Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERKEBUNAN TANAMAN KAKAO (Theobroma Cacao L.

)
Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Perencanaan

Kelompok 8 Annisa Fainnaka Nur Fitri Indah K Pasha Grata P Siti Utari Zamia Rizka F 38383 37688 37959 37790 37756

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2013

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Kakao adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang tahun. Karena itulah banyak petani kepincut membudidayakannya. Kakao atau Theobroma cacao L., merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cocok dengan kultur tanah dan iklim di Indonesia. Tanaman ini termasuk golongan tumbuhan tropis. Tanaman penghasil biji kakao ini berasal dari daerah hutan tropis di Amerika Selatan. Di habitat asalnya, kakao biasa tumbuh di bagian hutan hujan tropis yang terlindung di bawah pohon-pohon besar. Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia hingga saat ini. Tahun 2009 produksi biji kakao mencapai 849.875 ton per tahun. Produsen terbesar kakao di dunia ditempati Pantai Gading sebesar 1,3 juta ton sementara Ghana sebanyak 750.000 ton. Produksi ini dihasilkan dari perkebunan rakyat, perkebunan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perkebunan swasta, serta perkebunan rakyat. Luas perkebunan kakao yang dimiliki masyarakat sekitar 92,7 persen dari luas total perkebunan kakao di Indonesia pada tahun 2009 yang mencapai 1.592.982 Ha. Luas perkebunan kakao di Indonesia terus meningkat sepanjang 5 tahun terakhir. Pada tahun 2007 luas perkebunan kakao di Indonesia mencapai 1379279 Ha. Luas perkebunan ini mengalami pertumbuhan sebesar 6.8 persen menjadi 1473259 Ha. Luas perkebunan kakao kembali bertambah menjadi 1592982 Ha atau tumbuh 8.1 persen pada tahun berikutnya. Secara rata-rata pertumbuhan luas perkebunan kakao di Indonesia dari tahun 2006 hingga tahun 2009 adalah 8.1 persen.Perkebunan kakao di Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat yakni perkebunan yang dimiliki masyarakat. Kepemilikan perkebunan ini rata-rata per petani sangat kecil yakni 1 Ha per petani. Luas perkebunan kakao yang dimiliki masyarakat sekitar 92,7 persen dari luas total perkebunan kakao di Indonesia pada tahun 2009 yang mencapai 1.592.982 Ha. Beberapa wilayah pengembangan lahan perkebunan kakao di Indonesia yang potensial adalah di Kaltim, Sulteng, Sultra, Maluku, dan Papua dengan luas sekitar 6 juta Ha. Jenis tanaman kakao yang diusahakan di Indonesia sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu, juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar milik negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Beberapa program terkait pengembangan perkebunan kakao yang dicananangkan pemerintah adalah peremajaan perkebunan seluas 70 ribu Ha, rehabilitasi 235 ribu hektare lahan kakao, intensifikasi pada 145 ribu hektare lahan, serta dan pengendalian hama pada 450 ribu hektare lahan kakao dalam tiga tahun sejak 2009 hingga 2011.

Melihat perkembangan dan peluang bisnis kakao yang baik di Indonesia, maka perlu diadakannya penyesuaian lahan terhadap beberapa aspek. Hal ini dilakukan agar perkebunan kakao khususnya di Indonesia dapat berkembang secara maksimal dan dapat sesuai dengan ketentuan lokasi peruntukannya. Untuk itulah kami akan membahas mengenai analisis kesesuaian lahan terhadap perkebunan kakao dari beberapa aspek yang nantinya akan dibahas satu persatu dengan menggunakan teknik overlay dengan menggunakan sisten informasi geografis menggunakan ArcGIS dalam paper ini.

TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian Analisis Kesesuaian Lahan Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah, kesesuaian lahan adalah kecocokan suatu hamparan lahan untuk pemanfaatan ruang tertentu dan kemampuan lahan adalah karakteristik lahan yang mencakup sifat-sifat tanah, topografi, drainase, dan kondisi lingkungan hidup lain untuk mendukung kehidupan atau kegiatan pada suatu hamparan lahan. Kriteria utama dari kesesuaian lahan berupa keberlanjutan kehidupan. Pada dasarnya, kesesuaian lahan itu ada dua yaitu kesesuaian lahan aktual yang berdasar pada kondisi saat ini dan kesesuaian lahan potensial yang menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai setelah dilakukan usaha-usaha perbaikan. Analisis terhadap kesesuaian lahan diperlukan untuk mengenali ketersediaan sumber daya alam dengan menelaah kemampuan dan kesesuaian lahan, agar penggunaan lahan dalam pengembangan wilayah dan kawasan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Analisis terhadap kesesuaian lahan atas fisik dan lingkungan menjadi masukan dalam penyusunan rencana tata ruang maupun dalam penyusunan rencana pengembangan wilayah atau kawasan berupa rencana tindak, rencana investasi, dan lain-lain. Analisis ini menjadi masukan karena memberikan gambaran kerangka fisik pengembangan wilayah atau kawasan. Berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor 20 Tahun 2007 tentang Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang, data-data yang dibutuhkan dalam analisis fisik lingkungan dan kesesuaian lahan ini di antaranya adalah data: Klimatologi Data klimatologi itu terdiri dari: curah hujan, hari hujan, intensitas hujan, temperatur rata-rata, kelembaban relatif, kecepatan dan arah angin, dan lama penyinaran (durasi) matahari. Topografi Data topografi itu merupakan peta topografi dengan skala terbesar yang tersedia yang dapat diperoleh dari instansi: Badan Koordinasi Survei dan

Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Badan Pertanahan Nasonal (BPN), Direktorat Topografi TNI Angkatan Darat, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, serta intansi lainnya yang terkait. Peta-peta topografi yang didapat tersebut akan menghasilkan peta turunan berupa peta morfologi dan peta kemiringan lereng/lahan. Geologi Data yang terkait dengan data geologi berupa data fisiografi daerah yang memperlihatkan gambaran umum kondisi fisik secara regional baik menyangkut morfologi, pola pembentukannya, pola aliran sungai, serta kondisi litologi dan struktur geologi secara umum. Data geologi yang diperlukan dalam analisis adalah data geologi umum (statigrafi dan uraian litologinya, struktur geologi, serta penampang-penampang geologi), data geologi wilayah (rincian dari data geologi umum berupa rincian karakteristik litologi, statigrafi, dan struktur geologinya), dan data geologi permukaan (peta geologi permukaan yang memuat sebaran lateral tanah/batu yang diperoleh melalui penelitian lapangan). Hidrologi Data hidrologi terkait atas data air permukaan dan data air tanah. Data air permukaan adalah peta air permukaan dan mengikuti besaran serta debit masing-masing jenis sumber air (mata air, sungai, danau, dan rawa) sehingga dapat diketahui besaran potensi air permukaan. Sementara itu data air tanah dibagi menjadi dua yaitu data air tanah dangkal (data yang berupa kedalaman sumur-sumur penduduk yang dikaitkan dengan fisik tanah dan batunya dalam kaitannya sebagai pembawa air dan kemudian diuji mutunya dalam laboratorium) dan data air dalam (data yang diperoleh dari penelitian hidrogeologi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Sumber Daya Mineral / Bahan Galian Data sumer daya mineral / bahan galian yang terkait adalah peta persebaran potensi bahan galian golongan C berupa batu, pasir, dan tanah urug yang didapat dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Bencana Alam Data yang terkait dengan data bencana alam berupa peta masing-masing jenis bencana alam.

Penggunaan Lahan Penyajian data terkait penggunaan lahan berupa peta penggunaan lahan/tata guna lahan dan tabel luas penggunaan lahan.

Kemudian dalam menentukan tingkat kesesuaian lahan untuk suatu tanaman dapat dievaluasi dan diklasifikasikan dalam kategori sesuai (S) atau tidak sesuai (N). Lahan yang sesuai dapat dibedakan menjadi S1 (sesuai), S2 (cukup sesuai), dan S3 (kurang sesuai).

II. MENGENAL TANAMAN KAKAO A. Sistematika Tanaman Kakao


Kakao merupakan satu-satunya di antara 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Menurut Tjitrosoepomo (1988) sistematika tanaman ini sebagai berikut : Divisi Anak divisi Kelas Anak kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Spermatophyta : Angioospermae : Dicotyledoneae : Dialypetalae : Malvales : Sterculiaceae : Theobroma : Theobroma cacao L

B. Karakteristik Tanaman Kakao


Tanaman kakao merupakan tanaman yang cocok tumbuh di daerah tropis dengan suhu harian yang baik 24-28o C dan ideal kelembaban 80% atau 6-7 pH. Tanaman kakao tumbuh subur di ketinggian 1-600 mdpl meskipun terkadang sampai ketiggian 900 meter di atas permukaan laut masih bisa tumbuh. Tanaman kakao dalam pertumbuhannya memerlukan kondisi tanah dengan kandungan organ yang cukup, lapisan olah yang dalam untuk membantu pertumbuhan akar, sifat fisik yang baik seperti struktur tanah yang gembur, dan sistem drainase yang baik. Menurut Situmorang (1973), struktur tanah yang gembur membantu tumbuh kembang akar tanaman kakao agar tidak terhambat karena 80% perakaran tanaman kakao berada sepanjang 15 cm di permukaan tanah. Tanaman kakao membutuhkan curah hujan 16003000 mm per tahun dan tidak tahan dengan musim kemarau yang berkepanjangan. Penyerbukan bunga kakao dibantu oleh serangga Farcipomiya spp yang berbunga tidak mengenal musim karena tanaman ini berbunga sepanjang tahun. Jumlah bunga kakao yang dihasilkan sebanyak 500-12000 bunga per pohon tiap tahunnya dengan menghasilkan buah sebanyak 1%. Dunia perkebunan mengenal tanaman kakao ada dua jenis yaitu kakao edel atau kakao mulia dan kakao lindak. Kakao edel memiliki

keunggulan dalam aroma dan cita rasa serta biasanya dikelola dan diusahakan oleh perkebunan yang besar. Sementara itu kakao lindak merupakan tanaman kakao yang cenderung memiliki produktivitas yang tinggi serta relatif mudah dibudidayakan dan dikelola oleh perkebunan rakyat dan petani. Tanaman kakao merupakan salah satu tanaman budidaya dengan prospek yang menjanjikan. Penerapan kultur teknis yang baku dapat meningkatkan produktivitas tanaman kakao yaitu dengan cara penggunaan bahan tanam unggul, pemangkasan, pengendalian hama penyakit, dan pemupukan. Sementara itu, pada tanaman kakao yang kurang produktif, upaya peningkatan produksi dapat dilakukan melalui rehabilitasi tanaman dengan teknik tanpa melakukan pembongkaran untuk tanam ulang. Peningkatan pendapatan perkebunan dapat diterapkan melalui verifikasi usaha tani melalui tumpang sari dengan tanaman tahunan lain yang kompatibel (cocok). Semua ini kembali lagi kepada produktivitas perkebunan di mana tanaman kakao dalam perkembangbiakannya membutuhkan besar lahan sehingga diperlukan analisis kebutuhan dan kesesuaian lahan perkebunan kakao yang memiliki karakteristik khusus.

Kakao Mulia (Edel)

Kakao Lindak

PEMBAHASAN
I. Langkah Analisis Kesesuaian lahan
Dalam menentukan kesesuaian lahan untuk perkebunan kakao, kita memerlukan beberapa data untuk analisis yaitu data curah hujan, data kelerengan dan data jenis tanah selain itu kita juga perlu memperhatikan kondisi drainase, PH tanah dan juga kepekaan terhadap erosi

Diagram Tahapan Overlay Kesesuaian Lahan

Menyiapkan Peta

Melakukan Analisa Skoring pada masing-masing peta

Overlay

Menentukan Skor Peruntukan Lahan

Menetapkan peruntukan lahan

1. Menyiapkan peta yang merupakan variabel kesesuaian lahan, antara lain : Curah hujan Untuk mengetahui intensitas hujan di suatu lahan dan bagaimana pengaruhnya.

Kelerengan lahan Untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu lahan terhadap bencana.

Jenis tanah Untuk mengetahui lahan tersebut lebih cocok dimanfaatkan untuk apa dilihat dari jenis tanahnya.

Drainase

Texture tanah

Ketahanan erosi

2. Melakukan analisa skoring dari variabel kesesuaian lahan menurut SK MENTAN 837/KPTS/UM/1980, sesuai dengan tabel berikut : Variabel 1. Kelerengan Nilai Kelas Lereng 1 2 3 4 2. Kepekaan Terhadap Erosi Kelas Tanah Rentang Variabel Derajad Lereng (%) 08 8 15 15 25 25 40 > 40 Jenis Tanah Aluvial, Clay, 1 Planosol, Hidromorf kelabu, Laterite air tanah 2 3 Latosol Brown forest Soil, Non Calsit Brown, Mediteran Andosol, Laterite, 4 Grumosol, Podsolik, Podsol Peka 2 Kurang Peka 3 Agak Peka 4 Tidak Peka 5 Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam 5 4 3 2 1 Kategori Bobot

Regosol, Litosol, 5 Kelas Int. Hujan 1 2 3 4 5 4 Drainase Kelas drainase 1 2 3 4 5 5 Tekstur tanah Kelas Texture 1 2 3 4 5 6. Bahaya erosi 1 2 3 4 5 Organosol, Renzina 3. Intensitas Hujan Intensitas Hujan (mm/hari hujan) =< 13,5 13,6 20,7 20,7 27,7 27,7 34,8 > 34,8 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 5 4 3 2 1 Sangat Peka 1

pengatusan sangat baik Pengatusan baik 4 Pengatusan sedang Pengatusan jelek Pegatusan sangat jelek

5 4 3 2 1

Geluh Geluh berpasir Geluh Berlempung Lempung berpasir Lempung, pasir Sangat rendah rendah sedang berat Sangat berat

5 4 3 2 1 5 4 3 2 1

Skoring Curah Hujan

Skoring Jenis Tanah

Skoring Kelerengan

Skoring drainase

Skoring texture tanah

Skoring ketahanan erosi

3 Melakukan overlay
Setelah dilakukan skoring maka kita akan menghitung skor total dari masingmasing data yang kita punya yang kemudian menjadi dasar penentuan tingkat kesesuaian lahan untuk perkebunan kakao . penghitungan skor total tersebut dengan menggunakan teknik overlay yang merupakan tahapan dimana semua peta di di gabungkan menjadi satu. Langkah- langkah overlay bila menggunakan arcgis adalah dengan mengklik Arctoolbox-pilih analyst tools- pilih overlay- pilih intersect. Kemudian muncul input feature. Masukan semua data yang ada kemudian pilih folder yang menjadi tempat keluaran peta, lalu klik ok.

Hasil overlay untuk mengetahui tingkat kesesuaian lahan untuk perkebunan kakao. Dengan melakukan penjumlahan skor pada masing-masing variabel

HASIL OVERLAY Bedasarkan total skor masing-masing variabel

Hasil overlay yang lebih detail sesuai klasifikasi lokasi yang cocok untuk perkebunan tanaman kakao

Berdasarkan hasil overlay kita dapat menentukan lokasi mana yang cocok untuk perkebunan tanaman kakao dengan mencocokan pada tabel klasifikasi di bawah ini : Tabel klasifikasi untuk kesesuaian lahan tanaman kakao Kelas I (S1, S2) II (S3) III (N) Kesesuaian untuk perkebunan kakao Harkat dari seluruh parameter >25 20-24 <15-19

Sangat baik hingga baik, lahan sangat sesuai untuk perkebunan kakao Sedang, lahan mempunyai beberapa faktor penghambat non permanen Jelek hingga sangat jelek, lahan memiliki banyak faktor penghambat atau beberapa faktor penghambat mutlak dan permanen

Lahan yang cocok atau sesuai untuk tanaman kakao adalah daerah yang berwarna kuning karena faktor penghambatnya sangat sedikit/ tidak begitu mempegaruhi pertumbuhan tanaman kakao sehingga sangat cocok untuk tanaman kakao

PENUTUP
I.

KESIMPULAN
Kakao adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang tahun. Karena itulah banyak petani kepincut membudidayakannya. Kakao atau Theobroma cacao L., merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cocok dengan kultur tanah dan iklim di Indonesia. Agar dapat tumbuh dengan optimal maka perlu dilakukan penilaian kesesuaian lahan untuk tanaman kakao ini dimana kita perlu memperhatikan data curah hujan, data kelerengan dan data jenis tanah selain itu kita juga perlu memperhatikan kondisi drainase, PH tanah dan juga kepekaan terhadap erosi. Kemudian data tersebut kita gunakan untuk melakukan analisis kesesuaian lahan menggunakan teknik overlay menggunakan banuan software arcgis. Setelah itu kita dapat lokasi yang sesuai untuk perkebunan kakao tersebut.

II.

SARAN
Analisis kesesuaian lahan harus selalu dilakukan agar kita dapat mengetahui lokasi yang cocok untuk sebuah kegiatan yang kita inginkan Data yang kita gunakan haruslah data yang valid sehingga informasi yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan perencanaan

Lampiran 5. Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Perkebunan


Persyarata n penggunaan/ karakteristik lahan (1) Temperatur rerata (C) Kelas kesesuaian lahan (2) S1 S2 S3 N Curah hujan (mm) S1 S2 S3 N Drainase S1 S2 S3 N Tekstur S1 S2 S3 N S1 S2 S3 N Jenis Tanaman Perkebunan Kopi arabika (coffea arabica) (3) 1622 15-16 22-24 14-15 24-26 <14 >26 1.200-1.800 1.000-1.200 1.800-2.000 2.000-3.000 800 - 1.000 >3.000 < 800 baik sedang agak terhambat, agak cepat terhambat, sangat terhambat, cepat halus, agak halus, sedang agak kasar kasar, sangat halus > 100 75 100 50 75 < 50 Kopi robusta (coffea canephora) (4) 22 25 25 28 19-22 28 32 <19 > 32 2.000-3.000 1.750-2.000 3.000-3.500 1.500-1.750 3.500-4.000 <1.500 >4.000 baik Sedang agak terhambat, agak Cepat terhambat, sangat terhambat, cepat halus, agak halus, sedang agak kasar kasar, sangat halus > 100 75 100 50 75 < 50 Kelapa (cocos nicifera L.) (5) 25 28 28 32 23 25 32 35 20 - 23 > 35 < 20 2.000 -3.000 1.300-2.000 1.000 - 1.300 < 1.000 baik, sedang agak terhambat terhambat, agak cepat sangat terhambat, cepat halus, agak halus, sedang agak kasar sangat halus kasar > 100 75 - 100 50 75 < 50 Kelapa sawit (Elaeis guinensis JACK.)(6) 25 28 22 25 28 32 20 22 32 35 < 20 > 35 1.700-2.500 1.450-1.700 2.500-3.500 1.250-1.450 3.500-4.000 < 1.250 > 4.000 baik, sedang agak terhambat terhambat, agak cepat sangat terhambat, cepat halus, agak halus, sedang agak kasar Kasar > 100 75 - 100 50 75 < 50 Karet (Hevea brassiliensis M.A.) (7) 26 - 30 30 34 24 - 26 22 - 24 > 34 < 22 2.500-3.000 2.000-2.500 3.000-3.500 1.500-2.000 3.500-4.000 <1.500 > 4.000 baik sedang agak terhambat, terhambat sangat terhambat, cepat halus, agak halus, sedang agak kasar kasar > 100 75 - 100 50 75 < 50 cacao (Theobroma cacao L.) (8) 25 28 20 25 28 - 32 32 35 > 35 1.500-2.500 2.500-3.000 1.250-1.500 3.000-4.000 < 1.250 > 4.000 baik, sedang agak terhambat terhambat, agak cepat sangat terhambat, cepat halus, agak halus, sedang agak kasar kasar > 100 75 - 100 50 75 < 50

Kedalaman tanah (cm)

Lanjutan Lampiran 5.
(1) (2) (3) Kejenuha n basa (%) pH H2O S1 S2 S3 N S1 S2 S3 C-organik (%) N S1 S2 S3 N S1 S2 S3 N Bahaya erosi S1 S2 S3 N > 50 35 50 < 35 5,6 - 6,6 6,6 - 7,3 < 5,5 >7,4 > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <8 8 - 16 16-30 16-50 > 30 > 50 sangat rendah rendah- sedang berat sangat berat (4) > 20 20 5,3 - 6,0 6,0 - 6,5 5,0 - 5,3 > 6,5 < 5,3 > 0,8 0,8 <8 8 - 16 16-30; 16-50 > 30; > 50 sangat rendah rendah- sedang berat sangat berat (5) > 20 20 5,2 - 7,5 4,8 - 5,2 7,5 - 8,0 < 4,8 > 8,0 > 0,8 0,8 <8 8 16 16 30 > 30 sangat rendah rendah- sedang berat sangat berat Jenis Tanaman Perkebunan (6) > 20 20 5,0 - 6,5 4,2 - 5,0 6,5 - 7,0 < 4,2 > 7,0 > 0,8 0,8 <8 8 16 16 30 > 30 Sangat rendah Rendah- sedang Berat Sangat berat (7) < 35 35 - 50 > 50 5,0 - 6,0 6,0 - 6,5 4,5 - 5,0 > 6,5 < 4,5 > 0,8 0,8 <8 8 16 16 30 16 - 45 > 30 > 45 sangat rendah rendah- sedang berat sangat berat (8) > 35 20 35 < 20 6,0 - 7,0 5,5 - 6,0 7,0 - 7,6 <5,5 > 7,6 > 1,5 0,8 - 1,5 < 0,8 <8 8 16 16 30 > 30 sangat rendah rendah- sedang berat sangat berat

Lereng (%)

DAFTAR PUSTAKA
http://www.smecda.com/Files/Budidaya/pengemb&pengolahan_kakao.pdf http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/8345/Hermantoro%20_Lengkap_.pdf http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29237/1/Appendix.pdf http://www.worldagroforestry.org/downloads/publications/PDFs/mn15224.pdf

Anda mungkin juga menyukai