Anda di halaman 1dari 32

NERACA MIKROSKOPIK (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Kelompok 5 Adinda Putri Wisman Anissa Permatadietha Ardiellaputri Hermawan Ines Hariyani Linarty Rizki Dwi Saputro 1006661185 1006661203 1006775880 1006775893 1006686553 1006775962

Departemen Teknik Kimia

Fakultas Teknik Universitas Indonesia


Depok, 2011

Peristiwa Perpindahan (Neraca Mikrskopik Keadaan Tunak dengan Generasi)

PERPINDAHAN MASSA DENGAN KONVEKSI

I. Konveksi pada Pipa Laminer Aliran berlapis (laminar flow) dari cairan Newtonian () yang tidak dapat dikempa (incompressible) dalam sebuah pipa yang diberi tekanan, ditunjukkan pada gambar 1. Persamaan distribusi kecepatan dari aliran tersebut adalah. = 2 1
2

(1.1)

Secara teori, sebuah cairan (liquid) memiliki spesi yang uniform dengan konsentrasi 0 untuk < 0. Untuk > 0, konsentrasi spesi mulai berubah terhadap fungsi dan sebagai hasil dari perpindahan massa dari dinding pipa. Berikut adalah proses pengembangan persamaan dari konsentrasi spesi , dengan asumsi viskositas liquid tidak mempengaruhi perpindahan massa.

r z

r z R

Gambar 1. Konveksi melalui sebuah pipa

Dari tabel C.8 pada appendiks C (Tosun, 2006), komponen elemen fluks tak nol untuk spesi adalah.

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan

(1.2)

(1.3)

Untuk larutan sangat encer, massa jenis total hampir konstan sehingga persamaan (1.2) dan (1.3) menjadi = +
(1.4)

(1.5)

Membagi persamaan (1.4) dan (1.5) dengan massa molekular dari , , memberikan A r = AB A z = AB
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)
A r

(1.6)

A + A z z

(1.7)

Peristiwa Perpindahan

Karena tidak ada generasi spesi , persamaan umum neraca mikroskopik kedaan tunak tanpa generasi dapat disederhanakan menjadi Laju masuk Laju keluar =0 spesi spesi
(1.8)

Untuk elemen volume diferensial silinder dengan ketebalan dan panjang , seperti terlihat pada gambar, persamaan (1.8) diekspresikan sebagai. 2 + 2

2 + +

2 = 0

(1.9)

Membagi persamaan (1.9) dengan 2 dan memberikan limit 0 dan 0 sehingga.

lim

( ) ( )

+ lim

=0

(1.10)

atau 1 ( ) + =0 Subsitusi persamaan (1.6) dan (1.7) pada persamaan (1.11). A AB A 2 A = + AB 2


Konveksi pada arah z Difusi pada arah r Difusi pada arah z (1.12) (1.11)

Difusi dapat diabaikan karena bilangan dimensi Peclet 1, sehingga persamaan (1.12) menjadi. A AB A =

(1.13)

Untuk forced convection mass transfer pada silinder dengan radius R, konsentrasi bulk dari ditentukan dengan formulasi. = Integrasi persamaan (1.13).
2 R 2 0 0 2 0 0

(1.14)

A = AB

2 R

1 A

(1.15)

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan

Karena (), persamaan (1.15) dapat disusun ulang menjadi.


2 R

A =

2 R

(z A ) =

2 R

(1.16)

z A
0 0

Substitusi persamaan (1.14) pada persamaan (1.16).


2 R A 0 0 2 R 0 0 z A b

A b

(1.17)

Karena A = 0 oleh kondisi simetris pada pusat silinder, persamaan (1.15) menjadi.
2 R

1 A A =

(1.18)
=

Substitusi persamaan (1.17) dan (1.18) pada persamaan (1.15) memberikan persamaan untuk konsentrasi bulk A b A = AB
(1.19)
=

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan

A liquid is being transported in a circular plastic tube of inner and outer radii R 1 and SOAL

R2, respectively. The dissolved O2 (species ) concentration in the liquid is 0 . Develop an expression relating the increase in O2 concentration as a untion of tubing length as follows :

a) Over a differential volume element of thickness , write down the inventory rate equations for the mass of species and show that the governing equation is 2 = ( ) ln( 2 ) 1 1

where is the diffusion coefficient of O2 in a plastic tube and is the concentration of O2 in the air surrounding the tube. In the development of Eq. (1), note that the molar rate of O 2 transfer through th etubing can be represented by Eq. (B) in Tabel 8.9. b) Show that the integration of Eq. (1) leads to. 2 ln(2 ) 1

= 0

Solusi. a) Pada keadaan tunak (steady conditions) dimana laju akumulasi = 0, dalam kasus ini tidak ada O2

yang tidak larut dalam aliran, persamaan konservasi umum untuk molekul O2 adalah sebagai berikut. O2 O2 + O2 = 0
(1)

a.1. Asumsi =0 Pada kasus pipa ini, diasumsikan =0 dan perpindahan massa tidak mempengaruhi besar viskositas liquid-nya. Jadi, pada pipa, terdapat dua buah komponen yang tidak mol, yaitu aliran ruah di sumbu z (Fluks konvektif) dan juga perpindahan (penambahan) molekul O2 yang terlarut dalam aliran Secara teori, liquid dengan molekul O2 memiliki konsentrasi yang sama 0 untuk < 0. Untuk > 0, konsentrasi spesi berubah sebagai sebuah fungsi ke arah r dan z, dimana aliran perpindahan massa mengalir dari dinding sepanjang pipa tersebut. Sehingga persamaan perpindahaan massa pada pipa dapat diekspresikan seperti dibawah ini.

=0

(2)

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan

2 +

+ 2

=0

(3)

Persamaan diatas kemudian dikalikan dengan sederhana, seperti persamaan di bawah ini. 1 ( ) ( )

1 , 2

sehingga menghasilkan persamaan yang lebih

=0

(4)

Kemudian kita dapat melakukan pendekatan 0 dan 0. ( ) ( ) 1 lim 0


+

+ lim

=0

(5)

1 ( ) =0

(6)

dan merupakan fluks massa pada arah r dan aliran arah z, dimana besarnya kedua fluks tersebut, secara matematis dinyatakan dalam persamaan di bawah ini. = +
(7)

(8)

Pada terjadi penambahan (fluks konvektif) karena pada arah z, perpindahan massa terjadi disepanjang badan pipa, sehingga terjadi perubahan konsentrasi terhadap volume tabung. Kedua persamaan fluks terebut kemudian disubstitusikan ke dalam persamaan hasil pendekatan lim dan
0 0

lim yang telah kita cari sebelumnya, sehingga menghasilkan persamaan perpindahan massa. 1 ( . ) + 2 1 + =0 2 2 1 + = 2

=0

(9)

(10)

(11)

Pada larutan dilute liquid, fluks konvektifnya memilki bilangan dimensi Peclet Pe >> 1 dan

= 0, maka persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi persamaan di bawah ini.

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan

1 =

(12)

Untuk konveksi perpindahan massa pada sebuah pipa dengan jari-jari R, konsentrasi aliran bulk dapat ditentukan melalui persamaan berikut.
2 0 0 2 0 0 2

(13) )

0 0

=
0 0

ruas kanan

(14) )

ruas kiri

Persamaan ruas kiri dapat disederhanakan sehingga menghasilkan sebuah besaran .

0 0

=
(15) )

0 0

Kemudian, kita dapat menyelesaikan persamaan ruas kanan dengan menuliskan.


2 2

=
0 0 0 0

(16) )

dimana. 1 = maka.
2

(17) )

1 =

1 2

(18) )

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan
2

=
0 2

=
0

= 2

Gabungkan kedua ruas kiri dan kanan, sehingga menghasilkan persamaan. = 2


(19) )

Berdasarkan Tabel 8.9 Persamaan (B), besar dapat ditentukan dengan formulasi.

Substitusikan persamaan

tersebut ke dalam persamaan sebelumnya, sehingga kita dapat

memperoleh persamaan baru yakni. 2 = 2 2 ln(1 ) 2


(20) )

= ( ) TERBUKTI

(21) )

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan

a.2. Asumsi Beberapa asumsi lain pada poin a.2. ini juga sama seperti kasus sebelumnya, dimana koefisien difusi bernilai konstan, terjadi pada keadaan steady-state, dan tidak terjadi kebocoran, serta konsentrasi awal O2 dalam aliran adalah 0 , sedangkan konsentrasi akhir dari O2 adalah dimana nilai > 0 . Untuk perpindahan dari O2 dalam arah radial (r), diasumsikan 0 (nol) karena pada pelat tidak dapat ditembus oleh molekul O2. Jadi, diasumsikan unsur O2 yang melarut juga berasal dari arah sumbu z. Sehingga komponen fluks tak-nolnya adalah. = +
(22) )

Dengan laju akumulasi = 0, maka persamaan inventarisasinya adalah sebagai berikut. O2 O2 + O2 = 0 Persamaan tersebut dapat dikembangkan lagi menjadi. | | + + = 0
(23) ) (24) )

Dengan mensubstitusikan nilai A sebagai komponen luas dan V sebagai komponen volume yang ditentukan dengan persamaan.

= 2

(25) ) (26) ) (27) )

= 2 Maka persamaan (24) dikembangkan lagi menjadi persamaan. 2 | 2 | + + 2 = 0 Persamaan diatas kemudian dikalikan dengan sederhana, seperti persamaan di bawah ini. Lalu, dilakukan pendekatan lim 0.
1 , 2

sehingga menghasilkan persamaan yang lebih

+ . = 0

(28) )

lim

= .

(29) )

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

Peristiwa Perpindahan

( ) + . = 0 ( ) = .

(30) )

(31) )

Persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi persamaan di bawah ini. ( ) =


(32) )

Dengan metode yang berbeda dengan metode sebelummnya, yakni menggunakan metode pembuktian satuan, akan dibuktikan bahwa satuan adalah . 3 yang memiliki kesamaan satuan dengan. = 3 jadi nilai pada persamaan (32) dapat diganti dengan , yang kemudian menghasilkan persamaan baru yakni. ( ) = dari Tabel 8.9 persamaan (B), kita dapat mengetahui nilai = 2 ( ) ln 2 1
(34) ) (33) )

Dimana adalah nilai konsentrasi di luar airan (posisi saat O2 bebas) pada 2 dan adalah konsentrasi O2 yang terlarut dalam aliran (pada 1 ). Substitusi persamaan (33) dan (34) ke dalam persamaan (32). 2 ( ) ( ) = ln 2 1 2 ( ) = 2 ln 2 1 2 ( ) = 2 ln 2 1 karena 2 = , maka persamaan di atas dapat dirubah menjadi.
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions) (35) ) (36) ) (37) )

10

Peristiwa Perpindahan

2 ( ) = ln 2 1

(38) )

dengan mensubstitusikan nilai pada persamaan (22), maka persamaan diatas dapat dimodiikasi lagi menjadi. 2 + = ln 2 1 karena nilai konstan, = 0, maka 2 =0 2
(40) ) (39) )

Persamaan (39) dapat disederhanakan menjadi persamaan berikut ini. 2 = ln 2 1 2 = ln 2 1


(41) ) (42) )

nilai dari dan dapat disubstitusikan dengan laju volumetrik ( ) dengan metode pembuktian satuan sebagai berikut. 3 = 2

Sehingga, persamaan (42) dapat diubah menjadi persamaan dibawah ini. = TERBUKTI
(43) )

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

11

Peristiwa Perpindahan

b)

Persamaan akhir pada point (a) dapat dikembangkan lagi melalui proses integral, seperti penjabaran di bawah ini. Kondisi batas. = 0 = = 0 =

2 = (2 ) 1 = 2 (2 ) 1

=
0

2 (2 ) 1

ln

2 0 = (2 )
1

ln

2 ( 2 ) 1 2 (2 ) 1 2 (2 ) 1

= exp

= 0 exp

( )

(44) )

TERBUKTI

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

12

Peristiwa Perpindahan

II. Difusi pada Falling Liquid Film Absorpsi gas pada dinding kolom yang lembab ditunjukkan pada gambar 2. Cairan Newtonian () merupakan cairan incompressible yang tidak dapat dikempa, mengalir pada sebuah plat berlapis dengan lebar (W) dan panjang (L). Plat tersebut merupakan lapisan tipis dengan ketebalan yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Gas mengalir pada arah yang sama dengan aliran liquid. Persamaan distribusi kecepatan pada aliran ini, ditunjukkan dengan persamaan. = 1 dimana. = 3 2 = 2 2
(2.2)

(2.1)

Viskositas liquid dianggap tidak mempengaruhi perpindahan massa. Secara umum, konsentrasi spesi pada fasa liquid berubah sebagai fungsi x dan z. Jadi dari tabel C.7 pada Appendix C, komponen fluks tak-nol adalah.

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

13

Peristiwa Perpindahan

(2.3)

(2.4)

Gambar 2. Difusi pada Falling Liquid Film

Pada larutan dilute liquid, total kepadatan (density) adalah mendekati konstan, sehingga persamaan (2.3) dan (2.4) menjadi. =

(2.5)

(2.6)

Membagi persamaan (2.5) dan (2.6) dengan massa molekular dari , , memberikan. = AB = AB
A x

(2.7)

A + A z z

(2.8)

Karena tidak ada generasi spesi , persamaan umum neraca mikroskopik kedaan tunak tanpa generasi dapat disederhanakan menjadi.

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

14

Peristiwa Perpindahan

Laju masuk Laju keluar =0 spesi spesi

(2.9)

Untuk elemen volume diferensial silinder dengan ketebalan dan panjang , serta lebar W seperti terlihat pada gambar 2, persamaan (2.9) diekspresikan sebagai +

= 0

(2.10)

Membagi persamaan (1.9) dengan dan memberikan limit 0 dan 0 sehingga

lim

+ lim

=0

(2.11)

atau + =0 Subsitusi persamaan (1.6) dan (1.7) pada persamaan (1.11). A 2 A 2 A = AB + AB 2 2


Konveksi Difusi pada Difusi pada pada arah z arah x arah z (2.13) (2.12)

Pada arah , massa dari spesi berpindah melalui proses konveksi dan difusi. Difusi dapat diabaikan karena bilangan dimensi Peclet 1, sehingga persamaan (2.13) menjadi. 1
2

A 2 A = AB 2

(2.14)

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

15

Peristiwa Perpindahan

H2S is being absorbed by pure water flowing down a vertical wall with a volumetric flow SOAL

rate of 6.5 10-6 m3/s at 200C. The height and the width of the late are 2 m and 0.8 m, respectively. if the diffusion coefficient of H2S in water is 1.3 10-9 m2/s and its solubility is 0.1 kmol/m3, calculate the rate of absorption of H2S into water.

Diketahui. H2S mengalami absorpsi oleh air murni yang mengalir pada sebuah dinding vertikal, yang memiliki beberapa besaran berikut ini. = 6.5 10-6 m3/s = 200C = 2 m = 0.8 m = 1.3 10-9 m2/s = 0.1 kmol/m3

H2S

z x

Gambar 3. Absorpsi H2S pada dinding vertikal

Pemahaman Soal. Berdasarkan soal di atas, problem yang terjadi dimulai ketika senyawa H2S mengalami proses absorbsi oleh air murni yang mengalir pada sebuah dinding secara vertikal, searah arah . Pada proses absorbsi otomatis terjadi perpindahan molekul dari senyawa H2S ke dalam air. Ketika molekul H2S terabsrobsi
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)
16

Peristiwa Perpindahan

oleh air, konsentrasi air yang mengalir akan bertambah, dan nilainya akan semakin tinggi seiring dengan pergerakan vertikal oleh air menuruni dinding tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh profil konsentrasi berupa garis melengkung berwarna hijau pada Gambar 3. Secara teoritis hal tersebut dapat dibuktikan dengan pemahaman ketika sebuah molekul teserap oleh molekul lainnya yang sedang mengalir secara verikal menuruni sebuah dinding, maka konsentrasinya akan bertambah. Semakin ke bawah nilainya akan semakin tinggi, karena proses absorbsi terus terjadi.

Solusi. Dengan langkah yang sama dengan penyelesaiian soal nomor 1, asumsi : laju akumulasi = 0, dan laju generasi = 0, maka. + = 0 + = 0
(1) (2)

dimana berdsarkan elemen volum diferensial pada Gambar 3, ketebalan ditunjukkan oleh besaran dan panjang , serta dinding dengan lebar W. Persamaan diatas kemudian dikalikan dengan sederhana, seperti persamaan di bawah ini.
1 ,

sehingga menghasilkan persamaan yang lebih

=0

(3) )

Lalu, dilakukan pendekatan lim 0 dan lim 0.

lim

+ lim

=0

(4) ) (5) )

+ =0

Pengembangan persamaan (9), dapat dilakukan dengan mensustitusi kmponen fluks tak-nol pada kasus perpindahan massa ini, seperti yang telah dituliskan sebelumnya pada persamaan (1.6) dan (1.7) pada persamaan (1.11), dan menghasilkan persaman baru. A 2 A 2 A = AB + AB 2 2
(6) )

Telah dijelaskan pada dasar teori, bahwa difusi pada arah z dapat diabaikan. Maka persamaan (6) ditulis kembali dalam bentuk persamaan dibawa ini.
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

17

Peristiwa Perpindahan

A 2 A = AB 2

(7)

untuk menyelesaikan persamaan (7) digunakan kondisi batas. pada = 0 pada = 0 pada = A = A 0 A = A

(8) (9) (10)

=0

Berdasarkan problem yang ada, air memiliki konsentrasi awal A 0 untuk < 0 (sebelum terjadi aliran dan proses absorbsi). Pada antar fasa, gas dan liquid (pertemuan kedua permukaan air dan molekul H2S), diketahui nilai solubility H2S. Sedangkan kondisi batas (21), dimana spesi H2S berada pada = menunjukkan bahwa spesi H2S tidak berdifusi melalui dinding. Untuk menyelesaikan probem ini digunakan prinsip long contact times, karena kontak antara molekul air dan H2S terjadi disepanjang dinding vertikal. berbeda dengan konsep short contact times, dimana secara umum spesi kontak dengan molekul air (pada kasus ini) menembus /penetrate ke dalam lapisan film, sehingga spesi tidak terdeteksi pada = . Justru, akan menghasilkan kondisi batas baru, yakni = dimana A = A 0 . Untuk sistem ling contact times, pada persegi panjang, elemen volume differensial dari ketebalan , panjang , dan ketebalan W, persamaan inventarisasinya juga dapat dinyatakan sebagai: +
+

=0

Kemudian membagi persamaan diatas dengan dan melimitkan menuju 0 maka: lim 0 atau
+

+ = 0

Persamaan diatas dapat dipisahkan dan disusun kembali menjadi Mengeluarkan integral, menjadi: 0 = ln ( )
( ) 0 0

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

18

Peristiwa Perpindahan

Dalam buku Tosun terdapat penurunan dalam keadaan makroskopik (penurunan dapat dilihat pada buku Tosun persamaan 9.5-130 sampai 9.5-136). Perumusannya adalah 4

Dengan berbagai pertimbangan berdasarkan nilai Sherwood, nilai Reynold, maka persamaan tersebut menjadi 4

Dimana adalah exposure time yang di definisi sebagai =

Berdasarkan soal yang ada, besaran-besaran diatas dapat dicari melalui langkah awal, yakni menentukan nilai : = = (27)

0,02336 atm (28) 0,082 . 293 3 = 9,72 . 104 3 (29)

= 9,72 . 104

Kedua, mencari nilai dalam makroskopik, karena pada perumusan data-data yang diketahui memenuhi dibanding dengan mencari dengan perumusan mikroskopik. 4

= =

karena pada kasus ini yang di tinjau ada pelat persegi maka luas areanya adalah = .

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

19

Peristiwa Perpindahan

. 2 4 2

= =

4 . . 2

4. 1,3109 6,5106 = 5,79 10 8 3,14 .0,8 . 22

Lalu, kita mencari nilai 0 dari persamaan berikut. = 0 ln ( )

5,798 =

6,5106 9,724 0 ln 0,8 .2 9,724 0,1 9,724 0 0,09903

1,4252 = ln 1,425
2

9,724 0 0,09903

1,01435 0,09903 = 9,724 0 0 = 0,101423 Terakhir, kita dapat mencari laju absorbsi dengan rumus . Laju Absorbsi = 0 Laju Absirbsi = 0,101423 3 6,5106
3

Laju Absorbsi = ,

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

20

Peristiwa Perpindahan

Water at 250C flows down a wetted wall column of 5 cm diameter and 1.5 m height at a SOAL

volumetric flow rate of 8.5 10-6 m3/s. Pure CO2 at a pressure of 1 atm flows in the countercurrent direction. If the solubiity of CO2 is 0.03365 kmol/m3, determine the rate of absorption of CO2 into water.

Diketahui. Air mengalir pada dinding sebuah tiang, dengan besaran-besaran sebagai berikut. = 8.5 10-6 m3/s = 250C = 5 cm = 1.5 m = 1.92 10-9 m2/s (Appendix D) = 0.0336 kmol/m3 = 1 atm Air hanya mengalir pada bagian dalam kolom (aliran ditunjukkan oleh warna biru yang lebih muda)
z x
Gambar 4. Aliran air pada kolom yang lembab

Pemahaman soal. Problem yang terjadi adalah terdapat sebuah kolom yang lembab (pada dinding bagian dalam kolom terdapat molekul air (H20). Pada kolom tersebut juga mengalir gas CO2 berlawanan arah jarum jam (countercurrent directiron), mengitari seluruh dinding kolom. Sehingga terjadilah proses absorbsi molekul gas CO2 dan menyebabkan terjadinya kontak dengan molekul H20. Dapat disimpulkan bahw aperpindahan massa yang terjadi adalah perpindahaan CO2 ke araha radial .

Solusi. Problem ini diselesaikan dengan mengunakan persamaan inventarisai, dengan kondisi steady state, dan nilai laju generasinya adalah 0. = 0
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions) (1)
21

Peristiwa Perpindahan

Konsentrasi spesi CO2 berubah sebagai sebuah fungsi ke arah r, dimana aliran perpindahan massa mengalir dari dinding sepanjang kolom tersebut (sama dengan arah aliran air ke sumbu z). Sehingga persamaan perpindahaan massa pada kolom dapat diekspresikan seperti dibawah ini. 2

=0
+

(2)

2 +

+ 2

=0

(3)

Persamaan diatas kemudian dikalikan dengan sederhana, seperti persamaan di bawah ini. 1 ( ) ( )

1 , 2

sehingga menghasilkan persamaan yang lebih

=0

(4)

Kemudian kita dapat melakukan pendekatan 0 dan 0. ( ) ( ) 1 lim 0


+

+ lim

=0

(5)

1 ( ) =0

(6)

Dengan prinsip yang sama pada soal nomor 2, dimana komponen fluks tak-nolnya adalah sebagai berikut. = AB A r A + A z z
(7)

= AB

(8)

maka, persamaan (6), dapat dikembangkan lagi dengan mensubstitusi persamaan (7) dan (8). A 1 r A 2 A = AB + AB r r 2
Konveksi pada arah z Difusi pada arah x Difusi pada arah z (9)

Perpindan molekular pada arah z sangatlah keci sehingga dapat dianggap 0, sehingga persamaannya menjadi. 1 r A A AB =0 r r
(10)

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

22

Peristiwa Perpindahan

Untuk menyelesaikan persamaan diatas digunakan kondisi batas berikut ini. pada = 0 pada = 0 pada = A = 0 A = A

(11) (12) (13)

=0

Pada = 0, belum terjadi aliran karena belum terjadi proses konveksi sehingga konsentrasi awal spesi CO2 pada arah z adalah nol (A = 0). Sedangkan saat kondisi = 0, artinya adalah saat spesi CO2, tepat akan mengalami proses perpindahan massa (terserap oleh air) konsentrasinya sama dengan solubility-nya, A = A . Hal ini karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa CO2,

berpindah pada arah radial. Pada saat = , kondisi batas yang terjadi adalah

= 0 , dimana hal

ini menjelaskan bahwa spesi CO2 tidak berdifusi menembus dinding dalam kolom.

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

23

Peristiwa Perpindahan (Neraca Mikrskopik Keadaan Tidak Tunak tanpa Generasi)

PERPINDAHAN ENERGI

Pemanasan pada Partikel Spherical (berbentuk bola) Bola pada radius awalnya bersuhu sama . Saat = 0, bola tersebut terekspos pada fluida dengan temperatur > . Karena perpindahan panas terjadi pada arah r, maka berdasarkan pada Tabel C.6 Appendix C, komponen fluks tak-nol dituliskan dalam persamaan berikut ini.

= =

(3.1)

Untuk volume diferensial partikel berbentuk bola dengan ketebalan , seperti yang ditunjukkan oleh gambar 5, memiliki persamaan inventarisasi. Rate Rate Rate of = Energy In Energy Out Energy Accumulation yang dapat dikembangkan menjadi. 4 2
+ 4 1

(3.2)

4 2

(3.3)

Persamaan (3.3) dikalikan dengan 4 , dimana 0, sehingga menghasilkan persamaan. atau 1 2 = 2 lim 0

(3.4)

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

24

Peristiwa Perpindahan

1 2 = 2

(3.5)

Gambar 5. Pemanasan pada Partikel berbentuk Bola

Substitusi persamaan (3.1) ke dalam persamaan (3.5), sehingga menghasilkan persamaan pengembangan diferensial untuk temperatur. 2 = 2
(3.6)

Persamaan (3.6) tersebut dapat diselesaikan melalui penentuan kondisi batas, seperti di bawah ini. pada = 0 pada = 0 pada = = o

(3.7) (3.8) (3.9)

=0

Pada kondisi ini, akan digunakan beberapa bilangan dimensi, antara lain. = = = 2

(4.0) (4.1) (4.2) (4.3)

BiH =

Mereduksi persamaan (3.6) hingga (3.9), menjadi. 1 2 = 2


Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions) (4.4)

25

Peristiwa Perpindahan

pada = 0 pada = 0 pada = 1 Solusi untuk 0.1 < BiH < 40 =

= 1

(4.5) (4.6) (4.7)

=0

= BiH

(4.8)

mengkonversi geometri bola menjadi geometri pelat. Substitusi persamaan (4.8) ke persamaan (4.4). 2 = 2
(4.9)

Persamaan di atas identik dengan persamaan perpindahan panas keadaan tidak tunak pada geometri pelat, sehingga penyelesaiannya menjadi persamaan di bawah ini. = atau =
2 2

sin + cos

(4.10)

sin cos +

(4.11)

Dari kondisi batas yang telah ditentukan sebelumnya pada persamaan (4.6) menunjukkan bahwa nilai = 0. Pengaplikasian kondisi batas (4.7) memberikan hasil seperti berikut ini. Dengan penyelesaian n cot n = 1 BiH Lima akar pertama dari persamaan (4.13) sebagai fungsi BiH diberikan pada tabel. BiH 0 0.1 0.5 1.0 2.0 10.0 1 0.000 0.542 1.166 1.571 2.029 2.836 2 4.493 4.516 4.604 4.712 4.913 5.717 3 7.725 7.738 7.790 7.854 7.979 8.659 4 10.904 10.913 10.950 10.996 11.086 11.653 5 14.066 14.073 14.102 14.137 14.207 14.687
(4.13)
2

sin cos = BiH

sin

(4.12)

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

26

Peristiwa Perpindahan

Solusi akhirnya adalah sebagai berikut.

=
=1

sin

(4.14)

Koefisien yang tidak diketahui, dapat ditentukan dari kondisi batas (4.5) sehingga.
1 sin 0 1 sin2 0

(4.15)

= Penyelesaian akhirnya menjadi

2 sin n n cos n n n sin n cos n

(4.16)

= 2
=1

1 sin n n cos n 2 sin n n sin n cos n

(4.17)

Laju energi yang memasuki bidang bola adalah. = 4 2


=

= 4( 0 )

=1

(4.18)

Substitusi persamaan (4.17) ke dalam persamaan (4.18).

= 8 0
=1

1 sin n n cos n 2 exp 2 n n n sin n cos n

(4.19)

Besarnya panas yang dipindahkan dapat dihitung melalui persamaan.

=
0

(4.20)

Substitusi persamaan (4.19) ke dalam persamaan (4.20). = 0

=0

6 sin n n cos n 2 1 exp 2 n 3 n n sin n cos n

(4.21)

dimana 0 adalah nilai panas yang dipindahkan ke bidang berbentuk bola , dimana driving force-nya konstan dan sama dengan greatest-nya. 0 =
4 3

3 0

(4.22)

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

27

Peristiwa Perpindahan

A spherical material of 15 cm in radius is initially at a uniform temperature of 60 C. It is SOAL

4
Solusi.

placed in a room where the temperature is 23 C. Estimate the average heat transfer coefficient if it takes 42 min for the center temperature to reach 30C. Take = 0.12 W/m K and = 2.7 106 m2 /s

= 15 = 0.15 = 300

= 250 0 = 600 = 42 = 2520 = 0.12 /

= 2.7 106 m2 /s

Untuk menyelesaikan problem di atas, berikut adalah langkah-langkah penyelesaiaanya. 1. Menentukan arah perpindahan panas Berdasarkan problem tersebut, panas berpindah dari dalam nola ke luar (kulit bola) searah pada arah radial, hal ini ditunjukkan secara tersirat pada soal dimana suhu awal bola jauh lebih tinggi dibandingkan dengan suhu fkuilda di sekitar bola, kemudian suhu akhir pusat bola mengalami penurunan hingga menjadi lebih rendah dibandingkan suhu awalnya. Secara teoritis, panas akan mengalir dari ebnda bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah.

R Arah fluks energi

2.

Elemen Volume Diferensial Partikel berbentuk bola dengan jari-jari R berada pada suhu awal seragam T0. Pada t = 0,

partikel tersebut dipaparkan ke dalam fluida dengan temperatur T. Perpindahan panas terjadi dalam arah r, sehingga satu-satunya fluks energi tak nol adalah : = =
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)


28

Peristiwa Perpindahan

Untuk elemen volumetrik sferis dengan ketebalan r, maka persamaan laju inventarisasi dapat dinyatakan sebagai berikut: 4 2
+ 4(

+ )2 =

4 2
1 4

Dengan mengalikan setiap suku dalam persamaan di atas dengan pendekatan persamaan r0, menghasilkan persamaan sebagai berikut: 1 2 | 2 | + = 2 lim r 0

dan melakukan

1 2 = 2 1 2 = ( ) 2

3.

Menentukan Persamaan Laju Inventarisasi Problem ini diselesaikan dengan prinsip dasar Neraca Mikroskopik pada Keadaan Unsteady-

State tanpa Generasi, dimana nilai = 0, dan laju akumulasinya diperhitungkan, sehingga persamaannya menjadi.

=
4. Menentukan kondisi batas pada = 0 pada = 0 pada = 1 = 1

=0

= BiH

Pada kondisi batas I dimana = 0, berdasarkan persamaan = 2 berarti pada saat tersebut = 0 dan bila diamati pada kondisinya pada saat waktu belum berjalan = 1. Sedangkan pada saat = 0, berdasarkan persamaan = berarti = 0, dimana kondisi tersebut berada pada titik tengah sferis, dan saat itulah tidak terjadi perubahan temperatur berdasarkan perubahan posisi,

= 0.

Untuk kondisi batas III, yakni pada saat = 1 dan meninjau persamaan = , berarti = . Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi ini terjadi tepat pada bagial luar bola (bagian kulitnya), sehingga fluks konvektif-nya akan sama dengan fluks molekularnya = BiH . 5. Menentukan nilai Untuk menentukan besaran ini, digunakan persamaan dasar sebagai berikut.
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

29

Peristiwa Perpindahan

setelah dimasukkan nilai yang terdapat pada soal, maka akan diperoleh. = 2.7 106 m2 /s 2520 s (0.15 m)2

= . 6. Menentukan nilai Untuk menentukan besaran ini digunakan persamaan dasar. =

kita dapat memasukkan nilai suhu yang diketahui dalam soal, dan diperoleh nilai sebagai berikut ini. = 25 30 25 60

= 7.

Menghitung nilai Besarakan ini dapat ditentukan dengan persamaan dasar. = nilainya dapat ditentukan dengan memasukkan nilai r dan R yang diperoleh dari soal, sehingga. = 0 0,15

= 0 8. Melakukan pendekatan nilai (mendekati nol), sehingga dapat ditulisakan limit untuk salah satu faktor pengali pada persamaan akhir (4.17) sebagai berikut: sin (1 ) = 1 0 lim 9. Menghitung nilai 1 berdasarkan persamaan (4.17) dan nilai-nilai , , yang telah dihitung pada langkah-langkah sebelumnya. Nilai-nilai , , disubtitusikan ke dalam persamaan (4.17) sebagai berikut:
Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)
30

Peristiwa Perpindahan

= 2
=1

sin( )

Penentuan dapat dilakukan melalui perhitungan tabel Trial Error. Setelah diperoleh nilai , maka kita dapat meencari nilai BiH nya melalui persamaan.

1 cot 1 = 1 BiH
terakhir, koeisien perpindahan panasnya dapat ditentukan dengan persamaan dasar. BiH =

Neraca Mikroskopik (Steady State dan Unsteady State Conditions)

31