Anda di halaman 1dari 11

Aliran-aliran Filsafat, Tokoh dan Idenya BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Orang Yunani senang akan kebijaksanaan yang selalu diarahkan kepada kepandaian secara teoretis dan praktis. Kepandaian yang bersifat teoretis adalah upaya manusia mencari pengetahuan yang penuh dengan gagasan dan ide yang tentunya sejalan dengan cara pikir mereka. Kepandaian yang bersifat praktis adalah upaya mencari pengetahuan yang diarahkan untuk menemukan kegunaan pengetahuan itu. Berbicara mengenai ilmu maka tidak akan terlepas dari filsafat. Semua ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat. Filsafat merupakan olah pikir sehingga segala sesuatu yang dihasilkan adalah melalui proses berpikir. Perkembangan ilmu pengetahuan terbagi menjadi beberapa periode sejarah yang setiap periodenya memiliki ciri khas masing-masing. Periodisasi perkembangan ilmu pengetahuan dimulai dari peradaban Yunani Kuno, Zaman Pertengahan, Zaman Renaissance, Zaman Modern, dan zaman Postmodern yang masing-masing zaman tersebut berkembang beberapa aliran filsafat. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah perkembangan aliran filsafat dari zaman Yunani kuno hingga saat ini?

BAB II PEMBAHASAN 1. Zaman Yunani Kuno Secara historis kelahiran dan perkembangan sistem berpikir tidak dapat dilepaskan dari keberadaan, kelahiran dan perkembangan filsafat. Pada masa periodisasi awal atau masa Yunani Kuno, yaitu sekitar 600 SM 400 SM, para pemikir pada masa itu sudah mulai mempermasalahkan dan mencari unsur induk (arch) yang dianggap sebagai asal mula segala sesuatu/semesta alam dengan suatu metode berpikir untuk mencari sebab awal dari segala sesuatu dengan merunut dari hubungan kausalitasnya (sebab-akibat). Jadi unsur

penting berpikir ilmiah sudah mulai dipakai, yakni: rasio dan logika (konsekuensi). Dua nama penting pada masa ini yaitu Permenides dan Heraclitos yang memiliki pemikiran yang bersebrangan. a. Peremenides Permenides lahir di kota Elea, kota perantauan Yunani di Italia Selatan, Arena. Ia dikatakan sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat. Ia berpendapat bahwa hanya pengetahuan yang tetap dan umum (pengetahuan budi) yang dapat dipercaya. Pengetahuan budi itulah yang dapat dipercayai, kalau ia benar maka sesuailah ia dengan realitas. Sebab yang merupakan realitas bukanlah yang berubah dan bergerak serta beralih dan bermacam-macam, melainkan yang tetap. Permenides dianggap sebagai peletak dasar metafisika. Ia berpendapat bahwa yang ada adalah ada dan yang tidak ada adalah tidak ada. Konsekwensi dari pernyataan ini adalah yang ada: 1) satu dan tak terbagi 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada yang bergerak b. Heraclitos Heraclitos memiliki pemikiran yang berbeda dengan Permenides. Ia mengemukakan bahwa segala sesuatu (yang ada itu) sedang menjadi dan selalu berubah. Sehingga ucapannya yang terkenal : Panta rhei kai uden menci yang artinya segala sesuatunya mengalir bagaikan arus sungai dan tudak satu orangpun yang dapat masuk ke sungai dua kali. Alasannya, karena air sungai yang pertama telah mengalir , berganti dengan air yang berada di belakanganya. Demikian juga dengan segala yang ada, tidak ada yang tetap, semuanya berubah. Akhirnya dikatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah menjadi, maka filsafatnya dikatakan filsafat menjadi. Menurut Heraclitos alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah , sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita menyadari bahwa kehidupan kosmos itu dinamis. Kosmos itu tidak pernah berhenti (diam), ia selalu bergerak, dan bergerak berarti berubah. Gerak itu menghasilkan perlawanan-perlawanan . itulah sebabnya ia sampai pada konklusi bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah prosesnya. Penyataan semua mengalir berarti semua berubah bukanlah pernayatan yang sederhana. Implikasi pernyataan tersebut amat hebat. Dan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah, tidak tetap. Puncak filsafat Yunani dicapai pada Socrates, Plato dan Aristoteles. 1. Socrates memiliki pemikiran yang merupakan jalan tengah dari pemikiran Permenides dan Heraclitos. Filsafatnya dikenal dengan aliran dialektik. Ia memiliki murid yang sangat

setia yaitu Plato. Filsafat Socrates ini berkembang pada 470-399 SM. Socrates mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Sokrates sendiri tidak menulis apa-apa. Pikiran-pikirannya hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui tulisan-tulisan dari cukup banyak pemikir Yunani lain, terutama melalui karya Plato. Sebagaimana para sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Perbedaannya terletak pada penolakan Socrates terhadap relatifisme (pandangan yang berpendapat bahwa kebenaran tergantung pada manusia) yang pada umumnya dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga Athena dan lain bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pengajaran Socrates ini harus dibayar mahal dengan hukuman mati yautu dengan meminum racun. 2. Plato Walaupun Socrates sudah meninggal namun pemikirannya tetap bekerja. Plato yang merupakan muridnya memperkuat pendapat gurunya. Filsafat Plato menganut aliran idealisme. Menurut Plato kebenaran umum memang ada, namanya idea. Idea ada sebelum manusia ada, ia ada dalam alam idea. Dunia idea itulah yang tetap tidak berubah/abadi sedangkan kenyataan yang dapat diobservasi sebagai sesuatu yang senantiasa berubah. Sehingga filsafat Plato dikenal dengan nama idealisme. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yg selalu berubah dan dunia idea yg tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yg obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir didalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam konkret dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikan dua pengenalan. pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yg sebenarnya. Pengenalan yg dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat teguh, jelas, dan tidak berubah. Ia juga berpendapat bahwa sebelum dilahirkan dalam tubuh jasmani, jiwa sudah berada dan memandang ide-ide, sekarang jiwa merasa terkurung dalam tubuh dan senantiasa rindu akan memandang bahagia yang dinikmatinya sebelum lahir dalam tubuh, tetapi dalam eksistensi jasmani sekarang. 3. Aristoteles Setelah Plato ada filsuf Ariatoteles yang merupakan murid dari Plato. Aristoteles ada pada tahun 384-322 SM. Walaupun ia murid dari Plato namun pendapatnya sering bertentangan dengan Plato. Aristoteles menganut aliran realisme. Aristoteles lebih kearah ilmu pengetahuan yang sedapat mungkin menyelidiki dan mengumpulkan data kongkret (realisme). Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak dalam suatu "surga" diatas dunia ini, melainkan didalam benda-benda sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi("hyle") dan bentuk("morfe"). Bentuk-bentuk dapat dibandingkan

dengan ide-ide dari Plato. Tetapi pada Aristoteles ide-ide ini tidak dapat dipikirkan lagi lepas dari materi. Materi tanpa bentuk tidak ada. bentuk-bentuk"bertindak"didalam materi. bentuk-bentuk memberi kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besa sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Pokok-pokok pikirannya antara lain bahwa ia berpendapat seseorang tidak dapat mengetahui suatu obyek jika ia tidak dapat mengatakan pengetahuan itu pada orang lain. Spektrum pengetahuan yg diminati oleh Aristoteles luas sekali, barangkali seluas lapangan pengetahuan itu sendiri. Mengenai pengetahuan, Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan induksi dan jalan deduksi, induksi mengandalkan panca indera yg "lemah", sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada deduksi yg dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogisme). 2. Zaman kegelapan (Dark Ages) Pada ujung tarikh sebelum masehi atau masa menuju Masehi (0 Masehi), filsafat semakin lama semakin merosot dominasinya dan semakin kalah. Inilah merupakan zaman kegelapan bagi filsafat ilmu pengetahuan dimana filsafat benar-benar telah mati dan tertutup dari abad 12 sampai abad 13. Filsafat pada abad ini dikuasai oleh keagamaan (Kristiani). Pada masa ini pihak gereja membatasi pemikiran para filosof sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirndoktrin gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad dan akan dihukum berat sampai pada hukuman mati. Terlihat di sini bahwa dominasi gereja sangat kuat. Pada masa ini tokoh gereja telah mengakui dan memberikan kebenaran mutlak pendapat dari Ptolomeus dengan teori geosentris yang menyatakan bahwa bumi sebagai pusat dari tata surya. 3. Zaman Pencerahan (Abad 15 dan 16) Adanya dominasi gereja dan kungkungan gereja terhadap ilmu pengetahuan menimbulkan suatu kebangkitan atau revolusi yang dinamakan dengan rennaisance atau kelahiran kembali. Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam filsafat. Zaman renaisans terkenal dengan era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir seperti pada zaman Yunani kuno. Manusia dikenal sebagai animal rationale, karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai

kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi. Saat itu manusia Barat mulia berpikir secara baru dan berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan Gereja yang selama ini telah mengungkung kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan. Pada zaman renaisans ada banyak penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Di antara tokoh-tokohnya adalah: 1. Nicolaus Copernicus (1473-1543) Ia dilahirkan di Torun, Polandia dan belajar di Universitas Cracow. Walaupun ia tidak mengambil studi astronomi, namun ia mempunyai koleksi buku-buku astronomi dan matematika. Ia sering disebut sebagai Founder of Astronomy. Ia mengembangkan teori bahwa matahari adalah pusat jagad raya dan bumi mempunyai dua macam gerak, yaitu: perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan mengitari matahari. Teori itu disebut heliocentric menggeser teori geosentris. Namun karena masa itu dominasi gereja masih kuat maka pendapat Copernicus yang menentang gereja ini mendapatkan hukuman. Ia dihukum kurungan seumur hidup. Bruno yang merupakan pendeta yang sependapat dengannya pun ikut dihukum. 2. Galileo Galilei (1564-1642) Galileo Galilei adalah salah seorang penemu terbesar di bidang ilmu pengetahuan. Ia menemukan bahwa sebuah peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola, bukan gerak horizontal yang kemudian berubah menjadi gerak vertikal. Ia menerima pandangan bahwa matahari adalah pusat jagad raya. Dengan teleskopnya, ia mengamati jagad raya dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri. Selain itu, ia juga berhasil mengamati bentuk Venus dan menemukan beberapa satelit Jupiter. 3. Francis Bacon (1561-1626) Francis Bacon adalah seorang filosof dan politikus Inggris. Ia belajar di Cambridge University dan kemudian menduduki jabatan penting di pemerintahan serta pernah terpilih menjadi anggota parlemen. Ia adalah pendukung penggunaan scientific methods, ia berpendapat bahwa pengakuan tentang pengetahuan pada zaman dahulu kebanyakan salah, tetapi ia percaya bahwa orang dapat mengungkapkan kebenaran dengan inductive method, tetapi lebih dahulu harus membersihkan fikiran dari prasangka yang ia namakan idols (arca). Bacon telah memberi kita pernyataan yang klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir dalam Idols of the Mind. 4. Zaman Modern (Abad 17-18) Pada abad ke-17 pemikiran renaisans mencapai kesempurnaannya pada diri beberapa tokoh besar. Pada abad ini tercapai kedewasaan pemikiran, sehingga ada kesatuan yang memberi semangat yang diperlukan pada abad-abad berikutnya. Pada masa ini, yang dipandang sebagai sumber pengetahuan hanyalah apa yang secara alamiah dapat dipakai manusia,

yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Sebagai akibat dari kecenderungan berbeda dalam memberi penekanan kepada salah satu dari keduanya, maka pada abad ini lahir dua aliran yang saling bertentangan, yaitu rasionalisme yang memberi penekanan pada rasio dan empirisme yang memberi penekanan pada empiri. a. Rasionalisme Rasionalisme adalah corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat. Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme adalah Rene Descartes (1595-1650). Descartes adalah orang pertama pada zaman modern yang membangun filsafat berdasarkan atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dia pula orang pertama di akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat dan tegas yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci dan bukan yang lainnya. Hal ini disebabkan perasaan tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban. Ia melihat tokohtokoh Gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. Ia ingin filsafat dilepaskan dari dominasi agama Kristen, selanjutnya kembali kepada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal. Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasinya dalam sebuah metode yang sering yaitu kesangsian metodis. Dalam kesangsian metodis, Descartes meragukan segala sesuatu. Ia ragu pada kenyataan disekitarnya. Ragu pada pengetahuannya. Juga ragu pada pengalamannya. Ketika ia ragu pada segala sesuatu, ada satu hal yang tidak dapat diragukan. Hal itu adalah dirinya yang sedang ragu. Dengan demikian jelas bagi Descartes bahwa satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan adalah dia yang meragu. Descartes yang ragu adalah kenyataan yang tidak terbantahkan. Ia ragu, ia berpikir. Ia berpikir, maka ia ada. Adanya dia karena ia berpikir dan sangsi. Descartes menegaskannya dalam kalimat Cogito, ergo sum. Je pense, done je suis. Saya berpikir, maka saya ada. Dalam konstruksi rasionalisme Descartes, akal budi atau rasio dapat mencapai kepastian akan kebenaran tanpa membutuhkan bantuan apapun. Untuk ini, ada tiga hal yang jelas dan tegas (clare et distincte) yaitu Allah, pemikiran (cogito) dan keluasan (extensio). Pemikiran merupakan bagian dari bidang psikologi. Keluasan adalah bidang dari ilmu alam. Dalam diri manusia, kedua hal itu menyatu. b. Empirisme Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak

sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme. Francis Bacon (1561-1626) dan Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Lock menjadikan paham empirisme begitu mendominasi periode ini. Menurut Lock isi otaknya terdiri dari ideide. Ada ide-ide tunggal (simple idea) dan ada ide-ide jamak (complex idea). Ide yang peertama berhubungan langsung dengan pengalaman inderawi. Ide yang kedua merupakan hubungan dari ide-ide yang pertama. Misalnya sebab, akibat, relasi, syarat dan sebagainya hanya dapat diamati melalui kombinasi ide-ide tunggal. Empirisme memuncak pada David Hume (1711-1776). Dua hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesankesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Bagi Hume, aku sebagai pusat pengalaman, kesadaran dan pikiran hanyalah kesan (impression) semata-mata. Kesan merupakan bahan darimana pengetahuan tersusun. Karena itu, kesadaran manusia bukanlah suatu jiwa. Kesadaran hanyalah deretan kontinyu dari kesan-kesan. Menurut Hume Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita. Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita. Pemikiran Hume ini menggelisahkan Immanuel Kant (1724- 1804). Bagi Kant empirisme benar. Namun rasionalisme tidak dapat serta merta dibuang. Karenanya, Kant berupa membuat sintesa atas perang dua aliran filsafat ini. Kant menunjukkan bahwa pegetahuan adalah hasil perpaduan antara pengalaman inderawi dan kemampuan pikiran. Ia membagi tiga tingkatan pengetahuan manusia. Pertama, pengetahuan yang berasal dari pengalaman yang disebutnya Sinneswahrnehmung. Kedua, pengetahuan yang berasal dari akal budi yang disebutnya verstand. Ketiga, pengetahuan yang berasal dari intelektual atau rasio yang disebutnya vernunft. Menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada

hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Kant meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini. 5. Zaman Posmodern (Abad 19) Zaman posmodern dimulai dengan munculnya aliran positivisme. Ajaran positivisme timbul pada abad 19 dan termasuk jenis filsafat abad modern. Kelahirannya hampir bersamaan dengan empirisme. Kesamaan diantara keduanya antara lain bahwa keduanya mengutamakan pengalaman. Perbedaannya, positivisme hanya membatasi diri pada pengalaman-pengalaman yang objektif, sedangkan empirisme menerima juga pengalamanpengalaman batiniah atau pengalaman yang subjektif. Tokoh terpenting dari aliran positivisme adalah August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873), dan Herbert Spencer (1820-1903). August Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis. Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala, sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala. Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu : 1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta 2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup 3. Metode ini berusaha ke arah kepastian 4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan. Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan. Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang kenyataannya lebih daripada sekedar jumlah bagian-bagian yang saling bergantung, tetapi untuk mengerti kenyataan ini, metode

penelitian empiris harus digunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik. Menurut Comte, ilmu pengetahuan bersifat positif apabila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan konkret, tanpa ada halangan dari pertimbangan-pertimbangan lainnya. Dengan demikian, ada kemungkinan untuk memberikan penilaian terhadap berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan jalan mengukur isinya yang positif, serta sampai sejauh mana ilmu tersebut dapat mengungkapkan kebenaran yang positif. Asumsi-asumsi ilmu pengetahuan positiv itu sendiri, antara lain : Pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat obyektif (bebas nilai dan netral) seorang ilmuwan tidak boleh dipengaruhi oleh emosionalitasnya dalam melakukan observasi terhadap obyek yang sedang diteliti. Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulang kali. Ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti tentang fenomena atau kejadian alam dari mutualisma simbiosis dan antar relasinya dengan fenomena yang lain. Hal yang menonjol dari sistem Comte adalah penilaiannya terhadap sosiologi yang merupakan ilmu pengetahuan yang paling kompleks, dan merupakan ilmu pemnegtahuan yang akan berkembang dengan pesat. Sosiologi merupakan studi positif tentanh hukumhukum dasar dari gejala sosial. Comte membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. 6. Zaman Posmodern Posmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern (yang mengutamakan rasio, objektivitas, dan kemajuan). Posmodern memiliki cita-cita, ingin meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah dan perkembangan dalam bidang penyiaran. Posmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan desentralisasi di bidang ekonomi dan teknologi, apalagi hal ini ditambah dengan pengaruh globalisasi. Selain itu, posmodern menganggap media yang ada saat ini hanya berkutat pada masalah yang sama dan saling meniru satu sama lain. Aliran-aliran terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX adalah pragmatisme, utilitarian, kapitalis, hedonisme dan filsafat analitik. Pragmatis mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang akibat-akibatnya bermanfaat secara praktis. Jadi, patokan pragmatisme adalah manfaat bagi kehidupan praktis. Kebenaran mistis diterima, asal bermanfaat praktis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang bermanfaat praktis. William James mengajukan prinsip-prinsip dasar terhadap pragmatisme, sebagai berikut: 1. Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak dapat diprediksi tetapi dunia benar adanya. 2. Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide, tetapi sesuatu yang terjadi pada ideide dalam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata.

3. Bahwa manusia betas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya akan dunia, sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisnya maupun penguasaan ilmu pengetahuannya. 4. Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketententuan yang absolut, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang duinia dimana kita tinggal di dalamnya Posmodernisme muncul untuk meluruskan kembali interpretasi sejarah yang dianggap otoriter. Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita semua berusaha keras untuk mengakui adanya identitas lain yang berada di luar wacana hegemoni. Posmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada kesalahan fatal dengan menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam kerangka genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai banyak sentral). Postmodernisme mengajak kaum kapitalis untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan keuntungan saja, tetapi juga melihat pada hal-hal yang berada pada alur vulgar material yang selama ini dianggap sebagai penyakit dan obyek pelecehan saja. Salah satu perkembangan terbaru dalam ilmu filsafat disebut Filsafat Analitik. Filsafat analitik bukan suatu filafat sistematik sebagaimana idealism, realism, atau pragmatism. Sungguh, kebanyakan ahli filsafat analitik bekerja dengan hati-hati untuk menanggalkan identitas sebagai filsafat sistematis, mereka berpendapat bahwa pendekatan sistem dalam filsafat lebih banyak membawa masalah daripada memberikan solusi kepada masalah-masalah manusia (Knight:1982) . Sebagian besar ahli filsafat analitik mencari cara untuk memperjelas bahasa, konsep-konsep, dan metode-metode yang digunakan secara lebih tepat untuk aktifitas kehidupan , misalnya dalam bidang sains. Usaha-usaha filsafat analitik diperluas dalam bidang lain seperti pendidikan. Postmodernisme sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya merupakan sebuah oto-kritik dalam filsafat Barat yang mengajak kita untuk melakukan perombakan filosofis secara total untuk tidak lagi melihat hubungan antar paradigma maupun antar wacana sebagai suatu dialektika seperti yang diajarkan Hegel. Postmodernisme menyangkal bahwa kemunculan suatu wacana baru pasti meniadakan wacana sebelumnya. Sebaliknya gerakan baru ini mengajak kita untuk melihat hubungan antar wacana sebagai hubungan dialogis yang saling memperkuat satu sama lain. Postmodernisme bukanlah suatu gerakan homogen atau suatu kebulatan yang utuh. Sebaliknya, gerakan ini dipengaruhi oleh berbagai aliran pemikiran yang meliputi Mrxisme Barat, struktualisme Prancis, nihilisme, etnometodogi, romantisisme, popularisme, dan hermeneutika. Heterogenitas inilah yang barangkali menyebabkan sulitnya pemahaman orang awam terhadap postmodernisme. Dalam wujudnya yang bukan merupakan suatu

kebulatan, postmodernisme tidak dapat dianggap sebagai suatu paradigma alternatif yang berpretensi untuk menawarkan solusi bagi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh modernisme, melainkan lebih merupakan sebuah kritik permanen yang selalu mengingatkan kita untuk lebih mengenali esensi segala sesuatu dan mengurangi kecenderungan untuk secara sewenang-wenang membuat suatu standar interpretasi yang belum tentu benar. BAB III KESIMPULAN Dari pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya yaitu mengenai sejarah perkembangan aliran filsafat dapat disimpulkan mengenai perkembangan aliran filsafat. Perkembangan filsafat dimulai sejak peradaban Yunani kuno. Tokoh filsafat yang terkenal yaitu Permenides dan Hiraclitos mereka menganut aliran filsafat yang bertentangan. Pada penghujung tarikh sebelum masehi atau awal masehi berkembang filsafat dari Socrates yang beraliran dialectik yang merupakan pertengahan dari pendapat Permenides dan Heraclitos. Setelah Socrates meninggal muncul Plato yang merupakan murid Socrates dan beraliran idealisme. Filsafat Plato ini bertentangan dengan filsafat Aristoteles yang beraliran realisme. Setelah memasuki abad 12 filsafat mengalami zaman kegelapan karena adanya dominasi dari gereja. Barang siapa yang menentang kebenaran dari gereja maka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Masa ini berlangsung hingga abad 15 dimana mulai ada pencerahan. Zaman ini disebut sebagai zaman pencerahan atau rennaisance yang berarti kelahiran kembali. Zaman ini merupakan awal dari zaman modern. Pada zaman modern muncul dua aliran yang bertentangan yaitu aliran rationalisme yang dicetuskan oleh Rene Descartes dan empirisme yang dicetuskan oleh David Hume. Filsafat berkembang terus hingga lhir aliran Hegelianisme dan Marxisme yang merupakan awal zaman postmodern. Tokoh yang terkenal adalah Immanuel Kant. Kemudian filsafat berkembang terus hingga saat ini menjadi ilmu yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Filsafat dapat diibaratkan berkembang dari mata air hingga kini telah menjadi suatu laut yang dalam.