Anda di halaman 1dari 8

I. II.

Judul : Destilasi Fraksinasi Tujuan : 1. Menentukan indeks bias destilat 2. Menentukan persentase kemurnian destilat

III.

Dasar Teori : Destilasi adalah proses pemisahan zat cair, di mana zat cair dipanaskan hingga titik didih zat yang akan dijadikan destilat, dan uap zat tersebut dialirkan melalui kondensor lalu hasil pengembunan ditampung. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair pada titik didihnya dan memisahkan campuran zat cairnya yang memiliki titik didih berbeda. Destilasi berbeda dengan pemisahan dengan cara penguapan karena semua komponen pada campuran yang didestilasi mudah menguap pada suhu tertentu. Pemisahan campuran cairan menjadi komponen dicapai dengan distilasi fraksional. Proses ini digunan untuk komponen yang memiliki titik didih yang
berdekatan.Pada dasarnya sama dengan destilasi sederhana, hanya saja memiliki kondensor yang lebih banyak sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memliki perbedaan titik didih yang bertekanan. Setelah melakukan distlasi fraksional, maka distilat diukur indeks biasnya dengan refraktometer. Indeks bias ini akan digunakan untuk mencari nilai persentase kemurnian destilat. Setelah didapat nilai indeks bias maka nilai tersebut dimasukkan pada rumus berikut.

Untuk mencari batas atas dan bawah, maka harus diketahui lebih dahulu nilai indeks bias batas atas dan batas bawah berdasar tabel nilai indeks bias. Berikut ini adalah daftar nilai indeks bias metanol.

Tabel Perbandingan Nilai Indeks Bias Metanol dan Persentase Kemurnian Persentase Kemurnian 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 95% 99,99% Nilai indeks bias 1,3483541 1,3437061 1,3415542 1,3405041 1,3394542 1,3373541 1,3340542 1,3310042 1,328004

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat kalau nilai indeks bias berbanding terbalik dengan persentase kemurnian zat. Indeks bias suatu larutan dapat dilihat melalui alat yang disebut refraktometer. Bentuknya mirip mikroskop beserta cara penggunaannya. Pada proses ini akan didapatkan substan kimia yang lebih murni, kerena melewati kondensor yang banyak.

Prinsip distilasi fraksional dapat dijelaskan dengan menggunakan diagram titik didihkomposisi . Dalam gambar ini, kurva atas menggambarkan komposisi uap pada berbagai titik didih yang dinyatakan di ordinat, kurva bawahnya menyatakan komposisi cairan. Bila cairan dengan komposisi l2 dipanaskan, cairan akan mendidih pada b1. Komposisi uap yang ada dalam kesetimbangan dengan cairan pada suhu b1 adalah v1. Uap ini akan mengembun bila didinginkan pada bagian lebih atas di kolom distilasi , dan embunnya mengalir ke bawah kolom ke bagian yang lebih panas. Bagian ini akan mendidih lagi pada suhu b2 menghasilkan uap dengan komposisi v2. Uap ini akan mengembun menghasilkan cairan dengan komposisi l3.

Gambar 1.1 Diagram titik didih - komposisi larutan ideal campuran cairan A dan B. Komposisi cairan berubah dari l1 menjadi l2 dan akhirnya l3. Pada setiap tahap konsentrasi komponen B yang kurang mudah menguap lebih tinggi daripada di fasa uapnya. Tujuan dari percobaan destilasi ini adalah untuk mengetahui konsentrasi maksimun destilat yang dapat diperoleh, menentukan HETP (height equivalent to a theoretical plate) pada refluks total, serta menentukan jumlah tahap minimum (Nmin) pada refluks total. HETP adalah panjang isian (panjang kolom) dibagi dengan jumlah kepingan teoritis, ditentukan untuk mengetahui efesiensi kolom destilasi. Prinsipnya berdasarkan pada Hukum Roult yaitu tekanan uap pada larutan ideal pada suhu tertentu sebanding dengan tekanan uap murni dikali dengan fraksi murni. Dan Hukum Dalton yaitu tekanan ideal dalam suatu campuran gas sama dengan tekanan parsial masing-masing komponennya. Kolom fraksionasi: dalam praktek, kolom tutup gelembung kurang efektif untuk pekerjaan di laboratorium. Hasilnya relatif terlalu sedikit bila

dibandingkan dengan besar bahan yang tergantung di dalam kolom. Dengan kata lain kolom tutup gelembung memiliki keluaran yang kecil dengan sejumlah besar bahan yang masih tertahan di dalam kolom. Keefektifan kolom ini sangatt dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti cara pengaturan materi di dalam kolom, pengaturan temperatur, panjang kolom dan kecepatan penghilangan hasil destilasi. Satuan dasar efisiensi adalah tinggi setara dengan sebuah lempeng teoritis (HETP atau H). Besarnya H sama dengan panjang kolom dibagi dengan jumlah plat teoritis. Banyaknya plat teoritis H bergantung pada sifat campuran yang dipisahkan. Kolom distilasi yang panjang dari alat distilasi digunakan di laboratorium memberikan luas permukaan yang besar agar uap yang berjalan naik dan cairan yang turun dapat bersentuhan. Di puncak kolom, termometer digunakan untuk mengukur suhu fraksi pertama yang kaya dengan komponen yang lebih mudah menguap A. Dengan berjalannya distilasi, skala termometer meningkat menunjukkan bahwa komponen B yang kurang mudah menguap juga ikut terbawa. Wadah penerima harus diubah pada selang waktu tertentu. Bila perbedaan titik didih A dan B kecil, distilasi fraksional harus diulangulang untuk mendapatkan pemisahan yang lebih baik. Produksi minyak bumi tidak lain adalah distilasi fraksional yang berlangsung dalam skala sangat besar.

IV. Alat dan Bahan Alat: Gelas Ukur 100 mL Kolom Fraksinasi Labu Destilasi Termometrer Kondensor 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah Kompor listrik Kasa Statif Gelas Kimia Refraktometer 1 Buah 1 Buah 2 Buah 1 Buah 1 Buah

Bahan: Spiritus Air Rangkaian Percobaan 100 mL

V.

Langkah Kerja Mengukur volume spirtus yang akan digunakan untuk destilasi mengunakan gelas ukur

sebanyak 100 mL. Memasukkan 100 mL spirtus kedalam labu destilasi. Merangkai alat-alat yang digunakan dalam proses destilasi, kemudian memasang labu destilasi dengan termometer dan meletakkannya tepat diatas buncen. Setelah itu, air dialirkan dari bawah kondensor ke atas kemudian memanaskan destilat. Selanjutnya, menjaga suhu spirtus tidak lebih dari 64,5C. Menampung setiap 4 mL destilat dengan menggunakan erlenmeyer pada ujung destilat sebanyak 3 kali. Setiap 4 mL destilat yang dihasilkan di cari indeks biasnya menggunakan refraktometer dan hasilnya dibandingkan dengan indeks bias metanol 95%, metanol 80%,

metanol 70%, metanol 60%, metanol 50%, metanol 40%, dan metanol 30%. Setelah itu, menghitung kemurnian destilat yang dihasilkan.

VI. ALUR KERJA

100 ml spiritus Dimasukkan kedalam . Labu Destilat Destilasi Dipanaskan sampai 64,5C Setiap 10 mL destilat yang dihasilkan di tampung di erlenmeyer Destilat dalam erlenmeyer Dicari indeks biasnya menggunakan refraktometer Dibandingkan dengan indeks biasmethanol 95 %, metanol 80 %, metanol 70%, metanol 60%, metanol 50 %, metanol 40%, dan metanol 30% Dihitung % kemurniannya

Hasil

VII. VIII.
IX.

HASIL PENGAMATAN ANALISIS DAN PEMBAHASAN KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

Destilat pertama memiliki indeks bias .. ; Destilat kedua memiliki indeks bias .,; Destilat ketiga memiliki indeks bias .. . Dari Indeks bias destilat yang didapat dan membandingkannya dengan indeks bias metanol 90 % dan 95 % didapatkan kemurnian destilat (metanol) rata rata sebesar Dari presentase yang di dapat, dapat diketahui spiritus mengandung % methanol dan .% sisanya bisa berupa etanol, air atau komposisi lain.

X. DAFTAR PUSTAKA Budiasih, Endang.Dkk. 2003. Common Textbook Kimia Analitik II. Malang: JICA Poedjiastoeti, Sri. Dkk. 2011. Panduan Praktikum Kimia Analitik II: Dasar-Dasar Pemisahan Kimia. Surabaya: UNESA Anonim,2009. Pemisahan Kimia (http://www.kimiadahsyat.com ) diakses pada tanggal 28 Maret 2013 Juwita, Tika. 2009. Destilasi. http:// tikajuwitas.blogspot.com/, diakses pada tanggal 28 Maret 2013. Putranto, Dody. 2009. Destilasi Bertingkat. http://kimiadahsyat.blogspot.com/, diakses pada tanggal 28 Maret 2013 .

PERHITUNGAN

LAMPIRAN