Anda di halaman 1dari 64

1

Panduan Dasar
bagi Aktifis dan Masyarakat

Memahami dan memantau pelaksanaan peraturan
dan hukum oleh perusahaan perkebunan kelapa
sawit di Indonesia



Mendukung advokasi mendorong perubahan sosial menuju keadilan
ekologis bersama masyarakat adat, masyarakat lokal, petani, dan buruh
dalam sistem pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkeadilan,
berkelanjutan dan bertanggung jawab di Indonesia


disunting oleh

Andiko, SH
Norman Jiwan


Sawit Watch, Januari 2012
2
Perkumpulan Sawit Watch

Panduan Dasar:
Memahami dan memantau pelaksanaan peraturan dan hukum oleh perusahaan perkebunan kelapa
sawit di Indonesia

Diterbitkan oleh:

Perkumpulan Sawit Watch
Bogor Baru Block C1 No 10. Bogor. Jawa Barat. 16127 Indonesia.
Phone: +62(251) 8352171
Fax: +62(251) 8352047
Website: www.sawitwatch.or.id
Email: info@sawitwatch.or.id

Cetakan pertama, Januari 2012

Disunting oleh:

1. Andiko, SH
2. Norman Jiwan

Tata letak, desain dan percetakan oleh:


Mendukung advokasi perubahan sosial menuju keadilan ekologis bersama
masyarakat adat, masyarakat lokal, petani, dan buruh dalam sistem
pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkeadilan, berkelanjutan
dan bertanggung jawab di Indonesia
3
BAGIAN PERTAMA



1. PENGANTAR

Sampai dengan Desember 2011 tercatat 663 kasus konflik perkebunan kelapa sawit.
1
Biasanya
jumlah tersebut adalah angka tercatat berdasarkan amatan maupun investigasi lembaga pencatat.
Dan oleh karena itu selalu ada the dark number yang merupakan konflik-konflik yang tidak
teramati atau terinvestigasi sehingga tidak nampak dalam database. Dengan begitu, jumlah konflik
perkebunan kelapa sawit yang sebenarnya akan lebih banyak dari jumlah 663 kasus.

Terlepas dari jumlah kasus yang tercatat, tidak diragukan bahwa pembangunan sektor perkebunan
khususnya kelapa sawit memunculkan konflik dalam berbagai wujud antara masyarakat dengan
badan-badan usaha baik milik negara maupun swasta. Situasi tersebut dapat dijelaskan secara teori
maupun kenyataan di lapangan. Secara teoritis, pembangunan sektor perkebunan kelapa sawit
sangat memerlukan tanah dalam skala mega hektar sebagai faktor produksi utama, sementara disisi
lain apa yang disebut sebagai tanah yang langsung dikuasai negara
2
tidaklah sebanyak tanah-tanah
negara yang berada dalam penguasaan masyarakat
3
. Kenyataan inilah yang menyebabkan tanah-
tanah negara yang berada dalam penguasaan masyarakat pun diincar untuk dijadikan lahan proyek
pembangunan perkebunan kelapa sawit. Dalam situasi itulah konflik-konflik itu bermula yang
kemudian berkembang dengan varian-varian sebab, akibat, maupun dampaknya.

Konflik yang mengiringi pembangunan sektor perkebunan kelapa sawit sangat erat dengan persoalan
tanah. Tanah sebagai faktor produksi utama wajib ada sebelum kebun sawit dibangun. Akan tetapi
tanah yang dibutuhkan oleh usaha perkebunan kenyataannya berada dalam penguasaan masyarakat,
terutama masyarakat adat. Lebih-lebih, masyarakat adat bukan hanya meyakini dirinya sebagai
penguasa tanah, tetapi sebagai pemilik tanah atas dasar hukum adat yang mereka jalankan sehari-
hari, sehingga cukup kuat untuk dipertahankan kepenguasaan dan atau kepemilikannya. Namun,
karena aturan dan kebijakan pemerintah mengatakan sebaliknya, bahwa pembangunan sektor
perkebunan kelapa sawit adalah untuk dan demi kepentingan nasional, tanah-tanah yang
dipertahankan oleh masyarakat itu, dicarikan jalan melalui sejumlah peraturan dan kebijakan,

1
Data jumlah konflik akibat operasi perkebunan kelapa sawit ini diolah dari database konflik Sawit Watch, sebuah jaringan
organisasi non-pemerintah dan individu, didirikan tahun 1998, yang prihatin dengan makin meluasnya dampak pembangunan
perkebunan kelapa sawit terhadap ketidakadilan sosial dan penurunan kualitas lingkungan hidup di Indonesia. Kegiatan utama Sawit
Watch adalah melakukan investigasi kasus dan riset kebijakan; memantau kebijakan, program dan keuangan nasional dan
internasional pada sektor kelapa sawit; kampanye penyadaran publik; fasilitasi dan pendampingan masyarakat.
2
Tanah yang langsung dikuasai negara adalah tanah-tanah yang bebas dari penguasan dan atau pemilikan perorangan
maupun badan hukum. Hanya tanah dengan status tanah yang langsung dikuasai oleh negera itulah yang dapat dijadikan objek dari
pemberian hak guna usaha untuk usaha perkebunan sawit.
3
Dalam aturan hukum pertanahan Indonesia modern (paska terbitnya UUPA), tanah-tanah yang berada dalam penguasaan
masyarakat dan belum dimohonkan sertifikat hak atas tanah, masih dikatagorikan sebagai tanah negara. Meski demikian, tanah
Negara dalam penguasaan masyarakat ini mendapatkan perlindungan hukum dan previlege dengan cara diprioritaskan mendapatkan
sertfikat hak atas tanah (tanah milik) bila diajukan oleh masyarakat yang menguasainya. Perlindungan lain adalah tanah-tanah
katagori ini dihargai 80% dari harga tanah berstatus milik, bila diperlukan oleh Negara untuk kepentingan pembangunan, melalui
mekanisme ganti rugi.
4
agar bisa diambil alih untuk pembangunan kebun sawit. Akibatnya, banyak tanah-tanah dalam
penguasaan dan atau pemilikan masyarakat yang diambil alih baik melalui cara-cara kekerasan
maupun dengan tipu daya informasi. Berbagai skema kerjasama pun dirumuskan untuk memudahkan
proses pengambi-alihan tanah dari masyarakat, antara lain skema inti-plasma, koperasi, jual beli,
konsolidasi tanah maupun kompensasi.

Penelitian empirik yang dilakukan bersama oleh Sawit Watch, Forest Peoples Programme, HuMA
dan ICRAF (2005-2006) terhadap proses pengambilalihan tanah masyarakat di 6 perusahaan
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Lampung Barat (Prop. Lampung), Kabupaten Sanggau (Prop.
Kalimantan Barat) dan Kabupaten Pasaman Barat (Prop. Sumatra Barat), menunjukkan bahwa
masyarakat setempat mengalami persoalan serius dan sebagian besar mengalami konflik atas tanah
dengan perusahaan perkebunan kepala sawit. Masyarakat merasa ditipu dan dijebak dalam
kesepakatan melalui janji-janji palsu serta mengabaikan suara mereka dalam proses pembuatan
kebijakan. Dan dari sekian banyak penyimpangan dalam pengadaan lahan yang dilakukan oleh
perusahaan perkebunan kelapa sawit, persoalan hukum yang paling serius adalah a) hak ulayat tidak
diakui; b) perkebunan kelapa sawit dibangun tanpa ijin dari pemerintah; c) informasi tidak diberikan
kepada komunitas; 4) kesepakatan tanpa perundingan; 5) pemuka adat dimanfaatkan untuk
memaksakan penjualan tanah; 6) pembayaran kompensasi tidak dilakukan; 7) keuntungan yang
dijanjikan tidak diberikan; 8) kebun untuk petani tidak dibagikan atau dibangun; 9) petani dibebani
dengan kredit yang tidak jelas; 10) AMDAL terlambat disusun; 11) lahan tidak dikelola dalam waktu
yang ditentukan; 12) penolakan masyarakat diredam melalui kekerasan dan pengerahan aparat; dan
13) terjadi pelanggaran HAM serius. (Marcus, dkk, 2006)

Dari keenam perusahaan yang diteliti secara empirik, ternyata tidak sedikit perusahaan-perusahaan
perkebunan kelapa sawit yang belum memenuhi berbagai syarat dan kewajiban hukum sesuai aturan
yang berlaku. Meskipun begitu, sebagian besar telah melakukan serangkaian tindakan operasional
dalam rangka pembangunan perkebunan sawit. Misalnya, Hak Guna Usaha (HGU) baru dimiliki oleh
perusahaan perkebunan sawit setelah kebun sawit dioperasikan bertahun-tahun. Perusahaan-
perusahaan tersebut hanya bermodal Izin Lokasi dalam membangun kebunnya. Disamping itu, tidak
sedikit perusahaan-perusahaan yang belum melaksanakan kewajiban-kewajiban tertentu yang
dibebankan pada saat pemberian Hak Guna Usaha oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN)
4
.

Menurut hukum dengan logika penalarannya yang positif, perusahaan-perusahaan yang demikian
terbilang tidak memiliki keabsahan hukum untuk melakukan tindakan-tindakan hukum seperti
mengoperasionalkan perkebunan sawit sebelum dipenuhinya syarat dan ketentuan yang telah
ditetapkan oleh aturan perundang-undangan. Karena, sebagaimana diketahui dalam setiap SK HGU
ada klausul yang menyatakan bahwa apabila kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada
pemegang HGU tidak dipenuhi, maka SK HGU batal dengan sendirinya. Jika SK HGU tersebut
secara hukum batal, maka seluruh kegiatan usaha harus dihentikan demi hukum, karena sudah tidak

4
Pada umumnya kewajiban yang dicantumkan dalam SK HGU yang harus dipenuhi oleh para pemegang SK HGU khususnya
yang berhubungan dengan tanah dan lingkungan adalah : a) tanah HGU harus digunakan perkebunan dengan jenis kelapa sawit; b)
diwajibkan untuk mengusahakan secara produktif; c) membangun dan memelihara prasarana lingkungan dan fasilitas dalam areal
tersebut; d) diwajibkan memelihara kesuburan tanah mencegah kerusakan alam dan menjaga kelestarian; e) peralihan harus ada ijin
dari Ka.BPN. Pada dictum lainnya dalam SK HGU dinyatakan bahwa bila kewajiban-kewajiban tersebut tidak dipenuhi, maka SK
HGU batal dengan sendirinya.
5
ada lagi alas hak yang menjadi dasar hukum pengoperasian perusahaan. Namun pada kenyataannya
di lapangan, perusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi kewajibannya tetap menjalankan operasi
perkebunan.

Seringkali kita luput untuk melihat posisi perusahaan dalam kacamata hukum yang berlaku.
Keabsahan perusahaan tergantung seberapa penuh dia mematuhi kewajiban yang dipersyaratkan
dan ditentukan oleh peraturan perundangan yang berlaku. Secara normatif, satu saja syarat dan
ketentuan tidak dipenuhi, maka tidak absah menurut hukum seluruh tindakan perusahaan tersebut.
Konsentrasi dari kajian ini adalah meneliti aspek hukum usaha dari perusahan perkebunan kelapa
sawit.

Berangkat dari penelitian empirik yang telah dilakukan, Sawit Watch memandang perlunya sebuah
upaya tindak lanjut untuk melihat secara khusus aspek hukum usaha perkebunan kelapa sawit
terutama terhadap perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terlibat konflik dengan masyarakat.
Pertanyaan utama yang penting untuk diajukan dalam kajian hukum ini adalah apakah perkebunan
kelapa sawit telah memenuhi seluruh kewajiban hukum usaha perkebunan sebagaimana disyaratkan
oleh peraturan yang berlaku? Pertanyaan ini diajukan dengan mendasarkan pada sejumlah temuan
awal dari riset empirik sawit watch mengenai adanya perusahaan perkebunan kelapa sawit yang
telah beroperasi namun belum/tidak memenuhi seluruh/sebagian kewajiban hukumnya. Jawaban
atas pertanyaan utama ini akan membantu sawit watch merumuskan usulan-usulan kebijakan dalam
rangka penyelesaian konflik, dan untuk masyarakat korban dalam memperkuat posisi hukumnya
ketika berhadapan dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Cara yang digunakan untuk
menjawab pertanyaan utama diatas adalah melalui pemeriksaan hukum atau biasa disebut dengan
Legal Audit.

2. Tujuan pengamatan dan pemantauan (LEGAL AUDIT)

a. Definisi dan tujuan
Secara umum legal audit didefinisikan sebagai suatu pemeriksaan dan/atau penilaian permasalahan-
permasalahan hukum mengenai atau berkaitan dengan perusahaan (Mulyadi, 2008). Legal audit juga
bisa diartikan sebagai suatu bentuk daftar pengecekan (check list) menyangkut keterkaitan (saling
tergantung) antara satu aturan dengan yang lainnya (Amos, 2005).

pemantauan atas kepatuhan pelaksanaan peraturan dan hukum sebagai alat pemeriksa aspek hukum
umumnya digunakan untuk membantu perusahaan dalam menjalankan rencana bisnisnya, seperti :
- Perusahaan yang akan melakukan Initial Public Offering ((IPO);
- Perusahaan yang akan melakukan merger, konsolidasi, akuisisi;
- Perusahaan yang akan melakukan transaksi kredit sindikasi;
- Perusahaan yang akan dijual (dilaksanakan apabila pihak pembeli menginginkannya).
(mulyadi, 2008)
Namun demikian, legal audit tidak dibatasi hanya untuk bidang hukum bisnis. Sebagai sebuah alat
kajian hukum, legal audit bisa digunakan untuk memeriksa aspek hukum untuk bidang hukum apa
saja, bahkan untuk memeriksa produk-produk legislasi.

6
Legal audit ini ditujukan untuk mengetahui tingkat kepatuhan/pelanggaran perusahaan terhadap
aturan hukum yang berlaku, sehingga pada akhirnya dapat dirumuskan pendapat hukum (Legal
Opinion) yang menyatakan aturan hukum mana saja yang telah dipatuhi dan aturan hukum mana
saja yang telah dilanggar.

b. Objek dan ruang lingkup pengamatan
Perusahaan dalam groups yang dipilih sebaiknya mempertimbangkan alasan bahwa jaringan usaha
group perusahaan pada bidang penanaman, pengolahan dan distibusi turunan kelapa sawit sudah
mendunia dengan dukungan financial yang sangat besar serta memiliki wilayah operasi di 20 negara
di 4 benua berbeda dengan fokus utama usahanya berada di Indonesia dengan rantai pasar dan
modal di Malaysia, China, India dan Eropa. Produk-produk turunan dari minyak sawit mereka telah
didistribusikan kepada lebih dari 50 negara di dunia.

Namun disisi lain, atensi atau perhatian terhadap group tertentu biasanya terhadap operasi
perkebunan kelapa sawit juga telah menyebabkan ratusan bahkan ribuan keluarga kehilangan hak
atas tanahnya baik yang berupa ladang dan hutan komunal dengan luas ribuan hektar. Dampak dari
usaha perkebunan sawit juga menyebabkan kerusakan lingkungan terutama terhadap sumber-
sumber air bersih. Situasi empirik tersebut akhirnya memicu terjadi konflik sosial yang bersifat
struktural yang memperhadapkan masyarakat korban dengan perusahaan.

Ruang lingkup legal audit meliputi pemeriksaan dokumen-dokumen formal perusahaan yang
berhubungan dengan perizinan (izin Usaha, Izin Lokasi), dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL), Kepemilikan alas hak atas tanah (SK HGU). Pemeriksaan dokumen-
dokumen tersebut tidak hanya melihat dan membaca isi dari dokumen, tetapi akan dilakukan
verifikasi lapangan yang dalam hal ini akan mendayagunakan hasil riset empirik organisasi dan
lembaga terkait serta catatan-catatan lapangan yang telah disusun oleh pihak-pihak terkait dan
berkepentingan diwilayah operasional perkebunan dan pabrik beroperasi. Selanjutnya pemeriksaan
dokumen akan diperdalam dengan aksenstuasi pada masalah pengadaan/pemerolehan tanah (land
acquisition).

c. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data akan dilakukan dengan cara penelusuran dokumen perusahaan yang didapatkan
melalui permohonan data melalui instansi resmi pemerintah yang berada dimana perusahaan
beroperasi maupun kepada perusahaan yang akan diaudit. Disamping itu, penelusuran dokumen juga
akan dilakukan terhadap dokumen-dokumen yang telah dikumpulkan oleh pelaku atau pegiat baik
berupa hasil riset maupun catatan-catatan lapangan yang berhubungan dengan operasi kedua
perusahaan yang akan diperiksa. Apabila data-data yang dibutuhkan dalam pemeriksaan ini tidak
dapat disediakan, maka pemeriksaan terhadap data tersebut tidak akan dilakukan dengan diberi
catatan kosong.

d. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data dilakukan dengan cara membuat daftar pemeriksaan (checklist) yang
menghubungkan antara data perusahaan dengan aturan pemerintah. Dalam daftar pemeriksaan akan
ditambahkan kolom verifikasi lapangan yang memuat sejumlah informasi lapangan terkait kebenaran
faktual dari data perusahaan yang diaudit berdasarkan hasil riset lapangan. Daftar pemeriksaan
7
yang telah diisi kemudian akan diberi tanda () untuk katagori dipenuhi dan tanda (X) untuk
katagori tidak dipenuhi. Berikut bentuk formulir pemeriksaan hukum yang akan digunakan :


(contoh formulir checklist)
Kewajiban Hukum
Usaha Perkebunan
Dokumen perusahaan
terkait
Verifikasi lapangan Katagori penilaian
() (X)
Perizinan
Pemerolahan Hak atas
tanah


Terhadap hasil pemeriksaan hukum akan diberikan pendapat hukum yang menyatakan telah
memenuhi kewajiban atau tidak memenuhi kewajiban.


e. Penyajian Hasil
Seperti kebanyakan bentuk-bentuk dokumen dalam praktek hukum (Gugatan, Surat Kuasa, Legal
Opini dan Surat Perjanjian) yang tidak memiliki standar baku mengenai bentuk dan struktur
penyajiannya, legal audit pun tidak terikat pada satu format sajian. Namun demikian, dokumen
hukum seperti halnya legal audit, terikat oleh kewajiban untuk mendasarkan argumentasi dan
analisanya kepada peraturan perundang-undangan.

Menggunakan legal audit sebagai alat untuk memeriksa aspek hukum sebuah perusahaan merupakan
bagian dari praktek hukum. Namun demikian, praktek hukum ini biasanya hanya mengandalkan
metode normatif analitik yang linier
5
. Karenanya, cara analisa tersebut cenderung kering dan
jauh dari jangkauan alam nyata (kehidupan sosial sehari-hari). Untuk menghindari hasil yang analisa
yang kering, dalam legal audit ini akan diperkaya dengan pikiran-pikiran kritis yang melihat
hukum tidak saja sebagai produk legal formal-prosedural tetapi juga sebagai hasil dari
pertarungan kepentingan kelompok-kelompok sosial. Oleh karenanya, fakta-fakta sosial yang
menyertai akan dijadikan sebagai bahan untuk dianalisa. Dengan menggabungkan motode normatif
analitik dan kritis, maka legal audit ini bisa dinamai sebagai critical legal audit (pemeriksaan hukum
secara kritis).


5
Metode normatif analitik bisa diartikan sebagai suatu model analisa yang membatasi diri pada logika positivisme dalam ilmu
hukum. Ia harus patuh pada dogma-dogma positivisme seperti ternyatakan dalam peraturan perundang-undangan. Dikatakan linier
karena ia tidak bisa lepas dari kerangka berfikir positivisme yang legal formal.
8
BAGIAN KEDUA

TINJAUAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Mengenai Usaha Perkebunan


Audit hukum perusahaan perkebunan ini hanya akan memberikan titik tekan sampai pada
keberadaan dokumen-dokumen hukum perusahaan dalam pembebasan tanah untuk perkebunan,
sehingga bagian ini akan lebih banyak menggambarkan aturan-aturan pertanahan. Karena
perusahaan contoh audit hukum ini adalah perusahaan yang telah lama mengoperasikan usaha
perkebunan dan perusahaan yang baru melakukan usaha perkebunan, maka audit hukum ini akan
melibatkan aturan-aturan yang berlaku pada saat usaha-usaha perkebunan tersebut mulai
beroperasi.

Jika seseorang atau sebuah perusahaan ingin melakukan usaha perkebunan di Indonesia pada tahap
awal harus melalui mekanisme penanaman modal, barulah kemudian masuk pada mekanisme
perizinan perkebunan. Bagan dibawah ini menggambarkan secara sederhana alur prosedur hukum,
mulai dari penanaman modal oleh investor sampai pada pemasaran Crude Palm Oil (CPO).

Pengusaha perkebunan pertama kali harus melalui mekanisme administratif penanaman modal dan
setelah itu administrasi perizinan usaha perkebunan, dilanjutkan dengan administrasi perolehan
tanah untuk perkebunan. Jika perkebunan beroperasi, maka pengusaha perkebunan akan terikat
dengan beberapa ketentuan pengelolaan perkebunan, pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) dan
terakhir sampai pada aturan pemasaran.















Deskripsi singkat persyaratan administratif dalam peraturan perundang-undangan mengenai usaha
perkebunan sawit, hanya akan dipaparkan sampai pada proses pengadaan tanah bagi perkebunan.
Merujuk kepada kedua objek perusahaan yang akan diaudit, salah satunya adalah PT. Permata
Hijau Pasaman (PHP) yang mulai berdiri dan beroperasi sejak tahun 1992, maka aturan-aturan yang
akan dideskripsikan adalah aturan-aturan yang berlaku sejak tahun tersebut.
ADMINISTRASI PERIZINAN
USAHA PERKEBUNAN
SKEMA HUKUM
INVESTASI PERKEBUNAN
ADMINISTRASI PENANAMAN
MODAL
ADMINISTRASI
PEMBEBASAN TANAH
UNTUK PERKEBUNAN
ADMINISTRASI
PENGELOLAAN
PERKEBUNAN
ADMINISTRASI
PERDAGANGAN CPO
ADMINISTRASI PRODUKSI
CPO
9

2.1. Tata Cara Penanaman Modal

Dalam khazanah hukum Indonesia, skema Penanaman modal terbagi atas dua yaitu pertama
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan kedua Penanaman Modal Asing (PMA). Penanaman
Modal Dalam Negeri tunduk kepada UU No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam
Negeri (UU PMDN) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1970.
Sedangkan Penanaman modal dalam rangka Penanaman Modal Asing tunduk pada Undang-Undang
No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (UU PMA), sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang No. 11 Tahun 1970. Kedua aturan UU tersebut saat ini telah dicabut oleh UU
Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal (UU PM) yang tidak lagi memisahkan antara
PMA dengan PMDN.

Berdasarkan Pasal 18 UU PMA, setiap izin penanaman modal asing ditentukan jangka waktu
berlakunya yang tidak melebihi 30 (tiga puluh) tahun. Sementara itu pada Bab V. tentang Batas
Waktu Berusaha, UU PMDN mengatur waktu berusaha bagi perusahaan asing, baik perusahaan
baru maupun lama, dibatasi sebagai berikut :
a. Dalam bidang perdagangan pada tanggal 31 Desember 1977.
b. Dalam bidang industri berakhir pda tanggal 31 Desember 1997.
c. Dalam bidang-bidang usaha lainnya akan ditentukan lebih lanjut oleh Pemerintah dengan
batas waktu antara 10 dan 30 tahun.

Jikalau Jangka waktu berusaha yang ditentukan bagi perusahaan asing berakhir, maka warga-negara
asing yang bersangkutan dapat melanjutkan berusaha dengan jalan antara lain:
a. Mengalihkan modalnya ke bidang usaha lain yang batas waktu berusahanya belum berakhir;
b. mengadakan usaha gabungan dengan perusahaan nasional.

Sebagai tindak lanjut teknis penanaman modal tersebut, pemerintah mengeluarkan Keputusan
Presiden Nomor 33 Tahun 1992 Tentang Tata Cara Penanaman Modal.

Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1992 Tentang Tata Cara Penanaman Modal

Keputusan Presiden (Keppres) ini membedakan prosedur PMDN dengan prosedur PMA. PMDN
cukup mendapat persetujuan dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sedangkan
untuk PMA diperlukan persetujuan Presiden. Tahapan yang harus dilalui dalam PMDN adalah
sebagai berikut :

(1) Calon penanam modal yang akan mengadakan usaha mempelajari lebih dahulu Daftar Bidang
Usaha Yang Tertutup Bagi Penanaman Modal dan apabila diperlukan penjelasan lebih lanjut
dapat menghubungi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM);
(2) Setelah mengadakan penelitian yang cukup mengenai bidang usaha yang terbuka, lokasi
proyek yang dibuktikan dengan surat konfirmasi pencadangan tanah dari Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang bersangkutan, calon
penanam modal mengajukan permohonan penanaman modal kepada Ketua BKPM dengan
mempergunakan tata cara permohonan yang ditetapkan oleh Ketua BKPM;
10
(3) Apabila permohonan tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan ketentuan
serta persyaratan penanaman Modal Dalam Negeri yang berlaku, Ketua BKPM mengeluarkan
Surat Persetujuan Penanaman Modal yang berlaku juga sebagai Persetujuan Prinsip atau Izin
Usaha Sementara;
(4) Ketua BKPM menyampaikan tembusan Surat Persetujuan Penanaman Modal kepada :
a. Departemen yang membina bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan;
b. Departemen Keuangan;
c. Kepala badan Pertanahan Nasional untuk penyelesaian hak-hak atas tanah;
d. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I cq. BKPMD yang bersangkutan untuk koordinasi
penyelesaian izin lokasi.
(5) Apabila penanaman modal telah memperoleh Surat Persetujuan Penanaman Modal, setelah
dipenuhi persyaratan yang ditetapkan, maka :
a. Ketua BKPM atas nama Menteri yang bersangkutan mengeluarkan :
1) Angka Pengenal Importir terbatas;
2) Keputusan Pemberian Fasilitas/Keringanan Pajak dan Bea Masuk;
3) Izin kerja bagi Tenaga Kerja Asing Pendatang yang diperlukan;
4) Izin Usaha Tetap.
b. Gubernur Kepala daerah Tingkat I mengeluarkan Izin Lokasi yang disiapkan oleh Kantor
Wilayah Badan Pertanahan Nasional setempat;
c. Kepala Badan Pertanahan Nasional atau Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional setempat mengeluarkan Hak Guna Usaha, Hak Pengelolaan atau Hak Guna
Bangunan atas tanah sesuai ketentuan yang berlaku;
d. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II mengeluarkan Izin Mendirikan
Bangunan (IMB) dan izin Undang-Undang Gangguan (UUG)/HO.
(6) Setelah memperoleh Surat Persetujuan Penanaman Modal dari Ketua BKPM, penanam modal
dalam waktu yang ditetapkan menyampaikan kepada BKPM Daftar Induk barang-barang
modal serta bahan baku dan bahan penolong yang akan diimpor;
(7) Berdasarkan penilaian terhadap Daftar Induk, Ketua BKPM mengeluarkan Ketetapan
mengenai fasilitas/keringanan bea masuk dan pungutan impor lainnya;
(8) Permohonan untuk perubahan atas rencana penanaman modal yang telah memperoleh
persetujuan Ketua BKPM, termasuk perubahan untuk perluasan proyek, disampaikan oleh
penanam modal kepada Ketua BKPM untuk mendapatkan persetujuannya dengan
mempergunakan tata cara yang ditetapkan oleh Ketua BKPM.

Bagan Alur Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN)










Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Bagi
Penanaman Modal
Surat konfirmasi pencadangan tanah dari
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Permohonan penanaman modal kepada
Ketua BKPM
Surat Persetujuan Penanaman Modal yang
berlaku juga sebagai Persetujuan Prinsip
atau Izin Usaha Sementara
Ketua BKPM atas nama Menteri yang
bersangkutan mengeluarkan :
Angka Pengenal Importir terbatas;
Keputusan Pemberian Fasilitas/Keringanan Pajak
dan Bea Masuk;
Izin kerja bagi Tenaga Kerja Asing Pendatang
yang diperlukan;
Izin Usaha Tetap.
Calon Penanaman Modal
Gubernur Kepala daerah Tingkat I mengeluarkan
Izin Lokasi yang disiapkan oleh Kantor Wilayah
badan Pertanahan Nasional setempat.
Kepala Badan Pertanahan Nasional atau Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
setempat mengeluarkan Hak Guna Usaha dan
Hak Guna Bangunan atas tanah sesuai ketentuan
yang berlaku.
Bupati/Walikotamadya Kepala daerah Tingkat II
11
















Berdasarkan uraian proses dan bagan alur PMDN diatas, perusahaan PMDN memegang surat-surat
sebagai bagian dari syarat administratif, sebagai berikut:

1. Surat Konfirmasi Pencadangan Tanah dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I;
2. Surat Permohonan penanaman modal kepada Ketua BKPM;
3. Surat Persetujuan Penanaman Modal yang berlaku juga sebagai Persetujuan Prinsip atau Izin
Usaha Sementara;
4. Surat Keputusan Ketua BKPM atas nama Menteri berisikan :
a. Angka Pengenal Importir terbatas;
b. Keputusan Pemberian Fasilitas/Keringanan Pajak dan Bea Masuk;
c. Izin kerja bagi Tenaga Kerja Asing Pendatang yang diperlukan;
d. Izin Usaha Tetap.
5. Surat Keputusan Gubernur Kepala daerah Tingkat I Tentang Izin Lokasi;
6. Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional atau Kepala Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional tentang Pemberian HGU dan Sertifikat Hak Guna Usaha;
7. Surat Keputusan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Tentang Izin Mendirikan
Bangunan (IBM) dan izin Undang-Undang Gangguan (UUG)/HO;
8. Surat Permohonan kepada BKPM tentang permohonan persetujuan Daftar Induk barang-
barang modal serta bahan baku dan bahan penolong yang akan diimpor;
9. Surat Keputusan Ketua BKPM Tentang Ketetapan mengenai fasilitas/keringanan bea masuk
dan pungutan impor lainnya.

Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1992 Tentang Tata Cara Penanaman Modal menentukan
prosedur Penanam Modal Asing (PMA) sebagai berikut:

(1) Calon penanam modal yang akan mengadakan usaha dalam rangka Undang-undang Nomor 1
Tahun 1967 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 1970
mempelajari lebih dahulu daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Bagi Penanaman Modal yang
12
berlaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1), dan apabila diperlukan penjelasan lebih
lanjut dapat menghubungi BKPM;
(2) Setelah mengadakan penelitian yang cukup mengenai bidang usaha yang terbuka, lokasi
proyek yang dibuktikan dengan surat konfirmasi pencadangan tanah dari Gubernur Kepala
daerah Tingkat I dan ketentuan-ketentuan lain yang bersangkutan, calon penanam modal
mengajukan permohonan penanaman modal kepada Ketua BKPM dengan mempergunakan tata
cara permohonan yang ditetapkan oleh Ketua BKPM;
(3) Berdasarkan penilaian terhadap permohonan penanaman modal ketua BKPM menyampaikan
permohonan tersebut kepada Presiden dengan disertai pertimbangan guna memperoleh
Keputusan;
(4) Ketua BKPM menyampaikan tembusan permohonan dan pertimbangan tersebut kepada:
a. Departemen yang membina bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan;
b. Departemen Keuangan.
(5) Persetujuan/Penolakan Presiden mengenai suatu permohonan penanaman modal disampaikan
kepada Ketua BKPM;
(6) Ketua BKPM menyampaikan pemberitahuan tentang Keputusan presiden tersebut dalam ayat
(5) kepada calon penanam modal;
(7) Ketua BKPM menyampaikan tembusan Surat Pemberitahuan Keputusan Presiden yang
berlaku juga sebagai Persetujuan Prinsip atau Izin Usaha Sementara kepada :
a. Departemen yang membina bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan;
b. Departemen Keuangan;
c. Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk penyelesaian hak-hak atas tanah;
d. Gubernur Kepala daerah Tingkat I cq. BKPMD yang bersangkutan untuk koordinasi
penyelesaian izin lokasi.
(8) Apabila penanaman modal telah memperoleh Keputusan Presiden berupa persetujuan
penanaman modal setelah dipenuhi persyaratan yang ditetapkan, maka :
a. Ketua BKPM, atas nama Menteri yang bersangkutan mengeluarkan :
1) Angka pengenal importir terbatas;
2) Keputusan pemberian fasilitas/keringanan pajak dan bea masuk;
3) Izin kerja bagi Tenaga Kerja Asing Pendatang yang diperlukan;
4) Izin Usaha Tetap.
b. Gubernur Kepala daerah Tingkat I mengeluarkan Izin Lokasi yang disiapkan oleh Kantor
Wilayah badan Pertanahan Nasional setempat;
c. Kepala Badan Pertanahan Nasional atau Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional setempat mengeluarkan Hak Guna Usaha dan Hak Guna Bangunan atas tanah
sesuai ketentuan yang berlaku;
d. Bupati/Walikotamadya Kepala daerah Tingkat II mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan
(IBM) dan Izin Undang-Undang Gangguan (UUG)/HO.
(9) Setelah memperoleh Surat Pemberitahuan Persetujuan Presiden dari Ketua BKPM, penanam
modal dalam waktu yang ditetapkan menyampaikan kepada BKPM Daftar Induk barang-
barang modal, serta bahan baku dan bahan penolong yang akan diimpor;
(10) Berdasarkan penilaian terhadap Daftar Induk Ketua BKPM mengeluarkan Ketetapan mengenai
fasilitas/keringanan bea masuk dan pungutan impor lainnya;
(11) Permohonan untuk perubahan atas rencana penanaman modal yang telah memperoleh
persetujuan Presiden, termasuk perubahan untuk perluasan proyek, disampaikan oleh
13
penanam modal kepada Ketua BKPM untuk mendapatkan persetujuannya dengan
mempergunakan tata cara yang ditetapkan oleh Ketua BKPM.


14
Bagan Alur Penanaman Modal Asing (PMA)






































Berdasarkan uraian proses dan bagan alur PMA diatas, perusahaan PMA memegang surat-surat
sebagai bagian dari syarat administratif, sebagai berikut :
1. Surat Konfirmasi Pencadangan Tanah dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I;
2. Surat Permohonan penanaman modal kepada Ketua BKPM;
3. Keputusan Presiden Tentang Persetujuan Penanaman Modal Asing;
4. Surat Keputusan Ketua BKPM atas nama Menteri berisikan :
Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Bagi
Penanaman Modal
Surat konfirmasi pencadangan tanah dari
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Permohonan penanaman modal kepada
Ketua BKPM
Ketua BKPM atas nama Menteri yang
bersangkutan mengeluarkan :
Angka Pengenal Importir terbatas;
Keputusan Pemberian
Fasilitas/Keringanan Pajak dan Bea
Masuk;
Izin kerja bagi Tenaga Kerja Asing
Pendatang yang diperlukan;
Izin Usaha Tetap.
Penanam Modal menyampaikan kepada
BKPM Daftar Induk barang-barang modal
serta bahan baku dan bahan penolong
yang akan diimpor.
Berdasarkan penilaian terhadap Daftar
Induk Ketua BKPM mengeluarkan
Ketetapan mengenai fasilitas/keringanan
bea masuk dan pungutan impor lainnya.
Calon Penanaman Modal
Ketua BKPM menyampaikan permohonan
PM kepada Presiden dengan disertai
pertimbangan
Ketua BKPM menyampaikan tembusan
Surat Pemberitahuan Keputusan Presiden
yang berlaku juga sebagai Persetujuan
Prinsip atau Izin Usaha Sementara
kepada:
Departemen yang membina bidang usaha
penanaman modal yang bersangkutan;
Departemen Keuangan;
Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk
penyelesaian hak-hak atas tanah;
Gubernur Kepala daerah Tingkat I cq.
BKPMD yang bersangkutan untuk
koordinasi penyelesaian izin lokasi.
Gubernur Kepala daerah Tingkat I
mengeluarkan Izin Lokasi yang disiapkan
oleh Kantor Wilayah badan Pertanahan
Nasional setempat.

Kepala Badan Pertanahan Nasional atau
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional setempat mengeluarkan Hak
Guna Usaha dan Hak Guna Bangunan
atas tanah sesuai ketentuan yang berlaku.
Bupati/Walikotamadya Kepala daerah
Tingkat II mengeluarkan Izin Mendirikan
Bangunan (IBM) dan Izin Undang-Undang
Gangguan (UUG)/HO.
15
a. Angka Pengenal Importir terbatas;
b. Keputusan Pemberian Fasilitas/Keringanan Pajak dan Bea Masuk;
c. Izin kerja bagi Tenaga Kerja Asing Pendatang yang diperlukan;
d. Izin Usaha Tetap.
5. Surat Keputusan Gubernur Kepala daerah Tingkat I Tentang Izin Lokasi;
6. Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional atau Kepala Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional tentang Pemberian HGU dan Sertifikat Hak Guna Usaha;
7. Surat Keputusan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Tentang Izin Mendirikan
Bangunan (IBM) dan izin Undang-Undang Gangguan (UUG)/HO;
8. Surat Permohonan kepada BKPM tentang permohonan persetujuan Daftar Induk barang-
barang modal serta bahan baku dan bahan penolong yang akan diimpor;
9. Surat Keputusan Ketua BKPM Tentang Ketetapan mengenai fasilitas/keringanan bea masuk
dan pungutan impor lainnya.

Setelah setahun berlaku, Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1992 ini diganti dengan Keputusan
Presiden Nomor 97 Tahun 1993 Tentang Tata Cara Penanaman Modal. Pada tahun 1999 Kepala
BKM kembali mengeluarkan keputusan untuk mengatur tata cara penanaman modal. Tata cara
tersebut diatur dituangkan dalam Keputusan Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal Nomor 38/Sk/1999 Tanggal 6 Oktober 1999 Tentang Pedoman Dan Tata Cara
Permohonan Penanaman Modal Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Dalam Negeri Dan
Penanaman Modal Asing. Pada tahun 2004 Kepala BKPM kembali mengeluarkan perubahan dengan
mengeluarkan Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 57/SK/2004 Tentang
Pedoman Dan Tatacara Permohonan Penanaman Modal Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman
Modal Dalam Negeri Dan Penanaman Modal Asing.

Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 57/SK/2004 Tentang Pedoman
Dan Tatacara Permohonan Penanaman Modal Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal
Dalam Negeri Dan Penanaman Modal Asing

Keputusan kepala BKPM ini menentukan prosedur penanaman modal sebagai berikut:

1. Calon penanam modal yang akan melakukan kegiatan penanaman modal dalam rangka PMDN
dan PMA wajib mengajukan permohonan kepada Kepala BKPM;
2. Surat Persetujuan (SP) atas permohonan penanaman modal dalam rangka PMDN dan PMA
ditandatangani oleh Kepala BKPM;
3. Penanaman modal yang telah memperoleh Surat Persetujuan wajib mengajukan permohonan
untuk memperoleh perizinan pelaksanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penanaman modal.
Perizinan pelaksanaan penanaman modal terdiri atas :
a. Perizinan yang diterbitkan oleh BKPM, berupa :
1. Angka Pengenal Importir Terbatas;
2. Izin Usaha/Izin Usaha Tetap/Izin Perluasan;
3. Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing;
4. Rekomendasi Visa bagi Penggunaan Tenaga Kerja Asing;
5. Izin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing;
16
6. Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing yang bekerja di lebih dari 1
(satu) Provinsi;
7. Fasilitas pembebasan/keringanan Bea Masuk atas pengimporan Barang Modal atau
Bahan Baku/Penolong dan Fasilitas Fiskal lainnya.
b. Perizinan yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi sesuai kewenangannya, berupa
Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing untuk Tenaga Kerja Asing yang
bekerja di wilayah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) Provinsi;
c. Perizinan yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, berupa :
1. Izin Lokasi;
2. Sertifikat Hak Atas Tanah;
3. Izin Mendirikan Bangunan;
4. Izin Undang-Undang Gangguan/HO.


17
Bagan Alur Penanaman Modal




















Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 57/SK/2004,
perusahaan memiliki surat-surat sebagai berikut :
1. Surat Persetujuan (SP) atas permohonan penanaman modal dari Kepala BKPM;
2. Angka Pengenal Importir Terbatas;
3. Izin Usaha/Izin Usaha Tetap/Izin Perluasan;
4. Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing;
5. Rekomendasi Visa bagi Penggunaan Tenaga Kerja Asing;
6. Izin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing;
7. Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing yang bekerja di lebih dari 1 (satu)
Provinsi;
8. Fasilitas pembebasan/keringanan Bea Masuk atas pengimporan Barang Modal atau Bahan
Baku/Penolong dan Fasilitas Fiskal lainnya;
9. Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing untuk Tenaga Kerja Asing yang
bekerja di wilayah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) Provinsi;
10. Izin Lokasi;
11. Sertifikat Hak Atas Tanah;
12. Izin Mendirikan Bangunan;
13. Izin Undang-Undang Gangguan/HO.

2.2. Izin Usaha Perkebunan

Sejak PT. PHP beroperasi sampai dengan dibukanya perkebunan sawit oleh Wilmar Groups di
Sambas (PT.WSP), kebijakan perizinan perkebunan telah berkali-kali berubah. Pertama, berlaku
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 229/Kpts/KB.550/4/1991 jo. Surat Keputusan Menteri
Permohonan Persetujuan Penanaman Modal kepada
Kepala BKPM
Surat Persetujuan (SP) atas permohonan penanaman
modal dari Kepala BKPM
Perizinan yang diterbitkan oleh BKPM, berupa :
Angka Pengenal Importir Terbatas;
Izin Usaha/Izin Usaha Tetap/Izin Perluasan;
Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing;
Rekomendasi Visa bagi Penggunaan Tenaga Kerja
Asing;
Izin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing;
Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing
yang bekerja di lebih dari 1 (satu) Provinsi.
Fasilitas pembebasan/keringanan Bea Masuk atas
pengimporan Barang Modal atau Bahan
Baku/Penolong dan Fasilitas Fiskal lainnya.
Perizinan yang diterbitkan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota, berupa :
Izin Lokasi; Sertifikat Hak Atas Tanah; Izin Mendirikan
Bangunan; Izin Undang-Undang Gangguan/HO;
Perizinan yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi
sesuai kewenangannya, berupa Perpanjangan Izin
Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing untuk Tenaga Kerja
Asing yang bekerja di wilayah Kabupaten/Kota dalam 1
(satu) Provinsi.
Calon Penanaman Modal
18
Pertanian Nomor 753/Kpts/KB.550/12/1992 yang menetapkan pengembangan perkebunan besar
dan tatacara persetujuan prinsip usaha perkebunan. Selanjutnya kebijakan ini diubah dengan
Keputusan Menteri Pertanian No. 786/Kpts/KB.120/10/96 Tentang Perizinan Usaha Perkebunan,
Keputusan Menteri Kehutanan Dan Perkebunan No. 107/Kpts-II/1999 Tentang Perizinan Usaha
Perkebunan, Keputusan Menteri Pertanian No. 357/Kpts/HK.350/5/2002 Tentang Pedoman
Perizinan Usaha Perkebunan dan terakhir dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor
26/Permentan/OT.140/2/2007 Tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan.

Deskripsi ini akan menggambarkan perizinan perkebunan yang berlaku pada masa kedua perusahaan
tersebut memulai usahanya yaitu (i) Keputusan Menteri Pertanian No. 786/Kpts/KB.120/10/96
Tentang Perizinan Usaha Perkebunan, (ii) Keputusan Menteri Pertanian No.
357/Kpts/HK.350/5/2002 Tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan dan (iii) Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 Tentang Pedoman Perizinan Usaha
Perkebunan.

2.2.1. Keputusan Menteri Pertanian No. 786/Kpts/KB.120/10/96 Tentang Perizinan Usaha
Perkebunan.

Keputusan Menteri Pertanian No. 786/Kpts/KB.120/10/96 Tentang Perizinan Usaha Perkebunan,
memberikan pengertian Usaha perkebunan adalah kegiatan untuk melakukan usaha budidaya dan
atau usaha Industri Perkebunan Usaha Budidaya Perkebunan adalah usaha tanaman perkebunan
yang meliputi kegiatan penanaman, dan perubahan jenis tanaman. Usaha Industri Perkebunan
adalah usaha industri pengolahan hasil perkebunan yang pengaturan, pembinaan dan
pengembangannya menjadi wewenang Menteri Pertanian.

Persetujuan Prinsip Usaha Perkebunan

(1) Persetujuan Prinsip Usaha Budidaya Perkebunan diberikan kepada Perusahaan Perkebunan,
baik yang menggunakan fasilitas PMA atau PMDN untuk melakukan kegiatan persiapan
pembangunan kebun dengan memperhatikan kebijaksanaan teknis yang telah digariskan,
kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam;
(2) Untuk memperoleh Persetujuan Prinsip Usaha Budidaya Perkebunan dari Direktur Jenderal
Perkebunan atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I c.q Kepala Dinas Perkebunan Dati I
setempat sesuai dengan kewenangan pemberian izin, pemohon wajib menyampaikan surat
permohonan dilengkapi dengan Persyaratan :
a. Surat pengarahan lahan dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II setempat;
b. Rencana kerja usaha budidaya perkebunan;
c. Akte Pendirian Perusahaan termasuk Perubahannya;
d. Rekomendasi/dukungan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I c.g Kepala Dinas
Perkebunan Dati II setempat berdasarkan hasil prasurvey calon lokasi;
19
e. Peta Calon Lokasi dengan skala
1:100.000.
(3) Persatujuan Prinsip Usaha Budidaya
Perkebunan berlaku dalam jangka
waktu 1 (satu) tahun, dan atas
permintaan pemohon dapat
diperpanjang 2 (dua) kali masing-
masing selama 1 (satu) tahun
dengan menggunakan Formulir
Model PPUB-4. Perpanjangan
diberikan oleh Direktur Jenderal
Perkebunan atau Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I c.q Kepala Dinas
Perkebunan Dati I dengan
menggunakan Formulir model
PPUB-7Syarat perpanjangan yang
harus di penuhi :
a. Laporan Kemajuan Pelaksanaan
Kegiatan dengan menggunakan
Formulir Model PPUB-5;
b. Alasan perpanjangan;
c. Rekomendasi/dukungan dari
Kepala Dinas Perkebunan Dati I
atau kepala dinas perkebunan
Dati II setempat berdasarkan
hasil pemeriksaan di lapangan
yang di tuangkan dalam bentuk
Berita Acara dengan
menggunakan Formulir Model
PPUB-6.
(4) Perusahaan Perkebunan yang telah
memperoeh Persetujuan Prinsip
Usaha Budidaya perkebunan, wajib
menyampaikan laporan kemajuan
peaksanaan kegiatan setiap 6
(enam) bulan kepada pejabat dengan
menggunakan formulir Model
PPUB-5;
(5) Apabila perpanjangan ke II telah berakhir, Persetujuan Prinsip Usaha Perkebunan dapat
dipertimbangkan untuk diterbitkan kembali melalui pembaharuan untuk jangka 1 tahun,
sebanyak 1 kali. Pembaharuan Persetujuan Prinsip Usaha Perkebunan diterbitkan dengan
menggunakan formulir Model PPUB-8 apabila setelah dilakukan penelitian lapangan oleh
Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukan kesungguhan dan pemohon untuk melakukan
usaha budidaya perkebunan yang dituangkan dalam Berita Acara denga menggunakan
Pengertian-Pengertian
Keputusan Menteri Pertanian No. 786/Kpts/KB.120/10/96 Tentang
Perizinan Usaha Perkebunan.

1) Usaha Perkebunan adalah kegiatan untuk melakukan usaha Budidaya dan
atau usaha Industri Perkebunan;
2) Usaha Budidaya Perkebunan adalah usaha tanaman perkebunan yang
meliputi kegiatan penanaman, dan perubahan jenis tanaman.
3) Usaha Industri Perkebunan adalah usaha industri pengolahan hasil
perkebunan yang pengaturan, pembinaan dan pengemban
pengembangannya menjadi wewenang Menteri Pertanian sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
4) Idustri Perkebunan Rakyat adalah usaha industri pengolahan hasil
parkebunan yang diusahakan oleh tenaga keluarga sendiri.
5) Persetujuan Prinsip Usaha Budidaya Perkebunan adalah persetujuan
tertulis yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perkebunan yang
memberikan hak kepada pemegangnya untuk melakukan persiapan fisik
kebun, penyelesaian hak atas tanah, mesin/peralatan pertanian,tenaga
kerja dan administrasi lainnya yang mendukung pembangunan budidaya.
6) Persetujuan Prinsip Usaha Industri Perkebunan adalah persetujuan tertulis
yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perkebunan yang memberikan hak
kepada pemegangnya untuk melakukan persiapan fisik industri,
mesin/peralatan industri, tenaga kerja dan administrasi lairnya yang
mendukung pembangunan usaha industri.
7) Izin Usaha Perkebunan adalah izin tertulis yang dikeluarkan oleh Menteri
Pertanian atau pejabat yang ditunjuknya untuk memberikan hak kepada
pemegangnya untuk melakukan usaha perkebunan yang berdiri dari Usaha
budidaya Perkebunan dan Usaha Industri Perkebunan.
8) Izin Usaha Budidaya Perkebunan adalah izin tertulis yang 1 dikeluarkan
oleh Menteri Pertanian atau pejabat yang ditunjuk untuk memherikan hak
kepada pemegangnya melakukan Usaha Budidaya Perkebunan.
9) Izin Usaha Industri Perkebunan adalah izin tertulis yang dikeluarkan oleh
Menteri Pertanian atau pejabaat yang ditunjuku untuk memberikan hak
kepada pemegangnya melakukan Usaha Industri Perkebunan.
10) Izin Perubahan Jenis Tanaman adalah izin tertulis yang dikeluarkan oleh
Menteri Pertanian atau pejabat yang ditunjuk untuk memberikan hak
kepada pemegangnya melakukan perubahan jenis tanaman perkebunan.
11) Izin Perluasan Usaha Industri Perkebunan adalah izin tertulis yang
dikeluarkan oleh Menteri Pertanian atau pejabat yang ditunjuk untuk
memberikan hak kepada pemegangnya melakukan penambahan kapasitas
produksi.
20
Formulir Model PPUB-9. Surat permohonan pembaruan perpanjangan persetujuan prinsip
perkebnan dilengkapi persyaratan sebagi berikut :
a. Laporan Kegiatan Pembangunan di Lapangan;
b. Laporan Hambatan/kendala yang timbul;
c. Studi kelayakan Usaha budidaya perkebunan;
d. Lokasi dimaksud tidak mengalami perubahan.

Izin Tetap Usaha Budidaya Perkebunan
(1) Perusahaan Perkebunan yang telah memiliki keputusan Hak Guna Usaha dan telah
melaksanakan penanaman dapat mengajukan permohonan Izin Tetap Usaha Budidaya
Perkebunan. Lokasi Hak Guna Usaha dan jenis tanaman yang diusahakan harus sesuai dengan
yang tercantum dalam Persetujuan Prinsip Usaha Perkebunan;
(2) Izin Usaha Budidaya Perkebunan Besar diberikan oleh Manteri Pertanian dan berlaku selama
perusahaan masih melakukan kegiatannya. Dalam pelaksanaannya Menteri Pertanian
melimpahkan wewenang pemberian Izin Usaha Perkebunan kepada : 1) Direktur Jenderal
Perkebunan, untuk usaha budidaya perkebunan dengan luas areal lebih dari 200 hektar, dan
Usaha Industri Perkebunan dan 2) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I c.q Kepala Dinas
Perkebunan Dati I untuk usaha budidaya perkebunan dengan luas areal antara 25 hektar
sampai dengan 200 hektar.
a. Permohonan Izin Tetap Usaha Budidaya Perkebunan diajukan kepada Direktur Jenderal
Perkebunan atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I c.q Kepala Dinas Perkebunan Dati I
dengan menggunakan formulir Model PPUB-11 yang dilampiri dengan syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12, dengan tembusan kepada Kepala Dinas Perkebunan Dati I atau
Kepala Dinas Perkebunan Dati II setempat;
b. Dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja setelah permohonan serta laporan diterima
Direktur Jenderal Perkebunan atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I c.q Kepala Dinas
Perkebunan Dati I setempat menerbitkan Izin Tetap Usaha Budidaya Perkebunan dalam
bentuk Keputusan sebagaimana tercantum dalam formulir Model PPUB-12, atau
menunda/menolak pemberian Izin Tetap Usaha Budidaya Perkebunan dengan
menggunakan Formulir Model PPUB-3.

(3) Syarat Izin Usaha Budidaya Tetap Perkebunan Besar :
o. Usaha Perkebunan dapat dilakukan oleh perorangan Warga Negara Republik Indonesia
atau Badan Hukum Indonesia yang berbentuk Koperasi, Badan Usaha Milik Negara
termasuk Badan Usaha Milik Daerah, dan Perusahaan Swasta;
|. Usaha Perkebunan dapat pula dilakukan oleh Perseroan Terbatas yang dibentuk menurut
hukum Indonesia,berkedudukan di Indonesia oleh Warga Negara dan atau Badan Hukum
Asing dan modalnya dimiliki secara patungan antara modal asing dengan modal warga
negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia maupun secara langsung dimiliki oleh
Warga Negara Asing dan atau Badan Hukum Asing;
_. Dalam hal usaha perkebunan dilakukan dalam bentuk patungan, maka sekurang-kurangnya
5 % (lima perseratus) dari seluruh modal yang disetor pada waktu pendiriannya harus
dimiliki oleh Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum Indonesia;
o. Dalam hal Usaha Perkebunan dilakukan Sepenuhnya oleh badan Hukum Asing atau Warga
Negara Asing dalam jangka waktu paling lama 15 (lima belas) tahun sejak berproduksi
21
Pengertian-Pengertian Dalam
Keputusan Menteri Pertanian No. 357/Kpts/HK.350/5/2002
Tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan

1) Usaha Perkebunan adalah kegiatan untuk melakukan
usaha budidaya dan atau usaha industri perkebunan;
2) Usaha Budidaya Perkebunan adalah serangkaian kegiatan
pengusahaan tanaman perkebunan yang meliputi kegiatan
pra tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman dan
pemanenan termasuk perubahan jenis tanaman;
3) Usaha Industri Perkebunan adalah serangkaian kegiatan
pengolahan produksi tanaman perkebunan yang bertujuan
untuk memperpanjang daya simpan dan atau
meningkatkan nilai tambah;
4) Izin Usaha Perkebunan yang selanjutnya disebut IUP
adalah izin tertulis yang wajib dimiliki perusahaan untuk
dapat melakukan usaha budidaya perkebunan dan atau
usaha industri perkebunan;
5) Surat Pendaftaran Usaha Perkebunan yang selanjutnya
disebut SPUP adalah surat yang diberikan oleh pejabat
pemberi izin yang berlaku seperti layaknya IUP;
komersial, menjual sebagian sahamnya kepada Warga Neqara Indonesia dan ataau badan
Hukum Indonesia melalui pemilikan langsung atau melalui Pasar Modal dalam negeri.
Pelaksanaan pengalihan sebagian sahamnya harus dilaporkan kepada Menteri Pertanian
c.q Direktur Jenderal Perkebunan.

(4) Untuk memperoleh Izin Tetap Usaha Budidaya Perkebunan pemohon wajib menyampaikan
surat permohonan dilengkapi dengan persyaratan :
o. Persetujuan Prinsip Usaha Budidaya Perkebuanan;
|. Keputusan Pemberian Hak Guna Usaha;
_. Laporan Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan denga menggunakan Formulir PPUB-5;
o. Kondisi kebun telah memenuhi persyaratan teknis;
c. Telah melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau Upaya
Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantuan Lingkungan (UPL);
|. Studi Kelayakan Usaha Budidaya Perkebunan untuk izin yang dikeluarkan oleh Menteri
Pertanian c.q Direktur Jenderal Perkebunan;
. Rekomendasi/dukungan dari Kepala Dinas Perkebunan Dati I atau Kepala Dinas Perkebunan
Dati II, yang dibuat berdasarkan hasil penelitian lapangan.
1) Untuk memperoleh rekomendasi/ dukungan perusahaan mengajukan permohonan
kepada Kepala Dinas Perkebunan Dati I/ Kepala Dinas Perkebunan Dati II setempat,
dan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja sejak diterimanya surat
permohonan, kepala Dinas Perkebunan Dati I/ Kepala Dinas Perkebunan Dati II
setempat setelah mengadakan penelitian ke lokasi yang hasilnya dituangkan dalam
Berita Acara Penelitian Usaha Budidaya Perkebunan dengan menggunakan Formulir
Model PPUB-10 dan selambat-lambatnya dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja
setelah ditandatangani, Kepala Dinas Perkebunan Dati I/ Dati II menyampaikan
laporan kepada Direktur Jenderal Perkebunan atau Gubernur c.q Kepala Dinas
Perkebunan Dati I
setempat;
2) Dalam hal penelitian tidak
dilakukan oleh Kepala
Dinas Perkebunan Dati I
atau Kepala Dinas
Perkebunan Dati II
setempat pada waktu yang
ditentukan , pemohon yang
bersangkutan dapat
melaporkan kepada
Direktur Jenderal
Perkebunan atau Gubernur
Kepala Daerah Tingkat I
setempat dengan tembusan
Kepala Dinas Perkebunan
Dati I atau Kepala Dinas
Perkebunan Dati II
setempat.
22


2.2.2. Keputusan Menteri Pertanian No. 357/Kpts/HK.350/5/2002 Tentang Pedoman Perizinan
Usaha Perkebunan

Pada tanggal 23 Mei 2002 Menteri Pertanian mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian No.
357/Kpts/HK.350/5/2002 Tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan. Keputusan Mentan No.
357-2002 ini dimaksudkan untuk merespon situasi penyelenggaraan pemerintahan dalam otonomi
daerah berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun
2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai daerah Otonom.

Ruang lingkup Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan ini meliputi:
a. jenis, luas maksimum, dan pola pengembangan usaha;
b. syarat-syarat perizinan usaha perkebunan;
c. tatacara perizinan usaha perkebunan; dan
d. pembinaan dan pengawasan.

SyaratSyarat Perizinan Usaha Perkebunan
Usaha Perkebunan dapat dilakukan oleh perorangan warga negara Indonesia atau badan hukum
yang didirikan menurut hukum Indonesia meliputi Koperasi, Perseroan Terbatas, Badan Usaha Milik
Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Untuk memperoleh Izin Usaha Perkebunan, perusahaan perkebunan wajib memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
1. Akte pendirian dan perubahannya yang terakhir;
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
3. Surat keterangan domisili;
4. Rencana kerja usaha perkebunan;
5. Rekomendasi lokasi dari instansi Pertanahan;
6. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari instansi Kehutanan sepanjang kawasan hutan;
7. Rekomendasi teknis kesesuaian lahan dari Kepala Dinas yang membidangi usaha perkebunan
Propinsi, Kabupaten atau Kota setempat yang didasarkan pada perencanaan makro,
perwilayahan komoditi dan RUTR;
8. Pernyataan penguasaan lahan perusahaan atau grup bahwa usaha perkebunannya belum
melampaui batas maksimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7;
9. Pernyataan mengenai pola pengembangan yang dipilih dan dibuat dalam akte notaris;
10. Peta calon lokasi dengan skala 1 : 100.000;
11. Surat persetujuan dokumen AMDAL dari Komisi AMDAL Daerah.

Syarat Lain
1. Pembangunan pabrik pengolahan hasil perkebunan wajib dilakukan secara terpadu dengan
jaminan pasokan bahan baku dari kebun sendiri;
2. Apabila pasokan bahan baku dari kebun sendiri tidak mencukupi dapat dipenuhi dari sumber
lain melalui perusahaan patungan dengan menempuh salah satu pola pengembangan yang
ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf i;
23
Pengertian-Pengertian Dalam
Peraturan Menteri Pertanian Nomor
26/Permentan/OT.140/2/2007 Tentang Pedoman
Perizinan Usaha Perkebunan

1. Izin Usaha Perkebunan (lUP) adalah izin tertulis dari
Pejabat yang berwenang dan wajib dimiliki oleh
perusahaan yang melakukan usaha budidaya
perkebunan dan terintegrasi dengan usaha industri
pengolahan hasil perkebunan.
2. Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) adalah
izin tertulis dari Pejabat yang berwenang dan wajib
dimiliki oleh perusahaan yang melakukan usaha
budidaya perkebunan.
3. lzin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P)
adalah izin tertulis dari Pejabat yang berwenang dan
wajib dimiliki oleh perusahaan yang melakukan
usaha industri pengolahan hasil perkebunan.
3. Pembangunan pabrik pengolahan hasil perkebunan disesuaikan dengan perkembangan
penanaman dan produksi kebun.

2.2.3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 Tentang Pedoman
Perizinan Usaha Perkebunan

Untuk memperoleh IUP-B perusahaan
perkebunan mengajukan permohonan secara
tertulis kepada bupati/walikota atau gubernur
sesuai dengan lokasi areal dengan dilengkapi
persyaratan sebagai berikut:

1. Akte pendirian perusahaan dan
perubahannya yang terakhir;
2. Nomor Pokok Wajib Pajak;
3. Surat keterangan domisili;
4. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana
tata ruang wilayah kabupaten/kota dari
bupati/walikota (untuk IUP-B yang
diterbitkan oleh gubernur);
5. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana makro pembangunan perkebunan provinsi dari
gubernur (untuk IUP-B yang diterbitkan oleh bupati/walikota);
6. Izin lokasi dari bupati/ walikota yang dilengkapi dengan peta calon lokasi dengan skala 1 :
100.000 atau 1 : 50.000;
7. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari instansi Kehutanan (apabila areal berasal dari
kawasan hutan);
8. Rencana kerja pembangunan perkebunan;
9. Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), atau Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPl) sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
10. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk melakukan
pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT);
11. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk melakukan
pembukaan lahan tanpa pembakaran serta pengendalian kebakaran;
12. Pernyataan kesediaan membangun kebun untuk masyarakat sesuai Pasal 11 yang dilengkapi
dengan rencana kerjanya; dan
13. Pernyataan kesediaan untuk melakukan kemitraan.


2.3. Perolehan Tanah Untuk Perkebunan

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 2 Tahun 1993 Tentang
Tata Cara Memperoleh Izin Lokasi Dan Hak Atas Tanah Bagi Perusahaan Dalam Rangka
Penanaman Modal.

24
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 2 Tahun 1993 ini
menentukan bahwa untuk memperoleh izin lokasi, perusahaan mengajukan permohonan kepada
Kepala Kantor Pertanahan setempat. Surat permohonan ini melampirkan :
1. Surat persetujuan penanaman modal bagi PMDN;
2. Surat pemberitahuan persetujuan presiden bagi PMA;
3. Surat persetjuan prinsip dari Departemen Teknis bagi non PMA & PMDN.

Surat permohonan ini ditembuskan kepada 1) Kepala kantor wilayah, 2) Badan Koordinasi
Penanaman Modal Daerah untuk PMA/PMDN, instansi vertikal teknis di daerah tingkat II untuk
non PMA/PMDN dan 3) Badan Perencanaan Daerah TK II.

Keputusan Menteri Agraria / Kepala BPN No. 21 Tahun 1994 Tentang Tata Cara Perolehan
Tanah Bagi Perusahaan Dalam Rangka Penanaman Modal.

Kepmenag/Ka.BPN ini dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Paket Deregulasi Oktober 1993
bidang pertanahan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional No. 2 Tahun 1993 Tentang Tata Cara Memperoleh Izin Lokasi dan Hak Atas
Tanah Bagi Perusahaan Dalam Rangka Penanaman Modal.

Peraturan ini menentukan perolehan tanah untuk kepentingan perkebunan dapat melalui dua
katergori 1) perolehan tanah melalui pemindahan hak, yang berasal dari tanah hak milik, tanah hak
guna bangunan, tanah hak guna usaha dan tanah hak pakai, 2) perolehan tanah melalui penyerahan
atau pelepasan atas tanah. Tatacara perolehan yang pertama, terikat dengan sertifikat alas hak,
sedangkan perolehan hak atas tanah jalur kedua dilakukan untuk tanah-tanah yang tidak
bersertifikat. Semua tanah dalam kasus ini berada dalam ruang lingkup upaya kedua.

Menurut Kepmen/Kep BPN No. 21 Tahun 1994 ini, penyerahan atau pelepasan atas tanah untuk
kepentingan perusahaan dalam rangka pelaksanaan izin lokasi dilakukan oleh pemegang hak atau
kuasanya dengan pernyataan penyerahan atau pelepasan hak atas tanah yang dibuat dihadapan
Kepala Kantor Pertanahan setempat dengan formulir yang telah ditentukan.

Jika diperlukan, sebelum penyerahan atau pelepasan atas tanah untuk kepentingan perusahaan
dalam rangka pelaksanaan izin lokasi dapat diadakan perjanjian kesediaan menyerahkan atau
melepaskan hak atas tanah dengan formulir yang ditentukan yang berisi kesepakatan bahwa, dengan
menerima ganti kerugian, pemegang hak bersedia :
a. Menyerahkan tanah Hak Miliknya sehingga tanah tersebut jatuh pada negara.
b. Melepaskan HGU, HGB atau Hak Pakainya sehingga tanah tersebut menjadi tanah negara,
untuk kemudian diberikan kepada perusahaan dengan hak atas tanah yang sesuai dengan
keperluan perusahaan tersebut.

Izin lokasi diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Negara No. 2
Tahun 1999 tentang Izin Lokasi.

25
Jangka waktu Izin lokasi diberikan berdasarkan luasan
tanah yang dibutuhkan. Apabila luasan tanah yang
dibutuhkan untuk investasi adalah sampai dengan 25 Ha
maka ijin lokasi diberikan selama 1tahun, untuk tanah
seluas 25 s/d 50 Ha, diberikan waktu selama 2 tahun dan
untuk luasan lebih 50 Ha waktu yang diberikan adalah 3
tahun. Jika dalam masa satu ijin lokasi, pembebasan lahan
belum sampai pada luasan yang dibutuhkan, tapi telah
mencapai lebih dari 50% dari luas tanah yang ditunjuk
dalam izin lokasi tersebut, maka perpanjangan dapat
diberikan selama 1 tahun. Tapi jika perolehan tanah tidak
dapat diselesaikan pada masa ijin lokasi dan
perpanjangannya, maka pada tanah-tanah yang sudah
dapat diperoleh ditentukan tindakan-tindakan a)
dipergunakan untuk melaksanakan rencana penanaman
modal dengan penyesuaian mengenai luas pembangunan
dengan ketentuan bahwa apabila diperlukan masih dapat
dilaksanakan perolehan tanah sehingga diperoleh bidang
tanah yang merupakan satu kesatuan bidang atau b)
dilepaskan kepada perusahaan atau pihak lain yang
memenuhi syarat.
Izin Lokasi adalah izin yang diberikan kepada
perusahaan untuk memperoleh tanah yang
diperlukan dalam rangka penanaman modal yang
berlaku pula sebagai izin pemindahan hak, dan
untuk menggunakan tanah tersebut guna
keperluan usaha penanaman modalnya.

Surat keputusan pemberian Izin Lokasi di
tandatangani oleh Bupati/Walikotamadya atau,
untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, oleh
Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta
setelah diadakan rapat koordinasi antar instansi
terkait, yang dipimpin olah
Bupati/Walikotamadya atau untuk Daerah
Khusus Ibukota Jakarta, oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, atau oleh pejabat
yang ditunjuk secara tetap olehnya dan diberikan berdasarkan pertimbangan mengenai aspek
penguasaan tanah dan teknis tata guna tanah yang meliputi keadaan hak serta penguasaan tanah
yang bersangkutan, penilaian fisik wilayah, penggunaan tanah serta kemampuan tanah.

Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat menyelenggarakan rapat koordinasi untuk
memberikan pertimbangan kepada Kepala Daerah dimana terdapat kewajiban untuk berkonsultasi
dengan pemegang hak atas tanah yang mencakup aspek-aspek a) penyebarluasan informasi,
mengenai rencana penanaman modal yang akan dilaksanakan, ruang lingkup dampaknya dan rencana
perolehan tanah serta penyelesaian masalah yang berkenaan dengan perolehan tanah tersebut, b)
Pembebasan kesempatan kepada pemegang hak atas tanah untuk memperoleh penjelasan tentang
rencana penanaman modal dan mencari alternatif pemecahan masalah yang ditemui, c) Pengumpulan
informasi langsung dari masyarakat untuk memperoleh data sosial dan lingkungan yang diperlukan
dan d) Peran serta masyarakat berupa usulan tentang alternatif bentuk dan besarnya ganti kerugian
dalam perolehan tanah dalam pelaksanaan Izin Lokasi.

Sebelum izin lokasi diterbitkan, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat
menyelenggarakan rapat koordinasi untuk memberikan pertimbangan kepada Kepala Daerah. Rapat
koordinasi ini disertai dengan kegiatan berkonsultasi dengan masyarakat pemegang hak atas tanah
tentang aspek-aspek a) penyebarluasan informasi, mengenai rencana penanaman modal yang akan
dilaksanakan, ruang lingkup dampaknya dan rencana perolehan tanah serta penyelesaian masalah
yang berkenaan dengan perolehan tanah tersebut, b) Pembebasan kesempatan kepada pemegang
hak atas tanah untuk memperoleh penjelasan tentang rencana penanaman modal dan mencari
alternatif pemecahan masalah yang ditemui, c) Pengumpulan informasi langsung dari masyarakat
untuk memperoleh data sosial dan lingkungan yang diperlukan dan d) Peran serta masyarakat
berupa usulan tentang alternatif bentuk dan besarnya ganti kerugian dalam perolehan tanah dalam
pelaksanaan Izin Lokasi.

Jangka waktu Izin lokasi diberikan berdasarkan luasan tanah yang dibutuhkan sebagai berikut;
1. Untuk luasan tanah yang dibutuhkan untuk investasi adalah sampai dengan 25 Ha maka ijin
lokasi diberikan selama 1 tahun;
26
2. Untuk tanah seluas 25 s/d 50 Ha, jangka waktu yang diberikan waktu selama 2 tahun; dan
3. Untuk luasan lebih 50 Ha jangka waktu yang diberikan adalah 3 tahun;
4. Jika dalam masa satu ijin lokasi, pembebasan lahan belum sampai pada luasan yang
dibutuhkan, tapi telah mencapai lebih dari 50% dari luas tanah yang ditunjuk dalam izin lokasi
tersebut, maka perpanjangan dapat diberikan selama 1 tahun;
5. Tapi jika perolehan tanah tidak dapat diselesaikan pada masa ijin lokasi dan perpanjangannya,
maka pada tanah-tanah yang sudah dapat diperoleh ditentukan tindakan-tindakan :
a) dipergunakan untuk melaksanakan rencana penanaman modal dengan penyesuaian
mengenai luas pembangunan dengan ketentuan bahwa apabila diperlukan masih dapat
dilaksanakan perolehan tanah sehingga diperoleh bidang tanah yang merupakan satu
kesatuan bidang; atau
b) dilepaskan kepada perusahaan atau pihak lain yang memenuhi syarat.

Setelah pengusaha perkebunan memperoleh ijin lokasi, pengusaha perkebunan ini berhak untuk
membebaskan tanah dalam areal Izin Lokasi, hak dan kepentingan pihak lain berdasarkan
kesepakatan dengan pemegang hak atau pihak yang mempunyai kepentingan tersebut dengan cara
jual beli pemberian ganti kerugian, konsolidasi tanah atau cara lain sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebelum tanah yang bersangkutan dibebaskan oleh pemegang Izin Lokasi, maka semua hak atau
kepentingan pihak lain yang sudah ada atas tanah yang bersangkutan tidak berkurang dan tetap
diakui, termasuk kewenangan yang menurut hukum dipunyai oleh pemegang hak atas tanah untuk
memperoleh tanda bukti hak (sertifikat) dan kewenangan untuk menggunakan dan memanfaatkan
tanahnya bagi keperluan pribadi atau usahanya sesuai rencana tata ruang yang berlaku, serta
kewenangan untuk mengalihkannya kepada pihak lain. Pemegang Izin Lokasi wajib menghormati
kepentingan pihak-pihak lain atas tanah yang belum dibebaskan, tidak menutup atau mengurangi
aksesibilitas yang dimiliki masyarakat di sekitar lokasi, dan menjaga serta melindungi kepentingan
umum.

Sesudah tanah yang bersangkutan dibebaskan dari hak dan kepentingan pihak lain, maka kepada
pemegang Izin Lokasi dapat diberikan hak atas tanah yang memberikan kewenangan kepadanya
untuk menggunakan tanah tersebut sesuai dengan keperluan untuk melaksanakan rencana
penanaman modalnya.

2.4. Pendaftaran Tanah Hak Guna Usaha Untuk Perkebunan

Hak Guna Usaha (HGU) diatur dalam Bagian IV. UU Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria. Ketentuan lebih lanjut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40
Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah.

PP No. 40 Tahun 1996 ini menentukan bahwa yang dapat mempunyai Hak Guna Usaha adalah
Warga Negara Indonesia dan Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan
berkedudukan di Indonesia. Tanah yang dapat diberikan dengan Hak Guna Usaha adalah tanah
negara. Jika tanah yang akan diberikan dengan Hak Guna Usaha itu adalah tanah negara yang
merupakan kawasan hutan, maka pemberian Hak Guna Usaha dapat dilakukan setelah tanah yang
bersangkutan dikeluarkan dari statusnya sebagai kawasan hutan. Pemberian Hak Guna Usaha atas
27
tanah yang telah dikuasai dengan hak tertentu sesuai ketentuan yang berlaku, pelaksanaan
ketentuan Hak Guna Usaha tersebut baru dapat dilaksanakan setelah terselesaikannya pelepasan
hak tersebut sesuai dengan tata cara yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Jika di atas tanah yang akan diberikan dengan Hak Guna Usaha itu terdapat tanaman
dan/atau bangunan milik pihak lain yang keberadaannya berdasarkan atas hak yang sah, pemilik
bangunan dan tanaman tersebut diberi ganti kerugian yang dibebankan pada pemegang Hak Guna
Usaha baru.

Hak Guna Usaha diberikan untuk jangka waktu paling lama tiga puluh lima tahun dan dapat
diperpanjang untuk jangka waktu paling lama dua puluh lima tahun. Sesudah jangka waktu Hak
Guna Usaha dan perpanjangannya berakhir, kepada pemegang hak dapat diberikan pembaharuan
Hak Guna Usaha di atas tanah yang sama. Hak Guna Usaha dapat diperpanjang atas permohonan
pemegang hak, jika memenuhi syarat; 1) tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan
keadaan, sifat dan tujuan pemberian hak tersebut, 2) syarat-syarat pemberian hak tersebut
dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak dan 3) pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai
pemegang hak. Permohonan perpanjangan jangka waktu Hak Guna Usaha atau pembaharuannya
diajukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum berakhirnya jangka waktu Hak Guna Usaha
tersebut. Perpanjangan atau pembaharuan Hak Guna Usaha dicatat dalam buku tanah pada Kantor
Pertanahan.

Hak Guna Usaha diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh Menteri atau pejabat yang
ditunjuk. Pemberian Hak Guna Usaha wajib didaftar dalam buku tanah pada Kantor Pertanahan.
Sebagai tanda bukti hak kepada pemegang Hak Guna Usaha diberikan sertifikat hak atas tanah.
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Negara No. 3 Tahun
1999, wewenang pemberian HGU dibagi atas luasan yaitu BPN Pusat untuk luas tanah lebih dari
200 Ha dan Kantor Wilayah BPN Provinsi untuk luas sampai dengan 200 Ha.

Pendaftaran tanah, termasuk untuk HGU diatu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
Tentang Pendaftaran Tanah. Pasal 9 Peraturan Pemerintah ini mengatur Obyek pendaftaran tanah
meliputi:

a. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan
dan hak pakai;
b. tanah hak pengelolaan;
c. tanah wakaf;
d. hak milik atas satuan rumah susun;
e. hak tanggungan;
f. tanah Negara.

Bagian Ketiga peraturan pemerintah ini tentang Satuan Wilayah Tata Usaha Pendaftaran Tanah
Pasal 10, mengatur bahwa (i) satuan wilayah tata usaha pendaftaran tanah adalah desa atau
kelurahan, (ii) khusus untuk pendaftaran tanah hak guna usaha, hak pengelolaan, hak tanggungan
dan tanah Negara satuan wilayah tata usaha pendaftarannya adalah Kabupaten/Kotamadya, (iii)
Untuk tanah Negara sebagai obyek pendaftaran tanah, pendaftarannya dilakukan dengan cara
membukukan bidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah.
28

Pemberian hak dan pendaftaran tanah negara untuk HGU lebih lanjut diatur dalam beberapa
peraturan setingkat peratutan/keputusan menteri yaitu (i) Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997, (ii) Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999, (iii) Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 dan (iv) Surat Keputusan Kepala
BPN Nomor 1 tahun 2005 Tentang SPOPP.

Berdasarkan Pasal 19 Permen Agraria / Kepala .BPN Nomor 9 tahun 1999 Permohonan HGU harus
dilampiri dengan:
1. Fotokopi identitas permohonan atau akta pendirian perusahaan yang telah memperoleh
pengesahan dan telah didaftarkan sebagai badan hukum;
2. Rencana pengusahaan tanah jangka pendek dan jangka panjang;
3. Ijin lokasi atau surat penunjukan penggunaan tanah atau surat ijin pencadangan tanah sesuai
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah;
4. Bukti pemilikan dan atau bukti perolehan tanah berupa pelepasan kawasan hutan dari
instansi yang berwenang, akta pelepasan bekas tanah milik adat atau surat-surat bukti
perolehan tanah lainnya;
5. Persetujuan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) atau Penanaman Modal Asing (PMA)
atau surat persetujuan dari Presiden bagi Penanam Modal Asing tertentu.

Sementara itu, setelah berkas permohonan Hak Guna Usaha diterima, Kepala Kantor Wilayah
menjalankan proses penerbitan surat keputusan pemberian HGU sebagai berikut :
1. Memeriksa dan meneliti kelengkapan data yuridis dan data fisik, apabila data tersebut belum
lengkap, maka kepala Kantor Wilayah memberitahukan kepada pemohon untuk
melengkapinya;
2. Mencatat pada formulir isian;
3. Memberitahukan kepada pemohon untuk membayar biaya-biaya yang diperlukan untuk
menyelesaikan permohonan tersebut dengan rinciannya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
4. Memerintahkan kepada Kepala Bidang terkait untuk melengkapi bahan-bahan yang
diperlukan;
5. Memerintahkan kepada Panitia Pemeriksa Tanah B atau petugas yang ditunjuk untuk
melakukan pemeriksaan tanah;
6. Dalam hal tanah yang dimohon belum ada Peta Bidang Tanah, Kepala Kantor Wilayah
memerintahkan kepada Kepala Bidang Pengukuran dan Pendaftaran Tanah untuk
mempersiapkan surat ukur dan melakukan pengukuran secara Kadasteral;
7. Dalam hal keputusan pemberian Hak Guna Usaha telah dilimpahkan kepada Kepala Kantor
Wilayah, maka setelah mempertimbangkan pendapat Panitia Pemeriksaan Tanah B, akan
diterbitkan Surat Keputusan pemberian Hak Guna Usaha yang dimohon atau keputusan
penolakan yang disertai dengan alas an penolakannya;
8. Sedangkan dalam hal keputusan pemberian Hak Guna Usaha tidak dilimpahkan kepada
Kepala Kantor Wilayah, maka Kepala Kantor Wilayah menyampaikan berkas permohonan
tersebut kepada Menteri Kepala Badan Pertanahan Nasional disertai persyaratan pendapat
dan pertimbangannya.
29


2.5. Kewajiban Lingkungan Perusahaan Perkebunan

Kewajiban lingkungan perusahaan pada tingkat undang-undang pertama kali dimuat dalam Undang-
undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Pasal 7 UU
ini menyatakan bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha wajib memelihara
kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan
yang berkesinambungan. Ketentuan ini ditindaklanjuti pada Pasal 16 yang mengatur setiap rencana
yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis
mengenai dampak lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan peraturan pemerintah.

Pada bagian penjelasan Pasal 16, dinyatakan bahwa pada dasarnya semua usaha dan kegiatan
pembangunan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Perencanaan awal suatu usaha atau
kegiatan pembangunan sudah harus memuat perkiraan dampaknya yang penting terhadap
lingkungan hidup, baik fisik maupun nonfisik, termasuk sosial budaya, guna dijadikan pertimbangan
apakah untuk rencana tersebut perlu dibuat analisis mengenai dampak lingkungan.

Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih terperinci dampak negatif dan positif yang
akan timbul dari usaha atau kegiatan tersebut, sehingga sejak dini telah dapat dipersiapkan langkah
untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positifnya. Dampak yang penting
ditentukan antara lain oleh:

a. besar jumlah manusia yang akan terkena;
b. luas wilayah penyebaran dampak;
c. lamanya dampak berlangsung;
d. intensitas dampak;
e. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena;
f. sifat kumulatif dampak tersebut;
g. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.

Selain itu, pemerintah dapat membantu golongan ekonomi lemah, yang bidang usahanya
diperkirakan menimbulkan dampak penting ini, untuk melaksanakan analisis mengenai dampak
lingkungan. Sebagai tindak lanjut pengaturan AMDAL dalam UU No. 4 Tahun 1982, pemerintah
kemudian membentuk Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3538).

PP No. 51 Tahun 1993 ini menentukan bahwa Analisis mengenai dampak lingkungan adalah hasil
studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang dirncanakan terhadap lingkungan
hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Sementara itu paket dokumen yang
harus diajukan oleh perusahaan ketika berusaha adalah analisis dampak lingkungan, rencana
pengelolaan lingkungan, dan rencana pemantauan lingkungan. Ketiga dokumen ini harus mendapat
30
persetujuan instansi yang berwenang setelah mendapat penilaian dari Komisi Amdal
6
. Dibawah ini
adalah bagan prosedur AMDAL berdasarkan PP 51 tahun 1993 ini.



6
instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha atau kegiatan, dengan pengertian
bahwa kewenangan berada pada Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan
yang bersangkutan dan pada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk usaha atau kegiatan yang berada di bawah wewenangnya.
Komisi analisis mengenai dampak lingkungan adalah komisi yang dibentuk oleh Menteri/menteri atau Pimpinan Lembaga pemerintah
non departemen di tingkat pusat, dan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I pada tingkat propinsi daerah tingkat I, yang bertugas
membantu pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan di dalam proses pengambilan keputusan. Komisi AMDAL memiliki
anggota tetap dan tidak tetap. Anggota tetap terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan departemen atau lembaga pemerintah non
departemen yang bersangkutan, wakil yang ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri, wakil yang ditunjuk oleh instansi yang ditugasi
mengendalikan dampak lingkungan, wakil yang ditunjuk oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal, wakil yang ditunjuk oleh Badan
Pertanahan Nasional dan para ahli dalam bidang yang berkaitan, sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur departemen dan
atau lembaga pemerintah non departemen yang berkepentingan, lembaga swadaya masyarakat, serta anggota lain yang dipandang
perlu.
31
Bagan Prosedur AMDAL
PP No. 51 Tahun 1993 Tentang AMDAL





















Berdasarkan ketentuan ini, secara administrative perusahaan perkebunan sejatinya memiliki surat
dan dokumen yaitu :

1. Surat penyampaian kerangka acuan AMDAL oleh pemrakarsa kepada komisi analisis mengenai dampak
lingkungan;
2. Surat penyampaian Analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan, dan rencana
pemantauan lingkungan diajukan sekaligus oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab;
3. Bukti penerimaan dokumen dari instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa;
4. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan;
5. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan;
6. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan;
7. Surat keputusan penetapan dari instansi yang bertanggung jawab terhadap analisis dampak lingkungan,
rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan.

Setelah kurang lebih lima belas tahun UU Nomor 4 Tahun 1982 berlaku, pada tahun 1997
pemerintah mengundangkan aturan penggantinya yaitu undang-undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor
68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699).

UU No. 23 Tahun 1997 ini lebih memperinci tanggung jawab pengusaha terhadap lingkungan hidup.
Berdasarkan Pasal 15, setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis
mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 16 menentukan bahwa setiap penanggung jawab usaha
Pemrakarsa
Komisi Analisis
Mengenai Dampak
Lingkungan
Kerangka Acuan
AMDAL
Diterima
Ditolak
AnggotaTetap Anggota Tidak Tetap
Pemrakarsa
Analisis dampak lingkungan, rencana
pengelolaan lingkungan, dan rencana
pemantauan lingkungan
Instansi
Komisi Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan
Instansi Disetujui

32
dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/atau kegiatan. Untuk itu
pengusaha dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. Selain itu pada Pasal
17 menentukan juga setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan
pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi:
menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan/atau membuang.

Khusus mengenai pengaturan AMDAL, pemerintah membentuk Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). PP ini menjelaskan analisis
mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting
suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. AMDAL
merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan
yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang.

PP ini menentukan kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan
terhadap lingkungan hidup antara lain :

a. jumlah manusia yang akan terkena dampak;
b. luas wilayah persebaran dampak;
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak;
e. sifat kumulatif dampak;
f. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.

Berdasarkan PP ini, pemrakarsa menyusun kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis
dampak lingkungan hidup berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi
mengendalikan dampak lingkungan. Kerangka acuan disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi
yang bertanggung jawab, dengan ketentuan :
a. di tingkat pusat diajukan kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan melalui komisi penilai pusat;
b. di tingkat daerah diajukan kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I.

Untuk itu Komisi penilai wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan
menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan
hidup. Kerangka acuan ini dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk
menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan dan
keputusan atas penilaian kerangka acuan wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab
dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal
diterimanya kerangka acuan. Selanjutnya instansi bertanggung jawab menerbitkan keputusan setuju
atau tidak stuju atas kerangka tersebut.

Berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung
jawab tersebut, Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan
lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Setelah selesai, pemrakarsa kemudian
33
mengajukan analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana
pemantauan lingkungan hidup, kepada :
a. di tingkat pusat diajukan Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan
melalui komisi penilai pusat;
b. di tingkat daerah diajukan Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I.

Komisi penilai wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan
hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan
hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai:
a. di tingkat pusat dinilai oleh komisi penilai pusat;
b. di tingkat daerah dinilai oleh komisi penilai daerah.

Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha
dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Dalam keputusan kelayakan
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan
dikeluarkannya keputusan itu, dan pertimbangan terhadap saran, pendapat, dan tanggapan yang
diajukan oleh warga masyarakat.

Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha
dan/atau kegiatan, dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja
terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Bagan dibawah ini
menggambarkan prosedur penyusunan AMDAL berdasarkan PP No. 27 Tahun 1999.


34
Bagan Prosedur AMDAL
Berdasarkan PP No. 27 Tahun 1999 Tentang Amdal
































Berdasarkan ketentuan ini, secara administrative perusahaan perkebunan sejatinya memiliki surat
dan dokumen yaitu :
a. Surat penyampaian kerangka acuan penyusunan AMDAL dari pemrakarsa kepada instansi;
b. Bukti penerimaan kerangka acuan penyusunan AMDAL dari komisi penilai AMDAL;
c. Surat keputusan instansi yang bertanggung jawab atas penilaian kerangka acuan AMDAL;
d. Dokumen analisis dampak lingkungan hidup;
e. Dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup;
f. Dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup;
g. Surat keputusan Instansi yang bertanggung jawab tentang kelayakan lingkungan hidup suatu
usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan hidup.
Rencana
Kegiatan dari pemrakarsa
Proses penapisan: Daftar kegiatan wajib
AMDAL (KepMenLH No. 17 Tahun 2001)
AMDAL dipersyaratkan AMDAL Tidak
Diperlukan
Pemberitahuan rencana
studi AMDAL
ke Sekretariat Komisi
Penilai AMDAL
Layak lingkungan
Surat Keputusan
Kelayakan
Lingkungan oleh
MenLH/Gubernur/Bupati/
Walikota
Proses Perijinan
Penyusunan Upaya
Pengelolaan
Lingkungan (UKL) dan
Upaya
Pemantauan
Lingkungan (UPL)
Penilaian ANDAL,
RKL dan RPL
Penyusunan dokumen
ANDAL, RKL dan RPL
Penilaian KA-ANDAL
Pengumuman rencana
kegiatan dan
konsultasi masyarakat
Penilai AMDAL
Tidak Layak Lingkungan
35

Kewajiban Lingkungan Lainnya
Sejak tahun 1997, kebakaran hutan menjadi isu penting dalam pengelolaan lingkungan, termasuk
metode pembersihan lahan untuk kepentingan perkebunan dengan metode bakar. Pada tahun 2004,
pemerintah mengundangkan undang-undang khusus yang mengatur tentang perkebunan, yaitu
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan. Pasal 26 UU ini menyatakan bahwa
setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara
pembakaran yang berakibat terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan hidup. Akibat
perbuatan tersebut diatur dalam Pasal 48 yang mengancam dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) apabila
tindakan ini dilakukan dengan sengaja.

36
Lampiran 1:

Syarat legal prosedural Izin Usaha Perkebunan (Permentan 26/2007)

No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak

Syarat dan tata cara permohonan
izan usaha perkebunan

1 Untuk memperoleh IUP-B sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9, perusahaan perkebunan mengajukan
permohonan secara tertulis kepada bupati/walikota
atau gubernur sesuai dengan lokasi areal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 dengan dilengkapi
persyaratan sebagai berikut:

1. Akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang
terakhir;

2. Nomor Pokok Wajib Pajak;
3. Surat keterangan domisili;
4. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana tata ruang
wilayah kabupaten/kota dari bupati/walikota (untuk
IUP-B yang diterbitkan oleh gubernur);

5. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana makro
pembangunan perkebunan provinsi dari gubernur
(untuk IUP-B yang diterbitkan oleh bupati/walikota);

6. Izin lokasi dari bupati/ walikota yang dilengkapi
dengan peta calon lokasi dengan skala 1 : 100.000
atau 1 : 50.000;

7. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari
instansi Kehutanan (apabila areal berasal dari kawasan
hutan);

8. Rencana kerja pembangunan perkebunan;
9. Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup (AMDAL), atau Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPl) sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku;

10. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana,
prasarana dan sistem untuk melakukan pengendalian
organisme pengganggu tumbuhan (OPT);

11. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana,
prasarana dan sistem untuk melakukan pembukaan
lahan tanpa pembakaran serta pengendalian
kebakaran;

12. Pernyataan kesediaan membangun kebun untuk
masyarakat sesuai Pasal 11 yang dilengkapi dengan
rencana kerjanya; dan

13. Pernyataan kesediaan untuk melakukan kemitraan.
2 Untuk memperoleh IUP-P sebagaimana dimaksud
37
No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
dalam Pasal 9 perusahaan perkebunan mengajukan
permohonan secara tertulis kepada bupati/walikota
atau gubernur sesuai dengan lokasi areal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 dengan dilengkapi
persyaratan sebagai berikut:

1. Akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang
terakhir;

2. Nomor Pokok Wajib Pajak;
3. Surat keterangan domisili;

4. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana tata ruang
wilayah kabupaten/kota dari bupati/walikota untuk
IUP-P yang diterbitkan oleh gubernur;


5. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana makro
pembangunan perkebunan provinsi dari gubernur
untuk IUP-P yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota;


6. Izin lokasi dari bupati/walikota yang dilengkapi
dengan peta calon lokasi dengan skala 1 : 100.000
atau 1 : 50.'000;


7. Rekomendasi lokasi dari pemerintah daerah lokasi
unit pengolahan;

8. Jaminan pasokan bahan baku yang diketahui oleh
Bupati/Walikota;

9. Rencana kerja pembangunan unit pengolahan hasil
perkebunan;


10. Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup (AMDAL), atau Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPL) sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku; dan

11. Pernyataan kesediaan untuk melakukan kemitraan.
3 Untuk industri pengolahan hasil kelapa sawit, selain
memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus ada pertimbangan teknis ketersediaan
lahan dari instansi Kehutanan (apabila areal budidaya
tanaman berasal dari kawasan hutan) dan rencana
kerja budidaya tanaman perkebunan.


Pembinaan dan pengawasan
perkebunan

4 Perusahaan perkebunan yang telah memiliki IUP,
IUP-B atau IUP-P sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13, wajib:


1. Menyelesaikan hak atas tanah selambat-Iambatnya
2 (dua) tahun sejak diterbitkannya IUP-B, IUP-P, atau
IUP;

38
No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
2. Merealisasikan pembangunan kebun dan/atau unit
pengolahan sesuai dengan studi kelayakan, baku
teknis, dan ketentuan yang berlaku;


3. Memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk
melakukan pembukaan lahan tanpa pembakaran serta
pengendalian kebakaran;


4. Membuka lahan tanpa bakar dan mengelola sumber
daya alam secara lestari;


5. Memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk
melakukan pengendalian organisme pengganggu
tumbuhan (OPT);


6. Menerapkan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL), atau Upaya
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku;

7. Menumbuhkan dan memberdayakan
masyarakatlkoperasi setempat; serta

8. Melaporkan perkembangan usaha perkebunan
kepada gubenur atau bupati/walikota sesuai
kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13
secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali.


Ketentuan administrasi

5 Perusahaan perkebunan yang telah memperoleh IUP,
IUP-B, atau IUP-P sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13, dan mendapat persetujuan penambahan luas
lahan, perubahan jenis tanaman, penambahan
kapasitas pengolahan, atau diversifikasi usaha
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 yang tidak
melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34 huruf , b, c, e, f, 9 dan/atau h diberikan
peringatan paling banyak 3 (tiga) kali masing-masing
dalam tenggang waktu 4 (empat) bulan.

6 Apabila dalam 3 (tiga) kali peringatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak di indahkan, maka IUP,
IUP-B atau IUP-P perusahaan bersangkutan dicabut
dan diusulkan kepada instansi yang berwenang untuk
mencabut Hak Guna Usaha-nya.

7 Perusahaan perkebunan yang telah memperoleh IUP,
IUP-B, atau IUP-P sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13, dan mendapat persetujuan penambahan luas
lahan, perubahan jenis tanaman, penambahan
kapasitas pengolahan, atau diversifikasi usaha
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 tidak
melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34 huruf d, izin usahanya dicabut, dan

39
No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
diusulkan kepada instansi yang berwenang untuk
mencabut Hak Guna Usaha-nya.
8 Perusahaan perkebunan memperoleh IUP, IUP-B, atau
IUP-P sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, dan
mendapat persetujuan diversifikasi usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 30 tidak menjamin
kelangsungan usaha pokok, menjaga kelestarian
lingkungan, plasma nutfah, dan mencegah
berjangkitnya organisme pengganggu tumbuhan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 diberikan
peringatan paling banyak 3 (tiga) kali masing-masing
dalam tenggang waktu 4 (empat) bulan.

9 Apabila dalam 3 (tiga) kali peringatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak di indahkan, maka IUP,
IUP-B atau IUP-P perusahaan bersangkutan dicabut
dan diusulkan kepada instansi yang berwenang untuk
mencabut Hak Guna Usaha-nya.

10 Pengusulan pencabutan Hak Guna Usaha kepada
instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 38 , Pasal 39 dan Pasal 40 dilakukan oleh
Menteri Pertanian atas usul gubernur atau
bupati/walikota.


Definisi istilah yang digunakan dalam Permentan No. 26/Permentan/ar.140/2/2007

1. Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau
media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil
tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen
untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.
2. Tanaman tertentu adalah jenis komoditi tanaman yang pembinaannya pada Direktorat Jenderal
Perkebunan.
3. Usaha perkebunan adalah usaha yang menghasilkan barang dan/atau jasa perkebunan.
4. Usaha budidaya tanaman perkebunan adalah serangkaian kegiatan pengusahaan tanaman
perkebunan yang meliputi kegiatan pra tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan dan
sortasi termasuk perubahan jenis tanaman, dan diversifikasi tanaman.
5. Usaha industri pengolahan hasil perkebunan adalah serangkaian kegiatan penanganan dan
pemrosesan yang dilakukan terhadap hasil tanaman perkebunan yang ditujukan untuk mencapai nilai
tambah yang lebih tinggi dan memperpanjang daya simpan.
6. Pelaku usaha perkebunan adalah pekebun dan perusahaan perkebunan yang pengelola usaha
perkebunan.
7. Pekebun adalah perorangan warga negara Indonesia yang melakukan usaha perkebunan dengan
skala usaha tidak mencapai skala tertentu.
8. Perusahaan perkebunan adalah perorangan warga negara Indonesia atau badan hukum yang
didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia yang mengelola usaha
perkebunan dengan skala tertentu.
9. Skala tertentu adalah skala usaha perkebunan yang didasarkan pada luasan lahan usaha, jenis
tanaman, teknologi, tenaga kerja, modal dan/atau kapasitas pabrik yang diwajibkan memiliki izin
usaha.
40
10. Izin Usaha Perkebunan (lUP) adalah izin tertulis dari Pejabat yang berwenang dan wajib dimiliki
oleh perusahaan yang melakukan usaha budidaya perkebunan dan terintegrasi dengan usaha industri
pengolahan hasil perkebunan.
11. Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) adalah izin tertulis dari Pejabat yang berwenang
dan wajib dimiliki oleh perusahaan yang melakukan usaha budidaya perkebunan.
12. Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) adalah izin tertulis dari Pejabat yang
berwenang dan wajib dimiliki oleh perusahaan yang melakukan usaha industri pengolahan hasil
perkebunan.
13. Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan (STD-B) adalah keterangan yang diberikan oleh
BupatilWalikota kepada pelaku usaha budidaya tanaman perkebunan yangluas lahannya kurang dari
25 (dua puluh lima) hektar.
14. Surat Tanda Daftar Usaha Industri Pengolahan Hasil Perkebunan (STD-P) adalah keterangan yang
diberikan oleh BupatiMJalikota kepada pelaku usaha industri pengolahan hasil perkebunan yang
kapasitasnya di bawah batas minimal.
15. Kinerja perusahaan perkebunan adalah penilaian keberhasilan perusahaan perkebunan yang
didasarkan pada aspek manajemen, budidaya kebun, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan,
sosial ekonomi, dan lingkungan dalam kurun waktu tertentu.
16. Kemitraan perkebunan adalah hubungan kerja yang saling menguntungkan, menghargai,
bertanggung jawab, memperkuat, dan saling ketergantungan antara perusahaan perkebunan dengan
pekebun, karyawan, dan masyarakat sekitar perkeburian.



Lampiran 2:
Daftar periksa Izin Lokasi usaha perkebunan

No. Syarat administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak

Tanah yang dapat ditunjuk dengan
izin lokasi

1 Tanah yang dapat ditunjuk dalam Izin Lokasi
adalah tanah yang menurut Rencana Tata Ruang
Wilayah yang berlaku diperuntukkan bagi
penggunaan yang sesuai dengan rencana
penanaman modal yang akan dilaksanakan oleh
perusahaan menurut persetujuan penanaman modal
yang dipunyainya.

2 Izin Lokasi dapat diberikan kepada perusahaan
yang sudah mendapat persetujuan penanaman
modal sesuai ketentuan yang berlaku untuk
memperoleh tanah dengan luas tertentu sehingga
apabila perusahaan tersebut berhasil membebaskan
seluruh areal yang ditunjuk, maka luas penguasaan
tanah oleh perusahaan tersebut dan perusahaan-
perusahaan lain yang merupakan suatu group
perusahaan dengannya tidak lebih dari luasan yang
telah ditetapkan

3 Untuk keperluan menentukan luas areal yang
ditunjuk dalam Izin Lokasi perusahaan pemohon
wajib menyampaikan pernyataan tertulis mengenai
luas tanah yang sudah dikuasai olehnya dan
perusahaan-perusahaan lain yang merupakan satu
group dengannya.


J angka waktu izin lokasi

4
Izin Lokasi diberikan untuk jangka waktu sebagai
berikut:


1. Izin Lokasi seluas sampai dengan 25 Ha: 1 (satu)
tahun;


2. Izin Lokasi seluas lebih dari 25 Ha s/d 50 Ha: 2
(dua) tahun;


3. Izin Lokasi seluas lebih dari 50 Ha: 3 (tiga)
tahun.

5
Perolehan tanah oleh pemegang Izin Lokasi harus
diselesaikan dalam jangka waktu lain Lokasi.

6
Apabila dalam jangka waktu Izin Lokasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) perolehan
tanah belum selesai, maka Izin Lokasi dapat
diperpanjang jangka waktunya selama 1 (satu)



No. Syarat administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
tahun apabila tanah yang sudah diperoleh mencapai
lebih dari 50%o dan luas tanah yang ditunjuk dalam
Izin Lokasi apabila perolehan tanah tidak dapat
diselesaikan dalam jangka waktu Izin Lokasi,
termasuk perpanjangannya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (3), maka perolehan tanah
tidak dapat lagi dilakukan oleh pemegang Izin
Lokasi dan terhadap bidang-bidang tanah yang
sudah diperoleh dilakukan tindakan sebagai berikut:

1. Dipergunakan untuk melaksanakan rencana
penanaman modal dengan penyesuaian mengenai
luas pembangunan dengan ketentuan bahwa apabila
diperlukan masih dapat dilaksanakan perolehan
tanah sehingga diperoleh bidang tanah yang
merupakan satu kesatuan bidang;


2. Dilepaskan kepada perusahaan atau pihak lain
yang memenuhi syarat.


Tata cara pemberian izin lokasi

7
Izin Lokasi diberikan berdasarkan pertimbangan
mengenai aspek penguasaan tanah dan teknis tata
guna tanah yang meliputi keadaan hak serta
penguasaan tanah yang bersangkutan, penilaian
fisik wilayah, penggunaan tanah serta kemampuan
tanah.

8
Surat keputusan pemberian Izin Lokasi
ditandatangani oleh Bupati/Walikotamadya atau,
untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, oleh
Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta
setelah diadakan rapat koordinasi antar instansi
terkait, yang dipimpin olah Bupati/Walikotamadya
atau untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, oleh
Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta,
atau oleh pejabat yang ditunjuk secara tetap
olehnya.

9
Bahan-bahan untuk keperluan pertimbangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rapat
koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dipersiapkan oleh Kepala Kantor Pertanahan.

10
Rapat koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) disertai konsultasi dengan masyarakat
pemegang hak atas tanah dalam lokasi yang
dimohon.

11
Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4)



No. Syarat administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
meliputi aspek sebagai berikut:

1. Penyebarluasan informasi, mengenai rencana
penanaman modal yang akan dilaksanakan, ruang
lingkup dampaknya dan rencana perolehan tanah
serta penyelesaian masalah yang berkenaan dengan
perolehan tanah tersebut;


2. Pembebasan kesempatan kepada pemegang hak
atas tanah untuk memperoleh penjelasan tentang
rencana penanaman modal dan mencari alternatif
pemecahan masalah yang ditemui;


3. Pengumpulan informasi langsung dari
masyarakat untuk memperoleh data sosial dan
lingkungan yang diperlukan;

4. Peran serta masyarakat berupa usulan tentang
alternatif bentuk dan besarnya ganti kerugian dalam
perolehan tanah dalam pelaksanaan Izin Lokasi.


Hak dan kewajiban pemegang
izin lokasi

12
Pemegang Izin Lokasi diizinkan untuk
membebaskan tanah dalam areal Izin Lokasi hak
dan kepentingan pihak lain berdasarkan
kesepakatan dengan pemegang hak atau pihak yang
mempunyai kepentingan tersebut dengan cara jual
beli pemberian ganti kerugian, konsolidasi tanah
atau cara lain sesuai ketentuan yang berlaku.

13
Sebelum tanah yang bersangkutan dibebaskan oleh
pemegang Izin Lokasi sesuai ketentuan pada ayat
(1), maka semua hak atau kepentingan pihak lain
yang sudah ada atas tanah yang bersangkutan tidak
berkurang dan tetap diakui, termasuk kewenangan
yang menurut hukum dipunyai oleh pemegang hak
atas tanah untuk memperoleh tanda bukti hak
(sertifikat) dan kewenangan untuk menggunakan
dan memanfaatkan tanahnya bagi keperluan pribadi
atau usahanya sesuai rencana tata ruang yang
berlaku, serta kewenangan untuk mengalihkannya
kepada pihak lain.

14
Pemegang Izin Lokasi wajib menghormati
kepentingan pihak-pihak lain atas tanah yang belum
dibebaskan sebagaimana dimaksud peda ayat (1),
tidak menutup atau mengurangi aksesibilitas yang
dimiliki masyarakat di sekitar lokasi, dan menjaga
serta melindungi kepentingan umum



No. Syarat administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
15 Sesudah tanah yang bersangkutan dibebaskan dari
hak dan kepentingan pihak lain, maka kepada
pemegang Izin Lokasi dapat diberikan hak atas
tanah yang memberikan kewenangan kepadanya
untuk menggunakan tanah tersebut sesuai dengan
keperluan untuk melaksanakan rencana penanaman
modalnya

15 Pemegang Izin Lokasi berkewajiban untuk
melaporkan secara berkala setiap 3 (tiga) bulan
kepada Kantor Pertanahan mengenai perolehan
tanah yang sudah dilaksanakannya berdasarkan Izin
Lokasi dan pelaksanaan penggunaan tanah tersebut.



Definisi istilah yang digunakan dalam Permen Agraria/Kepala BPN No. 2 tahun 1999 tentang izin lokasi
PMA/PMDN
1. Izin Lokasi adalah izin yang diberikan kepada perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan
dalam rangka penanaman modal yang berlaku pula sebagai izin pemindahan hak, dan untuk menggunakan
tanah tersebut guna keperluan usaha penanaman modalnya.
2. Perusahaan adalah perseorangan atau badan hukum yang telah memperoleh izin untuk melakukan
penanaman modal di Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Group perusahaan adalah dua atau lebih badan usaha yang sebagian sahamnya dimiliki oleh orang atau
badan hukum yang sama baik secara langsung maupun melalui badan hukum lain, dengan jumlah atau sifat
pemilikan sedemikian rupa, sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung
menentukan penyelenggaraan atau jalannya badan usaha.
4. Penanaman modal adalah usaha menanamkan modal yang menggunakan maupun yang tidak
menggunakan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang
Penanaman Modal Asing sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 11 Tahun 1970 dan
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri sebagaimana telah diubah
dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1970.
5. Hak atas tanah adalah hak-hak atas tanah sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 16 Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1960.
6. Kantor Pertanahan adalah Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya.


Lampiran 3
HAL-HAL YANG WAJIB DIDAFTARKAN

No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
1. Apabila perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas, selain
memenuhi ketentuan perundang-undangan tentang
Perseroan Terbatas, hal-hal yang wajib didaftarkan adalah:

a. nama perseroan
b. merek perusahaan
a. tanggal pendirian perseroan
b. jangka waktu berdirinya perseroan
c. kegiatan pokok dan lain-lain kegiatan usaha
perseroan;

izin-izin usaha yang dimiliki
d. 1. alamat perusahaan pada waktu perseroan didirikan
dan setiap perubahannya

2. alamat setiap kantor cabang, kantor pembantu dan
agen serta perwakilan perseroan

e. 1. berkenaan dengan setiap pengurus dan komisaris
2. nama lengkap dan setiap alias-aliasnya
3. setiap namanya dahulu apabila berlainan dengan
huruf e angka 1

4. nomor dan tanggal tanda bukti diri
5. alamat tempat tinggal yang tetap
6. alamat dan negara tempat tinggal yang tetap apabila
tidak bertempat tinggal tetap di wilayah Negara
Republik Indonesia

7. tempat dan tanggal lahir
8. negara tempat lahir apabila dilahirkan di luar wilayah
Negara Republik Indonesia

9. kewarganegaraan pada saat pendaftaran
10. setiap kewarganegaraan dahulu apabila berlainan
dengan huruf e angka 8

11. tanda tangan
12. tanggal mulai menduduki jabatan;
f. Lain-lain kegiatan usaha dari setiap pengurus dan
komisaris;

g. 1. modal dasar
2. banyaknya dan nilai nominal masing-masing saham;
3. besarnya modal yang ditempatkan;
4. besarnya modal yang disetor
H 1. tanggal dimulainya kegiatan usaha;
2. tanggal dan nomor pengesahan badan hukum;
3. tanggal pengajuan permintaan pendaftaran.

2. Apabila telah diterbitkan saham atas nama yang telah
maupun belum disetor secara penuh, di samping hal-hal



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, juga wajib
didaftarkan hal-hal mengenai setiap pemilik pemegang
saham-saham itu yaitu:
a. nama lengkap dan setiap alias-aliasnya;
setiap namanya dahulu apabila berlainan dengan ayat
(2) angka 1; 3). nomor dan tanggal tanda bukti diri;

b. alamat tempat tinggal yang tetap,
c. alamat dan negara tempat tinggal yang tetap apabila
tidak bertempat tinggal di wilayah Negara Republik
Indonesia;

d. tempat dan tanggal lahir;
e. negara tempat lahir apabila dilahirkan di luar wilayah
Negara Republik Indonesia;

f. kewarganegaraan;
g. setiap kewarganegaraan dahulu apabila berlainan
dengan ayat (2) angka 8

h. jumlah saham yang dimiliki
i. jumlah uang yang disetorkan atas tiap saham.
3. Pada waktu mendaftarkan wajib diserahkan salinan resmi
akta pendirian







4. Hal-hal yang wajib didaftarkan, khusus bagi Perseroan
Terbatas yang menjual sahamnya kepada masyarakat
dengan perantaraan pasar modal, diatur lebih lanjut oleh
Menteri.




Pasal 11

Definisi istilah hukum dalam UU No. 3 tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan:
1. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap
dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukandalam wilayah Negara Republik
Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba (UU No. 3 tahun 1982 tentang
Wajib Daftar Perusahaan);
2. Daftar Perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan
ketentuan Undang-undang ini dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan memuat hal-hal
yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang dari
kantor pendaftaran perusahaan (UU No. 3 tahun 1982);
3. Usaha adalah setiap tindakan, perbuatan atau kegiatan apapun dalam bidang perekonomian,
yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba (UU
No. 3 tahun 1982);




Syarat administratif-prosedural berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas

No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
Pendirian Perseroan Terbatas
1 Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih
dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa
Indonesia.

2 Setiap pendiri Perseroan wajib mengambil bagian
saham pada saat Perseroan didirikan.

3 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
berlaku dalam rangka Peleburan.

4 Perseroan memperoleh status badan hukum pada
tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri mengenai
pengesahan badan hukum Perseroan.

5 Setelah Perseroan memperoleh status badan hukum
dan pemegang saham menjadi kurang dari 2 (dua)
orang, dalam jangka waktu paling lama 6 (enam)
bulan terhitung sejak keadaan tersebut pemegang
saham yang bersangkutan wajib mengalihkan
sebagian sahamnya kepada orang lain atau Perseroan
mengeluarkan saham baru kepada orang lain.

6 Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) telah dilampaui, pemegang saham tetap
kurang dari 2 (dua) orang, pemegang saham
bertanggung jawab secara pribadi atas segala
perikatan dan kerugian Perseroan, dan atas
permohonan pihak yang berkepentingan, pengadilan
negeri dapat membubarkan Perseroan tersebut.

7 Ketentuan yang mewajibkan Perseroan didirikan oleh
2 (dua) orang atau lebih sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), dan ketentuan pada ayat (5), serta ayat (6)
tidak berlaku bagi:

a. Persero yang seluruh sahamnya dimiliki oleh
negara; atau

b. Perseroan yang mengelola bursa efek, lembaga
kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan
penyelesaian, dan lembaga lain sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang tentang Pasar Modal.

8 Akta pendirian memuat anggaran dasar dan
keterangan lain berkaitan dengan pendirian
Perseroan.

9 Keterangan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memuat sekurangkurangnya:

a. nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan,
tempat tinggal, dan kewarganegaraan pendiri
perseorangan, atau nama, tempat kedudukan dan
alamat lengkap serta nomor dan tanggal Keputusan
Menteri mengenai pengesahan badan hukum dari
pendiri Perseroan;

b. nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan,
tempat tinggal, kewarganegaraan anggota Direksi
dan Dewan Komisaris yang pertama kali diangkat;



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
c. nama pemegang saham yang telah mengambil
bagian saham, rincian jumlah saham, dan nilai
nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor.

10 Dalam pembuatan akta pendirian, pendiri dapat
diwakili oleh orang lain berdasarkan surat kuasa.

11 Untuk memperoleh Keputusan Menteri mengenai
pengesahan badan hukum Perseroan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4), pendiri bersama-
sama mengajukan permohonan melalui jasa
teknologi informasi sistem administrasi badan hukum
secara elektronik kepada Menteri dengan mengisi
format isian yang memuat sekurang-kurangnya:

a. nama dan tempat kedudukan Perseroan;
b. jangka waktu berdirinya Perseroan;
c. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;
d. jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan
modal disetor;

e. alamat lengkap Perseroan.
12 Pengisian format isian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus didahului dengan pengajuan nama
Perseroan.

13 Dalam hal pendiri tidak mengajukan sendiri
permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2), pendiri hanya dapat memberi kuasa
kepada notaris.

14 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan
dan pemakaian nama Perseroan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

15 Permohonan untuk memperoleh Keputusan Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) harus
diajukan kepada Menteri paling lambat 60 (enam
puluh) hari terhitung sejak tanggal akta pendirian
ditandatangani, dilengkapi keterangan mengenai
dokumen pendukung.

16 Ketentuan mengenai dokumen pendukung
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Menteri.

17 Apabila format isian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 ayat (1) dan keterangan mengenai dokumen
pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, Menteri langsung menyatakan tidak
berkeberatan atas permohonan yang bersangkutan
secara elektronik.

18 Apabila format isian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 ayat (1) dan keterangan mengenai dokumen
pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, Menteri langsung memberitahukan
penolakan beserta alasannya kepada pemohon secara
elektronik.



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
19 Dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh)
hari terhitung sejak tanggal pernyataan tidak
berkeberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
pemohon yang bersangkutan wajib menyampaikan
secara fisik surat permohonan yang dilampiri
dokumen pendukung.

20 Apabila semua persyaratan sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) telah dipenuhi secara lengkap, paling
lambat 14 (empat belas) hari, Menteri menerbitkan
keputusan tentang pengesahan badan hukum
Perseroan yang ditandatangani secara elektronik.

21 Apabila persyaratan tentang jangka waktu dan
kelengkapan dokumen
pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
tidak dipenuhi, Menteri langsung memberitahukan
hal tersebut kepada pemohon secara elektronik, dan
pernyataan tidak berkeberatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) menjadi gugur.

22 Dalam hal pernyataan tidak berkeberatan gugur,
pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat
mengajukan kembali permohonan untuk memperoleh
Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 ayat (1).

23 Dalam hal permohonan untuk memperoleh
Keputusan Menteri tidak diajukan dalam jangka
waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), akta
pendirian menjadi batal sejak lewatnya jangka waktu
tersebut dan Perseroan yang belum memperoleh
status badan hukum bubar karena hukum dan
pemberesannyadilakukan oleh pendiri.

24 Ketentuan jangka waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berlaku juga bagi permohonan pengajuan
kembali.

25 Perbuatan hukum yang berkaitan dengan
kepemilikan saham dan
penyetorannya yang dilakukan oleh calon pendiri
sebelum Perseroan didirikan, harus dicantumkan
dalam akta pendirian.

26 Dalam hal perbuatan hukum sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dinyatakan dengan akta yang bukan
akta otentik, akta tersebut dilekatkan pada akta
pendirian.

27 Dalam hal perbuatan hukum sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dinyatakan dengan akta otentik,
nomor, tanggal dan nama serta tempat kedudukan
notaris yang membuat akta otentik tersebut
disebutkan dalam akta pendirian Perseroan.

28 Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) tidak dipenuhi,
perbuatan hukum tersebut tidak menimbulkan hak
dan kewajiban serta tidak mengikat Perseroan.



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
29 Perbuatan hukum yang dilakukan calon pendiri untuk
kepentingan Perseroan yang belum didirikan,
mengikat Perseroan setelah Perseroan menjadi badan
hukum apabila RUPS pertama Perseroan secara tegas
menyatakan menerima atau mengambil alih semua
hak dan kewajiban yang timbul dari perbuatan
hukum yang dilakukan oleh calon pendiri atau
kuasanya.

30 RUPS pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus diselenggarakan dalam jangka waktu paling
lambat 60 (enam puluh) hari setelah Perseroan
memperoleh status badan hukum.

31 Keputusan RUPS sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) sah apabila RUPS dihadiri oleh pemegang saham
yang mewakili semua saham dengan hak suara dan
keputusan disetujui dengan suara bulat.

32 Dalam hal RUPS tidak diselenggarakan dalam
jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
atau RUPS tidak berhasil mengambil keputusan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), setiap calon
pendiri yang melakukan perbuatan hukum tersebut
bertanggung jawab secara pribadi atas segala akibat
yang timbul.

33 Persetujuan RUPS sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) tidak diperlukan apabila perbuatan hukum
tersebut dilakukan atau disetujui secara tertulis oleh
semua calon pendiri sebelum pendirian Perseroan.

34 Perbuatan hukum atas nama Perseroan yang belum
memperoleh status badan hukum, hanya boleh
dilakukan oleh semua anggota Direksi bersama-sama
semua pendiri serta semua anggota Dewan Komisaris
Perseroan dan mereka semua bertanggung jawab
secara tanggung renteng atas perbuatan hukum
tersebut.

35 Dalam hal perbuatan hukum sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan oleh pendiri atas nama
Perseroan yang belum memperoleh status badan
hukum, perbuatan hukum tersebut menjadi tanggung
jawab pendiri yang bersangkutan dan tidak mengikat
Perseroan.

36 Perbuatan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), karena hukum menjadi tanggung jawab
Perseroan setelah Perseroan menjadi badan hukum.

37 Perbuatan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) hanya mengikat dan menjadi tanggung jawab
Perseroan setelah perbuatan hukum tersebut disetujui
oleh semua pemegang saham dalam RUPS yang
dihadiri oleh semua pemegang saham Perseroan.

38 RUPS sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah
RUPS pertama yang harus diselenggarakan paling
lambat 60 (enam puluh) hari setelah Perseroan



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
memperoleh status badan hukum.
Anggaran Dasar
1 Anggaran dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal
8 ayat (1) memuat sekurang-kurangnya:

1. nama dan tempat kedudukan Perseroan;
2. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;
3. jangka waktu berdirinya Perseroan;
4. besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan,
dan modal disetor;

5. jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada
berikut jumlah saham untuk tiap klasifikasi, hak-hak
yang melekat pada setiap saham, dan nilai nominal
setiap saham;

6. nama jabatan dan jumlah anggota Direksi dan
Dewan Komisaris;

7. penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan
RUPS;

8. tata cara pengangkatan, penggantian,
pemberhentian anggota Direksi dan Dewan
Komisaris;

9. tata cara penggunaan laba dan pembagian dividen.
2 Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) anggaran dasar dapat juga memuat ketentuan lain
yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.

3 Anggaran dasar tidak boleh memuat :
1. ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas
saham; dan

2. ketentuan tentang pemberian manfaat pribadi
kepada pendiri atau pihak lain.

4 Perseroan tidak boleh memakai nama yang :
5 telah dipakai secara sah oleh Perseroan lain atau
sama pada pokoknya dengan nama Perseroan lain;

1. bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau
kesusilaan;

2. bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau
kesusilaan;

3. sama atau mirip dengan nama lembaga negara,
lembaga pemerintah, atau lembaga internasional,
kecuali mendapat izin dari yang bersangkutan;

4. tidak sesuai dengan maksud dan tujuan, serta
kegiatan usaha, atau menunjukkan maksud dan
tujuan Perseroan saja tanpa nama diri;

5. terdiri atas angka atau rangkaian angka, huruf atau
rangkaian huruf yang tidak membentuk kata; atau

6. mempunyai arti sebagai Perseroan, badan hukum,
atau persekutuan perdata.

6 Nama Perseroan harus didahului dengan frase
Perseroan Terbatas atau disingkat PT.

7 Dalam hal Perseroan Terbuka selain berlaku
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pada
akhir nama Perseroan ditambah kata singkatan



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
Tbk.
8 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemakaian
nama Perseroan diatur dengan Peraturan Pemerintah

9 Perseroan mempunyai tempat kedudukan di daerah
kota atau kabupaten dalam wilayah negara Republik
Indonesia yang ditentukan dalam anggaran dasar.

10 Tempat kedudukan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sekaligus merupakan kantor pusat Perseroan.

11 Perseroan harus mempunyai maksud dan tujuan serta
kegiatan usaha yang dicantumkan dalam anggaran
dasar Perseroan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan.

Perubahan Anggaran Dasar
1 Perubahan anggaran dasar ditetapkan oleh RUPS.
2 Acara mengenai perubahan anggaran dasar wajib
dicantumkan dengan jelas dalam panggilan RUPS.

3 Perubahan anggaran dasar Perseroan yang telah
dinyatakan pailit tidak dapat dilakukan, kecuali
dengan pesetujuan kurator.

4 Persetujuan kurator sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilampirkan dalam permohonan persetujuan atau
pemberitahuan perubahan anggaran dasar kepada
Menteri.

5 Perubahan anggaran dasar tertentu harus mendapat
persetujuan Menteri.

6 Perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:

4. nama Perseroan dan/atau tempat
kedudukan Perseroan;

5. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
Perseroan;

6. jangka waktu berdirinya Perseroan;
7. besarnya modal dasar;
8. pengurangan modal ditempatkan dan
disetor; dan/atau

9. status Perseroan yang tertutup menjadi
Perseroan Terbuka atau sebaliknya.

7 Perubahan anggaran dasar selain sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) cukup diberitahukan kepada
Menteri.

8 Perubahan anggaran dasar sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (3) dimuat atau dinyatakan
dalam akta notaris dalam bahasa Indonesia.

9 Perubahan anggaran dasar yang tidak dimuat dalam
akta berita acara rapat yang dibuat notaris harus
dinyatakan dalam akta notaris paling lambat 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS.

Perubahan anggaran dasar tidak boleh dinyatakan
dalam akta notaris setelah lewat batas waktu 30 (tiga
puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (5).

10 Permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar


No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan
kepada Menteri, paling lambat 30 (tiga puluh) hari
terhitung sejak tanggal akta notaris yang memuat
perubahan anggaran dasar.
11 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7)
mutatis mutandis berlaku bagi pemberitahuan
perubahan anggaran dasar kepada Menteri.

12 Setelah lewat batas waktu 30 (tiga puluh) hari
sebagaimana dimaksud pada ayat (7) permohonan
persetujuan atau pemberitahuan perubahan anggaran
dasar tidak dapat diajukan atau disampaikan kepada
Menteri.

13 Permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar
mengenai perpanjangan jangka waktu berdirinya
Perseroan sebagaimana ditetapkan dalam anggaran
dasar harus diajukan kepada Menteri paling lambat
60 (enam puluh) hari sebelum jangka waktu
berdirinya Perseroan berakhir.

14 Menteri memberikan persetujuan atas permohonan
perpanjangan jangka waktu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) paling lambat pada tanggal terakhir
berdirinya Perseroan.

15 Perubahan anggaran dasar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 ayat (2) mulai berlaku sejak tanggal
diterbitkannya Keputusan Menteri mengenai
persetujuan perubahan anggaran dasar.

16 Perubahan anggaran dasar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 ayat (3) mulai berlaku sejak tanggal
diterbitkannya surat penerimaan pemberitahuan
perubahan anggaran dasar oleh Menteri.

17 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) tidak berlaku dalam hal Undang-Undang ini
menentukan lain.

18 Perseroan yang modal dan jumlah pemegang
sahamnya telah memenuhi kriteria sebagai Perseroan
Publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang pasar modal, wajib mengubah
anggaran dasarnya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (2) huruf f dalam jangka waktu 30 (tiga
puluh) hari terhitung sejak terpenuhi kriteria tersebut.

19 Direksi Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) wajib mengajukan pernyataan pendaftaran sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal.

20 Perubahan anggaran dasar mengenai status Perseroan
yang tertutup menjadi Perseroan Terbuka mulai
berlaku sejak tanggal:


efektif pernyataan pendaftaran yang diajukan
kepada lembaga pengawas di bidang pasar
modal bagi Perseroan Publik; atau


dilaksanakan penawaran umum, bagi



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
Perseroan yang mengajukan pernyataan
pendaftaran kepada lembaga pengawas di
bidang pasar modal untuk melakukan
penawaran umum saham sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal.
21 Dalam hal pernyataan pendaftaran Perseroan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak
menjadi efektif atau Perseroan yang telah
mengajukan pernyataan pendaftaran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak melaksanakan
penawaran umum saham, Perseroan harus mengubah
kembali anggaran dasarnya dalam jangka waktu 6
(enam) bulan setelah tanggal persetujuan Menteri.

22 Perubahan anggaran dasar yang dilakukan dalam
rangka Penggabungan atau Pengambilalihan berlaku
sejak tanggal:

a. persetujuan Menteri;
b. kemudian yang ditetapkan dalam persetujuan
Menteri; atau

c. pemberitahuan perubahan anggaran dasar diterima
Menteri, atau tanggal kemudian yang ditetapkan
dalam akta Penggabungan atau akta Pengambilalihan

23 Permohonan persetujuan atas perubahan anggaran
dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2)
ditolak apabila:

1) bertentangan dengan ketentuan mengenai tata cara
perubahan anggaran dasar;

2) isi perubahan bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, ketertiban umum,
dan/atau kesusilaan; atau

3) terdapat keberatan dari kreditor atas keputusan
RUPS mengenai pengurangan modal.

24 Ketentuan mengenai tata cara pengajuan permohonan
untuk memperoleh Keputusan Menteri mengenai
pengesahan badan hukum Perseroan, dan
keberatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9,
Pasal 10, dan Pasal 11 mutatis mutandis berlaku bagi
pengajuan permohonan persetujuan perubahan
anggaran dasar dan keberatannya.

Daftar Perseroan
1 Daftar Perseroan diselenggarakan oleh Menteri.
2 Daftar Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) memuat data tentang Perseroan yang meliputi:

a. nama dan tempat kedudukan, maksud dan tujuan
serta kegiatan usaha, jangka waktu pendirian, dan
permodalan;

b. alamat lengkap Perseroan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5;

c. nomor dan tanggal akta pendirian dan Keputusan
Menteri mengenai pengesahan badan hukum



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
Perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(4);
d. nomor dan tanggal akta perubahan anggaran dasar
dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (1);

e. nomor dan tanggal akta perubahan anggaran dasar
dan tanggal penerimaan pemberitahuan oleh Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2);

f. nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat
akta pendirian dan akta perubahan anggaran dasar;

g. nama lengkap dan alamat pemegang saham,
anggota Direksi, dan anggota Dewan Komisaris
Perseroan;

h. nomor dan tanggal akta pembubaran atau nomor
dan tanggal penetapan pengadilan tentang
pembubaran Perseroan yang telah diberitahukan
kepada Menteri;

i. berakhirnya status badan hukum Perseroan;
j. neraca dan laporan laba rugi dari tahun buku yang
bersangkutan bagi Perseroan yang wajib diaudit.

3 Data Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dimasukkan dalam daftar Perseroan pada tanggal
yang bersamaan dengan tanggal:

a. Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan
hukum Perseroan, persetujuan atas perubahan
anggaran dasar yang memerlukan persetujuan;

b. penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran
dasar yang tidak memerlukan persetujuan;atau

c. penerimaan pemberitahuan perubahan data
Perseroan yang bukan merupakan perubahan
anggaran dasar.

4 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf g mengenai nama lengkap dan alamat
pemegang saham Perseroan Terbuka sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pasar modal.

5 Daftar Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) terbuka untuk umum.

6 Ketentuan lebih lanjut mengenai daftar Perseroan
diatur dengan Peraturan Menteri.

Pengumuman
1 Menteri mengumumkan dalam Tambahan Berita
Negara Republik Indonesia :

a. akta pendirian Perseroan beserta Keputusan
Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(4);

b. akta perubahan anggaran dasar Perseroan beserta
Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (1);

c. akta perubahan anggaran dasar yang telah diterima
pemberitahuannya oleh Menteri.



No. Syarat Administrasi
Terpenuhi
Catatan
Ya Tidak
2 Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh Menteri dalam waktu paling lambat
14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal
diterbitkannya Keputusan Menteri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b atau
sejak diterimanya pemberitahuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c.

3 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pengumuman dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.





Definisi istilah yang digunakan dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas:

1. Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang
merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan
usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya.
2. Organ Perseroan adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, dan Dewan
Komisaris.
3. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan
serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan
dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat,
maupun masyarakat pada umumnya.
4. Rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS, adalah Organ
Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan
Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau anggaran
dasar.
5. Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas
pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan
Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai
dengan ketentuan anggaran dasar.
6. Dewan Komisaris adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara
umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada
Direksi.
7. Perseroan Terbuka adalah Perseroan Publik atau Perseroan yang melakukan penawaran
umum saham, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang pasar
modal.
8. Perseroan Publik adalah Perseroan yang memenuhi kriteria jumlah pemegang saham dan
modal disetor sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang pasar
modal.
9. Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan atau lebih
untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan
aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada
Perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan
yang menggabungkan diri berakhir karena hukum.
10. Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua Perseroan atau lebih untuk
meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Perseroan baru yang karena hukum
memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan yang meleburkan diri dan status badan
hukum Perseroan yang meleburkan diri berakhir karena hukum.
11. Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau
orang perseorangan untuk mengambil alih saham Perseroan yang mengakibatkan
beralihnya pengendalian atas Perseroan tersebut.
12. Pemisahan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh Perseroan untuk memisahkan
usaha yang mengakibatkan seluruh aktiva dan pasiva Perseroan beralih karena hukum
kepada 2 (dua) Perseroan atau lebih atau sebagian aktiva dan pasiva Perseroan beralih
karena hukum kepada 1 (satu) Perseroan atau lebih.
13. Surat Tercatat adalah surat yang dialamatkan kepada penerima dan dapat dibuktikan
dengan tanda terima dari penerima yang ditandatangani dengan menyebutkan tanggal
penerimaan.
14. Surat Kabar adalah surat kabar harian berbahasa Indonesia yang beredar secara
nasional.


15. Hari adalah hari kalender.
16. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum dan hak
asasi manusia








Definisi dan pengertian dalam UU No. 32 tahun 2009
1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
2. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu
yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan,
pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
3. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan
aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk
menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan
mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.
4. Rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang selanjutnya disingkat
RPPLH adalah perencanaan tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup,
serta upaya perlindungan dan pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu.
5. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh
menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan
produktivitas lingkungan hidup.
6. Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara
kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup.
7. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antarkeduanya.
8. Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap
zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.
9. Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati
dan nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem.
10. Kajian lingkungan hidup strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS, adalah
rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa
prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
11. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut Amdal, adalah
kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
12. Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup, yang
selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha
dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan.
13. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat,
energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan
hidup.


14. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
15. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik,
kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang oleh lingkungan hidup
untuk dapat tetap melestarikan fungsinya.
16. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan
langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan
hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
17. Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung
terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria
baku kerusakan lingkungan hidup.
18. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana serta kesinambungan ketersediaannya dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.
19. Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak
langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfir
secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang
teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.
20. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.
21. Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat, energi,
dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara
langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan
hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup
manusia dan makhluk hidup lain.
22. Limbah bahan berbahaya dan beracun, yang selanjutnya disebut Limbah B3, adalah
sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.
23. Pengelolaan limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan, penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan/atau penimbunan.
24. Dumping (pembuangan) adalah kegiatan membuang, menempatkan, dan/atau
memasukkan limbah dan/atau bahan dalam jumlah, konsentrasi, waktu, dan lokasi
tertentu dengan persyaratan tertentu ke media lingkungan hidup tertentu.
25. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang
timbul dari kegiatan yang berpotensi dan/atau telah berdampak pada lingkungan hidup.
26. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan.
27. Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terorganisasi dan
terbentuk atas kehendak sendiri yang tujuan dan kegiatannya berkaitan dengan
lingkungan hidup.
28. Audit lingkungan hidup adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap persyaratan hukum dan kebijakan
yang ditetapkan oleh pemerintah.
29. Ekoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air,
flora, dan fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan
integritas sistem alam dan lingkungan hidup.


30. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat
untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.
31. Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat yang secara turun temurun
bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal usul leluhur,
adanya hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang
menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum.
32. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan
hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
33. Instrumen ekonomi lingkungan hidup adalah seperangkat kebijakan ekonomi untuk
mendorong Pemerintah, pemerintah daerah, atau setiap orang ke arah pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
34. Ancaman serius adalah ancaman yang berdampak luas terhadap lingkungan hidup dan
menimbulkan keresahan masyarakat.
35. Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan
usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha
dan/atau kegiatan.
36. Izin usaha dan/atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis untuk
melakukan usaha dan/atau kegiatan.
37. Pemerintah pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
38. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah.
39. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.









Lampiran

1. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.19 Tahun 1960 Tentang
Perusahaan Negara
2. Undang-undang No.5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah
3. Undang-undang No. 9 Tahun 1969 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang No.1 tahun 1969 (Lembaran Negara Tahun 1969 No.16:
Tambahan Lembaran Negara No.2890) Tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara
Menjadi Undang-undang
4. Undang-undang Republik Indonesia No.3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar
Perusahaan
5. Undang-undang Republik Indonesia No.1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas
6. Undang-undang Republik Indonesia No.9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil
7. Undang-undang Republik Indonesia No.8 Tahun 1997 Tentang Dokumen
Perusahaan
8. Undang-undang Republik Indonesia No.5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
9. Undang-undang Republik Indonesia No.16 Tahun 2001 Tentang Yayasan
10. Undang-undang Republik Indonesia No.22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas
Bumi
11. Undang-undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha
Milik Negara
12. Undang-undang Republik Indonesia No.28 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas
Undang-undang No.16 Tahun 2001 Tentang Yayasan
13. Undang-undang Republik Indonesia No.41 Tahun 2004 Tentang Wakaf
14. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.12 Tahun 1998 Tentang
Perusahaan Perseroan (PERSERO)
15. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.13 Tahun 1998 Tentang
Perusahaan Umum (PERUM)
16. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.26 Tahun 1998 Tentang Pemakaian
Nama Perseroan Terbatas
17. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.27 Tahun 1998 Tentang
Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas
18. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.15 Tahun 1999 Tentang Bentuk-
bentuk Tagihan Tertentu Yang Dapat Dikompensasikan Sebagai Setoran Saham
19. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.61 Tahun 1999 Tentang Penetapan
Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum
20. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.87 Tahun 1999 Tentang Tata Cara
Penyerahan dan Pemusnahan Dokumen Perusahaan


21. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.88 Tahun 1999 Tentang Tata Cara
Pengalihan Dokumen Perusahaan ke dalam Mikrofilm atau Media Lainnya dan
Legalisasi
22. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.1 Tahun 2000 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintahan No.98 Tahun 1999 Tentang Pengalihan Kedudukan,
Tugas, dan Kewenangan Menteri Keuangan Selaku Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) atau Pemegang Saham pada Perusahaan Perseroan (PERSERO) dan
Perseroan terbatas yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Negara RI kepada
Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Miliki Negara
23. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.6 Tahun 2000 Tentang Perusahaan
Jawatan (PERJAN)
24. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.45 Tahun 2001Tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintahan No.12 Tahun 1998 Tentang Perusahan Perseroan
(Persero)
25. Peraturan PemerintahanRepublik Indonesia No.64 Tahun 2001 Tentang Pengalihan
Kedudukan, Tugas, dan Kewenangan Menteri keuangan pada Perusahaan Perseroan
(PERSERO), Perusahaan Umum (PERUM), Perusahaan Jawatan (PERJAN)
Kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
26. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.42 Tahun 2002 Tentang Badan
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi
27. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.7 Tahun 2003 Tentang Pendirian
Perusahaan Umum (PERUM)
28. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.31 Tahun 2003 Tentang
Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara
(PERTAMINA) Menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO)
29. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.41 Tahun 2003 Tentang
Pelimpahan Kedudukan, Tugas, dan Kewenangan Menteri Keuangan Pada
Perusahaan Perseroan (PERSERO), Perusahaan Umum (PERUM), dan Perusahaan
Jawatan (PERJAN) kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
30. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No.33 Tahun 2005 Tentang Tata Cara
Privatisasi Perusahaan Perseroan (PERSERO)
31. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.90 Tahun 2000 Tentang Kantor
Perwakilan Perusahaan Asing
32. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.122 Tahun 2001 Tentang Tim
Kebijakan Privatisasi Badan Usaha Milik Negara
33. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.3 Tahun 1998 Tentang Bentuk Hukum Badan
Usaha Milik Negara
34. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 50 Tahun 1999 Tentang Kepengurusan
Badan Usaha Milik Daerah
35. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.104 Tahun 2002 Tentang
Penilaian Calon Anggota Direksi Badan Usaha Milik Negara
36. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.117 Tahun 2002 Tentang
Penerapan Praktik Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara
(BUMN)