Anda di halaman 1dari 2

Spin dan Paritas

Momentum angular total I dari deutron memiliki tiga komponen: spin neutron (sn) dan spin
proton (sp) yang masing-masing bernilai ½, dan momentum angular ℓ nukleon ketika bergerak
mengelilingi pusat massanya:
I = s n + sp + ℓ (6)
Untuk menyelesaikan persamaan Schrödinger dari deutron, diasumsikan bahwa ℓ = 0 yang
setara dengan keadaan dasar atom hidrogen. Selama spin neutron dan proton paralel (I = 1) atau
antiparalel (I = 0), terdapat empat cara untuk memasangkan sn, sp, dan ℓ untuk mendapat I = 1:
(a) sn dan sp paralel pada keadaan ℓ = 0
(b) sn dan sp antiparalel pada keadaan ℓ = 1
(c) sn dan sp paralel pada keadaan ℓ = 1
(d) sn dan sp paralel pada keadaan ℓ = 2
Karakteristik lain dari deutron adalah paritas (ganjil atau genap), yaitu perilaku fungsi
gelombang ketika r → – r. Dengan mempelajari reaksi yang melibatkan deutron dan karakteristik
foton yang diemisikan selama pembentukan deutron, dapat diketahui bahwa paritas deutron
adalah ganjil. Karena paritas yang berhubungan dengan gerak orbital adalah paritas ganjil, (–1) ℓ,
untuk ℓ = 0 (keadaan s) dan ℓ = 2 (keadaan d), sedangkan paritas genap berlaku untuk ℓ = 1
(keadaan p). Spin dan paritas deutron biasanya selalu bersesuaian dengan ℓ = 0, tetapi
kemungkinan dari ℓ = 2 tetap harus dipertimbangkan.
Momen Dipol Magnetik
Spin dan orbital dapat mempengaruhi momen dipol magnetik. Jika asumsi ℓ = 0 adalah
benar, seharusnya tidak ada pengaruh orbital bagi momen magnetik dan kita dapat
mengasumsikan bahwa momen magnetik total adalah gabungan dari momen magnetik neutron
dan proton:
μ = μn + μp
g sn μ N g spμ N (7)
= sn + sp

dimana gsn = – 3.826084 dan gsp = 5.585691. Momen magnetik untuk komponen z dari μ, jika
spin bernilai maksimum (½ħ) adalah
1
μ = μ N (g sn + g sp )
2 (8)
= 0.879804 μ N
Nilai yang teramati adalah 0.8574376 ± 0.0000004 μN. Selisih yang kecil ini dapat dijelaskan
oleh beberapa faktor, seperti pengaruh dari perubahan meson antara neutron dan proton. Kita
dapat mengasumsikan bahwa perbedaan ini terjadi karena pengaruh keadaan d (ℓ = 2) pada
fungsi gelombang deutron:
ψ = asψ ( = 0) + adψ ( = 2) (9)
Dengan memperhitungkan momen magnetik diperoleh fungsi gelombang:
µ = a 2s µ ( = 0) + a 2d µ ( = 2) (10)

1
dimana μ (ℓ = 0) telah dihitung pada persamaan (8) dan μ (ℓ = 2) = (3 − g sp − g sn ) µ N adalah
4

nilai yang dihitung untuk keadaan d. Nilai yang teramati yaitu a s = 0.96 dan ad = 0.04 , karena
2 2

itu deutron memiliki 96% ℓ = 0 dan hanya 4% ℓ = 2.