Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN IBU DENGAN STATUS BERAT BAYI LAHIR DI KECAMATAN PINANG KOTA TANGERANG TAHUN 2013

PRAPROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikna pendidikan metode penelitian pada semester IV D3 Gizi Jurusan gizi

Oleh

Lucia Indah Safitri Nomor Induk Mahasiswa P2.31.31.0.11.022

POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA JURUSAN GIZI 2013

KATA PEGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan rahmatNya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Praproposal Karya Tulis Ilmiah ini tepat pada waktunya. Penyusunan tugas proposal ini banyak mendapatkan masukan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Moesijanti Y.E.S.,MCN.,Ph.D selaku dosen mata kuliah Metode Penelitian yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memberkan saran, bimbingan dalam penyusunan Praproposal Karya Tulis Ilmiah ini. 2. Bapak Moch. Rahmat, SKM,M.Kes selaku dosen mata kuliah Metode Penelitian yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memberkan saran, bimbingan dalam penyusunan Praproposal Karya Tulis Ilmiah ini. 3. Orang tuaku tercinta yang telah memberikan dukungan moril dan materil. 4. Teman-teman Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan jakarta II angkatan 2011. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan Praproposal Karya Tulis Ilmiah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar penyusunan Praproposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat dijadikan Proposal Karya Tulis Ilmiah sesungguhnya.

Jakarta, 23 April 2013 Penulis,

Lucia Indah Safitri

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI ...... KATA PENGANTAR. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1.2 Perumusan Masalah.. 1.3 Tujuan Penelitian... 1.4 Hipotesis................................................................................ 1.5 Manfaat Penelitian..... BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori. 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 Kehamilan. Kebutuhan Gizi Pada Ibu Hamil. 4 4 4 1 2 2 3 3 i ii

Gizi Kurang Pada Ibu Hamil.. 6 Berat Bayi Lahir. 7 14

2.2 Kerangka Konsep..

2.3 Definisi Operasional..... 15

DAFTAR PUSTAKA.... 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut WHO (2007) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 33%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain yaitu berkisar antara 9% - 30%. Menurut Mitayami (2011) faktor penyebab BBLR adalah komplikasi obstetri, komplikasi medis, faktor ibu dan faktor janin. Faktor ibu diantaranya adalah dikarenakan penyakit, usia ibu, keadaan sosial ekonomi dan kondisi ibu saat hamil. Berdasarkan hasil survey di Propinsi Jawa Barat pada tahun 2007 yang mengalami insiden BBLR sebanyak 15,5%-17% dari kelahiran hidup 95% (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, 2007). Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Salah satu cara untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur berat bayi pada saat lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya.

Untuk mengetahui status gizi ibu biasanya menggunakan indeks masa tubuh menurut tinggi badan, dan para ahli dari pusat kesehatan di Universitas Harvard meyakini bahwa tubuh wanita yang berukuran lebih kecil akan menyebabkan beberapa komplikasi selama kehamilan mereka dan mempengaruhi perkembangan bayi dalam rahim, termasuk akan memepengaruhi berat bayi yang dilahirkan. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti antara tinggi badan ibu dengan status berat bayi yang dilahirkan. hubungan

1.2 Perumusan masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka masalah yang diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut, Apakah ada hubungan antara tinggi badan ibu dengan status berat bayi lahir di Kecamatan Pinang Kota Tangerang tahun 2013 ?

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan umum : Mempelajari hubungan antara tinggi badan ibu hamil

dengan status berat bayi lahir. Tujuan khusus 1. 2. 3. : Mengidentifikasi karakteristik tinggi badan ibu Mengidentifikasi karakteristik berat bayi lahir Mengidentifikasi faktor lain yang mempengaruhi berat bayi lahir 4. Mengidentifikasi status berat bayi lahir yang dilahirkan oleh ibu yang memiliki tinggi badan berbeda 5. Menganalisis hubungan antara tinggi badan ibu dengan status berat bayi lahir

1.4 Hipotesis H0 : Tidak ada hubungan antara tinggi badan ibu dengan status bayi yang dilahirkan. Ha : Ada hubungan antara tinggi badan ibu dengan status bayi yang dilahirkan.

1.5 Manfaat penelitian 1. Untuk Peneliti Mengetahui hubungan antara tinggi badan ibu dengan status berat bayi yang dilahirkan. 2. Untuk Lokasi Penelitian Dapat dijadikan informasi kepada ibu, bahwa tinggi badan dapat atau tidak dapat mempengaruhi berat bayi yang dilahirkan. Sehingga ibu-ibu dapat mempersiapkan anak-anaknya untuk memiliki inggi badan yang ideal sesuai usianya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Kehamilan Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari haid pertama haid terakhir.

Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dimulai dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin, 2008; 89). 2.1.2 Kebutuhan Gizi pada Ibu Hamil Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna. Bagi ibu hamil, pada dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan, namun yang seringkali menjadi kekurangan adalah energi protein dan beberapa mineral seperti Zat Besi dan Kalsium. Kebutuhan energi untuk kehamilan yang normal perlu tambahan kira-kira 80.000 kalori selama masa kurang lebih 280 hari. Hal ini berarti perlu tambahan ekstra sebanyak kurang lebih 300 kalori setiap hari selama hamil (Nasution, 1988). Kebutuhan energi pada trimester I meningkat secara minimal. Kemudian sepanjang trimester II dan III kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir

kehamilan. Energi tambahan selama trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu seperti penambahan volume darah, pertumbuhan uterus, dan payudara, serta penumpukan lemak. Selama trimester III energi tambahan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Karena banyaknya perbedaan kebutuhan energi selama hamil, maka WHO menganjurkan jumlah tambahan sebesar 150 Kkal sehari pada trimester I, 350 Kkal sehari pada trimester II dan III. Di Kanada, penambahan untuk trimester I sebesar 100 Kkal dan 300 Kkal untuk trimester II dan III. Sementara di Indonesia berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998 ditentukan angka 285 Kkal perhari selama kehamilan. Angka ini tentunya tidak termasuk penambahan akibat perubahan temperatur ruangan, kegiatan fisik, dan pertumbuhan. Patokan ini berlaku bagi mereka yang tidak merubah kegiatan fisik selama hamil. Sama halnya dengan energi, kebutuhan wanita hamil akan protein juga meningkat, bahkan mencapai 68 % dari sebelum hamil. Jumlah protein yang harus tersedia sampai akhir kehamilan diperkirakan sebanyak 925 g yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta janin. Di Indonesia melalui Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998 menganjurkan penambahan protein 12 g/hari selama kehamilan. Dengan demikian dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 75-100 g (sekitar 12 % dari jumlah total kalori); atau sekitar 1,3 g/kgBB/hari (gravida mature), 1,5 g/kg BB/hari (usia 15-18 tahun), dan 1,7 g/kg BB/hari (di bawah 15 tahun). Bahan pangan yang dijadikan sumber protein sebaiknya (2/3 bagian) pangan yang bernilai biologi tinggi, seperti daging tak berlemak, ikan, telur, susu dan hasil olahannya. Protein yang berasal dari tumbuhan (nilai biologinya rendah) cukup 1/3 bagian. Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. Selama kehamilan seorang ibu hamil menyimpan zat besi kurang lebih 1.000 mg termasuk untuk keperluan janin, plasenta dan hemoglobin ibu sendiri. Berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi Tahun 1998, seorang ibu hamil perlu tambahan zat gizi rata-rata 20 mg perhari. Sedangkan

kebutuhan sebelum hamil atau pada kondisi normal rata-rata 26 mg per hari (umur 20 45 tahun). 2.1.3 Gizi Kurang pada Ibu Hamil Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan berikut ini. 1. Terhadap Ibu Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi. 2. Terhadap Perslinan Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (premature), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat. 3. Terhadap Janin Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan kegururan , abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA), dan mengukur kadar Hb. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10 12 kg, dimana pada trimester I pertambahan kurang dari 1 kg, trimester II sekitar 3 kg, dan trimester III sekitar 6 kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus bertujuan memantau pertumbuhan janin. Pengukuran LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronis (KEK), sedangkan pengukuran kadar Hb untuk mengetahui kondisi ibu apakah menderita anemai gizi. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal.

Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia. 2.1.4 Berat Bayi Lahir Pada umumnya bayi dilahirkan setelah dikandung kurang lebih 40 minggu dalam rahim ibu. Pada waktu lahir bayi mempunyai berat badan sekitar 3 Kg dan panjang badan 50 cm (Solihin Pudjiadi, 2003:11). Secara umum berat bayi lahir yang normal adalah antara 3000 gr sampai 4000 gr, dan bila di bawah atau kurang dari 2500 gr dikatakan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Menurut Jumiarni dkk(1995:73), BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahirankurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram). Dahulu bayi ini diakatakan prematur kemudian disepakati disebut low birth weight infant atau Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Karena bayi tersebut tidak selamanya prematur atau kurang bulan tetapi dapat cukup bulan maupun lebih bulan. Bayi berat lahir rendah merupakan masalah penting dalam

pengelolaannyakarena mempunyai kecenderungan ke arah peningkatan terjadinya infeksi, kesukaran mengatur nafas tubuh rehingga mudah untuk menderita hipotermia. Selain itu bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mudah terserang komplikasi tertentu seperti ikterus,hipoglikomia yang dapat menyebabkan kematian. Kelompok bayi berat lahir rendah yang dapat di istilahkan dengan kelompok resiko tinggi, karena pada bayi berat lahir rendah menunjukan angka kematian dan kesehatan yang lebih tinggi dengan berat bayi lahir cukup.WHO memperkirakan bahwa angka prevalensi BBLR di negara maju terbesarantara 3 7 % dan di negara berkembang berkisar antara 13 38 %. Untuk Indonesia belum ada angka pesat secara keseluruhan, hanya perkiraan WHO pada tahun 1990 adalah 14 % dari seluruh koheren hidup (Sjahmien Moehji, 2003:20).

Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir adalah sebagai berikut (Manuaba, 1998): 1. Faktor Lingkungan Internal Faktor lingkungan internal yaitu faktor yang secara langsung mempengaruhi berat bayi lahir antara lain sebagai berikut : a. Usia Ibu hamil Umur ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 20 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkan dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur. Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat

menanggapi kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi. Selain itu semakin muda usia ibu hamil, maka anak yang dilahirkan akan semakin ringan. Meski kehamilan dibawah umur sangat berisiko tetapi kehamilan diatas usia 35 tahun juga tidak dianjurkan, sangat berbahaya. Mengingat mulai usia ini sering muncul penyakit

seperti hipertensi, tumor jinak peranakan, atau penyakit degeneratif pada persendian tulang belakang dan panggul. Kesulitan lain kehamilan diatas usia 35 tahun ini yakni bila ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas yang ditakutkan bayi lahir dengan persalinan membawa kelainan. Dalam proses

sendiri, kehamilan di usia

lebih ini akan menghadapi

kesulitan akibat lemahnya kontraksi rahim serta sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat bahwa faktor umur memegang peranan penting terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya merencanakan kehamilan pada usia antara 20-30 tahun. b. Jarak Kehamilan/Kelahiran Menurut anjuran yang dikeluarkan oleh badan koordinasi keluarga berencana (BKKBN) jarak kelahiran yang ideal adalah 2 tahun atau lebih, kerena jarak kelahiran yang pendek akan menyebabkan seorang ibu

belum cukup untuk

memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan

sebelumnya. Ini merupakan salah satu faktor penyebab kelemahan dan kematian ibu serta bayi yang dilahirkan. Risiko proses reproduksi dapat ditekan apabila jarak minimal antara kelahiran 2 tahun. c. Paritas Paritas secara luas mencakup gravid atau jumlah kehamilan, premature atau jumlah kelahiran, dan abortus atau jumlah keguguran. Sedang dalam arti khusus yaitu jumlah atau banyaknya anak yang dilahirkan. Paritas dikatakan tinggi bila seorang ibu/wanita melahirkan anak ke empat atau lebih. Seorang wanita yang sudah mempunyai tiga anak dan terjadi kehamilan lagi keadaan kesehatannya akan mulai

menurun, sering mengalami kurang darah (anemia), terjadi perdarahan lewat jalan lahir dan letak bayi sungsang ataupun melintang. d. Kadar Hemoglobin (Hb) Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil sangat mempengaruhi berat bayi yang dilahirkan. Seorang ibu hamil dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya dibawah 11 gr/dl. Hal ini jelas menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil konsepsi, sering terjadi immaturitas, prematuritas, cacat bawaan, atau janin lahir dengan berat badan yang rendah (Depkes RI, 2008). Keadaan ini disebabkan karena kurangnya suplai darah nutrisi akan oksigen pada placenta yang akan berpengaruh pada fungsi plesenta terhadap janin. e. Status Gizi Ibu Hamil Status gizi ibu pada waktu pembuahan dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Selain itu gizi ibu hamil menentukan berat bayi yang dilahirkan, maka pemantauan gizi ibu hamil sangatlah penting dilakukan. Pengukuran antropometri merupakan salah satu cara untuk menilai status gizi ibu hamil. Ukuran antropometri ibu hamil yang paling sering digunakan adalah kenaikan berat badan ibu hamil dan ukuran lingkar lengan atas (LLA) selama kehamilan. Sebagai ukuran sekaligus pengawasan bagi kecukupan gizi ibu hamil bisa di lihat dari kenaikan berat

badannya. Ibu yang kurus dan selama kehamilan disertai penambahan berat badan yang rendah atau turun sampai 10 kg, mempunyai resiko paling tinggi untuk melahirkan bayi dengan BBLR. Sehingga ibu hamil harus

mengalami kenaikan berat badan berkisar 11-12,5 Kg atau 20% dari berat badan sebelum hamil. Sedang Lingkar Lengan Atas (LLA) adalah

antropometri yang dapat menggambarkan keadaan status gizi ibu hamil dan untuk mengetahui resiko Kekurangan Energi Kalori (KEK) atau gizi kurang. Ibu yang memiliki ukuran Lingkar Lengan Atas (LLA) di bawah 23,5 cm berisiko melahirkan bayi BBLR (Depkes RI, 2008). Pengukuran LLA lebih praktis untuk mengetahui status gizi ibu hamil karena alat ukurnya sederhana dan mudah dibawa kemana saja, dan dapat dipakai untuk ibu dengan kenaikan berat badan yang ekstrim. . Para ahli dari pusat kesehatan di Universitas Harvard menemukan

bahwa bahwa tinggi badan wanita berdampak pada ukuran dari rahim atau uterus mereka. Tubuh wanita yang berukuran lebih kecil akan menyebabkan beberapa komplikasi selama kehamilan mereka dan mempengaruhi

perkembangan bayi dalam rahim. f. Pemeriksaan Kehamilan Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah yang timbul selama kehamilan, sehingga kesehatan selama ibu hamil dapat terpelihara dan yang terpenting ibu dan bayi dalam kandungan akan baik dan sehat sampai saat persalinan. Pemeriksaan kehamilan dilakukan agar kita dapat segera mengetahui apabila terjadi gangguan / kelainan pada ibu hamil dan bayi yang dikandung, sehingga dapat segera ditolong tenaga kesehatan (Depkes RI, 2008). g. Penyakit Saat Kehamilan Penyakit pada saat kehamilan yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir diantaranya adalah Diabetes melitus (DM), cacar air, dan penyakit infeksi torch. Penyakit DM adalah suatu penyakit dimana badan tidak sanggup menggunakan gula sebagaimana mestinya, penyebabnya adalah pankreas tidak cukup produksi insulin/tidak dapat gunakan insulin yang

ada.

Akibat

dari

DM

ini mengalami

banyak keguguran, setelah lahir

macamnya diantaranya adalah bagi ibu hamil bisa

persalinan prematur, kematian dalam rahim, bayi mati

(kematian perinatal) karena bayi yang dilahirkan terlalu besar, menderita edem dan kelainan pada alat tubuh bayi (Manuaba, 1998). Penyakit infeksi torch adalah suatu istilah jenis penyakit infeksi yaitu Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit ini sama bahayanya bagi ibu hamil yaitu dapat menganggu janin yang dikandungnya. Bayi yang dikandung tersebut mungkin akan terkena katarak mata, tuli, Hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, paru-paru, dan limpa). Bisa juga mengakibatkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan

mental, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata, dan beberapa jenis penyakit lainnya (Manuaba, 1998).

2. Faktor Lingkungan Eksternal Faktor lingkungan eksternal yaitu meliputi , a. Lingkungan Faktor lingkungan contohnya keadaan emosi yang meninggi sehingga selama beberapa waktu. tekanan dapat disebabkan karena rasa takut, marah, sedih atau iri hati, ataupun karena belum siapnya ibu untuk menghadapi kelahiran anak karena adanya tekanan ekonomi, perkawinan yang bermasalah, keluarga yang tidak menghendaki, dan lain-lain. Radiasi, zat-zat kimia dan resiko-resiko lain di dalam dunia industri modern kita dapat membahayakan janin. Misalnya radiasi dapat menyebabkan mutasigen, suatu perubahan tiba-tiba tetapi permanen di dalam bahan pembawa gen. Ke abnormalan kromosom lebih tinggi di antara anak yang ayahnya terkena radiasi tingkat tinggi di tempat kerja. Polutan lingkungan dan bahan-bahan beracun juga merupakan sumber bahaya bagi anak-anak yang belum lahir. Para peneliti

menemukan bahwa berbagai zat buang (limbah) dan pestisida berbahaya menyebabkan kelainan pada binatang yang terkena dosisi tinggi. Masalah lingkungan yang lain ialah toxoplasmosis,yaitu suatu infeksi ringan yang menyebabkan gejala flu ringan atau suatu penyakit yang tidak jelas pada orang dewasa. Akan tetapi, toxoplasmosis dapat menyebabkan kemungkinan kerusakan mata, kerusakan otak, dan kelahiran prematur. Penyakit ini dibawa oleh kucing apalagi kucing liar yang sering makan daging mentah. Untuk menghindari terkena toxoplasmosis ibu hamil harus mencuci tangan setelah memegang kucing, kotak kotoran, dan daging mentah. Selain itu, ibu hamil harus memastikan bahwa semua daging harus dimasak sebelum memakannya. Selain kondisi lingkung, asupan zat gizi dan tingkat sosial

ekonomi ibu hamil juga dapat berpengaruh terhadap berat bayi yang dilahirkan.

3. Faktor penggunaan sarana kesehatan yang berhubungan frekuensi pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC). Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998). Dan menurut Prawirohardjo (2005), pemeriksaan kehamilan (ANC) merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental.

Dari pengertian diatas maka penulis dapat mengambil kesimpulan tentang pengertian pemeriksaan Antenatal Care yaitu: pemeriksaan ibu hamil untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas,

sehingga keadaan post partum sehat dan normal serta persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar. Menurut Sitorus (1999:7) pemeriksaan kehamilan harus dilakukan ecaraberkala, yaitu : 1) Setiap 4 minggu sekali selama kehamilan 28 minggu 2) Setiap 2 minggu sekali selama kehamilan 28 36 minggu 3) Setiap minggu atau satu kali seminggu selama kehamilan 36 minggu sampai masa melahirkan.Selain dari waktu yang telah ditentukan di atas ibu harus memeriksakan diri apabila terdapat keluhan lain yang merupakan kelainan yang ditemukan.

2.2 Kerangka Konsep

Pola Makan Ibu Selama Hamil Genetik

Penyakit saat hamil

Kenaikan Berat Badan

Status Gizi ibu Berdasarkan Indeks TB/U

Berat Bayi Lahir

Status Gizi Ibu Sebelum Hamil Lingkungan dan sosial ekonomi

Keterangan : = Variabel yang diteliti = Variabel yang tidak diteliti

2.3 Definisi Operasional

No

Nama variabel

Definisi

Cara ukur

Alat ukur

Hasil ukur

Skala ukur

Pola makan ibu selama hamil

Adalah kebiasaan makan makanan tertentu yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan

wawancara

kuesioner

Sering : 56x /minggu

Ordinal

Sedang : 2-3 x /minggu Jarang : 1x /minggu Infeksi Non infeksi Nominal

Penyakit saat hamil

Adalah suatu kondisi terganggunya kesehatan ibu yang dialami selama masa kehamilan

Wawancara Kuesioner

Kenaikan Berat Badan

Adalah peningkatan wawancara massa tubuh ibu selama mengandung dari 0 sampai 9 bulan

keusioner

Kurang : <7 kg Normal : 7-11,5 kg Tinggi : 11,5 kg

Ordinal

Status gizi ibu sebelum hamil

Adalah kondisi tubuh ibu sebelum

Pengukuran Mikrotoise tinggi dengan ketelitian 0,1 cm

Normal : +2 SD Pendek : < - 2 SD

Ordinal

masa konsepsi yang badan dihitung

berdasarkan tinggi badan menurut umur 5 Status gizi ibu selama hamil Adalah kondisi tubuh ibu selama masa kehamilan Wawancara Kuesioner Pengukuran untuk tinggi badan wawancara Mikrotoise untuk pengukuran tinggi badan 6 Berat bayi lahir Adalah massa tubuh yang dimiliki bayi pada saat kelahirannya Wawancara Kuesioner Rendah : >2500 gr Normal : 2500-3200 gr Tinggi : 3200 gr Ordinal Kurang : <18,5 kg/m2 Normal : 18,5-25 kg/m2 Lebih : 25 kg/m2 Ordinal

DAFTAR PUSTAKA

I Dewa Nyoman Supariasa, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: BukuKedokteran EGC Sunita Almatsier. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Sunita Almatsier,dkk.2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Diposting oleh rulam . Tanggal: December 10th, 2012. Pengaruh Status Gizi Ibu Hamil terhadap Bayi yang Dilahirkan. bascommetro.blogspot.com : Faktor yang Mempengaruhi Berat Bayi Lahir