiap 24 jam sekali. Dihitung kematian setiap hari, kemudian data dianalisis regresi.

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Pengaplikasian pestisida dilapangan harus dilakukan dengan seksama oleh sebab itu, uji toksisitas sangat penting untuk dilakukan agar tidak terjadi kesalahan yang dapat berakibat buruk bagi lingkungan. LD (Lethal Dose) adalah banyaknya pestisida yang dapat membunuh serangga yang diujikan dalam satuan luas. Untuk menghitung toksisitas umumnya digunakan LD50 (dosis yang mematikan 50% atau separuh dari organisme uji) agar didapatkan gambaran bahwa pada dosis tersebut dapat digunakan secara efisien. LC (Lethal Concentrate) adalah konsentrasi zat yang berada di luar tubuh organisme uji yang menyebabkan kematian organisme uji. Mempermudah menentukan konsentrasi zat yang aman yang boleh ada di lingkungan.

Pada grafik toksisitas Sipermetrin didapatkan hasil R 2= 0.6421 yang berarti semakin tinggi konsentrasi pestisida tersebut maka semakin tinggi angka mortalitasnya. Tingkat mortalitas tertinggi ada pada konsentrasi 2% dimana dapat membunuh seluruh serangga yang diujikan. Kemudian diikuti dengan konsentrasi 0.5% dan 0.125%. Konsentrasi tersebut merupakan working concentration pada serangga uji karena pada konsentrasi tersebut dapat membunuh ulat hongkong secara efektif dibandingkan konsentrasi lainnya. Pada konsentrasi 2% bukan merupakan working concentration karena tidak termasuk dalam skala 2-98%. Terjadi mortalitas pada kontrol sebanyak 50% dikarenakan ulat hongkong yang dipilih kemungkinan adalah yang tidak sehat dan lemah sehingga pada saat vial ditutup ulat tersebut tidak dapat bernafas. Setelah dihitung LC50 dari pestisida Starban berbahan aktif Sipermetrin adalah pada konsentrasi -0.238% dengan adanya LC50 ini kita dapat menggukannya sebagai gambaran untuk pengaplikasian di

lapangan. Starban merupakan pestisida yang mempunyai efek knockdown sehingga hasil mortalitas lebih cepat terlihat.

Pada grafik ini terlihat pada konsentrasi 2% mortalitasnya tinggi yaitu sebesar 93.33% kemudian diikuti dengan konsentrasi 0.5% dan 0.125%. Nilai R 2 = 0.7117 berarti semakin tinggi konsentrasi maka semakin banyak nilai mortalitasnya. 3. LC50 dari pestisida Curbix berbahan aktif Etiprol adalah pada konsentrasi -0.196%. Working consentration pada Etiprol ini yaitu 2%; 0.5%; dan 0.125% sehingga kita lebih baik menggunakan pestisida dengan konsentrasi tersebut. Pestisida ini dapat meminimaliir dampak resistensi silang pada wereng karena bahan aktifnya merupakan famili dari phenyl phyrazoles. Dari kedua pestisida yang diujikan, pestisida berbahan aktif Sipermetrin lebih ampuh digunakan untuk membunuh pestisida karena memiliki nilai LC 50 yang lebih besar dibandingkan dengan Etiprol. Hama sasaran pada Sipermetrin merupakan ordo Lepidoptera sedangkan pada Etiprol sasarannya adalah wereng (Hemiptera) sehingga daya racunnya lebih spesifik dan lebih tinggi. Pestisida berbahan aktif Etiprol memiliki working concentration yang lebih baik dibandingkan dengan Sipermetrin karena dengan konsentrasi yang rendah namun stabil dalam membunuh serangga uji.

V. KESIMPULAN 1. Working concentration perlu diketahui sebelum pestisida diaplikasikan agar didapatkan konsentrasi yang efektif dan efisien dalam aplikasi pestisida. 2. LC50 dari pestisida Starban berbahan aktif Sipermetrin adalah pada konsentrasi -0.238%. 3. LC50 dari pestisida Curbix berbahan aktif Etiprol adalah pada konsentrasi -0.196%. 4. Pada konsentrasi yang tepat dan pada serangga sasaran yang tepat maka pestisida akan dapat bekerja efektif.

LAMPIRAN Konsentrasi (mL/100 mL) Etiprol (Curbix) 24 Jam 6 9 6 3 7 4 2 5 3 2 2 0 2 1 1 0 0 0 1 0 1 48 Jam 7 9 8 4 10 6 4 7 3 2 4 1 7 2 3 3 1 1 2 0 3 72 Jam 9 9 9 5 10 6 5 7 7 4 4 1 7 2 3 5 2 6 3 1 3 96 Jam 9 9 10 7 10 6 6 7 9 6 6 2 7 3 4 6 2 8 5 4 5 46.667 53.333 46.667 46.667 73.333 76.667 93.333 % mortalitas

Ulanga n 1

2 3 1

0.5

2 3 1

0.125

2 3 1

0.03125

2 3 1

0.0078125

2 3 1

0.001953125

2 3 1

Kontrol

2 3

Tabel 1. Hasil pengamatan jumlah ulat hongkong yang mati dengan perlakuan pestisida Etiprol

Konsentrasi (mL/100 mL)

Ulanga n 1

Sipermetrin (Starban) 24 Jam 10 10 10 8 8 2 2 7 10 3 4 1 2 6 0 1 2 1 0 0 0 48 Jam 10 10 10 8 9 7 2 7 10 4 4 1 2 7 1 3 2 1 2 1 3 72 Jam 10 10 10 8 10 7 5 7 10 4 5 1 3 7 3 4 2 1 5 3 5 96 Jam 10 10 10 10 10 8 5 7 10 5 5 3 4 7 5 6 4 4 6 3 6

% mortalitas

2 3 1

100

0.5

2 3 1

93.333

0.125

2 3 1

73.333

0.03125

2 3 1

43.333

0.0078125

2 3 1

53.333

0.001953125

2 3 1

46.667

Kontrol

2 3

50

Tabel 2. Hasil pengamatan jumlah ulat hongkong yang mati dengan perlakuan pestisida Sipermetrin

DAFTAR PUSTAKA Afriyanto. 2008. Kajian Keracunan Pestisida Pada Petani Penyemprot Cabe Di Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Thesis Program Pasca Sarjana. Universitas Diponegoro. Semarang. Djojosumarto, P. 2000. Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta. Jaya, U. 2008. http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=10&aid=2425 diakses tanggal 7 November 2012. Triharso. 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Sudarmo, S. 1991. Pestisida. Kanisius. Jogjakarta. WHO. 1986. Organophosphorus Insectisides : A General Introduction. Environmental Health Criteria. Geneva.