Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipofisis merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong, yang terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. Sela tursika melindungi hipofisa tetapi memberikan ruang yang sangat kecil untuk mengembang. Jika hipofisa membesar, akan cenderung mendorong ke atas, seringkali menekan daerah otak yang membawa sinyal dari mata dan mungkin akan menyebabkan sakit kepala atau gangguan penglihatan. Selain itu banyak gangguan lain yang disebabkan karena kelebihan hormone yang dilepaskan hipofisis yang bisa menghasilkan dampak yang cukup signifikan bagi pasien. Prevalensi antara wanita dan pria tidak berbeda, akan tetapi sebagian besar tumor hipofisis ditemukan pada orang dewasa, namun sekitar 10 % dapat ditemukan pada usia anak maupun remaja. Sementara itu kepustakaan lain menuliskan bahwa tumor hipofisis dapat ditemukan pada semua umur, namun insidennya meningkat dengan semakin meningkatnya usia, dan puncaknya antara dekade ketiga dan kelima. Dengan teknik yang spesifik didapatkan prevalensi mikroadenoma sekitar 20%, setidaknya 1/3 dari tumor tersebut secara klinis penting karena menghasilkan satu atau lebih hormon hipofisis anterior; makroadenoma ditemukan pada 1/555 penduduk berusia diatas dekade keempat. Penyakit adenoma hipofisis ini bukan tergolong penyakit herediter, kecuali pada beberapa kasus jarang dengan adenomatosis multiple endokrin,autosomal dominant trait, dan penyakit tumor pada organ kelenjar lainnya, kondisi ini akan meningkatkan prevalensi terjadinya adenoma hipofisis. Gangguan pada hipofisis dapat memiliki gambaran klinis yang bervariasi. Tergantung dari jenis, besar, dan progresifitas tumor. Adenoma hipofisis seringkali menunjukkan gangguan yang disebabkan oleh hipofungsi atau hiperfungsi dari hormon yang dihasilkan oleh hipofisis anterior sebagai regulator diantaranya :

adrenocorticotropic hormone, growth hormone, luteinizing hormone, prolactin, folliclestimulating hormone, thyroid-stimulating hormone, antidiuretic hormone, melanocytestimulating hormone, oxytocin. Diagnosa pada adenoma hipofisis seringkali terlambat karena kurangnya kewaspadaan, serta gejala dan tanda klinis yang minimal. Dalam dua dekade terakhir, Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 1

terjadi peningkatan insiden yang disebabkan kemajuan pada sarana diagnosis, seperti computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), dan berbagai macam teknik radioimmunoassay baru untuk pemeriksaan hormon. Korelasi antara temuan klinis, anatomis dan hormonal, review gambaran radiologi (terutama MRI) sangatlah akurat dugunakan dalam membuat diagnosis adenoma hipofisis. (http://ojs.unud.ac.id)

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Apa pengertian Hiperpituitarisme? 1.2.2 Bagaimana etiologi Hiperpituitarisme? 1.2.3 Bagaimana gejala klinis Hiperpituitarisme? 1.2.4 Bagaimana patofisiologi Hiperpituitarisme? 1.2.5 Bagaimana penatalaksanaan Hiperpituitarisme?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum Mampu menjelaskan dan membuat asuhan keperawatan pada klien dengan hiperpituitari. 2. Tujuan Khusus 1. Menjelaskan definisi dari Hiperpituitarisme. 2. Menjelaskan etiologi dari Hiperpituitarisme. 3. Menjelaskan manifestari klinis dari Hiperpituitarisme. 4. Menjelaskan patofisiologi dari Hiperpituitarisme. 5. Menjelaskan penatalaksanaan dari Hiperpituitarisme.

1.4 Manfaat
Makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa agar lebih memahami tentang konsep penyakit hiperpitutari, Mendapatkan pengetahuan tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan hiperpitutari, serta makalah ini juga bermanfaat untuk kelangsungan proses belajar yang dilakukan secara SDG. Sehingga mahasiswa bisa lebih berkompeten.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Hifofisis 2.1.1 Definisi Hipofisis merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong, yang terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. Sela tursika melindungi hipofisa tetapi memberikan ruang yang sangat kecil untuk mengembang. Jika hipofisa membesar, akan cenderung mendorong ke atas, seringkali menekan daerah otak yang membawa sinyal dari mata dan akan menyebabkan sakit kepala atau gangguan penglihatan. Hipofisa mengendalikan fungsi dari sebagian besar kelenjar endokrin lainnya. Hipofisa dikendalikan oleh hipotalamus, yaitu bagian otak yang terletak tepat diatas hipofisa. Hipotalamus dan hipofisis dihubungkan oleh sistem portal hipotalamo-hipofisis. Melalui sistem tersebut releasing hormon dari hipotalamus mencapai hipofisis, shg hipofisis mudah melepaskan hormon-hormon. Hipofisa memiliki 2 bagian yang berbeda, yaitu lobus anterior (depan) dan lobus posterior (belakang).

Hipotalamus mengendalikan lobus anterior (adenohipofisa) dengan cara melepaskan faktor atau zat yang menyerupai hormon, melalui pembuluh darah yang secara langsung menghubungkan keduanya. Pengendalian lobus posterior

(neurohipofisa) dilakukan melalui impuls saraf.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

Dengan mengetahui kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar yang berada dibawah kendali hipofisa (kelenjar target), maka hipotalamus atau hipofisa bisa menentukan berapa banyak perangsangan atau penekanan yang diperlukan oleh hipofisa sesuai dengan aktivitas kelenjar target. Hormon yang dihasilkan oleh hipofisa (dan hipotalamus) tidak semuanya dilepaskan terus menerus. Sebagian besar dilepaskan setiap 1-3 jam dengan pergantian periode aktif dan tidak aktif. A. Fungsi Lobus Anterior Lobus anterior merupakan 80% dari berat kelenjar hipofisa. Bagian ini melepaskan hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan fisik yang normal atau merangsang aktivitas kelenjar adrenal, kelenjar tiroid serta indung telur atau buah zakar. Jika hormon yang dilepaskan terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka kelenjar endokrin lainnya juga akanmelepaskan hormon yang terlalu banyak atau terlalu sedikit. Lobus anterior menghasilkan hormon yang pada akhirnya mengendalikan produksi dari semua organ endokrin lain.antara lain: 1) GH/growth hormone/ hormon pertumbuhan/somatotropik hormone/STH Sekresi dirangsang oleh growth hormone releasing hormone/GHRH (dari hipotalamus). GH diperlukan untuk: Pertumbuhan somatik dan mempertahankan ukuran yang telah dicapai. Mampu meningkatkan metabolisme lemak Dapat meningkatkan aliran gula ke otot dan lemak,merangsang pembentukan protein di hati dan otot serta memperlambat pembentukan jaringan lemak,dan mengaktifkan faktor pertumbuhan yang menyerupai insulin. Efek jangka panjang dari hormon pertumbuhan adalah menghambat pengambilan dan pemakaian gula sehingga kadar gula darah meningkat dan meningkatkan pembentukan lemak dan kadar lemak dalam darah. Kedua efek tersebut sangat penting karena tubuh harus menyesuaikan diri dengan kekurangan makanan ketika berpuasa dan dapat digunakan sebagai cadangan sumber energi. 2) ACTH ( adenocorticotropic hormone ) Pelepasan ACTH dipengaruhi oleh cortricotropin releasing hormone dari hipotalamus. Berfungsi: Merangsang pertumbuhan dan fungsi korteks adrenal untuk mengatur produksi kortisol dan beberapa steroid yang menyerupai testosteron (androgenik). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 4

Tanpa kortikotropin,kelenjar adrenal akan mengkisut (atrofi) dan berhenti menghasilkan kortisol, sehingga terjadi kegagalan kelenjar adrenal. Beberapa hormon lainnya dihasilkan secara bersamaan dengan kortikotropin, yaitu beta-melanocyte stimulating hormone, yang mengendalikan pigmentasi kulit serta enkefalin dan endorfin, yang mengendalikan persepsi nyeri, suasana hati dan kesiagaan. 3) TSH (thyroid-stimulating hormone) / hormon tirotropin Pelepasan TSH dipengaruhi oleh thyrotropin releasing hormon (TRH) dari hipotalamus. Berfungsi: Merangsang pertumbuhan Merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid Terlalu banyak TSH menyebabkan pembentukan tiroid yang berlebihan (hipertiroidisme), terlalu sedikit TSH menyebakbn berkurangnya pembentukan hormon tiroid (hipotiroidisme). 4) LH (luteinizing hormone)/ interstisial cell stimulating hormone ( ICSH ) Merupakan gonadotropin,pada laki-laki LH berfungsi merangsang sekresi testosteron oleh sel leydig (sel interstitial testis). Pada wanita LH mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron oleh korpus luteum dalam ovarium, merangsang pelepasan sel telur setiap bulannya dari indung telur& untuk pembentukan folikel de graff dalam ovarium. 5) FSH (follicle-stimulating hormone) Merupakan gonadotropin. Pada wanita, FSH merangsang pembentukan estrogen oleh sel sel folikel dan progesteron,merangsang pelepasan sel telur setiap bulannya dari indung telur dan untuk merangsang pembentukan folikel de graff dalam ovarium. Pada laki-laki, FSH berfungsi merangsang tubulus seminiferus untuk meningkatkan pembentukan sperma. 6) Hormon prolaktin/ luteotrofin Pelepasannya dipengaruhi oleh prolactin releasing hormon/PRH. Berfungsi : mengendalikan sekresi air susu, dan memepertahankan adanya korpus luteum selama hamil. merangsang

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

B. Fungsi Lobus Posterior Lobus posterior hanya menghasilkan 2 macam hormon, yaitu hormon antidiuretik dan oksitosin. Sesungguhnya kedua hormon ini dihasilkan oleh sel-sel saraf di dalam hipotalamus; sel-sel saraf ini memiliki tonjolan-tonjolan (akson) yang mengarah ke hipofisa posterior, dimana hormon ini dilepaskan. Hormon antidiuretik dan oksitosin tidak merangsang kelenjar endokrin lainnya, tetapi langsung mempengaruhi organ target. Hormon antidiuretik (disebut juga vasopresin) meningkatkan penahanan air oleh ginjal. Hormon ini membantu tubuh menahan jumlah air yang memadai. 1. Hormon antidiuretik (vasopresin) Pelepasan ADH dipengaruhi keadaan kurang cairan/dehidrasi. Sel targetnya adalah tubulus dan arteriol.berfungsi : Meningkatkan TD Meningkatkan absorsi di tubulus distal Menurunkan krja otot saluran GI Meningkatkan penahanan air oleh ginjal Hormon ini membantu tubuh menahan jumlah air yang memadai.Jika terjadi dehidrasi, maka reseptor khusus di jantung, paru-paru. Otak dan aorta, mengirimkan sinyal kepada kelenjar hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak hormon antidiuretik. Kadar elektrolit (misalnya natrium, klorida dan kalium) dalam darah harus dipertahankan dalam angka tertentu agar sel-sel berfungsi secara normal. Kadar elektrolit yang tinggi (yang dirasakan oleh otak) akan merangsang pelepasan hormon antidiuretik. Pelepasan hormon antidiuretik juga dirangsang oleh nyeri, stress, olah raga, kadar gula darah yang rendah, angiotensin, prostaglandin dan obat-obat tertentu (misalnya klorpropamid, obat-obat kolinergik dan beberapa obat yang digunakan untuk mengobati asma dan emfisema). Alkohol, steroid tertentu dan beberapa zat lainnya menekan pembentukan hormon antidiuretik. Kekurangan hormon ini menyebabkan diabetes insipidus, yaitu suatu keadaan dimana ginjal terlalu banyak membuang air. 2. Hormon Oksitosin Pelepasan oksitosin dipengaruhi oleh hisapan dan persalinan. Sel targetnya adalah uterus dan payudara. Berfungsi : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 6

Menyebabkan kontraksi rahim selama proses persalinan dan segera setelah persalinan untuk mencegah perdarahan. Merangsang kontraksi sel-sel tertentu di payudara yang mengelilingi kelenjar susu. Pengisapan puting susu merangsang pelepasan oksitosin oleh hipofisa. Sel-sel

di dalam payudara berkontraksi, sehingga air susu mengalir dari dalam payudara ke puting susu. Jika terjadi dehidrasi, maka reseptor khusus di jantung, paru-paru. Otak dan aorta, mengirimkan sinyal kepada kelenjar hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak hormon antidiuretik. Kadar elektrolit (misalnya natrium, klorida dan kalium) dalam darah harus dipertahankan dalam angka tertentu agar sel-sel berfungsi secara normal. Kadar elektrolit yang tinggi (yang dirasakan oleh otak) akan merangsang pelepasan hormon antidiuretik. Pelepasan hormon antidiuretik juga dirangsang oleh nyeri, stress, olah raga, kadar gula darah yang rendah, angiotensin, prostaglandin dan obat-obat tertentu (misalnya klorpropamid, obat-obat kolinergik dan beberapa obat yang digunakan untuk mengobati asma dan emfisema). Alkohol, steroid tertentu dan beberapa zat lainnya menekan pembentukan hormon antidiuretik. Kekurangan hormon ini menyebabkan diabetes insipidus, yaitu suatu keadaan dimana ginjal terlalu banyak membuang air. Oksitosin menyebabkan kontraksi rahim selama proses persalinan dan segera setelah persalinan untuk mencegah perdarahan. Oksitosin juga merangsang kontraksi sel-sel tertentu di payudara yang mengelilingi kelenjar susu. Pengisapan puting susu merangsang pelepasan oksitosin oleh hipofisa. Sel-sel di dalam payudara berkontraksi, sehingga air susu mengalir dari dalam payudara ke puting susu.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa : No 1. Hormon Hormon pertumbuhan (growth hormone) GH/ somatotropin Location Otot & tulang Function meningkatkan pertumbuhan dengan mempengaruhi beberapa fungsi metabolisme seluruh tubuh, khususnya pembentukan protein 2. Prolaktin hormon adenokortikotropik (ACTH) Kelenjar adrenal mengatur sekresi beberapa hormon korteks adrenal, yang selanjutnya mempengaruhi metabolisme glukosa, protein, dan lemak. 3. Hormon stimulasi tiroid (TSH) Tiroid mengatur kecepatan sekresi tiroksin oleh kelenjer tiroid, dan tiroksin selanjutnya mengatur kecepatan sebagian besar reaksi reaksi kimia seluruh tubuh 4. Prolaktin Kelenjar susu meningkatkan perkembangan kelenjar mammae dan pembentukan susu 5 hormon luteinisasi (LH) 6. hormon stimulasi folikel (FSH) 7 Oksitosin Indung telur (buah zakar) Indung mengatur pertumbuhan gonad serta aktivitas reproduksinya.

telur mengatur pertumbuhan gonad serta aktivitas reproduksinya. Berperan dalm proses persalinan bayi dan laktasi Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam urin dan dengan cara ini membantu mengatur konsentrasi air dalam cairan tubuh.

(buah zakar) Rahim & kelenjar susu

8.

Hormon antidiuretik (vasopresin)

Ginjal

(Long C. Barbara,1985)

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

2.2 Konsep Penyakit Hiperpituitarisme 2.2.1 Definisi Hiperfungsi kelenjar hipofisis atau sering disebut hiperpituitarisme yaitu suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi hipofisis sehingga menyebabkan peningkatan sekresi salah satu hormon hipofisis atau lebih.( Rumahorbo, Hotma. 1999). Hiperpituitarisme adalah eksresi berlebihan hormone hipofisis anterior.Biasanya mengenai hanya satu jenis hormone hipofisis.Hormon-hormon hipofisis lainnya sering dikeluarkan dalam kadar yang lebih rendah.(Corwin.Elizabeth J,2000). Hiperpituitarisme yaitu kelebihan dari hipofise depan yang disebabkan karena adenoma.(Kumar dan Robbins,1995) 2.2.2 Etiologi Hiperpituitari dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar hipofisis atau hipotalamus, penyebab mencakup : Adenoma primer salah satu jenis sel penghasil hormone, biasanya sel penghasil GH,ACTH atau prolakter. Tidak ada umpan balik kelenjar sasaran, misalnya peningkatan kadar TSH terjadi apabila sekresi kelenjar tiroid menurun atau tidak ada. (Buku Saku Patofisiologis, Elisabeth, Endah P. 2000. Jakarta : EGC). 2.2.3 Manifestasi klinis Perubahan bentuk dan ukuran tubuh serta organ organ dalam (seperti tangan, kaki, jari jari tangan, lidah, rahang, kardiomegali). Impotensi Visus berkurang Nyeri kepala dan somnolent Perubahan siklus menstruasi (pada klien wanita), infertilitas. Libido seksual menurun Kelemahan otot, kelelahan dan letargi (Hotman Rumahardo, 2000 : 39) Tumor yang besar dan mengenai hipotalamus: suhu tubuh, nafsu makan dan tidur bisa terganggu, serta tampak keseimbangan emosi. Gangguan penglihatan sampai kebutaan total.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

2.2.4 Patofisiologi Hiperfungsi hipofise dapat terjadi dalam beberapa bentuk bergantung pada sel mana dari kelima sel-sel hipofise yang mengalami hiperfungsi. Kelenjar biasanya mengalami pembesaran disebut adenoma makroskopik bila diameternya lebih dari 10 mm atau adenoma mikroskopik bila diameternya kurang dari 10 mm, yang terdiri atas 1 jenis sel atau beberapa jenis sel. Adenoma hipofisis merupakan penyebab utama hiperpituitarisme.penyebab adenoma hipofisis belum diketahui. Adenoma ini hampir selalu menyekresi hormon sehingga sering disebut functioning tumor. Kebanyakan adalah tumor yang terdiri atas sel-sel penyekresi GH,ACTH dan prolaktin. Tumor yang terdiri atas sel-sel pensekresi TSH-,LH- atau FSH- sangat jarang terjadi. Functioning tumor yang sering di temukan pada hipofisis anterior adalah: 1. Prolactin-secreting tumors ( tumor penyekresi prolaktin ) atau prolaktinoma. Prolaktinoma (adenoma laktotropin) biasanya adalah tumor kecil, jinak, yang terdiri atas sel-sel pensekresi prolaktin. Gejala khas pada kondisi ini sangat jelas pada wanita usia reproduktif dan dimana terjadi tidak menstruasi, yang bersifat primer dan sekunder, galaktorea (sekresi ASI spontan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan), dan infertilitas. 2. Somatotroph tumors ( hipersekresi pertumbuhan ) Adenoma somatotropik terdiri atas sel-sel yang mengsekresi hormon

pertumbuhan. Gejalah klinik hipersekresi hormon pertumbuhan bergantung pada usia klien saat terjadi kondisi ini. Misalnya saja pada klien prepubertas,dimana lempeng epifise tulang panjang belum menutup, mengakibatkan pertumbuhan tulang-tulang memanjang sehingga mengakibatkan gigantisme. Pada klien postpubertas, adenoma somatotropik mengakibatkan akromegali, yang ditandai dengan perbesaran ektremitas ( jari, tangan, kaki ), lidah, rahang, dan hidung. Organ-organ dalam juga turut membesar ( misal; kardiomegali). Kelebihan hormon pertumbuhan menyebabkan gangguan metabolik, seperti hiperglikemia dan hiperkalsemia. Pengangkatan tumor dengan pembedahan merupakan pengobatan pilihan. Gejala metabolik dengan tindakan ini dapat mengalami perbaikan, namun perubahan tulang tidak mengalami reproduksi. 3. Corticotroph tumors ( menyekresi ardenokortikotrofik /ACTH ) Adenoma kortikotropik terdiri atas sel-sel pensekresi ACTH. Kebanyakan tumor ini adalah mikroadonema dan secara klinis dikenal dengan tanda khas penyakit Cushings. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 10

Ada dua perubahan fisiologis karena tumor hipofisis: 1. 2. Perubahan yang timbul karena adanya space-occupying mass dalam kranium. Perubahan yang di akibatkan oleh hipersekresi hormone dari tumornya itu sendiri. Adenoma hipofisis adalah adenoma intraselular (tumor didalam sella tursika ), dengan besar diameter kurang dari 1cm dengan tanda-tanda hipersekresi hormone. Klasifikasi hipofisis/ adenoma hipofisis. 1. 2. 3. 4. Encapsulated (tidak ada metastasis dalam sella tursika ) Invasive ( sella tursika rusak karena metastasis ) Mikroadenoma ( encapsulate tumor dengan diameter kurang dari 10 mm ) Makroadenoma ( encapsulate tumor dengan diameter lebih dari 10mm). Tumor ini bisa sampai ke suprasellar. Perubahan neorologis bisa terjadi akibat tekanan jaringan tumor yang semakin membesar.tekanan ini bisa terjadi saraf optic, saraf karnial III (okulomotor ), saraf karnial IV ( troklear), dan saraf karnial V (trigeminal).tumor yang sangat besar bisa menginfiltrasi hipotalamus. 2.2.5 Penatalaksanaan A. Non Pembedahan a. Klien dengan kelebihan GH - Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap perubahan penampilan tubuhnya - Bantu klien mengidentifikasi kekuatannya serta segi-segi positif yang dapat dikembangkan oleh klien. b. Klien dengan kelebihan prolaktin - Yakinkan klien bahwa sebagian gejala dapat berkurang dengan pengobatan (ginekomastia, galaktorea). - Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya. (Rumahorbo, Hotma. 1999) B. Pemberian Obat-Obatan a. Kolaborasi pemberian obat-obat seperti: Bromokriptin(Parlodel). Merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin. Pada mikro adenoma, prolaktin dapat normal kembali. Juga diberikan pada klien dengan akromegali untuk mengurangi ukuran tumor.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

11

b. Observasi efek samping pemberian bromokriptin, seperti : hipotensi ortostatik, iritasi lambung, mual, kram abdomen,konstipasi. Bila ada efek samping diatas kolaborasi dengan dokter. Berikan obat-obatan setelah klien makan (tidak diberikan diantara waktu makan). c. Kolaborasi pemberian terapi radiasi. Tetapi radiasi tidak diberikan pada hiperpituitarisme akut. Partikel alfa atau proton beam sebagai sumber radiasi lebih efektif tetapi responsnya lambat. d. Awasi efek samping terapi radiasi, seperti: hipopituitarisme, kerusakan nervus optikus, disfungsi okulomotorius, dan perubahan lapang pandang. e. Kolaborasi tindakan pembedahan. (Rumahorbo, Hotma. 1999) C. Terapi a. Adenomektomi Adenomektomi transvenoid lebih sering dipilih untuk tumor intrasela yang tanpa perluasan subrasela yang bermakna,tetapi suatu pendekatan tranfrontal mungkin diperlukan untuk tumor suprasela yang terjadinya kegagalan hipofisis anterior dan DM insipidus secara cepat. .(Stein,Jay H,1998) b. Terapi radiasi Dengan dosis 5000 rad atau kurang pada daerah intra atau supra sela (atau keduanya)digunakan baik sebagai alternative atau sebagai tambahan untuk pembedahan.Radiasi dapat disertai komplikasi berupa terjadinya hipopiutarisme secara perlahan-lahan.(Stein,Jay H,1998) c. Terapi medis Pada adenoma hipofisis dengan dompamin agonis bromokriptin dapat bermanfaat terutama pada pengobatan prolaktinoma.(Stein,Jay H,1998) 2.2.6 Data Penunjang 1. Adenoma hiposisis A. Radiollogi 1. Radiograf tengkorak. Radiograf lateral dan radiograf anteroposterior tengkorak bermanfaat untuk melihat pembesaran sela dan erosi komponen tulang sela oleh tumor. Kalsifikasi intra- atau suprasela pada radiograf tengkorak ditemukan pada adenoma hipofisis tetapi lebih sering menunjukkan kraniofaringioma, yang Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 12

merupakan tumor jinak, sering berpa kista, yang berasal dari batang hipofisis. Kelainan sela yang terlihat pada radiograf tengkorak rutin diperiksa lebih lanjut dengan MRI atau CT scan. 2. MRI dan CT scan adalah prosedur radiologi yang paling bermanfaat untuk memperlihatkan tumor intrasela dan, terutama, perluasan suprasela. Pada MRI atau CT scan beresolusi tinggi, kepadatan tumor intrasela dapat dibedakan dengan sela yang berisi cairan pada sindrom kekosongan sela , suatu keadaan linak berupa pembesarann sela pada radiograf polos (plain radiograph) yang biasanya ditemukan pada wanita yang kegemukan. 3. Pneumoensefalografi dan angiografi karotid kadang-kadang digunkan dalam pemeriksaan prabedah bila tedapat kecirigaan adanya tumor hipofisis. B. Pengujian bidang visual dengan perimetri Goldmann memungkinkan pemeriksaan noninvasif pada kelainan lapangan pandang akibat perluasan tumor suprasela dan komprasi kiasme optik. C. Pemeriksaan endokrin pada sindrom hiperskresi dan hipofungsi yang yang berkaitan dengan adenoma hipofisis diuraikan dibawah ini pada bagian adrenal hiperskresi ACTH (penyakit cushing). 2. Kelebihan GH (akromegali) A. Radiologi Radiograf kepala, tangan,dan kaki memperlihatkan penebalan tulang dan pembengkakan jaringan lunak. B. Pemeriksaan Laboraturium 1. Kadal hormone basal. GH plasma biasanya meningkat (normal < 5 ng/ml) IGF-1 serum (somatomedin C) meningkat (orang dewasa normal, 200 ng/ml) sekalipun nilainilai GH basal kurang jelas. Kadar PRL mungkin juga meningkat. 2. Respons hormon pertumbuhan terhadap glukosa oral Karena hiperglikemia biasanya menekan sekresi GH, pengukuran GH selama uji toleransi glukosa standar digunakan untuk menyingkirkan diagnosis akromegali. Minuman yang mengandung 100 g glukosa diberikan, dan contoh darah untuk glukosa dan GH diambil sebelum glukosa diberikan dan pada saat , 1, 2, 3, 4, dan 5 jam. Respons GH adalah normal bila ada penurunan hingga kurang dari 2ng/ml dalam 2 jam; kadar GH pada orang normal dapat meningkat lagi dalam 4-5 jam menjadi lebih dari 7 ng/m, terutama kalau terjadi hipoglikemia Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 13

reaktif. Pada beberapa penderita akromegali, meningkatnya kadar GH basal dapat berkurang sebagai respons terhadap penekanan glukosa tetapi jarang kurang dari 2 ng/ml. 3. Kelebihan Hormon Prolaktine A. Diagnosis Prolaktinoma di dasarkan pada terlihatnya peningkatan PRL serum basal tanpa kemungkinan adanya penyebab lain yang menyebabkan hiperprolaktinemia. PRL serum yang lebih dari 300 ng/ml sangat mengarah pada adenoma hipofisis yang mengsekresi PRL, karena keadaan lain biasanya perbaikan dengan penurunan PRL. MRI atau CT scan dapat di gunakan untuk memastikan adanya adenoma hipofisis. B. Diagnostik Banding Hiperprolaktinemia mencakup beberapa penyebab selain prolaktinoma. Tumor pensekresi non prolaktine atau proses infiltrative lain pada hipofisis atau hipotalamus dapat menaikkan kadar PRL denagan menjepit batang hipofisis dan menghambat suplai dopamine darah portal. Hiperprolaktinemia juga terjadi pada hipotirodisme primer, pada keadaan hiperestrogenetik (terutama selama kehamilan dan terapi kontraseptif oral), pada akromegali, dan sebagai respon terhadap cedera dinding dada. Berbagai jenis obat menaikkan kadar PRL dengan menghambat sintesis atau kerja dopamine atau dengan meningkatkan metabolisme dopamine; obat ini antara lain obat psikotropik (fenotiazin, haloperidol), antidepresan trisiklik, anti hipertensi (netildopa, reserpin), dan antiemetik(metoklopramid ).

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

14

2.3 Beberapa Jenis Syndrome Hyperpituitary 2.3.1 SIADH (Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone) A. Definisi Kumpulan gejala akibat gangguan hormon antidiuretik, Gangguan produksi hormon antidiuretik ini menyebabkan retensi garam atau hiponatremia. Ahli Patologi klinik juga akan mencari data labor lain yang berhubungan dengan osmolaritas serum, peningkatan gravitas urin, edema atau dehidrasi, hiponatremia dan peningkatan hormon plasma vasopresin. Biasanya fungsi adrenal, tyroid dan ginjal dalam batas normal. Hal lain kadang gejala SIADH berhubungan dengan trauma kepala atau tumor, dimana patologi akan mengambil biopsi untuk memastikannya. B. Etiologi SIADH sering terjadi pada pasien gagal jantung atau dengan gangguan hipotalamus (bagian dari otak yang berkoordinasi langsung dengan kelenjar hipofise dalam memproduksi hormone). Pada kasus lainnya, missal: beberapa keganasan (ditempat lain dari tubuh) bisa merangsang produksi hormon anti diuretik, terutama keganasan di paru dan kasus lainnya seperti dibawah ini: Meningitis peradangan pada meningens, selaput pelindung otak dan saraf spinalis. Encephalitis peradangan dijaringan otak. Tumor otak Psikosis Penyakit paru Trauma kepala Guillain-Barr syndrome (GBS) keadaan reversible yang menyerang jaringan syaraf, menyebabkan lemah otot, nyeri dan paralisa temporer di wajah dan otot kaki dan paralisa di bagian dada bisa menganggu proses bernafas. Penggunaan obat tertentu Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofise saat pembedahan.

C. Manifestasi klinis : Pada kasus SIADH berat, gejalanya meliputi:: Nausea Muntah 15

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

Irritability Perubahan prilaku seperti meracau, bingung dan halusinasi, Seizures Stupor Koma

D. Patofisiologi Salah satu rangsangan yang menyebabkan sekresi ( vasopresin) menjadi kuat adalah penurunan valume darah. Keadaan ini terjadi secara hebat terutama saat volume darah turun 15 25 persen, dengan kecepatan sekresi meningkat sering sampai 50 kali dari normal. Penyebab peningkatan ini adalah atrium, terutama atrium kanan, mempunyai reseptor regang yang di bangkitkan, reseptor akan mengirimkan sinyal ke otak untuk menghambat sekresi ADH. Sebaliknya, bila tidak dibangkitkan akibat tidak penuhnya pengisian, terjadi proses yang berlawanan, dengan peningkatan sekresi ADH yang sangat besar. Lebih lanjut, di samping reseptor regangan atrium, penurunan regangan baroreseptor pada daerah karotid, aortik dan pulmonari dalam peningkatan sekresi ADH. Sekresi darah yang terlalu banyak ke dalam atrium dapat terjadi pada jantung yang kardiomegali. Atrium yang mebesar tanpa di ikutioleh katup katupnya membuat darah menumpuk pada atrium atrium dan akhirnya terjadilah gagal jantung. 2.3.2 Galaktore A. Definisi Galaktore adalah pembentukan air susu pada pria atau wanita yang tidak sedang dalam masa menyusui. B. Etiologi Penyebabnya adalah prolaktinoma (tumor yang menghasilkan prolaktin) pada kelenjar hipofisa. Pada saat terdiagnosis biasanya prolaktinoma ini ukurannya kecil, tetapi pada pria tumor ini cenderung membesar.Pembentukan prolaktin yang berlebihan dan terjadinya galaktore juga bisa dirangsang oleh obat-obatan seperti fenotiazin, obat tertentu untuk tekanan darah tinggi (terutama metildopa) dan narkotik. Penyebab lainnya yang mungkin adalah hipotiroidisme.gagl ginjal dan efek samping obat bisa menjadi faktor penyebab.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

16

C. Manifestasi klinis Gangguan siklus menstruasi atau siklusnya berhenti. Wajah tampak merah Vagina kering sehingga terjadi gangguan dalam melakukan hubungan seksual. Penderita pria mengalami sakit kepala atau kehilangan lapang pandang perifernya Sekitar 2/3 penderita pria kehilangan gairah seksualnya dan menjadi impoten. D. Patofisiologi Kelebihan prolaktin hampir selalu di sebabkan oleh adenoma hipofise, biasanya berupa mikrokardenoma (diameter tumor kurang dari 1 cm). Atau disfungsi hipotalamus. Dopamin merupakan inhibitor hipotalamik primer untuk pelepasan prolaktin terputusnya trasnmisi dopamin kehipofise dapat menyebabkan prolaktin berlebihan. 2.3.3 Gigantisme A. Definisi Gigantisme adalah pertumbuhan abnormal dari seluruh tubuh karena kelenjar hypophysis memproduksi hormon berlebihan. Hipofisis adalah kelenjar seukuran biji kacang tanah dan menggantung dari otak, terbaring di sebelah dalam tulang pelipis dekat bola mata. Penyakit ini ditandai oleh pembesaran dan penebalan tulang dahi, rahang, kaki, dan tangan secara berangsur. Penyakit ini berlangsung lambat dan baru diketahui setelah penderita memasuki usia menengah kelainan yang disebabkan oleh karena sekresi Growth Hormone (GH) yang berlebihan dan terjadi sebelum dewasa atau sebelum proses penutupan epifisis. B. Etiologi Gigantisme Primer atau Hipofisis, di mana penyebabnya adalah adenoma hipofisis Gigantisme Sekunder atau hipothalamik, disebabkan oleh karena hipersekresi GHRH dari Hipothalamus. Gigantisme yang disebabkan oleh tumor ektopik (paru, pankreas, dll) yang mensekresi GH atau GHRH. Gigantisme disebabkan oleh sekresi GH yang berlebihan. Keadaan ini dapat diakibatkan tumor hipofisis yang menyekresi GH atau karena kelainan hipotalamus yang mengarah pada pelepasan GH secara berlebihan. Gigantisme dapat terjadi bila keadaan kelebihan hormone pertumbuhan terjadi sebelum lempeng epifisis tulang menutup atau masih dalam masa pertumbuhan. Penyebab kelebihan produksi hormone Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 17

pertumbuhan terutama adalah tumor pada sel-sel somatrotop yang menghasilkan hormone pertumbuhan. C. Patofisiologi Sel asidofilik, sel pembentuk hormone pertumbuhan di kelenjar hipofisis anterior menjadi sangat aktif atau bahkan timbul tumor pada kelenjar hipofisis tersebut. Hal ini mengakibatkan sekresi hormone pertumbuhan menjadi sangat tinggi. Akibatnya, seluruh jaringan tubuh tumbuh dengan cepat sekali, termasuk tulang. Pada Gigantisme, hal ini terjadi sebelum masa remaja, yaitu sebelum epifisis tulang panjang bersatu dengan batang tulang sehingga tinggi badan akan terus meningkat (seperti raksasa). Biasanya penderta Gigantisme juga mengalami hiperglikemi. Hiperglikemi terjadi karena produksi hormone pertumbuhan yang sangat banyak menyebabkan hormone pertumbuhan tersebut menurunkan pemakaian glukosa di seluruh tubuh sehingga banyak glukosa yang beredar di pembuluh darah. Dan sel-sel beta pulau Langerhans pancreas menjadi terlalu aktif akibat hiperglikemi dan akhirnya sel-sel tersebut berdegenerasi. Akibatnya, kira-kira 10 persen pasien Gigantisme menderita Diabetes Melitus. Pada sebagian besar penderita Gigantisme, akhirnya akan menderita

panhipopitutarisme bila Gigantisme tetap tidak diobati sebab Gigantisme biasanya disebabkan oleh adanya tumor pada kelenjar hipofisis yang tumbuh terus sampai merusak kelenjar itu sendiri. D. Manifestasi klinis 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pertumbuhan linier yang cepat Tanda tanda wajah kasar pembesaran kaki dan tangan Pada anak muda, pertumbuhan cepat kepala dapat mendahului pertumbuhan linier Beberapa penderita memiliki masalah penglihatan dan perilaku Pertumbuhan abnormal menjadi nyata pada masa pubertas. Jangkung dapat tumbuh sampai ketinggian 8 kaki atau lebih.

2.3.4 Akromegali A. Definisi Akromegali adalah pertumbuhan berlebihan akibat pelepasan hormon

pertumbuhan yang berlebihan dan terjadi pada usia 30-50 tahun.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

18

B. Etiologi Pelepasan hormon pertumbuhan berlebihan hampir selalu disebabkan oleh tumor hipofisa jinak (adenoma).

C. Manifestasi klinis Tulang mengalami kelainan bentuk, bukan memanjang. Gambaran tulang wajah menjadi kasar, tangan dan kakinya membengkak. Penderita memerlukan cincin, sarung tangan, sepatu dan topi yang lebih besar. Rambut badan semakin kasar sejalan dengan menebal dan bertambah gelapnya kulit. Kelenjar sebasea dan kelenjar keringat di dalam kulit membesar, menyebabkan keringat berlebihan dan bau badan yang menyengat. Pertumbuhan berlebih pada tulang rahang (mandibula) bisa menyebabkan rahang menonjol (prognatisme). Tulang rawan pada pita suara bisa menebal sehingga suara menjadi dalam dan serak. Lidah membesar dan lebih berkerut-kerut. Tulang rusuk menebal menyebabkan dada berbentuk seperti tong. Sering ditemukan nyeri sendi; setelah beberapa tahun bisa terjadi artritis degeneratif yang melumpuhkan. Jantung biasanya membesar dan fungsinya sangat terganggu sehingga terjadi gagal jantung. Kadang penderita merasakan gangguan dan kelemahan di tungkai dn lengannya karena jaringan yang membesar menekan persarafan. Saraf yang membawa sinyal dari mata ke otak juga bisa tertekan, sehingga terjadi gangguan penglihatan, terutama pada lapang pandang sebelah luar. Sakit kepala hebat.

D. Patofisiologi Bila tumor asidofilik timbul sesudah masa dewasa muda-yakni, sesudah epifisis tulang panjang bersatu dengan batang tulang maka orang itu tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi, namun jaringan ikat longgarnya masih terus tumbuh dan tebal tulangnya masih terus tumbuh. Perbesaran tadi terutama dapat di lihat pada tulang tulang kecil tangan dan kaki serta pada tulang membranosa, termasuk tulang tengkorak, hidung, penonjolan tulang dahi, tepi supraorbital, bagian bawah rahang, dan bagian tulang vertebra, sebab pada masa dewasa muda pertumbuhan tulang tulang ini tidak berhenti. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 19

Akibatnya, tulang rahang tampak menonjol ke depan, kadang kala sampai setengah inci ke depan, dahi menyempit ke depan sebab pertumbuhan tepi supraorbitalnya sangat besar, hidung membesar sampai dua kali ukuran normal, kakinya membutuhkan sepatu berukuran 14 atau lebih besar, dan jari jarinya menjadi sangat tebal.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

20

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian ( data focus ) 1. Riwayat Penyakit; manifestasi klinis tumor hipofise berfariasi tergantung pada hormon mana yang di sekresi berlebihan. Tanyakan manifestasi klinis dari peningkatan prolaktin(pada wanita pramenopus daripada laki-laki atau pada wanita yang pascamenopus di diagnosis pada wanita usia subur disbanding pada kelompok pasien lain), GH danACTH mulai dirasakan. 2. Kaji usia(karena pada penyakit ini bisa diderita oleh anak-anak maupun dewasa karena pada usia dewasa asam amino untuk sintesi prortein masih diperlukan walaupun tubuh sudah tidak bertambah tinggi pada anak-anak focus pada tulang dan otot), jenis kelamin (pada wanita hiperprolaktin menyebabkan

aninore,galaktore,hilang libido dan infertilitas.Pada Pria tidak terlalu tampak aninore,galaktore )dan riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.( Scanlon Valerie C dan Sanders Tina,2007) 3. Keluhan utama mencakup: a. Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta organ-organ tubuh seperti jari-jari, tangan. b. Perubahan tingkat energi, kelelahan dan lateragi. c. Nyeri pada punggung dan perasaan tidak nyaman. d. Dispaneuria dan pada pria disertai dengan impotensia. e. Nyeri kepala (disebabkan oleh perluasan tumor ke suprasela dan tekanan pada kiasma optic didekatnya) (Stein,Jay H,1998) f. Gangguan penglihatan seperti menurunnya ketajaman penglihatan, penglihatan ganda.(karena Robbins,1995) g. Kesulitan dalam hubungan seksual. h. Perubahan siklus menstruasi (pada klien wanita)mencakup keteraturan, kesulitan hamil.(dikarenakan hiperprolaktinemia).( Stein,Jay H,1998) i. Libido seksual menurun. .(dikarenakan hiperprolaktinemia).( Stein,Jay H,1998) j. Impotensia. .(dikarenakan hiperprolaktinemia).( Stein,Jay H,1998) Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari 21 efek dari bentukan tumor yang besar).( Kumar dan

4. Pemeriksaan fisik mencakup: a. amati bentuk wajah, khas pada hipersekresi GH seperti bibir dan hidung besar, tulang supraorbita menjolok. b. Kepala, tangan/lengan dan kaki juga bertambah besar, dagu menjorok kedepan. c. Amati adanya kesulitan mengunyah dan geligi yang tidak tumbuh dengan baik. d. Pemeriksaan ketajaman penglihatan akibat kompresi saraf optikus, akan dijumpai penurunan visus. e. Amati perubahan pada persendian dimana klien mengeluh nyeri dan sulit bergerak. Pada pemeriksaan ditemukan mobilitas terbatas. f. Peningkatan perspirasi pada kulit menyebabkan kulit basah karena berkeringat. g. Suara membesar karena hipertropi laring. h. Pada palpasi abdomen, didapat hepatomegali dan splenomegali. i. Hipertensi. j. Disfagia akibat lidah membesar. k. Pada perkusi dada dijumpai jantung membesar. 5. Pemeriksaan diagnostik mencakup: a. kadar prolaktin serum: ACTH, GH. b. Foto tengkorak. c. CT dan scan otak. d. Angiografi. e. Tes supresi dengan Dexamethason. f. Tes toleransi glukosa. 3.2 Diagnosa Keperawatan ( sesuai dengan prioritas pasien ) a. Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik. (Carpenito Lynda Juall,1998) b. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kronisitas kondisi penyakit. (Carpenito Lynda Juall,1998) c. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh. (Carpenito Lynda Juall,1998)

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

22

3.3 Intervensi Keperawatan Dx.1 : Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien memiliki kembalicitra tubuh yang positif dan harga diri yang tinggi. Kriteria Hasil : Melakukan kegiatan penerimaan, penampilan misalnya: kerapian, pakaian, postur tubuh, pola makan, tanggung jawab peran. Intervensi : 1. Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap perubahan. R/ Agar perawat dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh klien sehubungan perubahan tubuhnya. 2. Bantu klien mengidentifikasi kekuatannya serta segi segi positif yang

dapatdikembangkan oleh klien. R/ Agar klien mampu mengembangkan dirinya kembali. 3. Yakinkan klien bahwa sebagioan gejala dapat berkurang dengan pengobatan (ginekomastia, galaktorea) R/ Agar klien tetap optimis dan berfikir positif selama pengobatan. Dx.2. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kronisitas kondisi penyakit Tujuan : Setelah dilakuan tindakan keperawatan tingkat koping individu meningkat. Kriteria Hasil a) Klien dapat mengungkapkan perasaan yang berhubungan dengan keadaanemosional. b) Klien dapat membuat keputusan dan dilanjutkan dengan tindakan yang sesuai /mengubah situasi provokatif dalam lingkungan personal. Intervensi : 1. Kaji status koping individu yang ada.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

23

R/ Meningkatkan proses interaksi sosial karena klienmengala-mi peningkatan komunikatif. 2. Berikan dukungan jikaindividu berbicara. R/ Klien meningkatkan rasa percaya diri kepada orang lain. 3. Bantu individu untuk memcahkan masalah (problem solving). R/ Dengan berkurangnya ketegangan, ketakutan klien akan menurun dan tidak mengucil/mengisolasikan diri dari lingkungan. 4. Instruksikan individu untuk melakukan teknis relaksasi, dalam proses teknik pembelajaran penatalaksanaan stress. R/ Ketepatan penanganan dan proses penyembuhan. 5. Kolaborasi dengan tenaga ahli psikologi untuk proses penyuluhan. R/ Klien mengerti tentang penyakitnya. Dx.3. Harga diri Rendah berhubungan dengan Perubahan Penampilan Tubuh Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan harga diri meningkat. Kriteria hasil : Mengungkapkan hasil perasaan dan pikiran mengenai diri.Mengidentifikasikan dua atributif positif mengenai diri Intervensi : 1. Bina hubungan saling percaya perawat dan klien. R/ Rasa percaya diri meningkat, pasien menerima kenyataan akan penampilan tubuh. 2. Tingkatkan interaksi sosial R/ Pasien akan merasa berarti, dihargai, dihormati, serta diterima olehlingkungan. 3. Diskusikan harapan /keinginan / perasaan. R/ Dengan cara pertukaran pengalaman perasaan akan lebih mampu dalammencegah faktor penyebab terjadinya harga diri rendah.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

24

4. Rujuk kepelayanan pendukung. R/ Memberikan tempat untuk pertukaran masalah dan pengalaman yang sama. 3.4 Implementasi Keperawatan Tujuan perawatan difokuskan untuk mencegah terjadinya komplikasi,

meningkatkan toleransi terhadap aktivitas, menyeimbangan ketidakseimbangan cairan, pendidikan pasein dan meningkatkankan kenyamanan. 3.5 Evaluasi 1. Klien dapat menerima kekurangan (perubahan fisik) dalam dirinya. 2. Klien mampu bersosialisi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya,tanpa merasa malu akan perbedaan dalam dirinya. 3. Klien mampu beraktivitas secara mandiri

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

25

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan Hiperpituitari adalah suatu keadaan dimana terjadi sekresi yang berlrbihan satu atau lebih hormone- hormone yang disekresikan oleh kelenjar pituitary{ hipofise} biasanya berupa hormone- hormone hipofise anterior. Penyebab tersering hiperpituitari adalah adenoma hifofise. Adenoma hipofpise merupakan 5-10% dari semua kejadian tumor intracranial, dan sering kali tinbul di lobus anterior hipofise. 4.2 Saran Demikian makalah yang telah kami buat, kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan pada makalah yang kami susun. Atas kekurangan pada makalah kami mohon dimaklumi. Kami juga memohon untuk saran dan kritik untuk makalah kami apabila ada yang kurang berkenan.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

26

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Juall,1998.Diagnosa Keperawatan edisi 6.Jakarta:EGC Corwin, E. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Elisabeth, J. Corwin.2000. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta : EGC. Hotman, Rumahardo.2002.Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Endrokin. Jakarta : EGC. Kumar dan Robbins,1995. Buku Ajar Patologi II edisi 4.Jakarta:EGC Long C. Barbara. 1985. Essential of Medical Surgical Nursing, CV. Mosby Company, St.` Louis. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak. 2001. Bag.3. Penerbit Buku Kedokteran Elisabeth J. Corwin, patofisiologi. Stein,Jay H,1998.Ilmu Penyakit Dalam edisi 3.Jakarta :EGC http://ojs.unud.ac.id http://www.scribd.com/doc/39579702/askep-Gangguan-Kelenjar-Hipofise

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperpituitari

27